Bahagia dari Hal yang Kecil


By Selfy Parkit

Saat merasa tak bahagia terkadang sering sekali terlintas di benak saya ingatan masa kecil di mana saya merasa bahagia dengan hal-hal yang sekarang saya anggap sepele. Timbul pertanyaan nyaring di dalam diri saya mengapa hal itu bisa terjadi? Lalu mengapa kebahagiaan semacam itu mudah dirasakan dari hal-hal yang mungkin sekarang membosankan bagi saya. Dahulu sewaktu kecil, main tanah pun terasa amat membahagiakan bagi saya, duduk di tengah lapangan yang terdapat banyak kubangan air hujan yang baru saja turun, dengan sebatang kayu kering di tangan dan berjalan di atas tanah lapang yang berwarna merah kecoklatan, mengaduk-aduk air di dalam kubangan hingga kelihatan mirip susu coklat. Saya aduk-aduk kubangan air itu tanpa pernah merasa bosan, dan hayalan di pikiran kecil itu pun sudah dapat mengakibatkan kebahagiaan yang terus menerus menemani saya. Namun itu dulu, lalu bagaimana dengan sekarang?

Beberapa tahun mengajar anak-anak balita di sekolah, banyak hal yang dapat saya pelajari dan renungkan, yang pada akhirnya memberikan saya pelajaran tentang kenyataan hidup ini. Anak-anak kecil itu terkadang seperti layaknya kita orang dewasa yang belum mengerti kebenaran hidup serta bagaimana caranya hidup sesungguhnya – menjadi manusia yang manusiawi dan benar-benar hidup seperti manusia, yang katanya berintelektual, penuh kasih sayang, saling menolong dan peduli, dan berinteraksi serta bersosialisasi secara damai. Namun kenyataanya terkadang kita tidak bisa seperti mereka—anak-anak  yang mudah bahagia dari hal-hal yang sepele. Banyak orang akhir-akhir ini mengatakan bahwa untuk menjadi bahagia kita harus belajar dari anak-anak, sebagaimana sudah umum sekali mengutip kata-kata Yesus bahwa anak-anak adalah penghuni kerajaan surga. Namun perkataan Yesus saya yakin bukan semata-mata terucap begitu saja, jika kita telaah lebih lanjut dan memperhatikan kelakuan anak-anak yang mudah bahagia itulah maksud dari perkataan Yesus. Lalu bisakah kita menjadi bahagia dari hal-hal kecil yang kita temui di dalam hidup kita? Seperti apakah kebahagiaan dari hal yang kecil-kecil itu?

Kebahagiaan besar dari hal-hal yang begitu kecil, sering sekali kita rasakan ketika kita masih anak-anak dan lugu, namun ketika beranjak dewasa dan banyaknya persoalan hidup, hal-hal kecil semacam itu sering kali kita lupakan. Kita cenderung mencari hal-hal besar untuk dinikmati dan hal yang kecil itu seakan tidak lagi memuaskan bagi kita. Tuntutan syarat kebahagiaan kita menjadi terasa semakin tinggi hingga kita tidak lagi bisa merasa bahagia dari hal-hal kecil yang kita lakukan. Seorang penulis muda Vidi Yulius Sunandar mengatakan di dalam bukunya bahwa untuk menjadi bahagia kita seyogyanya tidak membuat syarat yang begitu rumit, dan tidak mudah untuk menjadi bahagia. Untuk itu penting sekali bagi kita dalam memaknai dan menetapkan syarat kebahagiaan di dalam hidup kita. Akan tetapi untuk dapat menetapkan syarat kebahagiaan yang begitu mudah tentunya dibutuhkan kebijaksanaan yang begitu besar.

Setelah kita besar dan beranjak dewasa tentu saja kegiatan yang kita lakukan sehari-hari berbeda dengan ketika kita masih kanak-kanak. Bukan berarti dalam hal ini kita meninggalkan kegiatan kita sebagai orang dewasa dan melakukan kegiatan layaknya anak-anak, seperti bermain-main tanah misalnya, walaupun kenyataannya kita masih bisa saja melakukan hal tersebut. Namun lebih dari itu kita bisa merasa bahagia dengan rutinitas yang telah kita kuasai saat ini yang tidak perlu dipelajari kembali pun kita selalu mampu melakukannya. Seperti apakah hal itu dilakukan? Seperti halnya seorang guru spiritual Thich Nhat Hanh dalam menjalani kehidupannya sehari-hari yaitu bahagia saat berjalan, bahagia ketika memandang bunga dan bahagia dalam melakukan setiap sesuatu yang terkadang kelihatannya kecil dan sepele. Untuk mengerti kebahagiaan semacam itu, tentunya kita harus menyelami dan masuk ke dalamnya. Seperti memandang bunga sebagai bunga berarti masuk dan menyelam ke dalamnya, merasakan menjadi bunga dan bagaimana terbentuknya bunga. Hal itu akan membuat perubahan besar di dalam diri kita dalam memandang bunga. Kita akan menjadi lebih mensyukuri, menghargai dan merasa bahagia karenanya. Begitulah cara Thich Nhat Hanh menyingkapi kebahagiaan dari hal-hal yang kecil. Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana kita dapat menghargai hal-hal yang kecil itu layaknya seorang Thich Nhat Hanh? Mungkin cara yang dilakukan beliau terlihat tidaklah mudah bagi sebagian orang, mengingat setiap orang memang memiliki caranya masing-masing dalam menyelami kebahagiaan. Namun dari metode-metode yang diungkapan oleh orang-orang di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa syarat untuk menjadi bahagia dari hal-hal kecil dan sepele adalah kita perlu memupuk kesadaran, kepedulian, dan rasa syukur serta ketulusan dalam melakukan sesuatu apa pun itu. Lalu bagaimana caranya melatih itu semua? Meditasilah  dan lakukan perenungan dalam melatih kesadaran, mulailah melihat lingkungan di sekitar untuk memupuk kepedulian, dan mensyukuri setiap hal yang datang dan pergi di dalam hidup kita serta menempatkan ketulusan hati dalam melakukan apa pun untuk makhluk lain. Mari kita mulai melatihnya dari diri sendiri!!!

Semoga Semua Makhluk Bahagia….

2 thoughts on “Bahagia dari Hal yang Kecil

    • Yuppp… mungkin anak2 cenderung lebih egois, tapi sebenarnya mereka begitu karna mereka belum mengerti bagaimana caranya menangani emosi sifat kepemilikan yang mereka rasakan. Tapi bagaimana pun sebaiknya seperti anak2 dalam menjadi bahagia dan bukan berarti kekanak-kanakan.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s