Guru Kecil


Kedatangannya dari jauh memang sudah terlihat, walau agak samar tapi Aku yakin itu dia. Wajahnya yang semu kemerahan, dengan rambut ikat kepang ke atas dan ransel merah muda di pundaknya membuat ia terlihat semakin kecil. Gerakannya yang jingkrak-jingkrak dan gemerincing bunyi kerincingan di kaki kecilnya, menandakan kalau ia memang masih hijau, masih belum tercemar polusi duniawi. Langkahnya tak beraturan, ringan namun terlihat mantap. Tak ada beban di pikirannya dan hatinya, dunia seperti surga bermain yang indah.

Semakin dekat semakin melebarlah tawanya, mulailah dipamerkannya gigi putihnya itu sambil mengayunkan lengan kecil beserta jemari-jemarinya yang lentik. Seketika bibirnya yang mungil menyuarakan kata yang tak asing kudengar, “Lao Shi.. Lao Shi!!!” dari kejauhan suara kecil itu terdengar semerdu bunyi harpa, bahkan lebih merdu dari biasanya.

Berjingkrak-jingkraknya semakin menjadi, langkah-langkah kecil itu mulai cepat, daun-daun di sekeliling mulai berhamburan. Tap.. tap.. tap… tak terasa segumpal daging kecil itu sudah medarat tepat di dekapanku. “Lao Shi, Good Moning” sahut si pemilik bibir merah delima. “Bilang, Zao An!” “Zao An…” tirunya sambil terkekeh-kekeh.

Entah sampai kapan kekehan ini akan ku dengar, sampai si kecil mulai mengertikah? Aku berharap tidak, Gadis harus menjadi orang yang tegar, orang yang kokoh, bahkah lebih kokoh dari gunung. Di umurnya yang masih 3 tahun masih belum banyak yang ia mengerti. Tapi Gadis mengerti cinta. Hanya karena cintalah Gadis mampu bertahan dalam kerasnya dunia. Dunia yang telah merenggut kedua orangtuanya dari kehidupannya. Tapi toh Gadis masih bisa tersenyum,  masih bisa bermain dengan kakak pengasuh panti asuhan, masih bisa terkekeh-kekeh.

“Beberapa hari ini di panti dia agak rewel semenjak dikasih tontonan Barnie, tapi kalau sudah sampai di sekolah ya begitu tuh, jingkrak-jingkrakan tak karu-karuan” sahut kakak pengasuh yang mengantarnya ke sekolah. Aku hanya bisa tersenyum lebar. Untungnya warisan peninggalan orangtua Gadis mampu membiayainya sekolah. Tapi walau bagaimana pun mampukah harta duniawi itu mengobati luka hati??? Kurasa tidak. Apalagi karena harta pulalah Gadis harus menjadi yatim piatu, korban dari perampok yang tak mampu bertahan dari kerasnya kehidupan. Aku menghela nafas panjang, membanyangkannya saja sudah membuat sesak.

Gadis kecil itu berjalan mendahuluiku, lenggak-lenggok parasnya dari belakang sudah banyak menghiburku. Memperhatikannya membuatku tak mampu menahan tawa. Meledaklah tawaku di ruang kelas yang masih kosong. “Lao Shi kok ketawa?” tanyanya sedikit curiga. Melihat mimik wajahnya yang lucu membuatku berusaha keras menghentikan tawaku. Sambil menarik nafas dalam Aku berusaha menenangkan diri. “Gadis tahu, kalau hari ini adalah hari ulang tahun Gadis?” “Ulang tahun ya! Horree.. asik…!!!” serunya gembira sambil bertepuk tangan. “Hmm.. sebagai hadiahnya, Gadis boleh minta apa saja sama Lao Shi… Gadis boleh minta kue ulang tahun berbentuk Princess, atau boneka Barnie seperti yang di TV kemarin” tawarku mengodanya. Gadis terdiam sejenak sambil jemarinya tak henti melinting-linting rambut depannya yang masih tersisa. “Hmm… apa ya.. tapi Gadis tidak mau kue ulang tahun berbentuk Princess, atau boneka Barnie.” katanya dengan tampang serius. “Loh, kalau tidak mau kue dan bonekanya Gadis mo apa dong???” sahutku menawarkan kembali kepadanya.  “Bener???” tanyanya lugu. “Iya….” Jawabku memastikannya. Dia terdiam sejenak, kemudian mulutnya yang kecil itu mulai mengucapkan kalimat-kalimat panjangnya. “Kata Barnie, anak-anak punya mama papa, Gadiskan masih anak-anak ya! Gadis mau mama papa bisa?” seketika hatiku terenyuh, kupeluk Gadis erat-erat, air mataku meleleh tak terasa. “Loh kok Lao Shi nangis, ih Lao Shi cengeng, ya ga ada ya mama papanya, kalau ga ada Gadis mau Lao Shi aja deh!” sahutnya enteng sambil terkekeh-kekeh. Mataku basah, kupeluk Gadis dua kali, bibirku mulai tersenyum menghiburnya, namun bukan Aku yang sesungguhnya menghibur Gadis, Gadislah yang sudah menghiburku. Guru kecil yang mengajarkanku kehidupan.


The Tao of Forgiveness (Tao Memaafkan)


Suatu hari, seorang guru yang bijaksana memberikan muridnya sebuah karung kosong dan sekeranjang kentang.
“Pikirkan semua orang yang telah melakukan atau mengatakan sesuatu bertentangan terhadap Anda di masa yang baru saja berlalu, terutama yang Anda tidak dapat memaafkan. Untuk masing-masing dari mereka, tuliskan namanya pada satu kentang dan masukkan ke dalam karung.”

Murid itu sampai pada banyaknya nama, dan segera karungnya berat dengan kentang-kentang.
“Bawa karung itu bersama Anda, ke manapun Anda pergi selama seminggu,” kata si Guru. “Kita akan bicara setelah itu.”
Pada awalnya, murid itu tidak mempunyai pemikiran apa pun. Membawa karung itu tidak terlalu sulit. Tetapi setelah beberapa waktu, karung itu menjadi lebih dari sebuah beban. Kadang-kadang menghalangi di dalam perjalanan, dan sepertinya memerlukan upaya lebih untuk membawanya seiringi  terus berjalannya waktu, meskipun beratnya tetap sama.

Setelah beberapa hari, karung itu mulai bau. Kentang-kentang yang diukir itu menyemburkan bau matang. Kentang-kentang itu tidak hanya semakin merepotkan untuk dibawa keliling, tetapi juga menjadi agak tidak menyenangkan.

Akhirnya, minggu itu berakhir. si Guru memanggil murid itu. “Adakah pemikiran tentang semua ini?”
“Ya, guru,” jawab si murid. “Ketika kita tidak dapat mengampuni orang lain, kita membawa perasaan negatif bersama kita ke mana-mana, seperti kentang ini. Negativitas itu menjadi beban bagi kita dan, setelah beberapa saat menjadi memburuk.”
“Ya, itulah yang terjadi ketika seseorang menyimpan dendam. Jadi, bagaimana kita bisa meringankan beban itu?”
“Kita harus berusaha untuk memaafkan. ”
“Memaafkan seseorang setara dengan mengeluarkan kentang yang sama dari karung. Berapa banyak orang yang bersalah yang bisa Anda memaafkan?”
“Saya telah sedikit memikirkannya, Guru” kata murid.
“Ini diperlukan banyak usaha, tapi aku telah memutuskan untuk memaafkan mereka semua.”
“Baiklah, kita dapat mengeluarkan semua kentang-kentang itu. Apakah ada lagi orang-orang yang bersalah terhadap Anda pada minggu ini?”
Murid itu berpikir sejenak dan mengakui ada. Lalu ia merasa panik ketika menyadari karung kosongnya baru saja akan diisi lagi.
“Guru,” ia bertanya, “jika kita terus seperti ini, tidakkah akan selalu ada kentang di dalam karung setiap minggunya?”
“Ya, selama orang-orang berbicara atau bertindak melawan terhadap Anda dalam beberapa cara, Anda akan selalu memiliki kentang.”

“Tapi Guru, kita tidak pernah dapat mengontrol apa yang orang lain lakukan. Jadi apa gunanya Tao dalam kasus ini?”
“Kita belum berada pada jangkauan Tao. Segala sesuatu yang kita telah bicarakan sejauh ini adalah pendekatan konvensional (biasa/lazim) untuk memaafkan. Ini adalah hal sama yang banyak filsafat dan kebanyakan agama ajarkan – Kita harus selalu berusaha keras untuk memaafkan, karena ini adalah suatu kebajikan yang penting. Ini bukanlah Tao karena tidak ada kerja keras di dalam Tao. ”
“Lalu apakah Tao itu, guru?”
“Anda bisa mengumpamakannya. Jika kentang-kentang itu adalah perasaan negatif, Lalu apa karung itu?”
“Karung adalah … Itu yang memungkinkan saya untuk berpegang pada negativitas itu. Ini adalah sesuatu dalam diri kita yang membuat kita memikirkan perasaan tersinggung/sakit hati …. Ah, itu adalah perasaan marah saya dari kepentingan diri sendiri.”
“Dan apa yang akan terjadi jika Anda melepaskan itu?”
“Lalu … Hal-hal yang orang lakukan atau katakan terhadap saya tidak lagi tampak seperti masalah besar.”

“Dalam hal ini, Anda tidak akan memiliki nama siapa pun untuk dituliskan pada kentang-kentang. Itu berarti tidak ada lagi berat beban untuk dibawa keliling, dan tidak ada lagi bau busuk. Memaafkan di dalam Tao adalah keputusan yang sadar untuk tidak hanya mengeluarkan beberapa kentang … Tetapi untuk melepaskan seluruh karung. ”

Terjemahan dari artikel The Tao of Forgiveness oleh Selfy Parkit. Saran dan kritik penerjemahan terbukan untuk umum. ^__^

ANAK RUSA YANG PURA-PURA MATI (Kehadiran)


Pada suatu ketika, hidup sekumpulan rusa hutan. Di dalam kumpulan ini terdapat guru yang yang bijaksana dan dihormati, yang menunjukan kecerdikan dalam mencari cara bagi rusa. Ia mengajarkan cara dan strategi untuk bertahan hidup bagi anak-anak rusa muda.

Suatu hari, adik perempuan si Guru ini membawa anak laki-lakinya datang bertemu untuk diajarkan apa yang sangat penting bagi rusa. Ibu itu berkata, “Oh… guru yang juga saudara laki-lakiku, ini adalah anakku.” Si Guru berkata kepada anak rusa itu, “Baiklah kau bisa datang pada jam-jam ini besok untuk pelajaran pertamamu.”

Anak rusa muda itu datang mengikuti pelajaran sebagaimana seharusnya. Ketika rusa lain tidak masuk kelas dan menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk bermain, ia tetap di kelas dan memperhatikan gurunya. Ia sungguh disukai oleh para rusa jantan dan rusa betina lainnya, tetapi ia hanya akan bermain jika tugas kelasnya selesai dikerjakan. Rasa ingin tahunya dalam belajar, membuatnya selalu datang tepat waktu dalam menghadiri pelajaran. Ia juga sabar terhadap murid-murid lainnya. Ia menghargai si Guru rusa atas pengetahuan yang dimilikinya dan merasa berterima kasih untuk kesediaannya dalam berbagi pengetahuannya.

Suatu ketika, si Anak rusa masuk ke dalam sebuah perangkap di dalam hutan dan ditangkap. Ia berteriak kesakitan. Ini membuat takut anak-anak rusa lainnya yang berlari kembali ke rombongan dan memberitahukan ibunya. Ibunya merasa ketakutan dan lari menemui saudara laki-lakinya, si Guru. Bergetar oleh ketakutan, dan dibasahi oleh air mata, dia berkata kepada si Guru, “Oh saudara laki-lakiku tercinta, apakah kau sudah mendengar kabar bahwa anakku sudah terperangkap oleh beberapa pemburu? Bagaimana aku dapat menyelamatkan hidup anakku? Apakah ia belajar dengan baik di kelasmu?”

Kakaknya berkata, “Adik perempuanku, jangan takut. Aku yakin ia akan selamat. Ia belajar dengan sungguh keras dan selalu melakukan yang terbaik. Ia tidak pernah melewatkan satu kelas pun dan selalu memperhatikan. Untuk itu, tidak perlu memiliki keraguan ataupun kesedihan di dalam hatimu. Ia tidak akan disakiti oleh manusia apa pun. Jangan khawatir. Aku yakin ia akan kembali kepadamu dan membuatmu bahagia kembali. Ia sudah belajar semua cara dan strategi yang digunakan oleh rusa untuk menipu pemburu-pemburu. Jadi sabarlah. Ia akan kembali!”

Sementara itu, si Anak rusa yang terperangkap berpikir, “Semua teman-temanku takut dan kabur. Tidak ada satu pun yang membantuku keluar dari perangkap yang mematikan ini. Sekarang aku harus menggunakan cara dan strategi yang sudah aku pelajari dari guru bijaksana yang sudah mengajar dengan sangat baik.”

Strategi rusa yang akhirnya ia putuskan untuk digunakan disebut, “Pura-pura mati.” Pertama, ia menggunakan kuku-kukunya untuk menggali tanah dan rumput, untuk membuat seolah-olah ia sudah berusaha sangat keras untuk melarikan diri. Kemudian ia buang air besar dan kecil, karena inilah yang terjadi ketika seekor rusa ditangkap di dalam sebuah jebakan dan mati dalam ketakutan yang sangat besar. Selanjutnya, ia melumuri tubuhnya dengan air liurnya sendiri.

Berbaring lurus terlentang, ia membuat tubuhnya kaku dan meluruskan kakinya. Ia menaikkan kedua matanya, dan membiarkan lidahnya menjulur di sisi mulutnya. Ia mengisi paru-parunya dengan udara dan mengembungkan perutnya. Akhirnya, dengan posisi kepalanya condong ke satu sisi. Ia bernafas melalui lubang hidung yang dekat ke tanah, bukan melalui lubang hidung bagian atas.

Terbaring tanpa gerakan, ia benar-benar terlihat seperti mayat kaku dan lalat-lalat berterbangan mengelilinginya, tertarik oleh bebauan yang sangat bau. Burung gagak berdiri di dekatnya menunggu untuk memakan dagingnya.

Tak lama kemudian, pagi-pagi sekali si Pemburu datang untuk memeriksa perangkap-perangkapnya. Menemukan si Anak rusa yang sedang berpura-pura mati, ia menepuk perut rusa yang mengembung dan mengetahui perutnya kaku. Melihat lalat-lalat dan kotoran yang berserakan itu ia berpikir, “Ah, rusa ini sudah mulai menjadi kaku. Ia pasti sudah terperangkap lama sekali pagi ini. Tidak diragukan lagi kalau daging lunaknya sudah mulai membusuk. Aku akan menguliti dan menyembelih bangkainya di sini, lalu membawa dagingnya pulang.”

Ketika si Pemburu benar-benar percaya rusa itu mati, ia memindahkan dan membersihkan perangkap itu, dan mulai menyebarkan daun-daun untuk membuat tempat penyembelihan. Menyadari kalau dirinya bebas, si Anak rusa dengan tiba-tiba meloncat lalu berdiri. Ia berlari bagaikan awan kecil yang tertiup oleh angin yang bergerak cepat, kembali ke tempat ibunya yang nyaman dan aman. Seluruh kawanan rusa merayakan keselamatannya, syukurlah karena sudah belajar dengan sangat baik dari guru yang bijaksana.

Pesan moral : Belajar dengan baik membawa hasil yang besar.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

ANAK RUSA YANG MEMBOLOS (Pembolosan Dari Sekolah)


Pada suatu ketika, hidup sekumpulan rusa hutan. Di dalam kumpulan ini terdapat guru yang bijaksana dan dihormati, yang menunjukkan kecerdikan dalam mencari cara bagi rusa. Ia mengajarkan cara dan strategi untuk bertahan hidup bagi anak-anak rusa muda.

Suatu hari, adik perempuan si Guru membawa anak laki-lakinya datang bertemu untuk diajarkan apa yang sangat penting bagi rusa. Ibu itu berkata, “Oh guru yang juga saudara laki-lakiku, ini adalah anakku.” Si Guru berkata kepada anak rusa itu, “Baiklah, kau bisa datang pada jam-jam ini besok untuk pelajaran pertamamu.”

Pada awalnya, anak rusa muda datang mengikuti pelajaran sebagaimana seharusnya. Tetapi tidak lama kemudian, ia menjadi lebih tertarik bermain dengan rusa jantan dan rusa betina lainnya. Ia tidak menyadari bahwa betapa berbahayanya untuk seekor rusa yang tidak belajar apa pun tetapi hanya bermain. Jadi ia mulai meninggalkan kelas. Tak lama kemudian ia selalu membolos.

Sayangnya, suatu hari anak rusa yang membolos ini masuk ke dalam jebakkan dan terperangkap. Ketika ia menghilang, ibunya merasa khawatir. Ia pergi menemui si Guru, kakaknya dan bertanya, “Kakakku tercinta, bagaimana anak laki-lakiku? Sudahkah kau mengajarkan keponakanmu cara dan strategi bagi rusa?”

Si Guru menjawab, “Adikku yang kukasihi, anakmu itu tidak patuh dan tidak dapat diajarkan. Karena untuk menghormatimu, aku berusaha sebaik mungkin untuk mengajarinya. Tetapi ia tidak mau belajar cara dan strategi bagi rusa. Ia membolos! Bagaimana mungkin aku bisa mengajarinya? Kau patuh dan setia, tetapi ia tidak. Sia-sia saja berusaha untuk mengajarinya.”

Kemudian mereka mendengar kabar menyedihkan. Si Rusa keras kepala yang membolos sudah terperangkap dan dibunuh oleh seorang pemburu. Si Pemburu mengulitinya dan mengambil dagingnya dibawa pulang untuk keluarganya.

Pesan moral : Tak ada satupun yang dapat dipelajari dari seorang guru, oleh orang yang membolos.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PANGERAN KESERATUS (Patuh Kepada Seorang Guru yang Bijaksana)


Suatu ketika, ada seorang raja yang mempunyai seratus anak laki-laki. Anaknya yang termuda, yang keseratus bernama Pangeran Gamani. Dia sangat penuh semangat, sabar dan baik hati.

Semua para pangeran akan dikirim untuk belajar pada para guru. Pangeran Gamani, walaupun ia berada diurutan ke seratus dalam tahta, ia cukup beruntung mendapatkan guru yang terbaik. Ia mendapatkan seorang guru yang paling banyak belajar dan paling bijaksana dari guru-guru lainnya. Guru itu bagaikan seorang ayah bagi Pangeran Gamani, yang disukai, hormati dan dipatuhinya.

Pada saat itu, sudah menjadi kebiasaan untuk mengirimkan setiap pangeran-pangeran terpelajar ke daerah yang berlainan. Di sana dia akan mengembangkan negeri itu dan orang-orangnya. Ketika Pangeran Gamani sudah cukup dewasa untuk tugas ini. Ia pergi menemui gurunya dan bertanya daerah mana yang harus dia minta. Gurunya berkata, “Jangan memilih daerah mana pun. Akan tetapi, katakan kepada Raja, ayahmu, bahwa jika ia mengirimmu, anaknya yang ke seratus keluar ke suatu daerah, tidak akan ada anak laki-laki yang tersisa untuk melayaninya di dalam kota tempat tinggalnya sendiri.” Pangeran Gamani mematuhi gurunya dan membantu ayahnya dengan kebaikan dan kesetiaannya.

Kemudian pangeran itu menemui kembali gurunya dan bertanya, “Pelayanan bagaimana yang paling baik yang dapat aku berikan kepada ayahku dan rakyat di dalam ibu kota ini?” Guru yang bijaksana itu menjawab, “Mintalah kepada Raja untuk membiarkanmu menjadi salah satu orang yang mengumpulkan bayaran dan pajak-pajak dan bagikan keuntungannya kepada rakyat. Jika Raja menyetujuinya, maka embanlah tugasmu itu secara jujur dan adil, dengan kekuatan dan kebaikan.”

Sekali lagi pangeran mengikuti nasihat dari gurunya. Karena percaya kepada anak laki-lakinya yang ke seratus, raja senang menugaskan pekerjaan-pekerjaan ini kepadanya. Ketika pangeran pergi keluar untuk melakukan tugas yang sulit yaitu mengumpulkan tagihan dan pajak-pajak, pangeran muda itu selalu ramah, adil dan taat aturan. Ketika ia membagikan makanan kepada yang lapar dan barang-barang kebutuhan lainnya kepada yang membutuhkan, ia sangat murah hati, baik dan simpatik. Tak lama kemudian, Pangeran keseratus dihormati dan disayangi oleh rakyat.

Akhirnya, sebelum raja meninggal, menteri kerajaannya menanyakan siapa yang harus menjadi raja selanjutnya. Saat itu raja berkata bahwa keseratus anaknya punya hak untuk menjadi raja. Keputusan ini harus diserahkan kepada rakyat.

Setelah raja meninggal, seluruh rakyat setuju untuk menjadikan pangeran keseratus menjadi raja selanjutnya. Karena kebaikannya, rakyat menobatkan dia sebagai Raja Gamani yang berbudi.

Ketika kesembilan puluh sembilan saudara laki-lakinya mendengar kejadian ini. Mereka berpikir kalau mereka sudah dihina. Dipenuhi oleh kemarahan dan kecemburuan, saudara-saudaranya itu menyiapkan peperangan. Mereka mengirim pesan kepada Raja Gamani dengan berkata, “Kami semua adalah saudara tuamu. Negara tetangga akan menertawakan kami, jika kami diperintah oleh pangeran keseratus. Serahkan kerajaan atau kami ambil alih dengan peperangan!”

Setelah Raja Gamani menerima pesan ini. Raja Gamani menyampaikan hal ini ke gurunya yang bijaksana dan memintanya nasehat.

Guru yang lembut dan terhormat ini adalah tumimbal lahir Bodhisattwa. Dia berkata, “Katakan kepada mereka kalau kau menolak untuk berperang melawan saudara-saudaramu. Katakan kepada mereka kau tak akan membantu mereka membunuh orang-orang tak bersalah yang sudah kau kenal dan cintai. Katakan kepada mereka, sebaliknya kau sedang membagi kekayaan raja di antara seratus pangeran-pangeran. Kemudian kirimkan masing-masing dari porsi mereka.” Sekali lagi Raja menghormati dan menuruti nasihat gurunya.

Sementara itu, sembilan puluh sembilan pangeran-pangeran yang lebih tua sudah membawa sembilan puluh sembilan pasukan-pasukan kecil mereka untuk mengepung ibu kota istana. Ketika mereka menerima pesan raja dan porsi-porsi kecil dari harta kekayaan istana, mereka mengadakan pertemuan. Mereka memutuskan bahwa setiap porsi itu terlalu kecil bahkan hampir tidak berarti. Oleh sebab itu, mereka tidak menerimanya.

Tetapi kemudian mereka menyadari bahwa sama halnya jika mereka memerangi Raja Gamani dan kemudian dengan satu sama lainnya, kerajaan itu sendiri akan dibagi menjadi bagian kecil porsi yang tak berharga. Setiap bagian kecil dari satu kerajaan yang sangat besar akan menjadi lemah dihadapan negara yang tidak bersahabat mana pun. Jadi mereka mengirim kembali porsi-porsi mereka dari harta kekayaan istana sebagai tawaran perdamaian, dan menerima pemerintahan dari Raja Gamani.

Raja merasa senang dan mengundang saudara-saudara laki-lakinya ke istana untuk merayakan perdamaian dan persatuan kerajaan. Dia menjamu mereka dengan cara yang paling sempurna, dengan kemurahan hati, komunikasi yang menyenangkan, menetapkan intruksi demi kebaikan mereka dan memperlakukan semua dengan kebaikan yang sama.

Dengan begitu Raja dan 99 pangeran menjadi lebih dekat sebagai sahabat daripada sebelumnya ketika mereka sebagai saudara. Mereka kuat dengan dukungan satu sama lain. Hal ini diketahui oleh seluruh negara-negara sekitarnya, jadi tak ada satu pun negara yang mengancam kerajaan dan rakyatnya. Setelah beberapa bulan, 99 saudara-saudara itu kembali ke daerahnya masing-masing.

Raja Gamani yang berbudi mengundang gurunya yang bijaksana untuk tinggal di istana. Ia menghadiahkan dengan kekayaan yang berlimpah dan banyak hadiah-hadiah. Ia mengadakan perayaan untuk guru yang dihormatinya, dengan mengatakan kepada seluruh orang yang hadir di istana, “Aku, yang dulu adalah pangeran keseratus, di antara seratus pangeran yang berkompeten. Berhutang seluruh kesuksesanku, kepada nasihat bijaksana dari guruku yang murah hati dan pengertian. Demikian juga, semua yang mengikuti nasihat guru mereka yang bijaksana akan memperoleh kemakmuran dan kebahagiaan bahkan kesatuan dan kekuatan dari kerajaan, kami berhutang kepada guruku yang tercinta.”

Kerajaan menjadi makmur di bawah kemurahan hati dan pemerintahan dari Raja Gamani yang berbudi.

Pesan moral : Seseorang dihadiahi seratus kali lipat selama mengikuti nasehat dari seorang guru yang bijaksana.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Seorang Bodhisattwa pada Masa Kita


By.  Shravasti Dhammika, Terjemahan by Selfy Parkit

Beberapa minggu yang lalu saya memberikan ceramah tentang Dr. Bhimrao Ambedkar, seseorang yang tanpa berlebihan, bisa disebut murni, darah dan daging seorang bodhisattwa. Gandhi, Mother Teresa, Maximillian Kolbe dan beberapa orang lainnya juga bisa dianggap sebagai bodhisattwa, meskipun yang pertama adalah seorang Hindu dan dua lainnya Kristen. Anda tidak perlu menjadi seorang Buddhis untuk menjadi seorang bodhisattwa. Cinta kasih melampaui batas aliran/sekte. tetapi orang-orang ini terkenal di dunia, sementara Ambedkar tidak banyak dikenal di luar India. Pada saat ceramah saya sudah delapan orang bertanya kepada saya, di mana mereka dapat memperoleh informasi lebih mengenai orang hebat itu dan saya sudah memberikan mereka tiga atau empat reputasi pembelajaran baik tentang dia. Sementara melakukan hal tersebut saya teringat Jabbat Patel film pemenang penghargaan tahun 1991— Dr. Bhimrao Ambedkar, yang sayangnya saya tidak pernah dapat menemukan versi pengisi suara (dubbed) dalam bahasa Inggris.

Berikut ini adalah adegan dari film itu, yaitu ketika Ambedkar dan seratus ribu pengikutnya berubah keyakinan menjadi penganut Buddhis di tahun 1956. Ini adalah gambaran bergerak yang cukup realistik dari peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Buddhis modern. http://www.youtube.com/watch?v=PpAjQ-pdgNU&feature=related (Berikut penerjemah juga melampirkan biografi dari Dr. Ambedkar http://www.culturalindia.net/reformers/br-ambedkar.html)

Question and Answer

Question:

Teck

Yang mulia Bhante,

Saya tidak yakin apakah reputasi suci Mother Teresa adalah media hype (untuk mempromosikan seseorang atau sesuatu dengan publisitas yang intens) atau dibuktikan oleh kenyataan. Lihatlah rangkaian videonya dimulai dari yang satu ini: http://www.youtube.com/watch?v=FwTfZK0Sv9s

Kemudian, saya membaca bahwa Gandhi memiliki kebiasaan seksual yang aneh. Dia menuntut pengikutnya untuk pantang (menahan nafsu) tetapi akan meminta agar istri-istri dari para pengikutnya tidur dengannya. Bagaimana kebenarannya, saya tidak tahu.

Saya merasa bahwa kita tidak boleh benar-benar mempercayai orang atau berpegang kepada siapa pun untuk mengukur kemanusiaan belaka yang tidak mampu dijangkau. Karena itu, saya tertinggal jauh dari praktik saya.

Apakah Anda punya saran?

Banyak terima kasih.

Answer:

Shravasti Dhammika

Teck Yang terhormat, Mother Teresa memiliki kekurangan begitu juga dengan Gandhi (Dia memang ‘tidur’ dengan para wanita tetapi tidak pernah berhubungan seks dengan mereka. Dia selalu ‘menguji’ dirinya sendiri). Tetapi menurut perspektif/pandangan Buddhis setidaknya, seorang bodhistattwa tidaklah sempurna, kesempurnaan hanya datang pada ke-Buddha-an. Seorang bodhisattwa adalah seseorang yang mewujudkan keberanian, kejujuran, kesabaran, pengorbanan diri dan kasih sayang yang lebih dari biasanya, sampai tingkat yang luar biasa. Saya akan mengatakan kualitas boddhisattwa yang dimiliki Gandhi— seperti keberanian, tekad dan pengorbanan diri yang penuh kasih. Tampaknya kedua kesalahan mereka yang sangat manusiawi hanya menekan kebajikan manusia-luarbiasa mereka. Saya membaca tentang orang-orang seperti mereka dan berpikir, “Manusia, seperti saya. Tetapi menginspirasi juga dan mencapai kebajikan yang benar-benar besar dan heroik. Jika mereka bisa, kemungkinan saya juga bisa.” Saya merasa kekurangan-kekurangan/ kelemahan mereka bersifat menentramkan hati karena mereka berbicara mengenai kemanusiaan mereka. Hal ini menempatkan mereka tepat di bawah sini, di bumi di mana saya berada. Dan setidaknya dalam kasus Gandhi ia bisa saja mengejutkan dengan berkata jujur tentang kekurangan-kekurangannya, dan bahkan membuatnya sebagai lelucon. Saya menyukai hal itu. Ada insiden terkenal di mana seorang ibu membawa anak laki-lakinya kepada Gandhi untuk memintanya memberitahukan kepada si anak untuk berhenti memakan gula. Gandhi meminta si ibu untuk membawa anak itu kembali dalam seminggu. Si ibu melakukannya dan Gandhi berkata kepada si anak laki-laki ‘berhentilah memakan gula’. Sang ibu agak tidak puas dengan hal ini dan mencela Gandhi, ‘Anda bisa saja mengatakan hal itu kepadanya minggu lalu!’ ‘Ya, saya bisa’ dia menjawab, ‘Tetapi minggu kemarin saya juga makan gula’.

Teck, saya rasa masalahnya terletak pada diri Anda sendiri, Anda mengharapkan kesempurnaan dan berkecil hati bila Anda menemukan beberapa kekurangan, beberapa kebiasaan khusus, beberapa kegagalan dalam mengangkat mereka sebagai teladan. Kegagalan Gandhi tidaklah berarti jika disandingkan dengan kualitas-kualitas baiknya, dan sama halnya dengan Mother Teresa. Mengapa tidak membiarkan diri Anda terangkat oleh kekuatan mereka daripada terlempar oleh kekurangan/ kelemahan mereka?

Question:

Teck

Yang mulia bhante,

Terima kasih untuk balasan Anda

Pendapat Anda mengenai melihat pada kekuatan dari orang-orang ini dan menjadikannya inspirasi diterima dengan baik. Saya tidak setuju dengan pendapat Anda tentang kelemahan/ kekurangan mereka menjadi sifat yang menentramkan hati.

Saya membayangkan diri saya sebagai pengikut Gandhi. Jika dia meminta saya untuk mempraktikan selibat dan kemudian ingin memiliki istri saya tidur di ranjang yang sama dengannya sementara ia telanjang, “hanya untuk menguji dirinya”, apa yang harus saya lakukan dengan permintaan ini (atau perintah, mengingat saya adalah pengikutnya)?

Saya melihat ini sebagai penghinaan terhadap perempuan. Juga, apakah ini tidak menunjukkan bahwa ia perlu untuk membuktikan dirinya (ego?) adalah jauh lebih penting terhadap penghormatan yang seharusnya dia selaraskan dengan pengikut laki-laki dan perempuannya. Bagaimana mungkin saya bisa merasa tentram dengan kelemahannya?

Pada kasus Mother Teresa, jika Anda menonton ketiga video tadi, dia dan jemaahnya menerima banyak uang sumbangan. Akan tetapi bukannya mengobati yang sakit, menyediakan perawatan yang tepat bagi yang miskin, dia menempatkan mereka di banyak kamar, dengan tandu, untuk menunggu kematian mereka. Saya tidak berhasil melihat apa bagian dari motivasinya yang apakah itu seorang bodhisattwa? Bahwa apakah hanya melalui penderitaan seseorang bertemu dengan Tuhan, maka orang-orang miskin ini sangat kekurangan perawatan medis? Saya akan berpikir melalui upaya meringankan penderitaan orang lain barulah seseorang bertemu Tuhan. Saya pikir dia lebih berbahaya daripada baik.

Bagi saya, Saya rasa saya tidak mengharapkan kesempurnaan bagi setiap orang. Tetapi saya rasa hal ini mengecilkan hati melihat bahwa guru Dhamma memiliki kekurangan yang sama seperti saya. Maksud saya adalah bahwa saya tidak dapat melihat bagaimana guru  itu dapat membimbing saya seperti itu.

Answer:

Shravasti Dhammika

Yang terhormat Teck,

Beberapa tahun lalu saya tiba-tiba bertemu dengan seorang teman baik saya di pusat retret seorang guru meditasi terkenal di Burma. Dia bertindak sebagai penerjemah bagi guru. Dia sudah di sana selama lima tahun, belajar dari guru dan bertindak sebagai penerjemah ketika bhikkhu-bhikkhu Sri Lanka datang berkunjung. Dia mengatakan kepada saya bahwa baru-baru ini ia menerjemahkan untuk si guru sebuah surat yang ditulis dan ditujukan kepada si guru oleh laki-laki berkebangsaan Amerika pada hari di mana dia telah pergi. ‘Apa isi surat itu?’ Tanya saya. Ia menjawab, ‘Orang Amerika itu telah mengatakan guru itu sombong, kejam, dingin dan kurang cinta kasih. Dia menuduh si guru sebagai ‘seorang pembangun kerajaan’ dan mengatakan dia menciptakan kultus (penghormatan secara berlebih-lebihan) pribadi’ di sekitar dirinya sendiri. Hal ini sedikit kasar, bahkan bagi saya, dan saya diam untuk sementara waktu. Kemudian saya bertanya, ‘Berapa banyak kebenarannya?’ ‘sebagian besar’ kata teman saya. Jawabannya bahkan lebih mengejutkan saya, bukan pengakuan itu saja (saya sudah mendengar hal yang sama dari banyak orang) tetapi ia harus mengatakannya. ‘Lalu kenapa kau masih di sini?’ tanya saya. Dia berkata, ‘Karena dia (si guru) juga ada untuk menjadi seorang guru meditasi yang terampil dan saya telah belajar banyak dari dia, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan Saya akan tinggal sampai saya tidak dapat belajar apa-apa lagi.’ Saya rasa ini adalah sikap yang sangat dewasa.

Terlalu sering kita mengidealkan para guru, pahlawan, dan sebagainya. Lalu ketika kita mendapati bahwa mereka tidak sempurna, baik kita menolak ketidaksempurnaan mereka kita juga bahkan membuang mereka sepenuhnya. Pendekatan pertama ini membawa Anda ke dalam khayalan yang mungkin berbahaya sedangkan yang kedua berarti Anda mungkin saja menjauhkan diri Anda dari sesuatu yang penting yang mungkin sebaliknya Anda pelajari. Ketika seorang guru cacat secara moral, itu adalah masalah lain. Ketika mereka mengaku tercerahkan itu pun masalah lain. Tetapi jika mereka tidak melakukan salah satu dari kedua-duanya dan kekurangan mereka hanyalah tipe kepribadiannya, dan mereka memiliki wawasan murni atau beberapa keterampilan nyata. Saya berkata ‘Belajarlah dari mereka apa yang Anda bisa, bersyukur untuk itu dan lanjutkanlah’

Satu hal terakhir. Salah satu dari sekian banyak alasan saya memilih Buddhisme awal atas tradisi Vajrayana adalah desakan/keteguhannya bahwa seseorang dapat dan harus mempertanyakan serta menyelidiki/mengkaji seorang guru (lihat sutta Vimsaka). Jika saran ini diterima (tidak selalu begitu) seharusnya ada kemungkinan belajar darinya, memanfaatkannya dan memiliki rasa terima kasih/ syukur terhadap seorang guru, bahkan jika ia (laki-laki atau perempuan) memiliki ketidaksempurnaan.

Teck

Terima kasih yang mulia, saya sangat menghargai komentar Anda.

Naskah asli dapat dilihat di: http://sdhammika.blogspot.com/

Thanks to Tasfan (for helping me during the translation)