Mengambil Keputusan


By U’un Arifien (Kwee Ping Oen)

img_6196

“Mengambil Keputusan” @selfyparkit.wordpress.com


Di dalam kehidupan ini kita harus selalu memilih, setiap saat di sepanjang hari kita harus
memutuskan akan memusatkan perhatian kepada apa, harus memikirkan apa dan harus melakukan apa. Tetapi sering kali kita mengikuti pola perilaku

yang otomatis, kita langsung menyimpulkan, atau langsung bereaksi sesuai kata hati dan memikirkan pikiran yang berulang yang dirasakan lebih memuaskan. Kita semua pasti sudah pernah merasa bimbang dengan perasaan tidak nyaman, untuk menghindari ketidaknyamanan itu maka sering kali kita cepat bereaksi dan mengambil keputusan yang lagi-lagi dengan pola lama,

Hambatan lain dalam mengambil keputusan yang baik itu adalah kita kadang-kadang takut salah, akhirnya kita jalan ditempat, tidak maju-maju, alih-alih menciptakan peluang, pasti tidak bisa.

Kita sering lupa bahwa hidup kita selama ini adalah hasil dari keputusan-keputusan yang sudah kita ambil sebelumnya.

img_0066Untuk mengambil keputusan yang lebih baik kita tidak boleh terburu-buru, kita seharusnya menunda sebentar untuk mundur, untuk memikirkan situasi secara rinci dan semua pilihan yang ada. Dengan mundur sejenak biasanya kita lebih bisa melihat peluang untuk bertanya “Apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini?”, “Mengapa ini jadi masalah saya?” Dari sana dapat membantu kita untuk menyadari untuk berhenti sejenak, untuk berpikir ulang. Continue reading

Advertisements

Pelindung-pelindung Dunia


Oleh : Bhikkhu Bodhi

Penerjemah : Harianto

Editor: Selfy Parkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Seperti dewa dalam mitologi romawi – Janus, setiap manusia menghadapi dua arah yang berlawanan secara bersamaan. Dengan satu sisi dari kesadaran, kita memandang dengan seksama pada diri kita dan menjadi sadar terhadap diri kita sebagai individu yang dimotivasi oleh suatu desakan yang mendalam untuk menghindari penderitaan dan untuk menyelamatkan diri sendiri, serta menggapai kebahagiaan. Dengan sisi lain, kita memandang dunia ini dengan seksama dan menemukan bahwa hidup kita berhubungan satu sama lainnya, bahwa kita ada sebagai simpul dari sebuah jaringan hubungan yang amat luas dengan mahkluk lain yang nasibnya terikat dengan nasib kita. Oleh karena struktur hubungan dari keberadaan kita, kita terlibat dalam suatu interaksi dua arah yang terus-menerus dengan dunia ini: pengaruh dari dunia ini mendesak diri kita, membentuk dan merubah sikap serta pola kecenderungan diri kita, ketika sikap dan watak kita mengalir keluar ke dunia, suatu dorongan yang memengaruhi kehidupan mahkluk lain untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Kesatuan hubungan satu sama lain ini antara wilayah/ranah dalam dan luar memperoleh suatu urgensi tertentu untuk kita sekarang ini, kemorosotan standar etika yang merajarela dan menjalar di seluruh penjuru dunia. kemerosotan moral seperti ini sama tersebarnya dalam masyarakat yang menikmati taraf kemakmuran dan kestabilan yang nyaman, sama seperti di negara yang miskin dan putus asa menjadikan pelanggaran moral sebagai aspek utama perjuangan untuk bisa bertahan hidup. Tentu saja kita tidak boleh terlarut dalam fantasi warna pastel tentang masa lalu, membayangkan kita hidup di Taman Eden sampai penemuan mesin uap. Kekuatan penggerak hati manusia tidak banyak berubah selama bertahun-tahun, terhadap penderitaan manusia, dorongan tersebut telah melampaui perkiraan. Namun apa yang kita temukan sekarang ini merupakan suatu paradoks aneh yang akan menarik jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak baik: ketika terlihat bahwa lebih banyak yang berperilaku sesuai dengan moral dan nilai-nilai kemanusiaan, pada saat yang sama perbuatan dan perilaku yang jauh bertolak-belakang dengan nilai-nilai tersebut terjadi. Perlawanan dengan perlahan terhadap nilai-nilai etika konvensional ini merupakan sebagian hasil dari internasionalisasi perdagangan dan penetrasi global dari hampir semua media komunikasi. Keuntungan pribadi pihak tertentu, dalam rangka pencarian kekuasaan yang lebih luas dan keuntungan yang lebih besar, menghasilkan suatu aksi terorganisir bertujuan pada eksploitasi akan kerentanan nilai moral kita. Aksi ini berlanjut dalam langkah yang lebih menyeluruh, menyerbu setiap bagian dan sudut dalam hidup kita, tanpa memerhatikan konsekuensi jangka panjang terhadap individu dan masyarakat. Akibat-akibat tersebut jelas merupakan kejadian dalam masalah-masalah yang kita hadapi, masalah yang tidak terbatas oleh perbedaan bangsa: kenaikan tingkat kriminalitas, penyebaran kecanduan obat terlarang, pengerusakan lingkungan hidup, perbudakan anak dan prostitusi, perdagangan ilegal dan pornografi, penurunan nilai dalam keluarga sebagai kesatuan pendidikan moral, kepercayaan dan kasih sayang. Continue reading

SURGA 33 (BAGIAN 1. KERJASAMA)


 

Pada suatu ketika, saat Raja Magadha memerintah, ada seorang suci muda yang disebut, “Magha yang Baik”. Ia tinggal di desa terpencil yang hanya terdiri dari tiga puluh keluarga. Ketika ia masih muda, orang tuanya menikahkannya dengan seorang gadis yang memiliki kualitas karakter yang serupa dengan dirinya. Mereka sangat bahagia bersama, dan istrinya memberikannya beberapa orang anak.

Para penduduk desa menghormati Magha yang baik karena ia selalu mencoba untuk membantu dalam mengembangkan desa, untuk kebaikan semuanya. Karena mereka menghormatinya, ia mampu untuk mengajarkan Lima Latihan, untuk menyucikan pikiran, ucapan dan perbuatan mereka.

Cara Magha dalam mengajarkan adalah dengan praktik. Salah satu contoh hal ini terjadi ketika suatu hari para penduduk desa berkumpul untuk mengerjakan kerajinan tangan. Magha yang Baik membersihkan sebuah tempat untuk dia duduk. Sebelum dia duduk, seseorang yang lain telah mendudukinya. Jadi ia dengan sabar membersihkan tempat yang lain. Seorang tetangga duduk di tempatnya lagi. Hal ini terulang dan terulang lagi, sampai ia sudah dengan sabar membersihkan tempat duduk untuk semua yang hadir. Hanya dengan demikian ia dapat duduk di tempat yang terakhir.

Continue reading

LADYFACE (Pergaulan)


Pada suatu ketika, Raja Benares mempunyai seekor gajah jantan kerajaan yang baik, sabar dan jinak. Bersamaan dengan wataknya yang baik, dia juga memiliki wajah yang lemah-lembut. Sehingga dikenal dengan nama ‘Ladyface’.

Pada suatu malam, segerombolan pencuri mengadakan pertemuan tepat di depan kandang gajah. Di dalam kegelapan, mereka membicarakan tentang rencana mereka untuk merampok warga. Mereka membicarakan tentang pemukulan dan pembunuhan, serta menyombong bahwa mereka sudah tidak memiliki kebaikan jadi mereka tidak punya rasa kasihan terhadap korban mereka. Mereka menggunakan bahasa pasaran yang kasar untuk menakuti orang-orang dan untuk membuktikan betapa kuatnya mereka.

Karena malam itu sangat sunyi, Ladyface tidak melakukan apa pun tetapi hanya mendengarkan semua rencana jahat dan perkataan kejam yang kasar. ia mendengarkan dengan seksama dan, seperti yang dilakukan gajah-gajah, ia menggingat semuanya. Karena dilatih untuk patuh dan menghormati manusia, ia berpikir bahwa orang-orang ini juga harus dipatuhi dan dihormati, seperti guru-guru.

Setelah hal ini berlangsung dalam beberapa malam, Ladyface memutuskan bahwa hal yang benar untuk dilakukan adalah menjadi kasar dan kejam. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang bergaul dengan mereka yang sifat dasar pemikirannya rendah dan kasar. Tetapi hal ini dapat terjadi khususnya pada seorang lemah lembut yang berharap untuk menyenangkan orang lain.

‘Mahout’ adalah pangilan orang India terhadap pelatih spesial dan perawat terutama sekali seekor gajah. Mereka biasanya sangat dekat. Pada pagi dini hari, Mahout Ladyface datang untuk mengunjunginya seperti biasa. Gajah itu, Pikirannya dipenuhi dengan pembicaraan perampok semalam, tiba-tiba menyerang pelatihnya. ia mengangkatnya dengan belalai, meremasnya, dan menghempaskannya ke lantai, membunuhnya dalam waktu singkat. Kemudian, ia mengangkat dua orang pengunjung, bergantian, dan membunuhnya juga dengan ganas.

Kabar ini cepat menyebar ke seluruh kota bahwa Ladyface yang dikagumi telah berubah mendadak menjadi gila dan menjadi pembunuh manusia yang ditakuti. Orang-orang datang kepada raja untuk meminta bantuan.

Hal ini terjadi ketika raja mempunyai seorang menteri pintar yang dikenal dapat memahami binatang. Jadi raja memanggilnya dan memerintahkannya untuk pergi dan mencari tahu penyakit atau kondisi lain apa yang menyebabkan gajah kesukaannya berubah menjadi sangat gila.

Menteri itu adalah Bodhisatta – makhluk yang tercerahkan. Sesampainya di kandang gajah, dia berbicara lembut dengan kata yang menyejukan kepada Ladyface, dan membuatnya tenang. Dia memeriksa Ladyface dan mengetahui bahwa kesehatan fisik Ladyface dalam keadaan prima. Ketika dia berbicara ramah kepada Ladyface, dia memperhatikan bahwa gajah itu menggerakan telinganya dan memberi perhatian lebih. Hal ini hampir seperti ketika binatang malang telah kelaparan bunyi dari kata-kata yang lembut. Maka menteri mengetahui bahwa gajah ini pastinya telah mendengar kata-kata kasar atau melihat perbuatan kejam dari mereka yang ia salah nilai sebagai guru.

Dia bertanya kepada penjaga gajah, “Apakah kamu melihat siapa saja yang berkeliaran di kandang gajah, saat malam hari atau kapan pun?” “Ya, menteri,” jawab mereka, “Beberapa minggu terakhir sekelompok perampok mengadakan pertemuan di sini. Kami takut melakukan apa pun, karena mereka mempunyai karakter yang kejam. Ladyface dapat mendengar setiap perkataan mereka.”

Kemudian menteri kembali menemui raja. Dia berkata, “Raja, gajah kesayangan Anda, Ladyface, dalam keadaan sehat fisik. Aku menemukan bahwa karena mendengarkan perkataan kasar dan kejam dari para perampok selama bermalam-malam, ia sudah belajar menjadi kasar dan kejam. Pergaulan yang tidak baik sering mengarahkan kepada pikiran dan tindakan yang tidak baik.”

Raja bertanya, “Apa yang harus dilakukan?” Menteri berkata, “Baiklah Raja, sekarang kita harus membalik proses tersebut. Kita harus mengirim orang-orang bijak dan para bhikkhu, yang mempunyai pemikiran bijak, hanya untuk menghabiskan beberapa malam di luar kandang gajah. Di sana mereka harus berbicara tentang nilai-nilai kebajikan dan kesabaran, membangkitkan perasaan kasih sayang, cinta kasih, dan tidak menyakiti.”

Kemudian hal tersebut dilakukan. Selama beberapa malam, orang-orang bijaksana berbicara tentang nilai-nilai kebajikan. Mereka hanya menggunakan bahasa yang lembut baik dan sopan, untuk menciptakan kedamaian dan kenyamanan kepada setiap orang.

Setelah mendengar percakapan baik ini selama beberapa malam, Ladyface si gajah jantan bahkan menjadi lebih damai dan menyenangkan daripada sebelumnya!

Melihat perubahan total tersebut, menteri melaporkannya kepada raja, dengan berkata “Raja, Ladyface sekarang bahkan menjadi lebih tak berbahaya dan ramah daripada sebelumnya. Sekarang dia sama lembutnya seperti seekor domba!”

Raja berkata, “Hal yang sungguh menakjubkan bahwa seekor gajah gila yang kasar semacam itu dapat diubah dari bergaul dengan orang-orang bijaksana dan para bhikkhu.” Raja terkagum-kagum bahwa menterinya nampaknya mampu membaca pikiran seekor gajah. Sehingga ia memberikannya hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Seperti halnya perkataan kasar memengaruhi dengan kekejaman, begitu juga kata-kata baik menyembuhkan dengan tanpa melukai

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

RAJA ANJING PERAK (Keadilan)


Pada suatu ketika, Raja Benares pergi ke tamannya yang indah dengan kereta tempur yang dihias dengan sangat indah. Ia sangat menyayangi kereta tempur ini, terutama karena tali kulit pegangan dan pengikatnya yang dibuat dari kerajinan tangan.

Dalam kesempatan ini, ia tinggal di dalam tamannya yang indah sepanjang hari sampai malam. Malam itu telah larut ketika ia akhirnya pulang ke istana. Sehingga kereta tempurnya ditinggal di luar halaman sepanjang malam, dan tidak dikunci dengan benar.

Sepanjang malam turun hujan dengan lebatnya dan tali kulitnya menjadi basah, mengembung, menjadi lembek, dan berbau. Anjing-anjing istana yang malas mencium bau kulit yang menggiurkan dan mendatangi tempat tersebut. Mereka mengunyah dan menelan tali kulit kereta tempur yang lembek dan basah itu. Sebelum fajar, mereka kembali pulang ke kandang mereka tanpa diketahui siapa pun di dalam istana.

Ketika raja bangun tidur dan tiba di halaman, ia melihat tali kulit tersebut telah digigit dan dimakan oleh anjing-anjing. Ia memanggil para pelayan dan menuntut untuk mengetahui bagaimana ini terjadi.

Karena mereka diharuskan untuk mengawasi anjing-anjing istana, para pelayan takut mereka akan disalahkan. Karena itu, mereka mengarang cerita bahwa anjing kampung dan liar dari luar istana telah datang ke halaman istana melalui saluran air. Merekalah yang telah memakan tali kulit indah tersebut.

Raja menjadi sangat murka. Ia telah dikuasai oleh kemarahan lalu ia memutuskan untuk membalas dendam terhadap semua anjing. Maka ia mengeluarkan perintah bahwa di mana pun seseorang di kota melihat seekor anjing, ia harus membunuh anjing tersebut dengan segera!

Orang-orang mulai membunuh anjing-anjing. Anjing-anjing tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka dibunuh. Kemudian, mereka menyelidiki perintah raja itu. Mereka menjadi sangat ketakutan dan mengungsi ke pemakaman di pinggiran kota. Di tempat inilah pemimpin mereka tinggal, Raja Anjing Perak.

Perak adalah raja bukan karena ia paling besar atau paling kuat atau perkasa. Ia berukuran sedang, dengan bulu perak yang mengkilap, mata hitam yang berkilau, dan telinga tegak yang waspada. Ia berjalan dengan penuh wibawa yang membawa kekaguman dan rasa hormat dari orang mau pun para anjing. Selama kehidupannya ia telah belajar banyak, dan mampu memusatkan pikirannya pada hal yang paling penting. Maka ia menjadi yang paling bijaksana dari semua anjing, juga sebagai anjing yang paling memperhatikan yang lainnya. Itulah alasan-alasan ia menjadi raja anjing.

Di pemakaman, para anjing merasa panik. Mereka sangat ketakutan. Perak si Raja Anjing bertanya kepada mereka mengapa mereka sangat ketakutan. Mereka menceritakan kepadanya semua tentang tali kulit kereta dan perintah raja serta orang-orang yang membunuh mereka di mana pun orang-orang melihat mereka.

Raja Perak mengetahui bahwa mustahil untuk dapat masuk ke dalam halaman istana yang dijaga dengan ketat. Maka ia menyadari bahwa tali kulit tersebut pastinya telah dimakan oleh para anjing yang tinggal di dalam istana.

Ia berpikir, “Kami para anjing tahu bahwa bagaimana pun berbedanya masing-masing penampilan kami ini, kami saling berhubungan satu sama lain. Maka sekarang, aku harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan kehidupan seluruh anjing-anjing malang, para saudaraku. Tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka selain aku.”

Ia menenangkan mereka dengan berkata, “Jangan takut. Aku akan menyelamatkan kalian semua. Tinggallah di pemakaman ini dan jangan pergi ke kota. Aku akan memberi tahu Raja Benares siapa para pencuri dan siapa yang tidak bersalah. Kebenaran akan menyelamatkan kita semua.”

Sebelum berkemas, ia pergi menuju ke bagian lain dari pemakaman untuk menyendiri. Setelah banyak mempraktikan kebaikan sepanjang kehidupan dan melatih pikirannya. Sekarang ia memusatkan pikiran dengan bersungguh-sungguh dan mengisi pikirannya dengan rasa cinta kasih. Ia berpikir, “Semoga semua anjing sehat dan berbahagia, dan semoga semua anjing mendapat keselamatan. Aku pergi ke istana semata-mata untuk keselamatan para anjing dan juga manusia. Tak seorang pun akan menyerang atau melukai diriku.”

Lalu Perak si Raja Anjing mulai berjalan dengan pelan melewati jalan-jalan di Benares. Karena pikirannya terpusat,  ia tidak merasa takut karena selama kehidupannya yang penuh dengan banyak kebaikan, ia berjalan dengan tenang dan berwibawa yang menyebabkan rasa hormat. Dan karena pancaran hangat cinta kasih yang dapat dirasakan oleh setiap manusia, tak seorang pun merasakan kemarahan atau ada niat untuk melukai dirinya. Malahan, mereka kagum ketika Makhluk yang Agung tersebut lewat dan merasa heran mengapa hal itu bisa terjadi!

Hal itu seperti seluruh kota menerimanya. Tanpa rintangan, Raja Anjing Perak berjalan melewati penjaga istana, menuju ruang pengadilan istana dan duduk dengan tenangnya tepat di bawah singgasana raja. Raja Benares sangat terkesan dengan keberanian dan wibawanya yang sangat besar. Maka ketika para pelayan datang untuk mengusir anjing tersebut, ia memerintahkan mereka untuk membiarkannya.

Lalu Raja Anjing Perak keluar dari bawah singgasana dan bertatapan langsung dengan Yang Mulia Raja Benares. Ia membungkuk dengan penuh rasa hormat dan bertanya, “Yang Mulia, apakah benar Anda yang telah memberi perintah bahwa semua anjing di kota harus dibunuh?” “Ya, benar,” jawab raja. “Apakah kesalahan yang telah para anjing lakukan?” tanya raja anjing. “Anjing-anjing tersebut telah memakan tali kulit kereta tempurku yang sangat indah.” “Apakah Anda tahu anjing-anjing mana saja yang telah berbuat itu?” tanya Raja Perak. “Tidak seorang pun tahu,” kata Raja Benares.

“Tuanku,” kata anjing, “Bagi seorang raja seperti Anda, yang mengharapkan keadilan, apakah ini benar dengan membunuh semua anjing sebagai ganti kesalahan dari beberapa ekor anjing? Apakah ini adil bagi yang tidak bersalah?” Raja menjawab, seolah-olah hal itu masuk akal baginya, “Karena aku tidak tahu anjing mana yang telah menghancurkan tali kulitku, dengan hanya memberi perintah membunuh semua anjing, aku dapat menghukum yang telah bersalah. Raja harus adil!”

Raja anjing perak diam sejenak, sebelum menantang raja dengan pertanyaan sangat penting – “Tuanku Raja, apakah benar Anda telah memerintahkan semua anjing untuk dibunuh atau apakah ada yang tidak dibunuh?” Raja tiba-tiba menjadi agak gelisah ketika ia terpaksa harus mengakui di depan pengadilan, “Hal itu benar bahwa sebagian besar anjing dibunuh tapi tidak semuanya. Kecuali untuk anjing keturunan murni dari istanaku .”

Lalu raja anjing berkata, “Tuanku, sebelum Anda berkata bahwa semua anjing harus dibunuh dengan alasan untuk memastikan bahwa yang bersalah akan dihukum. Sekarang Anda berkata bahwa anjing istana Anda sendiri dibiarkan saja. Ini menunjukan bahwa Anda telah bertindak salah dengan berburuk sangka. Untuk seorang raja yang berharap untuk adil, adalah salah melindungi beberapa golongan daripada yang lainnya. Keadilan raja harus seimbang seperti sebuah timbangan yang jujur. Meskipun Anda memberi perintah kematian ke semua anjing, nyatanya ini hanyalah pembantaian terhadap anjing-anjing yang malang. Anjing-anjing istana Anda dengan tidak adil diselamatkan, sedangkan yang malang dibunuh dengan kekeliruan!”

Menyadari kebenaran dari kata-kata raja anjing, Raja Benares bertanya, “Apakah kamu cukup bijaksana untuk mengetahui anjing mana yang telah memakan tali kulit pegangan dan pengikatnya?” “Ya Tuanku, aku tahu,” jawabnya, “Tidak lain dan tidak bukan adalah anjing-anjing istana kesayangan Anda, dan aku dapat membuktikannya.” “Silahkan,” kata raja.

Raja anjing meminta agar hewan peliharaan istana dibawa ke dalam ruang pengadilan istana. Ia meminta campuran sisa susu dan rumput agar anjing-anjing tersebut memakannya. Setelah menunggu dan melihat, ketika telah selesai, mereka memuntahkan sebagian potongan tali kulit raja yang telah dicerna!

Lalu raja anjing perak berkata, “Tuanku, tak satu pun anjing-anjing malang dari kota dapat masuk ke dalam lingkungan istana yang dijaga ketat. Anda dibutakan oleh prasangka. Anjing-anjing Andalah yang bersalah. Meskipun demikian, membunuh makhluk hidup apa pun merupakan tindakan yang merugikan. Ini karena apa yang para anjing ketahui, sedangkan manusia kadang tidak ketahui – bagaimana pun semua bentuk kehidupan saling berhubungan maka semua mahkluk hidup pantas mendapatkan rasa hormat yang sama sebagai saudara.”

Semua yang hadir di ruang pengadilan terkesima oleh apa yang sedang terjadi. Raja Benares tiba-tiba diliputi oleh perasaan kerendahan hati yang luar biasa. Dia memberi hormat kepada raja anjing dan berkata, “Oh raja anjing yang agung, aku belum pernah berjumpa dengan siapa pun seperti Anda, seseorang yang mengkombinasikan kebijaksanaan dengan rasa welas asih yang besar. Sungguh, keadilanmu agung. Aku menawarkan tahtaku dan kerajaan Benares kepada Anda!”

Makhluk yang Tercerahkan menjawab, “Bangunlah tuanku, aku tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang raja bagi manusia. Bila Anda ingin menunjukan rasa hormat Anda kepadaku, Anda harus menjadi seorang pemimpin yang adil dan welas asih. Hal itu dapat membantu jika Anda ingin mulai memurnikan pikiran Anda dengan melatih ‘Lima Langkah Pelatihan’. Hal ini dapat menghilangkan semua lima tindakan merugikan: membinasakan kehidupan, mengambil yang tidak diberikan, perbuatan asusila, berbicara tidak benar, dan mabuk-mabukan.”

Raja mengikuti ajaran raja anjing yang bijaksana. Ia memerintah dengan penuh rasa hormat kepada semua makhluk hidup. Ia berpesan bahwa kapan pun ia makan, semua anjing, yang di istana dan di kota diberi makan secara baik. Inilah awal dari kesetiaan antara anjing dan manusia yang telah berlangsung sampai saat ini.

Pesan moral : Prasangka mengarah pada ketidakadilan, kebijaksanaan mengarah kepada keadilan.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

POHON YANG BERPERILAKU SEPERTI SEORANG PEMBURU (Ketidaksabaran)


Pada suatu ketika, ada seekor kijang yang tinggal di hutan rimba. Ia memakan buah-buahan yang jatuh dari pepohonan. Ada sebatang pohon yang menjadi favoritnya.

Di daerah yang sama ada seorang pemburu yang menangkap dan membunuh kijang dan rusa. Ia meletakkan buah sebagai umpan di bawah pohon. Lalu ia menunggu, bersembunyi di atas cabang pohon. Ia memegang seutas tali jerat menggantung ke tanah di sekeliling buah-buahan. Ketika ada binatang memakan buah-buahan, pemburu mengencangkan tali jerat dan menangkapnya.

Di pagi hari buta, Sang Kijang mendatangi pohon favoritnya mencari buah-buahan untuk dimakan. Ia tidak melihat pemburu yang bersembunyi di pohon itu, siap dengan tali perangkapnya. Walaupun ia lapar, sang kijang sangat berhati-hati. Ia waspada terhadap segala bahaya yang mungkin terjadi. Ia melihat buah-buahan masak yang lezat di kaki pohon favoritnya. Ia heran mengapa tidak ada binatang yang memakannya, maka ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pemburu yang bersembunyi melihat Sang Kijang mendekat dari kejauhan. Melihat sang kijang berhenti dan berhati-hati, ia takut tidak dapat menangkapnya. Ia sangat berhasrat menangkap kijang sehingga ia mulai melempar buah-buahan ke arah sang kijang, mencoba memikatnya supaya mendekat.

Tapi ia adalah seekor kijang cantik yang cerdik. Ia tahu buah-buahan hanya jatuh tegak lurus ketika mereka jatuh dari pohon. Karena buah-buahan tersebut jatuh ke arahnya, ia tahu bahwa ada bahaya. Sehingga ia memeriksa pohon tersebut dengan teliti, dan melihat si pemburu di cabang. Namun, ia berpura-pura tidak melihatnya.

Ia berbicara ke arah pohon. “Oh pohon buahku tersayang, engkau biasanya memberiku buah dengan membiarkan mereka jatuh tegak lurus ke tanah. Sekarang, melempar mereka ke arahku, engkau berbuat tidak mirip sama sekali seperti pohon. Karena engkau telah merubah kebiasaanmu, saya juga akan berubah. Saya akan mengambil buahku dari pohon lain mulai dari sekarang, pohon yang masih berprilaku seperti sebuah pohon!”

Si pemburu menyadari kesalahannya dan melihat sang kijang telah mengakalinya. Ini membuat marah si pemburu dan ia berteriak, “Engkau mungkin dapat lepas dari diriku kali ini, engkau kijang cerdik, tapi aku pasti akan menangkapmu lain waktu!”

Sang kijang menyadari bahwa dengan membuatnya sangat marah, si pemburu telah membuka rahasia dirinya dua kali tanpa disengaja. Maka ia berbicara ke arah pohon lagi. “Tidak hanya engkau berprilaku seperti sebuah pohon, tapi engkau berprilaku seperti seorang pemburu! Engkau makhluk bodoh, yang hidup dengan membunuh hewan-hewan. Engkau tidak mengerti bahwa membunuh mahluk yang tidak berdosa membawa kerugian pula kepadamu, baik di kehidupan saat ini dan tumimbal lahir di alam neraka. Hal ini sangat jelas bahwa kami para kijang jauh lebih bijaksana dibanding engkau. Kami makan buah-buahan, kami tetap terbebas dari pembunuhan mahluk hidup dan kami terhindar dari akibat buruk.”

Setelah berkata, Sang Kijang yang berhati-hati melompat ke dalam hutan lebat dan menghilang.

Pesan moral : Orang bijaksana terbebas dari kesalahan.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

SI CANTIK DAN SI ABU-ABU (Pemimpin yang Bijaksana)


Suatu ketika, ada seekor rusa pemimpin dari ribuan rusa lainnya. Ia memiliki dua orang anak laki-laki. Anaknya yang satu sangat kurus dan tinggi, dengan mata yang tajam dan cermelang, bulunya halus kemerah-merahan. Dia dipanggil si Cantik. Anak satunya memiliki bulu dengan warna abu-abu, tubuhnya juga kurus dan tinggi, dan dia dipanggil si Abu-abu.
Suatu hari, setelah mereka benar-benar tumbuh besar, ayah mereka memanggil untuk menghadap. Ayahnya berkata, “Sekarang aku sudah sangat tua, jadi aku tidak bisa melakukan semua yang dibutuhkan untuk menjaga kumpulan besar rusa ini. Aku ingin kalian, kedua anak-anakku yang sudah besar menjadi para pemimpin. Kita akan membagi kumpulan dan masing-masing dari kalian akan memimpin 500 ekor rusa.”

Di India, ketika musim panen datang, para rusa selalu dalam bahaya. Beras yang ada pada tempat paling tinggi, membuat rusa-rusa yang tidak dapat mencapainya menuju padi-padi dan memakannya. Untuk menghindari kerusakan panen mereka, manusia menggali lubang, memasang pancang-pancang tajam di dalam tanah, dan membangun perangkap batu-batu. Semuanya itu untuk menangkap dan membunuh rusa-rusa.

Mengetahui ini adalah saatnya musim panen, rusa tua yang bijaksana memanggil dua pemimpin barunya untuk menghadap. Ia menasihati mereka untuk membawa kumpulan rusa naik ke dalam hutan gunung, jauh dari bahaya tanah-tanah perkebunan. Ini adalah cara bagaimana ia selalu melindungi rusa-rusa dari terluka dan pembunuhan. Kemudian ia akan membawa mereka kembali ke dataran-dataran rendah setelah musim panen berakhir.

Karena rusa tua bijaksana itu terlalu tua dan lemah untuk melakukan perjalanan, ia akan tetap tinggal dalam persembunyian. Ia memperingatkan mereka agar hati-hati dalam perjalanan. Si Cantik bersiap-siap bersama kumpulannya untuk pergi ke hutan di atas gunung, begitu juga dengan si Abu-abu bersama kumpulannya.

Orang-orang desa mengetahui bahwa inilah saatnya bagi rusa-rusa berpindah dari tanah-tanah perkebunan di daratan rendah menuju daerah pedalaman dataran tinggi. Jadi mereka bersembunyi sepanjang jalan itu dan membunuh rusa-rusa ketika melintas.

Si Abu-abu tidak memperhatikan nasehat bijaksana ayahnya. Bukannya hati-hati dan melakukan perjalanan dengan aman, ia malah terburu-buru menuju hutan gunung yang lebat. Jadi ia menggerakkan kumpulannya secara terus-menerus. Selama malam hari, fajar juga petang hari dan bahkan pada waktu siang bolong. Ini mempermudah bagi orang-orang itu untuk menembak rusa-rusa di dalam kumpulan si Abu-abu dengan panah dan busur. Banyak rusa-rusa terbunuh dan terluka yang kemudian mati karena kesakitan. Si Abu-abu mencapai hutan dengan hanya beberapa rusa yang masih hidup.

Si Cantik, si rusa tinggi dengan bulu kemerah-merahan yang mengkilap, cukup bijaksana untuk mengerti bahaya bagi kumpulannya yang sedang bergerak untuk itu dia sangat hati-hati. Ia tahu bahwa di siang hari tidaklah aman, atau bahkan saat subuh ataupun senja. Jadi ia memimpin kumpulannya keliling perkampungan, dan hanya bergerak pada tengah malam. Kumpulan si Cantik sampai di dalam hutan gunung dengan aman dan sehat, tak ada satu pun rusa yang terbunuh dan terluka.

Kedua kawanan rusa bertemu, dan menetap di dalam gunung-gunung sampai musim panen benar-benar telah berakhir. Lalu mereka mulai kembali ke daerah tanah pertanian. Si Abu-abu belum belajar apa pun dari perjalanan pertamanya. Ketika cuaca di gunung semakin dingin. Ia terburu-buru untuk sampai di daerah dataran rendah yang hangat. Jadi ia sama ceroboh seperti sebelumnya. Sekali lagi para penduduk desa yang bersembunyi di sepanjang jalan menyerang dan membunuh rusa-rusa itu. Semua kumpulan rusa si Abu-abu dibunuh yang kemudian akan dimakan dan dijual oleh para penduduk desa. Si Abu-abu sendiri adalah satu-satunya rusa yang selamat dalam perjalanan.

Si Cantik memimpin kumpulannya dengan cara hati-hati sama seperti sebelumnya. Ia membawa kembali semua 500 rusa-rusanya dengan selamat. Sementara rusa-rusa masih dalam perjalanan. Si pemimpin yang lama, ayahnya berkata kepada rusa betinanya, “Lihat rusa-rusa itu sudah kembali. Si Cantik datang bersama semua pengikut-pengikutnya. Si Abu-abu datang seorang diri, tanpa semua kumpulan 500 rusanya. Mereka yang mengikuti pemimpin yang bijaksana dengan kualitas yang baik, akan selalu aman. Mereka yang mengikuti pemimpin yang bodoh, yang ceroboh dan berpikir akan dirinya sendiri, akan jatuh ke dalam masalah-masalah dan binasa.”

Setelah beberapa waktu, si rusa tua meninggal dan terlahir kembali sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Si Cantik menjadi pemimpin kumpulan rusa dan hidup panjang umur, dicintai dan dikagumi oleh semua kawanannya.

Pesan moral : Pemimpin yang bijaksana mengutamakan keamanan dari pengikut-pengikutnya.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50