Ugly Duckling – Fenomena Pikiran


 

Hidup seakan-akan mendadak terhenti jika pikiran mulai bermain dalam bayang-bayang antara masa lalu yang telah terjadi dan masa depan yang belum pasti terjadi. Ketika itu bola dunia pun terasa berhenti berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari sebagai porosnya, lalu siang dan malam lewat begitu saja tanpa sempat Aku menyapanya.

Aku tak menyadari kapan tepatnya fenomena itu mulai menghantuiku, di mana masa laluku yang pahit seakan menghantarkanku menuju masa depan yang terasa hambar, dan itu semua memberikan ketakutan yang luar biasa di dalam benakku. Namun Aku tahu ketakutan itu hadir di saat dia mengisi hidupku, sesosok manusia bijak yang tak lekang dari ingatanku, Ugly Duckling. Begitulah sebutan mesra yang selalu ku kumandangkan untuk menyatakan dan mengungkapkan rasa sayangku kepadanya.

Continue reading

Advertisements

Ada apa dengan Zebra?


Ada 3 alasan mengapa kita harus belajar dari binatang yang bernama Zebra. Pertama, zebra adalah binatang yang disiplin dan teratur. Mereka dapat berbaris rapih dan antri tanpa harus saling menyodok serta gondok-gondokan selalu ingin berada di barisan terdepan.

Kedua, zebra punya tatakrama dan saling menghormati satu sama lain, terutama menghormati mereka yang lebih tua. Dalam baris-berbaris zebra mendahulukan yang lebih tua untuk baris di posisi paling depan sesuai dengan urutan umurnya.

Alasan Ketiga yang terakhir, zebra adalah binatang yang harmonis. Mereka hidup kelompok dan tidak pernah cekcok, cari makan bareng dan tidak pernah rebutan. Karena keharmonisan itulah banyak dari pemangsanya yang akhirnya terkecoh.

Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia? Sudah bisa seperti zebrakah?

Pelajaran: Bahkan binatang bisa memberikan contoh yang baik. Bagaimana dengan kita sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran???

Sekat-Sekat Hubungan



Oleh Selfy Parkit

Memiliki seorang teman yang baik adalah suatu berkah yang tak terkira, apalagi seorang teman spiritual yang dapat membawa kita ke kemajuan batin. Tetapi untuk dapat berteman dengan baik, sebelumnya kita harus bisa menembus sekat-sekat yang menghalangi kita dalam menciptakan suatu hubungan yang baik. Lalu apakah yang menyebabkan banyaknya sekat di dalam menjalin suatu hubungan? Di dalam hubungan masyarakat dan sosial, pernahkah Anda merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang-orang tertentu di kehidupan Anda??? Pastinya kebanyakan dari Kita yang berprinsip teguh pernah merasakan hal itu. Eit.. tapi yang berprinsip teguh yang mana dan dalam hal apa dulu??? Prinsip yang satu inilah yang berbahaya, yaitu berprinsip teguh bahwa pandangan dan pola pikir sendirilah yang paling benar dan yang lain salah besar. Lalu, karena yang satu itu tidak mau menerima pandangan kita, maka kita anggap orang itu sebagai lawan dan kita merasa tidak nyaman akan kehadirannya di lingkaran kehidupan kita.

Merasa benar sediri saja sudah menjadi sekat dalam hubungan pertemanan, apalagi ditambah berpikir bahwa yang lain itu salah. Dulu ketika pertama kali saya menjalin hubungan serius dengan seseorang, saya baru menyadari bahwa ternyata setiap manusia punya sekat yang dibuatnya sendiri, sekat-sekat dalam hal berhubungan. Awalnya saya belum mengerti mengapa ada manusia yang memiliki complicated relationship (hubungan yang ruwet) antar sesama. Padahal pada prinsip dan teorinya setiap masalah yang terjadi di antara sesama manusia pastinya dapat diselesaikan, maka otomatis setiap hubungan akan baik-baik saja. Tetapi mengapa begitu banyak manusia yang membenci dan tak mau berhubungan dengan sesamanya???  Saat itu orang yang pernah dekat sekali dengan saya ini mengatakan kepada saya kalau dia tidak menyukai teman saya yang juga merupakan guru spiritual saya, dengan alasan guru saya ini terlalu kaku dan berpandangan sempit. Satu hal lagi, orang yang saya sayang ini tidak suka dengan teman saya yang juga merupakan ketua kebaktian, dan saya masuk di bawah kepemimpinannya. Menurutnya sikap dan pemikiran mereka tidak sesuai dengan teori-teori dan prinsip-prinsip yang ada di kepalanya. Hasilnya, orang yang saya harapkan bisa mengenal semua teman-teman saya ini tidak mau mengenal kedua orang tadi dan merasa tidak nyaman kalau kami berada di dekat mereka. Memang mungkin benar adanya sifat-sifat, pandangan si guru spiritual dan cara kepemimpinan si ketua kebaktian tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan dan dimiliki. Tetapi pertanyaannya adalah apakah hal yang seharusnya itu? Pembenaran terkadang hanya ada di dalam pikiran masing-masing. Begitu pula pembenaran di dalam pemikiran pacar saya saat itu yang menganggap si guru spiritual dan ketua kebaktian tidak sesuai dengannya. Lalu, mengapa sekat dalam hubungan itu akhirnya terbentuk???

EGO Menjadi Sang Pembatas

EGO tiga huruf besar yang selalu membayangi kehidupan manusia. Mau bukti bagaimana sang EGO berperan?? Kisah ini dialami oleh guru spiritual saya sendiri yang tadi dikatakan selalu memegang prinsip, tetapi saat ini dia sudah berubah karena memang dia punya kesadaran atas prilakunya. Dulu dia sering bentrok dan membuat sekat hubungan yang cukup tebal dengan temannya yang juga sama-sama seorang guru spiritual. Temannya ini lebih mementingkan hal-hal praktis, materi, dan terkadang beliau berpandangan bahwa uang dan bisnis itu penting. Sedangkan guru spiritual saya lebih mementingkan hal-hal religius dan beranggapan bahwa nilai spiritual tidak seharusnya disamakan dengan bisnis dan uang. Otomatis segala tindakan mereka berdua selalu saja bertentangan. Saya yang saat itu masih remaja dan cukup hijau tak mau mencampuri urusan keduanya, otomatis saya tak punya masalah dengan keduanya dan bisa saja berhubungan dengan keduanya. Itulah enaknya, saya bisa jalan dengan guru saya, lalu beberapa menit kemudian bisa ngobrol-ngobrol dengan temannya itu. Setelah mengikuti keduanya, pada dasarnya apa yang mereka utarakan masing-masing ada benarnya, tak ada yang disalahkan dan masuk akal juga. Tetapi kenapa masing-masing dari mereka menganggap bahwa pemikiran satu sama lainnya salah. Mengapa si guru A menganggap si guru B salah dan sebaliknya??? Sedangkan saya yang berada di tengah-tengah, menerima informasi, pandangan dan pemikiran mereka dengan pikiran kosong  serta tidak memihak, menganggap hal itu biasa saja. Apa yang terjadi dengan si Guru A dan si Guru B? Mereka ternyata telah membangun sekat-sekat yang dibuatnya sendiri, karena masing-masing menganggap orang lain salah dan tidak sesuai dengan pemikirannya. Ego yang berperan dan menjadi pembatas di antara hubungan mereka dan setiap manusia.

Perlu Terbuka dan Saling Memahami

Satu obat bagi sang Ego untuk bisa mengenali jadi dirinya adalah memberikannya pengertian dan berusaha memahami. Kalau saja pacar saya saat itu mau membuka sedikit ruang untuk mengobrol dengan kedua orang yang dianggapnya tidak asik untuk berhubungan, pastinya ia akan lebih mengerti dan memahami. Karena setahu saya guru spiritual saya itu tidak seburuk yang dibayangkannya, walaupun dia agak sedikit memegang prinsip (keras dan kaku dengan prinsipnya), akan tetapi pada dasarnya dia punya kesadaran atas prilaku yang dibuatnya dan mau mengoreksi diri. Begitu juga halnya dengan ketua kebaktian saya, walaupun memang cara kepemimpinannya saat itu banyak menerima protes, tapi saya mengenal betul kalau wanita ini adalah seseorang yang mau menerima kritikan dan masukan, hanya saja perlu waktu untuk banyak belajar dalam mengubah cara kepemimpinannya. Sama pula dengan si kedua guru spiritual tadi, Kalau saja si kedua guru spiritual saling mau menanyakan kabar masing-masing dan mau membuka diri akan pemikiran dan pandangan masing-masing, serta berusaha memahami satu sama lain, tentunya pemikiran dan hubungan mereka akan lebih baik lagi karena masing-masing dapat melihat dari sisi pandang yang berbeda. Namun pada dasarnya Ego akan Harga Diri mengerem semua laju perbaikkan, dan menghentikan semua niatan baik yang muncul karena merasa harga dirinya terlalu mahal untuk mengakui bahwa prinsip dan pandangannya belum tentu benar adanya.

Lihatlah dan Kenali Lebih Dalam Mereka Itu Berubah

Jika dirasakan dengan jujur, diperhatikan lebih dalam, Pandangan, pikiran, prinsip, perasaan, kesadaran dan lain sebagainya selalu berubah-ubah. Seakan-akan terlihat seperti mesin yang sedang menjalankan proses, yaitu proses kesadaran, proses pemikiran, proses perasaan dan proses-proses lainnya. Kita selalu dekat dengannya, akan tetapi kita bodoh, kita seakan-akan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau pada dasarnya setiap pandangan, pemikiran, perasaan, kesadaran dan lain-lain itu selalu berubah. Kita memandang seseorang dengan apa yang mereka miliki dan terlihat nyata bagi kita saat itu. Kita tidak menyadari bahwa itu pun akan berubah. Namun pada dasarnya kita melihat ilusi yang diciptakan dari pikiran. Ya… ilusi-ilusi itu sudah berhasil baik dalam memainkan peranannya, dan sudah sukses dalam mengecohkan kebenaran serta banyak memberikan sekat-sekat di dalam kehidupan. Ilusi-ilusi yang bersumber dari kebodohan, kebencian dan keserakahan manusia dan makhluk di alam semesta.

Penakluk sang Ego

Untuk membuka diri, mengakui kesalahan dan saling meminta maaf adalah hal yang dirasakan sulit oleh sebagian orang yang merasa hal itu sulit. Perlu waktu bagi mereka untuk menaklukan sang Ego dan berdamai dengan harga dirinya. Tetapi ada satu hal yang sebenarnya tidak kita sadari, bawasanya sang Ego akan takluk dengan rasa kasihan dan kasih sayang. Merasakan penderitaan orang lain, dan merasakan kesamaan penderitaan yang kita alami akan memunculkan kasih sayang yang luar biasa, serta tidak tega untuk menyakiti ataupun memusuhi makhluk lain. “Semua makhluk hidup adalah sahabat penderitaan, yang rentan terhadap kesulitan.” Cobalah kita renungkan satu buah puisi di bawah ini :

Kita adalah satu

Kita adalah tetesan dari satu samudera.                                                                                                                      

Kita adalah ombak dari satu laut.

Kita adalah pohon dari satu rimba.

Kita adalah buah dari satu pohon.

Kita adalah daun dari satu cabang.

Kita adalah bunga dari satu kebun.

Kita adalah bintang dari satu langit.

Kita adalah cahaya dari satu mentari.

Kita adalah jari dari satu tangan.

Kita adalah anggota dari satu keluarga.

Dunia adalah satu keluarga.

Bumi adalah satu negeri.

(Sri Dhammananda 86)

Jika saja pikiran kasih sayang ini kita kembangkan setiap harinya, tentu saja segala pemikiran maupun pandangan yang berbeda dari orang lain tidak akan mengganggu dan membuat kita merasa tidak nyaman jika bersama dengan orang tersebut. Takkan ada ruang lagi bagi sang Ego untuk berkeliaran dan datang mengusik. Dengan begitu sekat-sekat dalam hubungan pertemanan secara otomatis akan mulai hancur satu persatu, karena kita merasa satu dengan mereka. Inilah keadaan yang disebut sebagai salah satu dari berkah yang sesungguhnya.

Daftar pustaka:

Dhammananda, Sri. “Be Happy – Mengatasi Takut dan Cemas Dari Akarnya dan Berbahagia Dalam Segala Situasi”, Yayasan Penerbit Karaniya: 2004

Retret 2 Hari Bersama Guru Si Cacing (Ajahn Brahm)


Oleh Selfy Parkit

Hati bahagia tiada terkira ketika menerima SMS bahwa saya adalah salah satu manusia dari sekian ribu manusia yang diterima oleh Yayasan Nirlaba Ehipassiko sebagai peserta retret bersama Ajahn Brahm selama 2 hari yang diselenggarakan pada tanggal 28 – 29 Maret 2010. Bagi saya ini adalah berkah, mengingat hanya ada 108 orang saja yang akan diterima sebagai peserta. Bayangkan, banyak sekali waiting list (daftar antrian) orang dari beberapa kota besar yang akhirnya tidak dapat merasakan kebahagiaan yang kami rasakan di retret tersebut.

Tidak semua orang dapat menjumpai guru yang satu ini, tidak semua orang juga yang mempunyai kesempatan belajar darinya. Sungguh saya merasa amat bersyukur.

Persiapan

Hari sabtu sehari sebelum hari H, saya ikut ke Wihara Mandalawangi Serang tempat diadakannya retret, bersama dengan panitia dari Yayasan Ehipassiko yaitu Kartika dan Selvi Tjungandi (yang akrab dipanggil dengan Tjung, karena kebetulan nama kita berdua ternyata mirip) guna untuk persiapan hari esok. Diantar oleh mobil keluarga Bpk. Riyanto (Salah satu umat Wihara Mandalawangi), kami pun akhirnya sampai di Serang menempuh kurang lebih dua jam perjalanan. Sesampainya di tempat, saya, Kartika dan Tjung dibantu oleh ci Mori (Umat yang aktif membantu di hampir setiap kegiatan Buddhis) turut membantu persiapan panitia Wihara Mandalawangi. Semua panitia sungguh-sungguh berusaha keras dalam mempersiapkan acara tersebut. mulai dari mempersiapkan sound system, penerangan, tempat puja bakti, tempat meditasi, atap tenda, ruang kuti dan tempat tidur para yogi beserta konsumsi selama 2 hari. Semua dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, walaupun terkadang sound system mati hidup karena gangguan tekhnis. Akan tetapi semua persiapan tersebut menjadi terasa indah karena dilakukan dengan keiklasan dan keteguhan hati.

Guru Si Cacing datang

Hari H-nya pun tiba, umat dan peserta dari daerah setempat atau pun dari luar kota berduyun-duyun berdatangan dan mendaftar ulang. Banyak peserta yang ternyata batal datang, tetapi dengan cepat tergantikan oleh peserta waiting list. Namun kepadatan peserta sungguh tidak mengurangi keasrian dan kenyamanan di Wihara Mandalawangi yang tempatnya begitu luas.

Guru si cacing (Ajahn Brahm) akhirnya datang. Setelah beliau sampai di Wihara, tak lama kemudian acara pengambilan Atthasila (8 sila)pun dimulai. Keramaian menyelimuti tempat Dhammasala (Tempat Puja Bakti) yang terletak di alam terbuka, dikelilingi oleh rindang pepohonan yang begitu asri, sejuk dan damai, “Bagaikan hutan Jetawana” kata MoM Handaka (Pendiri Yayasan Ehipassiko). Tetapi memang berada di sana sungguh membuat hati saya damai.

Sebelum memulai meditasi, Ajahn Brahm memberikan sedikit ceramah Dhamma dan menjelaskan peraturan meditasi kepada kami, diikuti oleh tanya jawab dari beberapa peserta meditasi, kemudian disusul dengan makan siang. Makan siang itu adalah hidangan terakhir kami pada hari itu, karena para peserta sudah diwajibkan untuk menjalani Atthasila (tidak makan di atas jam 12 siang).

Meditasi Berdamai dengan Batin

Retret meditasi yang saya ikuti kali ini tidak jauh berbeda dengan retret-retret yang pernah saya ikuti sebelumnya. Hanya saja yang membuat perbedaannya menjadi nyata adalah kita tidak bergulat ataupun berusaha melawan batin kita sediri. Tidak mati-matian melawan kantuk, bosan, malas, kesal dan lain sebagainya. Akan tetapi, berusaha berdamai dengan mereka, mengasihi, menyayangi, dan menerima mereka apa adanya. Seperti apa yang dikatakan oleh Ajahn Brahm, “Apa pun kesalahan yang kamu lakukan pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu.” Begitu juga dengan batin kita yang malas dan mudah mengantuk, kesal tak bisa berkonsentrasi, bosan — berpindah-pindah ke masa lalu dan masa yang akan datang, banyak berpikir dan berkeinginan yang macam-macam, kita tidak berusaha melawan ataupun menolaknya tetapi menerima mereka apa adanya. Biarlah rasa kantuk itu datang dan pergi dengan sendirinya, biarlah rasa bosan, malas, kesal itu datang dan pergi dengan sendirinya, yang kita lakukan hanya mengasihi dan membiarkan mereka apa adanya. Oleh karena itu tidak heran jika saat itu ada beberapa umat yang tidur dan beristirahat, karena para peserta memang diperbolehkan untuk tidur dan beristirahat jika merasa lelah atau mengantuk. Cara ini pun diapplikasikan Ajahn Brahm pada retret-retret yang diselenggarakannya di Wihara Bodhiyana tempatnya tinggal di Australia. Ajahn Brahm bercerita bawasanya pada hari pertama retret sampai hari ketiga, biasanya peserta kelihatan malas dan banyak yang tertidur. Akan tetapi, di hari-hari selanjutnya peserta menjadi rajin dengan sendirinya dan malah ada yang rela meninggalkan acara makan siangnya untuk tetap bermeditasi. Memang kelihatannya lebih santai dari meditasi yang sering saya ikuti, namun terus terang saya malah menjadi merasa bersemangat dan ingin terus bermeditasi, dan saya pun merasa lebih bahagia.

Santai dan Melepas

Ada salah satu umat yang bertanya kepada Ajahn Brahm, bagaimana kalau pada dasarnya kita adalah orang yang malas, apakah metode ini cocok atau tidak. Karena biasanya meditasi dengan aturan yang ketat mampu memaksakan para meditator yang malas mau tidak mau untuk bermeditasi. Tetapi hasilnya malah ketegangan yang didapat. Ajahn Brahm berkata, batin ini jika semakin dilawan dan dipaksakan hasilnya adalah si batin semakin menjadi-jadi dan memberontak. Kita mengantuk, dan merasa malas karena batin kita lelah dan tidak menyukai kegiatan yang kita lakukan saat itu. Pada saat begitu yang dapat kita lakukan adalah berusaha menerima dan melepas, menerima apa adanya dan tidak memaksakannya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Biarkanlah batin berproses secara alami. Beristirahatlah terlebih dahulu jika merasa lelah atau mengantuk, karena akan ada saatnya di mana batin menjadi lebih segar dan bersemangat, dan saat itulah waktu yang paling tepat bagi batin untuk bermeditasi.

Ada 4 (empat) hal yang dikatakan oleh Ajahn Brahm dan perlu diperhatikan serta diterapkan dalam bermeditasi. Empat hal tersebut adalah sumber kebahagiaan yang juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama adalah berdana, memberi dan tak mengharap kembali. Kita bermeditasi sama halnya seperti memberikan diri kita sepenuhnya untuk bermeditasi, tanpa mengharap apa pun hasilnya. Tidak mengharapkan pencerahan, Jhana, Kesaktian atau lain sebagainya. Kita melakukan meditasi secara ikhlas, memberikan waktu dan perhatian kita sepenuhnya saat pada itu.

Kedua, melepas (give it up or let it go). Bermeditasi berarti melepaskan, yaitu melepaskan pemikiran-pemikiran masa lalu dan masa depan, keluarga (suami, istri dan anak-anak di rumah), bisnis dan pekerjaan, sekolah, dan lain sebagainya. Berusaha melepaskan dengan ikhlas dan merasa damai karenanya.

Ketiga, Kebebasan (freedom), yaitu merasa bebas dan bahagia di mana pun berada serta apa pun adanya. Di dalam kehidupan sehari-hari ataupun ketika kita bermeditasi, di mana pun tempatnya kita harus berusaha bahagia (be happy wherever you are). Ajahn Brahm berkata bahwa orang yang merasa tidak bahagia di mana pun dia berada, sama halnya seperti orang yang tinggal di penjara. Jadi orang yang merasa tidak bahagia di tempat tertentu seperti orang yang tidak bebas dan dipenjara. Bahagia apa pun adanya, yaitu bahagia seperti ketika mengalami kantuk, malas dan bosan. Bahagia memiliki mereka, berdamai serta memberikan kasih dan sayang kepada mereka (kantuk, malas dan bosan dsb).

Keempat dan yang terakhir Ajahn Brahm menyebutnya ‘Pikiran Teflon’ (Teflon Mind), saya mengartikannya sebagai tidak melekat terhadap satu pandangan atau persepsi yang kita anggap benar, Open minded (pikiran terbuka). Dalam meditasi kita berfokus pada satu objek, namun jika objek lain datang kita menerimanya dengan senang hati dan tidak merasa bersalah ataupun kehilangan atas objek yang telah berlalu sebelumnya. Jika konsentrasi kita dalam meditasi tiba-tiba terusik oleh rasa kantuk, terimalah rasa kantuk dengan senang hati, dengan cinta dan kasih sayang, apa adanya tanpa penolakan ataupun rasa kesal. Seperti kita membuka pintu hati kita terhadap batin kita, apa pun kesalahannya, kita akan selalu menerima dan menyayanginya.

­Membuka Pintu Hati

Hari pertama retret itu diakhiri oleh Dhamma talk dari Ajahn Brahm yang sangat mencerahkan dan cukup menghibur. Walaupun kadang sound system harus mati ditengah jalan, namun tidak mengurangi inti dari Dhamma yang disampaikan.

Di hari terakhir para yogi masih tetap bersemangat dalam bermeditasi. Sampai ketika ceramah Dhamma dan tanya jawab sempat turun hujan lebat yang mengguyur tepat di atas tenda yang didirikan di tempat latihan kami. Tetapi semangat dari para yogi (meditator) dan senyum lebar Ajahn Brahm tidak sama sekali mengurangi kebahagiaan kami di sana. Tidak ada yang menggerutu atau mengeluh dan mencacimaki turunnya hujan, kami hanya tersenyum menerima sang hujan sebagaimana apa adanya dan membiarkannya masuk ke dalam pintu hati kami, selayaknya membukakan pintu untuk batin kami yang masih belum tercerahkan.

# Dipublish di Majalah Sinar Padumuttara Edisi 8, Dapatkan segera majalahnya di Wihara Padumuttara Tangerang.

BUTA


Tak ada yang ingin aku katakan lebih banyak lagi, karena pada dasarnya apa yang kusampaikan mungkin tak akan merubah keadaan. Mungkin kebingungan itu memang ada di dalam diri ini saja, hanya buatan pikiran. Tapi apa yang ingin aku sampaikan mungkin adalah gambaran rasa gelisah dari setiap orang yang pernah mengalaminya.

Aku belum suci, aku juga tidak sebijaksana orang-orang suci, aku masih si pejuang kebahagiaan dan masih berusaha untuk terbebas dari semua kekotoran batin. Aku masih berusaha untuk mengerti seperti apakah dunia dan kehidupan ini? Ibarat seseorang yang tahu akan sumber dari aliran sungai, namun tak tahu bagaimana caranya menghentikan sumber dari aliran air dari sungai tersebut, mungkin begitulah keadaan pikiran ini diibaratkan. Aku masih buta, butuh tuntunan dan pertolongan. Aku masih harus lebih banyak belajar.

PELAJARAN : Setiap manusia punya masalah yang sama ‘Buta’