Tak Sekedar Teman


Vivi Sumanti adalah nama dari seorang teman yang saya jumpai ketika berkunjung ke Wihara Vimala Dharma, Bandung. Walaupun belum kenal lama, tetapi teman yang satu ini begitu ramah dan banyak membantu. Dia tak sungkan-sungkan menyediakan waktunya hanya untuk menemani saya dan teman saya berkeliling sekitar wihara dan menjelaskan sejarah serta fungsi setiap ruangannya. Bahkan teman baru yang penuh senyum ini tak merasa lelah menunggui kami pulang dari mall untuk membeli makan malam, padahal dia baru saja kembali dari acara pembacaan paritta untuk orang yang meninggal.

Karena dialah kami bisa menginap semalam di wihara yang penuh kenangan itu. Kebaikan hatinya banyak menginspirasi saya dan meninggalkan kenangan manis saat bersamanya. Terima kasih teman, semoga saja kita masih dapat bertemu kembali di kehidupan ini

Pelajaran : Teman yang baik selalu dikenang di hati.

Surat Cinta Untuk Seorang Teman



“Aku percaya padamu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu dulu”

Beberapa hari lalu dia meneleponku, suaranya parau dan terdengar letih. Terasa kesedihan di setiap alunan kata-katanya. Dia tidak seperti biasanya, tidak lagi menghina, mencaci-maki, ataupun mengucapkan kata-kata kasar seperti yang dia sering lakukan ketika meneleponku. Bukan berarti dia membenciku, hanya saja begitulah gayanya mengekspresikan perasaannya. Kasar dan kadang tak berprikemanusiaan… Ya, menyakitkan.. Tapi selalu menghibur dan membuat kami berdua tertawa. Hubungan kami berdua memang sudah tidak seperti dulu lagi, sudah jarang berbicara lewat telepon, apalagi untuk bertatap muka. Jujur, bukan hanya kesibukanku saja yang membuatku tak pergi ke rumahnya, tapi karena memang adakalanya aku enggan untuk menemuinya. Terkadang ada saja prilaku yang membuatnya tampak menyebalkan jika kita saling bertemu dan berbicara. Ya.. begitulah Aku dan dia kalau sudah berhubungan, tak pernah terlihat akur dan senang sekali saling mengejek satu sama lain. Sepertinya hal itu memang sudah menjadi dasar dari rasa sayang Aku dan Dia. Percakapan kami lewat telepon beberapa hari lalu mengingatkanku kembali akan semua kenangan-kenangan yang sudah lama berlalu. Cerita-cerita yang pernah dia dongengkan dulu, rasanya  sekarang ini bukan lagi menjadi senjata andalannya, melainkan mungkin telah menjadi batu sandungan baginya. Bukan suatu kebanggaan, apalagi sesuatu yang bisa dijadikan bahan melucu untuk merayu semua wanita yang mudah dirayu agar masuk ke dalam pelukannya. Saat ini cerita-cerita super heronya itu malah menjadi beban dalam hidupnya… Bahkan menjadi himpitan untuk terus menjalani hidupnya sekarang. Dia boleh menjadi jagoan di masa lalu, menjadi yang paling beken maupun yang disegani di kalangannya. Namun saat ini teman, waktu telah berubah. Kau bukan lagi jagoan, bukan lagi orang beken ataupun orang yang disegani di kalanganmu. Kau sekarang bukan lagi seorang pemberani yang nekad mengorbankan nyawamu di tengah-tengah pertarungan, demi sebuah persahabatan hitammu. Kau sekarang hanyalah seorang penakut yang takut karena lingkungan tak lagi mempercayaiMU.

TAPI, jangan khawatir teman, Aku selalu mempercayaimu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu… Aku percaya kau sudah berubah… Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaanmu. Biarlah mereka bicara apa saja tentang dirimu, jangan kau pedulikan… Mereka bukanlah penentu kebahagiaanmu… Mereka tidak berhak atas kebahagiaanmu… Raihlah kebahagiaanmu Teman. Kalau saja hari ini kau bersedih karena mereka tak mempercayaimu… Tak percaya bahwa kau telah berubah. Masih ada Aku, temanmu yang mempercayaimu. Walaupun Aku satu dari seribu, namun Aku tetap setia mendukungmu, memberikanmu semangat, kasih sayang dan memberimu pundakku untuk kau tangisi. Janganlah menyerah teman.. Mereka hanya ingin melampiaskan kemarahan mereka.. Mereka hanya merasa takut, mereka hanya merasa khawatir dan tidak suka. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang boleh menghalangimu untuk dapat berubah dan menjadi penentu kebahagiaanmu sendiri.

“Aku sudah berusaha bersabar dan bertahan, tapi mereka tetap saja tak percaya”, begitu katamu.. Ku tahu kau rentan pecah, karna kau baru memulai. Kau menjadi tak sabar dan kini kehilangan kepercayaan diri. Kau menjadi terkucilkan, dan merasa tak diterima. Tapi teman, kesabaran tak ada batasnya, yang harus kau lakukan hanyalah menunggu dan membuktikan bahwa kau benar-benar berubah, bersungguh-sungguh menjadi pribadi yang baru. Jika memang lingkunganmu tak mendukungmu untuk menjadi lebih baik, carilah lingkungan baru yang mampu mendukung dan mengajarkanmu untuk berubah. Apa pun yang terjadi teman, Aku tetap mendukung dan mempercayaimu.

Teman waktu yang lalu sudah berlalu… Waktu itu hanya bisa dikenang, janganlah dijadikan penyesalan. Seperti hal nya Aku yang tak pernah menyesali hubunganku denganmu… Aku berterima kasih padamu teman, karena dengan kaulah banyak hal yang Aku pelajari, banyak hal yang harus Aku syukuri. Seperti itulah harusnya kau lakukan. Jangan selalu menyesali apa yang telah kau perbuat terhadapku dan yang lain. Syukurilah bahwa kita masih berteman dan kau masih dapat memperbaikinya. Jangan berhenti berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membawamu pada kebahagiaan.

With Care,

Selfy Parkit

Tangerang, 15th July 2009

DESA HATI


By Selfy Parkit

Di sebuah desa terpencil yang bernama desa Hati, tinggallah tiga orang sahabat yang bernama Tulus, Cinta dan Teman. Tulus dan Cinta adalah saudara kandung, mereka selalu bersama-sama dalam melakukan segala hal, di mana pun Cinta berada Tulus akan selalu ada bersamanya. Namun begitu kadang kedua gadis ini pun berselisih, perihal sikap Cinta yang sedikit egois dan selalu ingin menikmati kesenangannya sendirian saja tanpa tulus. Apalagi kalau Cinta sudah jalan bareng dengan Teman, kadang-kadang Tulus tidak diajaknya pergi dan dibiarkan sendirian di rumah. Walaupun Tulus sedih, tapi hati Tulus selalu berusaha mengerti Cinta, karena Tulus sangat menyayangi saudari kembarnya itu.

Continue reading

Sekat-Sekat Hubungan



Oleh Selfy Parkit

Memiliki seorang teman yang baik adalah suatu berkah yang tak terkira, apalagi seorang teman spiritual yang dapat membawa kita ke kemajuan batin. Tetapi untuk dapat berteman dengan baik, sebelumnya kita harus bisa menembus sekat-sekat yang menghalangi kita dalam menciptakan suatu hubungan yang baik. Lalu apakah yang menyebabkan banyaknya sekat di dalam menjalin suatu hubungan? Di dalam hubungan masyarakat dan sosial, pernahkah Anda merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang-orang tertentu di kehidupan Anda??? Pastinya kebanyakan dari Kita yang berprinsip teguh pernah merasakan hal itu. Eit.. tapi yang berprinsip teguh yang mana dan dalam hal apa dulu??? Prinsip yang satu inilah yang berbahaya, yaitu berprinsip teguh bahwa pandangan dan pola pikir sendirilah yang paling benar dan yang lain salah besar. Lalu, karena yang satu itu tidak mau menerima pandangan kita, maka kita anggap orang itu sebagai lawan dan kita merasa tidak nyaman akan kehadirannya di lingkaran kehidupan kita.

Merasa benar sediri saja sudah menjadi sekat dalam hubungan pertemanan, apalagi ditambah berpikir bahwa yang lain itu salah. Dulu ketika pertama kali saya menjalin hubungan serius dengan seseorang, saya baru menyadari bahwa ternyata setiap manusia punya sekat yang dibuatnya sendiri, sekat-sekat dalam hal berhubungan. Awalnya saya belum mengerti mengapa ada manusia yang memiliki complicated relationship (hubungan yang ruwet) antar sesama. Padahal pada prinsip dan teorinya setiap masalah yang terjadi di antara sesama manusia pastinya dapat diselesaikan, maka otomatis setiap hubungan akan baik-baik saja. Tetapi mengapa begitu banyak manusia yang membenci dan tak mau berhubungan dengan sesamanya???  Saat itu orang yang pernah dekat sekali dengan saya ini mengatakan kepada saya kalau dia tidak menyukai teman saya yang juga merupakan guru spiritual saya, dengan alasan guru saya ini terlalu kaku dan berpandangan sempit. Satu hal lagi, orang yang saya sayang ini tidak suka dengan teman saya yang juga merupakan ketua kebaktian, dan saya masuk di bawah kepemimpinannya. Menurutnya sikap dan pemikiran mereka tidak sesuai dengan teori-teori dan prinsip-prinsip yang ada di kepalanya. Hasilnya, orang yang saya harapkan bisa mengenal semua teman-teman saya ini tidak mau mengenal kedua orang tadi dan merasa tidak nyaman kalau kami berada di dekat mereka. Memang mungkin benar adanya sifat-sifat, pandangan si guru spiritual dan cara kepemimpinan si ketua kebaktian tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan dan dimiliki. Tetapi pertanyaannya adalah apakah hal yang seharusnya itu? Pembenaran terkadang hanya ada di dalam pikiran masing-masing. Begitu pula pembenaran di dalam pemikiran pacar saya saat itu yang menganggap si guru spiritual dan ketua kebaktian tidak sesuai dengannya. Lalu, mengapa sekat dalam hubungan itu akhirnya terbentuk???

EGO Menjadi Sang Pembatas

EGO tiga huruf besar yang selalu membayangi kehidupan manusia. Mau bukti bagaimana sang EGO berperan?? Kisah ini dialami oleh guru spiritual saya sendiri yang tadi dikatakan selalu memegang prinsip, tetapi saat ini dia sudah berubah karena memang dia punya kesadaran atas prilakunya. Dulu dia sering bentrok dan membuat sekat hubungan yang cukup tebal dengan temannya yang juga sama-sama seorang guru spiritual. Temannya ini lebih mementingkan hal-hal praktis, materi, dan terkadang beliau berpandangan bahwa uang dan bisnis itu penting. Sedangkan guru spiritual saya lebih mementingkan hal-hal religius dan beranggapan bahwa nilai spiritual tidak seharusnya disamakan dengan bisnis dan uang. Otomatis segala tindakan mereka berdua selalu saja bertentangan. Saya yang saat itu masih remaja dan cukup hijau tak mau mencampuri urusan keduanya, otomatis saya tak punya masalah dengan keduanya dan bisa saja berhubungan dengan keduanya. Itulah enaknya, saya bisa jalan dengan guru saya, lalu beberapa menit kemudian bisa ngobrol-ngobrol dengan temannya itu. Setelah mengikuti keduanya, pada dasarnya apa yang mereka utarakan masing-masing ada benarnya, tak ada yang disalahkan dan masuk akal juga. Tetapi kenapa masing-masing dari mereka menganggap bahwa pemikiran satu sama lainnya salah. Mengapa si guru A menganggap si guru B salah dan sebaliknya??? Sedangkan saya yang berada di tengah-tengah, menerima informasi, pandangan dan pemikiran mereka dengan pikiran kosong  serta tidak memihak, menganggap hal itu biasa saja. Apa yang terjadi dengan si Guru A dan si Guru B? Mereka ternyata telah membangun sekat-sekat yang dibuatnya sendiri, karena masing-masing menganggap orang lain salah dan tidak sesuai dengan pemikirannya. Ego yang berperan dan menjadi pembatas di antara hubungan mereka dan setiap manusia.

Perlu Terbuka dan Saling Memahami

Satu obat bagi sang Ego untuk bisa mengenali jadi dirinya adalah memberikannya pengertian dan berusaha memahami. Kalau saja pacar saya saat itu mau membuka sedikit ruang untuk mengobrol dengan kedua orang yang dianggapnya tidak asik untuk berhubungan, pastinya ia akan lebih mengerti dan memahami. Karena setahu saya guru spiritual saya itu tidak seburuk yang dibayangkannya, walaupun dia agak sedikit memegang prinsip (keras dan kaku dengan prinsipnya), akan tetapi pada dasarnya dia punya kesadaran atas prilaku yang dibuatnya dan mau mengoreksi diri. Begitu juga halnya dengan ketua kebaktian saya, walaupun memang cara kepemimpinannya saat itu banyak menerima protes, tapi saya mengenal betul kalau wanita ini adalah seseorang yang mau menerima kritikan dan masukan, hanya saja perlu waktu untuk banyak belajar dalam mengubah cara kepemimpinannya. Sama pula dengan si kedua guru spiritual tadi, Kalau saja si kedua guru spiritual saling mau menanyakan kabar masing-masing dan mau membuka diri akan pemikiran dan pandangan masing-masing, serta berusaha memahami satu sama lain, tentunya pemikiran dan hubungan mereka akan lebih baik lagi karena masing-masing dapat melihat dari sisi pandang yang berbeda. Namun pada dasarnya Ego akan Harga Diri mengerem semua laju perbaikkan, dan menghentikan semua niatan baik yang muncul karena merasa harga dirinya terlalu mahal untuk mengakui bahwa prinsip dan pandangannya belum tentu benar adanya.

Lihatlah dan Kenali Lebih Dalam Mereka Itu Berubah

Jika dirasakan dengan jujur, diperhatikan lebih dalam, Pandangan, pikiran, prinsip, perasaan, kesadaran dan lain sebagainya selalu berubah-ubah. Seakan-akan terlihat seperti mesin yang sedang menjalankan proses, yaitu proses kesadaran, proses pemikiran, proses perasaan dan proses-proses lainnya. Kita selalu dekat dengannya, akan tetapi kita bodoh, kita seakan-akan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau pada dasarnya setiap pandangan, pemikiran, perasaan, kesadaran dan lain-lain itu selalu berubah. Kita memandang seseorang dengan apa yang mereka miliki dan terlihat nyata bagi kita saat itu. Kita tidak menyadari bahwa itu pun akan berubah. Namun pada dasarnya kita melihat ilusi yang diciptakan dari pikiran. Ya… ilusi-ilusi itu sudah berhasil baik dalam memainkan peranannya, dan sudah sukses dalam mengecohkan kebenaran serta banyak memberikan sekat-sekat di dalam kehidupan. Ilusi-ilusi yang bersumber dari kebodohan, kebencian dan keserakahan manusia dan makhluk di alam semesta.

Penakluk sang Ego

Untuk membuka diri, mengakui kesalahan dan saling meminta maaf adalah hal yang dirasakan sulit oleh sebagian orang yang merasa hal itu sulit. Perlu waktu bagi mereka untuk menaklukan sang Ego dan berdamai dengan harga dirinya. Tetapi ada satu hal yang sebenarnya tidak kita sadari, bawasanya sang Ego akan takluk dengan rasa kasihan dan kasih sayang. Merasakan penderitaan orang lain, dan merasakan kesamaan penderitaan yang kita alami akan memunculkan kasih sayang yang luar biasa, serta tidak tega untuk menyakiti ataupun memusuhi makhluk lain. “Semua makhluk hidup adalah sahabat penderitaan, yang rentan terhadap kesulitan.” Cobalah kita renungkan satu buah puisi di bawah ini :

Kita adalah satu

Kita adalah tetesan dari satu samudera.                                                                                                                      

Kita adalah ombak dari satu laut.

Kita adalah pohon dari satu rimba.

Kita adalah buah dari satu pohon.

Kita adalah daun dari satu cabang.

Kita adalah bunga dari satu kebun.

Kita adalah bintang dari satu langit.

Kita adalah cahaya dari satu mentari.

Kita adalah jari dari satu tangan.

Kita adalah anggota dari satu keluarga.

Dunia adalah satu keluarga.

Bumi adalah satu negeri.

(Sri Dhammananda 86)

Jika saja pikiran kasih sayang ini kita kembangkan setiap harinya, tentu saja segala pemikiran maupun pandangan yang berbeda dari orang lain tidak akan mengganggu dan membuat kita merasa tidak nyaman jika bersama dengan orang tersebut. Takkan ada ruang lagi bagi sang Ego untuk berkeliaran dan datang mengusik. Dengan begitu sekat-sekat dalam hubungan pertemanan secara otomatis akan mulai hancur satu persatu, karena kita merasa satu dengan mereka. Inilah keadaan yang disebut sebagai salah satu dari berkah yang sesungguhnya.

Daftar pustaka:

Dhammananda, Sri. “Be Happy – Mengatasi Takut dan Cemas Dari Akarnya dan Berbahagia Dalam Segala Situasi”, Yayasan Penerbit Karaniya: 2004