Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita


oleh H. H. Dalai Lama

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort - Bali

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort – Bali -Selfyparkitpic

Ketika berakhirnya abad ke – 20, kita menemukan bahwa dunia telah semakin mengecil. Manusia di dunia telah hampir menjadi satu komunitas. Politik dan Alianansi (Persekutuan) militer telah menciptakan kelompok multinasional yang besar; industri dan perdagangan internasional telah melahirkan ekonomi global. Komunikasi di seluruh dunia melenyapkan pembatas jarak, bahasa dan ras. Kita juga terseret bersama oleh masalah besar yang kita hadapi yaitu: kelebihan penduduk, menipisnya sumber daya alam, dan krisis lingkungan yang mengancam udara, air, dan pepohonan, serta begitu banyak makhluk hidup yang menjadi pondasi penting keberadaan planet kecil yang kita tinggali bersama ini.

Saya percaya bahwa untuk menghadapi tantangan di zaman kita ini, umat manusia harus membentuk rasa tanggung jawab universal yang lebih kuat. Masing – masing kita harus belajar untuk bekerja  tidak hanya untuk dirinya, keluarga atau bangsanya sendiri, tetapi juga demi kepentingan seluruh umat manusia. Tanggung jawab universal adalah kunci nyata menuju kelangsungan hidup manusia. Ini merupakan pondasi/dasar terbaik untuk kedamaian dunia, penggunaan sumber daya alam yang wajar, dan dengan memperhatikan generasi mendatang, kepedulian terhadap lingkungan.

Itulah mengapa begitu melegakan melihat organisasi-organisasi non – pemerintah seperti kalian. Peran kalian dalam mengasah masa depan yang lebih baik sangat diperlukan. Saya telah melewati banyak organisasi seperti itu yang dibentuk oleh sukarelawan berdedikasi yang memiliki kepedulian yang tulus bagi sesama umat manusia. Komitmen seperti ini menggambarkan “garis depan” proses sosial dan lingkungan. Continue reading

Apakah Buddhisme Suatu Agama?


Oleh Yang Mulia Ajahn Sumedho

Penerjemah: Venry Phen

Editor: Selfy Parkit

Private Picture, Selfyparkit 2014

Brahmavihara Arama, Singaraja – Bali. Private Picture, Selfyparkit 2015

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti sebuah ikatan. Kata ini menerangkan ikatan pada ketuhanan, yang meliputi seseorang secara keseluruhan.

Suatu hal yang menarik untuk berpikir bahwa kita mengerti agama karena agama tersebut begitu mendarah daging dalam pandangan budaya kita. Namun, merenungkan dan menghayati maksud, sasaran atau tujuan sebenarnya dari agama adalah suatu hal yang berguna.

Terkadang orang-orang menganggap agama adalah kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi, sehingga agama menjadi teridentifikasikan dengan sikap theistic dari konvensi atau bentuk-bentuk agama. Seringkali Buddhisme dianggap sebagai bentuk atheis oleh agama-agama theis, atau sama sekali bukanlah suatu agama. Buddhisme dilihat sebagai suatu filosofi atau psikologi, karena Buddhisme tidak bersumber dari keadaan theistic (theis : doktrin, atau kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi). Buddhisme tidak berdasar pada keadaan metafisika atau doktrin, namun berdasar terhadap pengalaman nyata yang umum pada semua umat manusia – pengalaman akan penderitaan. Dasar pemikiran Buddhis adalah dengan menghayati, merenungi, dan mengerti semua penderitaan umum manusia, kita dapat melebihi semua kesalahpahaman mental yang menimbulkan penderitaan manusia.

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti ikatan. Kata ini mengartikan ikatan kepada ketuhanan, yang meliputi keseluruhan diri seseorang.  Untuk dapat benar-benar beriman berarti anda harus mengikat diri pada ketuhanan, atau pada kenyataan tertinggi, dan menyertakan keseluruhan diri anda pada ikatan tersebut, pada titik ketika pengertian tertinggi dimungkinkan. Semua agama memiliki kata “pembebasan” dan “penyelamatan”. Sifat dari kata-kata ini menyampaikan kebebasan dari kesalahpahaman, kebebasan dan pengertian penuh tentang kenyataan tertinggi. Dalam Buddhisme kita menyebutnya sebagai pencerahan.

Memahami Sifat Dasar dari Penderitaan

Pendekatan Buddhis adalah menghayati pengalaman penderitaan, karena penderitaan merupakan hal yang umum bagi semua makhluk. Penderitaan tidak harus diartikan sebagai tragedi hebat ataupun kemalangan yang mengerikan. Penderitaan dapat diartikan sebagai suatu jenis ketidakpuasan, ketidakbahagiaan, dan kekecewaan yang dialami oleh semua makhluk pada berbagai waktu dalam kehidupan mereka. Menderita merupakan hal yang umum terjadi pada pria dan wanita, kaya dan miskin. Apa pun suku atau kebangsaan kita, penderitaan adalah suatu ikatan yang lazim. Continue reading

KAMBING YANG MENYELAMATKAN PENDETA (Kebodohan)


Pada suatu ketika, ada seorang pendeta yang sangat terkenal di dalam agama yang sangat tua. Ia memutuskan bahwa hari itu adalah hari yang tepat baginya untuk melakukan upacara mengorbankan seekor kambing. Dalam kebodohannya, Ia berpikir itu adalah sebuah persembahan yang diminta oleh Tuhannya.

Ia mendapatkan seekor kambing yang tepat untuk menjadi korban. Ia memerintahkan para pembantunya untuk membawa kambing itu ke sungai suci dan memandikan serta menghiasinya dengan kalung-kalung bunga. Kemudian mereka membersihkan diri mereka sendiri sebagai dari praktik penyucian.

Di bawah tepi sungai, tiba-tiba si Kambing mengerti kalau hari ini, ia pasti akan dibunuh. Ia menjadi khawatir akan kelahiran-kelahiran dan kematian-kematiannya di masa lampau serta tumimbal lahirnya. Ia menyadari bahwa hasil dari perbuatan-perbuatannya yang tidak bermanfaat di masa lampau akhirnya akan diselesaikan. Jadi ia tertawa terbahak-bahak, bagaikan canang yang bergemericing.

Di tengah-tengah gelak ketawanya, ia menyadari kebenaran lainnya – bahwa si Pendeta, dengan mengorbankan dirinya akan mendapat hasil sangat buruk yang sama. Sebagai akibat atas kebodohannya. Untuk itu si Kambing mulai menangis sama kerasnya seperti ketika ia tertawa!

Para pembantu yang sedang mandi di sungai suci, mendengar tertawa dan tangisan tersebut. Mereka merasa heran. Untuk itu, mereka bertanya kepada si Kambing, “Kenapa kau tadi tertawa dengan keras dan kemudian baru saja menangis dengan sama kerasnya? Apa alasannya?” Si Kambing menjawab, “Aku akan mengatakan kepadamu alasannya. Tetapi harus di hadapan tuanmu, si Pendeta.”

Karena mereka sangat penasaran, mereka secepatnya membawa kambing korban itu ke hadapan pendeta. Mereka menjelaskan semua yang sudah terjadi. Si Pendeta pun menjadi sangat penasaran. Ia dengan hormat bertanya kepada si Kambing, “Tuan, kenapa kau tadi tertawa sangat keras dan kemudian menangis dengan sama kerasnya?”

Kambing yang mengingat masa lalunya itu berkata, “Pada waktu dulu, aku juga adalah seorang pendeta yang sama seperti mu, berpendidikan sangat baik dalam hal upacara suci keagamaan. Aku berpikir bahwa mengorbankan seekor kambing adalah persembahan penting untuk Tuhanku, yang akan memberikan manfaat untuk orang lain, sama baiknya untuk diriku sendiri pada kelahiran kembali yang akan datang. Akan tetapi, hasil sesungguhnya dari tindakanku adalah dalam 499 kehidupanku selanjutnya, aku, diriku sendirilah yang dipenggal.

“Ketika sedang dipersiapkan untuk dikorbankan. Aku sadar kalau hari ini aku pasti akan kehilangan kepalaku untuk ke 500 kalinya. Kemudian aku akhirnya akan terbebas dari semua akibat perbuatanku yang tidak berfaedah di waktu yang dulu sekali. Kegembiraan ini membuatku tertawa tanpa kendali. Kemudian aku tiba-tiba sadar bahwa kau, si Pendeta sedang mengulang tindakan tidak berfaedah yang sama dan akan dihukum dengan hasil yang sama yaitu kepalamu dipenggal dalam 500 kehidupanmu selanjutnya! Jadi, karena perasaan kasihan dan simpati, gelak ketawaku berubah menjadi tangisan.”

Si Pendeta takut kalau kambing ini mungkin benar. Jadi ia berkata, “Baiklah, Tuan kambing, aku tidak akan membunuhmu.” Si Kambing menjawab, “Pendeta yang terhormat, bahkan jika kau tidak membunuhku, aku tahu kalau hari ini aku akan kehilangan kepalaku dan akhirnya terbebas dari akibat-akibat perbuatan tidak berfaedah di masa lampauku.”

Si Pendeta berkata, “Jangan takut, kambingku yang baik. Aku akan menyediakan perlindungan yang sangat baik dan jaminan secara pribadi bahwa tidak akan ada bahaya mendekatimu.” Tetapi si kambing menjawab, “Oh pendeta, perlindunganmu itu sangat lemah dibandingkan dengan kekuatan dari perbuatan burukku yang menyebabkan akibatnya.”

Untuk itu si pendeta membatalkan upacara korban itu, dan mulai memiliki keraguan tentang membunuh binatang-binatang tak berdosa. Ia melepaskan si Kambing dan bersama-sama dengan para pelayannya mengikuti si Kambing dengan maksud untuk melindungi si Kambing dari bahaya apa pun.

Si kambing mengembara ke sebuah tempat berbatu. Ia melihat beberapa rumput halus di sebuah dahan dan menjulurkan lehernya untuk mengambil rumput tersebut. Tiba-tiba saja sebuah halilintar muncul di mana tidak terdapat halilintar lainnya. Sebuah ledakan halilintar menyambar sebuah batu yang menggantung, dan memotong sebuah lembing tajam yang jatuh dan memenggal kepala si kambing! Ia meninggal saat itu juga, lalu halilintar itu menghilang.

Mendengar kejadian yang sangat aneh ini, ribuan warga setempat datang ke tempat itu. Tak satu pun dapat memahami bagaimana ini terjadi.

Di sana juga terdapat peri yang hidup di dekat pohon. Ia sudah melihat semua yang telah terjadi. Ia muncul, secara perlahan-lahan ia mengepak-ngepak di udara di atas kepala. Ia mulai mengajarkan orang-orang yang penasaran dengan berkata, “Lihatlah apa yang terjadi dengan kambing yang malang ini. Ini adalah akibat dari membunuh binatang-binatang! Semua makhluk dilahirkan dan menderita kesakitan, usia tua, dan kematian. Tetapi semua berharap untuk hidup dan tidak mati. Tidak melihat semuanya itu memiliki kesamaan ini, beberapa membunuh makhluk hidup lainnya. Ini menyebabkan penderitaan juga bagi mereka yang membunuh, kedua-duanya di dalam kehidupan sekarang dan kelahiran akan datang yang tidak terhitung banyaknya.

“Karena kebodohan, bahwa setiap perbuatan pasti memberikan hasil kepada si pelakunya, beberapa melanjutkan pembunuhan dan menimbun lebih banyak penderitaan bagi diri mereka sendiri di masa yang akan datang. Tiap kali mereka membunuh, sebagian dari diri mereka sendiri juga harus mati dalam kehidupan saat itu juga, dan penderitaan berlanjut bahkan dengan terlahir di dalam alam neraka.”

Orang-orang yang mendengar perkataan si peri merasa bahwa mereka sungguh-sungguh sangat beruntung. Mereka melepaskan kebodohan membunuh dan menjadi lebih baik, kedua-duanya di kehidupan sekarang dan kelahiran kembali yang menyenangkan.

Pesan moral : Bahkan agama dapat menjadi sumber dari kebodohan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Apa yang Menjadikan seorang Bodhisattwa?


By Shravasti Dhammika,

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Artikel saya tentang Dr. Ambedkar (16 Juni pada postingan blog) telah mengundang beberapa komentar yang menarik. Teck menunjukan bahwa sebagian “bodhisattwa” yang telah saya sebutkan itu (Gandhi dan Mother Teresa) memiliki kekurangan-kekurangan, dan saya sudah menjawab komentar ini. Richard telah bertanya, ‘Orang-orang kristen menganggap Bapa Damian sebagai seorang suci, Apakah Anda menganggap dia sebagai ‘bodhisattwa?’ Dua pertanyaan tersirat di sini, (1) Apa itu seorang bodhisattwa? dan (2) Bisakah seorang non-Buddhis, katakanlah Tao, Islam, Kristen, Yahudi atau Sikh, memenuhi syarat untuk menjadi seorang bodhisattwa? Saya akan memberikan tanggapan saya  mengenai masalah ini. Seorang bodhisattwa adalah seseorang yang berkomitmen penuh untuk mencapai pencerahan, sebut saja bakal Buddha jika Anda mau. Saya menafsirkan ini maksudnya seseorang yang secara mutlak melihat dengan jelas kebenaran, bagaimanapun mereka memahaminya. Seorang Hindu akan melihat yang mutlak sebagai Visnu atau Siva (baca:Wisnu atau Siwa), Kristen akan melihatnya sebagai Allah/Tuhan, Tao sebagai Yang Agung Tao dan Buddhis sebagai Nirwana. Dengan ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Visnu, Allah/Tuhan, Tao dan Nirwana adalah satu hal yang sama. Mereka berbeda. Tetapi pada tahap awal perkembangan seorang bodhisattwa, mereka mungkin melihat dengan baik kebenaran mutlak dalam hal kondisi  dan pemikiran awal pemahaman mereka. Hal ini secara bertahap akan memberikan jalan kepada suatu pemahaman yang lebih realistis ketika mereka menghampiri kebenaran mutlak itu. Continue reading