About The Writer


Behind the Scene of Being a Writer

 

Pernah suatu hari ada seorang teman bertanya kepada saya, “lo mo jadi apa nantinya?” Saat itu dengan mantap saya jawab, saya mo jadi penulis. Tetapi di dalam hati saya masih terukir tanda tanya besar “Apa bener???”, rasanya saya belom yakin, tak seyakin dengan pernyataan yang terlanjur saya ucapkan. Lah Wong cita-cita ini aja baru saya cetuskan sekitar setahun yang lalu, dan secara kebetulan tiba-tiba dapat kesempatan serta peluang untuk nulis dan jadi penulis.

Berawal dari Diary.

Memang dari dulu saya sudah hobi nulis, kerjaan saya di waktu luang ya apalagi kalau bukan menulis hal-hal yang ada di otak saya. Awal tulisan saya dimulai dari satu buah buku diary kecil, yang saya inget kalau tidak salah buku itu adalah buku gratisan dari minyak angin ‘Cap Elang’ punya nyokap saya yang udah tidak terpakai. Karena menganggur tidak ada yang menggunakan, ya saya ambil saja dari laci nyokap saya (he..he.. nah loh main ambil aja tidak bilang-bilang, maklum masih kecil <emangnya sekarang udah gede??> haha..). Bukunya itu bentuknya seperti buku saku dan biasanya saya bawa-bawa sampe ke sekolah segala. Pada waktu itu saya masih duduk di bangku SMP (Junior High School). Biasanya saya akan mulai menulis kalau saya lagi punya masalah. Dulu-dulu kalau saya lagi punya masalah, biasanya saya tidak akan mencari orang untuk curhat (termasuk ortu saya), tetapi saya bakal ungkapkan semua masalah saya di buku itu (bahkan kalau saya lagi suka sama cowo..hahaha… tapi tidak deh,, lagi SMP tidak pernah curhat soal cowo di buku diary he.he..). Kebiasaan itu terus berlanjut, tapi sempat berhenti juga karena saking banyaknya hobi yang saya geluti saat itu. Mulai dari menggambar, drum band sampai dengan nonton tv, benar-benar menyita waktu saya, dan saya sempat melupakan kebiasaan saya yang satu itu. Sekarang ini kalau mau lihat hasil isi kepala saya waktu SMP mungkin Anda-anda sudah terlambat, karena buku yang menjadi modal saya menulis itu, saat ini sudah hilang entah kemana. Namun seingat saya, isinya semua mengenai cerita teman-teman saya semasa SD dan SMP serta masalah saya di dalam keluarga (biasalah isi otak anak kecil yang masih lugu apa sih!!! he..he..).

Curahan Hati

Ternyata dasar iseng menulis yang saya lakukan semasa SMP itu akhirnya terbawa juga sampai di SMK (Vocational High School), bahkan sampai sekarang. Waktu SMK saya mulai mencoba tulis-menulis cerita bersambung. Pernah juga cerita itu saya tunjukan dengan teman-teman sekelas dan guru saya di sekolah. Karena masih penulis amatir, saya sudah seneng banget kalau teman atau guru saya bilang ceritanya bagus (tidak tahu juga, kalau siapa tahu ternyata saya cuma dibohongi aja buat menghibur diri haha…). Saya inget banget kalau ide cerita dari cerbung itu saya dapat dari mana, he..he… ide itu saya dapetkan pada saat saya patah hati karena cowo yang saya suka, jadian ma teman deket saya (ha..ha.. siapa tuh???). Secara cowo itu sudah lama banget bahkan bertahun-tahun yang lalu saya sukai, tapi emang dasar lugu tidak mengerti bagaimana menghadapi perasaan sendiri, makanya kalau suka sama orang tidak pernah nunjukin atau kasih2 kode apa gitu. (Hahaha… sekarang juga lugu kok.. heheheee, owewek lugunya aja kaya gini gimana tidak nya??? He..he ) Setelah cerita bersambung pertama yang saya buat yang serinya nyampe sekitar 40 halaman (diketik pula lagi dengan mesin tik), ternyata tercetus lagi ide gila di otak saya sampe akhirnya terciptalah cerita pendek pertama (idenya bukan dari patah hati lagi loh.. ha..ha.. patah hati melulu kasihan amat hahaha). Tapi sekali lagi sungguh sangat disayangkan kalau Anda mau tahu ceritanya apa, Anda tidak akan bisa membacanya (apalagi didapatkan di toko-toko buku terdekat he..he..) karena Anda sudah terlambat. Kebetulan ceritanya hilang entah kemana karena banyak yang pinjem untuk baca sampe lupa siapa yang belum balikin (ha.ha… saya yang promosiin kok he..he.., tapi kalau mau bikin lagi tenang aja masih ada di otak.. he.he..). Tapi ternyata kebiasaan itu pun tidak bertahan lama, saya sempet berhenti juga untuk buat cerita-cerita fiksi (maklum moody) dan beralih profesi lagi belajar melukis. Ditambah saat itu memang lagi sibuk-sibuknya ikut kegiatan kesenian di luar sekolah (Dragon dance, wah lagi ngetren2nya saat itu, di umur saya yang masih 16 tahun, saya dah kuat lari-lari bawa tongkat kayu yang beratnya kurang lebih 5 kilo ho..ho..ho. wanita super, hasilnya tangan saya udah kaya AdeRai hahaha). Tapi ternyata fenomena kehidupan yang saya hadapi menggerakan kerinduan saya untuk menulis kembali. Lagi-lagi awal tulisan itu bermula dari rasa suka saya sama seseorang yang tentunya tidak bisa saya ungkapan melalui kehidupan nyata (bukannya tidak PD sih, tapi tahu kalau bakal ditolak hahaha). Dimulailah kembali kegiatan curahan hati saya melalui buku yang kecilnya cukup membuat mata bengkak (bukan karena ceritanya menyedihkan, tapi Karena tulisan gaya cacing bersambung saya yang susah dibaca ha.ha..). Semua perasaan saya tertuang dalam bentuk tulisan, dan hal itu sudah bikin saya merasa lega tanpa harus curhat dengan orang lain (yang kenal saya di masa itu mungkin bingung, karena terus terang teman-teman saya saat itu beranggapan saya tidak pernah punya masalah percintaan. Hahahaha…. Belom tau dia, mungkin mereka akan kaget setelah membaca tulisan saya yang satu ini he..he..). Kegiatan menulis saya ternyata terus berlanjut sampai akhirnya buku itu habis ditulis dan digantikan oleh buku pemberian sahabat saya Novita sebagai hadiah ulang tahun saya.

Mulai Bertambah Gila

Awalnya buku pemberian itu niatnya mau dipakai buat tulis-menulis cerpen, tapi apa mau dikata kisah kehidupan saya lebih menarik untuk saya tulis dibanding kisah-kisah fiktif seorang tokoh yang ada di otak saya. Jadi mulai lagilah saya teruskan metode curhat saya ke dalam sebuah buku yang kali ini ukurannya lumayan besar dari sebelumnya. Kali ini, karena bertambah dewasa dan bertambah gila (ha..ha.., gila kalau sudah nulis tidak ingat waktu) tulisan saya tidak hanya cerita tentang masalah yang sedang saya hadapi saja, tapi juga mengenai cerita orang-orang di sekeliling saya, dan ditambah tulisan-tulisan ngelantur saya (yang ada di otak semua saya keluarin, biar tidak mampet he..he..). Trus kalau saya lagi ada masalah biasanya saya juga bakal nasehatin diri saya sendiri di situ, dan tidak tahu kenapa diri saya di luar sana (yang fiktif) malah lebih bijak dibandingkan aslinya (ha..ha… kadang saya malah merasa goblok dan malu ma diri saya yang di luar sana, sempet juga saya diomel-omeli dan dicaci maki, <awas nanti kalau ketemu> hihihi). Tak disangka kebiasaan saya ini berlanjut sampai sekarang, walau kadang-kadang jarang curhat lagi di buku, tapi buku curhat saya ini terus bertambah dari waktu ke waktu, akan tetapi fungsinya yang sekarang sudah sedikit berbeda. Kalau dulu curhat tentang patah hati dan lain sebagainya, sekarang ini cenderung berisikan tentang ajaran-ajaran indah yang saya temukan di dalam kehidupan saya.

Iseng Bantu Majalah

Hal tergila dan terPD yang pernah saya lakukan dalam sejarah menulis saya adalah bergabung di media massa (Majalah Buddhis Sinar Padumuttara). Gimana ga, saya baru sadar kalau ini adalah ide tergila dalam hidup saya, ketika saya melihat hasil yang saya sendiri tidak menyangka akan jadi sebegitunya (seperti itu) (ha..ha…). Dulu di dalam pikiran saya SP (Sinar Padumuttara) cuma bakal jadi majalah-majalah yang sering saya lihat di wihara-wihara, minimal akan menjadi seperti majalah sebelumnya. Tapi pada kenyataannya SP berpenampilan luar biasa (MoM Sriloka emang ok banget kalau urusan nge-design), dan tidak percaya kalau ada tulisan saya di dalamnya. Terus Yang lebih gilanya lagi, SP memuat hal yang belum pernah saya tulis sebelumnya, isinya materi serius yang harus didapat dari hasil wawancara, bedah buku dan cari referensi (dong..dong..dong.. dong… Terus terang modalnya cuma pengen nulis doang (ingin menulis aja), tidak punya modal apa-apa tapi mau-maunya nyebur,.. Sok PD… hahaha… untungnya punya dasar menulis tugas composition <ngarang> waktu di kuliah, itu juga masih raba-raba ha..ha..). Karena sudah terlanjur berkomitmen mau tidak mau harus lanjut, hitung-hitung belajar coret sini coret sana bolehlah, bahkan cari konsep sendiri yang penting enak dibaca and isinya tidak menyesatkan hahahaha… Untungnya ketua umum SP berpikiran ke depan dan cukup bijaksana dalam memotivasi prajurit-prajuritnya (Thanx ya MoM Nato he..he..). Karena doi tau kita-kita belom ada pengalaman di bidang jurnalistik alias menulis di majalah, so saat itu juga doi yang bekerja di permajalahan, menyewa salah seorang temannya yang kerja di bagian jurnalistik buat mengajari kita-kita aturan dalam menulis di majalah. Ditambah lagi si calon pengusaha ini (saya doain To supaya cepet jadi pengusaha) sibuk-sibuknya menyelenggarakan lokakarya bersama MoM Handaka buat kita-kita, supaya tambah pinter menulis (bukan pinter “ngarang”nya ha..ha..). Bulan demi bulan kegiatan “gila” ini saya tekuni, bahkan saya lebih interest menulis dibandingkan dengan pekerjaan saya saat itu, bagaimana tidak kalau sudah menulis saya terlalu asik, lupa waktu dan segalanya. Sampai-sampai saat itu saya lebih memilih menulis di majalah dibanding memikirkan lesson plan saya buat minggu depan (ha..ha..ha.. untungnya sekarang saya dah sedikit sadar mana yang harus saya kerjain <ya dua-duanya-lah> demi sesuap nasi ha.ha..). Hal yang paling asik dari menulis semua itu (hasil-hasil yang ada di majalah dan bisa dibaca langsung di SP <hayoo udah punya belum>) adalah mencari bahan dan berita melalui wawancara langsung. Ini nih yang paling seru dari semuanya… bagaimana tidak, biasanya saya dan MoM Sriloka bakal nyasar-nyasar dulu nyari alamat sebelum ketemu ma orang yang akan diwawancarai. Untungnya MoM Sriloka pintar kalau soal cari-mencari, dan pengertian juga karena suka traktir makan seusai wawancara (ha.ha.. tahu aja kalau saya bakal kelaparan abis pulang dari kerjaan he..he…). Tapi apa mau dikata pada akhirnya setelah beberapa edisi, dengan sangat-sangat terpaksa dan disayangkan saya harus keluar dari SP karena alasan beberapa hal (hiks..hiks..). Tapi dengan begitu saya tidak akan pernah mematikan kegiatan menulis saya, dan tidak akan meninggalkan SP begitu saja (SP dan teman-teman di dalamnya sudah menjadi bagian dari hidup saya.. hiks..hiks…).

Kenapa Juga saya mau menulis di Majalah!!

Selama menulis untuk SP, banyak sekali teman-teman baru yang berdatangan dalam hidup saya. Karena SP pula pola pikir saya berubah 180 derajat. Bagaimana tidak, orang-orang berbakat dan orang-orang bijak, mulai bermampiran dan memberikan saya konsep-konsep baru mengenai kehidupan. Bukan hanya belajar menulis saja yang ternyata saya dapatkan, tetapi juga pelajaran hidup yang sangat-sangat berharga. Saya merasa hutang budi dengan SP, dan rasa terima kasih saya tidak akan pernah cukup buat mengungkapkan ini semua. Terus kenapa juga awalnya saya bisa gabung di SP??? Ternyata dari hasil Selidik punya selidik, selain saya hobi menulis, sesungguhnya ada juga motif lain dibalik itu semua. Hal ini baru saya sadari ketika saya merenungkan apa saja yang sudah terjadi di dalam hidup saya. Motif saya yang satu itu tercetus atas dasar keinginan dan ego yang besar untuk menunjukan kemampuan saya kepada seseorang. Seorang lulusan sociology yang memang cukup berjasa dan cukup berkesan, serta cukup memengaruhi kehidupan saya di waktu itu. Dia satu-satunya orang yang menjadi motivasi saya untuk melakukan apa yang sebenarnya enggan saya lakukan (membuktikan diri dan menunjukan kebolehan). Dia (Orang yang pernah bercita-cita jadi penulis itu) adalah orang yang pertama kali saya sayang dengan tulus, tetapi pergi karena sesuatu hal (hiks..hiks…). Namun, kepergiannya membuat saya sadar kalau saya harus lebih banyak belajar lagi tentang kehidupan dan bagaimana cara hidup yang benar. Karena dia juga saya jadi sadar bahwa betapa lugu dan gobloknya saya selama ini. Ternyata motif inilah yang akhirnya membuat saya jadi aktif di segala kegiatan, dan sampai-sampai teman saya bilang, saya tak fokus dengan apa yang saya tuju dalam hidup saya. Bahkan jadi guru pun motifnya berawal karena dia. Menyedikan… mengetahui bahwa semua motif dari kegiatan yang saya lakukan selama itu berawal dari kisah saya tentang dia. Namun setelah lama berkecimpung di lingkungan yang lumayan memberikan kondisi yang baik, dan setelah apa yang saya inginkan pun tercapai, akhirnya motif itu pun berubah seiring waktu. Tiga tahun berlalu dengan cepat, saya pun sadar ada hal yang lebih berharga dari sekedar menunjukkan diri saja. Kasih dan ketulusan untuk memberi jauh lebih amat sangat berharga dibandingkan dengan motif (menunjukan diri) yang selama ini menjadi dasar tindakan saya. Namun apa mau dikata walaupun kadang ingin meninggalkan apa yang sudah dicapai dan diperbuat, karena menyadari bahwa betapa rendahnya motivasi dari semua yang saya lakukan, namun rasanya saya sudah terlanjur tercemplung dan berkotor-kotor ria di dalamnya. Setelah menyadari semua ini, saya pun akhirnya berbenah diri mencari arah tujuan saya sebenarnya… Ingin jadi apaan sih saya???  Apa mantap mau jadi penulis??? Apa sudah mantap jadi guru Playgroup??? Akan tetapi apa pun yang saya lakukan, selama kasih dan ketulusan  yang menjadi motifnya, saya rasa itu yang akan membuat saya bahagia.

Writing Skill cabutan

Sekarang ini kalau ditanya apa motif lo melakukan semua yang lo lakukan di dalam hidup lo??? Jawaban saya yang masih duniawi banget adalah “I want to make my Mom Happy to what I’ve done. That’s it.” Tanpa disangka motif yang satu ini malah menjadi motor penggerak bagi saya. Saya yang tadinya merasa kehilangan arah karena menyadari tujuan dari motif saya sudah tercapai, akhirnya dapat bangkit lagi melanjutkan apa yang sudah saya mulai. Kalau dipikir-pikir kembali mengenai semua yang saya lakukan selama ini, rasanya saya tidak akan pernah berkembang tanpa orang-orang berjasa dibaliknya. Apa lagi mengenai kemampuan saya menulis (kan udah tahu dasarnya cuma iseng-iseng dan tidak tahu rambu-rambunya) tentunya banyak sekali yang sudah memberi pelajaran dan masukan-masukan bagi tulisan saya selama ini. Ada beberapa orang yang memang berjasa banget dalam hal ini.. dan rasanya ingin sekali saya sebutkan nama mereka di dalam tulisan ini, namun saya pun tidak mau mengekspos mereka tanpa persetujuan dari mereka terlebih dahulu. Karena saya tau mereka semua adalah pahlawan tanpa tanda jasa, dan orang-orang yang tidak punya motif untuk menonjolkan diri (he..he.. kasih kabar ya, kalau mau ditulis namanya.. haha). Tetapi yang jelas saya banyak mengucapkan terima kasih atas skill-skill cabutan yang selama ini saya pelajari dari mereka dan Anda-anda sekalian. Semoga dengan apa yang selama ini saya lakukan dapat bermanfaat bagi semua orang. Satu hal yang ingin saya kutip dari kata-kata seorang teman kepada saya, yang akhirnya merubah style tulisan saya hingga saat ini adalah “Menulislah dengan hati dan jadilah dirimu sendiri”.

——————————————————————————————————————————————————–Who Am I? Siapakah Saya?

Ditulis sebagai: Tugas Mata Kuliah Etika Profesi

Nama saya Selfy, Saya lahir di Tangerang tanggal 22 Juni 1984, bertepatan dengan hari ulang tahun Jakata, hari ulang tahun Artis Hongkong Terkenal Steven Chow, dan hari ulang tahun pendiri penerbit buku spriritual – Ehipassiko. Anak pertama dari 2 orang saudara perempuan, dengan selisih umur yang lumayan jauh, yaitu 6 dan 13 tahun. Sejak dilahirkan perawakan saya memang lebih imut-imut dari orang-orang sebaya saya, maka dari itu sampai sekarang pun saya masih imut-imut, dan untungnya walaupun kecil saya jadi kelihatan awet muda. Hehehe….

Sedari kecil saya sempat dibesarkan oleh nenek saya, sementara orangtua saya harus bekerja di Jakarta. Selfy kecil adalah anak yang periang, menggemaskan, pintar, cerdas, cerdik dan lugu (hahaha), namun amat sensitif terhadap sesuatu hal. Saking sensitifnya saya sejak kecil, mama dan nenek saya sering cerita kalau saya suka nangis karena terharu jika nonton film-film drama yang sedih-sedih, contohnya film drama Jepang tahun jebot “Oshin” hahaha….

Beberapa tahun semenjak nenek saya meninggal, saya kembali diasuh oleh mama saya. Sejak itu karakter saya sedikit berubah menjadi introvert (tertutup) dan tidak mudah menceritakan apa yang saya rasakan kepada siapa pun, bahkan kepada kedua orang tua saya. Saya tumbuh dan berkembang melalui lingkungan di luar keluarga dan teman-teman di sekitar saya. Beragam sifat dan karakter serta jenis teman sudah banyak saya temui di dalam hidup saya, untungnya dasar sifat baik dan moral yang sudah ditanamkan nenek sejak kecil mampu melindungi saya untuk tidak berbuat yang neko-neko, seperti membolos sekolah misalnya. Hehehe….

Sejak di bangku sekolah terus terang saya adalah siswi yang penurut dan disiplin, namun sayang walaupun saya mendapat peringkat di sekolah, saya jarang sekali belajar di rumah, karena memang di keluarga saya tidak ada satu pun yang bisa mengajari saya atau menjadi teladan dalam belajar. Maklumlah, karena sejak kecil mereka terpaksa putus sekolah untuk membantu ekonomi keluarga dan membiaya hidup mereka. Tetapi untungnya dulu saya sempat belajar membaca dan mengenal huruf dari suami adik mama saya yang dulu sekolahnya lumayan tinggi. Namun ketika mereka bercerai, tak ada lagi seorang pun yang memperhatikan pendidikan saya di rumah. Maka dari itu, terkadang saya terpaksa lari ke rumah tetangga jika kedapatan PR Matematika yang saya tidak mengerti. Karena kondisi yang seperti itu pulalah saya jadi jarang belajar dan banyak bermain di rumah, dan otomatis prestasi saya di sekolah naik turun. Hahaha….

Hobby saya sejak kecil banyak sekali, selain bermain saya senang sekali menyanyi, menggambar dan mengumpulkan barang-barang yang saya sukai, serta menulis di buku diari. Dulu karena senangnya menyanyi, saya berpikir ingin sekali menjadi seorang artis yang bisa menyanyi di panggung-panggung besar untuk banyak orang. Kemudian karena impian itulah, saya sempat beberapa waktu mengabdikan diri sebagai pemimpin lagu di Wihara tempat saya puja bakti. Pernah pula menjadi penyanyi mengisi acara di pesta kawinan kampung-kampung. Namun entah mengapa seiring waktu, dan memang perubahan, hasrat saya di bidang tarik suara pun agak sedikit kendor, ditambah lagi bakat yang jarang diasah itu membuat saya minder di tengah teman-teman saya yang memang suaranya oke-oke. Akhirnya saya mengundurkan diri dari cita-cita saya tersebut.

Sewaktu-waktu saking cintanya saya nonton film dan berimajinasi, saya pernah juga berpikir untuk berakting dan bermain film. Namun sekali lagi seiring waktu melihat dunia artis yang sedemikian rupa membuat saya enggan tidak mewujudkan cita-cita saya itu. Walaupun begitu, hobby menyanyi dan nonton film, serta akting yang tidak jelas tersebut masih saja ada pada saya. Ditambah kegiatan menggambar yang hanya sebagai refreshing semata.

Berbicara mengenai menggambar, sejak dulu saya memang banyak sekali menghabiskan waktu saya seharian hanya untuk menggambar, atau mengcopy gambar orang. Kesenangan saya ini lama kelamaan berubah menjadi melukis, baik dengan cat minyak maupun dengan crayon, dan saking ingin bisanya melukis, saya pun tidak segan-segannya datang ke rumah teman saya yang lokasinya lumayan jauh dari tempat tinggal saya, hanya untuk belajar dasar melukis dari bapaknya yang merupakan seorang pelukis kawakan dan sering melukis gambar-gambar kristus untuk gerejanya. Pernah juga saya belajar melukis (dengan bertanya-tanya tentunya) dari seorang pelukis jalanan yang penampilannya agak preman, dan tak takut atau enggan untuk berteman dengannya. Kemudian sisanya saya terus belajar otodidak hanya dengan memperhatikan dan melihat-lihat hasil lukisan serta gambar-gambar dengan cat crayon. Namun sekali lagi hobby tinggal hobby dan kesenangan belaka, saya pun tidak pernah berniat untuk menggelutinya sebagai tujuan hidup saya ataupun profesi saya.

Potensi yang ada di dalam diri saya sebenarnya amatlah besar, namun sayangnya saya belum bisa menggali semuanya. Mungkin saya butuh banyak bimbingan dari seseorang untuk menemukan dan mengembangkannya. Namun ada satu potensi yang akhirnya mampu saya cetuskan dan kembangkan. Apakah itu? hahaha… kemampuan menulis saya akhirnya membuahkan hasil dan dapat bermanfaat bagi orang banyak. Awalnya saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penulis, tertarik pun tidak. Tetapi karena memang senang melakukan hal-hal baru, saya pun tak enggan untuk mencobanya. Alhasil… Bummm… muncullah seorang penulis muda dengan nama Selfy Parkit, sebagai seorang penulis spiritual yang baru saja mentet. Walaupun saya tidak sehebat penulis-penulis terkenal, dan hanya menulis sebatas pengalaman hidup saya, namun saya amat bersyukur karena sudah bisa berkontribusi dan bersumbangsi kepada masyarakat.

Namun Penulis hanyalah penulis, saya menulis dengan hati sekedar mencurahkan isi hati, membagi pengalaman dan mencurahkan hayalan pikiran. Selebihnya sekedar menumpahkan emosi, bakat serta kesenangan. Saya akan tetap menulis bukan untuk menjadi seorang penulis, tetapi hanya untuk sekedar menulis. Mungkin begitu tepatnya saya katakan, karena sampai sekarang pun, saya masih belum menemukan hasrat tujuan hidup saya di sana. Akan tetapi selama hanyat masih dikandung badan, saya akan tetap dan terus menulis selama itu bermanfaat bagi orang lain.

Saat ini saya berprofesi sebagai seorang guru Play Group di salah satu sekolah internasional school di Tangerang. Saya mengajar untuk anak-anak usia 2 sampai 3 tahun. Awalnya pun saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang guru, malah sempat waktu kecil saya berkata kalau saya tidak akan pernah mau menjadi seorang guru, karena merasa profesi sebagai seorang guru adalah profesi yang sama sekali tidak menarik bagi saya. Lagi-lagi karena saya senang belajar sesuatu yang baru, dengan niat memperdalam bahasa Inggris saya, akhirnya saya pun termakan ucapan sendiri. Bulan Juli tahun 2007 saya pun resmi menjadi guru PG. Namun setelah kemudian berkecimpung di dalamnya, saya pun akhirnya menarik kata-kata saya sendiri kalau profesi sebagai guru adalah tidak menarik, sebaliknya saya menjadi cinta dengan profesi ini. Saya menjadi senang bisa memberikan dan mengajarkan apa yang saya bisa kepada orang lain, dan saya menikmatinya. Namun banyak tantangan yang ternyata harus saya hadapi rupanya, saya harus rajin dan terus belajar, harus up to date dan mengasah skill saya terus-menerus, dan itu tidak mudah bagi saya. Terus terang saya kurang hobby belajar mengenai akademis dan hal-hal yang menurut saya ribet, tapi mau tidak mau saya harus melakukannya dan memaksakan diri untuk melakukannya. Seperti halnya saya harus mempelajari lagi pelajaran-pelajaran yang sudah lama sekali saya lupakan, contoh seperti teori-teori matematika di bangku SD, SMP dan seterusnya, apalagi kalau soal bicara Geografi atau peta-peta dunia… Arggghhh…. Saya buta itu semua, saya harus belajar dari amat sangat awal. Hiks… hiks…. Akan tetapi itulah tantangan yang harus saya hadapi untuk menjadi seorang guru yang baik dan berguna bagi murid saya. Belum lagi saya pun harus menguasai ilmu Micro Teaching (cara mengajar dan teknik-teknik mengajar yang baik dan efektif), Ilmu Psychology, dan lain sebagainya. Mungkinkah profesi ini selamanya menjadi hidup saya, sampai saya mati??? Guru apa pun itu nantinya, saya akan tetap peduli, membagi dan mengajar seumur hidup saya.

Hal-hal tersebut di atas merupakan perjalanan hidup saya, dan secara tidak langsung telah saya jalani guna untuk membuat hidup saya bahagia di kehidupan ini. Akan tetapi, ada kalanya hal itu malah menghasilkan hasil yang sebaliknya. Karena memang di dalam hidup ini, erat sekali hubungannya dengan hukum sebab akibat. Saya merasa bahagia karena pastinya saya melakukan hal yang baik, bermanfaat dan benar yang mengkondisikan saya menjadi bahagia, sebaliknya jika saya merasa tidak bahagia, pastinya saya telah melakukan hal yang mengkondisikan saya untuk tidak bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan, saya tidak menginginkan apa pun di dalam hidup saya, kecuali menumbuhkan kondisi-kondisi yang membuat saya bahagia, salah satunya adalah melihat orang-orang di sekitar saya bahagia. Namun, untuk membuat orang lain bahagia, saya pun harus menjadi sebab kondisi yang membuat mereka bisa bahagia. Untuk menjadi sebab serta kondisi yang dapat membuat orang lain bahagia saya harus menata diri saya menjadi pribadi yang minimal baik dan memiliki kasih sayang. Untuk itu di dalam hidup saya, tidak henti-hentinya saya belajar untuk menjadi manusia yang benar-benar manusia, yang bisa peduli terhadap makhluk lain dan menyayangi mereka seperti menyayangi diri sendiri. Begitulah pencapaian kebahagiaan saya di kehidupan ini.

Berbicara mengenai kehidupan, tentunya ada seseorang tokoh yang menjadi teladan serta panutan di dalam hidup kita dan secara tidak langsung tokoh tersebut telah memengaruhi hidup dan kehidupan kita. Gaya keseharian dan presepsi kita memandang dunia ini pun tidak disadari telah terpengaruh oleh tokoh idola yang kita kagumi itu. Kalau ditanya siapakah tokoh yang saya kagumi dan menjadi panutan hidup saya itu? Dengan lantang saya jawab Buddha Gautama. Lalu Kalau saya ditanya mengenai keistimeawaanya, tulisan saya sungguh tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan keistimewaan orang yang satu ini, bahkan idola saya Steven Chow pun lewat (hahaha…). Buddha Gautama adalah orang pertama yang saya kagumi, bukan karena saya orang yang religious – mengingat bahwa tokoh ini adalah tokoh Spiritual atau dianggap tokoh yang berhubungan dengan keagamaan bagi banyak orang. Tetapi, beliau bukan saja tokoh dalam hal spiritual, beliau juga merupakan tokoh terhebat dalam bidang ekonomi dan keuangan, bidang matematika dan sains, bidang bahasa dan semua ilmu pengetahuan di muka bumi ini. Terlebih lagi kagum saya terhadap beliau adalah bagaimana cara beliau berpikir, berbuat, dan berucap di dalam kehidupannya di dunia ini. Beliau adalah satu-satunya orang yang paling bijaksana dalam setiap tindak tanduknya. Beliau bukan saja guru, panutan dan teladan bagi saya tetapi juga inspirasi bagi saya untuk menjadi seperti beliau.

Demikianlah uraian saya sebagai seorang Selfy yang sampai sekarang masih terus belajar menemukan potensi dan jati dirinya, serta masih saja belajar untuk menjadi manusia yang benar-benar manusia. Semoga dengan uraian ini anda merasa senang dan bahagia ^_^

10 thoughts on “About The Writer

  1. Parkit… it’s great how you can improve your writing skills and maintain your passion in this field. Are you interested in earning money by writing online articles? They can pay you at least US$10/article, and in one day you can write 3-10 articles. Freelance, free time, can be done anywhere with internet connection. Just count how much money you can earn…. But you’ve gotta be very qualified in English. I’ll email you about the job, okay… Goodluck!

    Like

    • hahaha… bukan bro, saya memang datang ke sana waktu itu, tapi saya bukan panitia. Wah sebenernya bahagia juga kalau bisa jadi panitia, tapi panitia Ajah Brahm waktu itu semua personilnya dari KMB di UPH. ^_^
      Thank you for reading.

      Like

  2. Hi Selfy,
    saya kagum dengan anda dan tulisan-tulisan anda.

    Dengan tulus jika anda berkenan, saya akan berikan domain dan hosting gratis di tempat saya yang mungkin nantinya dapat anda gunakan sebagai salah satu media promosi di internet baik yang bersifat komersial mampun non komersial.

    Anda dapat memilih domain sesuka hati anda (mungkin selfy-parkit.com) dan paket hosting yang anda kehendaki.
    Selain itu, saya juga akan bantu buatkan website yang mungkin menggunakan script wordpress yang sepertinya anda sudah sangat memahami dalam penggunaannya, yang semuanya saya berikan gratis.
    Dan mungkin jika anda kedepannya anda mengalami kendala dalam hosting/website anda, saya pun akan memberikan dukungan yang juga gratis.

    Tanpa maksud apapun, semuanya saya berikan karena rasa kagum saya.

    Silahkan anda pertimbangkan dan hub. saya jika anda berminat.

    Salam,

    amazehosting.com

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s