KEBERANIAN MENTAL


Oleh U’un Arifien (Kwee Ping Oen)

mmexport1450094279416

Keberanian Mental @SelfyparkitHappylife

Orang yang tidak waspada dalam kehidupan ini sering tergelincir pada keadaan:
– Ketidaksenangan dalam samaran kesenangan.
– Tidak ada cinta dalam samaran cinta.
– Penderitaan dalam samaran kebahagiaan.

Kalau kita sedang menderita atau stres karena urusan dengan kesehatan, dengan pasangan, dengan keuangan, atau dengan apa saja,  kita harus berani mengakui kenyataan hidup itu. Memang hal itu tidak mudah, harus ada keberanian mental untuk mengakui kenyataan yang ada.

Selera dan ekspektasi kita dalam hidup ini adalah ingin bahagia, ingin sehat, ekonomi longgar, suami atau istri pengertian. Tetapi kenyataanya tidak selalu sama dengan selera kita. Karena itu biar pun berat dan pahit, kita harus mau menerima kenyataan yang ada, maka dengan begitu kita akan mempunyai sikap bijaksana.

Sebaliknya kalau kita tidak mau dan takut melihat kenyataan itu atau pura-pura tidak ada masalah, tidak punya uang berlagak kaya, keluarga ada kasus pura-pura keluarga hamonis, itu semua adalah sifat kekanak-kanakan dan akhirnya kita akan terpicu mengambil langkah-langkah yang tidak bijaksana. Continue reading

Advertisements

Mangga Muda Masam


By. Selfy Parkit
mangoSeorang laki-laki muda sedang mencari mangga muda masam untuk istrinya yang sedang hamil muda. Usia kandungan istrinya baru dua bulan namun permintaannya sudah mengada-ngada saja. Pernah si istri  memintanya untuk dibelikan jagung bakar di daerah puncak pegunungan  yang lokasinya memerlukan 6 jam perjalanan bolak-balik dari tempat tinggalnya. Akan tetapi apa boleh buat demi si istri dan si jabang bayi yang sedang bertumbuh di rahimnya, suami muda itu pun berangkat membelikan jagung bakar tersebut. Tapi apa yang terjadi? Continue reading

PANGERAN KECIL TANPA AYAH (Kekuatan Kejujuran)


Suatu ketika, Raja Benares pergi piknik di dalam hutan. Keindahan bunga-bunga, pohon-pohon dan buah-buahan membuatnya sangat bahagia. Sambil menikmati keindahan itu, ia perlahan-lahan masuk lebih dalam dan lebih dalam ke dalam hutan. Tidak lama kemudian, ia menjadi terpisah dari rombongannya dan menyadari bahwa dia seorang diri saja.

Lalu Raja mendengar suara merdu dari seorang wanita muda. Wanita muda itu sedang bernyanyi sambil mengumpulkan kayu bakar. Agar tidak merasa takut karena seorang diri di dalam hutan, Raja mengikuti bunyi dari suara yang merdu itu. Ketika Raja tiba-tiba muncul di hadapan si pelantun lagu, Raja melihat seorang wanita cantik yang cukup muda, dan segera jatuh cinta kepadanya. Mereka menjadi sangat bersahabat, dan Raja menjadi ayah dari anak wanita pengumpul kayu bakar.

Kemudian, Raja menjelaskan kenapa ia bisa tersesat di dalam hutan dan meyakinkan wanita itu kalau dia memang benar-benar Raja Benares. Wanita itu memberitahukan arah kepada Raja untuk dapat kembali ke istana. Raja memberikan cincin capnya yang berharga kepada si wanita muda itu dan berkata, “Jika kau melahirkan bayi perempuan, jual cincin ini dan gunakan uangnya untuk membesarkan anak itu dengan baik. Jika anak kita seorang laki-laki, bawa ia menghadapku bersama dengan cincin ini sebagai tanda pengenal.” Setelah berkata, Raja berangkat menuju Benares.

Ketika waktunya tiba, wanita pengumpul kayu bakar melahirkan seorang bayi laki-laki. Sebagai wanita sederhana yang pemalu, ia takut membawa anaknya ke istana yang megah di Benares, jadi ia menyimpan cincin cap raja.

Dalam beberapa tahun, anaknya tumbuh menjadi seorang anak laki-laki. Ketika ia bermain dengan anak-anak lainnya di desa, mereka mengejek dan menganiayanya, bahkan memulai perkelahian dengannya. Itu karena ibunya tidak menikah maka anak-anak lain mengganggunya. Mereka berteriak kepadanya “Tanpa ayah! Tanpa ayah! Tanpa Ayah! Namamu seharusnya Tanpa ayah!”

Hal ini tentu membuat si anak merasa malu, terluka dan sedih. Kadang-kadang ia berlari pulang menemui ibunya sambil menangis. Suatu hari ia memberitahukan ibunya bagaimana anak-anak lain memanggilnya dengan sebutan “Tanpa ayah! Tanpa ayah! Namamu seharusnya Tanpa ayah!” Lalu ibunya berkata, “Jangan malu anakku. Kau bukan hanya seorang anak biasa. Ayahmu adalah Raja Benares.”

Anak laki-laki itu sangat terkejut. Ia bertanya kepada ibunya, “Apakah ibu punya buktinya?” Jadi ibunya memberitahukan kepadanya mengenai cincin cap yang diberikan ayahnya, dan jika bayi ibu seorang laki-laki, dia harus membawanya ke Benares bersamaan dengan cincin itu sebagai bukti. Anak laki-laki itu berkata, “Kalau begitu, ayo pergi!” Karena kejadian itu, ibunya menyetujui permintaan anaknya dan hari berikutnya mereka berangkat ke Benares.

Ketika mereka sampai di istana raja, penjaga gerbang memberitahu raja bahwa wanita pengumpul kayu bakar anak laki-lakinya ingin bertemu dengan raja. Mereka menuju ruang pertemuan istana, dimana di sana dipenuhi oleh menteri-menteri dan penasihat-penasihat raja. Perempuan itu mengingatkan raja tentang hari-hari bersama mereka di hutan. Akhirnya si Perempuan berkata, “Yang Mulia Baginda, ini adalah anak laki-lakimu.”

Raja malu di depan semua ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir di istananya. Jadi, walaupun ia tahu bahwa perempuan itu berbicara yang sebenarnya. Raja berkata, “Dia bukan anakku!” Kemudian ibu muda yang penuh kasih itu menunjukan cincin cap sebagai bukti. Sekali lagi raja merasa malu dan memungkiri kebenaran, berkata “Ini bukan cincinku!”

Lalu wanita yang malang itu berpikir kepada dirinya sendiri, “Aku tidak punya saksi ataupun bukti untuk membuktikan perkataanku. Aku hanya punya keyakinanku di dalam kekuatan kejujuran.” Jadi ia berkata kepada Raja, “Jika aku lemparkan anak laki-laki ini ke udara, jika ia benar adalah anakmu, ia akan tetap berada di atas udara tanpa jatuh. Jika ia bukan anakmu, ia akan jatuh ke lantai dan mati.”

Tiba-tiba, perempuan itu mengambil kaki anak laki-lakinya dan meleparnya ke udara. Seketika itu juga, anak laki-laki itu duduk dengan kaki bersila, menggantung di tengah-tengah udara tanpa jatuh. Setiap orang heran, tidak dapat berkata apa-apa. Dengan tetap berada di udara, anak laki-laki itu berkata kepada Raja, “Tuanku, aku benar-benar seorang anak laki-laki yang dilahirkan untukmu. Kau merawat banyak orang yang tidak punya hubungan darah denganmu. Kau bahkan memelihara gajah-gajah, kuda-kuda dan binatang lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Tetapi kau tidak berpikir untuk memelihara dan membesarkanku, anakmu sendiri. Tolong rawat aku dan ibuku.”

Mendengar ini, harga diri raja kembali. Ia merasa rendah hati oleh kebenaran dari kata-kata yang luar biasa anak laki-laki tersebut. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, “Datanglah padaku anak laki-lakiku dan aku akan merawat mu dengan baik.”

Kagum dengan keajaiban itu, semua orang di dalam istana menjulurkan tangannya dan meminta anak laki-laki yang melayang di udara itu untuk turun kepadanya. Tetapi anak itu langsung turun dari tengah-tengah udara menuju lengan ayahnya. Dengan anaknya yang duduk di pangkuan, raja mengumumkan bahwa ia akan menjadi putra mahkota dan ibunya akan menjadi ratu nomor satu.

Dengan demikian, raja dan seluruh isi istananya belajar tentang kekuatan dari kejujuran. Benares dikenal sebagai tempat keadilan yang jujur. Ketika raja meninggal. Putra mahkota yang telah tumbuh besar ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kelahiran yang bagaimanapun juga semuanya berhak dihormati. Jadi ia menobatkan dirinya sendiri dengan nama  “Raja Tanpa ayah”. Ia melanjutkan memerintah kerajaan dengan cara yang murah hati dan berbudi.

Pesan moral : Kebenaran selalu lebih kuat dari pada kebohongan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PIRING EMAS (Keserakahan dan Kejujuran)


Pada suatu ketika di sebuah tempat yang disebut Seri, ada dua orang pedagang panci dan wajan juga perhiasan-perhiasan buatan tangan. Mereka berdua sepakat untuk membagi wilayah dagangan mereka. Mereka juga berkata bahwa setelah seorang dari mereka sudah pergi melalui wilayahnya, maka pedagang lainnya boleh mencoba berdagang di tempat yang telah dilalui oleh pedagang sebelumnya.

Suatu hari, ketika seorang dari mereka sedang berjualan di jalan, seorang gadis kecil yang miskin melihat si Pedagang dan meminta kepada neneknya untuk membelikan sebuah gelang. “Kita orang-orang miskin, bagaimana bisa membeli gelang-gelang?” tanya si Nenek. Lalu si Gadis kecil itu berkata, “Walaupun kita tidak mempunyai uang sama sekali, kita bisa memberikan piring tua kita yang sudah kehitaman.” Nenek itu menyetujui pendapat cucunya untuk mencoba menukarkan piring tuanya itu kepada si pedagang, maka dia mengajak pedagang itu masuk ke dalam rumahnya.

Si Pedagang melihat bahwa orang-orang ini sangatlah miskin dan polos, jadi ia tidak mau menghabiskan waktunya dengan mereka. Walaupun si nenek itu meminta kepadanya dengan sangat, namun si Pedagang berkata bahwa ia tidak memiliki gelang yang akan mampu dibeli olehnya. Kemudian Nenek itu meminta, “Kami memiliki piring tua yang tidak berguna buat kami, bisakah kami tukarkan dengan sebuah gelang?” Pedagang itu mengambil piring tersebut, memperhatikannya dan menggoreskan garis halus di bagian bawahnya. Dia sangat terkejut ketika melihat di bagian bawah piring yang ditutupi debu hitam itu ternyata adalah piring emas. Tetapi ia berpura-puata seolah tidak memperhatikannya. Malahan ia memutuskan untuk menipu orang-orang miskin ini. Dengan begitu ia bisa mendapatkan piring tersebut secara cuma-cuma. Si Pedagang itu berkata, “Piring ini tidak berharga, bahkan untuk harga sebuah gelang, piring ini tidak ada nilainya dan aku tidak menginginkannya.” Lalu ia pergi, dan berpikir akan kembali lagi jika mereka setuju akan menukarkan piring tersebut dengan harga kurang dari seharusnya.

Sementara itu setelah selesai berjualan di kota bagiannya, pedagang yang satunya mencoba berdagang di tempat yang sudah dilalui oleh pedagang sebelumnya seperti apa yang telah mereka sepakati bersama. Si Pedagang itu berhenti di rumah yang sama. Sekali lagi gadis kecil yang miskin itu memohon kepada neneknya untuk menukarkan piring tua tersebut dengan sebuah gelang. Si Nenek melihat bahwa ia adalah seorang pedagang yang kelihatan sabar dan baik hati, lalu si Nenek berpikir, “Ia adalah orang yang baik tidak seperti pedagang pertama yang berbicara kasar.” Jadi si Nenek ini mengundang si Pedagang masuk ke dalam rumah dan menawarkannya untuk menukarkan piring tua yang sama dengan sebuah gelang. Ketika ia memeriksanya, ia memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah emas asli yang tertutup oleh debu yang melekat. Si Pedagang ini berkata kepada Nenek tua itu, “Semua barang daganganku dan semua uangku dua-duanya tidak sama nilainya dengan piring emas yang berharga ini.”

Tentu saja Nenek itu terkejut dengan apa yang dikatakan si Pedagang, tetapi dia tahu bahwa si Pedagang ini adalah orang yang benar-benar baik dan jujur. Jadi si Nenek berkata bahwa ia akan senang menukarkan piring tua tersebut dengan apapun. Si Pedagang berkata, “Aku akan memberikan semua panci-panciku dan perhiasan-perhiasan, ditambah dengan seluruh uangku, jika kau mengijinkanku menyimpan hanya delapan koin dan timbanganku berserta penutupnya uang akan digunakan untuk menyimpan piring emas itu.” Mereka akhirnya melakukan pertukaran. Lalu si Pedagang tersebut pergi menyeberang sungai dengan membayarkan delapan koinnya kepada seorang tukang perahu yang membawanya menyeberang.

Kemudian si Pedagang yang serakah kembali ke rumah si Nenek. Khayalannya tentang menambah keuntungan sudah ada di dalam kepalanya. Ketika ia bertemu kembali dengan si Gadis kecil dan Neneknya, ia berkata kalau ia berubah pikiran dan mau memberikan beberapa sen uangnya untuk piring tua berdebu yang tidak berguna itu, tetapi tidak satu pun dari gelangnya akan dia berikan. si Nenek itu kemudian berbicara dengan tenang kepada pedagang tentang pertukarannya dengan si Pedagang jujur dan berkata “Tuan, Anda membohongi kami.”

Si Pedagang yang serakah itu tidak menyesal dengan kebohongannya, tetapi ia sedih dan berpikir, “Aku telah kehilangan piring emas yang seharusnya dihargai sebesar 100 ribu.” Jadi ia bertanya kepada si Nenek, “Kemana orang itu pergi?” Lalu nenek itu memberitahukan arahnya. Dia meninggalkan semua barangnya di dekat pintu si Nenek dan berlari menuju ke sungai sambil berpikir, “Dia merampokku, dia merampokku, dia tidak akan memperolok-olok atau membodohiku.”

Dari tepi sungai, si Pedagang yang serakah melihat si Pedagang jujur masih sedang menyeberangi sungai dengan perahu. Lalu ia berteriak kepada tukang perahu, “Kembali..!” Akan tetapi si Pedagang yang jujur mengatakan kepada tukang perahu untuk tetap meneruskan penyeberangannya dan itulah yang dilakukannya.

Melihat bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa, Pedagang yang serakah menjadi sangat marah sekali. Dia melompat-lompat sambil memukuli dadanya. Dirinya menjadi dipenuhi oleh kebencian kepada Pedagang yang jujur yang telah memenangkan piring emas itu dan ini membuatnya batuk darah. Pedagang yang serakah akhirnya terkena serangan jantung dan meninggal di tempat.

Pesan moral: Kejujuran adalah prinsip yang paling baik dalam hidup.

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Source: Price Goodspeaker (Buddhist Tales for Young and Old, Volume I, Stories 1-5

Warung Kejujuran



By Selfy Parkit

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” mungkin pepatah tersebut sering sekali kita dengar di kalangan masyarakat, namun dalam arti yang positif tentunya. Lalu bagaimana jadinya kalau pepatah tersebut dipakai dalam istilah korupsi? “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi kaya raya”, wah mungkin begitu jadinya, dan tak sedikit dari para koruptor di sana yang mungkin juga berprinsip semacam ini. Sedikit memang, tetapi perbuatan yang sedikit tersebut berdampak besar dan merugikan banyak pihak.

Jika berbicara tentang korupsi rasanya tidak akan pernah ada habisnya, mulai dari korupsi uang, dana ini-itu, maupun korupsi waktu yang kita tidak disadari dan lain sebagainya. Apalagi di negara kita yang tercinta ini yang pada tahun lalu menempati peringkat korupsi urutan ke 111 dari 180 negara di dunia. Segala usaha pengawasan dilakukan untuk memberantas korupsi, namun sepertinya usaha tersebut tetap tidak menghilangkan kebiasaan si para koruptor tersebut untuk bertobat dan berhenti mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Namun di tengah-tengah maraknya berita korupsi dan usaha penanggulangannya tersebut, salah satu sekolah SMP Buddhi di Tangerang malah menyediakan fasilitas sekolah yang rentan korupsi. Seperti apakah fasilitas tersebut? tentunya Anda sedikit penasaran.

Fasilitas ini berupa sebuah warung dengan nama “Warung Kejujuran” Warung ini bukan hanya sekedar nama, tetapi benar-benar sebuah warung yang menantang Anda apakah Anda orang yang jujur atau tidak. Sejauh manakah warung ini menguji kejujuran para siswa??

Layaknya sebuah warung, sudah pasti akan ada barang yang di jual, ya barang-barang jualan tersebut ditempatkan di dalam satu buah etalase kaca yang di sampingnya terdapat label nama ‘Warung Kejujuran SMP Buddhi’. Etalase kaca yang lebarnya berukuran + 2 meter dengan tinggi tidak lebih dari satu meter itu menjual berbagai macam keperluan alat tulis, mulai dari buku, pensil, pulpen penghapus dan lain sebagainya. Namun tidak hanya itu saja, ada pula makanan dan barang-barang keperluan siswa.

Bukan saja namanya yang unik, akan tetapi cara kerjanya pun ternyata unik. Tepat di atas kaca sebelah dalam terdapat selembar kertas yang menerangkan bagaimana cara membeli barang di warung tersebut. Dengan cara inilah kejujuran Anda (khusunya siswa-siswi SMP Buddhi) diuji. Anda hanya perlu meletakan uang ke dalam kaleng tempat uang seharga barang yang Anda beli, lalu mencatatnya ke dalam buku yang sudah disediakan, gampangkan! Anda hanya tinggal langsung mengambil barang yang diinginkan. Jika perlu uang kembalian, anda hanya tinggal mengambilnya di kaleng uang.

Warung yang modalnya dikumpulkan secara kolektif dari para guru dan murid ini, bertujuan untuk mengajarkan siswa-siswi untuk bertindak jujur, bukan hanya teori tetapi dalam praktik yang nyata. Bukan juga membatasi atau hanya mengawasi anak untuk tidak melakukan pencurian, korupsi atau perbuatan tidak jujur. Akan tetapi, memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih kejujuran. Warung ini sendiri sudah mulai beroperasi sejak bulan September 2009 dan dikelolah oleh ibu HJ.Sabihah Spd dengan dibantu oleh anak-anak OSIS. Guru IPA yang sudah mengajar selama kurang lebih 25 tahun ini pun menyatakan bahwa awalnya memang tidak mudah untuk menanamkan kejujuran kepada para siswa-siswi, mengingat warung ini sudah empat kali mengalami kebangkrutan, alias barang dan uangnya habis tanpa sisa. Namun karena pentingnya akan tujuan dari pendidikan yang dalam hal ini melatih anak untuk bersikap jujur, Ibu guru yang juga merupakan wakil dari kepala sekolah SMP Buddhi ini tetap mengusahakan pengadaan dari Warung tersebut. Walaupun beliau mengaku sempat putus asa akan keberhasilan warung tersebut, namun dengan mulai memberikan pengarahan kepada siswa-siswi mengenai pentingnya bersikap jujur, Warung Kejujuran akhirnya berangsur-angsur menjalankan fungsinya. Sejak bulan Maret 2010 siswa-siswi SMP Buddhi pun mulai jujur dalam membeli barang-barang di Warung Kejujuran.

ibu HJ.Sabihah Spd dengan warung yang dikelolahnya

ibu HJ.Sabihah Spd dengan warung yang dikelolahnya

Inilah pentingnya menanamkan nilai-nilai dan melatih kejujuran kepada anak-anak dari sejak dini, masa depan bangsa kita ada di tangan mereka—anak-anak dan murid-murid kita. Selama warung kejujuran ini tetap bertahan di sekolah Buddhi, selama itu pula siswa-siswi SMP Buddhi mampu untuk berkata dan bersikap jujur, dan seharusnya koruptor di sana malu dengan mereka yang masih muda dan mampu untuk tidak berbohong serta mencuri ataupun korupsi.

Sumber

Wawancara Ibu HJ. Sabihah Spd.

http://inimu.com/berita/2009/11/18/cpi-2009-tingkat-korupsi-indonesia-masih-menonjol/

Jujur atau Bohong


Teman saya meminta saya untuk menghadiri sebuah seminar seharga + 2,5 juta gratis. Tentu saja hal itu memaksa saya untuk berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapat ijin tidak masuk kerja pada hari jum’at, karena seminar itu diadakan selama 3 hari yaitu jumat sampai minggu.

Banyak dari teman saya yang mengusulkan untuk ijin saja dengan alasan urusan keluarga ataupun sakit, karena dengan begitu ijin sudah tentu dapat. Saya yang tidak biasa berbohong merasa tidak enak, namun usulan itu hampir saja memengaruhi saya. Untungnya ada seorang teman yang meyakinkan saya bahwa tak ada salahnya berkata jujur, lagi pula tujuan dari seminar tersebut untuk pengembangan diri. Seketika keyakinan muncul di dalam diri saya, bergegas saya menemui bos saya dan menyatakan maksud hati. Memang hasilnya saya tidak mendapatkan ijin secara resmi dari pihak sekolah, tapi bos saya malah mendukung saya untuk menghadiri seminar tersebut.

Pesan moral : Kejujuran membawa hasil yang tak terduga.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Juli 2009