Bertindaklah


Beberapa waktu yang lalu, aku dan teman-teman menyelenggarakan latihan meditasi wipassana selama 3 hari. Karena dana yang ada terbatas, maka mulai dari tempat, makanan, dan semua biayanya pun ditekan seminimal mungkin. Para peserta wanita harus tidur di rumah penduduk yang letaknya di dekat wihara, sementara peserta pria tidur di dalam wihara.

Ada kejadian lucu yang sampai saat ini masih melekat di benakku saat latihan itu. Pada hari kedua di sore hari, aku hendak mengambil peralatan mandiku di kamar tidur. Saat mencoba membuka pintu kamar, pintu tak bisa dibuka dan seakan terkunci dari dalam. “Mungkin teman sekamarku ada di dalam dan sedang berganti pakaian” pikirku. Karena dalam latihan ini kita dilarang berbicara kepada sesama peserta, maka yang kulakukan saat itu hanya berulang kali mengetuk pintu dan menunggu, namun tak ada jawaban. Ternyata setelah pintu itu didorong dengan kuat, pintu itu terbuka dan tak ada orang di dalamnya.

Pelajaran: Buktikanlah dengan bertindak. #

Advertisements

Wihara Vimala Dharma Meninggalkan sejuta Kenangan



Oleh Selfy Parkit

Liburan lebaran tahun ini seperti biasa tempat-tempat rekreasi banyak dipadati orang-orang yang menghabiskan waktu liburannya. Seperti halnya tahun lalu, selain pulang kampung untuk bertemu sanak keluarga, biasanya saudara kita yang merayakannya akan pergi ke tempat-tempat rekreasi bersama keluarga. Bagi umat Buddhis sendiri kesempatan berlibur ini dimanfaatkan dengan baik, ada yang pergi untuk bertamasya, ada pula yang mengikuti retreat selama beberapa hari. Memang biasanya banyak wihara-wihara di Indonesia yang akan menjadwalkan program latihan meditasi mereka pada liburan lebaran. Kebiasaan ini juga sudah menjadi rutinitas bagiku sejak tahun-tahun lalu, memanfaatkan liburan sekolah untuk ikut retreat ataupun pergi ke tempat-tempat yang sunyi dan tenang seperti alam pedesaan yang masih asri dan tentram. Namun di tahun ini aku memutuskan untuk keluar dari kebiasaanku tersebut, entah mengapa aku ingin sekali-sekali keluar dari comfort zone dan mencari pengalaman serta tantangan baru, yaitu berkunjung ke kota Bandung menemani temanku berkeliling dan berbelanja di sana ala anak perantauan.

Berdua saja di kota orang ternyata menyenangkan juga dan hal yang paling menyenangkan adalah bertemu dengan orang-orang baru. Kita dapat berbincang-bincang dengan mereka, mengenal lebih jauh dan bertukar pikiran serta saling berbagi pengalaman. Seperti halnya dengan para pengurus di sebuah wihara yang ku kunjungi saat itu. Vimala Dharma (baca:wimala dharma), yaitu wihara yang merupakan perintis berdirinya wihara-wihara di Indonesia setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, di sinilah aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa tersebut. Apa yang membuat mereka luar biasa adalah cara dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Keramahan dan sikap terbuka mereka terhadap orang asing tidak dapat diragukan lagi, buktinya saja aku dan temanku dipersilakan untuk menginap semalam di wihara ini. Wihara yang dulunya merupakan tempat tinggal (alm) Yang Mulia Maha Nayaka Sthavira Ashin Jinarakkhita atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bhante Ashin ini terletak di Jl. Juanda No.5 Bandung Utara, tepatnya bersebelahan dengan Mall Planet Dago. Semula tempat ini merupakan tempat pedagang sayur mayur, alamat nomornya pun mengalami perubahan yang semula nomor 3 menjadi nomor 5. Untuk sampai di lokasinya ternyata sangat mudah, dari terminal Leuwi Panjang kita bisa langsung naik bis Damri ke arah Dago atau bisa juga naik mobil angkutan umum jurusan Kalapa, lalu naik satu kali lagi yang ke arah Dago. Sesampainya di lokasi, kita akan melihat plang nama Wihara Vimala Dharma tepat di sisi kiri jalan. Kalau dilihat dari luar, bangunan wihara ini terlihat seperti bangunan tua zaman Belanda. Memang pada dasarnya bangunan yang satu ini asli bangunan zaman dulu dan hanya direnovasi atapnya saja. Sebelumnya bangunan ini masih berpenghuni, sampai kemudian 17 tahun ketika pertama kali dicetuskannya nama Vimala Dharma yang artinya Ajaran Tak Bernoda oleh (alm) Bhante Ashin yaitu bulan Februari 1958, barulah tanah bangunan ini dibeli oleh para donatur pada tahun 1975 saat hari ulang tahun (alm) Bhante Ashin. Gedung tua ini digunakan sebagai ruang aula yang kadang juga dimanfaatkan untuk kegiatan sekolah minggu GABI (Gelanggang Anak Buddhis Indonesia) dan di sebelah kanannya terdapat ruang MBI (Majelis Buddhayana Indonesia) lalu di kirinya terdapat ruangan yayasan.

Bangunan Wihara Vimala Dharma, tampak depan

Bangunan Wihara Vimala Dharma, tampak depan

Gedung tua yg dlmnya dijadikan aula dan kadang diisi oleh skul minggu (GABI)

Gedung tua yg dlmnya dijadikan aula dan kadang diisi oleh skul minggu (GABI)

Foto2 leluhur umat2 Wihara Vimala Dharma

Foto2 leluhur umat2 Wihara Vimala Dharma

Ruang Meditasi

Ruang Meditasi

Peresmian pemakaian Wihara Vimala Dharma sendiri dilaksanakan pada bulan April 1958 oleh (alm) Bhante Ashin, dan acara peresmian tersebut dihadiri oleh 18 Bhikkhu dari luar negeri dan para umat Buddha dari berbagai daerah. Dari depan pintu masuk melalui pintu gerbang hijau yang tinggi, kita akan melihat gedung lainnya yang terlihat lebih modern (Tanah dari gedung ini dibeli berkat dana utama dari (alm) Appusinho da Silva). Gedung yang satu ini berlantai dua dan menyambung dengan gedung yang ada di seberangnya, membentuk setengah lingkaran dan mengelilingi sebuah paviliun yang ada di tengah-tengahnya. Sebelumnya paviliun ini adalah sebuah kolam besar yang disumbangkan oleh (alm) Na Boen Pit. Lalu sempat direnovasi, dibentuk menjadi taman dan kolam mini, hingga akhirnya terakhir dipugar dari tanggal 5 April 1994 – awal 1999 menjadi paviliun yang sekarang ini digunakan umat untuk beristirahat dan menikmati udara pagi. Tepat di depan paviliun kita akan melihat sebuah patung penghormatan untuk (alm) Bhante Ashin yang dibelakangnya terdapat satu buah pagoda dengan rupang Buddha kecil di dalamnya  dan dua buah pagoda lainnya.

Pagoda di dkt paviliun yang di dalamnya terdapat patung Bhante Ashin

Pagoda di dkt paviliun yang di dalamnya terdapat patung Bhante Ashin

Paviliun yg dulunya sebuah kolam

Paviliun yg dulunya sebuah kolam

Pagoda di dkt paviliun

Pagoda di dkt paviliun

Kembali lagi ke dalam gedung, kalau kita masuk dari pintu depan lantai bawah gedung ini, pertama-tama yang akan kita temukan adalah bursa wihara. Lalu jika kita masuk lagi ke dalamnya, kita akan melihat sebuah ruang perpustakaan yang isinya lumayan lengkap, dan menurut informasi dari seorang mantan pengurus VD angkatan 2003-2006, perpustakaan ini pernah menjadi perpustakaan yang terlengkap se-Indonesia. Bukan hanya kelengkapannya saja, perpustakaan ini juga terlihat rapih dan terorganisasi dengan baik, contohnya saja buku-bukunya disusun dan diletakkan berdasarkan urutan abjad, dan juga  ada aturan kalau buku yang sudah diambil dari tempatnya tidak perlu diletakkan kembali melainkan ditaruh di keranjang yang sudah disediakan – guna menghindari kesalahan penempatan. Sebelum masuk ke ruang perpustakaan, tepat disebelah kanan ada ruang kantor pengurus. Ruangan ini khusus digunakan sebagai ruang kerja para pengurus, termasuk pembuatan bulletin BVD (Berita Vimala Dharma) yang terbit setiap sebulan sekali. Jika kita kembali lagi ke arah pintu masuk, tepat di depan bursa kita akan menemukan anak tangga yang menuju ke lantai dua. Sebenarnya akses menuju ke lantai dua bukan hanya melalui tangga ini saja, bisa juga melalui tangga di seberang ataupun tengah-tengah gedung. Tetapi jika kita naik melalui tangga ini, kita akan langsung sampai di ruang Dhammasala (tempat puja bakti dan pembabaran Dhamma/ajaran). Ruang Dhammasala ini cukup besar dan luas kira-kira bisa menampung sekitar 400 orang umat. Di dinding tepat di atas altarnya, kita bisa melihat berukuran besar ukiran gambar para dewa, dan di seberangnya terdapat ukiran gambar yang menceritakan riwayat hidup Buddha Gotama. Lalu jika kita menghadap rupang Buddha yang merupakan sumbangan Burma Buddha Sasana Counsil ini, di sebelah kirinya terdapat pintu keluar yang akan membawa kita mengitari gedung di lantai dua. Tak jauh dari ruang Dhammasala, terdapat ruang altar Avalokitesvara yang rupangnya merupakan sumbangan dari masyarakat Tulungagung dan tepat di tengah-tengah gedung lantai dua ini terdapat beberapa ruang tamu disediakan bagi tamu yang ingin berkunjung menemui bhikkhu/ bhikkhuni. Kemudian jika kita melanjutkan perjalanan dan mengitari gedung ini kita akan menemukan ruang meditasi dan beberapa kuti bhikkhu yang letaknya tepat berseberangan dengan ruang Dhammasala. Di antara ruang kuti ini terdapat anak tangga, jika kita turun melalui anak tangga ini kita akan menemukan ruangan yang dulu pernah di tempati oleh (alm) Bhante Ashin. Ruangan ini masih terawat dengan baik, di dalamnya terdapat altar rupang Buddha dan lukisan Bhante Ashin berukuran besar yang digantung diatas tempat tidurnya. Kemudian di sisi kanan anak tangga ini terdapat dua buah ruang tamu yang di dalamnya diisi oleh dua buah tempat tidur, nah di situlah tempat aku dan temanku merebahkan tubuh.

Di dalam ruang perpustakaan

Di dalam ruang perpustakaan

Perpustakaan tampak dari luar ruangan

Perpustakaan tampak dari luar ruangan

Kamar yg pernah ditempati bhante Ashin

Kamar yg pernah ditempati bhante Ashin

Altar di ruang Dhammasala

Altar di ruang Dhammasala

Altar Awalokiteswara

Altar Awalokiteswara

Ruang kerja pengurus Wihara Vimala Dharma

Ruang kerja pengurus Wihara Vimala Dharma

Dapur

Berkeliling lagi sambil diiringi gemericik suara air di tengah-tegah gedung terdapat ruang dapur dan ruang makan. Kemudian di sebelah ruang makan terdapat ruangan khusus untuk para umat yang ingin menyimpan foto leluhur atau sanak keluarganya yang sudah meninggal. Biasanya umat akan dikenakan semacam biaya pengurusan setiap bulannya, atau bisa juga dengan cara berdana rutin. Di sebelah ruangan ini ada ruang besar lainnya, yaitu ruang rapat atau ruang pertemuan.

Berjalan mengitari Wihara Vimala Dharma sama halnya mengenang Buddhisme Indonesia di masa lalu, mengingat dan mengenang perjuangan serta kegigihan (alm) MNS Ashin Jinarakkhita dalam mengenalkan Buddhisme di bumi nusantara Indonesia. Apalagi mendengarkan dan membaca sejarah berdirinya wihara tersebut membuat kita seharusnya merasa bersukur dan menghormati peninggalan yang sudah diperjuangkan oleh mereka-mereka yang terdahulu. Sampai sekarang pun semangat perjuangan Bhante Ashin masih terasa kental dan tertulari oleh para pengurus wihara ini. Dengan aktifnya puja bakti dan kegiatan-kegiatan wihara di setiap minggunya, serta praktik Dhamma yang terus digalangkan merupakan bagian dari rasa terima kasih para umat dan pengurus kepada Beliau beserta para donatur.

Sumber :

Special Thanks to Sdri. Vivi Sumanti.

Ven. Zen Master Thich Nhat Hanh. Kemilau Emas Menebar Kasih, 50 tahun Vihara Vimala Dharma : “Menyembuhkan Diri, Mengatasi Derita”. Bandung : Penerbit PVVD, 2008.

Sudah Diterbitkan di Majalah Sinar Padumuttara Edisi 8 Mei 2010, Majalah bisa didapatkan di Wihara Padumuttara-Tangerang.

Ngapain ngerayain Waisak???



Begitu cepat sang waktu berjalan, tak terasa setahun sudah berlalu lagi. Masih teringat di benak gw perayaan waisak di tempat yang sama setahun yang lalu. Hanya saja yang membuatnya sedikit berbeda adalah orang-orang yang menemani gw merayakannya (yuhuuii.. siapa tuh), yah siapa lagi kalo bukan sahabat gw Novita. Tapi kali ini kebersamaan kami disertai oleh adik kecil dan sepupu-sepupunya yang masih berumur belasan. Jealous juga rasanya melihat mereka yang begitu kompaknya dan mau diajak waisak bersama. Sedangkan gw, selain jomblo (ha..ha..) ga ada juga adik-adik gw yang mao diajak ke wihara untuk ngerayain waisakkan bersama. Memang sudah biasa rasanya melewati waisak bersama diri sendiri. Contohnya saja tahun lalu, karena Novi berhalangan hadir, ya mau ga mau sendirilah gw ke wihara. Namun walaupun begitu, selalu saja ada teman-teman gw yang akhirnya bertemu dan bertegur sapa seusai acara. Akan tetapi dari semuanya itu, ada satu hal yang membuat gw bahagia tahun ini, bahkan kebahagiaan ini melebihi gw punya atau dapat cowo misalnya (ha..ha… gila abis, emangnya gw begitu kesepian apa..hihi..hi..) Kebahagiaan ini sebenarnya hadir karena gw merasa turut berbahagia (apa sih gitu aja kok berbelit-belit) ya..ya.. akhirnya bokap, nyokap dan adik bungsu gw datang ke salah satu wihara di Tangerang dan merayakan waisak di sana untuk pertama kalinya (ini sih setahu gw.. ha..ha.. siapa tahu lagi mudanya mereka malah aktif he.he..) walaupun berbeda tempat dan kita tak bersama-sama, namun gw turut bahagia. Sesungguhnya bukanlah karena ikut perayaan waisaknya saja yang bikin gw ngerasa bahagia, tetapi lebih dari itu mereka semakin dekat dengan ajaran kebenaran dan gw berharap semoga mereka selalu memperoleh kebahagiaan.

Seperti halnya tahun lalu, waisak tahun ini juga diguyur oleh hujan, hanya saja bedanya tahun lalu hujan turun seusai acara. Sedangkan di tahun ini, hujan mengguyur orang-orang yang sedang melakukan prodaksina. (Wah.. apalagi neh gerangan yang akan terjadi???) Firasat apalagikah yang akan diciptakan oleh para umat yang berpikiran dan menganggap hal itu bukan sesuatu yang normal. Jangan.. jangan, jangan.. jangan.. (apa sih??? Normal kok, wong hujan mo turun begitu saja kok repot “Kata Gusdur” haha..) namun begitulah terkadang, setiap kejadian yang dianggap tidak seperti biasanya selalu dikait-kaitan dengan kejadian-kejadian lain yang ditakutkan akan terjadi. Padahal yang ditakutkan itu terkadang tidak masuk diakal. (Wah.. inilah salah satu kehebatan pikiran kita dalam membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada he..he…)

Waisak tahun ini cukup berkesan bagi gw, apalagi setelah nonton kilas balik perjuangan Pangeran Siddhàrtha menjadi Buddha, jujur hal ini memberikan semangat dan memperkuat tekad gw untuk terus berjuang seperti beliau. Rasa kagum gw terhadap guru gw yang satu ini sungguh amat tak ada duanya. Apalagi merenungkan betapa hebatnya perjuangan beliau yang tak pernah lelah menghadapi setiap pembelajaran di dalam hidupnya hingga akhirnya dapat merealisasikan apa yang telah dicita-citakannya demi kebahagiaan semua makhluk. Sungguh cinta kasih beliau amat sangat tak terbatas. Begitulah seharusnya kita sebagai muridnya meneladani serta mempraktikan apa yang telah diajarkannya, dan bukan mengulangi kesalahan yang pernah beliau lakukan selama pencahariaan pencerahannya, yaitu dengan tidak bersikap ekstrim. Sesungguhnya perenungan inilah yang seharusnya kita lakukan dan terapkan dalam merayakan hari Waisak, bukan hanya melakukan ritual saja yang memang setiap tahun sering dilakukan dan kurang lebih dengan cara yang sama (lama-lama juga bosen.. kalo udah bosen males ke wihara deh.. ho..ho..ho). Tetapi bagaimana kita melihat diri kita, batin kita, apakah sudah mengalami peningkatan dari tahun yang lalu, ataukah masih di situ-situ saja atau malahan lebih merosot dari sebelumnya. Dengan merenungi hal ini, tentunya kita menjadi semakin mengerti dan dapat mengambil langkah selanjutnya untuk terus berjuang dalam mengikis keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan kita. So, Buddhisme dan semangat Buddhisme bukanlah sekedar ritual saja… Berjuanglah terus dalam mencari kebenaran, jangan Cuma percaya hanya sebatas ritual… Jia You!!!

Happy Waisak Day 2553 – Parkit

KEYAKINAN DAN BUNGKUSNYA


Ketika ditanya mengapa Anda beragama Buddha? Mungkin saya takkan pernah bisa menjelaskan dengan muluk-muluk mengapa saya beragama Buddha dan memilih agama Buddha sebagai agama saya. Mungkin hal itu wajar saja, karena untuk memeluk suatu agama terkadang orang umumnya melihat bungkus luarnya terlebih dahulu tanpa tahu isi dalamnya seperti apa. Sama seperti contoh halnya yang saya lakukan dulu. Kalau kembali ke masa lalu, rasanya Anda mungkin tak percaya kalau orang seperti saya memutuskan untuk memeluk agama Buddha hanya karena hal-hal yang sepele saja. Tapi jika dipikirkan lebih lanjut, toh itu adalah sesuatu hal yang wajar dan manusiawi. Karena pada dasarnya kebutuhan orang beragama adalah untuk mengatasi rasa takut dan menambah kebahagiaan di dalam hidupnya. Begitu pulalah alasannya, mengapa saya beragama Buddha.

Beragama Karena Kenyamanan

Dulu ketika kecil, sebenarnya saya sempat menjadi seorang Buddhis yang rajin datang ke wihara untuk sekolah minggu. Namun sayangnya, karena masalah SDM (Sumber Daya Manusia) di dalam organisasi, maka wihara tempat saya kebaktian itu pun tidak lagi beroperasi. Otomatis kemudian beralihlah saya ke agama lain berkat ajakkan tetangga saya yang kebetulan aktif sebagai pengurus di tempat ibadah tersebut. Waktu itu umur saya sekitar 6 tahun, dan sejak saat itu saya pun menjadi seorang penganut yang rajin. Di hari kebaktian saya akan berpakaian rapih, bahkan lebih pagi datang ke rumah sahabat saya untuk menungguinya mandi dan pergi bersama-sama. Kegiatan setiap minggu itu saya lakukan dengan begitu antusias, namun tak pernah tahu apa yang sebenarnya saya tuju dan perbuat. Yang saya tahu, saya merasa gembira dan nyaman bila berkumpul, dan bermain bersama dengan kakak pengurus serta teman-teman di sana. Karena kenyamanan itulah yang membuat saya mampu bertahan selama kurang lebih 6 tahun lamanya. Mungkin inilah alasannya mengapa setiap orang bisa langeng dengan keyakinannya, yaitu merasa nyaman dan bahagia. Benar pula adanya kalimat yang mengatakan bahwa agama adalah suatu kecocokan. Untuk itu perlu dan penting sekali di dalam Buddhisme dilakukan pengembangan sistem di mana para umat merasa nyaman dengan kondisi dan suasana kebaktian, khususnya untuk kebaktian sekolah minggu di wihara.

Mungkin Sudah Jodoh

Seiring bertambahnya usia, ada satu kerinduan di dalam diri saya untuk datang lagi ke wihara. Hal ini dikarenakan di tempat saya bersekolah ketika SD tidak diajarkan agama yang saya anut, maka mau tidak mau saya pun harus mengikuti pelajaran agama Buddha, dan rupanya saya lumayan berprestasi dengan pelajaran tersebut. Namun kerinduan itu tidak begitu saja memudarkan kesetiaan saya terhadap agama yang saya anut itu, sampai akhirnya keyakinan saya mulai tergoyahkan ketika meninggalnya nenek saya di umur saya yang ke 9 tahun. Kecintaan saya terhadap nenek saya membuat saya ingin lebih menghormatinya, dan menurut saya sembahyang adalah salah satu bentuk penghormatan saya kepadanya saat itu. Namun di dalam agama saya, saya tidak diperbolehkan untuk sembahyang sesuai dengan tradisi yang dijalankan, seperti memegang ‘hio’ misalnya. Hal inilah yang kemudian membuat saya memutuskan untuk mencoba kembali lagi datang ke wihara, hanya berharap bisa melakukan ritual penghormatan kepada nenek saya.

Takut Mati

Keinginan untuk kembali datang ke wihara rupanya memerlukan waktu yang cukup lama. Di tengah-tengah penantian itu ada cerita lucu yang membuat saya akhirnya kembali lagi aktif datang kebaktian di tempat ibadah agama saya yang dulu. Ketika itu di daerah tempat saya tinggal sedang dihebohkan oleh penyakit demam bedarah. Saya yang masih duduk di SMP kelas 2, saat itu sedang asik bermain sendiri di sebuah lapangan yang dipenuhi rumput dan barang-barang bekas termasuk ban mobil yang terisi air hujan di dalamnya. Saat itu ada seekor nyamuk yang penampilannya lain dari nyamuk-nyamuk umumnya datang menggigit saya, dan dengan spontan saya meyakininya sebagai seekor nyamuk demam berdarah. Otomatis kegelisahan dan ketakutan menyelimuti diri saya, disertai pikiran bahwa saya akan segera mati. Ketakutan akan kematian itulah yang membuat saya berdoa kepada Tuhan saya untuk berjanji datang lagi kebaktian jika saya diberikan kesempatan untuk hidup. Ternyata benar saja saya masih hidup dan mau tidak mau saya harus menepati janji yang sudah saya katakan di dalam hati. Kembalilah saya ke tempat ibadah itu, setelah sekian lama tidak datang kebaktian. Sekembalinya saya seperti biasa disambut hangat oleh kakak pengurus, bahkan dia pun menyempatkan waktunya untuk mampir ke rumah saya. Sungguh merupakan awal kesan dan bentuk penerimaan yang luar biasa, otomatis keluarga saya pun merasa tersentuh dan terperhatikan. Namun untungnya teman-teman semasa kecil saya di sana sudah tidak terlalu lagi mengenali saya, dan karena itulah saya merasa kesepian, lalu tidak lama kemudian memutuskan untuk tidak lagi datang kebaktian. Kalau saja teman saya bersikap baik saat itu, mungkin sampai saat ini saya tidak akan mengenal Buddhisme J. Sementara saya yang sudah tidak lagi aktif, sahabat saya malah sungguh sangat aktif bahkan hampir saja dilegalkan menjadi seorang pemeluk sejati. Namun karena memang sudah karma, sahabat saya ini pun ditentang oleh keluarganya. Walaupun sudah ditentang keluarganya hal itu tidak membuatnya sekonyong-konyong untuk berpindah keyakinan, sampai akhirnya dia mendapatkan tugas dari sekolahnya untuk minta tanda tangan penceramah di setiap kebaktian wihara. Tugas tersebut mungkin suatu berkah bagi saya, karena dengan begitu saya punya teman untuk datang ke wihara. Itulah untuk kedua kalinya saya datang dan kebaktian di wihara dan awal kedatangan itulah yang membuat saya dan sahabat saya memutuskan untuk menjadi seorang Buddhis.

Buddhis Tapi Kok Tidak Ramah

Pada dasarnya saya ini berasal dari keluarga Buddhis tradisi yang jarang sekali ke wihara dan hanya melakukan ritual berdasarkan tradisi turun-temurun keluarga, seperti sembahyang leluhur, “Cung.. cung.. Cep” (haha..) dan lain-lain. Mungkin Karena inilah orang tua saya tidak pernah melarang anaknya untuk pergi kebaktian ke tempat ibadah yang berbeda. Tapi dengan begitu saya jadi mengerti perbedaan antara agama lain dengan agama Buddha. Ingat saya waktu pertama kali datang kebaktian ke sebuah wihara yang cukup besar dan ramai umatnya. Dulu di tempat ibadah dari keyakinan saya, biasanya saya disambut dengan senyum dan salam yang menghangatkan. Tetapi di wihara itu saya seperti orang asing yang tak tahu apa-apa dan tak ada satu pun makhluk yang menyapa saya. ‘Oh.. begini rupanya sebuah wihara dan umat Buddha memperlakukan sesamanya’, pikir saya. Untungnya hal ini tidak mengurungkan niatan saya untuk terus datang kebaktian, karena memang saya pun selalu datang dengan sahabat saya. Setelah saya pikirkan sekarang, mungkin inilah salah satu faktor mengapa agama Buddha dulu kurang diminati oleh banyak orang, karena memang bungkus dan pelayanannya yang kurang menarik. Menyapa umat yang datang saja, sebenarnya sudah merupakan bentuk perhatian yang didasari oleh kasih sayang. Namun tentunya sebagai seorang Buddhis sejati akan sangat disayangkan, jika pelayanan semacam ini saja tidak didasari dengan kasih sayang. Mengingat Buddha mengajarkan kasih sayang yang luar biasa, bahkan kasih sayang itu diberikan kepada semua makhluk. Akan tetapi itu dulu, mungkin sekarang zamannya sudah berubah. Saat ini jika saya kembali datang kebaktian di wihara tersebut, sudah terlihat para petugas PU (Pelayanan Umat) dengan ramah menyapa umatnya. Hanya saja memang masih ada beberapa tempat kebaktian yang masih mempertahankan sistem lama, dengan cara cuek atau acuh terhadap umatnya yang datang kebaktian. Untuk itu walaupun isi dalamnya bagus luar biasa, namun tak ada salahnya memperbaiki bungkus luarnya agar terlihat lebih menarik yaitu dengan meningkatkan pelayanan dan hubungan sosial yang baik.

Pernah diterbikan di Majalah Warta Dharma Ratna Edisi Asadha 2553/2009 no.27

Thanks to My Parents and Ancestors