44, 45 DUA ANAK YANG BODOH (KEBODOHAN)


 

two stupid children (Foolishness)

http://www.buddhanet.net (two stupid children)

            Pada suatu ketika, terdapatlah seorang tukang kayu yang sudah tua dengan kepalanya yang botak dan mengkilap. Di hari yang cerah, kepalanya yang mengkilap sangat menyilaukan setiap mata yang menatapnya ketika berbicara dengannya!

Di suatu hari yang cerah, seekor nyamuk yang lapar tertarik dengan kepala botaknya yang mengkilap. Si nyamuk hinggap di kepalanya dan mulai menggigitnya.

Tukang kayu itu sedang sibuk melicinkan sebatang kayu dengan menggunakan sebuah ketam. Ketika ia merasa nyamuk itu menggigitnya, ia coba untuk mengusirnya. Tetapi si nyamuk yang lapar tidak akan pergi dari makanan yang terlihat lezat itu. Kemudian, tukang kayu itu memanggil anaknya dan memerintahkan anaknya untuk mengusir serangga yang keras kepala itu.

Tidak seperti dengan kepala ayahnya yang mengkilap, kepala anaknya tidak begitu mengkilap. Namun ia adalah seorang pekerja keras dan penurut. Ia berkata, “Jangan kuatir ayah, bersabarlah. Aku akan membunuh serangga itu dengan hanya satu pukulan!”

Kemudian si anak mengambil sebilah kapak yang tajam dan dengan hati-hati mengarahkan kampaknya ke nyamuk itu. Tanpa berpikir, ia mengayunkan kapaknya dan membelah si nyamuk menjadi dua! Namun sangat disayangkan, setelah membelah si nyamuk, kapak itu pun membelah kepala si tukang kayu yang botak dan mengkilap itu menjadi dua bagian.

Tidak lama kemudian, seorang penasihat raja melewati jalan tersebut bersama-sama para pengikutnya. Mereka semua melihat apa yang baru saja terjadi dan hal itu membuat mereka terkejut, mengapa ada orang yang begitu bodoh!

Si penasihat raja berkata, “Jangan terlalu merasa heran dengan kebodohan manusia! Hal ini mengingatkan saya pada kejadian sama yang baru saja terjadi kemarin.

“Di sebuah desa yang tidak jauh dari sini, ada seorang ibu yang sedang membersihkan padi. Ia sedang menumbuk padi dalam sebuah alu dengan menggunakan alat penumbuk, untuk memisahkan kulitnya. Sebagaimana ia berkeringat, kumpulan lalat mulai berdengung di sekitar kepalanya. Ia mencoba untuk mengusir mereka pergi, tetapi lalat-lalat yang haus itu tidak pergi.

Kemudian ia memanggil putrinya dan memintanya untuk mengusir lalat-lalat pengganggu itu. Walaupun ia merupakan gadis yang kurang cerdas, ia selalu berusaha semampunya untuk menyenangkan ibunya.

“Lalu ia berdiri dengan alu-nya, mengangkat alat penumbuknya dan dengan hati-hati mengarahkannya ke lalat yang terbesar dan yang paling nakal. Tanpa berpikir, ia menghancurkan lalat-lalat itu sampai mati! Tetapi tentu saja, pukulan yang membunuh si lalat, juga mengakhiri hidup ibunya.

“Kalian semua tahu apa yang dapat dikatakan,” kata si penasihat, mengakhiri ceritanya, “Dengan teman-teman seperti ini, siapa yang membutuhkan musuh-musuh!”

Pesan moral : Seorang musuh yang bijaksana tidak lebih berbahaya daripada seorang teman yang bodoh.

Diterjemahkan oleh Cristina K. Howard, editor Selfy Parkit

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s