44, 45 DUA ANAK YANG BODOH (KEBODOHAN)


 

two stupid children (Foolishness)

http://www.buddhanet.net (two stupid children)

            Pada suatu ketika, terdapatlah seorang tukang kayu yang sudah tua dengan kepalanya yang botak dan mengkilap. Di hari yang cerah, kepalanya yang mengkilap sangat menyilaukan setiap mata yang menatapnya ketika berbicara dengannya!

Di suatu hari yang cerah, seekor nyamuk yang lapar tertarik dengan kepala botaknya yang mengkilap. Si nyamuk hinggap di kepalanya dan mulai menggigitnya.

Tukang kayu itu sedang sibuk melicinkan sebatang kayu dengan menggunakan sebuah ketam. Ketika ia merasa nyamuk itu menggigitnya, ia coba untuk mengusirnya. Tetapi si nyamuk yang lapar tidak akan pergi dari makanan yang terlihat lezat itu. Kemudian, tukang kayu itu memanggil anaknya dan memerintahkan anaknya untuk mengusir serangga yang keras kepala itu. Continue reading

Advertisements

Sapi Jantan yang disebut ‘Delightful’ (Menyenangkan) (Semua Berhak Menerima Penghormatan)


Pada suatu ketika, di Negara Gandhara di India Utara, ada sebuah kota bernama Takkasila. Di kota itu makhluk yang tercerahkan dilahirkan sebagai anak sapi yang tak biasa. Karena ia adalah jenis keturunan yang kuat, ia dibeli oleh laki-laki kaya berkelas tinggi.  Dia menjadi sangat cinta kepada binatang yang lembut itu. dan memanggilnya ‘Delightful (Menyenangkan). Dia merawatnya dengan baik dan memberinya  makan hanya yang terbaik.

Ketika Delightful tubuh menjadi seekor sapi jantan besar yang kuat, ia berpikir, “Aku telah dibesarkan oleh laki-laki yang murah hati ini. Ia memberikanku makanan enak seperti itu dan merawatku terus-menerus, walaupun kadang-kadang ada kesulitan. Sekarang Aku adalah seekor sapi jantan besar yang tubuh dewasa dan tak ada satu pun sapi jantan lain yang dapat menarik muatan berat yang sama  seperti yang ku bisa. Oleh sebab itu, Aku akan menggunakan kekuatanku untuk memberikan sesuatu sebagai balasan kepada majikanku.”

Jadi ia berkata kepada laki-laki itu, “Tuanku, tolong temukan beberapa pedangan kaya yang bangga dalam memiliki banyak sapi jantan kuat. Tantang mereka dengan mengatakan bahwa sapi jantanmu dapat menarik seratus gerobak berisi muatan penuh.”

Mengikuti nasihatnya, orang kaya berkelas itu pergi menemui seorang pedagang dan memulai percakapan. Sesaat kemudian, dia mencetuskan gagasan siapa yang memiliki sapi jantan terkuat di kota.

Pedagang itu berkata, “Banyak yang memiliki sapi jantan, tetapi tidak satu pun orang yang memiliki sapi jantan apa pun yang sama kuatnya dengan milikku.” Si laki-laki kaya berkata, “Tuan, Aku memiliki sapi jantan yang dapat menarik seratus gerobak berisi muatan penuh.” “Tidak, teman, bagaimana ada sapi jantan semacam itu? hal itu tak dapat dipercaya!” seru si pedagang. Pedagang yang lain menyahut, “Aku memiliki sapi jantan semacam itu, dan Aku bersedia untuk membuat taruhan.”

Pedangang itu berkata, “Aku akan bertaruh seribu koin emas bahwa sapi jantanmu tidak dapat menarik seratus gerobak berisi muatan.” Jadi taruhan pun dibuat dan mereka sepakat pada waktu dan tanggal untuk tangtangan itu.

Si Pedagang menyatukan bersamaan seratus gerobak besar. Mereka mengisi gerobak itu dengan pasir dan batu kerikil untuk membuatnya sangat berat.

Laki-laki kaya berkelas itu memberi makan beras yang terbaik kepada sapi jantan yang dipanggil Delightful. Dia memandikan dan menghiasinya serta mengantung sebuah rangkaian bunga yang indah di lehernya.

Kemudian dia mengikatkan tali pengikat pada gerobak yang pertama dan naik di atas sapi tersebut. Menjadi sangat berkelas, ia tidak dapat menahan keinginan untuk membuat dirinya terlihat sangat penting. Jadi ia melecutkan sebuat cambuk di udara, dan berteriak kepada sapi jantan yang setia itu, “Tarik, kamu binatang yang bodoh! Aku perintahkan kamu untuk menarik, bodoh!”

Sapi jantan yang dipanggil Delightful itu berpikir, “Tantangan ini adalah gagasanku! Aku tidak pernah melakukan suatu hal yang buruk apa pun kepada tuanku, dan tetapi ia menghinaku dengan kata-kata yang tajam dan kasar semacam itu!” Jadi ia tetap di tempatnya dan menolak untuk menarik gerobak-gerobak itu.

Pedagang itu tertawa dan menagih kemenangannya dari taruhan tersebut. Laki-laki kaya berkelas itu harus membayarnya seribu koin emas. Dia kembali ke rumahnya dan duduk, sedih oleh taruhannya yang hilang, dan dipermalukan oleh pukulan terhadap rasa harga dirinya.

Sapi jantan yang dipanggil Delightful itu makan rumput dengan tenang dalam perjalanan pulangnya. Ketika ia sampai, ia melihat majikannya berbaring dengan sedih.  Ia bertanya, “Tuan, mengapa kamu berbaring di sana seperti itu? Apakah kamu mengantuk? Kamu terlihat sedih.”  Laki-laki itu berkata, “Aku kehilangan seribu koin emas karena kamu. Dengan kehilangan semacam itu, bagaimana Aku dapat tidur?”

Sapi jantan menjawab, “Tuanku, kamu memanggilku ‘bodoh’. Kamu bahkan melecutkan cambuk di udara di atas kepalaku. Seumur hidupku, apakah Aku pernah merusak apa pun, menginjak apa pun, membuat kekacauan di tempat yang salah, atau berprilaku seperti yang ‘bodoh’ dengan cara apa pun?” Dia menjawab, “Tidak, binatang peliharaanku.”

Sapi jantan yang dipanggil Delightful itu berkata, “Lalu Tuan, mengapa tadi kamu memanggilku ‘binatang bodoh’, dan menghinaku bahkan di hadapan orang lain? Kesalahan ada padamu. Aku tidak melakukan sesuatu pun yang salah. Tetapi karena aku kasihan kepadamu, pergi lagi kepada si pedagang itu dan buatlah taruhan yang sama untuk dua ribu koin emas. Dan ingatlah untuk hanya menggunakan kata-kata hormat yang Aku berhak menerimanya dengan baik.”

Kemudian laki-laki kaya berkelas itu kembali menemui si pedagang dan membuat taruhan untuk dua ribu koin emas. Pedagang itu berpikir ini cara gampang untuk mendapatkan uang. Sekali lagi ia menyediakan seratus kereta sapi yang berisi muatan penuh. Sekali lagi laki-laki kaya itu memberi makan dan memandikan sapi jantannya , dan menggantungkan rangkaian bunga di lehernya.

Ketika semuanya sudah siap, laki-laki kaya itu menyentuh kening Delightful dengan bunga teratai, dan telah membuang cambuknya. Memikirkan si sapi jantan sama sayangnya seperti seolah-olah ia anaknya sendiri, dia berkata, “Anakku, tolong lakukan kepadaku kehormatan untuk menarik seratus gerobak ini.”

Seketika itu juga, sapi jantan yang hebat itu menarik dengan seluruh kekuatannya dan menyeret gerobak-gerobak yang berat itu, sampai yang terakhir berdiri di tempat yang pertama.

Pedagang itu dengan mulut ternganga tidak percaya, harus membayar dua ribu koin emas . Para penonton sangat terkesan, mereka menghormati sapi jantan yang dipanggil Delightful itu dengan hadiah-hadiah.  Tetapi yang lebih penting bagi laki-laki kaya berkelas itu daripada kemenangannya adalah pelajaran berharga dalam kerendahan hati dan rasa hormat.

Pesan moral: Kata-kata kasar tidak menguntungkan, kata-kata hormat membawa kehormatan bagi semua.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Thanks To Mr.Willy Yanto Wijaya for helping me during the translation.

BLACKIE MILIK NENEK (Kasih Sayang)


Pada suatu waktu, ketika saat Raja Brahmadatta memerintah di Benares, ada seorang nenek yang mempunyai seekor anak sapi. Anak sapi ini adalah seekor anak sapi hitam bangsawan. Sesungguhnya, warnanya hitam pekat tanpa bintik-bintik putih. Anak sapi itu adalah Bodhisatta – makhluk yang tercerahkan.

Nenek itu membesarkan si anak sapi seperti anaknya sendiri. Dia memberi makan nasi dan bubur terbaik. dia menciumi kepala dan leher anak sapi itu, dan anak sapi menjilati tangan si Nenek. Karena mereka sangat akrab, orang-orang mulai memanggil si anak sapi, ‘ Blackie milik nenek’.

Bahkan setelah anak sapi telah tumbuh menjadi sapi jantan yang besar dan kuat, Blackie milik nenek tetap sangat jinak dan lemah-lembut. Anak-anak desa bermain dengannya, memegang leher, telinga, dan tanduknya. Bahkan mereka mengambil ekornya dan berayun ke belakang sebagai tunggangan. Dia menyukai anak-anak, jadi dia tidak pernah mengeluh.

Sapi yang bersahabat itu berpikir, “Nenek baik hati, yang telah membesarkanku seperti seorang ibu bagiku. Dia telah membesarkanku seperti anaknya sendiri. Dia miskin dan kekurangan, tetapi terlalu sungkan meminta bantuanku. Dia terlalu lembut untuk memaksa saya bekerja. Karena saya juga mencintai dia, saya berharap dapat membebaskan dia dari penderitaan kemiskinan.” Jadi sapi mulai mencari pekerjaan.

Suatu hari, sebuah kafilah dengan 500 kereta datang ke desa. Kafilah itu berhenti pada tempat yang sulit untuk menyeberangi sungai. Sapi-sapi mereka tidak dapat menarik kereta menyeberang. Pemimpin kafilah menempatkan 500 pasang sapi pada kereta pertama. Tetapi sungainya terlalu deras sehingga mereka tidak dapat menyeberang walaupun hanya satu kereta.

Menghadapi masalah ini, pemimpin mencari tambahan sapi. Dia terkenal dalam ahli menilai kualitas dari sapi-sapi. Saat memeriksa kumpulan pengembara, dia melihat Blackie milik nenek. Sekilas dia  berpikir, “Sapi bangsawan ini sepertinya memiliki kekuatan dan kemauan menarik kereta-keretaku menyeberangi sungai.”

Dia berkata kepada para penduduk desa yang berdiri di dekatrnya. “Sapi hitam ini milik siapa? Aku ingin menggunakan sapi ini untuk menarik keretaku menyeberangi sungai, dan Aku bersedia membayar jasanya kepada pemiliknya.” Orang-orang berkata, “Kalau begitu, silakan bawa dia. Tuannya sedang tidak ada disini.”

Demikianlah dia meletakan seutas tali melalui hidung Blackie. Tetapi saat dia menarik, dia tidak dapat menggerakan sapi itu! Sapi itu berpikir, “Aku tidak akan bergerak sampai orang ini berkata kalau dia akan membayar perkerjaanku.”

Sebagai penilai sapi yang baik, Pemimpin kafilah memahami alasan ini. Sehingga dia berkata, “Sapi, setelah kamu berhasil menarik 500 keretaku menyeberangi sungai, Aku akan membayar kamu dua koin emas untuk setiap keretanya – bukan satu, tetapi dua!” Mendengar hal ini, Blackie bersedia ikut pergi dengannya.

Kemudian dia memasang pakaian kuda ke sapi hitam itu dan menghubungkannya ke kereta pertama. Sapi itu menarik kereta melewati sungai. Hal ini belum pernah dapat dilakukan oleh 1000 sapi sebelumnya. Seperti yang diharapkan, dia dapat menarik 499 kereta menyeberangi sungai dalam satu waktu, tanpa memperlambat langkahnya!

Ketika semuanya telah selesai dikerjakan, pemimpin kafilah menyiapkan bungkusan berisi hanya satu koin emas per kereta, totalnya 500 koin. Dia mengalungkannya di leher sapi kuat ini. Sapi berpikir, “Orang ini berjanji akan memberikan dua koin emas per kereta, tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang sudah dikalungkan di leherku. Maka Aku tidak akan membiarkan dia pergi!” Sapi berjalan ke bagian depan kafilah dan menghalangi jalan.

Pemimpin berusaha mendorongnya keluar dari jalan, tetapi dia tidak bergerak. Pemimpin berusaha mengendarai kereta-kereta itu di sekelilingnya. Tetapi semua sapi telah melihat betapa kuatnya dia, sehingga mereka tidak mau bergerak juga!

Laki-laki itu berpikir, “Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah sapi jantan yang pintar, yang dapat mengetahui bahwa Aku hanya membayarnya setengah harga.” Demikianlah dia membuat lagi sebuah bungkusan baru yang berisi 1000 koin emas, dan mengalungkannya di leher sapi.

Blackie milik nenek kembali menyeberangi sungai dan langsung berjalan menuju si nenek, ‘ibu-nya’. Sepanjang perjalanan, anak-anak berusaha mengambil bungkusan uang, mengira itu adalah permainan. Tetapi dia tidak memperdulikan mereka.

Ketika si Nenek melihat bungkusan berat itu, dia sangat terkejut. Anak-anak menceritakan kepadanya semua hal tentang apa yang terjadi di sungai. Dia membuka bungkusan itu dan menemukan 1000 koin emas.

Wanita tua itu juga melihat kelelahan pada mata ’anak’nya. Dia berkata, “Oh anakku, kamu pikir Aku berharap dapat menghasilkan uang dari kamu? Kenapa kamu mau bekerja sangat keras dan menderita? Bagaimanapun susahnya nanti, Aku akan selalu memelihara dan menjagamu.”

Kemudian wanita baik itu memandikan sapi jantan tercintanya dan memijat otot-ototnya yang lelah dengan minyak. Dia memberinya makanan yang baik dan merawatnya, sampai akhir dari hidup mereka yang bahagia.

Pesan moral: Kasih sayang membuat rumah termiskin menjadi rumah terkaya.

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

SAHABAT BAIK (Kekuatan Persahabatan)


Jauh sebelum ada cerita ini, orang-orang di Asia terbiasa mengatakan bahwa tidak akan pernah ada waktu dimana seekor gajah dan seekor anjing menjadi sahabat. Gajah sama sekali tidak menyukai anjing dan anjing takut kepada gajah.

Saat anjing ketakutan terhadap sesuatu yang lebih besar darinya, mereka sering mengonggong sangat keras untuk menutupi rasa takut. Anjing terbiasa melakukannya saat mereka melihat gajah, gajah akan merasa terganggu dan mengejar mereka. Gajah menjadi tidak sabar sama sekali jika anjing datang. Bahkan jika seekor anjing diam dan tidak bergerak, gajah di dekat mana pun akan otomatis menyerangnya. Inilah sebabnya mengapa setiap orang setuju bahwa gajah dan anjing adalah musuh alami, sama seperti singa dan macan atau kucing dan tikus.

Suatu hari, ada seekor gajah jantan kerajaan yang sangat sehat dan terawat. Di lingkungan kandang gajah terdapat seekor anjing kurus kering, kelaparan dan liar. Ia tertarik dengan wangi nasi yang lezat dari makanan gajah kerajaan. Jadi ia mulai menyelinap masuk ke kandang dan memakan nasi lezat yang jatuh dari mulut gajah. Ia sangat menyukainya, sehingga mulai saat itu anjing tidak akan makan di tempat lain. Saat menikmati makanannya, gajah yang besar dan kuat tidak mengetahui kehadiran anjing kecil, liar dan pemalu.

Setelah memakan banyak makanan, anjing yang makan dari sisa makanan menjadi besar dan kuat juga sangat tampan. Gajah yang baik mulai memperhatikannya. Karena anjing itu sudah terbiasa berada di sekitar gajah, ia kehilangan rasa takutnya. Sehingga ia tidak mengonggong. Karena gajah tidak terganggu dengan anjing yang bersahabat itu, gajah perlahan-lahan menjadi terbiasa dengannya.

Lambat laun mereka menjadi lebih ramah dan lebih ramah satu sama lain. Tak lama kemudian, tak satu pun akan makan tanpa yang lainnya, dan mereka menikmati kebersamaan mereka. Ketika mereka bermain, si anjing akan menangkap belalai gajah, dan gajah akan mengayunkannya ke depan dan ke belakang, dari samping ke samping, ke atas dan ke bawah, dan bahkan memutar. Sehingga mereka menjadi “sahabat baik”, dan tidak pernah mau dipisahkan.

Kemudian suatu hari, seorang laki-laki dari desa terpencil yang mengunjungi kota, melewati kandang gajah. Dia melihat anjing lincah, yang menjadi kuat dan tampan. Dia membeli anjing dari penjaga (mahout), walaupun si penjaga sesungguhnya bukan si pemilik anjing. Dia membawa anjing itu ke rumahnya di desa, tanpa seorang pun tahu keberadaannya.

Tentu saja, gajah jantan kerajaan menjadi sangat sedih ketika dia kehilangan teman baiknya, anjing. Dia menjadi sangat sedih sampai dia tidak mau melakukan apa pun, tidak juga makan, minum atau mandi. Jadi penjaga melaporkannya ke raja, walaupun dia tidak mengatakan apa pun tentang penjualan anjing.

Hal ini terjadi saat raja mempunyai menteri yang pandai dan mengerti binatang. Untuk itu Raja memerintahkan menteri untuk pergi dan mencari tahu penyebab dari kondisi si gajah.

Menteri  yang bijaksana pergi ke kandang gajah. Dia melihat sesekali gajah jantan kerajaan sangat sedih. Dia berpikir, “Gajah ini sepertinya tidak sakit. Tetapi aku pernah melihat kondisi ini sebelumnya, sama seperti pada manusia dan binatang. Kesedihan gajah ini mungkin disebabkan oleh kehilangan sahabat dekatnya.”

Kemudian menteri berkata kepada pengawal dan pengunjung, “Aku tidak menemukan penyakit. Ia terlihat amat sedih karena kehilangan seorang sahabat. Apakah kamu tahu jika gajah ini mempunyai persahabatan yang sangat dekat dengan sesuatu?”

Mereka memberi tahu menteri betapa gajah kerajaan dan anjing liar adalah teman baik. “Apa yang terjadi dengan anjing liar ini?” tanya menteri. “Ia telah dibawa pergi oleh seseorang yang tidak dikenal,” jawab mereka, “dan kami tidak mengetahui di mana dia sekarang.”

Kemudian menteri kembali menemui raja dan berkata “Raja, aku sangat senang mengatakan bahwa gajah Anda tidak sakit. Mungkin terdengarnya aneh, gajah itu menjadi sahabat baik anjing liar! Sejak anjing itu telah dibawa pergi, gajah Anda sangat sedih dan tidak merasa ingin makan, minum atau mandi. Ini adalah pendapatku.”

Raja berkata, “Persahabatan adalah satu hal yang paling indah dalam kehidupan. Menteriku, bagaimana kita bisa membawa kembali sahabat gajahku dan membuatnya bahagia lagi?”

“Raja,” jawab menteri “Aku menyarankan Anda membuat pengumuman resmi, barang siapa mempunyai anjing yang pernah tinggal di kandang gajah kerajaan, akan diampuni.”

Hal ini dilakukan raja, dan ketika warga desa itu mendengarnya, dia melepaskan anjing itu dari rumahnya. Anjing sangat bahagia dan lari secepat mungkin, kembali ke sahabat baiknya, gajah jantan kerajaan.

Gajah sangat senang, dia mengangkat sahabatnya dengan belalainya dan mendudukannya di atas kepalanya. Anjing yang bahagia itu mengibas-ibaskan ekornya, sedangkan mata gajah berbinar-binar gembira. Mereka berdua hidup bahagia selamanya.

Sementara itu, Raja sangat senang gajahnya telah kembali baik. Raja kagum dengan menterinya yang nampaknya mampu membaca pikiran seekor gajah. Jadi dia memberikan hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Bahkan ‘Musuh alami’ pun dapat menjadi sahabat baik.

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

LADYFACE (Pergaulan)


Pada suatu ketika, Raja Benares mempunyai seekor gajah jantan kerajaan yang baik, sabar dan jinak. Bersamaan dengan wataknya yang baik, dia juga memiliki wajah yang lemah-lembut. Sehingga dikenal dengan nama ‘Ladyface’.

Pada suatu malam, segerombolan pencuri mengadakan pertemuan tepat di depan kandang gajah. Di dalam kegelapan, mereka membicarakan tentang rencana mereka untuk merampok warga. Mereka membicarakan tentang pemukulan dan pembunuhan, serta menyombong bahwa mereka sudah tidak memiliki kebaikan jadi mereka tidak punya rasa kasihan terhadap korban mereka. Mereka menggunakan bahasa pasaran yang kasar untuk menakuti orang-orang dan untuk membuktikan betapa kuatnya mereka.

Karena malam itu sangat sunyi, Ladyface tidak melakukan apa pun tetapi hanya mendengarkan semua rencana jahat dan perkataan kejam yang kasar. ia mendengarkan dengan seksama dan, seperti yang dilakukan gajah-gajah, ia menggingat semuanya. Karena dilatih untuk patuh dan menghormati manusia, ia berpikir bahwa orang-orang ini juga harus dipatuhi dan dihormati, seperti guru-guru.

Setelah hal ini berlangsung dalam beberapa malam, Ladyface memutuskan bahwa hal yang benar untuk dilakukan adalah menjadi kasar dan kejam. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang bergaul dengan mereka yang sifat dasar pemikirannya rendah dan kasar. Tetapi hal ini dapat terjadi khususnya pada seorang lemah lembut yang berharap untuk menyenangkan orang lain.

‘Mahout’ adalah pangilan orang India terhadap pelatih spesial dan perawat terutama sekali seekor gajah. Mereka biasanya sangat dekat. Pada pagi dini hari, Mahout Ladyface datang untuk mengunjunginya seperti biasa. Gajah itu, Pikirannya dipenuhi dengan pembicaraan perampok semalam, tiba-tiba menyerang pelatihnya. ia mengangkatnya dengan belalai, meremasnya, dan menghempaskannya ke lantai, membunuhnya dalam waktu singkat. Kemudian, ia mengangkat dua orang pengunjung, bergantian, dan membunuhnya juga dengan ganas.

Kabar ini cepat menyebar ke seluruh kota bahwa Ladyface yang dikagumi telah berubah mendadak menjadi gila dan menjadi pembunuh manusia yang ditakuti. Orang-orang datang kepada raja untuk meminta bantuan.

Hal ini terjadi ketika raja mempunyai seorang menteri pintar yang dikenal dapat memahami binatang. Jadi raja memanggilnya dan memerintahkannya untuk pergi dan mencari tahu penyakit atau kondisi lain apa yang menyebabkan gajah kesukaannya berubah menjadi sangat gila.

Menteri itu adalah Bodhisatta – makhluk yang tercerahkan. Sesampainya di kandang gajah, dia berbicara lembut dengan kata yang menyejukan kepada Ladyface, dan membuatnya tenang. Dia memeriksa Ladyface dan mengetahui bahwa kesehatan fisik Ladyface dalam keadaan prima. Ketika dia berbicara ramah kepada Ladyface, dia memperhatikan bahwa gajah itu menggerakan telinganya dan memberi perhatian lebih. Hal ini hampir seperti ketika binatang malang telah kelaparan bunyi dari kata-kata yang lembut. Maka menteri mengetahui bahwa gajah ini pastinya telah mendengar kata-kata kasar atau melihat perbuatan kejam dari mereka yang ia salah nilai sebagai guru.

Dia bertanya kepada penjaga gajah, “Apakah kamu melihat siapa saja yang berkeliaran di kandang gajah, saat malam hari atau kapan pun?” “Ya, menteri,” jawab mereka, “Beberapa minggu terakhir sekelompok perampok mengadakan pertemuan di sini. Kami takut melakukan apa pun, karena mereka mempunyai karakter yang kejam. Ladyface dapat mendengar setiap perkataan mereka.”

Kemudian menteri kembali menemui raja. Dia berkata, “Raja, gajah kesayangan Anda, Ladyface, dalam keadaan sehat fisik. Aku menemukan bahwa karena mendengarkan perkataan kasar dan kejam dari para perampok selama bermalam-malam, ia sudah belajar menjadi kasar dan kejam. Pergaulan yang tidak baik sering mengarahkan kepada pikiran dan tindakan yang tidak baik.”

Raja bertanya, “Apa yang harus dilakukan?” Menteri berkata, “Baiklah Raja, sekarang kita harus membalik proses tersebut. Kita harus mengirim orang-orang bijak dan para bhikkhu, yang mempunyai pemikiran bijak, hanya untuk menghabiskan beberapa malam di luar kandang gajah. Di sana mereka harus berbicara tentang nilai-nilai kebajikan dan kesabaran, membangkitkan perasaan kasih sayang, cinta kasih, dan tidak menyakiti.”

Kemudian hal tersebut dilakukan. Selama beberapa malam, orang-orang bijaksana berbicara tentang nilai-nilai kebajikan. Mereka hanya menggunakan bahasa yang lembut baik dan sopan, untuk menciptakan kedamaian dan kenyamanan kepada setiap orang.

Setelah mendengar percakapan baik ini selama beberapa malam, Ladyface si gajah jantan bahkan menjadi lebih damai dan menyenangkan daripada sebelumnya!

Melihat perubahan total tersebut, menteri melaporkannya kepada raja, dengan berkata “Raja, Ladyface sekarang bahkan menjadi lebih tak berbahaya dan ramah daripada sebelumnya. Sekarang dia sama lembutnya seperti seekor domba!”

Raja berkata, “Hal yang sungguh menakjubkan bahwa seekor gajah gila yang kasar semacam itu dapat diubah dari bergaul dengan orang-orang bijaksana dan para bhikkhu.” Raja terkagum-kagum bahwa menterinya nampaknya mampu membaca pikiran seekor gajah. Sehingga ia memberikannya hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Seperti halnya perkataan kasar memengaruhi dengan kekejaman, begitu juga kata-kata baik menyembuhkan dengan tanpa melukai

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

AIR MANDI KOTOR (Kebersihan)


Pada suatu ketika, di sebuah kerajaan di India, seekor kuda yang paling bagus dibawa ke sungai untuk dimandikan. Tukang kuda membawanya ke kolam dangkal yang sama dimana mereka selalu memandikannya.

Tetapi sesaat sebelum mereka tiba, seekor kuda kotor telah mandi pada tempat yang sama. Kuda tersebut telah ditangkap dari luar kota dan belum pernah mandi dengan bersih sepanjang hidupnya.

Ketika kuda kerajaan menghirup udara, seketika dia mengetahui bahwa kuda liar yang kotor telah dimandikan di sini dan mengotori airnya. Sehingga dia menjadi jijik dan menolak untuk dimandikan di tempat itu.

Tukang kuda berusaha sekuat tenaga agar kuda kerajaan masuk ke air, tetapi tidak berhasil. Jadi mereka pergi kepada raja dan mengeluh bahwa kuda jantan kerajaan yang terlatih baik tiba-tiba menjadi keras kepala dan tidak dapat diatur.

Hal ini terjadi pada saat raja mempunyai seorang menteri yang pandai dan dapat mengerti binatang. Jadi Raja memanggilnya dan berkata, “Tolong pergi dan lihat apa yang telah terjadi pada kuda nomor satuku. Cari tahu apakah dia sakit atau alasan apa yang membuat dia menolak dimandikan. Dari semua kudaku, dia adalah satu-satunya kuda yang memiliki kualitas tinggi dan dia tidak akan membiarkan dirinya masuk ke tempat kotor. Pasti ada sesuatu yang salah.”

Kemudian menteri pergi menuju ke tepi sungai kolam permandian secepatnya. Dia menemukan bahwa kuda agung tidak sakit dan dalam keadaan sehat. Dia juga memperhatikan bahwa kuda agung berusaha menahan nafas. Kemudian dia menghirup udara dan mencium sedikit bau tidak sedap. Memeriksa lebih lanjut, dia menemukan bahwa bau tersebut berasal dari air kotor di kolam mandi. Jadi dia berpikir bahwa kuda lain yang sangat kotor pasti telah dimandikan di sana, dan kuda raja terlalu mencintai kebersihan untuk mandi di dalam air yang kotor.

Menteri bertanya kepada tukang kuda, “Apakah hari ini ada kuda lain yang telah dimandikan di tempat ini?” “Ada,” jawab mereka, “Sebelum kami sampai, seekor kuda liar telah mandi di sini.” Menteri berkata kepada mereka, “Tukang kuda, ini adalah kuda kerajaan yang menyukai kebersihan. Dia tidak mau mandi di air kotor. Jadi hal yang harus dilakukan adalah membawanya mandi ke hulu sungai tempat dimana airnya segar dan bersih, dan mandikan ia di sana”

Mereka mengikuti intruksi menteri dan kuda kerajaan mau mandi di tempat yang baru.

Menteri kembali ke kerajaan dan menceritakan hal yang telah terjadi. Dia berkata, “Anda benar yang mulia, kuda yang sangat bagus mempunyai kualitas tinggi sehingga dia tidak mau masuk ke dalam kotoran!”

Raja terpesona bahwa menterinya nampaknya mampu membaca pikiran seekor kuda. Sehingga Raja memberikannya hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Binatang pun bahkan menghargai kebersihan.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

KUDA PERKASA SI MAHA TAHU (Keberanian)


Pada suatu ketika, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, di India sebelah utara. Ia memiliki seekor kuda perkasa yang lahir di wilayah Sindh, lembah sungai Indus, sebelah barat India. Kuda ini adalah Makhluk yang Tercerahkan.

Selain berukuran besar dan kuat, ia sangat pandai dan bijaksana. Ketika ia masih muda, orang-orang menyadari bahwa ia kelihatannya selalu tahu apa keinginan penunggangnya sebelum diberi perintah. Maka ia disebut si Maha Tahu.

Ia dianggap sebagai kuda kerajaan yang paling perkasa, dan diberikan yang terbaik untuk semua kebutuhannya. Kandang kudanya dihias dan selalu bersih dan indah. Kuda-kuda biasanya setia kepada tuan mereka. Si Maha Tahu sangat setia dan tahu berterima kasih atas begitu baiknya raja merawatnya. Dari semua kuda-kuda istana, si Maha Tahu juga yang paling berani. Maka raja menghargai dan mempercayainya.

Kemudian, tujuh raja dari kerajaan tetangga bersatu untuk melawan Raja Brahmadatta. Setiap raja membawa empat pasukan hebat – pasukan gajah dan kuda, kereta perang dan barisan prajurit. Bersama-sama ketujuh raja dengan semua pasukan mereka, mengepung kota Benares.

Raja Brahmadatta menggumpulkan para menteri dan penasehatnya untuk membuat rencana-rencana untuk mempertahankan kerajaan. Mereka menasehatinya, “Jangan menyerah. Kita harus melawan untuk melindungi kekuasaan tertinggi kita. Tetapi, Anda seharusnya tidak mengorbankan orang-orang istana pada permulaannya. Tapi kirimlah pejuang dari semua ksatria untuk mewakili Anda di medan perang. Jika ia kalah, maka Andalah yang kemudian harus pergi.”

Maka raja memangil pejuang tersebut dan bertanya, “Dapatkah Anda menjadi pemenang melawan tujuh raja-raja tersebut?” Si Ksatria menjawab, “Jika Anda mengijinkan aku untuk mengendarai si Maha Tahu kuda perkasa yang paling berani dan paling bijaksana, hanya demikian aku dapat memenangkan pertarungan.” Raja setuju dan berkata, “Kemenanganku tergantung pada kau dan si Maha Tahu, untuk menyelamatkan negara ini dari mara bahaya. Bawalah apa pun yang engkau butuhkan.”

Ksatria pejuang pergi ke kandang kuda istana. Ia memerintahkan si Maha Tahu diberi makan yang baik dan diberi pakaian pelindung senjata dengan semua kondisi terbaik. Lalu ia membungkuk dengan hormat dan naik ke pelana kuda yang indah.

Si Maha Tahu mengetahui apa yang terjadi. Ia berpikir, “Ketujuh raja ini telah datang untuk menyerang negara dan rajaku yang telah memberi makan, merawat dan mempercayaiku. Tidak hanya tujuh raja, tapi juga pasukan mereka yang besar dan kuat mengancam rajaku dan semuanya di Benares. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Tapi aku juga tidak akan memperbolehkan ksatria pejuang membunuh para raja tersebut. Karena aku juga akan terlibat dalam perbuatan yang merugikan dari mengambil kehidupan pihak lain, dalam rangka memenangkan sebuah kemenangan biasa. Malahan, aku akan mengajarkan sebuah cara baru. Aku akan menangkap semua tujuh raja itu tanpa membunuh seorang pun. Itu akan menjadi kemenangkan besar sejati!”

Lalu si Maha Tahu berbicara ke penunggangnya, “Tuan ksatria, mari kita memenangkan pertempuran dengan sebuah cara baru, tanpa memusnahkan kehidupan. Anda hanya harus menangkap setiap raja satu per satu dan tetap berada di punggungku. Biarkan aku menemukan pelajaran sejati melalui banyak pasukan. Perhatikan aku ketika Anda menunggang dan aku akan memperlihatkan kepadamu keberanian yang melampaui cara lama, cara membunuh!”

Ketika ia berbicara tentang ‘sebuah cara baru’ dan ‘pelajaran sejati’ dan ‘keberanian yang melampaui apa pun’, ia seperti kuda agung yang lebih besar daripada kehidupan. Ia mengangkat dirinya dengan anggun dengan kaki belakangnya yang kuat dan melihat ke bawah ke semua pasukan yang mengepung kota. Semua mata terpana oleh kekuatan yang satu ini. Bumi bergetar ketika kaki depannya kembali ke tanah dan ia menyerang ke tengah-tengah empat pasukan dari raja pertama. Ia sepertinya memiliki kecepatan cahaya, kekuatan seratus gajah, dan keyakinan agung dari beberapa alam semesta.

Gajah-gajah dapat mengingat tidak ada satu kuda pun seperti ini, dan demikian pasukan gajah mundur ketakutan. Kuda-kuda tahu bahwa saudara mereka adalah jagoan paling ulung diantara mereka semua, dan demikian pasukan kuda dan pasukan kereta perang berdiri kaku dan membungkuk hormat ketika Makhluk hebat tersebut lewat dan barisan tentara berpencar seperti lalat sebelum datangnya angin kencang.

Raja pertama tidak tahu apa yang telah terjadi, sebelum ia dengan mudah ditangkap dan dibawa ke kota Benares. Dan juga dengan raja kedua, ketiga, keempat, dan kelima.

Dengan cara yang sama raja keenam tertangkap. Tetapi salah satu pengawal setianya melompat dari persembunyian dan menikam pedangnya dalam sekali di sebelah Maha Tahu yang berani. Dengan darah mengucur dari lukanya, ia membawa ksatria pejuang dan menangkap raja keenam kembali ke kota.

Ketika ksatria melihat luka parah tersebut, ia tiba-tiba menjadi takut untuk mengendarai si Maha Tahu yang telah lemah untuk melawan raja ketujuh. Maka ia mulai memakaikan baju baja ke kuda lain yang perkasa, yang juga sebesar si Maha Tahu.

Melihat hal ini, walaupun sangat menderita karena luka yang mematikan tersebut, si Maha Tahu berpikir, “Si ksatria pejuang ini telah kehilangan keberaniannya dengan sangat cepat. Ia tidak memahami sifat sejati dari kekuataanku – pengetahuan bahwa kedamaian sejati hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang damai. Ia berusaha mengalahkan raja ketujuh dan pasukan-pasukannya dengan cara biasa, mengendarai seekor kuda biasa.

“Setelah mengambil langkah pertama untuk tidak membunuh makhluk hidup, aku tidak boleh berhenti setengah jalan. Usaha luhurku untuk mengajarkan sebuah cara baru akan lenyap seperti menggambar garis di air!”

Kuda perkasa yang Maha Tahu berkata kepada ksatria pejuang. “Tuan ksatria, raja ketujuh dan pasukannya adalah yang paling hebat dari semuanya. Mengendarai seekor kuda biasa, walaupun Anda membunuh seribu orang dan binatang, Anda akan kalah. Aku kuda perkasa suku Sindh, dikenal sebagai si Maha Tahu, hanya aku yang dapat mengalahkan mereka tanpa melukai siapa pun, dan menangkap raja ke tujuh hidup-hidup!”

Ksatria pejuang memperoleh kembali keberaniannya. Kuda perkasa berjuang menahan rasa sakitnya. Ketika darah terus mengalir, ia menyerbu dan menyerang empat pasukan dan ksatria menangkap raja terakhir dari ketujuh raja yang suka berperang. Lagi-lagi semua jalannya terbebas dari kekerasan. Melihat tujuh raja mereka dalam penangkapan, para pasukan meletakan senjata mereka dan meminta untuk berdamai.

Menyadari Maha Tahu kuda perkasa tidak dapat bertahan hidup sampai malam, Raja Brahmadatta pergi menemuinya. Ia telah memeliharanya sejak dari kecil, sehingga ia menyayanginya. Ketika raja melihat bahwa ia sekarat, matanya penuh dengan air mata.

Maha Tahu berkata, “Rajaku, aku telah mengabdi dengan setia kepadamu. Dan aku telah melampaui dan menunjukkan sebuah cara baru. Sekarang Anda harus mengabulkan permintaan terakhirku. Anda harus tidak membunuh ketujuh raja ini, walaupun mereka telah berbuat salah kepadamu. Karena, sebuah kemenangan yang menumpakan darah menaburkan benih-benih dari perang berikutnya. Maafkan penyerbuan mereka kepadamu, biarkan mereka kembali ke kerajaan mereka dan semoga Anda semua hidup damai mulai dari sekarang.

“Hadiah apa pun yang Anda ingin berikan kepada hamba, berikanlah kepada ksatria pejuang. Lakukan hanya perbuatan baik, bermurah hatilah, jungjung tinggi kebenaran dan tidak membunuh makhluk hidup. Memerintah dengan adil dan penuh belas kasih.”

Kemudian ia menutup mata dan menghembus nafas terakhir. Raja menangis dan semua berduka atas kepergiannya. Dengan rasa hormat yang tinggi, mereka membakar tubuh si Maha Tahu kuda perkasa – Makhluk yang Tercerahkan.

Raja Brahmadatta membawa tujuh raja kepadanya. Mereka juga menghormati kuda perkasa tersebut, yang telah mengalahkan para pasukan mereka tanpa menumpahkan satu darah pun, kecuali darahnya sendiri. Dalam memorinya mereka berdamai dan tidak pernah lagi tujuh raja dan Brahmadatta berperang satu sama lain.

Pesan moral : Kedamaian sejati hanya dapat dimenangkan oleh cara-cara yang damai.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50