Mutiara di Dalam Lumpur


Oleh Selfy Parkit.

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Seorang anak kecil yang sedang membawa sekantong penuh gelas-gelas plastik bekas air mineral mencari orang yang mau menukarkannya dengan selimut untuk adiknya di rumah. Anak kecil tersebut berjalan menelusuri jalan sambil meminta-minta tolong kepada orang-orang yang ditemuinya. Jika saat itu anda yang dimintai tolong, apakah anda akan memberikan selimut anda kepada anak kecil tersebut? Bagaimana jika kebetulan anda sedang di luar rumah dan tempat tinggal anda jauh, apakah anda tetap akan memberikan selimut anda kepadanya? Apa pun jawaban anda, saya rasa kita harus tetap belajar banyak dari ibu Supratiwi yang akhirnya mau menolong anak kecil tersebut dan memberikan selimutnya dengan tulus dan ikhlas. Rabu 19 January 2011, salah satu program televisi “Tolong” telah menayangkan peristiwa yang mengharukan tersebut. Ibu Supratiwi seorang pemulung bersama kakek angkatnya yang sedang melintasi jalan, tak sengaja bertemu dengan anak dari tim Tolong tersebut. Rumahnya yang jauh tak menjadi alasan baginya untuk tidak menolong, bahkan tak segan-segan pula ia menawari makan dan niat memberikan uang kepada anak tersebut. Continue reading

Advertisements

Penjual Bambu dan Motor Butut


 

By. Selfy Parkit, Ide cerita Linda

Hujan yang bergemericik hampir saja membasahi seluruh tubuh kami. Tapi Linda tak peduli, dikebutnya sepeda motor bebek yang sudah butut tersebut. Motor miliknya ini bukan saja berpenampilan kumal, tapi juga sudah tidak layak pakai. Coba bayangkan, bodi si roda dua itu sudah banyak yang retak-retak, belum lagi mesinnya kadang-kadang mogok di tengah jalan, ditambah lagi bunyinya sudah hampir memengkakkan telinga. Namun walaupun begitu, herannya sepeda motor ini tetap saja setia menemani kami berdua dari pagi bahkan sampai larut malam, dan berkat jasanyalah kami berdua bisa sampai di tempat kerja dengan selamat setiap harinya. Si pemiliknya, Linda teman sekantor sekaligus ojek pribadiku memang sangat sayang dengan sepeda motor bututnya ini, maklum saja motor itu adalah hasil  jerih payahnya selama bekerja. Tetapi karena kemiskinan mengilasnya hingga babak belur, sampai sekarang Linda masih belum sempat membawa sepeda motornya itu ke bengkel. Sebenarnya aku sudah berkali-kali mencoba menawarkan bantuan dana kepada Linda untuk segera membawa si bebek tua itu ke bengkel. Tetapi perempuan kurus keras kepala berpenampilan sederhana itu bersikukuh ingin menggunakan uang yang ada di celengannya saja. ‘Walau setiap hari rajin menabung, tapi mau sampai kapan!’, seruku kadang gemas melihat kesabaran dan ketekunannya. Maklum saja, sebagai kepala keluarga di rumah, Linda memang sudah terlalu mandiri dalam berbagai hal. Kematian kedua orang tuanya tidak hanya membentuknya menjadi tegar, tetapi juga membuat ia mampu membiayai hidup kedua orang adiknya yang masih kecil-kecil.

Continue reading

Indahnya Memberi


Dapat memberi itu indah ya? Kebahagiaan dari memberi sungguh tak terkira. Tak ada kata yang tepat untuk dapat melukiskan betapa bahagianya perasaan dari seseorang yang memberi. Kita menyebutnya berdana, namun kadang kala jika kita mendengar kata “Berdana” yang ada dipikiran kita adalah memberikan materi kepada makhluk lain. Sebenarnya berdana bukanlah sekedar memberikan materi saja. Ada banyak sekali bentuk dana yang dapat kita berikan kepada makhluk lain, bukan saja yang berbentuk nyata/ konkret tapi juga yang tidak dapat dilihat/ abstrak. Contohnya dengan tenaga, memberikan ceramah Dhamma, nasehat dan memberikan maaf. Entah berbentuk ataupun tidak berbentuk, sedikit ataupun banyak, berdana (memberi) dengan tulus dan iklas, pastinya dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan yang instan/ langsung bagi si pemberinya. Kalau tak percaya cobalah berdana secara tulus dan iklas saat ini, pasti sekarang ini kita dapat merasakan kebahagiaannya.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Mei 2009