Apa yang Membuat Anda Bahagia?


Oleh Selfy Parkit

Apa yang membuat Anda bahagia? Setiap orang memilih jawaban tersendiri dalam meraih kebahagiaannya. Suatu hari pada saat rapat mingguan di sekolah tempat saya bekerja, kepala sekolah saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada para guru dalam bahasa Inggris. Kurang lebih pertanyaan seperti ini “Hal apa yang membuat Anda bahagia?” Orang pertama yang menjawab pertanyaan ini dengan mantap menyebutkan bahwa pacarlah yang membuatnya bahagia. Maklum orang yang bersangkutan memang belum mempunyai pacar, sudah tentu jika saat ini dia sangat berharap agar dapat menemukan wanita yang mau jadi pacarnya, dan hal itulah yang akan membuatnya bahagia. Lalu sebagian besar dari para guru menjawab bahwa hal yang membuat mereka bahagia adalah bisa berkumpul dengan keluarga atau orang-orang yang dicintainya, seperti orang tua, anak, suami, dll. Tentunya jawaban ini memang umum diutarakan oleh setiap manusia, karena pada dasarnya manusia akan merasa nyaman jika dapat hidup dan berkumpul dengan orang yang mereka sukai dan cintai. Namun, jawaban tersebut tidaklah mutlak diutarakan oleh semua orang. Tidak selamanya keluarga sendiri menjadi prioritas dan membuat mereka bahagia. Ada kalanya berkumpul dengan orang lain membuat diri mereka merasa nyaman dan bahagia. Begitu juga dengan sebagian guru yang menjawab kalau temanlah yang membuatnya bahagia. Lalu hal apa yang membuat saya bahagia? Dari sekian banyak guru-guru yang ditanyakan, akhirnya tibalah giliran saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Awalnya saya tidak tahu hal apa yang benar-benar membuat saya bahagia, karena saya pikir semua jawaban dari guru-guru sebelumnya memanglah hal yang membuat saya juga bahagia. Akan tetapi, semua itu tidaklah selamanya benar, karena terkadang saya merasa tidak bahagia, walaupun saya sedang berkumpul dengan teman-teman atau keluarga saya. (Lagi pula kalau jawabannya sama nanti dikira ikut-ikutan J).

Perlu beberapa detik bagi saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sampai kemudian saya teringat akan sesuatu, dan serentak saya menjawab dalam bahasa Inggris, “I’ll be happy if I can sleep well” yang artinya “Saya akan bahagia, jika saya dapat tidur dengan nyenyak.” Memang jawabannya agak sembarang, sampai-sampai sebagian guru yang lain ada yang tertawa setelah mendengar hal tersebut. Si kepala sekolah pun mungkin sedikit bingung, dan menanyakan apakah saya pernah punya masalah susah tidur. Walaupun saya memang pernah punya masalah tidak bisa tidur nyenyak selama 3 bulan dan itu adalah saat-saat dimana saya tidak bahagia, namun semata-mata bukan itu alasan atas jawaban saya. Karena menurut saya orang yang pasti bahagia adalah orang yang bisa tidur dengan nyenyak. Entah dia punya atau belum punya pacar, miskin atau kaya, berjabatan tinggi atau rendah, berkeluarga atau tidak, jika dapat tidur nyenyak (tidak ada kegelisahan, ketakutan, dan kekhawatiran) saat itu pasti dia orang yang berbahagia. Karena orang yang tidak bahagia pasti tidak dapat tidur dengan nyenyak. Materi, keluarga, teman ataupun pacar tidak bisa menjamin seseorang untuk bahagia dan bisa tidur dengan nyenyak. Namun, perlu ditekankan bahwa bukan karena tidurlah kita akan bahagia (walaupun tidur memang salah satu kondisi dalam meraih kebahagiaan duniawi). Tetapi sebaliknya karena merasa bahagialah kita bisa tidur dengan nyenyak. Dengan kata lain, tidur nyenyak adalah efek dari kebahagiaan. Lalu sebenarnya apa yang dapat membuat kita bahagia dan dapat tidur dengan nyenyak? Ada satu cerita yang saya pernah dengar dari seorang penceramah. Cerita ini tentang orang kaya yang memiliki segalanya. Ia memiliki harta yang berlimpah. Bisnis dan perusahaannya pun tersebar di mana-mana. Ia juga memiliki keluarga, istri yang cantik dan setia beserta anak-anaknya yang lucu-lucu. Temannya ada di mana-mana, begitu juga dengan pembantu rumahnya yang siap melayaninya kapan pun. Namun, karena pekerjaannya yang luar biasa sibuk, membuat ia harus bekerja keras siang dan malam. Tak pelik pikirannya hampir setiap hari gelisah memikirkan untung dan rugi. Terlebih lagi rasa takutnya, baik itu takut tertipu dalam bisnisnya ataupun takut akan kehilangan harta, istri, anak dan semua yang dimilikinya. Ketakutan dan kegelisahan inilah yang membuatnya tidak pernah bisa tidur nyenyak, dan sudah pasti saat itu dia tidak bahagia. Kemudian suatu malam, karena tak bisa tidur ia berjalan-jalan dengan mobil terbarunya. Saat itu ketika mobilnya melintasi sekumpulan pangkalan becak di pinggir jalan, ia melihat seorang tukang becak yang sedang tidur dengan lelap di atas becaknya. Melihat wajah si tukang becak itu, si orang kaya tadi berkata di dalam hatinya, ‘Dia yang mungkin tidak punya segalanya dapat tidur dengan nyenyak di atas becaknya, sedangkan Aku yang punya segalanya, bahkan ranjang mewah dan empukku tidak dapat membuatku tertidur dengan nyenyak. Betapa bahagianya tukang becak tersebut.’ pikir si orang kaya.

Apakah harta kekayaan, kedudukan, teman, keluarga, atau pacarkah yang dapat membuat kita bahagia? Rata-rata setiap orang menjawab bahwa mereka akan bahagia jika mereka seperti ini, mendapatkan ini, melakukan ini, menyelesaikan ini, mempunyai ini dan lain sebagainya. Tidak heran memang, terkadang kita senang mencari kebahagiaan di luar dari lingkungan dan diri kita sendiri. Kita lupa akan satu hal kalau kebahagiaan itu datangnya dari diri sendiri. Mau punya pacar atau tidak, mau berkumpul dengan keluarga, teman, atau orang yang dicintai, bahkan melakukan kegiatan yang biasanya kita senangi seperti berbelanja misalnya. Hal itu semua tidak menjamin kebahagiaan kita selama diri kita resah, gelisah, takut dan memang merasa tidak bahagia seperti si orang kaya tadi. Lalu apakah kebahagiaan itu hanya dapat kita raih jika keinginan kita sudah terlaksana atau terpenuhi? Apakah kita harus menunggu datangnya sesuatu atau mendapakan sesuatu, baru kita akan bahagia? Contohnya saja seorang guru yang menganggap hal yang membuatnya bahagia adalah mendapatkan seorang pacar. Mengapa harus menunggu mendapatkan pacar baru bisa bahagia? Lalu apakah ada jaminan jika ia mendapatkan pacar saat itu ia akan merasa bahagia? Bagaimana jika seandainya ia mendapatkan pacar, tetapi secara terpaksa karena dijodohkan oleh orang tuanya misalnya, dan ia tidak suka dengan pacarnya itu? Jika saat ini kita bisa bahagia, mengapa saat ini juga kita tidak menikmati kebahagiaan itu!? Sesungguhnya, berkumpul dengan orang yang kita cintai dan senangi pun bukan jaminan untuk bahagia, sama halnya dengan memiliki harta kekayaan dan lain sebagainya. Karena sekali lagi kebahagiaan ada di dalam diri kita sendiri saat ini, bukan yang lalu ataupun dari yang akan datang. Kebahagiaan hadir tidur pun menjadi nyenyak.

“Pavivekarasaŋ pitvā rasaŋ upasamassa ca niddaro hoti nippāpo Dhammapītirasaŋ pibaŋ” –Dhammapada BAB XV:205 (15:10)

“Ia yang menikmati hidup dalam kesendirian dan merasakan ketenangan karena tiada noda, terbebas dari kesedihan, terbebas dari kejahatan. Ia mereguk kebahagiaan hidup dalam Dhamma”

Pernah dimuat di Majalah Sinar Padumuttara edisi 5

Thanks to My MoM,Ce2k&Friends

Advertisements

Bodoh


Sekitar sebulan yang lalu aku mengangkat telepon dari orang aneh. Lalu tiba-tiba saja orang yang sok kenal dan sok akrab itu mengucapkan kata-kata kotor yang tak pantas aku kemukakan di tulisan ini. Spontan saja karena kaget aku langsung membalas ucapannya dengan kata yang kasar juga, sebutlah satu kata itu ‘Bodoh’. Tapi apa yang terjadi aku malah tampak begitu bodoh karena mengucapkan kata-kata bodoh itu kepada orang bodoh. Lalu siapa yang sebenarnya bodoh? Siapa lagi kalau bukan aku sendiri.

Ada cerita yang menceritakan tentang sebatang pohon cemara yang dicaci maki oleh bunga mawar, tapi si pohon cemara tetap diam dan bertahan selama musim dingin. Sedangkan si mawar, ia mati dan tak dapat bertahan. Inti ceritanya adalah orang yang berkata kasar atau mencaci maki bagaikan orang yang menegadah dan membuang ludahnya ke atas, maka Kata-kata dan caci makinya akan kembali ke dirinya sendiri.

Pelajaran: Jika tidak mau disebut bodoh, maka sabar dan tenanglah kalau sedang dicaci maki.

BUTA


Tak ada yang ingin aku katakan lebih banyak lagi, karena pada dasarnya apa yang kusampaikan mungkin tak akan merubah keadaan. Mungkin kebingungan itu memang ada di dalam diri ini saja, hanya buatan pikiran. Tapi apa yang ingin aku sampaikan mungkin adalah gambaran rasa gelisah dari setiap orang yang pernah mengalaminya.

Aku belum suci, aku juga tidak sebijaksana orang-orang suci, aku masih si pejuang kebahagiaan dan masih berusaha untuk terbebas dari semua kekotoran batin. Aku masih berusaha untuk mengerti seperti apakah dunia dan kehidupan ini? Ibarat seseorang yang tahu akan sumber dari aliran sungai, namun tak tahu bagaimana caranya menghentikan sumber dari aliran air dari sungai tersebut, mungkin begitulah keadaan pikiran ini diibaratkan. Aku masih buta, butuh tuntunan dan pertolongan. Aku masih harus lebih banyak belajar.

PELAJARAN : Setiap manusia punya masalah yang sama ‘Buta’

DIBUANG SAYANG


Beberapa waktu lalu saya sempat terpilih dari sekian ribu orang sebagai peserta BFBA (Bikin Film Bareng Artis) yang diselenggarakan oleh LA Light Indie Movie, yaitu salah satu program yang merupakan wadah untuk belajar dan berkreasi di bidang perfilman Indonesia. Khusus program BFBA peserta terpilih akan membuat film pendek bareng artis dan Program ini akan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

Saya senang sekali ketika mendengar berita terpilihnya saya, apalagi ketika mereka mengundang peserta untuk menghadiri workshop di Yogyakarta yang tentunya di sana akan hadir orang-orang hebat. Namun sayangnya di akhir keputusan, saya harus merelakan kesempatan besar itu, dan saya harus mengundurkan diri karena waktu belajarnya bentrok dengan jam kerja saya, apalagi saya juga berencana untuk melanjutkan kuliah saya. Walaupun awalnya tak terlalu mengharap untuk terpilih, tetapi ketika mendapatkannya kita menjadi sulit untuk melepas.

Pelajaran : Mendapat lebih mudah dari melepas.

Kalimat Sakti


Suatu hari temanku mengatakan sebuah kalimat sakti, “Kalau tidak begitu dunia ini tidak menarik”. Lalu saktinya di mana? Kalimatnya terdengar biasa saja. Tapi coba renungkan dan aplikasikan pada setiap kasus di dalam kehidupan kita.

Misalnya, tiba-tiba saja kita harus bertemu dengan orang yang menyebalkan dan terus mengganggu, atau kita harus menghadapi sms-sms iseng yang isi pesannya tidak layak dibaca, mungkin juga kita harus menghadapi bos kita yang suka marah. Tentunya hal-hal tersebut bisa saja membuat kita merasa lelah dan tak nyaman. Ingin menyingkirkan orang-orang tersebut seketika dari hadapan kita. Tapi apakah dengan begitu kita merasa hidup kita akan tenang dan bahagia selamanya? Tentu tidak, karena kita akan terus menghadapi hal serupa di dalam hidup kita. Tapi coba aplikasikan kalimat sakti di atas! “Kalau tidak ada mereka dunia ini tidak menarik”. Karena ada merekalah hidup kita menjadi warna-warni.

Pelajaran: kebahagiaan tergantung bagaimana kita memandangnya

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Agustus 2009

Jujur atau Bohong


Teman saya meminta saya untuk menghadiri sebuah seminar seharga + 2,5 juta gratis. Tentu saja hal itu memaksa saya untuk berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapat ijin tidak masuk kerja pada hari jum’at, karena seminar itu diadakan selama 3 hari yaitu jumat sampai minggu.

Banyak dari teman saya yang mengusulkan untuk ijin saja dengan alasan urusan keluarga ataupun sakit, karena dengan begitu ijin sudah tentu dapat. Saya yang tidak biasa berbohong merasa tidak enak, namun usulan itu hampir saja memengaruhi saya. Untungnya ada seorang teman yang meyakinkan saya bahwa tak ada salahnya berkata jujur, lagi pula tujuan dari seminar tersebut untuk pengembangan diri. Seketika keyakinan muncul di dalam diri saya, bergegas saya menemui bos saya dan menyatakan maksud hati. Memang hasilnya saya tidak mendapatkan ijin secara resmi dari pihak sekolah, tapi bos saya malah mendukung saya untuk menghadiri seminar tersebut.

Pesan moral : Kejujuran membawa hasil yang tak terduga.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Juli 2009

Komunikasi


Rasanya tak menyangka kalau suatu saat di dalam kehidupan kita yang tenang dan biasa, tahu-tahu kedatangan berita kalau ternyata kita memiliki saudara tiri di luar sana, yang kita sendiri belum pernah mengenal ataupun bertemu dengannya. Reaksi pertama kali yang mungkin terjadi adalah kaget dan tak percaya kalau hal itu bisa saja terjadi.

Anehnya walaupun saudara tiri/sekandung, karena lama tidak pernah bertemu, maka otomatis seperti orang asing yang baru saja kenal dan merasa tidak akrab. Di balik itu semua status/label menjadi tidak penting lagi rupanya. Bayangkan saja, dengan orang lain yang  bukan saudara sendiri kita malah bisa lebih akrab melebihi saudara sekandung. Tetapi hubungan kita dengan saudara sendiri, Jangankan akrab, kita mungkin malah sering berantem. Memang setiap keakraban suatu hubungan didasari oleh komunikasi yang baik. Tanpa adanya komunikasi yang baik, sering bertemu pun menjadi tak berarti lagi.

Pesan : Komunikasi yang baik dasar keharmonisan hubungan.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Juni 2009