IKAN YANG BERUNTUNG (NAFSU KEINGINAN)


 

Pada suatu ketika, Raja Brahmadatta memiliki seorang penasihat yang sangat bijaksana yang memiliki kemampuan berbicara dengan para binatang. Ia mengerti apa yang mereka ucapkan dan ia dapat berbicara kepada mereka dengan menggunakan bahasa mereka.

Suatu hari si penasihat sedang berjalan-jalan di sepanjang pinggir sungai dengan para pengikutnya. Mereka menghampiri beberapa nelayan yang melemparkan jaring besar ke dalam sungai. Ketika mengamati dengan seksama ke dalam air, mereka memperhatikan seekor ikan tampan besar sedang mengikuti istrinya yang cantik.

Seraya para nelayan mengirimkannya peluncur ke dalam air, sisiknya yang berkilauan memantulkan cahaya matahari pagi dalam semua warna pelangi. Siripnya mengipas-ngipas seperti sayap-sayap lembut sang peri. Jelas bahwa suaminya begitu terpesona oleh paras dan caranya bergerak, hal itu membuat ia tidak memperhatikan hal lainnya!

Continue reading

Raja Burung Puyuh dan Pemburu (PERSATUAN)


 

Pada suatu ketika, ada seekor Raja burung Puyuh yang memerintah lebih dari seribu ekor kawanan burung Puyuh.

Terdapat pula seorang pemburu burung Puyuh yang sangat pintar. Ia mengetahui bagaimana cara membuat panggilan seekor burung Puyuh. Karena suara tersebut menyerupai suara burung Puyuh yang sedang meminta pertolongan, maka tidak pernah gagal untuk memikat burung Puyuh lainnya. Kemudian si pemburu menangkap mereka dengan sebuah jaring, memasukkan mereka ke dalam keranjang-keranjang dan menjualnya sebagai usaha untuk bertahan hidup.

Karena ia selalu mengutamakan keselamatan kawanan burung Puyuhnya, Raja burung Puyuh sangat dihormati oleh semuanya. Sementara itu, dalam pengintaian yang membahayakan, suatu hari ia datang melewati si pemburu dan melihat apa yang ia lakukannya. Ia berpikir, “Pemburu burung Puyuh ini memiliki sebuah rencana yang bagus untuk membinasakan keluarga kami. Aku harus menyusun rencana yang lebih baik guna menyelamatkan hidup kami.”

Continue reading

SURGA 33 (BAGIAN 1. KERJASAMA)


 

Pada suatu ketika, saat Raja Magadha memerintah, ada seorang suci muda yang disebut, “Magha yang Baik”. Ia tinggal di desa terpencil yang hanya terdiri dari tiga puluh keluarga. Ketika ia masih muda, orang tuanya menikahkannya dengan seorang gadis yang memiliki kualitas karakter yang serupa dengan dirinya. Mereka sangat bahagia bersama, dan istrinya memberikannya beberapa orang anak.

Para penduduk desa menghormati Magha yang baik karena ia selalu mencoba untuk membantu dalam mengembangkan desa, untuk kebaikan semuanya. Karena mereka menghormatinya, ia mampu untuk mengajarkan Lima Latihan, untuk menyucikan pikiran, ucapan dan perbuatan mereka.

Cara Magha dalam mengajarkan adalah dengan praktik. Salah satu contoh hal ini terjadi ketika suatu hari para penduduk desa berkumpul untuk mengerjakan kerajinan tangan. Magha yang Baik membersihkan sebuah tempat untuk dia duduk. Sebelum dia duduk, seseorang yang lain telah mendudukinya. Jadi ia dengan sabar membersihkan tempat yang lain. Seorang tetangga duduk di tempatnya lagi. Hal ini terulang dan terulang lagi, sampai ia sudah dengan sabar membersihkan tempat duduk untuk semua yang hadir. Hanya dengan demikian ia dapat duduk di tempat yang terakhir.

Continue reading

Burung Merak yang Menari (Kebanggaan dan Kerendahan Hati)


Suatu ketika zaman dahulu kala, binatang berkaki empat menjadikan seekor singa sebagai raja mereka. Ada seekor ikan raksasa yang mengembara di lautan dan ikan-ikan menjadikannya sebagai raja mereka. Para burung tertarik pada keindahan, demikianlah mereka memilih Angsa Emas sebagai raja mereka.

Raja Angsa Emas memiliki anak yang cantik. Ketika anaknya masih kecil, ia mengabulkan satu buah permintaan untuknya. Anaknya berkeinginan, ketika ia cukup besar, ia dapat memilih suaminya sendiri.

Ketika anaknya beranjak dewasa, Raja Angsa Emas mengundang semua burung yang berada di Gunung Himalaya yang maha besar di Asia Tengah untuk berkumpul. Maksudnya adalah untuk menemukan suami yang pantas bagi anak gadisnya. Burung-burung datang dari berbagai jarak yang jauh, bahkan dari Tibet yang tinggi. Mereka adalah para soang (angsa peliharaan), angsa, elang, burung pipit, burung kolibri, burung tekukur, burung hantu dan banyak burung-burung jenis lainnya.

Pertemuan tersebut diadakan di atas lempengan bebatuan yang tinggi, di lahan hijau yang indah di Nepal. Raja Angsa Emas mengatakan kepada anak gadis kesayangannya untuk memilih suami mana saja yang ia inginkan.

Ia menyaksikan banyak jenis burung. Matanya tertuju pada burung merak yang berleher hijau dengan kilauan cahaya dan bulu ekor yang berjuntai sangat indah. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Burung ini, si merak, akan menjadi suamiku.”

Mendengar bahwa si merak sebagai yang beruntung, semua burung lainnya mengerumuni si merak untuk mengucapkan selamat padanya. Mereka berkata, “Meskipun di antara begitu banyak jenis burung yang indah, putri Angsa Emas telah memilihmu. Kami mengucapkan selamat atas keberuntunganmu.”

Si burung merak menjadi sangat dipenuhi keangkuhan, ia mulai memamerkan bulu-bulunya yang penuh warna dalam sebuah tarian mengigal yang luar biasa. Ia mengibaskan bulu ekornya yang mengagumkan dan menari berputar untuk memamerkan ekornya yang indah. Menjadi begitu sombong, ia mengadahkan kepalanya ke angkasa dan melupakan segala kerendahan hati, dengan begitu ia juga mempertunjukkan bagian-bagiannya yang sangat pribadi agar semua melihat!

Para burung lainnya, khususnya yang muda, tertawa terkikih-kikih. Tetapi Raja Angsa Emas tidak merasa senang. Ia merasa malu menyaksikan pilihan putrinya berlaku semacam itu. Ia berpikir, “Merak ini tidak mempunyai naluri kemaluan untuk memberinya sopan santun yang pantas. Tidak juga ia memiliki ketakutan luar untuk mencegah prilakunya yang tidak senonoh. Lalu mengapa putriku harus dipermalukan oleh pasangan yang berpikir tanpa pertimbangan seperti itu?

Berdiri di tengah-tengah kumpulan besar pada burung, raja burung berkata, “Tuan merak, suaramu merdu, bulu-bulumu indah, lehermu bercahaya seperti sebuah batu permata, dan ekormu seperti kipas yang begitu indah. Tetapi kamu telah berdansa di sini layaknya seseorang yang tidak memiliki rasa malu ataupun takut sebagaimana mestinya. Aku tidak akan mengijinkan putriku yang tak berdosa ini untuk menikah dengan merak dungu seperti kamu!”

Kemudian Raja Angsa Emas menikahkan putrinya dengan keponakan raja. Burung merak yang dungu terbang jauh, kehilangan seorang calon istri yang cantik.

Pesan Moral : Jika membiarkan rasa bangga bersemayam di pikiranmu, kamu akan mulai bertindak layaknya seorang yang dungu.

Diterjemahkan oleh Ika Pritami, Editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Many thanks to Mr. Tasfan and Willy Yanto Wijaya.

SAHABAT BAIK (Kekuatan Persahabatan)


Jauh sebelum ada cerita ini, orang-orang di Asia terbiasa mengatakan bahwa tidak akan pernah ada waktu dimana seekor gajah dan seekor anjing menjadi sahabat. Gajah sama sekali tidak menyukai anjing dan anjing takut kepada gajah.

Saat anjing ketakutan terhadap sesuatu yang lebih besar darinya, mereka sering mengonggong sangat keras untuk menutupi rasa takut. Anjing terbiasa melakukannya saat mereka melihat gajah, gajah akan merasa terganggu dan mengejar mereka. Gajah menjadi tidak sabar sama sekali jika anjing datang. Bahkan jika seekor anjing diam dan tidak bergerak, gajah di dekat mana pun akan otomatis menyerangnya. Inilah sebabnya mengapa setiap orang setuju bahwa gajah dan anjing adalah musuh alami, sama seperti singa dan macan atau kucing dan tikus.

Suatu hari, ada seekor gajah jantan kerajaan yang sangat sehat dan terawat. Di lingkungan kandang gajah terdapat seekor anjing kurus kering, kelaparan dan liar. Ia tertarik dengan wangi nasi yang lezat dari makanan gajah kerajaan. Jadi ia mulai menyelinap masuk ke kandang dan memakan nasi lezat yang jatuh dari mulut gajah. Ia sangat menyukainya, sehingga mulai saat itu anjing tidak akan makan di tempat lain. Saat menikmati makanannya, gajah yang besar dan kuat tidak mengetahui kehadiran anjing kecil, liar dan pemalu.

Setelah memakan banyak makanan, anjing yang makan dari sisa makanan menjadi besar dan kuat juga sangat tampan. Gajah yang baik mulai memperhatikannya. Karena anjing itu sudah terbiasa berada di sekitar gajah, ia kehilangan rasa takutnya. Sehingga ia tidak mengonggong. Karena gajah tidak terganggu dengan anjing yang bersahabat itu, gajah perlahan-lahan menjadi terbiasa dengannya.

Lambat laun mereka menjadi lebih ramah dan lebih ramah satu sama lain. Tak lama kemudian, tak satu pun akan makan tanpa yang lainnya, dan mereka menikmati kebersamaan mereka. Ketika mereka bermain, si anjing akan menangkap belalai gajah, dan gajah akan mengayunkannya ke depan dan ke belakang, dari samping ke samping, ke atas dan ke bawah, dan bahkan memutar. Sehingga mereka menjadi “sahabat baik”, dan tidak pernah mau dipisahkan.

Kemudian suatu hari, seorang laki-laki dari desa terpencil yang mengunjungi kota, melewati kandang gajah. Dia melihat anjing lincah, yang menjadi kuat dan tampan. Dia membeli anjing dari penjaga (mahout), walaupun si penjaga sesungguhnya bukan si pemilik anjing. Dia membawa anjing itu ke rumahnya di desa, tanpa seorang pun tahu keberadaannya.

Tentu saja, gajah jantan kerajaan menjadi sangat sedih ketika dia kehilangan teman baiknya, anjing. Dia menjadi sangat sedih sampai dia tidak mau melakukan apa pun, tidak juga makan, minum atau mandi. Jadi penjaga melaporkannya ke raja, walaupun dia tidak mengatakan apa pun tentang penjualan anjing.

Hal ini terjadi saat raja mempunyai menteri yang pandai dan mengerti binatang. Untuk itu Raja memerintahkan menteri untuk pergi dan mencari tahu penyebab dari kondisi si gajah.

Menteri  yang bijaksana pergi ke kandang gajah. Dia melihat sesekali gajah jantan kerajaan sangat sedih. Dia berpikir, “Gajah ini sepertinya tidak sakit. Tetapi aku pernah melihat kondisi ini sebelumnya, sama seperti pada manusia dan binatang. Kesedihan gajah ini mungkin disebabkan oleh kehilangan sahabat dekatnya.”

Kemudian menteri berkata kepada pengawal dan pengunjung, “Aku tidak menemukan penyakit. Ia terlihat amat sedih karena kehilangan seorang sahabat. Apakah kamu tahu jika gajah ini mempunyai persahabatan yang sangat dekat dengan sesuatu?”

Mereka memberi tahu menteri betapa gajah kerajaan dan anjing liar adalah teman baik. “Apa yang terjadi dengan anjing liar ini?” tanya menteri. “Ia telah dibawa pergi oleh seseorang yang tidak dikenal,” jawab mereka, “dan kami tidak mengetahui di mana dia sekarang.”

Kemudian menteri kembali menemui raja dan berkata “Raja, aku sangat senang mengatakan bahwa gajah Anda tidak sakit. Mungkin terdengarnya aneh, gajah itu menjadi sahabat baik anjing liar! Sejak anjing itu telah dibawa pergi, gajah Anda sangat sedih dan tidak merasa ingin makan, minum atau mandi. Ini adalah pendapatku.”

Raja berkata, “Persahabatan adalah satu hal yang paling indah dalam kehidupan. Menteriku, bagaimana kita bisa membawa kembali sahabat gajahku dan membuatnya bahagia lagi?”

“Raja,” jawab menteri “Aku menyarankan Anda membuat pengumuman resmi, barang siapa mempunyai anjing yang pernah tinggal di kandang gajah kerajaan, akan diampuni.”

Hal ini dilakukan raja, dan ketika warga desa itu mendengarnya, dia melepaskan anjing itu dari rumahnya. Anjing sangat bahagia dan lari secepat mungkin, kembali ke sahabat baiknya, gajah jantan kerajaan.

Gajah sangat senang, dia mengangkat sahabatnya dengan belalainya dan mendudukannya di atas kepalanya. Anjing yang bahagia itu mengibas-ibaskan ekornya, sedangkan mata gajah berbinar-binar gembira. Mereka berdua hidup bahagia selamanya.

Sementara itu, Raja sangat senang gajahnya telah kembali baik. Raja kagum dengan menterinya yang nampaknya mampu membaca pikiran seekor gajah. Jadi dia memberikan hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Bahkan ‘Musuh alami’ pun dapat menjadi sahabat baik.

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

LADYFACE (Pergaulan)


Pada suatu ketika, Raja Benares mempunyai seekor gajah jantan kerajaan yang baik, sabar dan jinak. Bersamaan dengan wataknya yang baik, dia juga memiliki wajah yang lemah-lembut. Sehingga dikenal dengan nama ‘Ladyface’.

Pada suatu malam, segerombolan pencuri mengadakan pertemuan tepat di depan kandang gajah. Di dalam kegelapan, mereka membicarakan tentang rencana mereka untuk merampok warga. Mereka membicarakan tentang pemukulan dan pembunuhan, serta menyombong bahwa mereka sudah tidak memiliki kebaikan jadi mereka tidak punya rasa kasihan terhadap korban mereka. Mereka menggunakan bahasa pasaran yang kasar untuk menakuti orang-orang dan untuk membuktikan betapa kuatnya mereka.

Karena malam itu sangat sunyi, Ladyface tidak melakukan apa pun tetapi hanya mendengarkan semua rencana jahat dan perkataan kejam yang kasar. ia mendengarkan dengan seksama dan, seperti yang dilakukan gajah-gajah, ia menggingat semuanya. Karena dilatih untuk patuh dan menghormati manusia, ia berpikir bahwa orang-orang ini juga harus dipatuhi dan dihormati, seperti guru-guru.

Setelah hal ini berlangsung dalam beberapa malam, Ladyface memutuskan bahwa hal yang benar untuk dilakukan adalah menjadi kasar dan kejam. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang bergaul dengan mereka yang sifat dasar pemikirannya rendah dan kasar. Tetapi hal ini dapat terjadi khususnya pada seorang lemah lembut yang berharap untuk menyenangkan orang lain.

‘Mahout’ adalah pangilan orang India terhadap pelatih spesial dan perawat terutama sekali seekor gajah. Mereka biasanya sangat dekat. Pada pagi dini hari, Mahout Ladyface datang untuk mengunjunginya seperti biasa. Gajah itu, Pikirannya dipenuhi dengan pembicaraan perampok semalam, tiba-tiba menyerang pelatihnya. ia mengangkatnya dengan belalai, meremasnya, dan menghempaskannya ke lantai, membunuhnya dalam waktu singkat. Kemudian, ia mengangkat dua orang pengunjung, bergantian, dan membunuhnya juga dengan ganas.

Kabar ini cepat menyebar ke seluruh kota bahwa Ladyface yang dikagumi telah berubah mendadak menjadi gila dan menjadi pembunuh manusia yang ditakuti. Orang-orang datang kepada raja untuk meminta bantuan.

Hal ini terjadi ketika raja mempunyai seorang menteri pintar yang dikenal dapat memahami binatang. Jadi raja memanggilnya dan memerintahkannya untuk pergi dan mencari tahu penyakit atau kondisi lain apa yang menyebabkan gajah kesukaannya berubah menjadi sangat gila.

Menteri itu adalah Bodhisatta – makhluk yang tercerahkan. Sesampainya di kandang gajah, dia berbicara lembut dengan kata yang menyejukan kepada Ladyface, dan membuatnya tenang. Dia memeriksa Ladyface dan mengetahui bahwa kesehatan fisik Ladyface dalam keadaan prima. Ketika dia berbicara ramah kepada Ladyface, dia memperhatikan bahwa gajah itu menggerakan telinganya dan memberi perhatian lebih. Hal ini hampir seperti ketika binatang malang telah kelaparan bunyi dari kata-kata yang lembut. Maka menteri mengetahui bahwa gajah ini pastinya telah mendengar kata-kata kasar atau melihat perbuatan kejam dari mereka yang ia salah nilai sebagai guru.

Dia bertanya kepada penjaga gajah, “Apakah kamu melihat siapa saja yang berkeliaran di kandang gajah, saat malam hari atau kapan pun?” “Ya, menteri,” jawab mereka, “Beberapa minggu terakhir sekelompok perampok mengadakan pertemuan di sini. Kami takut melakukan apa pun, karena mereka mempunyai karakter yang kejam. Ladyface dapat mendengar setiap perkataan mereka.”

Kemudian menteri kembali menemui raja. Dia berkata, “Raja, gajah kesayangan Anda, Ladyface, dalam keadaan sehat fisik. Aku menemukan bahwa karena mendengarkan perkataan kasar dan kejam dari para perampok selama bermalam-malam, ia sudah belajar menjadi kasar dan kejam. Pergaulan yang tidak baik sering mengarahkan kepada pikiran dan tindakan yang tidak baik.”

Raja bertanya, “Apa yang harus dilakukan?” Menteri berkata, “Baiklah Raja, sekarang kita harus membalik proses tersebut. Kita harus mengirim orang-orang bijak dan para bhikkhu, yang mempunyai pemikiran bijak, hanya untuk menghabiskan beberapa malam di luar kandang gajah. Di sana mereka harus berbicara tentang nilai-nilai kebajikan dan kesabaran, membangkitkan perasaan kasih sayang, cinta kasih, dan tidak menyakiti.”

Kemudian hal tersebut dilakukan. Selama beberapa malam, orang-orang bijaksana berbicara tentang nilai-nilai kebajikan. Mereka hanya menggunakan bahasa yang lembut baik dan sopan, untuk menciptakan kedamaian dan kenyamanan kepada setiap orang.

Setelah mendengar percakapan baik ini selama beberapa malam, Ladyface si gajah jantan bahkan menjadi lebih damai dan menyenangkan daripada sebelumnya!

Melihat perubahan total tersebut, menteri melaporkannya kepada raja, dengan berkata “Raja, Ladyface sekarang bahkan menjadi lebih tak berbahaya dan ramah daripada sebelumnya. Sekarang dia sama lembutnya seperti seekor domba!”

Raja berkata, “Hal yang sungguh menakjubkan bahwa seekor gajah gila yang kasar semacam itu dapat diubah dari bergaul dengan orang-orang bijaksana dan para bhikkhu.” Raja terkagum-kagum bahwa menterinya nampaknya mampu membaca pikiran seekor gajah. Sehingga ia memberikannya hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Seperti halnya perkataan kasar memengaruhi dengan kekejaman, begitu juga kata-kata baik menyembuhkan dengan tanpa melukai

Diterjemahkan oleh Novita Hianto, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

AIR MANDI KOTOR (Kebersihan)


Pada suatu ketika, di sebuah kerajaan di India, seekor kuda yang paling bagus dibawa ke sungai untuk dimandikan. Tukang kuda membawanya ke kolam dangkal yang sama dimana mereka selalu memandikannya.

Tetapi sesaat sebelum mereka tiba, seekor kuda kotor telah mandi pada tempat yang sama. Kuda tersebut telah ditangkap dari luar kota dan belum pernah mandi dengan bersih sepanjang hidupnya.

Ketika kuda kerajaan menghirup udara, seketika dia mengetahui bahwa kuda liar yang kotor telah dimandikan di sini dan mengotori airnya. Sehingga dia menjadi jijik dan menolak untuk dimandikan di tempat itu.

Tukang kuda berusaha sekuat tenaga agar kuda kerajaan masuk ke air, tetapi tidak berhasil. Jadi mereka pergi kepada raja dan mengeluh bahwa kuda jantan kerajaan yang terlatih baik tiba-tiba menjadi keras kepala dan tidak dapat diatur.

Hal ini terjadi pada saat raja mempunyai seorang menteri yang pandai dan dapat mengerti binatang. Jadi Raja memanggilnya dan berkata, “Tolong pergi dan lihat apa yang telah terjadi pada kuda nomor satuku. Cari tahu apakah dia sakit atau alasan apa yang membuat dia menolak dimandikan. Dari semua kudaku, dia adalah satu-satunya kuda yang memiliki kualitas tinggi dan dia tidak akan membiarkan dirinya masuk ke tempat kotor. Pasti ada sesuatu yang salah.”

Kemudian menteri pergi menuju ke tepi sungai kolam permandian secepatnya. Dia menemukan bahwa kuda agung tidak sakit dan dalam keadaan sehat. Dia juga memperhatikan bahwa kuda agung berusaha menahan nafas. Kemudian dia menghirup udara dan mencium sedikit bau tidak sedap. Memeriksa lebih lanjut, dia menemukan bahwa bau tersebut berasal dari air kotor di kolam mandi. Jadi dia berpikir bahwa kuda lain yang sangat kotor pasti telah dimandikan di sana, dan kuda raja terlalu mencintai kebersihan untuk mandi di dalam air yang kotor.

Menteri bertanya kepada tukang kuda, “Apakah hari ini ada kuda lain yang telah dimandikan di tempat ini?” “Ada,” jawab mereka, “Sebelum kami sampai, seekor kuda liar telah mandi di sini.” Menteri berkata kepada mereka, “Tukang kuda, ini adalah kuda kerajaan yang menyukai kebersihan. Dia tidak mau mandi di air kotor. Jadi hal yang harus dilakukan adalah membawanya mandi ke hulu sungai tempat dimana airnya segar dan bersih, dan mandikan ia di sana”

Mereka mengikuti intruksi menteri dan kuda kerajaan mau mandi di tempat yang baru.

Menteri kembali ke kerajaan dan menceritakan hal yang telah terjadi. Dia berkata, “Anda benar yang mulia, kuda yang sangat bagus mempunyai kualitas tinggi sehingga dia tidak mau masuk ke dalam kotoran!”

Raja terpesona bahwa menterinya nampaknya mampu membaca pikiran seekor kuda. Sehingga Raja memberikannya hadiah yang sesuai.

Pesan moral: Binatang pun bahkan menghargai kebersihan.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50