IKAN YANG BERUNTUNG (NAFSU KEINGINAN)


 

Pada suatu ketika, Raja Brahmadatta memiliki seorang penasihat yang sangat bijaksana yang memiliki kemampuan berbicara dengan para binatang. Ia mengerti apa yang mereka ucapkan dan ia dapat berbicara kepada mereka dengan menggunakan bahasa mereka.

Suatu hari si penasihat sedang berjalan-jalan di sepanjang pinggir sungai dengan para pengikutnya. Mereka menghampiri beberapa nelayan yang melemparkan jaring besar ke dalam sungai. Ketika mengamati dengan seksama ke dalam air, mereka memperhatikan seekor ikan tampan besar sedang mengikuti istrinya yang cantik.

Seraya para nelayan mengirimkannya peluncur ke dalam air, sisiknya yang berkilauan memantulkan cahaya matahari pagi dalam semua warna pelangi. Siripnya mengipas-ngipas seperti sayap-sayap lembut sang peri. Jelas bahwa suaminya begitu terpesona oleh paras dan caranya bergerak, hal itu membuat ia tidak memperhatikan hal lainnya!

Continue reading

RUSA ANGIN DAN RUMPUT MADU (Keinginan yang Kuat Untuk Mencicipi)


Pada suatu ketika, raja Benares mempunyai seorang tukang kebun yang merawat kebun kesenangannya. Kadang-kadang binatang dari hutan terdekat masuk ke dalam kebun. Si Tukang kebun mengeluhkan hal ini kepada raja dan Raja berkata, “Jika kau melihat binatang aneh apa pun beritahu aku segera.”

Suatu hari, si Tukang kebun melihat sejenis rusa aneh jauh di ujung kebun. Ketika rusa itu melihat si Tukang kebun, ia lari secepat angin. Mereka adalah sejenis rusa yang langka. Mereka luar biasa takut. Mereka sangat mudah takut dengan manusia.

Si Tukang kebun mengatakan tentang rusa angin kepada raja. Raja meminta si tukang kebun, dapatkah ia menangkap binatang yang aneh itu. Si Tukang kebun menjawab, “Rajaku, jika kau dapat memberikanku beberapa madu lebah, aku bahkan dapat membawanya ke dalam istana!” Untuk itu raja memerintahkan agar si Tukang kebun diberikan madu lebah sebanyak yang ia inginkan.

Rusa angin istimewa ini senang makan bunga dan buah-buahan di dalam kebun kesenangan raja. Si Tukang kebun membiarkan dirinya dilihat oleh rusa itu sedikit demi sedikit. Jadi rusa angin itu tidak akan terlalu takut. Kemudian ia mulai melumuri madu di atas rumput di mana rusa angin biasa datang untuk makan. Merasa cukup yakin, rusa itu mulai memakan rumput yang dilumuri madu. Tak lama kemudian, ia memperkuat keinginan untuk mencicipi rumput madu ini. Keinginannya yang kuat membuat ia datang ke kebun setiap hari. Tak lama lagi, ia tidak akan makan yang lainnya.

Sedikit demi sedikit, si Tukang kebun menghampiri rusa angin lebih dekat dan lebih dekat. Awalnya rusa angin akan melarikan diri. Tetapi belakangan, ia kehilangan rasa takut dan mulai berpikir bahwa si Tukang kebun tidak membahayakan. Si tukang kebun menjadi lebih dan lebih bersahabat, artinya ia dapat membuat si rusa makan rumput yang dilumuri madu itu dari tangannya. Si Tukang kebun terus melakukan ini untuk beberapa waktu, dengan maksud untuk membangun keberanian dan kepercayaan si rusa.

Sementara itu, si Tukang kebun memiliki sederetan tirai-tirai yang terpasang, membuat jalan setapak yang lebar, dari jauh di ujung kebun kesenangan raja sampai ke istana raja. Dari dalam jalan setapak ini, tirai-tirai itu akan menjaga rusa angin agar tidak melihat siapa pun yang mungkin akan membuatnya takut.

Ketika semuanya disiapkan, si Tukang kebun mengambil sekantung rumput dan sebotol madu. Ketika rusa angin muncul, si Tukang kebun kembali memberikan makan melalui tangannya. Secara berangsur-angsur, ia menggiring si Rusa jantan dengan menggunakan rumput yang sudah dilumuri madu, sampai akhirnya rusa angin mengikutinya tepat menuju ke dalam istana. Suatu ketika di dalam istana, penjaga istana menutup pintu-pintu dan rusa angin terperangkap. Melihat banyak orang di istana, rusa angin tiba-tiba menjadi sangat takut dan mulai berlari berkeliling dengan sangat gila, beruasaha untuk melarikan diri.

Raja datang ke dalam ruangan itu dan melihat rusa angin yang dilanda kepanikan. Raja berkata, “Dasar rusa angin! Bagaimana bisa dia mengalami situasi seperti itu? Seekor rusa angin adalah binatang yang tidak akan kembali ke tempat di mana ia sudah banyak melihat manusia selama tujuh hari penuh. Biasanya, jika seekor rusa angin takut sekali di dalam suatu tempat khusus, ia tidak akan kembali lagi seumur hidupnya! Tetapi lihat! Bahkan seekor makhluk pemalu yang liar bisa diperbudak oleh keinginannya yang kuat untuk mencicipi sesuatu yang manis. Kemudian ia dapat dipikat ke tengah-tengah kota dan bahkan ke dalam istana.”

“Teman-temanku, guru-guru memperingatkan kita agar tidak terlalu melekat kepada tempat di mana kita tinggal, juga untuk segala sesuatu yang sudah berlalu. Mereka berkata bahwa menjadi terlalu melekat kepada kumpulan kecil teman-teman adalah keterikatan dan membatasi pandangan luas. Tetapi lihatlah betapa keinginan kuat yang sederhana terhadap rasa manis lebih berbahaya, atau sensasi rasa apa pun lainnya. Lihatlah bagaimana binatang indah yang pemalu ini terperangkap oleh tukang kebunku, dengan cara mengambil keuntungan dari keinginan kuatnya untuk mencicipi.”

Karena tak bermaksud untuk menyakiti si rusa angin. Raja melepaskannya ke hutan. Ia tak pernah kembali ke kebun kerajaan dan tidak pernah merindukan rasa dari rumput madu.

Pesan moral: Lebih baik makan untuk hidup, daripada hidup untuk makan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

RUSA GUNUNG JANTAN DAN RUSA KAMPUNG BETINA (Kegilaan)


Pada suatu ketika, di India Utara, ada sekumpulan rusa dari kampung rusa. Mereka terbiasa tinggal di dekat perkampungan mereka lahir dan tumbuh besar di sana. Mereka tahu kalau mereka harus sangat hati-hati di dekat penduduk. Khususnya di saat benar-benar masa panen, ketika gandum-gandum tumbuh tinggi dan para petani memasang perangkap dan membunuh rusa mana pun yang datang mendekat.

Ketika masa panen, rusa kampung tinggal di dalam hutan sepanjang hari penuh. Mereka hanya datang mendekati kampung pada waktu gelapnya malam. Salah satu dari mereka adalah seekor rusa betina muda yang cantik. Ia memiliki bulu halus coklat kemerah-merahan, ekor dengan bulu putih yang halus dan kedua mata besar lebar yang cermelang.

Selama musim yang khusus ini, ada seekor rusa gunung jantan yang sudah berkeliaran ke dalam hutan dataran rendah yang sama. Suatu hari, ia melihat seekor rusa betina muda yang cantik itu dan seketika itu juga menjadi tergila-gila dengannya. Ia tak tahu apa pun tentang rusa betina itu. Tetapi ia membayangkan dirinya sendiri menjadi jatuh cinta sangat dalam kepadanya, bukan hanya bulu coklat kemerahan-kemerahannya dan ekor putih berbulu halus atau kedua mata besarnya yang lebar dan cemerlang. Dia bahkan bermimpi tentangnya, meskipun rusa betina itu tidak tahu keberadaannya.

Setelah beberapa hari, rusa gunung jantan muda memutuskan untuk memperkenalkan dirinya. Seraya ia sedang berjalan keluar menuju tempat di mana si rusa betina sedang memakan rumput, ia terpesona oleh rupa si rusa betina dan tidak dapat berhenti memandangnya. Ia memulai pembicaraan, “Oh manisku yang cantik, sama indahnya seperti bintang-bintang dan sama terangnya seperti bulan. Aku menyatakan kepadamu kalau aku sangat…” Persis kemudian kuku rusa jantan muda tersangkut di akar pohon, dia tersandung dan jatuh, dan wajahnya tercebur di dalam kubangan lumpur! Rusa betina kampung yang cantik itu tersanjung, jadi ia tersenyum. Tetapi di dalam hati, ia berpikir kalau rusa jantan gunung ini benar-benar agak bodoh!

Sementara itu, tanpa diketahui oleh rusa-rusa itu. Ada kaum peri pohon hidup di dalam bagian hutan tersebut. Mereka telah mengamati rusa jantan gunung, pada saat rusa jantan secara diam-diam memperhatikan rusa kampung betina. Ketika rusa gunung jantan mulai berjalan keluar ke tempat terbuka, memulai pembicaraannya, dan tercebur di dalam kubangan lumpur — peri-peri itu tertawa dan tertawa. “Sungguh bodohnya kedua binatang ini” mereka berteriak. Tetapi satu peri tidak tertawa, ia berkata “Aku takut kalau ini adalah sebuah peringatan untuk kedua rusa yang bodoh ini!”

Rusa jantan muda itu sedikit merasa malu, tetapi ia tidak melihat itu sebagai peringatan apa pun. Sejak itu, ia mengikuti rusa betina kemanapun rusa betina pergi. Ia tidak berhenti mengatakan kepada rusa betina alangkah cantiknya rusa betina dan betapa ia begitu mencintainya. Rusa betina tidak begitu menanggapinya.

Kemudian malam hari tiba, dan ini adalah saatnya bagi rusa betina untuk turun ke kampung. Penduduk yang tinggal di sepanjang jalan mengetahui kalau rusa-rusa lewat di malam hari. Jadi mereka menyiapkan perangkap-perangkap untuk menangkap mereka. Malam itu seorang pemburu menunggu, bersembunyi di belakang semak-semak.

Dengan hati-hati, rusa kampung betina turun keluar hutan. Si rusa gunung jantan yang masih saja menyanyikan pujian-pujian untuknya, pergi bersama dengannya. Rusa betina berhenti dan berkata kepadanya, “Rusa jantanku sayang, kau tidak berpengalaman untuk berkeliaran di kampung-kampung. Kau tidak tahu betapa bahayanya manusia. Kampung dan jalannya, dapat membawa kematian kepada seekor rusa bahkan pada malam hari. Karena kau masih sangat muda dan tidak berpengalaman (dan rusa betina berpikir kepada dirinya sendiri, ‘dan bodoh’), kau seharusnya tidak ikut turun ke kampung denganku, kau harus tetap tinggal di dalam hutan yang aman.

Mengetahui hal ini, para peri pohon bertepuk tanggan tetapi tentu saja, rusa-rusa itu tidak dapat mendengar mereka.

Rusa jantan muda tidak memperdulikan peringatan rusa betina. Ia hanya berkata, “Matamu kelihatan sangat indah dalam sinar bulan!” dan terus berjalan mengikutinya. Si rusa betina berkata, “Jika kau tidak ingin mendengarkan ku, setidaknya diamlah!” Rusa jantan sangat tergila-gila kepadanya, ia tidak dapat mengendalikan pikirannya, tetapi akhirnya ia menutup mulutnya.

Tak lama kemudian, mereka mendekati tempat di mana si pemburu sedang bersembunyi di belakang semak-semak. Para peri melihatnya, dan menjadi gelisah serta takut akan keselamatan rusa-rusa itu. Mereka terbang dengan gelisah di sekeliling batang-batang pohon, tetapi mereka hanya dapat menyaksikan.

Rusa betina dapat mencium bau laki-laki yang sedang bersembunyi itu. Ia takut oleh perangkap, jadi ia berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, ia membiarkan si rusa jantan jalan terlebih dahulu, ia sedikit berjalan di belakangnya.

Ketika si pemburu melihat rusa gunung jantan yang tak diduga, ia menembakan anak panahnya dan membunuh rusa jantan dengan segera. Melihat hal itu, rusa betina yang ketakutan itu berbalik dan lari kembali ke hutan secepat yang dia bisa.

Pemburu memastikan bunuhannya. Ia mulai menyalakan api, mengikuti si rusa, memasak beberapa daging rusa itu dan memakannya sampai kenyang. Ia melemparkan bangkai rusa itu keatas punggungnya dan membawanya pulang untuk memberi makan keluarganya.

Ketika peri-peri melihat apa yang terjadi, beberapa dari mereka menangis. Ketika menyaksikan pemburu memotong rusa jantan yang dulu terlihat mulia, beberapa dari mereka merasa sakit. Peri lainnya menyalahkan rusa betina yang berhati-hati karena telah mengarahkan si rusa jantan kepada si pembatai.

Tetapi peri yang bijaksana, yang sudah memberikan peringatan awal, berkata, “Kegembiraan dari kegilaanlah yang membunuh rusa yang bodoh itu. Keinginan buta membawa kebahagiaan yang palsu pada awalnya, tetapi berakhir dengan kesakitan dan penderitaan.”

Pesan moral : Kegilaan menimbulkan kehancuran.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50