Batagor


by Selfy Parkit

Batagor-Bandung

Apakah anda tahu nama makanan yang satu ini? Namanya Batagor alias Bakso Tahu Goreng. Makannya dengan disiram bumbu saus kacang di atasnya, rasanya hmmm… Kriuk-kriuk renyah. Bagi masyarakat Sunda makanan tersebut tentunya sudah tidak asing lagi. Ya Batagor aslinya berasal dari masyarakat Sunda, tepatnya ditemukan pada tahun 1980an di kota Bandung. Banyak sekali jenis Batagor yang terkenal di kota Bandung, namun saat ini sudah banyak disesuaikan ke dalam resep cita rasa masyarakat sunda. Tetapi kita tidak akan berbicara lebih jauh lagi mengenai Batagor, apalagi mengupasnya secara detail dan mendalam. Melainkan ada satu kisah kehidupan yang berhubungan dengan Batagor yang mungkin saja dapat membuat anda menyadari bahwa betapa anda terkadang terlalu sibuk terhadap diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain? Seberapa besarkah anda memperdulikan diri anda dibanding anda memperdulikan orang lain? Terlebih lagi orang tua anda? Semoga cerita di bawah ini mampu membuka pintu hati anda saat ini. Continue reading

Advertisements

Ayahku


Pada suatu pagi, seperti biasa aku menuju kamar mandi dan bergegas mandi. Setelah menutup pintu kamar mandi, tak disangka ada seekor anak kodok melompat-lompat di dalam. “Ah…” aku menjerit seketika. Ayahku yang saat itu berada di ruang tamu dengan secepat kilat menghampiriku dan menanyakan apakah gerangan yang terjadi. Dengan tergesah-gesah Aku berseru, “Ada kodok, ada kodok…  di kamar mandi!” Lalu Ayahku dengan gagah berani masuk ke dalam kamar mandi, dan ditangkapnya anak kodok itu dengan tangannya.

Kodok itu pun berhasil diamankan dan dijauhkan dari pandanganku. Aku yang saat itu masih merasa kegelian akhirnya melanjutkan niatku untuk segera mandi dan berpikir bahwa tak ada satu pun pahlawan tampan dan gagah berani yang mau menyelamatkanku dari seekor kodok, kecuali ayahku tercinta. Walau kadang galak dan menjengkelkan, tetapi hanya dialah satu-satunya orang yang peduli akan kebahagiaanku.

Pelajaran: Bersyukurlah atas orangtua yang kita miliki di kehidupan kita saat ini. #

PANGERAN KECIL TANPA AYAH (Kekuatan Kejujuran)


Suatu ketika, Raja Benares pergi piknik di dalam hutan. Keindahan bunga-bunga, pohon-pohon dan buah-buahan membuatnya sangat bahagia. Sambil menikmati keindahan itu, ia perlahan-lahan masuk lebih dalam dan lebih dalam ke dalam hutan. Tidak lama kemudian, ia menjadi terpisah dari rombongannya dan menyadari bahwa dia seorang diri saja.

Lalu Raja mendengar suara merdu dari seorang wanita muda. Wanita muda itu sedang bernyanyi sambil mengumpulkan kayu bakar. Agar tidak merasa takut karena seorang diri di dalam hutan, Raja mengikuti bunyi dari suara yang merdu itu. Ketika Raja tiba-tiba muncul di hadapan si pelantun lagu, Raja melihat seorang wanita cantik yang cukup muda, dan segera jatuh cinta kepadanya. Mereka menjadi sangat bersahabat, dan Raja menjadi ayah dari anak wanita pengumpul kayu bakar.

Kemudian, Raja menjelaskan kenapa ia bisa tersesat di dalam hutan dan meyakinkan wanita itu kalau dia memang benar-benar Raja Benares. Wanita itu memberitahukan arah kepada Raja untuk dapat kembali ke istana. Raja memberikan cincin capnya yang berharga kepada si wanita muda itu dan berkata, “Jika kau melahirkan bayi perempuan, jual cincin ini dan gunakan uangnya untuk membesarkan anak itu dengan baik. Jika anak kita seorang laki-laki, bawa ia menghadapku bersama dengan cincin ini sebagai tanda pengenal.” Setelah berkata, Raja berangkat menuju Benares.

Ketika waktunya tiba, wanita pengumpul kayu bakar melahirkan seorang bayi laki-laki. Sebagai wanita sederhana yang pemalu, ia takut membawa anaknya ke istana yang megah di Benares, jadi ia menyimpan cincin cap raja.

Dalam beberapa tahun, anaknya tumbuh menjadi seorang anak laki-laki. Ketika ia bermain dengan anak-anak lainnya di desa, mereka mengejek dan menganiayanya, bahkan memulai perkelahian dengannya. Itu karena ibunya tidak menikah maka anak-anak lain mengganggunya. Mereka berteriak kepadanya “Tanpa ayah! Tanpa ayah! Tanpa Ayah! Namamu seharusnya Tanpa ayah!”

Hal ini tentu membuat si anak merasa malu, terluka dan sedih. Kadang-kadang ia berlari pulang menemui ibunya sambil menangis. Suatu hari ia memberitahukan ibunya bagaimana anak-anak lain memanggilnya dengan sebutan “Tanpa ayah! Tanpa ayah! Namamu seharusnya Tanpa ayah!” Lalu ibunya berkata, “Jangan malu anakku. Kau bukan hanya seorang anak biasa. Ayahmu adalah Raja Benares.”

Anak laki-laki itu sangat terkejut. Ia bertanya kepada ibunya, “Apakah ibu punya buktinya?” Jadi ibunya memberitahukan kepadanya mengenai cincin cap yang diberikan ayahnya, dan jika bayi ibu seorang laki-laki, dia harus membawanya ke Benares bersamaan dengan cincin itu sebagai bukti. Anak laki-laki itu berkata, “Kalau begitu, ayo pergi!” Karena kejadian itu, ibunya menyetujui permintaan anaknya dan hari berikutnya mereka berangkat ke Benares.

Ketika mereka sampai di istana raja, penjaga gerbang memberitahu raja bahwa wanita pengumpul kayu bakar anak laki-lakinya ingin bertemu dengan raja. Mereka menuju ruang pertemuan istana, dimana di sana dipenuhi oleh menteri-menteri dan penasihat-penasihat raja. Perempuan itu mengingatkan raja tentang hari-hari bersama mereka di hutan. Akhirnya si Perempuan berkata, “Yang Mulia Baginda, ini adalah anak laki-lakimu.”

Raja malu di depan semua ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir di istananya. Jadi, walaupun ia tahu bahwa perempuan itu berbicara yang sebenarnya. Raja berkata, “Dia bukan anakku!” Kemudian ibu muda yang penuh kasih itu menunjukan cincin cap sebagai bukti. Sekali lagi raja merasa malu dan memungkiri kebenaran, berkata “Ini bukan cincinku!”

Lalu wanita yang malang itu berpikir kepada dirinya sendiri, “Aku tidak punya saksi ataupun bukti untuk membuktikan perkataanku. Aku hanya punya keyakinanku di dalam kekuatan kejujuran.” Jadi ia berkata kepada Raja, “Jika aku lemparkan anak laki-laki ini ke udara, jika ia benar adalah anakmu, ia akan tetap berada di atas udara tanpa jatuh. Jika ia bukan anakmu, ia akan jatuh ke lantai dan mati.”

Tiba-tiba, perempuan itu mengambil kaki anak laki-lakinya dan meleparnya ke udara. Seketika itu juga, anak laki-laki itu duduk dengan kaki bersila, menggantung di tengah-tengah udara tanpa jatuh. Setiap orang heran, tidak dapat berkata apa-apa. Dengan tetap berada di udara, anak laki-laki itu berkata kepada Raja, “Tuanku, aku benar-benar seorang anak laki-laki yang dilahirkan untukmu. Kau merawat banyak orang yang tidak punya hubungan darah denganmu. Kau bahkan memelihara gajah-gajah, kuda-kuda dan binatang lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Tetapi kau tidak berpikir untuk memelihara dan membesarkanku, anakmu sendiri. Tolong rawat aku dan ibuku.”

Mendengar ini, harga diri raja kembali. Ia merasa rendah hati oleh kebenaran dari kata-kata yang luar biasa anak laki-laki tersebut. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, “Datanglah padaku anak laki-lakiku dan aku akan merawat mu dengan baik.”

Kagum dengan keajaiban itu, semua orang di dalam istana menjulurkan tangannya dan meminta anak laki-laki yang melayang di udara itu untuk turun kepadanya. Tetapi anak itu langsung turun dari tengah-tengah udara menuju lengan ayahnya. Dengan anaknya yang duduk di pangkuan, raja mengumumkan bahwa ia akan menjadi putra mahkota dan ibunya akan menjadi ratu nomor satu.

Dengan demikian, raja dan seluruh isi istananya belajar tentang kekuatan dari kejujuran. Benares dikenal sebagai tempat keadilan yang jujur. Ketika raja meninggal. Putra mahkota yang telah tumbuh besar ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kelahiran yang bagaimanapun juga semuanya berhak dihormati. Jadi ia menobatkan dirinya sendiri dengan nama  “Raja Tanpa ayah”. Ia melanjutkan memerintah kerajaan dengan cara yang murah hati dan berbudi.

Pesan moral : Kebenaran selalu lebih kuat dari pada kebohongan.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50