Makanan Terlezat


IMG_0028by Selfy Parkit

Dari makanan yang ada di dunia ini ada satu makanan yang terlezat dan sangat penting bagi manusia. Saking lezatnya makanan ini, sampai-sampai sebanyak dan selezat apa pun makanan yang dihidangkan kalau tanpa makanan yang satu ini manusia mungkin tidak mampu bertahan hidup. Pastinya saat ini anda bertanya-tanya makanan apakah yang sebegitu penting dan lezatnya di dunia ini, kemungkinan suara hati anda yang di dalam sana pun ikut menebak-nebak, makanan apakah gerangan? Anda yang suka sekali makan bakso, menganggap makanan berkuah itu sebagai makanan yang terlezat. Anda yang suka makan tempe, mungkin juga berbisik dalam hati kalau tempe adalah makanan yang terlezat, atau anda yang suka sambal akan bilang tak ada satu pun makanan terlezat di dunia ini tanpa dibarengi dengan sambal, hahaha…. Tahukah anda bahwa makanan terlezat di dunia ini adalah ‘Kasih Sayang’.  Ya, kasih sayang adalah makanan terlezat yang pernah ada di dunia ini, karena makanan yang satu inilah manusia rela memberikan sebagian makanannya untuk orang lain, dan karena makanan ini pula setiap harinya ibu kita memasak dan menyediakan makanan-makanan lezat setiap harinya.

 

Dedicated to my Mom and alm.Dad

BAYI BURUNG PUYUH YANG TIDAK DAPAT TERBANG (KEKUATAN DARI KEBENARAN, PEBUATAN BAIK DAN KASIH SAYANG)


Pada suatu ketika, Yang Tercerahkan terlahir sebagai seekor burung puyuh kecil. Walaupun ia memiliki kaki dan sayap yang kecil, ia masih belum bisa berjalan atau pun terbang. Kedua orangtuanya bekerja keras membawakan makanan ke sarang, memberikannya makan dari paruh mereka.

Di belahah dunia itu, sering terjadi kebakaran hutan setiap tahunnya. Kemudian benar saja api mulai muncul pada tahun tertentu itu. Semua burung yang bisa terbang, terbang melarikan diri pada pertanda pertama yaitu asap. Ketika api mulai menyebar, dan semakin mendekat ke sarang bayi burung puyuh, kedua orangtuanya tetap tinggal bersamanya. Akhirnya api pun sudah sangat dekat, dan mereka harus terbang untuk menyelamatkan hidup mereka.

Semua pohon,  besar dan kecil, terbakar dan patah dengan suara yang keras. Burung puyuh kecil menyaksikan bahwa semuanya sedang dihancurkan oleh api yang mengamuk di luar kendali. Ia tidak dapat melakukan apa pun untuk menyelamatkan dirinya. Pada saat itu, pikirannya diliputi oleh perasaan tidak berdaya.

Continue reading

Surga 33 (BAGIAN 2. KASIH SAYANG)


 

 

Pada saat itu, di zaman dahulu kala, ada beberapa dewa jelek tidak beruntung yang disebut “Asura”. Mereka dibawa untuk tinggal di alam surga tingkat ke dua.

Seseorang yang pada kehidupan lampaunya menjadi Magha yang Baik, sekarang adalah Sakka, Raja dari alam Surga 33. Ia berpikir, “Kenapa kita harus, yang merupakan tiga puluh tiga dewa, tinggal di alam Surga kita dengan para Asura jelek tidak beruntung ini? Karena ini adalah dunia kita, marilah kita hidup bahagia dengan diri kita sendiri.”

Kemudian ia mengundang para Asura ke sebuah pesta dan menyuruh mereka mabuk dengan minuman keras yang sangat memabukan. Tampaknya, dengan dilahirkan kembali, Raja Sakka telah melupakan beberapa ajarannya sendiri sebagai Magha yang Baik. Setelah membuat para Asura mabuk, ia membawa mereka pergi ke alam surga yang lebih rendah, yang sama besarnya dengan alam surga 33.

Continue reading

BLACKIE MILIK NENEK (Kasih Sayang)


Pada suatu waktu, ketika saat Raja Brahmadatta memerintah di Benares, ada seorang nenek yang mempunyai seekor anak sapi. Anak sapi ini adalah seekor anak sapi hitam bangsawan. Sesungguhnya, warnanya hitam pekat tanpa bintik-bintik putih. Anak sapi itu adalah Bodhisatta – makhluk yang tercerahkan.

Nenek itu membesarkan si anak sapi seperti anaknya sendiri. Dia memberi makan nasi dan bubur terbaik. dia menciumi kepala dan leher anak sapi itu, dan anak sapi menjilati tangan si Nenek. Karena mereka sangat akrab, orang-orang mulai memanggil si anak sapi, ‘ Blackie milik nenek’.

Bahkan setelah anak sapi telah tumbuh menjadi sapi jantan yang besar dan kuat, Blackie milik nenek tetap sangat jinak dan lemah-lembut. Anak-anak desa bermain dengannya, memegang leher, telinga, dan tanduknya. Bahkan mereka mengambil ekornya dan berayun ke belakang sebagai tunggangan. Dia menyukai anak-anak, jadi dia tidak pernah mengeluh.

Sapi yang bersahabat itu berpikir, “Nenek baik hati, yang telah membesarkanku seperti seorang ibu bagiku. Dia telah membesarkanku seperti anaknya sendiri. Dia miskin dan kekurangan, tetapi terlalu sungkan meminta bantuanku. Dia terlalu lembut untuk memaksa saya bekerja. Karena saya juga mencintai dia, saya berharap dapat membebaskan dia dari penderitaan kemiskinan.” Jadi sapi mulai mencari pekerjaan.

Suatu hari, sebuah kafilah dengan 500 kereta datang ke desa. Kafilah itu berhenti pada tempat yang sulit untuk menyeberangi sungai. Sapi-sapi mereka tidak dapat menarik kereta menyeberang. Pemimpin kafilah menempatkan 500 pasang sapi pada kereta pertama. Tetapi sungainya terlalu deras sehingga mereka tidak dapat menyeberang walaupun hanya satu kereta.

Menghadapi masalah ini, pemimpin mencari tambahan sapi. Dia terkenal dalam ahli menilai kualitas dari sapi-sapi. Saat memeriksa kumpulan pengembara, dia melihat Blackie milik nenek. Sekilas dia  berpikir, “Sapi bangsawan ini sepertinya memiliki kekuatan dan kemauan menarik kereta-keretaku menyeberangi sungai.”

Dia berkata kepada para penduduk desa yang berdiri di dekatrnya. “Sapi hitam ini milik siapa? Aku ingin menggunakan sapi ini untuk menarik keretaku menyeberangi sungai, dan Aku bersedia membayar jasanya kepada pemiliknya.” Orang-orang berkata, “Kalau begitu, silakan bawa dia. Tuannya sedang tidak ada disini.”

Demikianlah dia meletakan seutas tali melalui hidung Blackie. Tetapi saat dia menarik, dia tidak dapat menggerakan sapi itu! Sapi itu berpikir, “Aku tidak akan bergerak sampai orang ini berkata kalau dia akan membayar perkerjaanku.”

Sebagai penilai sapi yang baik, Pemimpin kafilah memahami alasan ini. Sehingga dia berkata, “Sapi, setelah kamu berhasil menarik 500 keretaku menyeberangi sungai, Aku akan membayar kamu dua koin emas untuk setiap keretanya – bukan satu, tetapi dua!” Mendengar hal ini, Blackie bersedia ikut pergi dengannya.

Kemudian dia memasang pakaian kuda ke sapi hitam itu dan menghubungkannya ke kereta pertama. Sapi itu menarik kereta melewati sungai. Hal ini belum pernah dapat dilakukan oleh 1000 sapi sebelumnya. Seperti yang diharapkan, dia dapat menarik 499 kereta menyeberangi sungai dalam satu waktu, tanpa memperlambat langkahnya!

Ketika semuanya telah selesai dikerjakan, pemimpin kafilah menyiapkan bungkusan berisi hanya satu koin emas per kereta, totalnya 500 koin. Dia mengalungkannya di leher sapi kuat ini. Sapi berpikir, “Orang ini berjanji akan memberikan dua koin emas per kereta, tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang sudah dikalungkan di leherku. Maka Aku tidak akan membiarkan dia pergi!” Sapi berjalan ke bagian depan kafilah dan menghalangi jalan.

Pemimpin berusaha mendorongnya keluar dari jalan, tetapi dia tidak bergerak. Pemimpin berusaha mengendarai kereta-kereta itu di sekelilingnya. Tetapi semua sapi telah melihat betapa kuatnya dia, sehingga mereka tidak mau bergerak juga!

Laki-laki itu berpikir, “Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah sapi jantan yang pintar, yang dapat mengetahui bahwa Aku hanya membayarnya setengah harga.” Demikianlah dia membuat lagi sebuah bungkusan baru yang berisi 1000 koin emas, dan mengalungkannya di leher sapi.

Blackie milik nenek kembali menyeberangi sungai dan langsung berjalan menuju si nenek, ‘ibu-nya’. Sepanjang perjalanan, anak-anak berusaha mengambil bungkusan uang, mengira itu adalah permainan. Tetapi dia tidak memperdulikan mereka.

Ketika si Nenek melihat bungkusan berat itu, dia sangat terkejut. Anak-anak menceritakan kepadanya semua hal tentang apa yang terjadi di sungai. Dia membuka bungkusan itu dan menemukan 1000 koin emas.

Wanita tua itu juga melihat kelelahan pada mata ’anak’nya. Dia berkata, “Oh anakku, kamu pikir Aku berharap dapat menghasilkan uang dari kamu? Kenapa kamu mau bekerja sangat keras dan menderita? Bagaimanapun susahnya nanti, Aku akan selalu memelihara dan menjagamu.”

Kemudian wanita baik itu memandikan sapi jantan tercintanya dan memijat otot-ototnya yang lelah dengan minyak. Dia memberinya makanan yang baik dan merawatnya, sampai akhir dari hidup mereka yang bahagia.

Pesan moral: Kasih sayang membuat rumah termiskin menjadi rumah terkaya.

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

LADYFACE (Pergaulan)


Pada suatu ketika, Raja Benares mempunyai seekor gajah jantan kerajaan yang baik, sabar dan jinak. Bersamaan dengan wataknya yang baik, dia juga memiliki wajah yang lemah-lembut. Sehingga dikenal dengan nama ‘Ladyface’.

Pada suatu malam, segerombolan pencuri mengadakan pertemuan tepat di depan kandang gajah. Di dalam kegelapan, mereka membicarakan tentang rencana mereka untuk merampok warga. Mereka membicarakan tentang pemukulan dan pembunuhan, serta menyombong bahwa mereka sudah tidak memiliki kebaikan jadi mereka tidak punya rasa kasihan terhadap korban mereka. Mereka menggunakan bahasa pasaran yang kasar untuk menakuti orang-orang dan untuk membuktikan betapa kuatnya mereka.

Karena malam itu sangat sunyi, Ladyface tidak melakukan apa pun tetapi hanya mendengarkan semua rencana jahat dan perkataan kejam yang kasar. ia mendengarkan dengan seksama dan, seperti yang dilakukan gajah-gajah, ia menggingat semuanya. Karena dilatih untuk patuh dan menghormati manusia, ia berpikir bahwa orang-orang ini juga harus dipatuhi dan dihormati, seperti guru-guru.

Setelah hal ini berlangsung dalam beberapa malam, Ladyface memutuskan bahwa hal yang benar untuk dilakukan adalah menjadi kasar dan kejam. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang bergaul dengan mereka yang sifat dasar pemikirannya rendah dan kasar. Tetapi hal ini dapat terjadi khususnya pada seorang lemah lembut yang berharap untuk menyenangkan orang lain.

‘Mahout’ adalah pangilan orang India terhadap pelatih spesial dan perawat terutama sekali seekor gajah. Mereka biasanya sangat dekat. Pada pagi dini hari, Mahout Ladyface datang untuk mengunjunginya seperti biasa. Gajah itu, Pikirannya dipenuhi dengan pembicaraan perampok semalam, tiba-tiba menyerang pelatihnya. ia mengangkatnya dengan belalai, meremasnya, dan menghempaskannya ke lantai, membunuhnya dalam waktu singkat. Kemudian, ia mengangkat dua orang pengunjung, bergantian, dan membunuhnya juga dengan ganas.

Kabar ini cepat menyebar ke seluruh kota bahwa Ladyface yang dikagumi telah berubah mendadak menjadi gila dan menjadi pembunuh manusia yang ditakuti. Orang-orang datang kepada raja untuk meminta bantuan.

Hal ini terjadi ketika raja mempunyai seorang menteri pintar yang dikenal dapat memahami binatang. Jadi raja memanggilnya dan memerintahkannya untuk pergi dan mencari tahu penyakit atau kondisi lain apa yang menyebabkan gajah kesukaannya berubah menjadi sangat gila.

Menteri itu adalah Bodhisatta – makhluk yang tercerahkan. Sesampainya di kandang gajah, dia berbicara lembut dengan kata yang menyejukan kepada Ladyface, dan membuatnya tenang. Dia memeriksa Ladyface dan mengetahui bahwa kesehatan fisik Ladyface dalam keadaan prima. Ketika dia berbicara ramah kepada Ladyface, dia memperhatikan bahwa gajah itu menggerakan telinganya dan memberi perhatian lebih. Hal ini hampir seperti ketika binatang malang telah kelaparan bunyi dari kata-kata yang lembut. Maka menteri mengetahui bahwa gajah ini pastinya telah mendengar kata-kata kasar atau melihat perbuatan kejam dari mereka yang ia salah nilai sebagai guru.

Dia bertanya kepada penjaga gajah, “Apakah kamu melihat siapa saja yang berkeliaran di kandang gajah, saat malam hari atau kapan pun?” “Ya, menteri,” jawab mereka, “Beberapa minggu terakhir sekelompok perampok mengadakan pertemuan di sini. Kami takut melakukan apa pun, karena mereka mempunyai karakter yang kejam. Ladyface dapat mendengar setiap perkataan mereka.”

Kemudian menteri kembali menemui raja. Dia berkata, “Raja, gajah kesayangan Anda, Ladyface, dalam keadaan sehat fisik. Aku menemukan bahwa karena mendengarkan perkataan kasar dan kejam dari para perampok selama bermalam-malam, ia sudah belajar menjadi kasar dan kejam. Pergaulan yang tidak baik sering mengarahkan kepada pikiran dan tindakan yang tidak baik.”

Raja bertanya, “Apa yang harus dilakukan?” Menteri berkata, “Baiklah Raja, sekarang kita harus membalik proses tersebut. Kita harus mengirim orang-orang bijak dan para bhikkhu, yang mempunyai pemikiran bijak, hanya untuk menghabiskan beberapa malam di luar kandang gajah. Di sana mereka harus berbicara tentang nilai-nilai kebajikan dan kesabaran, membangkitkan perasaan kasih sayang, cinta kasih, dan tidak menyakiti.”

Kemudian hal tersebut dilakukan. Selama beberapa malam, orang-orang bijaksana berbicara tentang nilai-nilai kebajikan. Mereka hanya menggunakan bahasa yang lembut baik dan sopan, untuk menciptakan kedamaian dan kenyamanan kepada setiap orang.

Setelah mendengar percakapan baik ini selama beberapa malam, Ladyface si gajah jantan bahkan menjadi lebih damai dan menyenangkan daripada sebelumnya!

Melihat perubahan total tersebut, menteri melaporkannya kepada raja, dengan berkata “Raja, Ladyface sekarang bahkan menjadi lebih tak berbahaya dan ramah daripada sebelumnya. Sekarang dia sama lembutnya seperti seekor domba!”

Raja berkata, “Hal yang sungguh menakjubkan bahwa seekor gajah gila yang kasar semacam itu dapat diubah dari bergaul dengan orang-orang bijaksana dan para bhikkhu.” Raja terkagum-kagum bahwa menterinya nampaknya mampu membaca pikiran seekor gajah. Sehingga ia memberikannya hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Seperti halnya perkataan kasar memengaruhi dengan kekejaman, begitu juga kata-kata baik menyembuhkan dengan tanpa melukai

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Aku Menangis Untuk Adikku Enam Kali


Aku lahir di sebuah desa pegunungan terpencil. Hari demi hari kedua orangtuaku membajak tanah kuning yang kering dengan punggung mereka menghadap ke langit.

Aku memiliki seorang adik laki-laki, 3 tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang sepertinya semua para gadis di sekelilingku memilikinya, Aku mencuri 50 sen dari laci ayahku. Ayah mengetahuinya dengan segera. Dia membuat Aku dan adikku berlutut menghadap dinding, dengan sebatang tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Tanyanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar satu pun dari kami yang mengaku, jadi dia berkata, “Baiklah, jika tak ada satu pun yang mau mengaku, kalian berdua harus dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu. Tiba-tiba, adikku mencengkram tangan ayah dan berkata, “Ayah, Akulah orang yang melakukannya!”

Continue reading

Masih Ada Harapan


Setiap orang dibesarkan oleh harapan, semangat, dan kasih sayang. Di kala harapan, semangat, dan kasih sayang itu mulai pupus dan padam, mereka mulai mengeluh dan berputus asa. Mereka berpikir bahwa tidak ada lagi peluang untuk memperolehnya kembali. Hidup menjadi semakin hampa, sepi, dan menyendiri. Mereka lupa bahwa hidup ini selalu berubah. Segala sesuatu tidak pasti dan dapat berubah. Begitu juga dengan permasalahan dan rintangan yang dihadapi, yang menyebabkan pupusnya dan padamnya harapan kita. Akankah ia kekal dan tak dapat berubah?

Betapa pun berat masalah yang kita hadapi saat ini, namun semangat tak boleh pupus. Karena dengan semangatlah kita mampu bertahan hingga titik akhir sebuah permainan. Begitu juga halnya dengan kasih sayang yang selalu mempertahankan api perjuangan untuk tetap menyala.

Pelajaran: Motivasi membawa seseorang untuk tetap bersemangat dan berkasih sayang hingga tumbuhlah harapan-harapan yang baru.

# Editor Tulisan oleh Bpk. Hendry Filcozwei Jan