PEMBUAT HARGA KERAJAAN (Kebodohan)


Dahulu kala nun jauh di sana, ada seorang raja yang memerintah di Benares, India Utara. Salah satu seorang mentrinya dipanggil dengan sebutan seorang pembuat harga dan dia adalah seorang pemuda yang jujur. Pekerjaannya adalah mengatur harga yang adil untuk sesuatu apa pun yang ingin raja beli atau jual.

Dalam beberapa kesempatan, raja tidak menyukai harga yang dia buat. raja tidak mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Raja tidak mau membiayai lebih mahal dari apa yang ia beli atau jual untuk apa yang menurutnya tidak cukup mahal atau sebaliknya. Jadi raja memutuskan untuk mengganti si pembuat harga.

Suatu hari raja melihat seorang pemuda yang tampan dan raja berpikir “Orang ini akan cocok mengantikan posisi pembuat hargaku.” Jadi raja memecat pembuat harga yang jujur itu dan menunjuk si pemuda menggantikannya. Pemuda itu berpikir, “Aku harus membuat Raja senang yaitu membeli dengan harga-harga yang sangat murah dan menjual pada harga-harga yang paling tinggi.” Jadi si pemuda ini membuat harga-harga yang tidak masuk akal, tanpa mempedulikan sama sekali apa pun yang berharga. Hal ini menguntungkan uang yang banyak dan membuat raja yang serakah itu sangat senang. Sementara itu, semua orang termasuk pejabat raja lainnya dan rakyat-rakyat biasa yang bertransaksi dengannya menjadi sangat tidak senang.

Kemudian pada suatu hari seorang pedagang kuda tiba di Benares dengan 500 kudanya untuk dijual. Kuda-kuda itu terdiri dari kuda jantan, kuda betina dan anak kuda jantan. Raja mengundang pedagang itu ke kerajaan dan memanggil pembuat harga kerajaannya itu untuk menentukan harga bagi 500 kuda-kuda tersebut. Si pembuat harga yang hanya berpikir bagaimana membuat raja senang berkata, “Seluruh kawanan kuda-kuda ini berharga satu mangkuk nasi.” Untuk itu raja memesan satu mangkuk nasi untuk dibayarkan kepada si Pedagang kuda dan semua kuda-kuda itu dibawa ke kandang kerajaan.

Tentu saja pedagang kuda amat marah, tetapi saat itu dia tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian pedagang kuda ini mendapat informasi tentang pembuat harga raja terdahulu yang memiliki reputasi sebagai orang yang jujur dan adil. Jadi si Pedagang mendatanginya dan mengatakan apa yang sudah terjadi. Si Pedagang ingin mendengarkan saran dari si pembuat harga dengan maksud mendapatkan harga yang pantas dari raja. Si Pembuat harga yang terdahulu berkata, “Jika kau melakukan apa yang aku katakan, raja akan diyakinkan mengenai nilai sesungguhnya dari kuda-kuda itu. Kembalilah kepada pembuat harga itu dan puaskan dia dengan hadiah barang-barang yang berharga. Minta dia untuk mengatakan nilai dari semangkuk nasi di hadapan raja. Jika si Pembuat harga itu setuju, temui dan beritahu aku, aku akan pergi bersamamu menemui raja.”

Mengikuti nasehat ini, si Pedagang pergi menemui si Pembuat harga dan memberikannya hadiah yang berharga. Hadiah itu membuatnya sangat senang, dengan begitu si Pembuat harga ini menghargai si Pedagang kuda. Lalu si Pedagang kuda berkata kepadanya, “Saya sangat senang dengan penilaian berharga Anda, bisakah Anda meyakinkan Raja tentang harga dari satu mangkuk nasi?” Si pembuat harga yang bodoh berkata, “Mengapa tidak? Saya akan menjelaskan harga dari satu mangkuk nasi, bahkan di hadapan Raja.”

Jadi si Pembuat harga yang bodoh ini berpikir kalau si Pedagang kuda merasa puas dengan semangkuk nasinya. Dia mengatur pertemuan lainnya dengan raja, sebelum si Pedagang bergegas meninggalkan negaranya. Si Pedagang melapor kembali kepada si Pembuat harga yang terdahulu dan mereka pergi bersama-sama menemui raja.

Semua menteri-menteri raja dan lengkap dengan orang-orang istana berkumpul di ruang pertemuan kerajaan. Si penjual kuda berkata kepada raja, “Raja ku, saya mengerti bahwa di negara Anda seluruh kumpulan 500 ekor kuda saya dihargai dengan semangkuk nasi. Sebelum saya kembali ke negara saya, saya ingin tahu nilai dari semangkuk nasi di negara Anda.” Sang Raja menoleh kepada si Pembuat harga kerajaannya dan berkata, “Apa nilai untuk semangkuk nasi?”

Si Pembuat harga yang bodoh itu, dengan tujuan menyenangkan hati raja, yang sebelumnya sudah menghargai sekumpulan kuda-kuda dengan satu mangkuk nasi. Sekarang, setelah menerima suap dari si Pedagang kuda, ia ingin menyenangkan si Pedagang kuda juga. Jadi si Pembuat harga menjawab pertanyaan Sang Raja dengan sikap yang paling menghargai, “Dengan hormat, satu mangkuk nasi seharga dengan kota Benares, bahkan termasuk dengan tempat kediaman selir raja, sama halnya dengan bagian pinggiran kota. Dengan kata lain, semangkuk nasi seharga dengan seluruh kerajaan Benares!”

Ketika mendengar hal ini, seluruh menteri kerajaan dan orang-orang bijaksana yang hadir di ruang pertemuan mulai tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk orang di sebelah mereka. Ketika mulai sedikit tenang, mereka berkata, “Sebelumnya kita mendengar bahwa kerajaan tak ternilai harganya, sekarang kita mendengar bahwa seluruh Benares berikut istana dan rumah-rumah besarnya dihargai hanya dengan semangkuk nasi! Keputusan dari pembuat harga kerajaan sangat aneh! Di mana yang mulia menemukan orang semacam itu? Ia baik hanya untuk menyenangkan hati Raja dan juga si Pedagang kuda, tidak untuk memberikan harga yang pantas untuk si Pedagang yang menjual kuda-kudanya dari satu negara ke negara lain.”

Ketika mendengar gelak tawa di seluruh ruangan istana dan kata-kata dari para menteri juga para penasihatnya. raja merasa malu. Dengan begitu raja membawa kembali si Pembuat harganya yang terdahulu ke posisi jabatannya semula. raja menyetujui harga baru yang layak untuk sekumpulan kuda-kuda yang ditentukan oleh si Pembuat harga yang jujur. Setelah mendapatkan sebuah pembelajaran, raja dan kerajaannya hidup dengan adil dan makmur.

Pesan moral: Kebodohan dalam jabatan yang tinggi dapat membawa rasa malu, bahkan untuk seorang raja.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Advertisements

PEDAGANG TIKUS (Pintar dan Berterima Kasih)


Pada suatu ketika, penasehat penting kerajaan sedang dalam perjalanannya menemui raja dan penasehat lainnya. Di pelik matanya, ia melihat seekor tikus mati di pinggir jalan. Lalu ia berkata kepada orang-orang yang ada bersamanya, “Walaupun dimulai dari tikus ini, seorang muda yang energik akan membangun sebuah keuntungan. Jika ia bekerja keras dan menggunakan kepintarannya, ia dapat memulai sebuah bisnis dan menyokong istri serta keluarga.”

Seseorang yang tidak sengaja lewat mendengar kata-kata tersebut. Dia tahu bahwa orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah seorang penasehat raja yang terkenal. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti perkataannya. Kemudian pemuda itu mengambil tikus mati tersebut dan pergi sambil menjingjing buntut si tikus. Sebagaimana keberuntungannya, sebelum ia pergi jauh, seorang penjaga toko menghentikannya. Penjaga toko itu berkata, “Sepanjang pagi kucing peliharaanku terus menerus menggangguku. Aku akan memberikanmu 2 koin tembaga untuk tikus itu.” Jadi selesailah.

Dengan 2 koin tembaga, pemuda itu membeli kue-kue manis dan menunggu di pinggir jalan dengan kue-kue manis itu dan sedikit air. Seperti apa yang diharapkannya, beberapa orang pemetik bunga untuk membuat karangan bunga pulang dari pekerjaannya. Karena mereka semua merasa haus dan lapar, mereka setuju untuk membeli kue-kue manis dan air tersebut seharga seikat bunga-bunga dari masing-masing mereka. Pada sore harinya, pemuda itu menjual bunga-bunganya di kota. Dengan uang yang didapatkannya, dia membeli lebih banyak lagi kue-kue manis dan kembali pada hari berikutnya untuk menjual kue-kue itu kepada pemetik bunga.

Hal ini berlangsung selama beberapa waktu, sampai suatu hari terjadi badai yang mengerikan, dengan hujan deras dan angin kencang. Ketika ia sedang berjalan di kebun raja yang indah, dia melihat banyak dahan-dahan pohon yang jatuh berserakan di sekitar karena tiupan angin. Untuk itu ia menawarkan jasa kepada tukang kebun kerajaan untuk membersihkan semuanya, jika si tukang kebun bersedia mengijinkannya mengambil dahan-dahan pohon itu. Tukang kebun yang malas itu dengan cepat menyetujuinya.

Kemudian pemuda itu menemukan beberapa anak yang bermain di taman seberang jalan. Mereka senang mengumpulkan semua dahan-dahan dan semak-semak di dekat  pintu masuk kebun yang indah tersebut hanya untuk sepotong kue manis sebagai bayaran setiap anaknya.

Bersamaan dengan itu datang seorang pembuat tembikar kerajan yang biasanya mencari beberapa kayu bakar untuk oven kacanya. Ketika si pembuat tembikar ini melihat tumpukan kayu yang baru saja telah dikumpulkan oleh anak-anak, ia memberikan bayaran kepada pemuda itu harga yang bagus untuk setumpuk kayu-kayu tersebut. Dia bahkan menawarkan beberapa tembikarnya.

Dengan keuntungan yang didapatkannya dari penjualan bunga dan kayu bakar, pemuda itu membuka toko makanan dan minuman. Suatu hari semua pemotong rumput setempat yang dalam perjalanannya menuju kota, berhenti di toko si pemuda. Pemuda itu memberikan kue-kue manis dan minuman secara gratis. Para pemotong rumput itu terkejut dengan kemurahan hati si pemuda dan bertanya “Apa yang bisa kami lakukan untukmu?” Si pemuda berkata tidak ada apa pun yang perlu mereka lakukan saat ini, tetapi ia akan memberitahukan mereka nantinya.

Seminggu kemudian, si pemuda mendengar ada seorang pedagang kuda datang ke kota untuk menjual 500 kuda-kudanya. Kemudian dia menghubungi para pemotong rumput dan meminta dari masing-masing mereka untuk memberikan seikat rumput kepadanya. Dia memberitahu mereka untuk tidak menjual rumput apa pun kepada pedagang kuda sampai sebelum rumput-rumput yang dia miliki habis terjual. Dengan begitu dia mendapatkan penawaran dengan harga yang sangat bagus.

Waktu berlalu sampai suatu hari, pada saat di toko, beberapa orang pedagang memberitahunya ada kapal baru dari negeri asing baru saja berlabuh di pelabuhan. Dia melihat ini sebagai kesempatan yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Dia berpikir dan berpikir sampai akhirnya dia muncul dengan rencana usaha yang bagus.

Pertama, pemuda itu pergi ke seorang pedagang perhiasan temannya dan membayar dengan harga yang murah untuk sebuah cincin emas yang sangat berharga dengan batu permata merah yang indah di dalamnya. Dia tahu bahwa kapal asing itu berasal dari negara yang tidak menghasilkan batu permata, dan dimana emas juga sangat mahal. Jadi ia memberikan cincin yang indah itu kepada si kapten kapal sebagai komisi. Untuk mendapatkan komisi itu, si kapten setuju untuk mengirimkan semua penumpangnya kepada si pemuda sebagai seorang makelar. Si pemuda kemudian akan membawa mereka menuju toko-toko di dalam kota. Sebagai gantinya pemuda itu mendapatkan komisi dari para pedagang karena telah membawa para pelanggan ke toko mereka.

Dengan cara bertindak sebagai makelar, pemuda itu menjadi sangat kaya setelah beberapa kapal datang menuju pelabuhan. Mereka senang dengan kesuksesannya, pemuda itu teringat bahwa itu semua diawali dengan kata-kata dari penasehat raja yang bijaksana. Jadi ia memutuskan untuk memberikan penasehat itu sebuah hadiah yaitu 100.000 koin emas. Ini adalah setengah dari seluruh kekayaannya. Setelah membuat penetapan yang pantas, ia bertemu dengan si penasehat raja dan memberikannya hadiah beserta dengan rasa terima kasih yang tulus.

Penasehat itu heran dan bertanya, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kekayaan yang begitu banyak sehingga dapat  memberikan hadiah yang begitu besar nilainya.” Pemuda itu mengatakan kepadanya kalau itu semua berawal dari kata-kata si penasehat sendiri beberapa waktu yang lalu. Kata-kata itu sudah mengarahkannya kepada seekor tikus mati, seekor kucing lapar, kue-kue yang manis, seikat bunga, badai yang merusak dahan-dahan pohon, anak-anak di taman, si pembuat tembikar raja, sebuah toko makanan dan minuman, rumput untuk 500 ekor kuda, sebuah cincin emas permata, hubungan usaha yang baik, dan akhirnya sebuah keberuntungan yang besar.

Mendengar semua cerita itu, si penasehat kerajaan berpikir kepada dirinya sendiri, “Tidak baik jika kehilangan seorang laki-laki yang berbakat dan semangat ini. Aku memiliki begitu banyak kekayaan sama seperti halnya putriku satu-satunya. Selama laki-laki ini masih lajang, dia berhak menikahi putriku. Dengan begitu laki-laki ini dapat mewarisi harta kekayaanku sebagai miliknya dan putriku akan dijaganya dengan baik.

Semuanya telah berlalu, dan setelah penasehat yang bijaksana itu meninggal, seseorang yang sudah mengikuti nasehatnya kini menjadi pemuda yang paling kaya di kota. Raja menetapkan pemuda itu di jabatan si penasehat. Seluruh sisa hidupnya, dengan dermawan dia memberikan uangnya untuk kebahagiaan dan kebaikan banyak orang.

Pesan moral: Dengan tenaga dan kemampuan, kekayaan yang besar datang bahkan dari permulaan yang kecil.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PIRING EMAS (Keserakahan dan Kejujuran)


Pada suatu ketika di sebuah tempat yang disebut Seri, ada dua orang pedagang panci dan wajan juga perhiasan-perhiasan buatan tangan. Mereka berdua sepakat untuk membagi wilayah dagangan mereka. Mereka juga berkata bahwa setelah seorang dari mereka sudah pergi melalui wilayahnya, maka pedagang lainnya boleh mencoba berdagang di tempat yang telah dilalui oleh pedagang sebelumnya.

Suatu hari, ketika seorang dari mereka sedang berjualan di jalan, seorang gadis kecil yang miskin melihat si Pedagang dan meminta kepada neneknya untuk membelikan sebuah gelang. “Kita orang-orang miskin, bagaimana bisa membeli gelang-gelang?” tanya si Nenek. Lalu si Gadis kecil itu berkata, “Walaupun kita tidak mempunyai uang sama sekali, kita bisa memberikan piring tua kita yang sudah kehitaman.” Nenek itu menyetujui pendapat cucunya untuk mencoba menukarkan piring tuanya itu kepada si pedagang, maka dia mengajak pedagang itu masuk ke dalam rumahnya.

Si Pedagang melihat bahwa orang-orang ini sangatlah miskin dan polos, jadi ia tidak mau menghabiskan waktunya dengan mereka. Walaupun si nenek itu meminta kepadanya dengan sangat, namun si Pedagang berkata bahwa ia tidak memiliki gelang yang akan mampu dibeli olehnya. Kemudian Nenek itu meminta, “Kami memiliki piring tua yang tidak berguna buat kami, bisakah kami tukarkan dengan sebuah gelang?” Pedagang itu mengambil piring tersebut, memperhatikannya dan menggoreskan garis halus di bagian bawahnya. Dia sangat terkejut ketika melihat di bagian bawah piring yang ditutupi debu hitam itu ternyata adalah piring emas. Tetapi ia berpura-puata seolah tidak memperhatikannya. Malahan ia memutuskan untuk menipu orang-orang miskin ini. Dengan begitu ia bisa mendapatkan piring tersebut secara cuma-cuma. Si Pedagang itu berkata, “Piring ini tidak berharga, bahkan untuk harga sebuah gelang, piring ini tidak ada nilainya dan aku tidak menginginkannya.” Lalu ia pergi, dan berpikir akan kembali lagi jika mereka setuju akan menukarkan piring tersebut dengan harga kurang dari seharusnya.

Sementara itu setelah selesai berjualan di kota bagiannya, pedagang yang satunya mencoba berdagang di tempat yang sudah dilalui oleh pedagang sebelumnya seperti apa yang telah mereka sepakati bersama. Si Pedagang itu berhenti di rumah yang sama. Sekali lagi gadis kecil yang miskin itu memohon kepada neneknya untuk menukarkan piring tua tersebut dengan sebuah gelang. Si Nenek melihat bahwa ia adalah seorang pedagang yang kelihatan sabar dan baik hati, lalu si Nenek berpikir, “Ia adalah orang yang baik tidak seperti pedagang pertama yang berbicara kasar.” Jadi si Nenek ini mengundang si Pedagang masuk ke dalam rumah dan menawarkannya untuk menukarkan piring tua yang sama dengan sebuah gelang. Ketika ia memeriksanya, ia memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah emas asli yang tertutup oleh debu yang melekat. Si Pedagang ini berkata kepada Nenek tua itu, “Semua barang daganganku dan semua uangku dua-duanya tidak sama nilainya dengan piring emas yang berharga ini.”

Tentu saja Nenek itu terkejut dengan apa yang dikatakan si Pedagang, tetapi dia tahu bahwa si Pedagang ini adalah orang yang benar-benar baik dan jujur. Jadi si Nenek berkata bahwa ia akan senang menukarkan piring tua tersebut dengan apapun. Si Pedagang berkata, “Aku akan memberikan semua panci-panciku dan perhiasan-perhiasan, ditambah dengan seluruh uangku, jika kau mengijinkanku menyimpan hanya delapan koin dan timbanganku berserta penutupnya uang akan digunakan untuk menyimpan piring emas itu.” Mereka akhirnya melakukan pertukaran. Lalu si Pedagang tersebut pergi menyeberang sungai dengan membayarkan delapan koinnya kepada seorang tukang perahu yang membawanya menyeberang.

Kemudian si Pedagang yang serakah kembali ke rumah si Nenek. Khayalannya tentang menambah keuntungan sudah ada di dalam kepalanya. Ketika ia bertemu kembali dengan si Gadis kecil dan Neneknya, ia berkata kalau ia berubah pikiran dan mau memberikan beberapa sen uangnya untuk piring tua berdebu yang tidak berguna itu, tetapi tidak satu pun dari gelangnya akan dia berikan. si Nenek itu kemudian berbicara dengan tenang kepada pedagang tentang pertukarannya dengan si Pedagang jujur dan berkata “Tuan, Anda membohongi kami.”

Si Pedagang yang serakah itu tidak menyesal dengan kebohongannya, tetapi ia sedih dan berpikir, “Aku telah kehilangan piring emas yang seharusnya dihargai sebesar 100 ribu.” Jadi ia bertanya kepada si Nenek, “Kemana orang itu pergi?” Lalu nenek itu memberitahukan arahnya. Dia meninggalkan semua barangnya di dekat pintu si Nenek dan berlari menuju ke sungai sambil berpikir, “Dia merampokku, dia merampokku, dia tidak akan memperolok-olok atau membodohiku.”

Dari tepi sungai, si Pedagang yang serakah melihat si Pedagang jujur masih sedang menyeberangi sungai dengan perahu. Lalu ia berteriak kepada tukang perahu, “Kembali..!” Akan tetapi si Pedagang yang jujur mengatakan kepada tukang perahu untuk tetap meneruskan penyeberangannya dan itulah yang dilakukannya.

Melihat bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa, Pedagang yang serakah menjadi sangat marah sekali. Dia melompat-lompat sambil memukuli dadanya. Dirinya menjadi dipenuhi oleh kebencian kepada Pedagang yang jujur yang telah memenangkan piring emas itu dan ini membuatnya batuk darah. Pedagang yang serakah akhirnya terkena serangan jantung dan meninggal di tempat.

Pesan moral: Kejujuran adalah prinsip yang paling baik dalam hidup.

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Source: Price Goodspeaker (Buddhist Tales for Young and Old, Volume I, Stories 1-5

MENEMUKAN MATA AIR BARU (Ketekunan)


Pada suatu ketika seorang pedagang sedang memimpin sebuah rombongan menuju negara lain untuk menjual barang dangangannya. Sepanjang perjalanan mereka sampai di tepi gurun pasir yang sangat panas. Mereka bertanya tanya dan mengetahui bahwa ketika siang hari matahari memanaskan pasir halus tersebut hinga sama panasnya dengan batu-bara yang sedang terbakar, jadi tidak ada seorang pun yang mampu berjalan di atasnya, tidak juga sapi-sapi jantan maupun unta. Jadi pemimpin rombongan tersebut menyewa seorang pemandu gurun yaitu seseorang yang mempunyai kemampuan melihat bintang-bintang, dengan demikian mereka dapat melanjutkan perjalanan hanya pada malam hari ketika permukaan pasir mulai dingin. Mereka pun memulai perjalanan yang penuh bahaya melewati gurun pasir pada waktu malam hari.

Setelah beberapa malam, setelah makan sore dan menunggu permukaan pasir menjadi dingin, mereka memulai perjalanan lagi. Pada malam selanjutnya, Pemandu gurun yang mengendarai kereta paling pertama melihat dari bintang-bintang bahwa mereka sudah hampir melewati gurun pasir tersebut. Dia juga bahkan kelebihan makan, jadi ketika dia beristirahat dia tertidur sebentar. Lalu sapi-sapi jantan yang sudah tentu tidak dapat memberitahukan arah dengan membaca bintang-bintang, sedikit demi sedikit berganti arah dan berputar sampai 180 derajat. Mereka akhirnya sampai di tempat yang sama seperti ketika mereka mulai berjalan.

Kemudian di pagi harinya, orang-orang menyadari bahwa mereka kembali ke tempat yang sama di mana mereka telah berkemah di sana pada hari sebelumnya. Mereka ketakutan dan mulai menangis meratapi kondisi mereka. Karena seharusnya masa melewati gurun sudah berakhir, mereka sudah tidak mempunyai air lagi dan takut akan mati kehausan. Mereka bahkan mulai menyalahkan si Pemimpin rombongan dan Pemandu gurun “Kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa adanya air” keluh mereka.

Kemudian si pedagang berpikir dalam dirinya “Jika sekarang aku kehilangan keberanian ku, di tengah-tengah situasi yang mendatangkan malapetaka ini, kepemimpinanku tidak akan ada artinya. Jika aku mulai menangis dan menyesali ketidakberuntungan ini, dan tidak melakukan apa-apa. Semua barang-barang ini, sapi-sapi jantan dan bahkan hidup orang-orang termasuk diriku sendiri barang kali lenyap. Aku harus bersemangat dan menghadapi situasi ini.” Lalu si saudagar mulai mondar-mandir, berusaha memikirkan rencana untuk menyelamatkan mereka semua.

Dengan sisa kewaspadaan, di luar pengelihatannya ia memperhatikan serumpun rumput. Dia berpikir, “Tanpa air, tidak ada tanaman yang dapat tumbuh di gurun.” Untuk itu si Pedagang memanggil kawan-kawan seperjalanannya yang paling bersemangat dan meminta mereka untuk menggali tanah di tempat terdapatnya rumput tersebut. Mereka menggali dan menggali dan setelah beberapa saat mereka mendapati batu yang besar. Mereka berhenti menggali ketika melihat batu tersebut dan mulai menyalahkan pemimpinya lagi. Sambil berkata, “Usaha ini sia-sia. Kita hanya menghabiskan waktu kita saja.” Akan tetapi si Pedagang menjawab “Tidak teman-temanku, jika kita menyerah usaha kita semua akan digagalkan dan hewan-hewan kita akan mati, mari kita besarkan harapan kita.

Ketika si Pedagang mengatakan kalimat ini, ia turun ke dalam lubang dan meletakkan telinganya pada batu besar itu dan ia mendengar suara dari air yang mengalir. Dengan segera, ia memanggil seorang anak laki-laki yang sebelumnya ikut menggali dan berkata “Jika kamu menyerah, kita semua akan tewas, jadi ambilah palu yang berat ini dan hantam batu itu.”

Anak laki-laki itu mengangkat palu tersebut ke atas kepalanya dan memukul batu itu sekeras yang dia bisa. Anak laki-laki itu amat terkejut, ketika batu itu terbelah menjadi dua bagian dan aliran air yang deras menyembur keluar dari bawahnya. Seketika itu juga semua orang sangat gembira. Mereka minum, mandi dan membersihkan hewan-hewan juga memasak makanan mereka kemudian memakannya.

Sebelum mereka meninggalkan tempat itu, mereka mengibarkan bendera tinggi-tinggi agar setiap pelancong lainnya dapat melihat sumber air itu dari jauh dan datang ke sumber air baru di tengah-tengah gurun pasir panas itu. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan selamat sampai akhir tujuan.

Pesan moral : Jangan gampang menyerah, teruslah mencoba sampai tujuanmu tercapai.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit

Source: Prince Goodspeaker (Buddhist Tales for Young and Old) Volume 1, stories 1-50

SILUMAN DI PADANG PASIR (Cara Berpikir yang Benar)


Terjemahan By Selfy Parkit

Pada suatu ketika ada 2 orang pedagang yang berteman. Keduanya siap melakukan perjalanan untuk menjual barang dagangan mereka, untuk itu mereka harus memutuskan apakah mereka akan berpergian bersama. Mereka setuju untuk melakukan perjalanan bersama-sama. Karena masing-masing dari mereka memiliki sekitar 500 kereta dan mereka akan pergi ke tempat yang sama melalui jalan yang sama pula, maka akan menjadi terlalu ramai jika pergi bersamaan.

Salah seorang dari mereka memutuskan akan lebih baik jika ia pergi terlebih dahulu. Ia berpikir “Jalanan itu tidak akan dilalui oleh kereta-kereta, sehingga sapi-sapi jantan akan dapat memilih rumput terbaik, kami akan mendapatkan buah-buahan dan sayur-sayuran yang terbaik untuk dimakan, orang-orangku akan menghargai kepemimpinanku dan pada akhirnya, aku akan dapat menawar dengan harga-harga terbaik.

Si pedagang satunya betul-betul mempertimbangkan dengan hati-hati dan menyadari bahwa ada keuntungan-keuntungan dengan pergi setelahnya. Ia berpikir “Kereta-kereta temannya itu akan membuat tanah menjadi rata jadi mereka tidak harus melakukan pekerjaan jalan apa pun. Sapi-sapi jantan temannya akan makan rumput tua dan tunas-tunas baru akan tumbuh untuk sapi-sapinya makan, dengan cara yang sama rombongan teman-temannya akan memetik buah-buahan dan sayur-sayuran tua dan buah-buahan juga sayur-sayuran segar akan tumbuh untuk mereka nikmati. Aku tidak perlu menghabiskan waktuku untuk melakukan penawaran jika aku bisa mengambil harga yang sudah ditetapkan dan mendapatkan keuntungan. Untuk itu dia setuju membiarkan temannya untuk pergi terlebih dahulu. Temannya ini yakin bahwa ia telah membodohinya dan sudah mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, jadi ia memulai perjalanannya terlebih dahulu.

Si pedagang yang pergi pertama mengalami kesulitan terlebih dahulu. Mereka datang ke sebuah daratan tandus yang disebut “Gurun Pasir Kering (Waterless Desert)” yang mana penduduk setempat mengatakan bahwa tempat itu dihantui oleh siluman-siluman. Ketika kafilah itu sampai di tengah-tengah gurun, mereka bertemu dengan rombongan dalam jumlah yang banyak datang dari arah yang berlawanan. Mereka memiliki kereta-kereta yang berlumuran lumpur dan tetesan air. Di kedua tangan dan kereta-kereta mereka terdapat bunga seroja dan teratai. Pemimpin mereka yang memiliki sikap serba tahu, berkata kepada Si Pedagang “Kenapa kau membawa muatan-muatan berat yang berisi air ini? Sebentar lagi kau akan mencapai sumber air di mana akan banyak air untuk diminum dan buah kurma untuk dimakan. Sapi-sapi jantanmu lelah karena menarik kereta-kereta berat yang diisi dengan tambahan air itu. Jadi buanglah air itu dan berbaik hatilah kepada hewan-hewanmu yang sudah terlalu banyak bekerja itu!”

Walaupun penduduk setempat sudah memperingatkannya, si Pedagang tidak menyadari bahwa mereka bukanlah manusia, tetapi siluman yang sedang menyamar. Bahkan Si Pedangang dan rombongannya terancam bahaya dari siluman-siluman yang ingin menyantap mereka. Karena merasa yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang suka menolong. Si Pedagang mengikuti nasehat mereka dan membuang semua airnya ke tanah.

Ketika si Pedagang dan rombongannya melanjutkan perjalanannya, mereka tidak menemukan sumber air atau air apa pun. Beberapa dari mereka menyadari bahwa mereka telah ditipu oleh makhluk yang kemungkinan adalah siluman-siluman, kemudian mulai menggerutu dan menyalahkan si Pedagang. Di hari terakhir semua orang-orang kelelahan. Sapi-sapi jantannya terlalu lemah untuk menarik kereta-kereta berat mereka karena kekurangan air. Semua orang-orang dan hewan-hewannya berbaring secara sembarangan dan jatuh dalam tidur yang lelap. Seketika itu juga, saat malam hari siluman-siluman itu datang dalam bentuk aslinya yang menakutkan dan menelan semua makhluk yang lemah dan tanpa perlawanan. Ketika mereka selesai memakannya yang tersisa hanyalah tulang-tulang yang tergeletak berserakkan. Tak ada satu pun manusia ataupun hewan tersisa hidup-hidup.

Setelah beberapa bulan, pedangang kedua memulai perjalanannya melalui jalan yang sama. Ketika ia sampai di gurun, dia mengumpulkan semua orang-orangnya dan memberikan mereka nasehat “Daerah ini disebut Gurun Pasir Kering dan aku sudah mendengar bahwa tempat ini dihantui oleh siluman-siluman dan hantu-hantu. Untuk itu kita harus berhati-hati. Karena kemungkinan ada tanaman-tanaman beracun dan air kotor. Jangan minum air apa pun dari tempat itu tanpa bertanya aku terlebih dahulu.” Dengan begitu mereka mulai memasuki gurun pasir.

Setelah berjalan kira-kira melewati setengah perjalanan, dengan cara yang sama seperti kafilah pertama, mereka bertemu siluman-siluman yang basah kuyup sedang dalam penyamaran. Siluman-siluman itu memberi tahu mereka bahwa sumber air sudah dekat dan mereka harus membuang semua air mereka. Tetapi Pedagang yang bijaksana ini segera mengatasi mereka. Si Pedagang tahu bahwa tidak masuk akal jika ada sumber air di tempat yang disebut sebagai ‘Gurun Pasir Kering’. Dan lagi pula, orang-orang ini memiliki mata merah yang menonjol keluar dan memiliki sikap agresif dan ambisius. Jadi ia mencurigai mereka kemungkinan adalah siluman-siluman. Si Pedagang memberitahukan mereka untuk meninggalkan rombongannya dengan berkata, “Kami adalah seorang pedagang yang tidak akan membuang air yang bersih sebelum kami tahu di mana air selanjutnya berasal.”

Kemudian, melihat orang-orangnya sendiri telah memiliki keraguan, Si Pedagang berbicara kepada mereka “Jangan percaya kepada orang-orang ini, mereka mungkin saja siluman-siluman, sampai kita benar-benar menemukan air. Sumber air yang mereka tunjukkan, kemungkinan hanyalah sebuah ilusi atau khayalan belaka. Apakah kau pernah mendengar adanya air di dalam Gurun Pasir Kering ini? Apakah kau merasakan hujan-angin atau awan mendung apa pun?” Mereka mengatakan “Tidak” dan Si Pedagang melanjutkan perkataannya, “Jika kita mempercayai orang-orang asing ini dan membuang semua air kita, nantinya kita mungkin tidak memiliki air apa pun untuk minum ataupun masak, lalu kita akan menjadi lemas dan kehausan, akan sangat mudah bagi siluman-siluman untuk datang dan merampok kita atau bahkan memakan kita! Untuk itu, sampai kita benar-benar menemukan air, jangan membuang-buangnya walaupun setetes!”

Kafilah itu melanjutkan perjalanannya dan pada sore hari itu mereka sampai di tempat di mana orang-orang dari kafilah pertama dan sapi-sapi jantannya telah dibunuh dan dimakan oleh siluman-siluman. Mereka menemukan kereta-kereta, tulang-tulang manusia dan hewan berserakan di sekitarnya. Mereka mengenali bahwa kereta-kereta yang penuh dengan muatan dan tulang-tulang yang berserakan itu adalah milik kafilah yang terlebih dahulu melanjutkan perjalanan. Si pedagang yang bijaksana memberitahukan orang-orang tertentunya untuk tetap berjaga-jaga di sekitar tenda pada waktu malam hari.

Pada pagi harinya rombongan itu bersantap pagi dan memberi makan sapi-sapi jantan mereka dengan sangat baik. Mereka menambahkan muatan mereka dengan barang-barang yang paling berharga yang ditinggalkan oleh kafilah pertama. Demikianlah mereka mengakhiri perjalanan mereka dengan sangat sukses dan kembali pulang dengan selamat, dengan begitu mereka dan keluarga mereka dapat menikmati keuntungan yang telah diperoleh.

Pesan moral: Seseorang harus selalu cukup bijaksana, tidak tertipu oleh kata-kata muslihat dan penampilan yang palsu.

Source: Prince Goodspeaker (Buddhist Tales for Young and Old) Volume 1, stories 1-50