I Cried for My Brother Six Times


I was born in a secluded village of a mountain. Days by days my parents plowed the yellow dry soil with their backs facing the sky.

I have a younger brother, 3 years younger than me. Once, to buy a handkerchief which all girls around me seemed to have, I stole 50 cents from my father’s drawer. Father known about it right away. He made my younger brother and me knelt against the wall, with a bamboo stick in his hand. “Who stole the money?” he asked.

I was stunned, too afraid to talk. Father didn’t hear any of us admit, so he said, “Fine, if nobody wants to admit, you two should be beaten!” He lifted up the bamboo stick. Suddenly, my younger brother gripped father’s hand and said,” Dad, I was the one who did it!”

Continue reading

Advertisements

AIR MANDI KOTOR (Kebersihan)


Pada suatu ketika, di sebuah kerajaan di India, seekor kuda yang paling bagus dibawa ke sungai untuk dimandikan. Tukang kuda membawanya ke kolam dangkal yang sama dimana mereka selalu memandikannya.

Tetapi sesaat sebelum mereka tiba, seekor kuda kotor telah mandi pada tempat yang sama. Kuda tersebut telah ditangkap dari luar kota dan belum pernah mandi dengan bersih sepanjang hidupnya.

Ketika kuda kerajaan menghirup udara, seketika dia mengetahui bahwa kuda liar yang kotor telah dimandikan di sini dan mengotori airnya. Sehingga dia menjadi jijik dan menolak untuk dimandikan di tempat itu.

Tukang kuda berusaha sekuat tenaga agar kuda kerajaan masuk ke air, tetapi tidak berhasil. Jadi mereka pergi kepada raja dan mengeluh bahwa kuda jantan kerajaan yang terlatih baik tiba-tiba menjadi keras kepala dan tidak dapat diatur.

Hal ini terjadi pada saat raja mempunyai seorang menteri yang pandai dan dapat mengerti binatang. Jadi Raja memanggilnya dan berkata, “Tolong pergi dan lihat apa yang telah terjadi pada kuda nomor satuku. Cari tahu apakah dia sakit atau alasan apa yang membuat dia menolak dimandikan. Dari semua kudaku, dia adalah satu-satunya kuda yang memiliki kualitas tinggi dan dia tidak akan membiarkan dirinya masuk ke tempat kotor. Pasti ada sesuatu yang salah.”

Kemudian menteri pergi menuju ke tepi sungai kolam permandian secepatnya. Dia menemukan bahwa kuda agung tidak sakit dan dalam keadaan sehat. Dia juga memperhatikan bahwa kuda agung berusaha menahan nafas. Kemudian dia menghirup udara dan mencium sedikit bau tidak sedap. Memeriksa lebih lanjut, dia menemukan bahwa bau tersebut berasal dari air kotor di kolam mandi. Jadi dia berpikir bahwa kuda lain yang sangat kotor pasti telah dimandikan di sana, dan kuda raja terlalu mencintai kebersihan untuk mandi di dalam air yang kotor.

Menteri bertanya kepada tukang kuda, “Apakah hari ini ada kuda lain yang telah dimandikan di tempat ini?” “Ada,” jawab mereka, “Sebelum kami sampai, seekor kuda liar telah mandi di sini.” Menteri berkata kepada mereka, “Tukang kuda, ini adalah kuda kerajaan yang menyukai kebersihan. Dia tidak mau mandi di air kotor. Jadi hal yang harus dilakukan adalah membawanya mandi ke hulu sungai tempat dimana airnya segar dan bersih, dan mandikan ia di sana”

Mereka mengikuti intruksi menteri dan kuda kerajaan mau mandi di tempat yang baru.

Menteri kembali ke kerajaan dan menceritakan hal yang telah terjadi. Dia berkata, “Anda benar yang mulia, kuda yang sangat bagus mempunyai kualitas tinggi sehingga dia tidak mau masuk ke dalam kotoran!”

Raja terpesona bahwa menterinya nampaknya mampu membaca pikiran seekor kuda. Sehingga Raja memberikannya hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Binatang pun bahkan menghargai kebersihan.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Ada apa dengan Zebra?


Ada 3 alasan mengapa kita harus belajar dari binatang yang bernama Zebra. Pertama, zebra adalah binatang yang disiplin dan teratur. Mereka dapat berbaris rapih dan antri tanpa harus saling menyodok serta gondok-gondokan selalu ingin berada di barisan terdepan.

Kedua, zebra punya tatakrama dan saling menghormati satu sama lain, terutama menghormati mereka yang lebih tua. Dalam baris-berbaris zebra mendahulukan yang lebih tua untuk baris di posisi paling depan sesuai dengan urutan umurnya.

Alasan Ketiga yang terakhir, zebra adalah binatang yang harmonis. Mereka hidup kelompok dan tidak pernah cekcok, cari makan bareng dan tidak pernah rebutan. Karena keharmonisan itulah banyak dari pemangsanya yang akhirnya terkecoh.

Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia? Sudah bisa seperti zebrakah?

Pelajaran: Bahkan binatang bisa memberikan contoh yang baik. Bagaimana dengan kita sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran???

Jika Aku Tua


Petang sepulang kerja, terlihatlah pemandangan yang mungkin biasa bagi setiap orang umumnya. Pemandangan ini datang dari seorang lelaki tua setengah bongkok yang berjalan tergopoh-gopoh bersama dengan istrinya yang terlihat masih segar dibandingkan dirinya. Melihat fenomena seperti itu seketika terlintas pertanyaan di dalam benak ini, “Apa yang harus kulakukan jika nanti aku tua?”

Mengingat fisik ini pun akan mengalami tua, rasanya kurang bijak kalo kesombongan, kemarahan, kebencian, dan ketidaktahuan masih saja menjadi bahan bakar dalam mengisi hidup kita. Apa yang dapat kita lakukan seharusnya bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bukan malah menambah beban serta penderitaan bagi makhluk lain.

Jika Aku Tua @SelfyparkitHappyLife

 

 

Pelajaran:  Ingatlah bahwa tak ada seorang pun manusia yang tak membutuhkan orang lain dalam hidup, jadi sebelum fisik ini menjadi tua dan sulit digerakkan, ada baiknya kita selalu belajar, peduli terhadap makhluk lain dan tidak menunda apa pun yang bisa kita lakukan saat ini.

Masih Ada Harapan


Setiap orang dibesarkan oleh harapan, semangat, dan kasih sayang. Di kala harapan, semangat, dan kasih sayang itu mulai pupus dan padam, mereka mulai mengeluh dan berputus asa. Mereka berpikir bahwa tidak ada lagi peluang untuk memperolehnya kembali. Hidup menjadi semakin hampa, sepi, dan menyendiri. Mereka lupa bahwa hidup ini selalu berubah. Segala sesuatu tidak pasti dan dapat berubah. Begitu juga dengan permasalahan dan rintangan yang dihadapi, yang menyebabkan pupusnya dan padamnya harapan kita. Akankah ia kekal dan tak dapat berubah?

Betapa pun berat masalah yang kita hadapi saat ini, namun semangat tak boleh pupus. Karena dengan semangatlah kita mampu bertahan hingga titik akhir sebuah permainan. Begitu juga halnya dengan kasih sayang yang selalu mempertahankan api perjuangan untuk tetap menyala.

Pelajaran: Motivasi membawa seseorang untuk tetap bersemangat dan berkasih sayang hingga tumbuhlah harapan-harapan yang baru.

# Editor Tulisan oleh Bpk. Hendry Filcozwei Jan

Penjudi


Di suatu kampung, ada tradisi kuno yang hingga saat ini masih saja dilakukan. Tradisi yang tidak bermanfaat ini biasanya dilakukan pada saat ada perayaan, baik itu acara kematian maupun pernikahan, tradisi itu adalah berjudi. Suatu malam, salah satu penduduk kampung ada yang merayakan pesta pernikahan di rumahnya. Tenda besar pun dipasang di halaman rumahnya dan tentu saja ada para penjudi yang asyik bermain di bawahnya.

Setelah beberapa malam asyik dengan kartu mereka, ada saatnya mereka pun mengalami ketidakberuntungan. Suatu malam, sekelompok polisi mengadakan penggrebekan, dan semua penjudi pun lari berhamburan. Ada yang lolos, namun tidak sedikit juga yang tertangkap dan dibawa ke kantor polisi. Suasana kampung seketika menjadi panas dan mencekam. Banyak orang yang memaki dan menyumpah serapah para polisi itu karena anak atau saudara mereka telah tertangkap. Namun sayangnya hal tersebut tidak bisa membuat anak atau saudara mereka dibebaskan.

Pelajaran: Amarah tak menyelesaikan masalah. #

Ayahku


Pada suatu pagi, seperti biasa aku menuju kamar mandi dan bergegas mandi. Setelah menutup pintu kamar mandi, tak disangka ada seekor anak kodok melompat-lompat di dalam. “Ah…” aku menjerit seketika. Ayahku yang saat itu berada di ruang tamu dengan secepat kilat menghampiriku dan menanyakan apakah gerangan yang terjadi. Dengan tergesah-gesah Aku berseru, “Ada kodok, ada kodok…  di kamar mandi!” Lalu Ayahku dengan gagah berani masuk ke dalam kamar mandi, dan ditangkapnya anak kodok itu dengan tangannya.

Kodok itu pun berhasil diamankan dan dijauhkan dari pandanganku. Aku yang saat itu masih merasa kegelian akhirnya melanjutkan niatku untuk segera mandi dan berpikir bahwa tak ada satu pun pahlawan tampan dan gagah berani yang mau menyelamatkanku dari seekor kodok, kecuali ayahku tercinta. Walau kadang galak dan menjengkelkan, tetapi hanya dialah satu-satunya orang yang peduli akan kebahagiaanku.

Pelajaran: Bersyukurlah atas orangtua yang kita miliki di kehidupan kita saat ini. #