Pelindung-pelindung Dunia


Oleh : Bhikkhu Bodhi

Penerjemah : Harianto

Editor: Selfy Parkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Seperti dewa dalam mitologi romawi – Janus, setiap manusia menghadapi dua arah yang berlawanan secara bersamaan. Dengan satu sisi dari kesadaran, kita memandang dengan seksama pada diri kita dan menjadi sadar terhadap diri kita sebagai individu yang dimotivasi oleh suatu desakan yang mendalam untuk menghindari penderitaan dan untuk menyelamatkan diri sendiri, serta menggapai kebahagiaan. Dengan sisi lain, kita memandang dunia ini dengan seksama dan menemukan bahwa hidup kita berhubungan satu sama lainnya, bahwa kita ada sebagai simpul dari sebuah jaringan hubungan yang amat luas dengan mahkluk lain yang nasibnya terikat dengan nasib kita. Oleh karena struktur hubungan dari keberadaan kita, kita terlibat dalam suatu interaksi dua arah yang terus-menerus dengan dunia ini: pengaruh dari dunia ini mendesak diri kita, membentuk dan merubah sikap serta pola kecenderungan diri kita, ketika sikap dan watak kita mengalir keluar ke dunia, suatu dorongan yang memengaruhi kehidupan mahkluk lain untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Kesatuan hubungan satu sama lain ini antara wilayah/ranah dalam dan luar memperoleh suatu urgensi tertentu untuk kita sekarang ini, kemorosotan standar etika yang merajarela dan menjalar di seluruh penjuru dunia. kemerosotan moral seperti ini sama tersebarnya dalam masyarakat yang menikmati taraf kemakmuran dan kestabilan yang nyaman, sama seperti di negara yang miskin dan putus asa menjadikan pelanggaran moral sebagai aspek utama perjuangan untuk bisa bertahan hidup. Tentu saja kita tidak boleh terlarut dalam fantasi warna pastel tentang masa lalu, membayangkan kita hidup di Taman Eden sampai penemuan mesin uap. Kekuatan penggerak hati manusia tidak banyak berubah selama bertahun-tahun, terhadap penderitaan manusia, dorongan tersebut telah melampaui perkiraan. Namun apa yang kita temukan sekarang ini merupakan suatu paradoks aneh yang akan menarik jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak baik: ketika terlihat bahwa lebih banyak yang berperilaku sesuai dengan moral dan nilai-nilai kemanusiaan, pada saat yang sama perbuatan dan perilaku yang jauh bertolak-belakang dengan nilai-nilai tersebut terjadi. Perlawanan dengan perlahan terhadap nilai-nilai etika konvensional ini merupakan sebagian hasil dari internasionalisasi perdagangan dan penetrasi global dari hampir semua media komunikasi. Keuntungan pribadi pihak tertentu, dalam rangka pencarian kekuasaan yang lebih luas dan keuntungan yang lebih besar, menghasilkan suatu aksi terorganisir bertujuan pada eksploitasi akan kerentanan nilai moral kita. Aksi ini berlanjut dalam langkah yang lebih menyeluruh, menyerbu setiap bagian dan sudut dalam hidup kita, tanpa memerhatikan konsekuensi jangka panjang terhadap individu dan masyarakat. Akibat-akibat tersebut jelas merupakan kejadian dalam masalah-masalah yang kita hadapi, masalah yang tidak terbatas oleh perbedaan bangsa: kenaikan tingkat kriminalitas, penyebaran kecanduan obat terlarang, pengerusakan lingkungan hidup, perbudakan anak dan prostitusi, perdagangan ilegal dan pornografi, penurunan nilai dalam keluarga sebagai kesatuan pendidikan moral, kepercayaan dan kasih sayang. Continue reading

Advertisements

Mentari Pagi


“Mentari Pagi” (365 Dharma Pencerah Hati) oleh Penerbit Ehipassiko!

Spesifikasi Buku:

Judul: Mentari Pagi

Penulis: Selfy Parkit

Penyunting: Vina Swarnadhita

Handaka Vijjànanda

Penata Letak dan Sampul: Vidi Yulius

Penerbit: Ehipassiko

Print

Cover Book

Ukuran dan ketebalan buku: ± 14 x 20 cm, 106 halaman

Aktivitas setiap orang dimulai ketika mereka bangun tidur, dan biasanya pada pagi hari. Isi buku ini mengajak kita untuk merenung sejenak dan memulai keseharian dengan awal yang cerah serta menemukan kebahagiaan di dalam diri sendiri.

365 rangkaian kata inspiratif dalam buku ini merupakan hasil pengalaman penulis sehari‐hari dalam mengarungi suka‐duka kehidupan yang dituangkan melalui kalimat singkat dan disusun rapih.

Seperti mentari pagi yang mencerahkan dan menghangatkan alam seisinya, begitulah seyogianya kita memulai aktivitas dengan memberi kecerahan dan kehangatan bagi setiap makhluk di sekitar kita.

****

Buku ini bisa didapatkan dengan berdana, namun dikarenakan stok sudah habis, maka untuk pencetakan ulang silakan SMS ke 085888503388 atau e-mail ke ehipassikofoundation@gmail.com

Life is Harder than Writing a Story


Here I am, trying to write again, making a note and talking to myself on this writing. Lama sekali tidak menulis, rasa enggan dan malas sibuk bercampur dengan aktivitas hidup yang tak pernah ada habisnya, dan juga terbius dengan rasa bahagia dunia, panah asmara dan bilur-bilur suka duka pokoknya banyak deh. Tak akan ada habisnya if I try to write one by one here kalian pasti bakal boring tingkat dewa.

Anyway Begitu banyak kata-kata indah di dalam otak gw, begitu banyak teori hidup di dalam pikiran g, begitu banyak bla bla bla gw tuangkan di dalam tulisan-tulisan gw, namun pada kenyataan life is harder than writing a story.

Di dalam sebuah cerita jika pacar kita marah, seyogyanya kita sebagai pasangan jangan ikutan marah kalau ga mau terjadi perang dunia kedua. Tapi Klo mo bikin ceritanya mendramatrisir itu lebih gampang lagi tinggal ikut-ikutan ngambek aja, kalo perlu semua binatang yang ada di kebun binatang diikut sertakan aja biar ceritanya tambah seru. Kalau mau bikin yang agak tragis sekalian aja piring, bangku, sendok ikut melayang biar dikira KDRT. Di dalam cerita semuanya bisa terjadi dan terserah si penulis bagaimana endingnya aja.

But in our life, jika hal itu terjadi bisa kah kita menahan diri untuk tidak ikut-ikutan marah jika pasangan kita marah atau berbuat salah? Bisakah hewan di kebun binatang diistirahatkan dulu perannya? Bisakah perabotan rumah tangga kita di taruh rapih di tempatnya? Bisakah ego kita diredam sejenak?

Perumpamaan berkata, batu yang sama-sama keras akan saling menghancurkan satu sama lainnya jika mereka dibenturkan. Begitu juga hubungan kita dengan orang lain, jika sama-sama mengeraskan ego yang terjadi adalah kita akan merusak hubungan kita dengan orang lain, dengan teman kita, pacar kita, keluarga kita dan dengan semua orang yang kita kasihi.

Life is really harder than writing a story. Di dalam cerita yang kita buat, kita bisa saja menempatkan cerita tambahan atau pun memotong bagian cerita yang kita ga suka seenak udel kita. But in life, cerita yang sudah terjadi, ya terjadilah. Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, kita tak bisa kembali di masa yang sudah lalu. Semua perkataan yang pernah kita lontarkan baik itu pujian atau pun caci maki, semuanya tidak mungkin kita tarik kembali.

Di dalam hidup kita, kita hanya mampu bergerak maju menjalani hari ke depan, mesin waktu untuk kembali ke masa lalu hanya ada di film-film atau cerita novel belaka, dan menyesali masa lalu hanyalah cara kita menghabiskan waktu dengan menyiksa diri (seperti perkataan bro Chuang di Bali).

Anyway, seberat-beratnya hidup, lebih berat klo angkat yang berat-berat. hahaha…. Hari ini boleh aja kesepian, boleh aja menangis, boleh aja menderita tapi ujung-ujungnya everything will be change, semuanya bakal berubah. Kalau saja menulis lebih mudah daripada menjalani hidup, mulai dari sekarang gw akan menulis kehidupan gw, namun bukan hanya di secarik kertas, tetapi di dunia kehidupan yang bakal gw jalani.

Sedih, duka kecewa adalah bagian dari kehidupan dan awal dari proses menuju kebahagiaan. Jika tidak ada teman yang menemani, masih ada burung yang berkicau di langit. Jika tidak ada uang di saku, masih ada seluling yang mengiringi hahaha…, apa hubungannya! maksudnya ngamen cari duit tambahan buat makan hari-hari :p

Anyway this is the end of my writing, life is still harder that writing a story, but it is harder if we think harder.

Let’s Enjoy Our Life.

Exif_JPEG_420

07 December 2013, at 11.49 pm

Nanjing-China

Selfy parkit

kita bisa memotong bagian cerita yang kita ga suka seenak udel kita.

“we always think that things concerning ourselves are most important and crucial, but those actually just like dusts blown in the winds… eventually dissolved by the arrow of time.” -Willy Yanto Wijaya

Bahagia dari Hal yang Kecil


By Selfy Parkit

Saat merasa tak bahagia terkadang sering sekali terlintas di benak saya ingatan masa kecil di mana saya merasa bahagia dengan hal-hal yang sekarang saya anggap sepele. Timbul pertanyaan nyaring di dalam diri saya mengapa hal itu bisa terjadi? Lalu mengapa kebahagiaan semacam itu mudah dirasakan dari hal-hal yang mungkin sekarang membosankan bagi saya. Dahulu sewaktu kecil, main tanah pun terasa amat membahagiakan bagi saya, duduk di tengah lapangan yang terdapat banyak kubangan air hujan yang baru saja turun, dengan sebatang kayu kering di tangan dan berjalan di atas tanah lapang yang berwarna merah kecoklatan, mengaduk-aduk air di dalam kubangan hingga kelihatan mirip susu coklat. Saya aduk-aduk kubangan air itu tanpa pernah merasa bosan, dan hayalan di pikiran kecil itu pun sudah dapat mengakibatkan kebahagiaan yang terus menerus menemani saya. Namun itu dulu, lalu bagaimana dengan sekarang?

Continue reading

Tak Perlu Bayar Untuk Menjadi Bahagia


by Selfy Parkit

Selfy ParkitTujuan hidup Anda sebagai manusia di dunia ini tentunya tak lain adalah untuk menjadi bahagia. Tidak perduli apakah Anda orang kaya, miskin, ganteng ataupun cantik, jelek, berpangkat ataupun tidak berpangkat, besar atau kecil, seorang bos atau karyawan, semuanya pasti menginginkan kebahagiaan. Bahkan seorang pencuri pun ingin dirinya bahagia, hanya saja cara yang dia lakukan untuk bahagia kuranglah tepat.

Banyak dari kita manusia cenderung mencari kebahagiaan dengan pergi ke tempat-tempat hiburan, kafe-kafe, klab-klab malam atau pergi menghabiskan uang untuk berbelanja di mall. Terkadang untuk itu semua kita harus mengeluarkan uang banyak hanya demi kesenangan sesaat ataupun membeli barang-barang yang tak seharusnya dibeli. Apakah untuk menjadi bahagia kita harus mengeluarkan uang banyak? Apakah kebahagiaan begitu mahal untuk diperoleh?

Tanpa kita sadari ternyata ada kebahagiaan yang gratis, tidak usah bayar atau mengeluarkan uang sepeser pun. Kebahagiaan yang gratis ini dapat dirasakan oleh semua makhluk, baik yang kaya maupun yang miskin, baik yang tinggi maupun yang pendek, baik yang ganteng atau cantik maupun yang jelek. Apakah dia seorang bos ataupun karyawan, seorang polisi ataupun seorang penjahat, beragama ataupun tidak, semua dapat merasakannya. Kebahagiaan ini tidak usah dicari di tempat yang jauh ataupun terpencil. Kebahagiaan ini juga tidak sulit didapat, kapan saja, dimana saja, setiap saat, setiap detik dan setiap waktu. Kapan pun kita dapat merasakan kebahagiaan yang gratis ini. Kebahagiaan yang tidak perlu mengeluarkan uang ini berada di dalam diri kita. Apakah itu??? Pastinya saat ini Anda sedang bertanya-tanya di dalam hati dan sibuk mencari tahu jawabannya. Apakah sebenarnya kebahagiaan yang gratis itu?? Sebelum Anda mengetahui jawabannya cobalah untuk tersenyum dan tarik nafas panjang, maka saat ini Anda sedang merasakan kebahagiaan yang gratis itu.

Posting asli artikel ini dapat dibaca juga di:

http://dhammacitta.org/artikel/tak-perlu-bayar-untuk-menjadi-bahagia/?#comment-2789

BHIKKHU YANG BAHAGIA (Kegembiraan Dari Kehidupan Spiritual)


Suatu ketika, ada laki-laki kaya terkemuka. Ketika ia menjadi lebih tua, ia menyadari bahwa penderitaan berumur tua sama halnya seperti kaya dan miskin. Jadi ia melepaskan kekayaan dan kedudukannya dan pergi ke dalam hutan untuk hidup sebagai seorang bhikkhu yang miskin. Ia berlatih meditasi dan mengembangkan pikirannya. Ia membebaskan dirinya dari pikiran-pikiran yang tidak berfaedah, menjadi merasa puas dan bahagia. Ketenangan dan keramahannya secara bengangsur-angsur menarik 500 pengikut pendampingnya.

Pada saat itu, dahulu kala, kebanyakan dari bhikkhu-bhikkhu biasanya kelihatan sangat serius. Tetapi ada satu orang bhikkhu yang walaupun ia sangat dihargai, ia selalu menampilkan paling sedikit tersenyum. Tak perduli apa pun yang terjadi, ia tidak pernah kehilangan cahaya kehagaiaan di dalam dirinya. Lalu dalam keadaan bahagia, ia memiliki senyum yang paling lebar dan tertawa yang paling hangat di antara semuanya.

Kadang bhikkhu-bhikkhu, orang lain akan bertanya kepadanya, kenapa ia sangat bahagia, selalu tersenyum. Ia tertawa kecil dan berkata, “Jika aku memberi tahumu, kau tidak akan percaya! Dan jika kau berpikir aku berkata bohong, ini akan menjadi sebuah aib untuk guruku.” Guru tua yang bijaksana tahu sumber dari kebahagiaan yang tidak akan bisa dihapus dari wajahnya. Ia menjadikan bhikkhu paling bahagia ini sebagai asisten utamanya.

Setahun setelah musim hujan, Bhikkhu tua dan 500 pengikutnya pergi ke kota. Raja mengijinkan mereka untuk tinggal di dalam kebunnya yang indah selama musim semi.

Raja ini adalah orang baik, yang sungguh-sungguh bertanggung jawab sebagai seorang raja. Ia berusaha melindungi rakyatnya dari bahaya, dan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan mereka. Ia harus selalu hati-hati mengenai kerajaan tetangga, beberapa dari mereka tidak ramah dan ada yang mengancam. Ia harus sering berdamai antara menteri-menteri negara saingannya.

Terkadang istri-istrinya bertengkar untuk mendapatkan perhatiannya, dan untuk kenaikan pangkat anak-anak mereka. Ada kalanya, persoalan ketidakpuasan bahkan mengancam hidup dari raja itu sendiri. Sudah tentu, ia tidak henti-hentinya harus khawatir tentang keuangan kerajaan. Pada kenyataannya banyak hal yang harus dikhawatirkannya, sehingga ia tidak pernah punya waktu untuk menjadi bahagia!

Ketika mendekati musim panas, ia tahu bahwa bhikkhu-bhikkhu sedang bersiap-siap untuk kembali ke hutan. Mengingat kesehatan dan kesejahteraan dari pemimpin yang tertua, raja pergi menemuinya dan berkata, “Yang terhormat, sekarang kau sangat tua dan lemah. Apa baiknya kembali ke hutan? Kau dapat mengirim pengikut-pengikutmu kembali, sementara kau tetap di sini.”

Kemudian kepala bhikkhu itu memanggil asisten utamanya dan berkata, “Sekarang kau adalah pemimpin bhikkhu lainnya, sementara kalian semua tinggal di dalam hutan. Karena aku terlalu tua dan lemah, aku akan tetap di sini seperti apa yang ditawarkan oleh Raja.” Jadi 500 orang bhikkhu itu kembali ke hutan dan bhikkhu tua tetap tinggal.

Asisten utama itu melanjutkan berlatih meditasi di hutan. Ia mendapatkan banyak sekali kebijaksanaan dan kedamaian yang membuatnya bahkan lebih bahagia dibandingkan sebelumnya. Ia merindukan gurunya dan ingin membagi kebahagiaannya bersama gurunya. Jadi ia kembali berkunjung ke kota.

Ketika asisten utama itu sampai, ia duduk di atas sebuah permadani di kedua kaki si Bhikkhu tua. Mereka tidak bicara terlalu banyak, tetapi sering sekali asisten utama akan berkata, “Kebahagiaan. Oh.. kebahagiaan!”

Kemudian raja datang berkunjung. Ia menunjukkan rasa hormatnya kepada bhikkhu kepala. Akan tetapi, bhikkhu yang dari hutan itu terus saja mengatakan “Kebahagiaan. Oh.. kebahagiaan!” Dia bahkan tidak berhenti untuk menyapa raja dan menunjukkan rasa hormat yang sepantasnya. Hal ini menggangu sang raja, dan ia berpikir, “Dengan segala kekhawatiranku, sesibuknya aku dalam mengurusi kerajaan. Aku menyediakan waktu luang untuk berkunjung dan bhikkhu ini tidak cukup menghormatiku bahkan mengenaliku. Sungguh sebuah penghinaan!” Ia berkata kepada bhikkhu senior dari dua orang bhikkhu itu, “Yang mulia, bhikkhu ini pasti bodoh karena kebanyakan makan. Itu sebabnya kenapa ia sangat dipenuhi oleh kebahagiaan. Apakah ia hanya bermalas-malas setiap saat?”

Si kepala bhikkhu menjawab, “Oh Raja, sabarlah dan aku akan memberitahu mu sumber dari kebahagiaannya. Tak banyak yang mengetahui hal ini. Dulu ia adalah seorang raja sama kaya dan hebatnya seperti Anda! Lalu ia ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu dan melepaskan kehidupannya sebagai raja. Saat ini ia berpikir bahwa kebahagiaannya yang dulu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kegembiraannya saat ini!”

“Ia terbiasa dikelilingi laki-laki bersenjata, yang menjaga dan melindunginya. Sekarang, duduk sendiri di dalam hutan tanpa takut apa pun, ia sudah tidak perlu penjaga yang bersenjata. Ia sudah melepaskan beban dari kekhawatiran tentang kekayaan yang harus dilindungi. Sebaliknya, bebas dari kekhawatiran akan kekayaan dan kekuatan rasa takut, kebijaksanaannya melindungi dirinya dan orang lain. Ia mengalami kemajuan dalam meditasinya sampai kepada kedamaian diri, yang membuatnya terus berkata, “Kebahagiaan! Oh.. kebahagiaan!”

Raja menjadi mengerti. Mendengar cerita bhikkhu yang bahagia membuatnya merasa damai. Ia tinggal sejenak dan menerima nasihat dari kedua bhikkhu tersebut. Kemudian ia menghormat mereka dan kembali ke istana.

Kemudian, si Bhikkhu bahagia yang pernah menjadi seorang raja menghormati gurunya dan kembali ke hutan. Bhikkhu ketua hidup sampai sisa hidupnya, meninggal dunia dan terlahir kembali di surga tingkat tinggi.

Pesan moral : Tak melekat oleh kekayaan dan kekuatan, akan meningkatkan kebahagiaan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Retret 2 Hari Bersama Guru Si Cacing (Ajahn Brahm)


Oleh Selfy Parkit

Hati bahagia tiada terkira ketika menerima SMS bahwa saya adalah salah satu manusia dari sekian ribu manusia yang diterima oleh Yayasan Nirlaba Ehipassiko sebagai peserta retret bersama Ajahn Brahm selama 2 hari yang diselenggarakan pada tanggal 28 – 29 Maret 2010. Bagi saya ini adalah berkah, mengingat hanya ada 108 orang saja yang akan diterima sebagai peserta. Bayangkan, banyak sekali waiting list (daftar antrian) orang dari beberapa kota besar yang akhirnya tidak dapat merasakan kebahagiaan yang kami rasakan di retret tersebut.

Tidak semua orang dapat menjumpai guru yang satu ini, tidak semua orang juga yang mempunyai kesempatan belajar darinya. Sungguh saya merasa amat bersyukur.

Persiapan

Hari sabtu sehari sebelum hari H, saya ikut ke Wihara Mandalawangi Serang tempat diadakannya retret, bersama dengan panitia dari Yayasan Ehipassiko yaitu Kartika dan Selvi Tjungandi (yang akrab dipanggil dengan Tjung, karena kebetulan nama kita berdua ternyata mirip) guna untuk persiapan hari esok. Diantar oleh mobil keluarga Bpk. Riyanto (Salah satu umat Wihara Mandalawangi), kami pun akhirnya sampai di Serang menempuh kurang lebih dua jam perjalanan. Sesampainya di tempat, saya, Kartika dan Tjung dibantu oleh ci Mori (Umat yang aktif membantu di hampir setiap kegiatan Buddhis) turut membantu persiapan panitia Wihara Mandalawangi. Semua panitia sungguh-sungguh berusaha keras dalam mempersiapkan acara tersebut. mulai dari mempersiapkan sound system, penerangan, tempat puja bakti, tempat meditasi, atap tenda, ruang kuti dan tempat tidur para yogi beserta konsumsi selama 2 hari. Semua dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, walaupun terkadang sound system mati hidup karena gangguan tekhnis. Akan tetapi semua persiapan tersebut menjadi terasa indah karena dilakukan dengan keiklasan dan keteguhan hati.

Guru Si Cacing datang

Hari H-nya pun tiba, umat dan peserta dari daerah setempat atau pun dari luar kota berduyun-duyun berdatangan dan mendaftar ulang. Banyak peserta yang ternyata batal datang, tetapi dengan cepat tergantikan oleh peserta waiting list. Namun kepadatan peserta sungguh tidak mengurangi keasrian dan kenyamanan di Wihara Mandalawangi yang tempatnya begitu luas.

Guru si cacing (Ajahn Brahm) akhirnya datang. Setelah beliau sampai di Wihara, tak lama kemudian acara pengambilan Atthasila (8 sila)pun dimulai. Keramaian menyelimuti tempat Dhammasala (Tempat Puja Bakti) yang terletak di alam terbuka, dikelilingi oleh rindang pepohonan yang begitu asri, sejuk dan damai, “Bagaikan hutan Jetawana” kata MoM Handaka (Pendiri Yayasan Ehipassiko). Tetapi memang berada di sana sungguh membuat hati saya damai.

Sebelum memulai meditasi, Ajahn Brahm memberikan sedikit ceramah Dhamma dan menjelaskan peraturan meditasi kepada kami, diikuti oleh tanya jawab dari beberapa peserta meditasi, kemudian disusul dengan makan siang. Makan siang itu adalah hidangan terakhir kami pada hari itu, karena para peserta sudah diwajibkan untuk menjalani Atthasila (tidak makan di atas jam 12 siang).

Meditasi Berdamai dengan Batin

Retret meditasi yang saya ikuti kali ini tidak jauh berbeda dengan retret-retret yang pernah saya ikuti sebelumnya. Hanya saja yang membuat perbedaannya menjadi nyata adalah kita tidak bergulat ataupun berusaha melawan batin kita sediri. Tidak mati-matian melawan kantuk, bosan, malas, kesal dan lain sebagainya. Akan tetapi, berusaha berdamai dengan mereka, mengasihi, menyayangi, dan menerima mereka apa adanya. Seperti apa yang dikatakan oleh Ajahn Brahm, “Apa pun kesalahan yang kamu lakukan pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu.” Begitu juga dengan batin kita yang malas dan mudah mengantuk, kesal tak bisa berkonsentrasi, bosan — berpindah-pindah ke masa lalu dan masa yang akan datang, banyak berpikir dan berkeinginan yang macam-macam, kita tidak berusaha melawan ataupun menolaknya tetapi menerima mereka apa adanya. Biarlah rasa kantuk itu datang dan pergi dengan sendirinya, biarlah rasa bosan, malas, kesal itu datang dan pergi dengan sendirinya, yang kita lakukan hanya mengasihi dan membiarkan mereka apa adanya. Oleh karena itu tidak heran jika saat itu ada beberapa umat yang tidur dan beristirahat, karena para peserta memang diperbolehkan untuk tidur dan beristirahat jika merasa lelah atau mengantuk. Cara ini pun diapplikasikan Ajahn Brahm pada retret-retret yang diselenggarakannya di Wihara Bodhiyana tempatnya tinggal di Australia. Ajahn Brahm bercerita bawasanya pada hari pertama retret sampai hari ketiga, biasanya peserta kelihatan malas dan banyak yang tertidur. Akan tetapi, di hari-hari selanjutnya peserta menjadi rajin dengan sendirinya dan malah ada yang rela meninggalkan acara makan siangnya untuk tetap bermeditasi. Memang kelihatannya lebih santai dari meditasi yang sering saya ikuti, namun terus terang saya malah menjadi merasa bersemangat dan ingin terus bermeditasi, dan saya pun merasa lebih bahagia.

Santai dan Melepas

Ada salah satu umat yang bertanya kepada Ajahn Brahm, bagaimana kalau pada dasarnya kita adalah orang yang malas, apakah metode ini cocok atau tidak. Karena biasanya meditasi dengan aturan yang ketat mampu memaksakan para meditator yang malas mau tidak mau untuk bermeditasi. Tetapi hasilnya malah ketegangan yang didapat. Ajahn Brahm berkata, batin ini jika semakin dilawan dan dipaksakan hasilnya adalah si batin semakin menjadi-jadi dan memberontak. Kita mengantuk, dan merasa malas karena batin kita lelah dan tidak menyukai kegiatan yang kita lakukan saat itu. Pada saat begitu yang dapat kita lakukan adalah berusaha menerima dan melepas, menerima apa adanya dan tidak memaksakannya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Biarkanlah batin berproses secara alami. Beristirahatlah terlebih dahulu jika merasa lelah atau mengantuk, karena akan ada saatnya di mana batin menjadi lebih segar dan bersemangat, dan saat itulah waktu yang paling tepat bagi batin untuk bermeditasi.

Ada 4 (empat) hal yang dikatakan oleh Ajahn Brahm dan perlu diperhatikan serta diterapkan dalam bermeditasi. Empat hal tersebut adalah sumber kebahagiaan yang juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama adalah berdana, memberi dan tak mengharap kembali. Kita bermeditasi sama halnya seperti memberikan diri kita sepenuhnya untuk bermeditasi, tanpa mengharap apa pun hasilnya. Tidak mengharapkan pencerahan, Jhana, Kesaktian atau lain sebagainya. Kita melakukan meditasi secara ikhlas, memberikan waktu dan perhatian kita sepenuhnya saat pada itu.

Kedua, melepas (give it up or let it go). Bermeditasi berarti melepaskan, yaitu melepaskan pemikiran-pemikiran masa lalu dan masa depan, keluarga (suami, istri dan anak-anak di rumah), bisnis dan pekerjaan, sekolah, dan lain sebagainya. Berusaha melepaskan dengan ikhlas dan merasa damai karenanya.

Ketiga, Kebebasan (freedom), yaitu merasa bebas dan bahagia di mana pun berada serta apa pun adanya. Di dalam kehidupan sehari-hari ataupun ketika kita bermeditasi, di mana pun tempatnya kita harus berusaha bahagia (be happy wherever you are). Ajahn Brahm berkata bahwa orang yang merasa tidak bahagia di mana pun dia berada, sama halnya seperti orang yang tinggal di penjara. Jadi orang yang merasa tidak bahagia di tempat tertentu seperti orang yang tidak bebas dan dipenjara. Bahagia apa pun adanya, yaitu bahagia seperti ketika mengalami kantuk, malas dan bosan. Bahagia memiliki mereka, berdamai serta memberikan kasih dan sayang kepada mereka (kantuk, malas dan bosan dsb).

Keempat dan yang terakhir Ajahn Brahm menyebutnya ‘Pikiran Teflon’ (Teflon Mind), saya mengartikannya sebagai tidak melekat terhadap satu pandangan atau persepsi yang kita anggap benar, Open minded (pikiran terbuka). Dalam meditasi kita berfokus pada satu objek, namun jika objek lain datang kita menerimanya dengan senang hati dan tidak merasa bersalah ataupun kehilangan atas objek yang telah berlalu sebelumnya. Jika konsentrasi kita dalam meditasi tiba-tiba terusik oleh rasa kantuk, terimalah rasa kantuk dengan senang hati, dengan cinta dan kasih sayang, apa adanya tanpa penolakan ataupun rasa kesal. Seperti kita membuka pintu hati kita terhadap batin kita, apa pun kesalahannya, kita akan selalu menerima dan menyayanginya.

­Membuka Pintu Hati

Hari pertama retret itu diakhiri oleh Dhamma talk dari Ajahn Brahm yang sangat mencerahkan dan cukup menghibur. Walaupun kadang sound system harus mati ditengah jalan, namun tidak mengurangi inti dari Dhamma yang disampaikan.

Di hari terakhir para yogi masih tetap bersemangat dalam bermeditasi. Sampai ketika ceramah Dhamma dan tanya jawab sempat turun hujan lebat yang mengguyur tepat di atas tenda yang didirikan di tempat latihan kami. Tetapi semangat dari para yogi (meditator) dan senyum lebar Ajahn Brahm tidak sama sekali mengurangi kebahagiaan kami di sana. Tidak ada yang menggerutu atau mengeluh dan mencacimaki turunnya hujan, kami hanya tersenyum menerima sang hujan sebagaimana apa adanya dan membiarkannya masuk ke dalam pintu hati kami, selayaknya membukakan pintu untuk batin kami yang masih belum tercerahkan.

# Dipublish di Majalah Sinar Padumuttara Edisi 8, Dapatkan segera majalahnya di Wihara Padumuttara Tangerang.