Ada Apa dengan Nanjing


Oleh Selfy Parkit

Tahun 2013 – 2014, saya mendapat kesempatan belajar bahasa Mandarin di China selama 2 semester, tepatnya di kota Nanjing Propinsi Jiang Su. Program belajar ini merupakan beasiswa yang diberikan oleh Sekolah Tinggi di China yang bernama Nanjing College Chemical and Technology (NCCT) 南京化工职业技术学院.

Gerbang Belakang NCCT

Gerbang Belakang NCCT

Di sekolah tersebut saya tinggal bersama 17 orang Indonesia lainnya (yang juga mendapatkan beasiswa belajar) di dalam satu gedung kos yang menurut saya lebih pantas disebut sebagai apartemen, karena ruangan dan kelengkapan di dalamnya lebih mewah dibandingkan dengan kos-kosan anak kampus umumnya, bahkan jauh melebihi kos-kosan orang Indonesia yang bersekolah dari kampus lain di sekitar kota Nanjing. (tunggu di tulisan berikutnya, check it out)

Pengalaman belajar di luar negeri adalah pengalaman pertama saya, dan masa-masa itu adalah kenangan yang tidak akan pernah lekang dari ingatan saya. Suka duka, hiru biru, sampai dengan cerita cinta dan kekonyolan yang kita lakukan di sana semua merupakan kenangan indah… indah…. indah…. yang sulit terucapkan oleh kata-kata dan untaian kata. Namun Saya ingin mencoba mengingatnya satu persatu dan membaginya untuk para pembaca, para teman dan sahabat yang juga ikut di dalamnya. Untuk itu, cerita ini akan di mulai ketika saat pertama kali saya mendapatkan beasiswa belajar di Nanjing.

di depan Gedung Perpustakaan NCCT

di depan Gedung Perpustakaan NCCT bersama 17 orang Indonesia penerima beasiswa dan Bapak Anwar wakil dari Kedubes Indonesia di China.

Continue reading

Advertisements

Mutiara di Dalam Lumpur


Oleh Selfy Parkit.

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Seorang anak kecil yang sedang membawa sekantong penuh gelas-gelas plastik bekas air mineral mencari orang yang mau menukarkannya dengan selimut untuk adiknya di rumah. Anak kecil tersebut berjalan menelusuri jalan sambil meminta-minta tolong kepada orang-orang yang ditemuinya. Jika saat itu anda yang dimintai tolong, apakah anda akan memberikan selimut anda kepada anak kecil tersebut? Bagaimana jika kebetulan anda sedang di luar rumah dan tempat tinggal anda jauh, apakah anda tetap akan memberikan selimut anda kepadanya? Apa pun jawaban anda, saya rasa kita harus tetap belajar banyak dari ibu Supratiwi yang akhirnya mau menolong anak kecil tersebut dan memberikan selimutnya dengan tulus dan ikhlas. Rabu 19 January 2011, salah satu program televisi “Tolong” telah menayangkan peristiwa yang mengharukan tersebut. Ibu Supratiwi seorang pemulung bersama kakek angkatnya yang sedang melintasi jalan, tak sengaja bertemu dengan anak dari tim Tolong tersebut. Rumahnya yang jauh tak menjadi alasan baginya untuk tidak menolong, bahkan tak segan-segan pula ia menawari makan dan niat memberikan uang kepada anak tersebut. Continue reading

Life is Harder than Writing a Story


Here I am, trying to write again, making a note and talking to myself on this writing. Lama sekali tidak menulis, rasa enggan dan malas sibuk bercampur dengan aktivitas hidup yang tak pernah ada habisnya, dan juga terbius dengan rasa bahagia dunia, panah asmara dan bilur-bilur suka duka pokoknya banyak deh. Tak akan ada habisnya if I try to write one by one here kalian pasti bakal boring tingkat dewa.

Anyway Begitu banyak kata-kata indah di dalam otak gw, begitu banyak teori hidup di dalam pikiran g, begitu banyak bla bla bla gw tuangkan di dalam tulisan-tulisan gw, namun pada kenyataan life is harder than writing a story.

Di dalam sebuah cerita jika pacar kita marah, seyogyanya kita sebagai pasangan jangan ikutan marah kalau ga mau terjadi perang dunia kedua. Tapi Klo mo bikin ceritanya mendramatrisir itu lebih gampang lagi tinggal ikut-ikutan ngambek aja, kalo perlu semua binatang yang ada di kebun binatang diikut sertakan aja biar ceritanya tambah seru. Kalau mau bikin yang agak tragis sekalian aja piring, bangku, sendok ikut melayang biar dikira KDRT. Di dalam cerita semuanya bisa terjadi dan terserah si penulis bagaimana endingnya aja.

But in our life, jika hal itu terjadi bisa kah kita menahan diri untuk tidak ikut-ikutan marah jika pasangan kita marah atau berbuat salah? Bisakah hewan di kebun binatang diistirahatkan dulu perannya? Bisakah perabotan rumah tangga kita di taruh rapih di tempatnya? Bisakah ego kita diredam sejenak?

Perumpamaan berkata, batu yang sama-sama keras akan saling menghancurkan satu sama lainnya jika mereka dibenturkan. Begitu juga hubungan kita dengan orang lain, jika sama-sama mengeraskan ego yang terjadi adalah kita akan merusak hubungan kita dengan orang lain, dengan teman kita, pacar kita, keluarga kita dan dengan semua orang yang kita kasihi.

Life is really harder than writing a story. Di dalam cerita yang kita buat, kita bisa saja menempatkan cerita tambahan atau pun memotong bagian cerita yang kita ga suka seenak udel kita. But in life, cerita yang sudah terjadi, ya terjadilah. Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, kita tak bisa kembali di masa yang sudah lalu. Semua perkataan yang pernah kita lontarkan baik itu pujian atau pun caci maki, semuanya tidak mungkin kita tarik kembali.

Di dalam hidup kita, kita hanya mampu bergerak maju menjalani hari ke depan, mesin waktu untuk kembali ke masa lalu hanya ada di film-film atau cerita novel belaka, dan menyesali masa lalu hanyalah cara kita menghabiskan waktu dengan menyiksa diri (seperti perkataan bro Chuang di Bali).

Anyway, seberat-beratnya hidup, lebih berat klo angkat yang berat-berat. hahaha…. Hari ini boleh aja kesepian, boleh aja menangis, boleh aja menderita tapi ujung-ujungnya everything will be change, semuanya bakal berubah. Kalau saja menulis lebih mudah daripada menjalani hidup, mulai dari sekarang gw akan menulis kehidupan gw, namun bukan hanya di secarik kertas, tetapi di dunia kehidupan yang bakal gw jalani.

Sedih, duka kecewa adalah bagian dari kehidupan dan awal dari proses menuju kebahagiaan. Jika tidak ada teman yang menemani, masih ada burung yang berkicau di langit. Jika tidak ada uang di saku, masih ada seluling yang mengiringi hahaha…, apa hubungannya! maksudnya ngamen cari duit tambahan buat makan hari-hari :p

Anyway this is the end of my writing, life is still harder that writing a story, but it is harder if we think harder.

Let’s Enjoy Our Life.

Exif_JPEG_420

07 December 2013, at 11.49 pm

Nanjing-China

Selfy parkit

kita bisa memotong bagian cerita yang kita ga suka seenak udel kita.

“we always think that things concerning ourselves are most important and crucial, but those actually just like dusts blown in the winds… eventually dissolved by the arrow of time.” -Willy Yanto Wijaya

ANAK RUSA YANG PURA-PURA MATI (Kehadiran)


Pada suatu ketika, hidup sekumpulan rusa hutan. Di dalam kumpulan ini terdapat guru yang yang bijaksana dan dihormati, yang menunjukan kecerdikan dalam mencari cara bagi rusa. Ia mengajarkan cara dan strategi untuk bertahan hidup bagi anak-anak rusa muda.

Suatu hari, adik perempuan si Guru ini membawa anak laki-lakinya datang bertemu untuk diajarkan apa yang sangat penting bagi rusa. Ibu itu berkata, “Oh… guru yang juga saudara laki-lakiku, ini adalah anakku.” Si Guru berkata kepada anak rusa itu, “Baiklah kau bisa datang pada jam-jam ini besok untuk pelajaran pertamamu.”

Anak rusa muda itu datang mengikuti pelajaran sebagaimana seharusnya. Ketika rusa lain tidak masuk kelas dan menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk bermain, ia tetap di kelas dan memperhatikan gurunya. Ia sungguh disukai oleh para rusa jantan dan rusa betina lainnya, tetapi ia hanya akan bermain jika tugas kelasnya selesai dikerjakan. Rasa ingin tahunya dalam belajar, membuatnya selalu datang tepat waktu dalam menghadiri pelajaran. Ia juga sabar terhadap murid-murid lainnya. Ia menghargai si Guru rusa atas pengetahuan yang dimilikinya dan merasa berterima kasih untuk kesediaannya dalam berbagi pengetahuannya.

Suatu ketika, si Anak rusa masuk ke dalam sebuah perangkap di dalam hutan dan ditangkap. Ia berteriak kesakitan. Ini membuat takut anak-anak rusa lainnya yang berlari kembali ke rombongan dan memberitahukan ibunya. Ibunya merasa ketakutan dan lari menemui saudara laki-lakinya, si Guru. Bergetar oleh ketakutan, dan dibasahi oleh air mata, dia berkata kepada si Guru, “Oh saudara laki-lakiku tercinta, apakah kau sudah mendengar kabar bahwa anakku sudah terperangkap oleh beberapa pemburu? Bagaimana aku dapat menyelamatkan hidup anakku? Apakah ia belajar dengan baik di kelasmu?”

Kakaknya berkata, “Adik perempuanku, jangan takut. Aku yakin ia akan selamat. Ia belajar dengan sungguh keras dan selalu melakukan yang terbaik. Ia tidak pernah melewatkan satu kelas pun dan selalu memperhatikan. Untuk itu, tidak perlu memiliki keraguan ataupun kesedihan di dalam hatimu. Ia tidak akan disakiti oleh manusia apa pun. Jangan khawatir. Aku yakin ia akan kembali kepadamu dan membuatmu bahagia kembali. Ia sudah belajar semua cara dan strategi yang digunakan oleh rusa untuk menipu pemburu-pemburu. Jadi sabarlah. Ia akan kembali!”

Sementara itu, si Anak rusa yang terperangkap berpikir, “Semua teman-temanku takut dan kabur. Tidak ada satu pun yang membantuku keluar dari perangkap yang mematikan ini. Sekarang aku harus menggunakan cara dan strategi yang sudah aku pelajari dari guru bijaksana yang sudah mengajar dengan sangat baik.”

Strategi rusa yang akhirnya ia putuskan untuk digunakan disebut, “Pura-pura mati.” Pertama, ia menggunakan kuku-kukunya untuk menggali tanah dan rumput, untuk membuat seolah-olah ia sudah berusaha sangat keras untuk melarikan diri. Kemudian ia buang air besar dan kecil, karena inilah yang terjadi ketika seekor rusa ditangkap di dalam sebuah jebakan dan mati dalam ketakutan yang sangat besar. Selanjutnya, ia melumuri tubuhnya dengan air liurnya sendiri.

Berbaring lurus terlentang, ia membuat tubuhnya kaku dan meluruskan kakinya. Ia menaikkan kedua matanya, dan membiarkan lidahnya menjulur di sisi mulutnya. Ia mengisi paru-parunya dengan udara dan mengembungkan perutnya. Akhirnya, dengan posisi kepalanya condong ke satu sisi. Ia bernafas melalui lubang hidung yang dekat ke tanah, bukan melalui lubang hidung bagian atas.

Terbaring tanpa gerakan, ia benar-benar terlihat seperti mayat kaku dan lalat-lalat berterbangan mengelilinginya, tertarik oleh bebauan yang sangat bau. Burung gagak berdiri di dekatnya menunggu untuk memakan dagingnya.

Tak lama kemudian, pagi-pagi sekali si Pemburu datang untuk memeriksa perangkap-perangkapnya. Menemukan si Anak rusa yang sedang berpura-pura mati, ia menepuk perut rusa yang mengembung dan mengetahui perutnya kaku. Melihat lalat-lalat dan kotoran yang berserakan itu ia berpikir, “Ah, rusa ini sudah mulai menjadi kaku. Ia pasti sudah terperangkap lama sekali pagi ini. Tidak diragukan lagi kalau daging lunaknya sudah mulai membusuk. Aku akan menguliti dan menyembelih bangkainya di sini, lalu membawa dagingnya pulang.”

Ketika si Pemburu benar-benar percaya rusa itu mati, ia memindahkan dan membersihkan perangkap itu, dan mulai menyebarkan daun-daun untuk membuat tempat penyembelihan. Menyadari kalau dirinya bebas, si Anak rusa dengan tiba-tiba meloncat lalu berdiri. Ia berlari bagaikan awan kecil yang tertiup oleh angin yang bergerak cepat, kembali ke tempat ibunya yang nyaman dan aman. Seluruh kawanan rusa merayakan keselamatannya, syukurlah karena sudah belajar dengan sangat baik dari guru yang bijaksana.

Pesan moral : Belajar dengan baik membawa hasil yang besar.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

ANAK RUSA YANG MEMBOLOS (Pembolosan Dari Sekolah)


Pada suatu ketika, hidup sekumpulan rusa hutan. Di dalam kumpulan ini terdapat guru yang bijaksana dan dihormati, yang menunjukkan kecerdikan dalam mencari cara bagi rusa. Ia mengajarkan cara dan strategi untuk bertahan hidup bagi anak-anak rusa muda.

Suatu hari, adik perempuan si Guru membawa anak laki-lakinya datang bertemu untuk diajarkan apa yang sangat penting bagi rusa. Ibu itu berkata, “Oh guru yang juga saudara laki-lakiku, ini adalah anakku.” Si Guru berkata kepada anak rusa itu, “Baiklah, kau bisa datang pada jam-jam ini besok untuk pelajaran pertamamu.”

Pada awalnya, anak rusa muda datang mengikuti pelajaran sebagaimana seharusnya. Tetapi tidak lama kemudian, ia menjadi lebih tertarik bermain dengan rusa jantan dan rusa betina lainnya. Ia tidak menyadari bahwa betapa berbahayanya untuk seekor rusa yang tidak belajar apa pun tetapi hanya bermain. Jadi ia mulai meninggalkan kelas. Tak lama kemudian ia selalu membolos.

Sayangnya, suatu hari anak rusa yang membolos ini masuk ke dalam jebakkan dan terperangkap. Ketika ia menghilang, ibunya merasa khawatir. Ia pergi menemui si Guru, kakaknya dan bertanya, “Kakakku tercinta, bagaimana anak laki-lakiku? Sudahkah kau mengajarkan keponakanmu cara dan strategi bagi rusa?”

Si Guru menjawab, “Adikku yang kukasihi, anakmu itu tidak patuh dan tidak dapat diajarkan. Karena untuk menghormatimu, aku berusaha sebaik mungkin untuk mengajarinya. Tetapi ia tidak mau belajar cara dan strategi bagi rusa. Ia membolos! Bagaimana mungkin aku bisa mengajarinya? Kau patuh dan setia, tetapi ia tidak. Sia-sia saja berusaha untuk mengajarinya.”

Kemudian mereka mendengar kabar menyedihkan. Si Rusa keras kepala yang membolos sudah terperangkap dan dibunuh oleh seorang pemburu. Si Pemburu mengulitinya dan mengambil dagingnya dibawa pulang untuk keluarganya.

Pesan moral : Tak ada satupun yang dapat dipelajari dari seorang guru, oleh orang yang membolos.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

BUTA


Tak ada yang ingin aku katakan lebih banyak lagi, karena pada dasarnya apa yang kusampaikan mungkin tak akan merubah keadaan. Mungkin kebingungan itu memang ada di dalam diri ini saja, hanya buatan pikiran. Tapi apa yang ingin aku sampaikan mungkin adalah gambaran rasa gelisah dari setiap orang yang pernah mengalaminya.

Aku belum suci, aku juga tidak sebijaksana orang-orang suci, aku masih si pejuang kebahagiaan dan masih berusaha untuk terbebas dari semua kekotoran batin. Aku masih berusaha untuk mengerti seperti apakah dunia dan kehidupan ini? Ibarat seseorang yang tahu akan sumber dari aliran sungai, namun tak tahu bagaimana caranya menghentikan sumber dari aliran air dari sungai tersebut, mungkin begitulah keadaan pikiran ini diibaratkan. Aku masih buta, butuh tuntunan dan pertolongan. Aku masih harus lebih banyak belajar.

PELAJARAN : Setiap manusia punya masalah yang sama ‘Buta’