KEBERANIAN MENTAL


Oleh U’un Arifien (Kwee Ping Oen)

mmexport1450094279416

Keberanian Mental @SelfyparkitHappylife

Orang yang tidak waspada dalam kehidupan ini sering tergelincir pada keadaan:
– Ketidaksenangan dalam samaran kesenangan.
– Tidak ada cinta dalam samaran cinta.
– Penderitaan dalam samaran kebahagiaan.

Kalau kita sedang menderita atau stres karena urusan dengan kesehatan, dengan pasangan, dengan keuangan, atau dengan apa saja,  kita harus berani mengakui kenyataan hidup itu. Memang hal itu tidak mudah, harus ada keberanian mental untuk mengakui kenyataan yang ada.

Selera dan ekspektasi kita dalam hidup ini adalah ingin bahagia, ingin sehat, ekonomi longgar, suami atau istri pengertian. Tetapi kenyataanya tidak selalu sama dengan selera kita. Karena itu biar pun berat dan pahit, kita harus mau menerima kenyataan yang ada, maka dengan begitu kita akan mempunyai sikap bijaksana.

Sebaliknya kalau kita tidak mau dan takut melihat kenyataan itu atau pura-pura tidak ada masalah, tidak punya uang berlagak kaya, keluarga ada kasus pura-pura keluarga hamonis, itu semua adalah sifat kekanak-kanakan dan akhirnya kita akan terpicu mengambil langkah-langkah yang tidak bijaksana. Continue reading

Advertisements

SURGA 33 (BAGIAN 1. KERJASAMA)


 

Pada suatu ketika, saat Raja Magadha memerintah, ada seorang suci muda yang disebut, “Magha yang Baik”. Ia tinggal di desa terpencil yang hanya terdiri dari tiga puluh keluarga. Ketika ia masih muda, orang tuanya menikahkannya dengan seorang gadis yang memiliki kualitas karakter yang serupa dengan dirinya. Mereka sangat bahagia bersama, dan istrinya memberikannya beberapa orang anak.

Para penduduk desa menghormati Magha yang baik karena ia selalu mencoba untuk membantu dalam mengembangkan desa, untuk kebaikan semuanya. Karena mereka menghormatinya, ia mampu untuk mengajarkan Lima Latihan, untuk menyucikan pikiran, ucapan dan perbuatan mereka.

Cara Magha dalam mengajarkan adalah dengan praktik. Salah satu contoh hal ini terjadi ketika suatu hari para penduduk desa berkumpul untuk mengerjakan kerajinan tangan. Magha yang Baik membersihkan sebuah tempat untuk dia duduk. Sebelum dia duduk, seseorang yang lain telah mendudukinya. Jadi ia dengan sabar membersihkan tempat yang lain. Seorang tetangga duduk di tempatnya lagi. Hal ini terulang dan terulang lagi, sampai ia sudah dengan sabar membersihkan tempat duduk untuk semua yang hadir. Hanya dengan demikian ia dapat duduk di tempat yang terakhir.

Continue reading

PEMBUAT HARGA KERAJAAN (Kebodohan)


Dahulu kala nun jauh di sana, ada seorang raja yang memerintah di Benares, India Utara. Salah satu seorang mentrinya dipanggil dengan sebutan seorang pembuat harga dan dia adalah seorang pemuda yang jujur. Pekerjaannya adalah mengatur harga yang adil untuk sesuatu apa pun yang ingin raja beli atau jual.

Dalam beberapa kesempatan, raja tidak menyukai harga yang dia buat. raja tidak mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Raja tidak mau membiayai lebih mahal dari apa yang ia beli atau jual untuk apa yang menurutnya tidak cukup mahal atau sebaliknya. Jadi raja memutuskan untuk mengganti si pembuat harga.

Suatu hari raja melihat seorang pemuda yang tampan dan raja berpikir “Orang ini akan cocok mengantikan posisi pembuat hargaku.” Jadi raja memecat pembuat harga yang jujur itu dan menunjuk si pemuda menggantikannya. Pemuda itu berpikir, “Aku harus membuat Raja senang yaitu membeli dengan harga-harga yang sangat murah dan menjual pada harga-harga yang paling tinggi.” Jadi si pemuda ini membuat harga-harga yang tidak masuk akal, tanpa mempedulikan sama sekali apa pun yang berharga. Hal ini menguntungkan uang yang banyak dan membuat raja yang serakah itu sangat senang. Sementara itu, semua orang termasuk pejabat raja lainnya dan rakyat-rakyat biasa yang bertransaksi dengannya menjadi sangat tidak senang.

Kemudian pada suatu hari seorang pedagang kuda tiba di Benares dengan 500 kudanya untuk dijual. Kuda-kuda itu terdiri dari kuda jantan, kuda betina dan anak kuda jantan. Raja mengundang pedagang itu ke kerajaan dan memanggil pembuat harga kerajaannya itu untuk menentukan harga bagi 500 kuda-kuda tersebut. Si pembuat harga yang hanya berpikir bagaimana membuat raja senang berkata, “Seluruh kawanan kuda-kuda ini berharga satu mangkuk nasi.” Untuk itu raja memesan satu mangkuk nasi untuk dibayarkan kepada si Pedagang kuda dan semua kuda-kuda itu dibawa ke kandang kerajaan.

Tentu saja pedagang kuda amat marah, tetapi saat itu dia tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian pedagang kuda ini mendapat informasi tentang pembuat harga raja terdahulu yang memiliki reputasi sebagai orang yang jujur dan adil. Jadi si Pedagang mendatanginya dan mengatakan apa yang sudah terjadi. Si Pedagang ingin mendengarkan saran dari si pembuat harga dengan maksud mendapatkan harga yang pantas dari raja. Si Pembuat harga yang terdahulu berkata, “Jika kau melakukan apa yang aku katakan, raja akan diyakinkan mengenai nilai sesungguhnya dari kuda-kuda itu. Kembalilah kepada pembuat harga itu dan puaskan dia dengan hadiah barang-barang yang berharga. Minta dia untuk mengatakan nilai dari semangkuk nasi di hadapan raja. Jika si Pembuat harga itu setuju, temui dan beritahu aku, aku akan pergi bersamamu menemui raja.”

Mengikuti nasehat ini, si Pedagang pergi menemui si Pembuat harga dan memberikannya hadiah yang berharga. Hadiah itu membuatnya sangat senang, dengan begitu si Pembuat harga ini menghargai si Pedagang kuda. Lalu si Pedagang kuda berkata kepadanya, “Saya sangat senang dengan penilaian berharga Anda, bisakah Anda meyakinkan Raja tentang harga dari satu mangkuk nasi?” Si pembuat harga yang bodoh berkata, “Mengapa tidak? Saya akan menjelaskan harga dari satu mangkuk nasi, bahkan di hadapan Raja.”

Jadi si Pembuat harga yang bodoh ini berpikir kalau si Pedagang kuda merasa puas dengan semangkuk nasinya. Dia mengatur pertemuan lainnya dengan raja, sebelum si Pedagang bergegas meninggalkan negaranya. Si Pedagang melapor kembali kepada si Pembuat harga yang terdahulu dan mereka pergi bersama-sama menemui raja.

Semua menteri-menteri raja dan lengkap dengan orang-orang istana berkumpul di ruang pertemuan kerajaan. Si penjual kuda berkata kepada raja, “Raja ku, saya mengerti bahwa di negara Anda seluruh kumpulan 500 ekor kuda saya dihargai dengan semangkuk nasi. Sebelum saya kembali ke negara saya, saya ingin tahu nilai dari semangkuk nasi di negara Anda.” Sang Raja menoleh kepada si Pembuat harga kerajaannya dan berkata, “Apa nilai untuk semangkuk nasi?”

Si Pembuat harga yang bodoh itu, dengan tujuan menyenangkan hati raja, yang sebelumnya sudah menghargai sekumpulan kuda-kuda dengan satu mangkuk nasi. Sekarang, setelah menerima suap dari si Pedagang kuda, ia ingin menyenangkan si Pedagang kuda juga. Jadi si Pembuat harga menjawab pertanyaan Sang Raja dengan sikap yang paling menghargai, “Dengan hormat, satu mangkuk nasi seharga dengan kota Benares, bahkan termasuk dengan tempat kediaman selir raja, sama halnya dengan bagian pinggiran kota. Dengan kata lain, semangkuk nasi seharga dengan seluruh kerajaan Benares!”

Ketika mendengar hal ini, seluruh menteri kerajaan dan orang-orang bijaksana yang hadir di ruang pertemuan mulai tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk orang di sebelah mereka. Ketika mulai sedikit tenang, mereka berkata, “Sebelumnya kita mendengar bahwa kerajaan tak ternilai harganya, sekarang kita mendengar bahwa seluruh Benares berikut istana dan rumah-rumah besarnya dihargai hanya dengan semangkuk nasi! Keputusan dari pembuat harga kerajaan sangat aneh! Di mana yang mulia menemukan orang semacam itu? Ia baik hanya untuk menyenangkan hati Raja dan juga si Pedagang kuda, tidak untuk memberikan harga yang pantas untuk si Pedagang yang menjual kuda-kudanya dari satu negara ke negara lain.”

Ketika mendengar gelak tawa di seluruh ruangan istana dan kata-kata dari para menteri juga para penasihatnya. raja merasa malu. Dengan begitu raja membawa kembali si Pembuat harganya yang terdahulu ke posisi jabatannya semula. raja menyetujui harga baru yang layak untuk sekumpulan kuda-kuda yang ditentukan oleh si Pembuat harga yang jujur. Setelah mendapatkan sebuah pembelajaran, raja dan kerajaannya hidup dengan adil dan makmur.

Pesan moral: Kebodohan dalam jabatan yang tinggi dapat membawa rasa malu, bahkan untuk seorang raja.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PEDAGANG TIKUS (Pintar dan Berterima Kasih)


Pada suatu ketika, penasehat penting kerajaan sedang dalam perjalanannya menemui raja dan penasehat lainnya. Di pelik matanya, ia melihat seekor tikus mati di pinggir jalan. Lalu ia berkata kepada orang-orang yang ada bersamanya, “Walaupun dimulai dari tikus ini, seorang muda yang energik akan membangun sebuah keuntungan. Jika ia bekerja keras dan menggunakan kepintarannya, ia dapat memulai sebuah bisnis dan menyokong istri serta keluarga.”

Seseorang yang tidak sengaja lewat mendengar kata-kata tersebut. Dia tahu bahwa orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah seorang penasehat raja yang terkenal. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti perkataannya. Kemudian pemuda itu mengambil tikus mati tersebut dan pergi sambil menjingjing buntut si tikus. Sebagaimana keberuntungannya, sebelum ia pergi jauh, seorang penjaga toko menghentikannya. Penjaga toko itu berkata, “Sepanjang pagi kucing peliharaanku terus menerus menggangguku. Aku akan memberikanmu 2 koin tembaga untuk tikus itu.” Jadi selesailah.

Dengan 2 koin tembaga, pemuda itu membeli kue-kue manis dan menunggu di pinggir jalan dengan kue-kue manis itu dan sedikit air. Seperti apa yang diharapkannya, beberapa orang pemetik bunga untuk membuat karangan bunga pulang dari pekerjaannya. Karena mereka semua merasa haus dan lapar, mereka setuju untuk membeli kue-kue manis dan air tersebut seharga seikat bunga-bunga dari masing-masing mereka. Pada sore harinya, pemuda itu menjual bunga-bunganya di kota. Dengan uang yang didapatkannya, dia membeli lebih banyak lagi kue-kue manis dan kembali pada hari berikutnya untuk menjual kue-kue itu kepada pemetik bunga.

Hal ini berlangsung selama beberapa waktu, sampai suatu hari terjadi badai yang mengerikan, dengan hujan deras dan angin kencang. Ketika ia sedang berjalan di kebun raja yang indah, dia melihat banyak dahan-dahan pohon yang jatuh berserakan di sekitar karena tiupan angin. Untuk itu ia menawarkan jasa kepada tukang kebun kerajaan untuk membersihkan semuanya, jika si tukang kebun bersedia mengijinkannya mengambil dahan-dahan pohon itu. Tukang kebun yang malas itu dengan cepat menyetujuinya.

Kemudian pemuda itu menemukan beberapa anak yang bermain di taman seberang jalan. Mereka senang mengumpulkan semua dahan-dahan dan semak-semak di dekat  pintu masuk kebun yang indah tersebut hanya untuk sepotong kue manis sebagai bayaran setiap anaknya.

Bersamaan dengan itu datang seorang pembuat tembikar kerajan yang biasanya mencari beberapa kayu bakar untuk oven kacanya. Ketika si pembuat tembikar ini melihat tumpukan kayu yang baru saja telah dikumpulkan oleh anak-anak, ia memberikan bayaran kepada pemuda itu harga yang bagus untuk setumpuk kayu-kayu tersebut. Dia bahkan menawarkan beberapa tembikarnya.

Dengan keuntungan yang didapatkannya dari penjualan bunga dan kayu bakar, pemuda itu membuka toko makanan dan minuman. Suatu hari semua pemotong rumput setempat yang dalam perjalanannya menuju kota, berhenti di toko si pemuda. Pemuda itu memberikan kue-kue manis dan minuman secara gratis. Para pemotong rumput itu terkejut dengan kemurahan hati si pemuda dan bertanya “Apa yang bisa kami lakukan untukmu?” Si pemuda berkata tidak ada apa pun yang perlu mereka lakukan saat ini, tetapi ia akan memberitahukan mereka nantinya.

Seminggu kemudian, si pemuda mendengar ada seorang pedagang kuda datang ke kota untuk menjual 500 kuda-kudanya. Kemudian dia menghubungi para pemotong rumput dan meminta dari masing-masing mereka untuk memberikan seikat rumput kepadanya. Dia memberitahu mereka untuk tidak menjual rumput apa pun kepada pedagang kuda sampai sebelum rumput-rumput yang dia miliki habis terjual. Dengan begitu dia mendapatkan penawaran dengan harga yang sangat bagus.

Waktu berlalu sampai suatu hari, pada saat di toko, beberapa orang pedagang memberitahunya ada kapal baru dari negeri asing baru saja berlabuh di pelabuhan. Dia melihat ini sebagai kesempatan yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Dia berpikir dan berpikir sampai akhirnya dia muncul dengan rencana usaha yang bagus.

Pertama, pemuda itu pergi ke seorang pedagang perhiasan temannya dan membayar dengan harga yang murah untuk sebuah cincin emas yang sangat berharga dengan batu permata merah yang indah di dalamnya. Dia tahu bahwa kapal asing itu berasal dari negara yang tidak menghasilkan batu permata, dan dimana emas juga sangat mahal. Jadi ia memberikan cincin yang indah itu kepada si kapten kapal sebagai komisi. Untuk mendapatkan komisi itu, si kapten setuju untuk mengirimkan semua penumpangnya kepada si pemuda sebagai seorang makelar. Si pemuda kemudian akan membawa mereka menuju toko-toko di dalam kota. Sebagai gantinya pemuda itu mendapatkan komisi dari para pedagang karena telah membawa para pelanggan ke toko mereka.

Dengan cara bertindak sebagai makelar, pemuda itu menjadi sangat kaya setelah beberapa kapal datang menuju pelabuhan. Mereka senang dengan kesuksesannya, pemuda itu teringat bahwa itu semua diawali dengan kata-kata dari penasehat raja yang bijaksana. Jadi ia memutuskan untuk memberikan penasehat itu sebuah hadiah yaitu 100.000 koin emas. Ini adalah setengah dari seluruh kekayaannya. Setelah membuat penetapan yang pantas, ia bertemu dengan si penasehat raja dan memberikannya hadiah beserta dengan rasa terima kasih yang tulus.

Penasehat itu heran dan bertanya, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kekayaan yang begitu banyak sehingga dapat  memberikan hadiah yang begitu besar nilainya.” Pemuda itu mengatakan kepadanya kalau itu semua berawal dari kata-kata si penasehat sendiri beberapa waktu yang lalu. Kata-kata itu sudah mengarahkannya kepada seekor tikus mati, seekor kucing lapar, kue-kue yang manis, seikat bunga, badai yang merusak dahan-dahan pohon, anak-anak di taman, si pembuat tembikar raja, sebuah toko makanan dan minuman, rumput untuk 500 ekor kuda, sebuah cincin emas permata, hubungan usaha yang baik, dan akhirnya sebuah keberuntungan yang besar.

Mendengar semua cerita itu, si penasehat kerajaan berpikir kepada dirinya sendiri, “Tidak baik jika kehilangan seorang laki-laki yang berbakat dan semangat ini. Aku memiliki begitu banyak kekayaan sama seperti halnya putriku satu-satunya. Selama laki-laki ini masih lajang, dia berhak menikahi putriku. Dengan begitu laki-laki ini dapat mewarisi harta kekayaanku sebagai miliknya dan putriku akan dijaganya dengan baik.

Semuanya telah berlalu, dan setelah penasehat yang bijaksana itu meninggal, seseorang yang sudah mengikuti nasehatnya kini menjadi pemuda yang paling kaya di kota. Raja menetapkan pemuda itu di jabatan si penasehat. Seluruh sisa hidupnya, dengan dermawan dia memberikan uangnya untuk kebahagiaan dan kebaikan banyak orang.

Pesan moral: Dengan tenaga dan kemampuan, kekayaan yang besar datang bahkan dari permulaan yang kecil.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Warung Kejujuran



By Selfy Parkit

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” mungkin pepatah tersebut sering sekali kita dengar di kalangan masyarakat, namun dalam arti yang positif tentunya. Lalu bagaimana jadinya kalau pepatah tersebut dipakai dalam istilah korupsi? “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi kaya raya”, wah mungkin begitu jadinya, dan tak sedikit dari para koruptor di sana yang mungkin juga berprinsip semacam ini. Sedikit memang, tetapi perbuatan yang sedikit tersebut berdampak besar dan merugikan banyak pihak.

Jika berbicara tentang korupsi rasanya tidak akan pernah ada habisnya, mulai dari korupsi uang, dana ini-itu, maupun korupsi waktu yang kita tidak disadari dan lain sebagainya. Apalagi di negara kita yang tercinta ini yang pada tahun lalu menempati peringkat korupsi urutan ke 111 dari 180 negara di dunia. Segala usaha pengawasan dilakukan untuk memberantas korupsi, namun sepertinya usaha tersebut tetap tidak menghilangkan kebiasaan si para koruptor tersebut untuk bertobat dan berhenti mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Namun di tengah-tengah maraknya berita korupsi dan usaha penanggulangannya tersebut, salah satu sekolah SMP Buddhi di Tangerang malah menyediakan fasilitas sekolah yang rentan korupsi. Seperti apakah fasilitas tersebut? tentunya Anda sedikit penasaran.

Fasilitas ini berupa sebuah warung dengan nama “Warung Kejujuran” Warung ini bukan hanya sekedar nama, tetapi benar-benar sebuah warung yang menantang Anda apakah Anda orang yang jujur atau tidak. Sejauh manakah warung ini menguji kejujuran para siswa??

Layaknya sebuah warung, sudah pasti akan ada barang yang di jual, ya barang-barang jualan tersebut ditempatkan di dalam satu buah etalase kaca yang di sampingnya terdapat label nama ‘Warung Kejujuran SMP Buddhi’. Etalase kaca yang lebarnya berukuran + 2 meter dengan tinggi tidak lebih dari satu meter itu menjual berbagai macam keperluan alat tulis, mulai dari buku, pensil, pulpen penghapus dan lain sebagainya. Namun tidak hanya itu saja, ada pula makanan dan barang-barang keperluan siswa.

Bukan saja namanya yang unik, akan tetapi cara kerjanya pun ternyata unik. Tepat di atas kaca sebelah dalam terdapat selembar kertas yang menerangkan bagaimana cara membeli barang di warung tersebut. Dengan cara inilah kejujuran Anda (khusunya siswa-siswi SMP Buddhi) diuji. Anda hanya perlu meletakan uang ke dalam kaleng tempat uang seharga barang yang Anda beli, lalu mencatatnya ke dalam buku yang sudah disediakan, gampangkan! Anda hanya tinggal langsung mengambil barang yang diinginkan. Jika perlu uang kembalian, anda hanya tinggal mengambilnya di kaleng uang.

Warung yang modalnya dikumpulkan secara kolektif dari para guru dan murid ini, bertujuan untuk mengajarkan siswa-siswi untuk bertindak jujur, bukan hanya teori tetapi dalam praktik yang nyata. Bukan juga membatasi atau hanya mengawasi anak untuk tidak melakukan pencurian, korupsi atau perbuatan tidak jujur. Akan tetapi, memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih kejujuran. Warung ini sendiri sudah mulai beroperasi sejak bulan September 2009 dan dikelolah oleh ibu HJ.Sabihah Spd dengan dibantu oleh anak-anak OSIS. Guru IPA yang sudah mengajar selama kurang lebih 25 tahun ini pun menyatakan bahwa awalnya memang tidak mudah untuk menanamkan kejujuran kepada para siswa-siswi, mengingat warung ini sudah empat kali mengalami kebangkrutan, alias barang dan uangnya habis tanpa sisa. Namun karena pentingnya akan tujuan dari pendidikan yang dalam hal ini melatih anak untuk bersikap jujur, Ibu guru yang juga merupakan wakil dari kepala sekolah SMP Buddhi ini tetap mengusahakan pengadaan dari Warung tersebut. Walaupun beliau mengaku sempat putus asa akan keberhasilan warung tersebut, namun dengan mulai memberikan pengarahan kepada siswa-siswi mengenai pentingnya bersikap jujur, Warung Kejujuran akhirnya berangsur-angsur menjalankan fungsinya. Sejak bulan Maret 2010 siswa-siswi SMP Buddhi pun mulai jujur dalam membeli barang-barang di Warung Kejujuran.

ibu HJ.Sabihah Spd dengan warung yang dikelolahnya

ibu HJ.Sabihah Spd dengan warung yang dikelolahnya

Inilah pentingnya menanamkan nilai-nilai dan melatih kejujuran kepada anak-anak dari sejak dini, masa depan bangsa kita ada di tangan mereka—anak-anak dan murid-murid kita. Selama warung kejujuran ini tetap bertahan di sekolah Buddhi, selama itu pula siswa-siswi SMP Buddhi mampu untuk berkata dan bersikap jujur, dan seharusnya koruptor di sana malu dengan mereka yang masih muda dan mampu untuk tidak berbohong serta mencuri ataupun korupsi.

Sumber

Wawancara Ibu HJ. Sabihah Spd.

http://inimu.com/berita/2009/11/18/cpi-2009-tingkat-korupsi-indonesia-masih-menonjol/

Jujur atau Bohong


Teman saya meminta saya untuk menghadiri sebuah seminar seharga + 2,5 juta gratis. Tentu saja hal itu memaksa saya untuk berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapat ijin tidak masuk kerja pada hari jum’at, karena seminar itu diadakan selama 3 hari yaitu jumat sampai minggu.

Banyak dari teman saya yang mengusulkan untuk ijin saja dengan alasan urusan keluarga ataupun sakit, karena dengan begitu ijin sudah tentu dapat. Saya yang tidak biasa berbohong merasa tidak enak, namun usulan itu hampir saja memengaruhi saya. Untungnya ada seorang teman yang meyakinkan saya bahwa tak ada salahnya berkata jujur, lagi pula tujuan dari seminar tersebut untuk pengembangan diri. Seketika keyakinan muncul di dalam diri saya, bergegas saya menemui bos saya dan menyatakan maksud hati. Memang hasilnya saya tidak mendapatkan ijin secara resmi dari pihak sekolah, tapi bos saya malah mendukung saya untuk menghadiri seminar tersebut.

Pesan moral : Kejujuran membawa hasil yang tak terduga.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Juli 2009