Perubahan


By. Selfy Parkit

Tertegung sendiri melihat lalu-lalang orang yang keluar masuk bioskop membuatku sedikit terhibur. Dikala ku menunggu seseorang walaupun tak special, tetapi sangat berarti dan kukasihi, membuat waktu terasa lama. Sedetik seakan satu jam bila pikiran mulai gelisah. Di dalam keresahan itu sepintas ingatan menghampiri dan menyapaku untuk masuk ke dalamnya. Kenangan manis, masa kecil yang indah, ingatan yang memalukan, sampai dengan keadaan berat yang Aku hadapi akhir-akhir ini, semua hadir memenuhi pikiranku. Aku tak tahu seberat apakah masalah yang Aku hadapi, karena sebagian orang mungkin menganggap hal ini hanyalah sebuah masalah. Kadar dan tingkatnya suatu masalah memang tergantung dari personal masing-masing, tapi yang ku alami mungkin terlalu berat bagiku.

Sebagai anak dari seorang pengusaha kaya yang baru saja jatuh miskin, ini pertama kalinya Aku merasa duniaku akan berakhir dan Aku seakan ditinggalkan oleh semua orang yang ku kenal. Namun disela kesedihanku, Aku berusaha untuk tetap merasa tegar dalam mengatasi hal-hal tersebut. Walaupun rasa sakit bergejolak di dalam dadaku, Aku mencoba untuk tetap tenang dan berpikir, menangis bukanlah sebuah jawaban. Tetapi, sebagai insan biasa yang masih memiliki berjuta emosi Aku pun tertunduk tak berdaya. Kian lama kian hari keputuasaan mulai bermunculan, keegoisan mulai berdatangan, emosi mulai menguasai diri, sampai akhirnya sedikit pun Aku tak mengenal siapa diriku dan apa yang terbaik untukku. Aku meraba-raba, mencari sana dan sini, di manakah kebenaran yang sesungguhnya, di manakah kedamaian berpijak, dan di manakah akhir dari penderitaanku ini. Sampai akhirnya Aku menyadari di sinilah hukum perubahan berperan. Semua yang pernah Aku pelajari dan ketahui seakan hilang pada detik-detik di mana kesadaranku mulai melemah. Ternyata semua itu hanyalah konsep-konsep yang tidak tertanam di dalam sanubariku, hingga akhirnya terlupakan. Begitu pula dengan masalah dan penyakit batin yang menghantuiku, muncul lalu lenyap dan terlupakan untuk sesaat. Kemudian muncul kembali dengan segudang tantangan yang harus dihadapi. Fenomena yang tidak akan berhenti sampai Aku dapat menyelesaikannya. Continue reading

Maju Terus


Beberapa waktu lalu, impian kami untuk membuat film produksi sendiri sempat pupus karena seseorang harus keluar dari tim, dan pergi meninggalkan setumpuk pekerjaannya yang belum selesai. Parahnya lagi orang ini adalah pemeran utama sekaligus sutradara yang tidak mungkin digantikan posisinya. Kesedihan para kru saat itu memang tak dapat dielakkan lagi, begitu pula dengan rasa kecewa yang mendera kami karena merasa telah melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Hal ini pun tidak hanya dirasakan oleh para kru, tetapi mungkin juga oleh semua teman kami yang memiliki harapan besar untuk berlangsung dan suksesnya sebuah impian. Namun, dari semua kegagalan akan selalu ada pelajaran dan sebuah harapan baru yang menanti untuk kami raih. Mengapa tidak kami sambut dengan hati ceria? Sepertinya motivasi itulah yang akhirnya mengisi semangat para kru kami, hingga akhirnya film itu berhasil kami selesaikan pada waktu yang telah ditentukan.

Pelajaran: Jangan pernah menyerah sebelum mencoba.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Mei 2009#