Burung Merak yang Menari (Kebanggaan dan Kerendahan Hati)


Suatu ketika zaman dahulu kala, binatang berkaki empat menjadikan seekor singa sebagai raja mereka. Ada seekor ikan raksasa yang mengembara di lautan dan ikan-ikan menjadikannya sebagai raja mereka. Para burung tertarik pada keindahan, demikianlah mereka memilih Angsa Emas sebagai raja mereka.

Raja Angsa Emas memiliki anak yang cantik. Ketika anaknya masih kecil, ia mengabulkan satu buah permintaan untuknya. Anaknya berkeinginan, ketika ia cukup besar, ia dapat memilih suaminya sendiri.

Ketika anaknya beranjak dewasa, Raja Angsa Emas mengundang semua burung yang berada di Gunung Himalaya yang maha besar di Asia Tengah untuk berkumpul. Maksudnya adalah untuk menemukan suami yang pantas bagi anak gadisnya. Burung-burung datang dari berbagai jarak yang jauh, bahkan dari Tibet yang tinggi. Mereka adalah para soang (angsa peliharaan), angsa, elang, burung pipit, burung kolibri, burung tekukur, burung hantu dan banyak burung-burung jenis lainnya.

Pertemuan tersebut diadakan di atas lempengan bebatuan yang tinggi, di lahan hijau yang indah di Nepal. Raja Angsa Emas mengatakan kepada anak gadis kesayangannya untuk memilih suami mana saja yang ia inginkan.

Ia menyaksikan banyak jenis burung. Matanya tertuju pada burung merak yang berleher hijau dengan kilauan cahaya dan bulu ekor yang berjuntai sangat indah. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Burung ini, si merak, akan menjadi suamiku.”

Mendengar bahwa si merak sebagai yang beruntung, semua burung lainnya mengerumuni si merak untuk mengucapkan selamat padanya. Mereka berkata, “Meskipun di antara begitu banyak jenis burung yang indah, putri Angsa Emas telah memilihmu. Kami mengucapkan selamat atas keberuntunganmu.”

Si burung merak menjadi sangat dipenuhi keangkuhan, ia mulai memamerkan bulu-bulunya yang penuh warna dalam sebuah tarian mengigal yang luar biasa. Ia mengibaskan bulu ekornya yang mengagumkan dan menari berputar untuk memamerkan ekornya yang indah. Menjadi begitu sombong, ia mengadahkan kepalanya ke angkasa dan melupakan segala kerendahan hati, dengan begitu ia juga mempertunjukkan bagian-bagiannya yang sangat pribadi agar semua melihat!

Para burung lainnya, khususnya yang muda, tertawa terkikih-kikih. Tetapi Raja Angsa Emas tidak merasa senang. Ia merasa malu menyaksikan pilihan putrinya berlaku semacam itu. Ia berpikir, “Merak ini tidak mempunyai naluri kemaluan untuk memberinya sopan santun yang pantas. Tidak juga ia memiliki ketakutan luar untuk mencegah prilakunya yang tidak senonoh. Lalu mengapa putriku harus dipermalukan oleh pasangan yang berpikir tanpa pertimbangan seperti itu?

Berdiri di tengah-tengah kumpulan besar pada burung, raja burung berkata, “Tuan merak, suaramu merdu, bulu-bulumu indah, lehermu bercahaya seperti sebuah batu permata, dan ekormu seperti kipas yang begitu indah. Tetapi kamu telah berdansa di sini layaknya seseorang yang tidak memiliki rasa malu ataupun takut sebagaimana mestinya. Aku tidak akan mengijinkan putriku yang tak berdosa ini untuk menikah dengan merak dungu seperti kamu!”

Kemudian Raja Angsa Emas menikahkan putrinya dengan keponakan raja. Burung merak yang dungu terbang jauh, kehilangan seorang calon istri yang cantik.

Pesan Moral : Jika membiarkan rasa bangga bersemayam di pikiranmu, kamu akan mulai bertindak layaknya seorang yang dungu.

Diterjemahkan oleh Ika Pritami, Editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Many thanks to Mr. Tasfan and Willy Yanto Wijaya.

Advertisements

POHON YANG BERPERILAKU SEPERTI SEORANG PEMBURU (Ketidaksabaran)


Pada suatu ketika, ada seekor kijang yang tinggal di hutan rimba. Ia memakan buah-buahan yang jatuh dari pepohonan. Ada sebatang pohon yang menjadi favoritnya.

Di daerah yang sama ada seorang pemburu yang menangkap dan membunuh kijang dan rusa. Ia meletakkan buah sebagai umpan di bawah pohon. Lalu ia menunggu, bersembunyi di atas cabang pohon. Ia memegang seutas tali jerat menggantung ke tanah di sekeliling buah-buahan. Ketika ada binatang memakan buah-buahan, pemburu mengencangkan tali jerat dan menangkapnya.

Di pagi hari buta, Sang Kijang mendatangi pohon favoritnya mencari buah-buahan untuk dimakan. Ia tidak melihat pemburu yang bersembunyi di pohon itu, siap dengan tali perangkapnya. Walaupun ia lapar, sang kijang sangat berhati-hati. Ia waspada terhadap segala bahaya yang mungkin terjadi. Ia melihat buah-buahan masak yang lezat di kaki pohon favoritnya. Ia heran mengapa tidak ada binatang yang memakannya, maka ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pemburu yang bersembunyi melihat Sang Kijang mendekat dari kejauhan. Melihat sang kijang berhenti dan berhati-hati, ia takut tidak dapat menangkapnya. Ia sangat berhasrat menangkap kijang sehingga ia mulai melempar buah-buahan ke arah sang kijang, mencoba memikatnya supaya mendekat.

Tapi ia adalah seekor kijang cantik yang cerdik. Ia tahu buah-buahan hanya jatuh tegak lurus ketika mereka jatuh dari pohon. Karena buah-buahan tersebut jatuh ke arahnya, ia tahu bahwa ada bahaya. Sehingga ia memeriksa pohon tersebut dengan teliti, dan melihat si pemburu di cabang. Namun, ia berpura-pura tidak melihatnya.

Ia berbicara ke arah pohon. “Oh pohon buahku tersayang, engkau biasanya memberiku buah dengan membiarkan mereka jatuh tegak lurus ke tanah. Sekarang, melempar mereka ke arahku, engkau berbuat tidak mirip sama sekali seperti pohon. Karena engkau telah merubah kebiasaanmu, saya juga akan berubah. Saya akan mengambil buahku dari pohon lain mulai dari sekarang, pohon yang masih berprilaku seperti sebuah pohon!”

Si pemburu menyadari kesalahannya dan melihat sang kijang telah mengakalinya. Ini membuat marah si pemburu dan ia berteriak, “Engkau mungkin dapat lepas dari diriku kali ini, engkau kijang cerdik, tapi aku pasti akan menangkapmu lain waktu!”

Sang kijang menyadari bahwa dengan membuatnya sangat marah, si pemburu telah membuka rahasia dirinya dua kali tanpa disengaja. Maka ia berbicara ke arah pohon lagi. “Tidak hanya engkau berprilaku seperti sebuah pohon, tapi engkau berprilaku seperti seorang pemburu! Engkau makhluk bodoh, yang hidup dengan membunuh hewan-hewan. Engkau tidak mengerti bahwa membunuh mahluk yang tidak berdosa membawa kerugian pula kepadamu, baik di kehidupan saat ini dan tumimbal lahir di alam neraka. Hal ini sangat jelas bahwa kami para kijang jauh lebih bijaksana dibanding engkau. Kami makan buah-buahan, kami tetap terbebas dari pembunuhan mahluk hidup dan kami terhindar dari akibat buruk.”

Setelah berkata, Sang Kijang yang berhati-hati melompat ke dalam hutan lebat dan menghilang.

Pesan moral : Orang bijaksana terbebas dari kesalahan.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PEMBUAT HARGA KERAJAAN (Kebodohan)


Dahulu kala nun jauh di sana, ada seorang raja yang memerintah di Benares, India Utara. Salah satu seorang mentrinya dipanggil dengan sebutan seorang pembuat harga dan dia adalah seorang pemuda yang jujur. Pekerjaannya adalah mengatur harga yang adil untuk sesuatu apa pun yang ingin raja beli atau jual.

Dalam beberapa kesempatan, raja tidak menyukai harga yang dia buat. raja tidak mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Raja tidak mau membiayai lebih mahal dari apa yang ia beli atau jual untuk apa yang menurutnya tidak cukup mahal atau sebaliknya. Jadi raja memutuskan untuk mengganti si pembuat harga.

Suatu hari raja melihat seorang pemuda yang tampan dan raja berpikir “Orang ini akan cocok mengantikan posisi pembuat hargaku.” Jadi raja memecat pembuat harga yang jujur itu dan menunjuk si pemuda menggantikannya. Pemuda itu berpikir, “Aku harus membuat Raja senang yaitu membeli dengan harga-harga yang sangat murah dan menjual pada harga-harga yang paling tinggi.” Jadi si pemuda ini membuat harga-harga yang tidak masuk akal, tanpa mempedulikan sama sekali apa pun yang berharga. Hal ini menguntungkan uang yang banyak dan membuat raja yang serakah itu sangat senang. Sementara itu, semua orang termasuk pejabat raja lainnya dan rakyat-rakyat biasa yang bertransaksi dengannya menjadi sangat tidak senang.

Kemudian pada suatu hari seorang pedagang kuda tiba di Benares dengan 500 kudanya untuk dijual. Kuda-kuda itu terdiri dari kuda jantan, kuda betina dan anak kuda jantan. Raja mengundang pedagang itu ke kerajaan dan memanggil pembuat harga kerajaannya itu untuk menentukan harga bagi 500 kuda-kuda tersebut. Si pembuat harga yang hanya berpikir bagaimana membuat raja senang berkata, “Seluruh kawanan kuda-kuda ini berharga satu mangkuk nasi.” Untuk itu raja memesan satu mangkuk nasi untuk dibayarkan kepada si Pedagang kuda dan semua kuda-kuda itu dibawa ke kandang kerajaan.

Tentu saja pedagang kuda amat marah, tetapi saat itu dia tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian pedagang kuda ini mendapat informasi tentang pembuat harga raja terdahulu yang memiliki reputasi sebagai orang yang jujur dan adil. Jadi si Pedagang mendatanginya dan mengatakan apa yang sudah terjadi. Si Pedagang ingin mendengarkan saran dari si pembuat harga dengan maksud mendapatkan harga yang pantas dari raja. Si Pembuat harga yang terdahulu berkata, “Jika kau melakukan apa yang aku katakan, raja akan diyakinkan mengenai nilai sesungguhnya dari kuda-kuda itu. Kembalilah kepada pembuat harga itu dan puaskan dia dengan hadiah barang-barang yang berharga. Minta dia untuk mengatakan nilai dari semangkuk nasi di hadapan raja. Jika si Pembuat harga itu setuju, temui dan beritahu aku, aku akan pergi bersamamu menemui raja.”

Mengikuti nasehat ini, si Pedagang pergi menemui si Pembuat harga dan memberikannya hadiah yang berharga. Hadiah itu membuatnya sangat senang, dengan begitu si Pembuat harga ini menghargai si Pedagang kuda. Lalu si Pedagang kuda berkata kepadanya, “Saya sangat senang dengan penilaian berharga Anda, bisakah Anda meyakinkan Raja tentang harga dari satu mangkuk nasi?” Si pembuat harga yang bodoh berkata, “Mengapa tidak? Saya akan menjelaskan harga dari satu mangkuk nasi, bahkan di hadapan Raja.”

Jadi si Pembuat harga yang bodoh ini berpikir kalau si Pedagang kuda merasa puas dengan semangkuk nasinya. Dia mengatur pertemuan lainnya dengan raja, sebelum si Pedagang bergegas meninggalkan negaranya. Si Pedagang melapor kembali kepada si Pembuat harga yang terdahulu dan mereka pergi bersama-sama menemui raja.

Semua menteri-menteri raja dan lengkap dengan orang-orang istana berkumpul di ruang pertemuan kerajaan. Si penjual kuda berkata kepada raja, “Raja ku, saya mengerti bahwa di negara Anda seluruh kumpulan 500 ekor kuda saya dihargai dengan semangkuk nasi. Sebelum saya kembali ke negara saya, saya ingin tahu nilai dari semangkuk nasi di negara Anda.” Sang Raja menoleh kepada si Pembuat harga kerajaannya dan berkata, “Apa nilai untuk semangkuk nasi?”

Si Pembuat harga yang bodoh itu, dengan tujuan menyenangkan hati raja, yang sebelumnya sudah menghargai sekumpulan kuda-kuda dengan satu mangkuk nasi. Sekarang, setelah menerima suap dari si Pedagang kuda, ia ingin menyenangkan si Pedagang kuda juga. Jadi si Pembuat harga menjawab pertanyaan Sang Raja dengan sikap yang paling menghargai, “Dengan hormat, satu mangkuk nasi seharga dengan kota Benares, bahkan termasuk dengan tempat kediaman selir raja, sama halnya dengan bagian pinggiran kota. Dengan kata lain, semangkuk nasi seharga dengan seluruh kerajaan Benares!”

Ketika mendengar hal ini, seluruh menteri kerajaan dan orang-orang bijaksana yang hadir di ruang pertemuan mulai tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk orang di sebelah mereka. Ketika mulai sedikit tenang, mereka berkata, “Sebelumnya kita mendengar bahwa kerajaan tak ternilai harganya, sekarang kita mendengar bahwa seluruh Benares berikut istana dan rumah-rumah besarnya dihargai hanya dengan semangkuk nasi! Keputusan dari pembuat harga kerajaan sangat aneh! Di mana yang mulia menemukan orang semacam itu? Ia baik hanya untuk menyenangkan hati Raja dan juga si Pedagang kuda, tidak untuk memberikan harga yang pantas untuk si Pedagang yang menjual kuda-kudanya dari satu negara ke negara lain.”

Ketika mendengar gelak tawa di seluruh ruangan istana dan kata-kata dari para menteri juga para penasihatnya. raja merasa malu. Dengan begitu raja membawa kembali si Pembuat harganya yang terdahulu ke posisi jabatannya semula. raja menyetujui harga baru yang layak untuk sekumpulan kuda-kuda yang ditentukan oleh si Pembuat harga yang jujur. Setelah mendapatkan sebuah pembelajaran, raja dan kerajaannya hidup dengan adil dan makmur.

Pesan moral: Kebodohan dalam jabatan yang tinggi dapat membawa rasa malu, bahkan untuk seorang raja.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PEDAGANG TIKUS (Pintar dan Berterima Kasih)


Pada suatu ketika, penasehat penting kerajaan sedang dalam perjalanannya menemui raja dan penasehat lainnya. Di pelik matanya, ia melihat seekor tikus mati di pinggir jalan. Lalu ia berkata kepada orang-orang yang ada bersamanya, “Walaupun dimulai dari tikus ini, seorang muda yang energik akan membangun sebuah keuntungan. Jika ia bekerja keras dan menggunakan kepintarannya, ia dapat memulai sebuah bisnis dan menyokong istri serta keluarga.”

Seseorang yang tidak sengaja lewat mendengar kata-kata tersebut. Dia tahu bahwa orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah seorang penasehat raja yang terkenal. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti perkataannya. Kemudian pemuda itu mengambil tikus mati tersebut dan pergi sambil menjingjing buntut si tikus. Sebagaimana keberuntungannya, sebelum ia pergi jauh, seorang penjaga toko menghentikannya. Penjaga toko itu berkata, “Sepanjang pagi kucing peliharaanku terus menerus menggangguku. Aku akan memberikanmu 2 koin tembaga untuk tikus itu.” Jadi selesailah.

Dengan 2 koin tembaga, pemuda itu membeli kue-kue manis dan menunggu di pinggir jalan dengan kue-kue manis itu dan sedikit air. Seperti apa yang diharapkannya, beberapa orang pemetik bunga untuk membuat karangan bunga pulang dari pekerjaannya. Karena mereka semua merasa haus dan lapar, mereka setuju untuk membeli kue-kue manis dan air tersebut seharga seikat bunga-bunga dari masing-masing mereka. Pada sore harinya, pemuda itu menjual bunga-bunganya di kota. Dengan uang yang didapatkannya, dia membeli lebih banyak lagi kue-kue manis dan kembali pada hari berikutnya untuk menjual kue-kue itu kepada pemetik bunga.

Hal ini berlangsung selama beberapa waktu, sampai suatu hari terjadi badai yang mengerikan, dengan hujan deras dan angin kencang. Ketika ia sedang berjalan di kebun raja yang indah, dia melihat banyak dahan-dahan pohon yang jatuh berserakan di sekitar karena tiupan angin. Untuk itu ia menawarkan jasa kepada tukang kebun kerajaan untuk membersihkan semuanya, jika si tukang kebun bersedia mengijinkannya mengambil dahan-dahan pohon itu. Tukang kebun yang malas itu dengan cepat menyetujuinya.

Kemudian pemuda itu menemukan beberapa anak yang bermain di taman seberang jalan. Mereka senang mengumpulkan semua dahan-dahan dan semak-semak di dekat  pintu masuk kebun yang indah tersebut hanya untuk sepotong kue manis sebagai bayaran setiap anaknya.

Bersamaan dengan itu datang seorang pembuat tembikar kerajan yang biasanya mencari beberapa kayu bakar untuk oven kacanya. Ketika si pembuat tembikar ini melihat tumpukan kayu yang baru saja telah dikumpulkan oleh anak-anak, ia memberikan bayaran kepada pemuda itu harga yang bagus untuk setumpuk kayu-kayu tersebut. Dia bahkan menawarkan beberapa tembikarnya.

Dengan keuntungan yang didapatkannya dari penjualan bunga dan kayu bakar, pemuda itu membuka toko makanan dan minuman. Suatu hari semua pemotong rumput setempat yang dalam perjalanannya menuju kota, berhenti di toko si pemuda. Pemuda itu memberikan kue-kue manis dan minuman secara gratis. Para pemotong rumput itu terkejut dengan kemurahan hati si pemuda dan bertanya “Apa yang bisa kami lakukan untukmu?” Si pemuda berkata tidak ada apa pun yang perlu mereka lakukan saat ini, tetapi ia akan memberitahukan mereka nantinya.

Seminggu kemudian, si pemuda mendengar ada seorang pedagang kuda datang ke kota untuk menjual 500 kuda-kudanya. Kemudian dia menghubungi para pemotong rumput dan meminta dari masing-masing mereka untuk memberikan seikat rumput kepadanya. Dia memberitahu mereka untuk tidak menjual rumput apa pun kepada pedagang kuda sampai sebelum rumput-rumput yang dia miliki habis terjual. Dengan begitu dia mendapatkan penawaran dengan harga yang sangat bagus.

Waktu berlalu sampai suatu hari, pada saat di toko, beberapa orang pedagang memberitahunya ada kapal baru dari negeri asing baru saja berlabuh di pelabuhan. Dia melihat ini sebagai kesempatan yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Dia berpikir dan berpikir sampai akhirnya dia muncul dengan rencana usaha yang bagus.

Pertama, pemuda itu pergi ke seorang pedagang perhiasan temannya dan membayar dengan harga yang murah untuk sebuah cincin emas yang sangat berharga dengan batu permata merah yang indah di dalamnya. Dia tahu bahwa kapal asing itu berasal dari negara yang tidak menghasilkan batu permata, dan dimana emas juga sangat mahal. Jadi ia memberikan cincin yang indah itu kepada si kapten kapal sebagai komisi. Untuk mendapatkan komisi itu, si kapten setuju untuk mengirimkan semua penumpangnya kepada si pemuda sebagai seorang makelar. Si pemuda kemudian akan membawa mereka menuju toko-toko di dalam kota. Sebagai gantinya pemuda itu mendapatkan komisi dari para pedagang karena telah membawa para pelanggan ke toko mereka.

Dengan cara bertindak sebagai makelar, pemuda itu menjadi sangat kaya setelah beberapa kapal datang menuju pelabuhan. Mereka senang dengan kesuksesannya, pemuda itu teringat bahwa itu semua diawali dengan kata-kata dari penasehat raja yang bijaksana. Jadi ia memutuskan untuk memberikan penasehat itu sebuah hadiah yaitu 100.000 koin emas. Ini adalah setengah dari seluruh kekayaannya. Setelah membuat penetapan yang pantas, ia bertemu dengan si penasehat raja dan memberikannya hadiah beserta dengan rasa terima kasih yang tulus.

Penasehat itu heran dan bertanya, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kekayaan yang begitu banyak sehingga dapat  memberikan hadiah yang begitu besar nilainya.” Pemuda itu mengatakan kepadanya kalau itu semua berawal dari kata-kata si penasehat sendiri beberapa waktu yang lalu. Kata-kata itu sudah mengarahkannya kepada seekor tikus mati, seekor kucing lapar, kue-kue yang manis, seikat bunga, badai yang merusak dahan-dahan pohon, anak-anak di taman, si pembuat tembikar raja, sebuah toko makanan dan minuman, rumput untuk 500 ekor kuda, sebuah cincin emas permata, hubungan usaha yang baik, dan akhirnya sebuah keberuntungan yang besar.

Mendengar semua cerita itu, si penasehat kerajaan berpikir kepada dirinya sendiri, “Tidak baik jika kehilangan seorang laki-laki yang berbakat dan semangat ini. Aku memiliki begitu banyak kekayaan sama seperti halnya putriku satu-satunya. Selama laki-laki ini masih lajang, dia berhak menikahi putriku. Dengan begitu laki-laki ini dapat mewarisi harta kekayaanku sebagai miliknya dan putriku akan dijaganya dengan baik.

Semuanya telah berlalu, dan setelah penasehat yang bijaksana itu meninggal, seseorang yang sudah mengikuti nasehatnya kini menjadi pemuda yang paling kaya di kota. Raja menetapkan pemuda itu di jabatan si penasehat. Seluruh sisa hidupnya, dengan dermawan dia memberikan uangnya untuk kebahagiaan dan kebaikan banyak orang.

Pesan moral: Dengan tenaga dan kemampuan, kekayaan yang besar datang bahkan dari permulaan yang kecil.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Si Bodoh dan Si Santun (The Stupid and The Decent)


By.  Shravasti Dhammika, Terjemahan by Selfy Parkit

Kriminalitas tidak terlalu banyak menakutkan atau membahayakan daripada kebodohan. Sebuah kejahatan baru-baru ini di Singapura benar-benar digaris bawahi oleh poin ini. Sekelompok pemuda menyerang dan merampok empat pekerja imigran, para pemuda tersebut dengan serius merugikan dan membunuh satu di antara mereka. Dalam beberapa hari mereka semua tertangkap, kecuali satu yang mungkin sudah melarikan diri dari negeri itu. Ketiga pemuda itu kini telah didakwa sebagai pelaku pembunuhan dan jika terbukti bersalah kemungkinan akan dihukum gantung, sementara empat lainnya menghadapi berbagai biaya yang harus dibayar jika dinyatakan bersalah, mereka akan mendekam bertahun-tahun di penjara.  Dan berapa banyak yang mereka rampok dari korban-korban mereka? Empat puluh dolar dan beberapa macam-macam barang. Satu nyawa hilang, tiga orang terancam serius, lima orang terluka parah, seorang wanita menjadi janda dan tiga anak menjadi yatim piatu, tahun-tahun terbaik dalam hidup beberapa pemuda dihabiskan di dalam penjara. Dan untuk apa? Empat puluh dolar dan beberapa kartu telepon!

Kasus tragis dan mengejutkan ini membuat saya berpikir. Apakah hukuman mati benar-benar bertindak pada pencegahan? Mungkin bagi orang cerdas yang tergoda untuk melakukan kejahatan yang serius. Tetapi kebanyakan kriminalitas, seperti yang saya katakan, bodoh. Mereka melakukan kejahatan karena mereka cukup bodoh untuk berpikir mereka bisa lolos begitu saja. Dalam kasus barusan, hanya satu dari terdakwa yang memiliki akal sehat untuk keluar negeri. Yang lainnya tertangkap dalam beberapa hari. Bodoh! Hukuman gantung mungkin akan menyingkirkan orang-orang bodoh, tetapi tidak bisa membuat orang-orang bodoh menjadi pintar.

Hal lain pada kasus ini adalah mengingatkan saya tentang bagaimana orang-orang dapat menjadi yang santun. Menurut surat kabar, ketika Mr.Shanmneanathan (orang yang dibunuh) jasadnya dikembalikan ke India, seluruh barang miliknya menyertainya – beberapa pasang pakaian, panci masak dan album kecil foto-foto keluarga. Saya sangat terharu ketika saya membaca ini. Ketika saya berpikir tentang perjuangan dan kesulitan yang kini harus dihadapi istrinya, saya katakan kepada teman-teman dan para mahasiswa dan mereka membuka hati dan dompet mereka. Dalam waktu singkat kami telah mengumpulkan 3000 dolar. Uang ini telah diserahka kepada HOME, sebuah organisasi di Singapura yang bekerja untuk kesejahteraan pekerja imigran dan akan diteruskan kepada istri Shanmeanthan. Hanya ketika beberapa orang membuat Anda kehilangan keyakinan terhadap kemanusiaan, yang lain datang dan mengembalikannya.

Naskah asli dapat dibaca di

http://sdhammika.blogspot.com/

Bodoh


Sekitar sebulan yang lalu aku mengangkat telepon dari orang aneh. Lalu tiba-tiba saja orang yang sok kenal dan sok akrab itu mengucapkan kata-kata kotor yang tak pantas aku kemukakan di tulisan ini. Spontan saja karena kaget aku langsung membalas ucapannya dengan kata yang kasar juga, sebutlah satu kata itu ‘Bodoh’. Tapi apa yang terjadi aku malah tampak begitu bodoh karena mengucapkan kata-kata bodoh itu kepada orang bodoh. Lalu siapa yang sebenarnya bodoh? Siapa lagi kalau bukan aku sendiri.

Ada cerita yang menceritakan tentang sebatang pohon cemara yang dicaci maki oleh bunga mawar, tapi si pohon cemara tetap diam dan bertahan selama musim dingin. Sedangkan si mawar, ia mati dan tak dapat bertahan. Inti ceritanya adalah orang yang berkata kasar atau mencaci maki bagaikan orang yang menegadah dan membuang ludahnya ke atas, maka Kata-kata dan caci makinya akan kembali ke dirinya sendiri.

Pelajaran: Jika tidak mau disebut bodoh, maka sabar dan tenanglah kalau sedang dicaci maki.