Surga 33 (BAGIAN 3. JASA KEBAJIKAN)


Raja Sakka kembali dengan kemenangan ke kerajaannya di alam Surga 33. Di sebelahnya, berdiri rumah megah milik istrinya yang pertama, tumimbal lahir[1] Good-doer. Di luar rumah megah itu ada taman milik istrinya yang kedua, tumimbal lahir Beauty. Dan ada juga kolam surgawi milik istrinya yang ketiga, tumimbal lahir Happy.

Akan tetapi, Well-born telah meninggal dan terlahir kembali sebagai seekor bangau kecil di dalam hutan. Karena dewa Sakka merindukannya, ia menemuinya dan membawanya ke alam Surga 33 untuk singgah. Ia menunjukkan kepadanya rumah yang megah, taman dan kolam surgawi milik dari ketiga istrinya. Ia berkata kepadanya bahwa, dengan melakukan perbuatan yang baik, ketiga istri lainnya telah memperoleh jasa kebajikan. Jasa kebajikan ini telah memberikan mereka kebahagiaan, baik dalam kehidupan mereka sebelumnya dan pada kelahiran-kelahiran mereka.

Continue reading

Advertisements

Words change your life


Dalam hidup ini sebuah kata bahkan sangat berarti..
Dunia ini hidup melalui kata-kata. Kedamaian tercipta juga berkat kata-kata.
Perang pun dimulai karena kata-kata..
Tahukah, bahwa Sepenggal kata-kata mampu memberikan inspirasi dan motivasi di dalam hidup kita?
Mengingat bahwa kata-kata sangat memengaruhi kehidupan kita, ada baiknya kita merangkai sendiri kata-kata indah yg mampu memotivasi hidup kita.. Memberikan inspirasi dan semangat hidup untuk terus maju dan berkembang..

For example (contohnya):
Here are My Motivation Words This Month…
Mengembangkan sifat kedermawan..
Memiliki moralitas yg baik..
Mulai berlatih untuk melepaskan hal-hal yg tidak bermanfaat..
Mengembangkan kebijaksanaan..
Memiliki Daya upaya yg baik dalam melakukan hal yg bermanfaat bagi diri sendiri dan makhluk lain..
Mengembangkan dan memupuk Kesabaran..
Berlatih untuk selalu Jujur..
Memiliki Tekad yg kuat untuk mewujudkan apa yg sdh dicita2kan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang.
Menebarkan Cinta kasih dan Kasih sayang tanpa batas ke seluruh Dunia, alam semesta dan semua makhluk yg hidup di dalamnya..
Melatih dan mengembangkan keseimbangan di dalam Batin..
Sebagai kata2 tambahan dan penghias kehidupan..
SELALU.. Cantik/Tampan, Rendah Hati, Lemah Lembut, Baik Hati, Baik Budi..
Perhatian terhadap orang lain..
Mengambil keputusan dgn jelas, tepat dan pintar..
SOPAN, berbudi pekerti halus, dan berbakti kepada orangtua..
MEMILIKI kemauan untuk selalu belajar, ketenangan, Kebulatan tekad, semangat, kesabaran, dan belas kasih..
CATATAN..
Jangan pernah sekali pun anda merendahkan diri sendiri dan makhluk lain..
Menghargai kehidupan…
MULAILAH Pagi hari dengan perenungan..
SELALU Bersyukur..
Apa yg harus saya lakukan semoga saya lakukan dengan baik untuk diri sendiri dan orang di sekeliling saya. Begitu juga dengan pikiran dan ucapan saya semoga selalu didasari oleh Cinta dan Kasih Sayang…

Semoga Anda pun dapat menemukan kata-kata inspirasi motivasi bagi Hidup Anda..

KUDA PERKASA SI MAHA TAHU (Keberanian)


Pada suatu ketika, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, di India sebelah utara. Ia memiliki seekor kuda perkasa yang lahir di wilayah Sindh, lembah sungai Indus, sebelah barat India. Kuda ini adalah Makhluk yang Tercerahkan.

Selain berukuran besar dan kuat, ia sangat pandai dan bijaksana. Ketika ia masih muda, orang-orang menyadari bahwa ia kelihatannya selalu tahu apa keinginan penunggangnya sebelum diberi perintah. Maka ia disebut si Maha Tahu.

Ia dianggap sebagai kuda kerajaan yang paling perkasa, dan diberikan yang terbaik untuk semua kebutuhannya. Kandang kudanya dihias dan selalu bersih dan indah. Kuda-kuda biasanya setia kepada tuan mereka. Si Maha Tahu sangat setia dan tahu berterima kasih atas begitu baiknya raja merawatnya. Dari semua kuda-kuda istana, si Maha Tahu juga yang paling berani. Maka raja menghargai dan mempercayainya.

Kemudian, tujuh raja dari kerajaan tetangga bersatu untuk melawan Raja Brahmadatta. Setiap raja membawa empat pasukan hebat – pasukan gajah dan kuda, kereta perang dan barisan prajurit. Bersama-sama ketujuh raja dengan semua pasukan mereka, mengepung kota Benares.

Raja Brahmadatta menggumpulkan para menteri dan penasehatnya untuk membuat rencana-rencana untuk mempertahankan kerajaan. Mereka menasehatinya, “Jangan menyerah. Kita harus melawan untuk melindungi kekuasaan tertinggi kita. Tetapi, Anda seharusnya tidak mengorbankan orang-orang istana pada permulaannya. Tapi kirimlah pejuang dari semua ksatria untuk mewakili Anda di medan perang. Jika ia kalah, maka Andalah yang kemudian harus pergi.”

Maka raja memangil pejuang tersebut dan bertanya, “Dapatkah Anda menjadi pemenang melawan tujuh raja-raja tersebut?” Si Ksatria menjawab, “Jika Anda mengijinkan aku untuk mengendarai si Maha Tahu kuda perkasa yang paling berani dan paling bijaksana, hanya demikian aku dapat memenangkan pertarungan.” Raja setuju dan berkata, “Kemenanganku tergantung pada kau dan si Maha Tahu, untuk menyelamatkan negara ini dari mara bahaya. Bawalah apa pun yang engkau butuhkan.”

Ksatria pejuang pergi ke kandang kuda istana. Ia memerintahkan si Maha Tahu diberi makan yang baik dan diberi pakaian pelindung senjata dengan semua kondisi terbaik. Lalu ia membungkuk dengan hormat dan naik ke pelana kuda yang indah.

Si Maha Tahu mengetahui apa yang terjadi. Ia berpikir, “Ketujuh raja ini telah datang untuk menyerang negara dan rajaku yang telah memberi makan, merawat dan mempercayaiku. Tidak hanya tujuh raja, tapi juga pasukan mereka yang besar dan kuat mengancam rajaku dan semuanya di Benares. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Tapi aku juga tidak akan memperbolehkan ksatria pejuang membunuh para raja tersebut. Karena aku juga akan terlibat dalam perbuatan yang merugikan dari mengambil kehidupan pihak lain, dalam rangka memenangkan sebuah kemenangan biasa. Malahan, aku akan mengajarkan sebuah cara baru. Aku akan menangkap semua tujuh raja itu tanpa membunuh seorang pun. Itu akan menjadi kemenangkan besar sejati!”

Lalu si Maha Tahu berbicara ke penunggangnya, “Tuan ksatria, mari kita memenangkan pertempuran dengan sebuah cara baru, tanpa memusnahkan kehidupan. Anda hanya harus menangkap setiap raja satu per satu dan tetap berada di punggungku. Biarkan aku menemukan pelajaran sejati melalui banyak pasukan. Perhatikan aku ketika Anda menunggang dan aku akan memperlihatkan kepadamu keberanian yang melampaui cara lama, cara membunuh!”

Ketika ia berbicara tentang ‘sebuah cara baru’ dan ‘pelajaran sejati’ dan ‘keberanian yang melampaui apa pun’, ia seperti kuda agung yang lebih besar daripada kehidupan. Ia mengangkat dirinya dengan anggun dengan kaki belakangnya yang kuat dan melihat ke bawah ke semua pasukan yang mengepung kota. Semua mata terpana oleh kekuatan yang satu ini. Bumi bergetar ketika kaki depannya kembali ke tanah dan ia menyerang ke tengah-tengah empat pasukan dari raja pertama. Ia sepertinya memiliki kecepatan cahaya, kekuatan seratus gajah, dan keyakinan agung dari beberapa alam semesta.

Gajah-gajah dapat mengingat tidak ada satu kuda pun seperti ini, dan demikian pasukan gajah mundur ketakutan. Kuda-kuda tahu bahwa saudara mereka adalah jagoan paling ulung diantara mereka semua, dan demikian pasukan kuda dan pasukan kereta perang berdiri kaku dan membungkuk hormat ketika Makhluk hebat tersebut lewat dan barisan tentara berpencar seperti lalat sebelum datangnya angin kencang.

Raja pertama tidak tahu apa yang telah terjadi, sebelum ia dengan mudah ditangkap dan dibawa ke kota Benares. Dan juga dengan raja kedua, ketiga, keempat, dan kelima.

Dengan cara yang sama raja keenam tertangkap. Tetapi salah satu pengawal setianya melompat dari persembunyian dan menikam pedangnya dalam sekali di sebelah Maha Tahu yang berani. Dengan darah mengucur dari lukanya, ia membawa ksatria pejuang dan menangkap raja keenam kembali ke kota.

Ketika ksatria melihat luka parah tersebut, ia tiba-tiba menjadi takut untuk mengendarai si Maha Tahu yang telah lemah untuk melawan raja ketujuh. Maka ia mulai memakaikan baju baja ke kuda lain yang perkasa, yang juga sebesar si Maha Tahu.

Melihat hal ini, walaupun sangat menderita karena luka yang mematikan tersebut, si Maha Tahu berpikir, “Si ksatria pejuang ini telah kehilangan keberaniannya dengan sangat cepat. Ia tidak memahami sifat sejati dari kekuataanku – pengetahuan bahwa kedamaian sejati hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang damai. Ia berusaha mengalahkan raja ketujuh dan pasukan-pasukannya dengan cara biasa, mengendarai seekor kuda biasa.

“Setelah mengambil langkah pertama untuk tidak membunuh makhluk hidup, aku tidak boleh berhenti setengah jalan. Usaha luhurku untuk mengajarkan sebuah cara baru akan lenyap seperti menggambar garis di air!”

Kuda perkasa yang Maha Tahu berkata kepada ksatria pejuang. “Tuan ksatria, raja ketujuh dan pasukannya adalah yang paling hebat dari semuanya. Mengendarai seekor kuda biasa, walaupun Anda membunuh seribu orang dan binatang, Anda akan kalah. Aku kuda perkasa suku Sindh, dikenal sebagai si Maha Tahu, hanya aku yang dapat mengalahkan mereka tanpa melukai siapa pun, dan menangkap raja ke tujuh hidup-hidup!”

Ksatria pejuang memperoleh kembali keberaniannya. Kuda perkasa berjuang menahan rasa sakitnya. Ketika darah terus mengalir, ia menyerbu dan menyerang empat pasukan dan ksatria menangkap raja terakhir dari ketujuh raja yang suka berperang. Lagi-lagi semua jalannya terbebas dari kekerasan. Melihat tujuh raja mereka dalam penangkapan, para pasukan meletakan senjata mereka dan meminta untuk berdamai.

Menyadari Maha Tahu kuda perkasa tidak dapat bertahan hidup sampai malam, Raja Brahmadatta pergi menemuinya. Ia telah memeliharanya sejak dari kecil, sehingga ia menyayanginya. Ketika raja melihat bahwa ia sekarat, matanya penuh dengan air mata.

Maha Tahu berkata, “Rajaku, aku telah mengabdi dengan setia kepadamu. Dan aku telah melampaui dan menunjukkan sebuah cara baru. Sekarang Anda harus mengabulkan permintaan terakhirku. Anda harus tidak membunuh ketujuh raja ini, walaupun mereka telah berbuat salah kepadamu. Karena, sebuah kemenangan yang menumpakan darah menaburkan benih-benih dari perang berikutnya. Maafkan penyerbuan mereka kepadamu, biarkan mereka kembali ke kerajaan mereka dan semoga Anda semua hidup damai mulai dari sekarang.

“Hadiah apa pun yang Anda ingin berikan kepada hamba, berikanlah kepada ksatria pejuang. Lakukan hanya perbuatan baik, bermurah hatilah, jungjung tinggi kebenaran dan tidak membunuh makhluk hidup. Memerintah dengan adil dan penuh belas kasih.”

Kemudian ia menutup mata dan menghembus nafas terakhir. Raja menangis dan semua berduka atas kepergiannya. Dengan rasa hormat yang tinggi, mereka membakar tubuh si Maha Tahu kuda perkasa – Makhluk yang Tercerahkan.

Raja Brahmadatta membawa tujuh raja kepadanya. Mereka juga menghormati kuda perkasa tersebut, yang telah mengalahkan para pasukan mereka tanpa menumpahkan satu darah pun, kecuali darahnya sendiri. Dalam memorinya mereka berdamai dan tidak pernah lagi tujuh raja dan Brahmadatta berperang satu sama lain.

Pesan moral : Kedamaian sejati hanya dapat dimenangkan oleh cara-cara yang damai.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

PANGERAN GOODSPEAKER (PEMBICARA YANG BAIK) DAN SILUMAN AIR


(Bagian 1. Tumimbal Lahir Seorang Bodhisatwa)

Pada suatu waktu, ada seorang raja yang sangat berbudi. Ia memiliki seorang ratu yang cantik yang telah melahirkan seorang bayi yang mungil. Hal ini membuat raja sangat bahagia. Raja memutuskan untuk memberikan anak laki-lakinya ini sebuah nama yang mungkin dapat membantunya di kehidupan nanti. Untuk itu raja memanggilnya Pangeran Goodspeaker (pembicara yang baik).

Pangeran itu bukanlah bayi biasa pada umumnya. Ini bukanlah kehidupan ataupun kelahirannya yang pertama. Jutaan tahun sebelumnya, ia sudah menjadi seorang pengikut dari ajaran ‘Buddha’, seseorang yang tercerahkan yang sudah lama dilupakan. Ia sudah bertekad dengan sepenuh hatinya untuk menjadi seorang Buddha seperti guru tercintanya.

Ia dilahirkan kembali di banyak kehidupan, terkadang dilahirkan sebagai binatang-binatang yang malang, kadang terlahir sebagai dewa-dewa yang berumur panjang dan terkadang sebagai seorang manusia. Ia selalu berusaha belajar dari kesalahan-kesalahannya dan mengembangkan 10 paramita. Dengan begitu dapat menyucikan pikirannya dan membersihkan tiga akar sebab-sebab dari kejahatan—kemelekatan, kemarahan dan pandangan salah (tentang adanya “aku”) (dari diri yang terpisah). Dengan menggunakan kesempurnaan itu, suatu hari ia akan dapat menggantikan kekotoran batin dengan tiga kemurnian—ketidakmelekatan, cinta kasih dan kebijaksanaan.

Makhluk hebat ini telah menjadi pengikut yang rendah hati dari seorang Buddha yang sudah dilupakan. Tujuannya adalah untuk mencapai penerangan yang sama dari seorang Buddha-penemu dari kebenaran yang sempurna. Jadi orang-orang menyebutnya “Bodhisattwa”, yang artinya “Makhluk yang tercerahkan.” Tak satu pun yang benar-benar tahu tentang milyaran kehidupan yang dialami oleh pahlawan yang hebat ini. Tetapi akhirnya kisah-kisah telah diceritakan—termasuk kisah yang satu ini yaitu tentang seorang pangeran yang dipanggil dengan sebutan Goodspeaker. Setelah banyak kelahiran kembali, dia menjadi seorang Buddha yang diingat dan dicintai di seluruh dunia saat ini.

(Bagian 2. Ajaran Dari Para Dewa)

Pada suatu waktu, Ratu melahirkan anak laki-laki lainnya yang diberi nama Pangeran Bulan. Singkat cerita, ketika kedua anak laki-laki tersebut mulai berjalan, ibu mereka tiba-tiba sakit keras dan meninggal.

Untuk membantu menjaga anak-anaknya yang senang bermain, raja mencari seorang putri untuk dijadikan ratu barunya. Dalam beberapa tahun, ratu ini melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, dia diberi nama Pangeran Matahari. Sejak itu, raja sangat bahagia, ia ingin menyenangkan ratu dan memberikan hadiah karena telah membesarkan ketiga orang anaknya. Untuk itu raja berjanji untuk mengabulkan satu permintaannya. Ratu berterima kasih dan berkata “Terima kasih Rajaku, saya akan menggunakan permintaan saya di masa depan.”

Seiring dengan berjalannya waktu, ketiga pangeran tumbuh menjadi pemuda yang hebat. Ratu melihat bahwa Pangeran Goodspeaker adalah pangeran yang cerdas dan pengertian. Ratu berpikir, “Jika kedua pangeran tertua ini masih berada di istana, putraku Pangeran Matahari tidak akan punya kesempatan untuk menjadi seorang raja. Oleh karena itu, aku harus melakukan sesuatu untuk menjadikan putraku raja selanjutnya.”

Suatu hari, ketika raja dalam suasana hati yang baik, ratu mendekatinya dengan penuh rasa hormat dan mengingatkan raja tentang janjinya akan sebuah permintaan. Sang Raja sangat gembira dan berkata, “Mintalah apa pun yang kau inginkan!”, Sang Ratu berkata, “Oh suamiku dan Rajaku, kabulkanlah setelah masa hidupmu berakhir, jadikan anakku Pangeran Matahari raja selanjutnya.”

Raja terkejut dengan permintaan ratu. Dia menjadi marah dan berkata, “Kedua anakku yang lebih tua sama cermelangnya seperti bintang-bintang. Bagaimana bisa aku memberikan kerajaan ini kepada anak laki-lakiku yang ketiga? Semua orang akan menyalahkanku. Hal itu tidak dapat dilakukan!” Ratu tetap diam.

Sebahagia-bahagianya Raja, sekarang ia menjadi seperti tidak bahagia. Ia takut dan dipenuhi oleh keraguan. Ia curiga ratu mungkin akan membunuh anak pertama dan anak keduanya dengan beberapa cara jahat. Ia memutuskan bahwa ia harus memastikan keselamatan anak-anaknya.

Diam-diam, raja memanggil Pangeran Goodspeaker dan Pangerang Bulan untuk menghadap. Raja mengatakan kepada mereka tentang keinginan ratu yang membahayakan. Dengan perasaan sedih, raja mengatakan bahwa satu-satunya hal aman yang harus mereka lakukan adalah meninggalkan kerajaan. Mereka harus kembali hanya setelah ayah mereka meninggal dan mengambil tempat yang menjadi hak mereka memerintah kerajaan. Kedua pangeran yang patuh itu mengikuti perintah ayahnya dan bersiap-siap untuk meninggalkan kerajaan.

Dalam beberapa hari, mereka sudah siap pergi. Mereka merasa sedih mengucapkan selamat tinggal kepada ayah dan teman-teman mereka, serta meninggalkan istana. Di perjalanan mereka menuju kebun kerajaan, mereka menemui Pangeran Matahari. Pangeran Matahari selalu sayang dan ramah kepada kedua kakak tirinya. Ia sedih ketika mendengar kedua kakak tirinya akan pergi untuk waktu yang sangat lama. Untuk itu, ia memutuskan akan pergi juga meninggalkan kerajaan. Ketiga pangeran yang bersahabat itu berangkat bersama-sama.

Beberapa bulan perjalanan, mereka sampai di sebuah hutan negeri Himalaya. Mereka sangat lelah dan duduk di bawah pohon. Kakak tertuanya Pangeran Goodspeaker berkata kepada saudaranya yang paling muda Pangeran Matahari, “Tolong turun ke danau terdekat di bawah sana dan isi beberapa daun teratai dengan air. Bawalah kesini,  jadi kita semua bisa minum.”

Mereka tidak tahu kalau danau biru tua yang indah itu dikuasai oleh siluman air! Ia diperbolehkan oleh raja siluman untuk memakan makhluk apapun yang ia bisa yakinkan masuk ke dalam air. Namun ada juga satu kondisi dimana ia tidak dapat memakan siapa pun yang tahu jawaban dari sebuah pertanyaan, “Apa ajaran dari para dewa?”

Ketika Pangeran Matahari sampai di tepi danau, karena merasa haus, kotor dan lelah, ia langsung masuk ke dalam air tanpa menyelidiki terlebih dahulu. Secara tiba-tiba, siluman air keluar dari dalam air dan menangkapnya. Lalu siluman air menanyainya, “Apa ajaran dari para dewa?” Pangeran Matahari menjawab, “Aku mengetahui jawabannya, matahari dan bulan adalah ajaran dari para dewa.” “Kau tidak tahu ajaran dari para dewa, untuk itu kau menjadi milikku!” kata siluman air. Kemudian ia menarik Pangeran Matahari kedalam air dan memenjarakannya di dalam gua.

Menyadari Pangeran Matahari telah pergi lama dan belum kembali, Pangeran Goodspeaker meminta saudara keduanya, Pangeran Bulan untuk pergi turun ke danau dan membawa air dengan danau teratai. Ketika Pangeran Bulan sampai di sana, ia juga langsung masuk ke dalam air tanpa memeriksa terlebih dahulu. Sekali lagi, siluman air muncul ke permukaan menangkapnya dan menanyainya, “Apa ajaran dari para dewa?” Pangeran Bulan berkata, “Aku tahu jawabannya, 4 arah – Utara, Timur, Selatan dan Barat – ini adalah ajaran dari para dewa.” “Kau tidak tahu ajaran dari para dewa, untuk itu kau menjadi milikku!” Sahut si Siluman air. Kemudian ia memenjarakan Pangeran Bulan di gua bawah air, tempat yang sama dengan Pangeran Matahari.

Ketika kedua saudara laki-lakinya tidak kembali, Pangeran Goodspeaker mulai merasa khawatir bahwa mereka mungkin dalam bahaya. Jadi ia pergi sendiri ke danau biru tua yang indah itu. Karena Pangeran Goodspeaker adalah seorang yang bijaksana dan hati-hati, ia tidak secara langsung masuk ke dalam air. Malahan, ia menyelidiki dan melihat bahwa ada 2 pasang jejak kaki menuju ke dalam danau, tetapi tidak ada jejak kaki yang menandakan keluar dari air! Untuk melindungi dirinya, ia mengeluarkan pedang, busur dan panahnya siap digunakan. Ia mulai berjalan mengelilingi danau.

Melihat bahwa pangeran ini tidak pergi menuju ke dalam danau. Si siluman menampakan dirinya dengan menyamar sebagai orang desa yang sederhana. Siluman yang sedang menyamar itu berkata kepadanya, “Temanku, kamu terlihat lelah dan kotor dari perjalanan yang panjang. Kenapa kamu tidak masuk ke dalam air dan mandi, minum, dan juga makan beberapa akar teratai?”

Mengingat jejak-jejak kaki yang satu arah, Pangeran Goodspeaker berkata, “Kamu pasti adalah salah satu jenis siluman yang menyamar sebagai manusia! Apa yang telah kamu lakukan terhadap saudara-saudara ku?” Merasa terkejut karena dikenali dengan sangat cepat, siluman air kembali ke wujud buas sebenarnya. Ia berkata kepada pangeran yang bijaksana itu, “Atas hakku, aku sudah menangkap kedua saudara laki-laki mu.

Pangeran bertanya, “Untuk alasan apa?” “Untuk segera memakan mereka!” Si siluman air menjawab, “Aku mendapatkan ijin dari Rajaku untuk memakan semua yang masuk ke dalam air dan tidak mengetahui ajaran dari para dewa. Jika siapa pun tahu ajaran dari para dewa, aku tidak diperbolehkan memakannya.”

Pangeran bertanya, “Kenapa kau ingin tahu hal ini? Apa keuntungannya bagi siluman seperti mu, mengetahui ajaran dari para dewa?” Siluman air menjawab, “Aku tahu bahwa pasti ada beberapa keuntungan untuk diriku.” “Kalau begitu aku akan memberitahu kau apa yang dewa ajarkan,” kata Pangeran Goodspeaker, “Tetapi aku punya masalah. Lihat diriku, aku dipenuhi oleh debu dan kotor karena melakukan perjalanan. Aku tidak dapat berbicara ajaran-ajaran bijaksana dalam keadaan seperti ini.”

Sejak saat itu, siluman air menyadari bahwa pangeran ini benar-benar bijaksana. Untuk itu dia memandikan dan menyegarkannya. Ia memberikannya air untuk diminum dari daun teratai dan akar teratai yang lembut untuk dimakan. Ia menyediakan tempat duduk yang nyaman untuknya, dihiasi dengan bunga-bunga liar yang indah. Setelah meletakkan pedang, busur dan panah disisinya, Yang Tercerahkan duduk diatas tempat duduk yang dihiasi itu. Siluman yang buas itu duduk di atas kakinya, seperti seorang murid yang sedang mendengarkan seorang guru yang dihormati.

Pangeran Goodspeaker berkata, “Ini adalah ajaran dari para dewa :

Kau seharusnya malu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah

Kau seharusnya takut melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah

Kau seharusnya selalu melakukan perbuatan-perbuatan berfaedah yang membawa kebahagiaan bagi makhluk lain dan menolong umat manusia

Sehingga kau akan berkilauan oleh cahaya dari dalam ketenangan dan kedamaian.”

Siluman air gembira dengan jawaban ini dan berkata “Pangeran yang berfaedah, kau sudah secara lengkap memuaskan pertanyaanku. Kau telah membuat ku sangat bahagia, aku akan mengembalikan satu dari dua saudara lelakimu. Yang mana yang kamu pilih?”

Pangeran Goodspeaker berkata, “Lepaskan saudaraku yang termuda, Pangeran Matahari.” Mendegar ini siluman menjawab, “Tuanku, pangeran yang bijaksana, kau mengetahui ajaran dari para dewa tetapi kau tidak mempraktikkannya!” Pangeran menjawab, “Kenapa kau berkata demikian?” Siluman itu berkata, “Karena kau membiarkan saudaramu yang lebih tua mati dan menyelamatkan yang lebih muda. Kau tidak menghormati yang tua!”

Si Pangeran lalu berkata, “Oh siluman, aku tahu ajaran dari para dewa dan aku mempraktikannya. Kami tiga pangeran datang ke hutan ini karena saudara yang paling muda. Ibunya meminta kerajaan ayah kami untuknya. Karena itulah, ayah kami mengirim kami ke sini untuk melindungi kami. Pangeran yang termuda, Pangeran Matahari ikut serta dengan kami karena persahabatan. Tetapi jika kami kembali ke istana tanpa dirinya dan berkata dia dimakan oleh siluman air yang ingin tahu ajaran dari para dewa, siapa yang akan mempercayai kami? Mereka akan berpikir kami membunuhnya karena ia adalah sebab dari ancaman keselamatan kami. Ini akan membawa rasa malu bagi kami dan ketidakbahagiaan kerajaan. Takut akan hasil yang buruk, aku beritahukan lagi kepada mu untuk melepaskan Pangeran Matahari.”

Siluman air sangat senang dengan jawaban ini, lalu ia berkata, “Perbuatan yang sangat baik, sangat baik tuanku. Kau tahu ajaran para dewa yang sebenarnya dan kau benar-benar mempraktikan ajaran benar tersebut. Aku akan dengan sangat senang mengembalikan kedua suadara-saudaramu!” Setelah mengatakan hal itu, ia masuk ke dalam danau dan membawa kedua pangeran kembali ke pesisir. Keduanya basah kuyup, tetapi tidak terluka.

Kemudian, Bodhisatta memberikan lagi nasehat yang bermanfaat kepada siluman air. Ia berkata, “Oh siluman air, teman baruku, kau pasti telah melakukan banyak perbuatan tidak berfaedah di kehidupanmu yang sebelumnya, untuk itu kau terlahir sebagai siluman pemakan daging dan jika kau lanjutkan hal ini, kau akan terperangkap di dalam sebuah keadaan yang mengerikan bahkan di kehidupan mu yang akan datang. Karena perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah menghasilkan rasa malu, takut dan kelahiran kembali yang tidak menyenangkan. Tetapi, perbuatan yang berfaedah menghasilkan rasa harga diri, kedamaian dan kelahiran kembali yang menyenangkan. Oleh karena itu, mulai sekarang, akan lebih baik untuk mu melakukan perbuatan-perbuatan berfaedah, daripada perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah.” Hal ini mengubah si Siluman dari jalannya yang lama, dan para pangeran bersama-sama hidup bahagia di bawah perlindungan siluman air.

Suatu hari, datang kabar bahwa raja telah meninggal. Untuk itu, ketiga pangeran dan teman mereka si Siluman air kembali ke ibu kota. Pangeran Goodspeaker dinobatkan menjadi raja. Pangeran Bulan menjadi kepala menteri dan Pangeran Matahari menjadi komandan pasukan. Siluman air dihadiahkan tempat yang aman untuk tinggal dimana ia diberi makan dengan baik, dirawat dan dihibur selama sisa hidupnya. Dengan cara ini, mereka semua memperoleh pikiran yang berfaedah, yang menuntun mereka terlahir kembali di alam surga.

Pesan moral: Tindakan tidak berfaedah/bermanfaat membawa rasa malu dan takut. Tindakan berfaedah membawa rasa harga diri dan kedamaian.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

CATATAN : Nama Pangeran Goodspeaker dalam bahasa Pali adalah Pangeran Mahisāsa