Jangan Disimpan Terlalu Lama


By Selfy Parkit

Ketika umurku 19 tahun, aku bertemu seorang pria yang merubah seluruh hidupku. Saat itu umurnya 26 tahun dan dia terlihat lebih muda dari laki-laki seumurannya. Penampilannya yang rapih, membungkus tubuhnya yang kurus, kulitnya putih dan matanya berwarna hitam, membuat dirinya lumayan tampan, apalagi jika ia mulai tersenyum. Pertemuan kami yang begitu singkat di sebuah acara keagamaan, membawa arti kesan yang mendalam bagi dirinya, hingga akhirnya memberikannya keberanian untuk mendekatiku lagi.

Di lain kesempatan kami bertemu kembali dan saat itu ia menawarkan diri untuk mengantarkanku ke kampus dengan motor bebeknya. “Aku tak keberatan, jika kau ingin mengantarkanku”, kataku. Tanpa pikir panjang diantarkannya Aku sampai di kampusku. Di dalam perjalanan kami saling berbicara, dia sempat menanyakan kapan Aku akan pulang dari kampus dan Aku memberitahukannya tanpa sempat berpikir kalau ia akan menjemputku. Begitu juga hari-hari selanjutnya setelah ia selesai meneleponku ia akan menunggu di depan kampus dan menjemputku. Ia akan selalu menatap lalu tersenyum kepadaku, namun Aku merasa tidak nyaman saat itu. Hari demi hari keadaan ini terus berlanjut, ia menjadi sering mengantar jemputku ke kampus. Aku tak kuasa menolak kebaikan hatinya dan Aku mulai merasa khawatir dengannya.

Continue reading

Bunuh Diri dengan Tenang (Committing Sucide in Peace)


Sepi…

Menyendiri…
Perasaan ini sulit dilukiskan…
Kosong, hampa, tanpa rasa…
Sedikit pun tak ada cahaya kehidupan… Ingin rasanya kuakhiri saja…
Benar-benar memadamkannya… Mengakhiri semua selama-lamanya…
Ah.. Ha.. Kuambil saja racun tikus rasa strawberry yg ada di lemariku… Atau pisau pemotong daging milik orang tuaku… Tapi… Apakah lebih nyaman kalau leher ini berkalungkan tali saja???

Ah… Tidak ah… Nanti lidahku malah akan nongol keluar.
Bagaimana kalau aku terjun bebas saja dari lantai 16, Mall dekat rumahku!! Atau menabrakan diri ke mobil?? atau kereta api juga boleh… Hmm… Ku rasa ini ide yang buruk, aku tak suka kalau nanti tubuhku ini berantakan…

A..ha… Bagaimana kalau terjun bebas dari jembatan ke kali yang dalam dan arusnya kencang???

Wow sudah pasti aku akan tenggelam, karena aku memang tidak bisa berenang. Tapi… Bagaimana kalau tubuhku tidak bisa ditemukan dan lenyap dimakan ikan-ikan!?
Hmm… Tidak… Tidak… Ide itu kurang bagus.
Wah bagaimana kalau aku memuaskan nafsu keinginanku dulu, baru kemudian memikirkan lagi bagaimana caranya. Wah seru juga kalau tiba-tiba ku terima saja semua orang yang menyatakan cintanya kepadaku… Hahaha….
Lalu akan kuhabiskan waktuku bersama mereka, berbuat apa pun yang ku mau.
Ku buat mereka merindukanku. Kemudian mencampakannya, seperti apa yang mungkin pernah mereka perbuat kepada orang lain….  Setelah itu aku ingin menghabiskan uangku dan semua hartaku yang tersisa…. Berkeliling dunia dan menghambur-hamburkannya… Ah..ha…. Bisa jadi aku juga akan mencoba semua yang belum pernah aku lakukan selama masa hidupku…
Bagaimana rasanya ‘ON’ dengan obat-obatan dan benda-benda tertentu…. Bagaimana rasanya melakukan seks bebas….
Bagaimana melakukan hal yg terlarang….
Wow keren… Tapi dengan begitu bukan saja tubuhku yang rusak, namaku juga akan terancam tercemar….
Lalu setiap orang yang mengenalku akan mencaci makiku…
Mereka Hanya akan Membicarakan semua kejelekanku saja, dan pada akhirnya aku akan selalu dijadikan contoh yang tidak baik selama berabad-abad kehidupan…. Hu.hu.hu.hu….
Tidak.. Tidak.. Tidak… Aku tidak ingin pergi dengan percuma dan dikenang sebagai orang yang tidak baik.
Hmm… Bagaimana kalau aku mulai dengan mengajak mereka semua yang mencintai dan menginginkanku berkencan pada waktu yang bersamaan, lalu mengatakan kalau aku pun mencintai mereka dan ingin mereka semua bahagia. Tetapi karena aku akan pergi, kuanjurkan mereka untuk mencari saja pasangan lain yg mencintai mereka…. He.he.he…
Bagaimana kalau aku menghabiskan saja uang dan semua hartaku untuk orang yang membutuhkan….
Seperti panti asuhan, mereka yang terlantar dan tak punya rumah….
Pastinya mereka semua akan senang dan bahagia….
Hmm… Bagaimana kalau aku juga datang mengunjungi Rumah Sakit-Rumah Sakit terdekat. Memberikan bantuan biaya pengobatan untuk pasien-pasien yang tidak mampu. Lalu menghibur mereka yang sakit dan memberi semangat agar mereka lekas sembuh….
Oo…ouw apa yang aku lakukan???
Apa aku gila! Bagaimana bisa orang yang ingin mati malah datang menghibur orang lain dan memberikan semangat untuk tetap bertahan hidup?!?! Aku lupa kalau di luar sana banyak orang-orang yang tidak punya atas apa yang aku punya….
Hal ini dan cara ini bukan saja membuatku mati dengan nama baik, tetapi juga membuatku mengurungkan niat untuk tidak mematikan diriku…. Mengingat mereka yang akan mati ingin tetap hidup dan memiliki semangat untuk tetap hidup dan melanjutkan hidup…..

Didedikasikan untuk mereka yang kesepian dan ingin segera mati. ^_^ By. SELFY parkit.

Indahnya Memberi


Dapat memberi itu indah ya? Kebahagiaan dari memberi sungguh tak terkira. Tak ada kata yang tepat untuk dapat melukiskan betapa bahagianya perasaan dari seseorang yang memberi. Kita menyebutnya berdana, namun kadang kala jika kita mendengar kata “Berdana” yang ada dipikiran kita adalah memberikan materi kepada makhluk lain. Sebenarnya berdana bukanlah sekedar memberikan materi saja. Ada banyak sekali bentuk dana yang dapat kita berikan kepada makhluk lain, bukan saja yang berbentuk nyata/ konkret tapi juga yang tidak dapat dilihat/ abstrak. Contohnya dengan tenaga, memberikan ceramah Dhamma, nasehat dan memberikan maaf. Entah berbentuk ataupun tidak berbentuk, sedikit ataupun banyak, berdana (memberi) dengan tulus dan iklas, pastinya dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan yang instan/ langsung bagi si pemberinya. Kalau tak percaya cobalah berdana secara tulus dan iklas saat ini, pasti sekarang ini kita dapat merasakan kebahagiaannya.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Mei 2009