Mampukah Kita Menerima Perubahan


Kita tidak akan pernah tahu kapan perubahan besar tepatnya akan terjadi di kehidupan ini, karena perubahan itu sendiri amatlah cepat terjadi. Tanpa disadari nyatanya dari waktu ke waktu sesuatu selalu berubah, ya tampak kasat mata pun terkadang kita tdk menyadarinya. Inilah saatnya bagi kita untuk terus dapat melihat perubahan sebagaimana apa adanya. Bahwa hidup memang berubah, dan hanya perubahan itu sendirilah yg pasti. Mungkin ini saatnya bagi kita untuk menerima kenyataan yg terkadang terlihat seperti mimpi. Seperti perubahan yg terjadi di kehidupan ini, yg terkadang kita tidak mempercayainya mengapa hal itu bisa terjadi. Semakin diri kita mempertanyakan perubahan itu, semakin tak ketemulah jawaban yg diinginkan dan semakin tidak puaslah kita jadinya. Semakin diri kita melihat keluar, maka semakin menderitalah dibuatnya. Semakin berpresepsi dan berpendapat, maka semakin salahlah jadinya.
Seseorang pernah bilang bahwa kesalahan terbesar manusia adalah ‘berpikir’. Ku rasa memang benar juga adanya. Semakin dipikirkan, semakin banyak pula masalah yg dikemukakan, bahkan yg bukan masalah pun kadang menjadi beban baru dalam pikiran. Mungkin kita masih tak mampu berhenti untuk terus berpikir, dan pernyataan itu terkadang sulit sekali diterima oleh akal sehat kita. Karena ada juga orang yg bilang kalau tanpa berpikir seseorang bisa jadi gila dan tak ada masalah yang bisa diselesaikan. Hal itu juga mungkin benar adanya, bahkan orang gila pun kadang disebut2 tidak punya pikiran (apa benar?), tapi apa dengan berpikir saja masalah bisa terselesaikan???
Mungkin kita takut menghadapi perubahan..
Kita Takut menghadapi diri sendiri..
Kita Tidak nyaman menghadapi ketakutan diri sendiri..
Kita Gelisah menghadapi perasaan sendiri..
Lalu pernahkah kita bertanya, apakah hal itu semua milik kita semua? Apakah ketakutan, kegelisahan, perasaan dan pemikiran itu milik kita semua. KITA LUPA bahwa hal itu pun mengalami perubahan.
Kita mungkin belum mampu menerima perubahan yg terjadi di lingkungan dan kehidupan kita, tapi adakah untungnya bagi kita untuk terus memikirkan hal itu? Memikirkannya saja terkadang bisa dijadikan beban dipikiran kita. Mungkin ini saatnya bagi kita untuk tidak terus berpikir dan mulai menjalani apa yg sudah dipikirkan, toh dengan begitu hasilnya pun akan terlihat nyata.

Untuk Selfy Parkit yg masih hobby berpikir..smoga lekas sembuh ~ 17 July’09

Advertisements

Berusaha Menerima


Teman-teman sekolahku sering sekali menertawai dan mengejek ketidakmampuanku dalam melafalkan kata dalam bahasa Inggris. Kekesalanku atas ejekan mereka lebih banyak membuatku menderita dibandingkan ketidakmampuanku ini. Rasanya ingin sekali berontak, namun karena tak enak hati, niat itu pun kupendam dalam hati. Apakah aku merasa bahagia? Tentu saja tidak! Apalagi ejekan itu terus berlangsung dari hari ke hari. Lama kelamaan meledaklah semua pendaman emosiku selama ini. Akhirnya, keluarlah kata-kata sudah aku pendam selama ini.

“Berhentilah menertawai dan mengejekku!” Tetapi apa yang terjadi? Ejekan bukan mereda, malah makin menjadi. Akhirnya, karena merasa lelah, aku pun pasrah dan tidak lagi berusaha menolak apa pun yang mereka katakan, malahan aku ikut menertawai kebodohanku sendiri. Lalu, apa yang terjadi? Bukan kekesalan ataupun ketidaknyamananlah yang aku rasakan saat itu, tetapi rasa lega dan bahagia.

Pelajaran: Menerima sesuatu apa adanya membuat hati kita damai.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Mei 2009