RAJA ANJING PERAK (Keadilan)


Pada suatu ketika, Raja Benares pergi ke tamannya yang indah dengan kereta tempur yang dihias dengan sangat indah. Ia sangat menyayangi kereta tempur ini, terutama karena tali kulit pegangan dan pengikatnya yang dibuat dari kerajinan tangan.

Dalam kesempatan ini, ia tinggal di dalam tamannya yang indah sepanjang hari sampai malam. Malam itu telah larut ketika ia akhirnya pulang ke istana. Sehingga kereta tempurnya ditinggal di luar halaman sepanjang malam, dan tidak dikunci dengan benar.

Sepanjang malam turun hujan dengan lebatnya dan tali kulitnya menjadi basah, mengembung, menjadi lembek, dan berbau. Anjing-anjing istana yang malas mencium bau kulit yang menggiurkan dan mendatangi tempat tersebut. Mereka mengunyah dan menelan tali kulit kereta tempur yang lembek dan basah itu. Sebelum fajar, mereka kembali pulang ke kandang mereka tanpa diketahui siapa pun di dalam istana.

Ketika raja bangun tidur dan tiba di halaman, ia melihat tali kulit tersebut telah digigit dan dimakan oleh anjing-anjing. Ia memanggil para pelayan dan menuntut untuk mengetahui bagaimana ini terjadi.

Karena mereka diharuskan untuk mengawasi anjing-anjing istana, para pelayan takut mereka akan disalahkan. Karena itu, mereka mengarang cerita bahwa anjing kampung dan liar dari luar istana telah datang ke halaman istana melalui saluran air. Merekalah yang telah memakan tali kulit indah tersebut.

Raja menjadi sangat murka. Ia telah dikuasai oleh kemarahan lalu ia memutuskan untuk membalas dendam terhadap semua anjing. Maka ia mengeluarkan perintah bahwa di mana pun seseorang di kota melihat seekor anjing, ia harus membunuh anjing tersebut dengan segera!

Orang-orang mulai membunuh anjing-anjing. Anjing-anjing tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka dibunuh. Kemudian, mereka menyelidiki perintah raja itu. Mereka menjadi sangat ketakutan dan mengungsi ke pemakaman di pinggiran kota. Di tempat inilah pemimpin mereka tinggal, Raja Anjing Perak.

Perak adalah raja bukan karena ia paling besar atau paling kuat atau perkasa. Ia berukuran sedang, dengan bulu perak yang mengkilap, mata hitam yang berkilau, dan telinga tegak yang waspada. Ia berjalan dengan penuh wibawa yang membawa kekaguman dan rasa hormat dari orang mau pun para anjing. Selama kehidupannya ia telah belajar banyak, dan mampu memusatkan pikirannya pada hal yang paling penting. Maka ia menjadi yang paling bijaksana dari semua anjing, juga sebagai anjing yang paling memperhatikan yang lainnya. Itulah alasan-alasan ia menjadi raja anjing.

Di pemakaman, para anjing merasa panik. Mereka sangat ketakutan. Perak si Raja Anjing bertanya kepada mereka mengapa mereka sangat ketakutan. Mereka menceritakan kepadanya semua tentang tali kulit kereta dan perintah raja serta orang-orang yang membunuh mereka di mana pun orang-orang melihat mereka.

Raja Perak mengetahui bahwa mustahil untuk dapat masuk ke dalam halaman istana yang dijaga dengan ketat. Maka ia menyadari bahwa tali kulit tersebut pastinya telah dimakan oleh para anjing yang tinggal di dalam istana.

Ia berpikir, “Kami para anjing tahu bahwa bagaimana pun berbedanya masing-masing penampilan kami ini, kami saling berhubungan satu sama lain. Maka sekarang, aku harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan kehidupan seluruh anjing-anjing malang, para saudaraku. Tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka selain aku.”

Ia menenangkan mereka dengan berkata, “Jangan takut. Aku akan menyelamatkan kalian semua. Tinggallah di pemakaman ini dan jangan pergi ke kota. Aku akan memberi tahu Raja Benares siapa para pencuri dan siapa yang tidak bersalah. Kebenaran akan menyelamatkan kita semua.”

Sebelum berkemas, ia pergi menuju ke bagian lain dari pemakaman untuk menyendiri. Setelah banyak mempraktikan kebaikan sepanjang kehidupan dan melatih pikirannya. Sekarang ia memusatkan pikiran dengan bersungguh-sungguh dan mengisi pikirannya dengan rasa cinta kasih. Ia berpikir, “Semoga semua anjing sehat dan berbahagia, dan semoga semua anjing mendapat keselamatan. Aku pergi ke istana semata-mata untuk keselamatan para anjing dan juga manusia. Tak seorang pun akan menyerang atau melukai diriku.”

Lalu Perak si Raja Anjing mulai berjalan dengan pelan melewati jalan-jalan di Benares. Karena pikirannya terpusat,  ia tidak merasa takut karena selama kehidupannya yang penuh dengan banyak kebaikan, ia berjalan dengan tenang dan berwibawa yang menyebabkan rasa hormat. Dan karena pancaran hangat cinta kasih yang dapat dirasakan oleh setiap manusia, tak seorang pun merasakan kemarahan atau ada niat untuk melukai dirinya. Malahan, mereka kagum ketika Makhluk yang Agung tersebut lewat dan merasa heran mengapa hal itu bisa terjadi!

Hal itu seperti seluruh kota menerimanya. Tanpa rintangan, Raja Anjing Perak berjalan melewati penjaga istana, menuju ruang pengadilan istana dan duduk dengan tenangnya tepat di bawah singgasana raja. Raja Benares sangat terkesan dengan keberanian dan wibawanya yang sangat besar. Maka ketika para pelayan datang untuk mengusir anjing tersebut, ia memerintahkan mereka untuk membiarkannya.

Lalu Raja Anjing Perak keluar dari bawah singgasana dan bertatapan langsung dengan Yang Mulia Raja Benares. Ia membungkuk dengan penuh rasa hormat dan bertanya, “Yang Mulia, apakah benar Anda yang telah memberi perintah bahwa semua anjing di kota harus dibunuh?” “Ya, benar,” jawab raja. “Apakah kesalahan yang telah para anjing lakukan?” tanya raja anjing. “Anjing-anjing tersebut telah memakan tali kulit kereta tempurku yang sangat indah.” “Apakah Anda tahu anjing-anjing mana saja yang telah berbuat itu?” tanya Raja Perak. “Tidak seorang pun tahu,” kata Raja Benares.

“Tuanku,” kata anjing, “Bagi seorang raja seperti Anda, yang mengharapkan keadilan, apakah ini benar dengan membunuh semua anjing sebagai ganti kesalahan dari beberapa ekor anjing? Apakah ini adil bagi yang tidak bersalah?” Raja menjawab, seolah-olah hal itu masuk akal baginya, “Karena aku tidak tahu anjing mana yang telah menghancurkan tali kulitku, dengan hanya memberi perintah membunuh semua anjing, aku dapat menghukum yang telah bersalah. Raja harus adil!”

Raja anjing perak diam sejenak, sebelum menantang raja dengan pertanyaan sangat penting – “Tuanku Raja, apakah benar Anda telah memerintahkan semua anjing untuk dibunuh atau apakah ada yang tidak dibunuh?” Raja tiba-tiba menjadi agak gelisah ketika ia terpaksa harus mengakui di depan pengadilan, “Hal itu benar bahwa sebagian besar anjing dibunuh tapi tidak semuanya. Kecuali untuk anjing keturunan murni dari istanaku .”

Lalu raja anjing berkata, “Tuanku, sebelum Anda berkata bahwa semua anjing harus dibunuh dengan alasan untuk memastikan bahwa yang bersalah akan dihukum. Sekarang Anda berkata bahwa anjing istana Anda sendiri dibiarkan saja. Ini menunjukan bahwa Anda telah bertindak salah dengan berburuk sangka. Untuk seorang raja yang berharap untuk adil, adalah salah melindungi beberapa golongan daripada yang lainnya. Keadilan raja harus seimbang seperti sebuah timbangan yang jujur. Meskipun Anda memberi perintah kematian ke semua anjing, nyatanya ini hanyalah pembantaian terhadap anjing-anjing yang malang. Anjing-anjing istana Anda dengan tidak adil diselamatkan, sedangkan yang malang dibunuh dengan kekeliruan!”

Menyadari kebenaran dari kata-kata raja anjing, Raja Benares bertanya, “Apakah kamu cukup bijaksana untuk mengetahui anjing mana yang telah memakan tali kulit pegangan dan pengikatnya?” “Ya Tuanku, aku tahu,” jawabnya, “Tidak lain dan tidak bukan adalah anjing-anjing istana kesayangan Anda, dan aku dapat membuktikannya.” “Silahkan,” kata raja.

Raja anjing meminta agar hewan peliharaan istana dibawa ke dalam ruang pengadilan istana. Ia meminta campuran sisa susu dan rumput agar anjing-anjing tersebut memakannya. Setelah menunggu dan melihat, ketika telah selesai, mereka memuntahkan sebagian potongan tali kulit raja yang telah dicerna!

Lalu raja anjing perak berkata, “Tuanku, tak satu pun anjing-anjing malang dari kota dapat masuk ke dalam lingkungan istana yang dijaga ketat. Anda dibutakan oleh prasangka. Anjing-anjing Andalah yang bersalah. Meskipun demikian, membunuh makhluk hidup apa pun merupakan tindakan yang merugikan. Ini karena apa yang para anjing ketahui, sedangkan manusia kadang tidak ketahui – bagaimana pun semua bentuk kehidupan saling berhubungan maka semua mahkluk hidup pantas mendapatkan rasa hormat yang sama sebagai saudara.”

Semua yang hadir di ruang pengadilan terkesima oleh apa yang sedang terjadi. Raja Benares tiba-tiba diliputi oleh perasaan kerendahan hati yang luar biasa. Dia memberi hormat kepada raja anjing dan berkata, “Oh raja anjing yang agung, aku belum pernah berjumpa dengan siapa pun seperti Anda, seseorang yang mengkombinasikan kebijaksanaan dengan rasa welas asih yang besar. Sungguh, keadilanmu agung. Aku menawarkan tahtaku dan kerajaan Benares kepada Anda!”

Makhluk yang Tercerahkan menjawab, “Bangunlah tuanku, aku tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang raja bagi manusia. Bila Anda ingin menunjukan rasa hormat Anda kepadaku, Anda harus menjadi seorang pemimpin yang adil dan welas asih. Hal itu dapat membantu jika Anda ingin mulai memurnikan pikiran Anda dengan melatih ‘Lima Langkah Pelatihan’. Hal ini dapat menghilangkan semua lima tindakan merugikan: membinasakan kehidupan, mengambil yang tidak diberikan, perbuatan asusila, berbicara tidak benar, dan mabuk-mabukan.”

Raja mengikuti ajaran raja anjing yang bijaksana. Ia memerintah dengan penuh rasa hormat kepada semua makhluk hidup. Ia berpesan bahwa kapan pun ia makan, semua anjing, yang di istana dan di kota diberi makan secara baik. Inilah awal dari kesetiaan antara anjing dan manusia yang telah berlangsung sampai saat ini.

Pesan moral : Prasangka mengarah pada ketidakadilan, kebijaksanaan mengarah kepada keadilan.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Advertisements

RUSA ANGIN DAN RUMPUT MADU (Keinginan yang Kuat Untuk Mencicipi)


Pada suatu ketika, raja Benares mempunyai seorang tukang kebun yang merawat kebun kesenangannya. Kadang-kadang binatang dari hutan terdekat masuk ke dalam kebun. Si Tukang kebun mengeluhkan hal ini kepada raja dan Raja berkata, “Jika kau melihat binatang aneh apa pun beritahu aku segera.”

Suatu hari, si Tukang kebun melihat sejenis rusa aneh jauh di ujung kebun. Ketika rusa itu melihat si Tukang kebun, ia lari secepat angin. Mereka adalah sejenis rusa yang langka. Mereka luar biasa takut. Mereka sangat mudah takut dengan manusia.

Si Tukang kebun mengatakan tentang rusa angin kepada raja. Raja meminta si tukang kebun, dapatkah ia menangkap binatang yang aneh itu. Si Tukang kebun menjawab, “Rajaku, jika kau dapat memberikanku beberapa madu lebah, aku bahkan dapat membawanya ke dalam istana!” Untuk itu raja memerintahkan agar si Tukang kebun diberikan madu lebah sebanyak yang ia inginkan.

Rusa angin istimewa ini senang makan bunga dan buah-buahan di dalam kebun kesenangan raja. Si Tukang kebun membiarkan dirinya dilihat oleh rusa itu sedikit demi sedikit. Jadi rusa angin itu tidak akan terlalu takut. Kemudian ia mulai melumuri madu di atas rumput di mana rusa angin biasa datang untuk makan. Merasa cukup yakin, rusa itu mulai memakan rumput yang dilumuri madu. Tak lama kemudian, ia memperkuat keinginan untuk mencicipi rumput madu ini. Keinginannya yang kuat membuat ia datang ke kebun setiap hari. Tak lama lagi, ia tidak akan makan yang lainnya.

Sedikit demi sedikit, si Tukang kebun menghampiri rusa angin lebih dekat dan lebih dekat. Awalnya rusa angin akan melarikan diri. Tetapi belakangan, ia kehilangan rasa takut dan mulai berpikir bahwa si Tukang kebun tidak membahayakan. Si tukang kebun menjadi lebih dan lebih bersahabat, artinya ia dapat membuat si rusa makan rumput yang dilumuri madu itu dari tangannya. Si Tukang kebun terus melakukan ini untuk beberapa waktu, dengan maksud untuk membangun keberanian dan kepercayaan si rusa.

Sementara itu, si Tukang kebun memiliki sederetan tirai-tirai yang terpasang, membuat jalan setapak yang lebar, dari jauh di ujung kebun kesenangan raja sampai ke istana raja. Dari dalam jalan setapak ini, tirai-tirai itu akan menjaga rusa angin agar tidak melihat siapa pun yang mungkin akan membuatnya takut.

Ketika semuanya disiapkan, si Tukang kebun mengambil sekantung rumput dan sebotol madu. Ketika rusa angin muncul, si Tukang kebun kembali memberikan makan melalui tangannya. Secara berangsur-angsur, ia menggiring si Rusa jantan dengan menggunakan rumput yang sudah dilumuri madu, sampai akhirnya rusa angin mengikutinya tepat menuju ke dalam istana. Suatu ketika di dalam istana, penjaga istana menutup pintu-pintu dan rusa angin terperangkap. Melihat banyak orang di istana, rusa angin tiba-tiba menjadi sangat takut dan mulai berlari berkeliling dengan sangat gila, beruasaha untuk melarikan diri.

Raja datang ke dalam ruangan itu dan melihat rusa angin yang dilanda kepanikan. Raja berkata, “Dasar rusa angin! Bagaimana bisa dia mengalami situasi seperti itu? Seekor rusa angin adalah binatang yang tidak akan kembali ke tempat di mana ia sudah banyak melihat manusia selama tujuh hari penuh. Biasanya, jika seekor rusa angin takut sekali di dalam suatu tempat khusus, ia tidak akan kembali lagi seumur hidupnya! Tetapi lihat! Bahkan seekor makhluk pemalu yang liar bisa diperbudak oleh keinginannya yang kuat untuk mencicipi sesuatu yang manis. Kemudian ia dapat dipikat ke tengah-tengah kota dan bahkan ke dalam istana.”

“Teman-temanku, guru-guru memperingatkan kita agar tidak terlalu melekat kepada tempat di mana kita tinggal, juga untuk segala sesuatu yang sudah berlalu. Mereka berkata bahwa menjadi terlalu melekat kepada kumpulan kecil teman-teman adalah keterikatan dan membatasi pandangan luas. Tetapi lihatlah betapa keinginan kuat yang sederhana terhadap rasa manis lebih berbahaya, atau sensasi rasa apa pun lainnya. Lihatlah bagaimana binatang indah yang pemalu ini terperangkap oleh tukang kebunku, dengan cara mengambil keuntungan dari keinginan kuatnya untuk mencicipi.”

Karena tak bermaksud untuk menyakiti si rusa angin. Raja melepaskannya ke hutan. Ia tak pernah kembali ke kebun kerajaan dan tidak pernah merindukan rasa dari rumput madu.

Pesan moral: Lebih baik makan untuk hidup, daripada hidup untuk makan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

RAJA RUSA BANYAN



(Seri 1. Belas Kasihan)

Suatu ketika, seekor rusa yang cantik dan istimewa dilahirkan di dalam hutan dekat Benares, India Utara. Walaupun besarnya sama seperti seekor kuda jantan muda, tetapi ibunya mudah waktu melahirkannya. Ketika si rusa ini membuka matanya, kedua matanya sama cermelangnya seperti batu permata yang berkilauan. Mulutnya sama merahnya dengan buah berry hutan yang paling merah, kuku-kukunya sehitam bara gosok, tanduk kecilnya berkilauan seperti perak dan warnanya keemas-emasan bagai fajar di musim panas. Ketika ia tumbuh besar, sekawanan 500 rusa berkumpul di sekelilingnya dan ia menjadi dikenal sebagai Raja Rusa Banyan.

Sementara itu, tidak jauh, rusa jantan yang cantik lainnya dilahirkan, warnanya seperti emas yang sangat bagus. Lambat laun, kawanan 500 rusa yang terpisah datang mengikutinya dan ia dikenal sebagai Rusa Ranting.

Pada waktu itu Raja Benares sangat suka memakan daging rusa. Jadi ia secara rutin memburu dan membunuh rusa-rusa. Setiap kali ia berburu, ia pergi ke desa yang berbeda dan memerintahkan penduduk untuk melayaninya. Mereka harus menghentikan apa yang sedang mereka kerjakan, apakah membajak atau memanen padi atau apa pun, dan bekerja dalam pesta pemburuan raja.

Penduduk yang tinggal di desa itu merasa terganggu dengan hal ini. Mereka menanam sedikit tanaman, dan usaha lainnya juga hasil pendapatan menjadi berkurang. Jadi mereka datang bersama-sama dan memutuskan untuk membangun taman rusa yang besar untuk raja di Benares. Di sana raja bisa berburu sendiri, tanpa perlu memerintahkan pelayanan dari para penduduk desa.

Untuk itu para penduduk membangun sebuah taman rusa. Mereka membuat kolam-kolam genangan air, di mana rusa dapat minum, lalu menambahkan pohon-pohon dan rumput-rumput untuk mereka makan. Ketika semuanya sudah siap, orang-orang tersebut membuka gerbang dan pergi keluar menuju hutan-hutan terdekat. Mereka mengepung seluruh kawanan-kawanan rusa Banyan dan Ranting. Lalu dengan tongkat, senjata, dan suara gaduh yang dibuat, mereka mengiring semua rusa-rusa itu menuju perangkap taman rusa dan mengunci pintu gerbangnya dari belakang.

Setelah rusa-rusa tersebut sudah tenang, para penduduk pergi menemui raja dan berkata, “Panen dan pendapatan kami berkurang karena keperluan pemburuan Anda. Sebuah taman rusa yang aman dan menyenangkan, di mana Anda dapat berburu sendiri sesuka Anda. Tanpa perlu bantuan dari kami, Anda dapat menikmati keduanya, berburu dan makan daging rusa.”

Raja pergi ke taman rusa yang baru itu. Di sana, ia merasa senang melihat kawanan rusa yang sangat banyak. Ketika mengamati mereka, dua ekor rusa keemasan yang bagus sekali dengan tanduk yang besar dan tumbuh sempurna menarik perhatiannya. Karena raja mengagumi kecantikannya yang luar biasa, raja memberikan kebebasan kepada kedua rusa itu untuk tidak dijadikan target buruannya. Ia memerintahkan bahwa rusa-rusa itu harus benar-benar aman, tak ada yang dapat menyakiti atau membunuh mereka.

Sehari sekali raja akan datang dan membunuh seekor rusa untuk makan malamnya. Kadang-kadang, ketika ia terlalu sibuk, tukang masak istana yang akan melakukan pemburuan. Tubuh rusa itu kemudian akan dibawa ke tempat pemotongan untuk dipotong yang kemudian dipanggang.

Kapan pun rusa-rusa itu melihat busur dan panah, mereka panik, gemetar untuk hidup mereka. Mereka lari berkeliling secara beramai-ramai, beberapa dari mereka terluka dan banyak yang menderita karena kesakitan.

Suatu hari, kawanan Rusa Raja Banyan berkumpul mengelilinginya. Ia memanggil Rusa Ranting dan dua kawanan bergabung mengadakan pertemuan. Raja Rusa Banyan mengatakan kepada mereka, “Walaupun pada akhirnya, tak ada satu pun yang lolos dari kematian, penderitaan berkepanjangan yang tiada gunanya karena terluka dapat dicegah. Selama Raja hanya menginginkan daging dari seekor rusa setiap harinya, biarkan rusa itu dipilih oleh kita setiap harinya untuk menyerahkan dirinya ke balok pemotong. Satu hari dari kawananku dan hari berikutnya dari kawanan Rusa Ranting, kumpulan korban akan jatuh kepada satu rusa sekaligus.”

Rusa Ranting setuju. Mulai selanjutnya, rusa yang mendapat giliran, tanpa perlawanan, menyerahkan dirinya dan menaruh lehernya di atas balok. Tukang masak datang setiap harinya, membunuh dengan mudah korban yang sudah menunggu dan menyiapkan santapan daging rusa raja.

Suatu hari, giliran jatuh kepada seekor rusa betina yang sedang mengandung pada kawanan Rusa Ranting. Demi untuk menyelamatkan dirinya dan rusa lainnya begitu juga rusa yang belum dilahirkannya. Rusa betina ini menghadap kepada Rusa Ranting dan berkata, “Rajaku, aku sedang hamil. Biarkanlah aku tetap hidup sampai aku sudah melahirkan anakku. Kemudian kami akan memenuhi dua giliran dari pada hanya satu. Ini akan mengamankan satu giliran dan dengan demikian satu kehidupan untuk satu hari yang panjang.”

Rusa Ranting menjawab, “Tidak, tidak, aku tidak dapat mengubah peraturan-peraturan di tengah kekacauan dan menaruh giliranmu di atas yang lainnya. Kehamilan itu adalah milikmu, dan bayi itu adalah tanggung jawabmu. Sekarang tinggalkan aku.”

Setelah gagal dengan Rusa Ranting, ibu rusa yang malang ini pergi menemui Raja Rusa Banyan dan menjelaskan keadaan dirinya. Rusa Banyan menjawab dengan lembut, “Pergilah dengan damai. Aku akan mengganti peraturan-peraturan di tengah kekacauan dan menaruh giliranmu di atas yang lainnya.” Kemudian Raja Rusa pergi ke balok eksekusi, meletakan leher keemasannya di atas balok itu.

————————————————————–

Kesunyian menyelimuti taman rusa itu, dan beberapa yang menceritakan cerita ini bahkan berkata, kesunyian itu bahkan menyelimuti alam-alam lain yang tidak terlihat dari sini.

————————————————————–

Tak lama kemudian tukang masak kerajaan datang untuk membunuh rusa yang bersedia dikorbankan di atas balok. Tetapi ketika ia melihat korban itu adalah salah satu dari dua rusa emas yang telah diperintahkan raja untuk dikecualikan, si tukang masak itu takut untuk membunuhnya. Jadi, ia pergi dan memberitahu Raja Benares.

Raja terkejut, untuk itu ia pergi ke taman. Ia berkata kepada rusa keemasan yang masih terbaring di atas balok, “Oh Raja Rusa. Apakah aku tidak berjanji untuk menyelamatkan hidupmu? Apa alasanmu untuk datang ke sini seperti rusa-rusa lainnya?”

Raja Rusa Banyan menjawab, “Oh Raja manusia, saat ini seekor rusa betina yang hamil tidak cukup beruntung menjadi rusa yang akan mati. Dia memohon kepadaku untuk menyelamatkannya, demi rusa-rusa lainnya seperti juga bayinya yang belum dilahirkan begitu juga demi dirinya sendiri. Aku tidak dapat membantunya, tapi aku merasakan diriku berada di posisinya dan merasakan penderitaannya. Aku tidak dapat membantu, hanya menangis, berpikir si rusa kecil tidak akan pernah melihat senja, tidak akan pernah merasakan embun. Aku juga tidak dapat memaksakan kesakitan dari kematian kepada rusa lainnya yang merasa lega bahwa hari ini bukanlah gilirannya. Untuk itu, Raja yang kuat, aku memberikan hidupku demi rusa betina dan anaknya yang belum lahir. Dijamin tidak ada alasan lainnya.”

Raja benares diliputi kegembiraan. Kegembiraan yang sangat kuat seperti dirinya, air mata jatuh di pipinya. Lalu dia berkata, “Oh… Raja yang hebat, Raja Rusa Keemasan, bahkan di tengah-tengah manusia, aku belum pernah melihat seperti kau! Betapa kasih sayang yang besar, berbagi di dalam penderitaan makhluk lain! Betapa kemurahan hati yang besar, memberikan hidupmu untuk yang lain! Betapa kebaikan hati yang besar dan cinta yang lembut untuk semua kawanan rusamu. Berdirilah! Aku putuskan bahwa kau tidak akan pernah dibunuh olehku atau siapa pun di dalam kerajaanku, dan begitu juga si rusa betina dan anaknya.”

Tanpa mengangkat kepalanya, si rusa keemasan berkata, “Apakah hanya kami yang diselamatkan? Bagaimana dengan rusa lainnya yang ada di dalam taman, teman-teman dan keluarga kami?” Raja berkata, “Rajaku, aku tidak dapat menolakmu. Aku menghadiahkan keamanan dan kebebasan untuk semua rusa yang ada di dalam taman.” Lalu bagaimana dengan rusa-rusa yang berada di luar taman, akankah mereka dibunuh?” Tanya Banyan. “Tidak. Rajaku. Aku menyelamatkan semua rusa-rusa yang berada di dalam seluruh kerajaanku.”

Si rusa keemasan tetap tidak mengangkat kepalanya. Ia memohon, “Jadi rusa-rusa akan aman. Tetapi bagaimana dengan binatang berkaki empat lainnya?” “Rajaku, mulai dari sekarang mereka juga akan aman di negeriku.” “Dan bagaimana dengan burung-burung? Mereka juga ingin hidup.” “Iya, Rajaku, burung-burung juga akan diamankan dari kematian tangan-tangan manusia.” “Lalu bagaimana dengan ikan-ikan yang hidup di dalam air?” “Bahkan ikan akan bebas untuk hidup, Rajaku.” Setelah berkata, Raja Benares melarang berburu dan membunuh semua binatang di negerinya.

Setelah memohon untuk kehidupan semua makhluk-makhluk, makhluk yang hebat itu berdiri.

(Bagian 2. Ajaran)

Di luar dari rasa belas kasih dan terima kasih, Raja Rusa Banyan makhluk yang tercerahkan mengajarkan Raja Benares. Ia menasihati Raja untuk menempuh 5 tahap pelatihan, dengan maksud untuk mensucikan pikirannya. Ia menjelaskan pelatihan itu dengan berkata, “Ini akan bermanfaat bagimu, jika kau melepaskan lima perbuatan yang tidak berfaedah seperti:

–          Melakukan pembunuhan, ini bukanlah belas kasih

–          Mengambil yang tidak diberikan, ini bukanlah kemurahan hati

–          Melakukan tindakan asusila, ini bukanlah cinta kasih dan kebaikan hati

–          Berbicara yang tidak sebenarnya, ini bukanlah kebenaran

–          Hilang kesadaran karena minuman keras, ini mengarahkan kepada pelanggaran keempat tahap awal.”

Kemudian Raja Rusa Banyan menasihati Raja untuk melakukan perbuatan-perbuatan berfaedah, yang akan membawa kebahagiaan di dalam kehidupan ini dan alam selanjutnya. Lalu ia dan kedua kawanannya kembali ke hutan.

Ketika waktunya tiba, si Rusa betina yang hamil, yang telah tinggal bersama kawanan Rusa Banyan, melahirkan seekor anak rusa. Anak rusa itu sama indahnya dengan teratai mekar yang diberikan sebagai sebuah persembahan kepada dewa.

Ketika anak rusa itu sudah tumbuh menjadi seekor rusa jantan muda, ia mulai bermain dengan kumpulan Rusa Ranting. Melihat hal ini, ibunya berkata kepada anaknya, “Lebih baik hidup dengan umur pendek dengan makhluk yang memiliki kasih sayang yang besar daripada hidup dengan umur panjang dengan makhluk yang biasa-biasa saja.” Setelah itu, anaknya hidup dengan bahagia di kawanan Raja Rusa Banyan.

Satu-satunya yang hidup dengan tidak bahagia adalah petani-petani dan penduduk kerajaan. Dengan diberikan kebebasan secara penuh oleh Raja, rusa-rusa mulai memakan hasil-hasil panen petani tanpa rasa takut. Mereka bahkan memakan rumput yang ada di dalam kebun sayur-mayur penduduk dan di dalam kota Benares sendiri.

Untuk itu para penduduk melakukan protes kepada raja dan meminta ijin untuk membunuh setidaknya beberapa ekor rusa sebagai peringatan. Tetapi raja berkata, “Aku sendiri sudah menjanjikan kebebasan sepenuhnya kepada Raja Rusa Banyan. Aku akan menyerahkan tahtah sebelum aku akan melanggar kata-kataku kepadanya. Tidak ada satu pun yang boleh melukai seekor rusa!”

Ketika Raja Rusa Banyan mendengar hal ini, ia berkata kepada semua rusa, “Kau seharusnya tidak memakan hasil panen milik orang lain.” Dan ia mengirim pesan kepada para penduduk. Selain meminta untuk membuat pagar pembatas, ia juga meminta mereka untuk mengikat sekumpulan daun-daun sebagai batas di sekeliling ladang mereka. Hal ini memulai kebiasaan orang India untuk menandai ladang-ladang dengan mengikat daun-daun, cara ini sudah melindungi mereka dari rusa sampai saat ini pun.

Keduanya, Raja Rusa Banyan dan Raja Benares menjalani hidup mereka dalam kedamaian, meninggal dan dilahirkan sebagaimana layaknya perbuatan mereka.

Pesan moral: Di mana pun berada, belas kasih adalah sebuah tanda dari kejayaan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PANGERAN KECIL TANPA AYAH (Kekuatan Kejujuran)


Suatu ketika, Raja Benares pergi piknik di dalam hutan. Keindahan bunga-bunga, pohon-pohon dan buah-buahan membuatnya sangat bahagia. Sambil menikmati keindahan itu, ia perlahan-lahan masuk lebih dalam dan lebih dalam ke dalam hutan. Tidak lama kemudian, ia menjadi terpisah dari rombongannya dan menyadari bahwa dia seorang diri saja.

Lalu Raja mendengar suara merdu dari seorang wanita muda. Wanita muda itu sedang bernyanyi sambil mengumpulkan kayu bakar. Agar tidak merasa takut karena seorang diri di dalam hutan, Raja mengikuti bunyi dari suara yang merdu itu. Ketika Raja tiba-tiba muncul di hadapan si pelantun lagu, Raja melihat seorang wanita cantik yang cukup muda, dan segera jatuh cinta kepadanya. Mereka menjadi sangat bersahabat, dan Raja menjadi ayah dari anak wanita pengumpul kayu bakar.

Kemudian, Raja menjelaskan kenapa ia bisa tersesat di dalam hutan dan meyakinkan wanita itu kalau dia memang benar-benar Raja Benares. Wanita itu memberitahukan arah kepada Raja untuk dapat kembali ke istana. Raja memberikan cincin capnya yang berharga kepada si wanita muda itu dan berkata, “Jika kau melahirkan bayi perempuan, jual cincin ini dan gunakan uangnya untuk membesarkan anak itu dengan baik. Jika anak kita seorang laki-laki, bawa ia menghadapku bersama dengan cincin ini sebagai tanda pengenal.” Setelah berkata, Raja berangkat menuju Benares.

Ketika waktunya tiba, wanita pengumpul kayu bakar melahirkan seorang bayi laki-laki. Sebagai wanita sederhana yang pemalu, ia takut membawa anaknya ke istana yang megah di Benares, jadi ia menyimpan cincin cap raja.

Dalam beberapa tahun, anaknya tumbuh menjadi seorang anak laki-laki. Ketika ia bermain dengan anak-anak lainnya di desa, mereka mengejek dan menganiayanya, bahkan memulai perkelahian dengannya. Itu karena ibunya tidak menikah maka anak-anak lain mengganggunya. Mereka berteriak kepadanya “Tanpa ayah! Tanpa ayah! Tanpa Ayah! Namamu seharusnya Tanpa ayah!”

Hal ini tentu membuat si anak merasa malu, terluka dan sedih. Kadang-kadang ia berlari pulang menemui ibunya sambil menangis. Suatu hari ia memberitahukan ibunya bagaimana anak-anak lain memanggilnya dengan sebutan “Tanpa ayah! Tanpa ayah! Namamu seharusnya Tanpa ayah!” Lalu ibunya berkata, “Jangan malu anakku. Kau bukan hanya seorang anak biasa. Ayahmu adalah Raja Benares.”

Anak laki-laki itu sangat terkejut. Ia bertanya kepada ibunya, “Apakah ibu punya buktinya?” Jadi ibunya memberitahukan kepadanya mengenai cincin cap yang diberikan ayahnya, dan jika bayi ibu seorang laki-laki, dia harus membawanya ke Benares bersamaan dengan cincin itu sebagai bukti. Anak laki-laki itu berkata, “Kalau begitu, ayo pergi!” Karena kejadian itu, ibunya menyetujui permintaan anaknya dan hari berikutnya mereka berangkat ke Benares.

Ketika mereka sampai di istana raja, penjaga gerbang memberitahu raja bahwa wanita pengumpul kayu bakar anak laki-lakinya ingin bertemu dengan raja. Mereka menuju ruang pertemuan istana, dimana di sana dipenuhi oleh menteri-menteri dan penasihat-penasihat raja. Perempuan itu mengingatkan raja tentang hari-hari bersama mereka di hutan. Akhirnya si Perempuan berkata, “Yang Mulia Baginda, ini adalah anak laki-lakimu.”

Raja malu di depan semua ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir di istananya. Jadi, walaupun ia tahu bahwa perempuan itu berbicara yang sebenarnya. Raja berkata, “Dia bukan anakku!” Kemudian ibu muda yang penuh kasih itu menunjukan cincin cap sebagai bukti. Sekali lagi raja merasa malu dan memungkiri kebenaran, berkata “Ini bukan cincinku!”

Lalu wanita yang malang itu berpikir kepada dirinya sendiri, “Aku tidak punya saksi ataupun bukti untuk membuktikan perkataanku. Aku hanya punya keyakinanku di dalam kekuatan kejujuran.” Jadi ia berkata kepada Raja, “Jika aku lemparkan anak laki-laki ini ke udara, jika ia benar adalah anakmu, ia akan tetap berada di atas udara tanpa jatuh. Jika ia bukan anakmu, ia akan jatuh ke lantai dan mati.”

Tiba-tiba, perempuan itu mengambil kaki anak laki-lakinya dan meleparnya ke udara. Seketika itu juga, anak laki-laki itu duduk dengan kaki bersila, menggantung di tengah-tengah udara tanpa jatuh. Setiap orang heran, tidak dapat berkata apa-apa. Dengan tetap berada di udara, anak laki-laki itu berkata kepada Raja, “Tuanku, aku benar-benar seorang anak laki-laki yang dilahirkan untukmu. Kau merawat banyak orang yang tidak punya hubungan darah denganmu. Kau bahkan memelihara gajah-gajah, kuda-kuda dan binatang lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Tetapi kau tidak berpikir untuk memelihara dan membesarkanku, anakmu sendiri. Tolong rawat aku dan ibuku.”

Mendengar ini, harga diri raja kembali. Ia merasa rendah hati oleh kebenaran dari kata-kata yang luar biasa anak laki-laki tersebut. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, “Datanglah padaku anak laki-lakiku dan aku akan merawat mu dengan baik.”

Kagum dengan keajaiban itu, semua orang di dalam istana menjulurkan tangannya dan meminta anak laki-laki yang melayang di udara itu untuk turun kepadanya. Tetapi anak itu langsung turun dari tengah-tengah udara menuju lengan ayahnya. Dengan anaknya yang duduk di pangkuan, raja mengumumkan bahwa ia akan menjadi putra mahkota dan ibunya akan menjadi ratu nomor satu.

Dengan demikian, raja dan seluruh isi istananya belajar tentang kekuatan dari kejujuran. Benares dikenal sebagai tempat keadilan yang jujur. Ketika raja meninggal. Putra mahkota yang telah tumbuh besar ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kelahiran yang bagaimanapun juga semuanya berhak dihormati. Jadi ia menobatkan dirinya sendiri dengan nama  “Raja Tanpa ayah”. Ia melanjutkan memerintah kerajaan dengan cara yang murah hati dan berbudi.

Pesan moral : Kebenaran selalu lebih kuat dari pada kebohongan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50