Mutiara di Dalam Lumpur


Oleh Selfy Parkit.

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Seorang anak kecil yang sedang membawa sekantong penuh gelas-gelas plastik bekas air mineral mencari orang yang mau menukarkannya dengan selimut untuk adiknya di rumah. Anak kecil tersebut berjalan menelusuri jalan sambil meminta-minta tolong kepada orang-orang yang ditemuinya. Jika saat itu anda yang dimintai tolong, apakah anda akan memberikan selimut anda kepada anak kecil tersebut? Bagaimana jika kebetulan anda sedang di luar rumah dan tempat tinggal anda jauh, apakah anda tetap akan memberikan selimut anda kepadanya? Apa pun jawaban anda, saya rasa kita harus tetap belajar banyak dari ibu Supratiwi yang akhirnya mau menolong anak kecil tersebut dan memberikan selimutnya dengan tulus dan ikhlas. Rabu 19 January 2011, salah satu program televisi “Tolong” telah menayangkan peristiwa yang mengharukan tersebut. Ibu Supratiwi seorang pemulung bersama kakek angkatnya yang sedang melintasi jalan, tak sengaja bertemu dengan anak dari tim Tolong tersebut. Rumahnya yang jauh tak menjadi alasan baginya untuk tidak menolong, bahkan tak segan-segan pula ia menawari makan dan niat memberikan uang kepada anak tersebut. Continue reading

Manisnya Kampung Kohot


pesawahan di pinggir jalan menuju kp.Kohot

pesawahan di pinggir jalan menuju kp.Kohot

Tanggal 17 Oktober 2010 saya baru saja pulang dari baksos yang diselengarakan oleh beberapa teman saya. Teman-teman saya ini sudah beberapa kali mengadakan bakti sosial ke kampung-kampung yang daerahnya terpencil dan masih asri, dan baru kali inilah saya punya kesempatan baik untuk bergabung bersama mereka pergi ke sebuah tempat yang bernama kampung Kohot. Kampung ini terletak di daerah pelosok berdekatan dengan kampung Melayu Tangerang. Karena saya kurang mengerti nama jalan, saya hanya tahu kalau letak kampung Kohot ini lumayan agak terpencil dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas masyarakat kota.

Di dalam perjalanan yang tidak terlalu mulus karena jalan raya untuk masuk ke kampung ini agak rusak, banyak sekali kita lihat pepohonan rindang dan pemandangan yang menyejukan mata. Tak terhitung juga banyaknya pohon kelapa yang nyiur melambar berjejer di pinggir jalan dan tengah-tengah sawah hijau. Di bagian sisi sebelah kanan menuju arah kampung, kita juga dapat menyaksikan sungai yang alirannya lumayan tenang, dan sungai ini nantinya akan bertemu dengan sungai-sungai kecil lainnya menuju ke sebuah laut yang bernama Tanjung Pasir-Tangerang. Continue reading

BAYI BURUNG PUYUH YANG TIDAK DAPAT TERBANG (KEKUATAN DARI KEBENARAN, PEBUATAN BAIK DAN KASIH SAYANG)


Pada suatu ketika, Yang Tercerahkan terlahir sebagai seekor burung puyuh kecil. Walaupun ia memiliki kaki dan sayap yang kecil, ia masih belum bisa berjalan atau pun terbang. Kedua orangtuanya bekerja keras membawakan makanan ke sarang, memberikannya makan dari paruh mereka.

Di belahah dunia itu, sering terjadi kebakaran hutan setiap tahunnya. Kemudian benar saja api mulai muncul pada tahun tertentu itu. Semua burung yang bisa terbang, terbang melarikan diri pada pertanda pertama yaitu asap. Ketika api mulai menyebar, dan semakin mendekat ke sarang bayi burung puyuh, kedua orangtuanya tetap tinggal bersamanya. Akhirnya api pun sudah sangat dekat, dan mereka harus terbang untuk menyelamatkan hidup mereka.

Semua pohon,  besar dan kecil, terbakar dan patah dengan suara yang keras. Burung puyuh kecil menyaksikan bahwa semuanya sedang dihancurkan oleh api yang mengamuk di luar kendali. Ia tidak dapat melakukan apa pun untuk menyelamatkan dirinya. Pada saat itu, pikirannya diliputi oleh perasaan tidak berdaya.

Continue reading

SURGA 33 (BAGIAN 1. KERJASAMA)


 

Pada suatu ketika, saat Raja Magadha memerintah, ada seorang suci muda yang disebut, “Magha yang Baik”. Ia tinggal di desa terpencil yang hanya terdiri dari tiga puluh keluarga. Ketika ia masih muda, orang tuanya menikahkannya dengan seorang gadis yang memiliki kualitas karakter yang serupa dengan dirinya. Mereka sangat bahagia bersama, dan istrinya memberikannya beberapa orang anak.

Para penduduk desa menghormati Magha yang baik karena ia selalu mencoba untuk membantu dalam mengembangkan desa, untuk kebaikan semuanya. Karena mereka menghormatinya, ia mampu untuk mengajarkan Lima Latihan, untuk menyucikan pikiran, ucapan dan perbuatan mereka.

Cara Magha dalam mengajarkan adalah dengan praktik. Salah satu contoh hal ini terjadi ketika suatu hari para penduduk desa berkumpul untuk mengerjakan kerajinan tangan. Magha yang Baik membersihkan sebuah tempat untuk dia duduk. Sebelum dia duduk, seseorang yang lain telah mendudukinya. Jadi ia dengan sabar membersihkan tempat yang lain. Seorang tetangga duduk di tempatnya lagi. Hal ini terulang dan terulang lagi, sampai ia sudah dengan sabar membersihkan tempat duduk untuk semua yang hadir. Hanya dengan demikian ia dapat duduk di tempat yang terakhir.

Continue reading