ANAK RUSA YANG PURA-PURA MATI (Kehadiran)


Pada suatu ketika, hidup sekumpulan rusa hutan. Di dalam kumpulan ini terdapat guru yang yang bijaksana dan dihormati, yang menunjukan kecerdikan dalam mencari cara bagi rusa. Ia mengajarkan cara dan strategi untuk bertahan hidup bagi anak-anak rusa muda.

Suatu hari, adik perempuan si Guru ini membawa anak laki-lakinya datang bertemu untuk diajarkan apa yang sangat penting bagi rusa. Ibu itu berkata, “Oh… guru yang juga saudara laki-lakiku, ini adalah anakku.” Si Guru berkata kepada anak rusa itu, “Baiklah kau bisa datang pada jam-jam ini besok untuk pelajaran pertamamu.”

Anak rusa muda itu datang mengikuti pelajaran sebagaimana seharusnya. Ketika rusa lain tidak masuk kelas dan menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk bermain, ia tetap di kelas dan memperhatikan gurunya. Ia sungguh disukai oleh para rusa jantan dan rusa betina lainnya, tetapi ia hanya akan bermain jika tugas kelasnya selesai dikerjakan. Rasa ingin tahunya dalam belajar, membuatnya selalu datang tepat waktu dalam menghadiri pelajaran. Ia juga sabar terhadap murid-murid lainnya. Ia menghargai si Guru rusa atas pengetahuan yang dimilikinya dan merasa berterima kasih untuk kesediaannya dalam berbagi pengetahuannya.

Suatu ketika, si Anak rusa masuk ke dalam sebuah perangkap di dalam hutan dan ditangkap. Ia berteriak kesakitan. Ini membuat takut anak-anak rusa lainnya yang berlari kembali ke rombongan dan memberitahukan ibunya. Ibunya merasa ketakutan dan lari menemui saudara laki-lakinya, si Guru. Bergetar oleh ketakutan, dan dibasahi oleh air mata, dia berkata kepada si Guru, “Oh saudara laki-lakiku tercinta, apakah kau sudah mendengar kabar bahwa anakku sudah terperangkap oleh beberapa pemburu? Bagaimana aku dapat menyelamatkan hidup anakku? Apakah ia belajar dengan baik di kelasmu?”

Kakaknya berkata, “Adik perempuanku, jangan takut. Aku yakin ia akan selamat. Ia belajar dengan sungguh keras dan selalu melakukan yang terbaik. Ia tidak pernah melewatkan satu kelas pun dan selalu memperhatikan. Untuk itu, tidak perlu memiliki keraguan ataupun kesedihan di dalam hatimu. Ia tidak akan disakiti oleh manusia apa pun. Jangan khawatir. Aku yakin ia akan kembali kepadamu dan membuatmu bahagia kembali. Ia sudah belajar semua cara dan strategi yang digunakan oleh rusa untuk menipu pemburu-pemburu. Jadi sabarlah. Ia akan kembali!”

Sementara itu, si Anak rusa yang terperangkap berpikir, “Semua teman-temanku takut dan kabur. Tidak ada satu pun yang membantuku keluar dari perangkap yang mematikan ini. Sekarang aku harus menggunakan cara dan strategi yang sudah aku pelajari dari guru bijaksana yang sudah mengajar dengan sangat baik.”

Strategi rusa yang akhirnya ia putuskan untuk digunakan disebut, “Pura-pura mati.” Pertama, ia menggunakan kuku-kukunya untuk menggali tanah dan rumput, untuk membuat seolah-olah ia sudah berusaha sangat keras untuk melarikan diri. Kemudian ia buang air besar dan kecil, karena inilah yang terjadi ketika seekor rusa ditangkap di dalam sebuah jebakan dan mati dalam ketakutan yang sangat besar. Selanjutnya, ia melumuri tubuhnya dengan air liurnya sendiri.

Berbaring lurus terlentang, ia membuat tubuhnya kaku dan meluruskan kakinya. Ia menaikkan kedua matanya, dan membiarkan lidahnya menjulur di sisi mulutnya. Ia mengisi paru-parunya dengan udara dan mengembungkan perutnya. Akhirnya, dengan posisi kepalanya condong ke satu sisi. Ia bernafas melalui lubang hidung yang dekat ke tanah, bukan melalui lubang hidung bagian atas.

Terbaring tanpa gerakan, ia benar-benar terlihat seperti mayat kaku dan lalat-lalat berterbangan mengelilinginya, tertarik oleh bebauan yang sangat bau. Burung gagak berdiri di dekatnya menunggu untuk memakan dagingnya.

Tak lama kemudian, pagi-pagi sekali si Pemburu datang untuk memeriksa perangkap-perangkapnya. Menemukan si Anak rusa yang sedang berpura-pura mati, ia menepuk perut rusa yang mengembung dan mengetahui perutnya kaku. Melihat lalat-lalat dan kotoran yang berserakan itu ia berpikir, “Ah, rusa ini sudah mulai menjadi kaku. Ia pasti sudah terperangkap lama sekali pagi ini. Tidak diragukan lagi kalau daging lunaknya sudah mulai membusuk. Aku akan menguliti dan menyembelih bangkainya di sini, lalu membawa dagingnya pulang.”

Ketika si Pemburu benar-benar percaya rusa itu mati, ia memindahkan dan membersihkan perangkap itu, dan mulai menyebarkan daun-daun untuk membuat tempat penyembelihan. Menyadari kalau dirinya bebas, si Anak rusa dengan tiba-tiba meloncat lalu berdiri. Ia berlari bagaikan awan kecil yang tertiup oleh angin yang bergerak cepat, kembali ke tempat ibunya yang nyaman dan aman. Seluruh kawanan rusa merayakan keselamatannya, syukurlah karena sudah belajar dengan sangat baik dari guru yang bijaksana.

Pesan moral : Belajar dengan baik membawa hasil yang besar.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Advertisements

ANAK RUSA YANG MEMBOLOS (Pembolosan Dari Sekolah)


Pada suatu ketika, hidup sekumpulan rusa hutan. Di dalam kumpulan ini terdapat guru yang bijaksana dan dihormati, yang menunjukkan kecerdikan dalam mencari cara bagi rusa. Ia mengajarkan cara dan strategi untuk bertahan hidup bagi anak-anak rusa muda.

Suatu hari, adik perempuan si Guru membawa anak laki-lakinya datang bertemu untuk diajarkan apa yang sangat penting bagi rusa. Ibu itu berkata, “Oh guru yang juga saudara laki-lakiku, ini adalah anakku.” Si Guru berkata kepada anak rusa itu, “Baiklah, kau bisa datang pada jam-jam ini besok untuk pelajaran pertamamu.”

Pada awalnya, anak rusa muda datang mengikuti pelajaran sebagaimana seharusnya. Tetapi tidak lama kemudian, ia menjadi lebih tertarik bermain dengan rusa jantan dan rusa betina lainnya. Ia tidak menyadari bahwa betapa berbahayanya untuk seekor rusa yang tidak belajar apa pun tetapi hanya bermain. Jadi ia mulai meninggalkan kelas. Tak lama kemudian ia selalu membolos.

Sayangnya, suatu hari anak rusa yang membolos ini masuk ke dalam jebakkan dan terperangkap. Ketika ia menghilang, ibunya merasa khawatir. Ia pergi menemui si Guru, kakaknya dan bertanya, “Kakakku tercinta, bagaimana anak laki-lakiku? Sudahkah kau mengajarkan keponakanmu cara dan strategi bagi rusa?”

Si Guru menjawab, “Adikku yang kukasihi, anakmu itu tidak patuh dan tidak dapat diajarkan. Karena untuk menghormatimu, aku berusaha sebaik mungkin untuk mengajarinya. Tetapi ia tidak mau belajar cara dan strategi bagi rusa. Ia membolos! Bagaimana mungkin aku bisa mengajarinya? Kau patuh dan setia, tetapi ia tidak. Sia-sia saja berusaha untuk mengajarinya.”

Kemudian mereka mendengar kabar menyedihkan. Si Rusa keras kepala yang membolos sudah terperangkap dan dibunuh oleh seorang pemburu. Si Pemburu mengulitinya dan mengambil dagingnya dibawa pulang untuk keluarganya.

Pesan moral : Tak ada satupun yang dapat dipelajari dari seorang guru, oleh orang yang membolos.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

RUSA ANGIN DAN RUMPUT MADU (Keinginan yang Kuat Untuk Mencicipi)


Pada suatu ketika, raja Benares mempunyai seorang tukang kebun yang merawat kebun kesenangannya. Kadang-kadang binatang dari hutan terdekat masuk ke dalam kebun. Si Tukang kebun mengeluhkan hal ini kepada raja dan Raja berkata, “Jika kau melihat binatang aneh apa pun beritahu aku segera.”

Suatu hari, si Tukang kebun melihat sejenis rusa aneh jauh di ujung kebun. Ketika rusa itu melihat si Tukang kebun, ia lari secepat angin. Mereka adalah sejenis rusa yang langka. Mereka luar biasa takut. Mereka sangat mudah takut dengan manusia.

Si Tukang kebun mengatakan tentang rusa angin kepada raja. Raja meminta si tukang kebun, dapatkah ia menangkap binatang yang aneh itu. Si Tukang kebun menjawab, “Rajaku, jika kau dapat memberikanku beberapa madu lebah, aku bahkan dapat membawanya ke dalam istana!” Untuk itu raja memerintahkan agar si Tukang kebun diberikan madu lebah sebanyak yang ia inginkan.

Rusa angin istimewa ini senang makan bunga dan buah-buahan di dalam kebun kesenangan raja. Si Tukang kebun membiarkan dirinya dilihat oleh rusa itu sedikit demi sedikit. Jadi rusa angin itu tidak akan terlalu takut. Kemudian ia mulai melumuri madu di atas rumput di mana rusa angin biasa datang untuk makan. Merasa cukup yakin, rusa itu mulai memakan rumput yang dilumuri madu. Tak lama kemudian, ia memperkuat keinginan untuk mencicipi rumput madu ini. Keinginannya yang kuat membuat ia datang ke kebun setiap hari. Tak lama lagi, ia tidak akan makan yang lainnya.

Sedikit demi sedikit, si Tukang kebun menghampiri rusa angin lebih dekat dan lebih dekat. Awalnya rusa angin akan melarikan diri. Tetapi belakangan, ia kehilangan rasa takut dan mulai berpikir bahwa si Tukang kebun tidak membahayakan. Si tukang kebun menjadi lebih dan lebih bersahabat, artinya ia dapat membuat si rusa makan rumput yang dilumuri madu itu dari tangannya. Si Tukang kebun terus melakukan ini untuk beberapa waktu, dengan maksud untuk membangun keberanian dan kepercayaan si rusa.

Sementara itu, si Tukang kebun memiliki sederetan tirai-tirai yang terpasang, membuat jalan setapak yang lebar, dari jauh di ujung kebun kesenangan raja sampai ke istana raja. Dari dalam jalan setapak ini, tirai-tirai itu akan menjaga rusa angin agar tidak melihat siapa pun yang mungkin akan membuatnya takut.

Ketika semuanya disiapkan, si Tukang kebun mengambil sekantung rumput dan sebotol madu. Ketika rusa angin muncul, si Tukang kebun kembali memberikan makan melalui tangannya. Secara berangsur-angsur, ia menggiring si Rusa jantan dengan menggunakan rumput yang sudah dilumuri madu, sampai akhirnya rusa angin mengikutinya tepat menuju ke dalam istana. Suatu ketika di dalam istana, penjaga istana menutup pintu-pintu dan rusa angin terperangkap. Melihat banyak orang di istana, rusa angin tiba-tiba menjadi sangat takut dan mulai berlari berkeliling dengan sangat gila, beruasaha untuk melarikan diri.

Raja datang ke dalam ruangan itu dan melihat rusa angin yang dilanda kepanikan. Raja berkata, “Dasar rusa angin! Bagaimana bisa dia mengalami situasi seperti itu? Seekor rusa angin adalah binatang yang tidak akan kembali ke tempat di mana ia sudah banyak melihat manusia selama tujuh hari penuh. Biasanya, jika seekor rusa angin takut sekali di dalam suatu tempat khusus, ia tidak akan kembali lagi seumur hidupnya! Tetapi lihat! Bahkan seekor makhluk pemalu yang liar bisa diperbudak oleh keinginannya yang kuat untuk mencicipi sesuatu yang manis. Kemudian ia dapat dipikat ke tengah-tengah kota dan bahkan ke dalam istana.”

“Teman-temanku, guru-guru memperingatkan kita agar tidak terlalu melekat kepada tempat di mana kita tinggal, juga untuk segala sesuatu yang sudah berlalu. Mereka berkata bahwa menjadi terlalu melekat kepada kumpulan kecil teman-teman adalah keterikatan dan membatasi pandangan luas. Tetapi lihatlah betapa keinginan kuat yang sederhana terhadap rasa manis lebih berbahaya, atau sensasi rasa apa pun lainnya. Lihatlah bagaimana binatang indah yang pemalu ini terperangkap oleh tukang kebunku, dengan cara mengambil keuntungan dari keinginan kuatnya untuk mencicipi.”

Karena tak bermaksud untuk menyakiti si rusa angin. Raja melepaskannya ke hutan. Ia tak pernah kembali ke kebun kerajaan dan tidak pernah merindukan rasa dari rumput madu.

Pesan moral: Lebih baik makan untuk hidup, daripada hidup untuk makan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

RUSA GUNUNG JANTAN DAN RUSA KAMPUNG BETINA (Kegilaan)


Pada suatu ketika, di India Utara, ada sekumpulan rusa dari kampung rusa. Mereka terbiasa tinggal di dekat perkampungan mereka lahir dan tumbuh besar di sana. Mereka tahu kalau mereka harus sangat hati-hati di dekat penduduk. Khususnya di saat benar-benar masa panen, ketika gandum-gandum tumbuh tinggi dan para petani memasang perangkap dan membunuh rusa mana pun yang datang mendekat.

Ketika masa panen, rusa kampung tinggal di dalam hutan sepanjang hari penuh. Mereka hanya datang mendekati kampung pada waktu gelapnya malam. Salah satu dari mereka adalah seekor rusa betina muda yang cantik. Ia memiliki bulu halus coklat kemerah-merahan, ekor dengan bulu putih yang halus dan kedua mata besar lebar yang cermelang.

Selama musim yang khusus ini, ada seekor rusa gunung jantan yang sudah berkeliaran ke dalam hutan dataran rendah yang sama. Suatu hari, ia melihat seekor rusa betina muda yang cantik itu dan seketika itu juga menjadi tergila-gila dengannya. Ia tak tahu apa pun tentang rusa betina itu. Tetapi ia membayangkan dirinya sendiri menjadi jatuh cinta sangat dalam kepadanya, bukan hanya bulu coklat kemerahan-kemerahannya dan ekor putih berbulu halus atau kedua mata besarnya yang lebar dan cemerlang. Dia bahkan bermimpi tentangnya, meskipun rusa betina itu tidak tahu keberadaannya.

Setelah beberapa hari, rusa gunung jantan muda memutuskan untuk memperkenalkan dirinya. Seraya ia sedang berjalan keluar menuju tempat di mana si rusa betina sedang memakan rumput, ia terpesona oleh rupa si rusa betina dan tidak dapat berhenti memandangnya. Ia memulai pembicaraan, “Oh manisku yang cantik, sama indahnya seperti bintang-bintang dan sama terangnya seperti bulan. Aku menyatakan kepadamu kalau aku sangat…” Persis kemudian kuku rusa jantan muda tersangkut di akar pohon, dia tersandung dan jatuh, dan wajahnya tercebur di dalam kubangan lumpur! Rusa betina kampung yang cantik itu tersanjung, jadi ia tersenyum. Tetapi di dalam hati, ia berpikir kalau rusa jantan gunung ini benar-benar agak bodoh!

Sementara itu, tanpa diketahui oleh rusa-rusa itu. Ada kaum peri pohon hidup di dalam bagian hutan tersebut. Mereka telah mengamati rusa jantan gunung, pada saat rusa jantan secara diam-diam memperhatikan rusa kampung betina. Ketika rusa gunung jantan mulai berjalan keluar ke tempat terbuka, memulai pembicaraannya, dan tercebur di dalam kubangan lumpur — peri-peri itu tertawa dan tertawa. “Sungguh bodohnya kedua binatang ini” mereka berteriak. Tetapi satu peri tidak tertawa, ia berkata “Aku takut kalau ini adalah sebuah peringatan untuk kedua rusa yang bodoh ini!”

Rusa jantan muda itu sedikit merasa malu, tetapi ia tidak melihat itu sebagai peringatan apa pun. Sejak itu, ia mengikuti rusa betina kemanapun rusa betina pergi. Ia tidak berhenti mengatakan kepada rusa betina alangkah cantiknya rusa betina dan betapa ia begitu mencintainya. Rusa betina tidak begitu menanggapinya.

Kemudian malam hari tiba, dan ini adalah saatnya bagi rusa betina untuk turun ke kampung. Penduduk yang tinggal di sepanjang jalan mengetahui kalau rusa-rusa lewat di malam hari. Jadi mereka menyiapkan perangkap-perangkap untuk menangkap mereka. Malam itu seorang pemburu menunggu, bersembunyi di belakang semak-semak.

Dengan hati-hati, rusa kampung betina turun keluar hutan. Si rusa gunung jantan yang masih saja menyanyikan pujian-pujian untuknya, pergi bersama dengannya. Rusa betina berhenti dan berkata kepadanya, “Rusa jantanku sayang, kau tidak berpengalaman untuk berkeliaran di kampung-kampung. Kau tidak tahu betapa bahayanya manusia. Kampung dan jalannya, dapat membawa kematian kepada seekor rusa bahkan pada malam hari. Karena kau masih sangat muda dan tidak berpengalaman (dan rusa betina berpikir kepada dirinya sendiri, ‘dan bodoh’), kau seharusnya tidak ikut turun ke kampung denganku, kau harus tetap tinggal di dalam hutan yang aman.

Mengetahui hal ini, para peri pohon bertepuk tanggan tetapi tentu saja, rusa-rusa itu tidak dapat mendengar mereka.

Rusa jantan muda tidak memperdulikan peringatan rusa betina. Ia hanya berkata, “Matamu kelihatan sangat indah dalam sinar bulan!” dan terus berjalan mengikutinya. Si rusa betina berkata, “Jika kau tidak ingin mendengarkan ku, setidaknya diamlah!” Rusa jantan sangat tergila-gila kepadanya, ia tidak dapat mengendalikan pikirannya, tetapi akhirnya ia menutup mulutnya.

Tak lama kemudian, mereka mendekati tempat di mana si pemburu sedang bersembunyi di belakang semak-semak. Para peri melihatnya, dan menjadi gelisah serta takut akan keselamatan rusa-rusa itu. Mereka terbang dengan gelisah di sekeliling batang-batang pohon, tetapi mereka hanya dapat menyaksikan.

Rusa betina dapat mencium bau laki-laki yang sedang bersembunyi itu. Ia takut oleh perangkap, jadi ia berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, ia membiarkan si rusa jantan jalan terlebih dahulu, ia sedikit berjalan di belakangnya.

Ketika si pemburu melihat rusa gunung jantan yang tak diduga, ia menembakan anak panahnya dan membunuh rusa jantan dengan segera. Melihat hal itu, rusa betina yang ketakutan itu berbalik dan lari kembali ke hutan secepat yang dia bisa.

Pemburu memastikan bunuhannya. Ia mulai menyalakan api, mengikuti si rusa, memasak beberapa daging rusa itu dan memakannya sampai kenyang. Ia melemparkan bangkai rusa itu keatas punggungnya dan membawanya pulang untuk memberi makan keluarganya.

Ketika peri-peri melihat apa yang terjadi, beberapa dari mereka menangis. Ketika menyaksikan pemburu memotong rusa jantan yang dulu terlihat mulia, beberapa dari mereka merasa sakit. Peri lainnya menyalahkan rusa betina yang berhati-hati karena telah mengarahkan si rusa jantan kepada si pembatai.

Tetapi peri yang bijaksana, yang sudah memberikan peringatan awal, berkata, “Kegembiraan dari kegilaanlah yang membunuh rusa yang bodoh itu. Keinginan buta membawa kebahagiaan yang palsu pada awalnya, tetapi berakhir dengan kesakitan dan penderitaan.”

Pesan moral : Kegilaan menimbulkan kehancuran.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

RAJA RUSA BANYAN



(Seri 1. Belas Kasihan)

Suatu ketika, seekor rusa yang cantik dan istimewa dilahirkan di dalam hutan dekat Benares, India Utara. Walaupun besarnya sama seperti seekor kuda jantan muda, tetapi ibunya mudah waktu melahirkannya. Ketika si rusa ini membuka matanya, kedua matanya sama cermelangnya seperti batu permata yang berkilauan. Mulutnya sama merahnya dengan buah berry hutan yang paling merah, kuku-kukunya sehitam bara gosok, tanduk kecilnya berkilauan seperti perak dan warnanya keemas-emasan bagai fajar di musim panas. Ketika ia tumbuh besar, sekawanan 500 rusa berkumpul di sekelilingnya dan ia menjadi dikenal sebagai Raja Rusa Banyan.

Sementara itu, tidak jauh, rusa jantan yang cantik lainnya dilahirkan, warnanya seperti emas yang sangat bagus. Lambat laun, kawanan 500 rusa yang terpisah datang mengikutinya dan ia dikenal sebagai Rusa Ranting.

Pada waktu itu Raja Benares sangat suka memakan daging rusa. Jadi ia secara rutin memburu dan membunuh rusa-rusa. Setiap kali ia berburu, ia pergi ke desa yang berbeda dan memerintahkan penduduk untuk melayaninya. Mereka harus menghentikan apa yang sedang mereka kerjakan, apakah membajak atau memanen padi atau apa pun, dan bekerja dalam pesta pemburuan raja.

Penduduk yang tinggal di desa itu merasa terganggu dengan hal ini. Mereka menanam sedikit tanaman, dan usaha lainnya juga hasil pendapatan menjadi berkurang. Jadi mereka datang bersama-sama dan memutuskan untuk membangun taman rusa yang besar untuk raja di Benares. Di sana raja bisa berburu sendiri, tanpa perlu memerintahkan pelayanan dari para penduduk desa.

Untuk itu para penduduk membangun sebuah taman rusa. Mereka membuat kolam-kolam genangan air, di mana rusa dapat minum, lalu menambahkan pohon-pohon dan rumput-rumput untuk mereka makan. Ketika semuanya sudah siap, orang-orang tersebut membuka gerbang dan pergi keluar menuju hutan-hutan terdekat. Mereka mengepung seluruh kawanan-kawanan rusa Banyan dan Ranting. Lalu dengan tongkat, senjata, dan suara gaduh yang dibuat, mereka mengiring semua rusa-rusa itu menuju perangkap taman rusa dan mengunci pintu gerbangnya dari belakang.

Setelah rusa-rusa tersebut sudah tenang, para penduduk pergi menemui raja dan berkata, “Panen dan pendapatan kami berkurang karena keperluan pemburuan Anda. Sebuah taman rusa yang aman dan menyenangkan, di mana Anda dapat berburu sendiri sesuka Anda. Tanpa perlu bantuan dari kami, Anda dapat menikmati keduanya, berburu dan makan daging rusa.”

Raja pergi ke taman rusa yang baru itu. Di sana, ia merasa senang melihat kawanan rusa yang sangat banyak. Ketika mengamati mereka, dua ekor rusa keemasan yang bagus sekali dengan tanduk yang besar dan tumbuh sempurna menarik perhatiannya. Karena raja mengagumi kecantikannya yang luar biasa, raja memberikan kebebasan kepada kedua rusa itu untuk tidak dijadikan target buruannya. Ia memerintahkan bahwa rusa-rusa itu harus benar-benar aman, tak ada yang dapat menyakiti atau membunuh mereka.

Sehari sekali raja akan datang dan membunuh seekor rusa untuk makan malamnya. Kadang-kadang, ketika ia terlalu sibuk, tukang masak istana yang akan melakukan pemburuan. Tubuh rusa itu kemudian akan dibawa ke tempat pemotongan untuk dipotong yang kemudian dipanggang.

Kapan pun rusa-rusa itu melihat busur dan panah, mereka panik, gemetar untuk hidup mereka. Mereka lari berkeliling secara beramai-ramai, beberapa dari mereka terluka dan banyak yang menderita karena kesakitan.

Suatu hari, kawanan Rusa Raja Banyan berkumpul mengelilinginya. Ia memanggil Rusa Ranting dan dua kawanan bergabung mengadakan pertemuan. Raja Rusa Banyan mengatakan kepada mereka, “Walaupun pada akhirnya, tak ada satu pun yang lolos dari kematian, penderitaan berkepanjangan yang tiada gunanya karena terluka dapat dicegah. Selama Raja hanya menginginkan daging dari seekor rusa setiap harinya, biarkan rusa itu dipilih oleh kita setiap harinya untuk menyerahkan dirinya ke balok pemotong. Satu hari dari kawananku dan hari berikutnya dari kawanan Rusa Ranting, kumpulan korban akan jatuh kepada satu rusa sekaligus.”

Rusa Ranting setuju. Mulai selanjutnya, rusa yang mendapat giliran, tanpa perlawanan, menyerahkan dirinya dan menaruh lehernya di atas balok. Tukang masak datang setiap harinya, membunuh dengan mudah korban yang sudah menunggu dan menyiapkan santapan daging rusa raja.

Suatu hari, giliran jatuh kepada seekor rusa betina yang sedang mengandung pada kawanan Rusa Ranting. Demi untuk menyelamatkan dirinya dan rusa lainnya begitu juga rusa yang belum dilahirkannya. Rusa betina ini menghadap kepada Rusa Ranting dan berkata, “Rajaku, aku sedang hamil. Biarkanlah aku tetap hidup sampai aku sudah melahirkan anakku. Kemudian kami akan memenuhi dua giliran dari pada hanya satu. Ini akan mengamankan satu giliran dan dengan demikian satu kehidupan untuk satu hari yang panjang.”

Rusa Ranting menjawab, “Tidak, tidak, aku tidak dapat mengubah peraturan-peraturan di tengah kekacauan dan menaruh giliranmu di atas yang lainnya. Kehamilan itu adalah milikmu, dan bayi itu adalah tanggung jawabmu. Sekarang tinggalkan aku.”

Setelah gagal dengan Rusa Ranting, ibu rusa yang malang ini pergi menemui Raja Rusa Banyan dan menjelaskan keadaan dirinya. Rusa Banyan menjawab dengan lembut, “Pergilah dengan damai. Aku akan mengganti peraturan-peraturan di tengah kekacauan dan menaruh giliranmu di atas yang lainnya.” Kemudian Raja Rusa pergi ke balok eksekusi, meletakan leher keemasannya di atas balok itu.

————————————————————–

Kesunyian menyelimuti taman rusa itu, dan beberapa yang menceritakan cerita ini bahkan berkata, kesunyian itu bahkan menyelimuti alam-alam lain yang tidak terlihat dari sini.

————————————————————–

Tak lama kemudian tukang masak kerajaan datang untuk membunuh rusa yang bersedia dikorbankan di atas balok. Tetapi ketika ia melihat korban itu adalah salah satu dari dua rusa emas yang telah diperintahkan raja untuk dikecualikan, si tukang masak itu takut untuk membunuhnya. Jadi, ia pergi dan memberitahu Raja Benares.

Raja terkejut, untuk itu ia pergi ke taman. Ia berkata kepada rusa keemasan yang masih terbaring di atas balok, “Oh Raja Rusa. Apakah aku tidak berjanji untuk menyelamatkan hidupmu? Apa alasanmu untuk datang ke sini seperti rusa-rusa lainnya?”

Raja Rusa Banyan menjawab, “Oh Raja manusia, saat ini seekor rusa betina yang hamil tidak cukup beruntung menjadi rusa yang akan mati. Dia memohon kepadaku untuk menyelamatkannya, demi rusa-rusa lainnya seperti juga bayinya yang belum dilahirkan begitu juga demi dirinya sendiri. Aku tidak dapat membantunya, tapi aku merasakan diriku berada di posisinya dan merasakan penderitaannya. Aku tidak dapat membantu, hanya menangis, berpikir si rusa kecil tidak akan pernah melihat senja, tidak akan pernah merasakan embun. Aku juga tidak dapat memaksakan kesakitan dari kematian kepada rusa lainnya yang merasa lega bahwa hari ini bukanlah gilirannya. Untuk itu, Raja yang kuat, aku memberikan hidupku demi rusa betina dan anaknya yang belum lahir. Dijamin tidak ada alasan lainnya.”

Raja benares diliputi kegembiraan. Kegembiraan yang sangat kuat seperti dirinya, air mata jatuh di pipinya. Lalu dia berkata, “Oh… Raja yang hebat, Raja Rusa Keemasan, bahkan di tengah-tengah manusia, aku belum pernah melihat seperti kau! Betapa kasih sayang yang besar, berbagi di dalam penderitaan makhluk lain! Betapa kemurahan hati yang besar, memberikan hidupmu untuk yang lain! Betapa kebaikan hati yang besar dan cinta yang lembut untuk semua kawanan rusamu. Berdirilah! Aku putuskan bahwa kau tidak akan pernah dibunuh olehku atau siapa pun di dalam kerajaanku, dan begitu juga si rusa betina dan anaknya.”

Tanpa mengangkat kepalanya, si rusa keemasan berkata, “Apakah hanya kami yang diselamatkan? Bagaimana dengan rusa lainnya yang ada di dalam taman, teman-teman dan keluarga kami?” Raja berkata, “Rajaku, aku tidak dapat menolakmu. Aku menghadiahkan keamanan dan kebebasan untuk semua rusa yang ada di dalam taman.” Lalu bagaimana dengan rusa-rusa yang berada di luar taman, akankah mereka dibunuh?” Tanya Banyan. “Tidak. Rajaku. Aku menyelamatkan semua rusa-rusa yang berada di dalam seluruh kerajaanku.”

Si rusa keemasan tetap tidak mengangkat kepalanya. Ia memohon, “Jadi rusa-rusa akan aman. Tetapi bagaimana dengan binatang berkaki empat lainnya?” “Rajaku, mulai dari sekarang mereka juga akan aman di negeriku.” “Dan bagaimana dengan burung-burung? Mereka juga ingin hidup.” “Iya, Rajaku, burung-burung juga akan diamankan dari kematian tangan-tangan manusia.” “Lalu bagaimana dengan ikan-ikan yang hidup di dalam air?” “Bahkan ikan akan bebas untuk hidup, Rajaku.” Setelah berkata, Raja Benares melarang berburu dan membunuh semua binatang di negerinya.

Setelah memohon untuk kehidupan semua makhluk-makhluk, makhluk yang hebat itu berdiri.

(Bagian 2. Ajaran)

Di luar dari rasa belas kasih dan terima kasih, Raja Rusa Banyan makhluk yang tercerahkan mengajarkan Raja Benares. Ia menasihati Raja untuk menempuh 5 tahap pelatihan, dengan maksud untuk mensucikan pikirannya. Ia menjelaskan pelatihan itu dengan berkata, “Ini akan bermanfaat bagimu, jika kau melepaskan lima perbuatan yang tidak berfaedah seperti:

–          Melakukan pembunuhan, ini bukanlah belas kasih

–          Mengambil yang tidak diberikan, ini bukanlah kemurahan hati

–          Melakukan tindakan asusila, ini bukanlah cinta kasih dan kebaikan hati

–          Berbicara yang tidak sebenarnya, ini bukanlah kebenaran

–          Hilang kesadaran karena minuman keras, ini mengarahkan kepada pelanggaran keempat tahap awal.”

Kemudian Raja Rusa Banyan menasihati Raja untuk melakukan perbuatan-perbuatan berfaedah, yang akan membawa kebahagiaan di dalam kehidupan ini dan alam selanjutnya. Lalu ia dan kedua kawanannya kembali ke hutan.

Ketika waktunya tiba, si Rusa betina yang hamil, yang telah tinggal bersama kawanan Rusa Banyan, melahirkan seekor anak rusa. Anak rusa itu sama indahnya dengan teratai mekar yang diberikan sebagai sebuah persembahan kepada dewa.

Ketika anak rusa itu sudah tumbuh menjadi seekor rusa jantan muda, ia mulai bermain dengan kumpulan Rusa Ranting. Melihat hal ini, ibunya berkata kepada anaknya, “Lebih baik hidup dengan umur pendek dengan makhluk yang memiliki kasih sayang yang besar daripada hidup dengan umur panjang dengan makhluk yang biasa-biasa saja.” Setelah itu, anaknya hidup dengan bahagia di kawanan Raja Rusa Banyan.

Satu-satunya yang hidup dengan tidak bahagia adalah petani-petani dan penduduk kerajaan. Dengan diberikan kebebasan secara penuh oleh Raja, rusa-rusa mulai memakan hasil-hasil panen petani tanpa rasa takut. Mereka bahkan memakan rumput yang ada di dalam kebun sayur-mayur penduduk dan di dalam kota Benares sendiri.

Untuk itu para penduduk melakukan protes kepada raja dan meminta ijin untuk membunuh setidaknya beberapa ekor rusa sebagai peringatan. Tetapi raja berkata, “Aku sendiri sudah menjanjikan kebebasan sepenuhnya kepada Raja Rusa Banyan. Aku akan menyerahkan tahtah sebelum aku akan melanggar kata-kataku kepadanya. Tidak ada satu pun yang boleh melukai seekor rusa!”

Ketika Raja Rusa Banyan mendengar hal ini, ia berkata kepada semua rusa, “Kau seharusnya tidak memakan hasil panen milik orang lain.” Dan ia mengirim pesan kepada para penduduk. Selain meminta untuk membuat pagar pembatas, ia juga meminta mereka untuk mengikat sekumpulan daun-daun sebagai batas di sekeliling ladang mereka. Hal ini memulai kebiasaan orang India untuk menandai ladang-ladang dengan mengikat daun-daun, cara ini sudah melindungi mereka dari rusa sampai saat ini pun.

Keduanya, Raja Rusa Banyan dan Raja Benares menjalani hidup mereka dalam kedamaian, meninggal dan dilahirkan sebagaimana layaknya perbuatan mereka.

Pesan moral: Di mana pun berada, belas kasih adalah sebuah tanda dari kejayaan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

SI CANTIK DAN SI ABU-ABU (Pemimpin yang Bijaksana)


Suatu ketika, ada seekor rusa pemimpin dari ribuan rusa lainnya. Ia memiliki dua orang anak laki-laki. Anaknya yang satu sangat kurus dan tinggi, dengan mata yang tajam dan cermelang, bulunya halus kemerah-merahan. Dia dipanggil si Cantik. Anak satunya memiliki bulu dengan warna abu-abu, tubuhnya juga kurus dan tinggi, dan dia dipanggil si Abu-abu.
Suatu hari, setelah mereka benar-benar tumbuh besar, ayah mereka memanggil untuk menghadap. Ayahnya berkata, “Sekarang aku sudah sangat tua, jadi aku tidak bisa melakukan semua yang dibutuhkan untuk menjaga kumpulan besar rusa ini. Aku ingin kalian, kedua anak-anakku yang sudah besar menjadi para pemimpin. Kita akan membagi kumpulan dan masing-masing dari kalian akan memimpin 500 ekor rusa.”

Di India, ketika musim panen datang, para rusa selalu dalam bahaya. Beras yang ada pada tempat paling tinggi, membuat rusa-rusa yang tidak dapat mencapainya menuju padi-padi dan memakannya. Untuk menghindari kerusakan panen mereka, manusia menggali lubang, memasang pancang-pancang tajam di dalam tanah, dan membangun perangkap batu-batu. Semuanya itu untuk menangkap dan membunuh rusa-rusa.

Mengetahui ini adalah saatnya musim panen, rusa tua yang bijaksana memanggil dua pemimpin barunya untuk menghadap. Ia menasihati mereka untuk membawa kumpulan rusa naik ke dalam hutan gunung, jauh dari bahaya tanah-tanah perkebunan. Ini adalah cara bagaimana ia selalu melindungi rusa-rusa dari terluka dan pembunuhan. Kemudian ia akan membawa mereka kembali ke dataran-dataran rendah setelah musim panen berakhir.

Karena rusa tua bijaksana itu terlalu tua dan lemah untuk melakukan perjalanan, ia akan tetap tinggal dalam persembunyian. Ia memperingatkan mereka agar hati-hati dalam perjalanan. Si Cantik bersiap-siap bersama kumpulannya untuk pergi ke hutan di atas gunung, begitu juga dengan si Abu-abu bersama kumpulannya.

Orang-orang desa mengetahui bahwa inilah saatnya bagi rusa-rusa berpindah dari tanah-tanah perkebunan di daratan rendah menuju daerah pedalaman dataran tinggi. Jadi mereka bersembunyi sepanjang jalan itu dan membunuh rusa-rusa ketika melintas.

Si Abu-abu tidak memperhatikan nasehat bijaksana ayahnya. Bukannya hati-hati dan melakukan perjalanan dengan aman, ia malah terburu-buru menuju hutan gunung yang lebat. Jadi ia menggerakkan kumpulannya secara terus-menerus. Selama malam hari, fajar juga petang hari dan bahkan pada waktu siang bolong. Ini mempermudah bagi orang-orang itu untuk menembak rusa-rusa di dalam kumpulan si Abu-abu dengan panah dan busur. Banyak rusa-rusa terbunuh dan terluka yang kemudian mati karena kesakitan. Si Abu-abu mencapai hutan dengan hanya beberapa rusa yang masih hidup.

Si Cantik, si rusa tinggi dengan bulu kemerah-merahan yang mengkilap, cukup bijaksana untuk mengerti bahaya bagi kumpulannya yang sedang bergerak untuk itu dia sangat hati-hati. Ia tahu bahwa di siang hari tidaklah aman, atau bahkan saat subuh ataupun senja. Jadi ia memimpin kumpulannya keliling perkampungan, dan hanya bergerak pada tengah malam. Kumpulan si Cantik sampai di dalam hutan gunung dengan aman dan sehat, tak ada satu pun rusa yang terbunuh dan terluka.

Kedua kawanan rusa bertemu, dan menetap di dalam gunung-gunung sampai musim panen benar-benar telah berakhir. Lalu mereka mulai kembali ke daerah tanah pertanian. Si Abu-abu belum belajar apa pun dari perjalanan pertamanya. Ketika cuaca di gunung semakin dingin. Ia terburu-buru untuk sampai di daerah dataran rendah yang hangat. Jadi ia sama ceroboh seperti sebelumnya. Sekali lagi para penduduk desa yang bersembunyi di sepanjang jalan menyerang dan membunuh rusa-rusa itu. Semua kumpulan rusa si Abu-abu dibunuh yang kemudian akan dimakan dan dijual oleh para penduduk desa. Si Abu-abu sendiri adalah satu-satunya rusa yang selamat dalam perjalanan.

Si Cantik memimpin kumpulannya dengan cara hati-hati sama seperti sebelumnya. Ia membawa kembali semua 500 rusa-rusanya dengan selamat. Sementara rusa-rusa masih dalam perjalanan. Si pemimpin yang lama, ayahnya berkata kepada rusa betinanya, “Lihat rusa-rusa itu sudah kembali. Si Cantik datang bersama semua pengikut-pengikutnya. Si Abu-abu datang seorang diri, tanpa semua kumpulan 500 rusanya. Mereka yang mengikuti pemimpin yang bijaksana dengan kualitas yang baik, akan selalu aman. Mereka yang mengikuti pemimpin yang bodoh, yang ceroboh dan berpikir akan dirinya sendiri, akan jatuh ke dalam masalah-masalah dan binasa.”

Setelah beberapa waktu, si rusa tua meninggal dan terlahir kembali sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Si Cantik menjadi pemimpin kumpulan rusa dan hidup panjang umur, dicintai dan dikagumi oleh semua kawanannya.

Pesan moral : Pemimpin yang bijaksana mengutamakan keamanan dari pengikut-pengikutnya.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50