KUDA PERKASA SI MAHA TAHU (Keberanian)


Pada suatu ketika, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, di India sebelah utara. Ia memiliki seekor kuda perkasa yang lahir di wilayah Sindh, lembah sungai Indus, sebelah barat India. Kuda ini adalah Makhluk yang Tercerahkan.

Selain berukuran besar dan kuat, ia sangat pandai dan bijaksana. Ketika ia masih muda, orang-orang menyadari bahwa ia kelihatannya selalu tahu apa keinginan penunggangnya sebelum diberi perintah. Maka ia disebut si Maha Tahu.

Ia dianggap sebagai kuda kerajaan yang paling perkasa, dan diberikan yang terbaik untuk semua kebutuhannya. Kandang kudanya dihias dan selalu bersih dan indah. Kuda-kuda biasanya setia kepada tuan mereka. Si Maha Tahu sangat setia dan tahu berterima kasih atas begitu baiknya raja merawatnya. Dari semua kuda-kuda istana, si Maha Tahu juga yang paling berani. Maka raja menghargai dan mempercayainya.

Kemudian, tujuh raja dari kerajaan tetangga bersatu untuk melawan Raja Brahmadatta. Setiap raja membawa empat pasukan hebat – pasukan gajah dan kuda, kereta perang dan barisan prajurit. Bersama-sama ketujuh raja dengan semua pasukan mereka, mengepung kota Benares.

Raja Brahmadatta menggumpulkan para menteri dan penasehatnya untuk membuat rencana-rencana untuk mempertahankan kerajaan. Mereka menasehatinya, “Jangan menyerah. Kita harus melawan untuk melindungi kekuasaan tertinggi kita. Tetapi, Anda seharusnya tidak mengorbankan orang-orang istana pada permulaannya. Tapi kirimlah pejuang dari semua ksatria untuk mewakili Anda di medan perang. Jika ia kalah, maka Andalah yang kemudian harus pergi.”

Maka raja memangil pejuang tersebut dan bertanya, “Dapatkah Anda menjadi pemenang melawan tujuh raja-raja tersebut?” Si Ksatria menjawab, “Jika Anda mengijinkan aku untuk mengendarai si Maha Tahu kuda perkasa yang paling berani dan paling bijaksana, hanya demikian aku dapat memenangkan pertarungan.” Raja setuju dan berkata, “Kemenanganku tergantung pada kau dan si Maha Tahu, untuk menyelamatkan negara ini dari mara bahaya. Bawalah apa pun yang engkau butuhkan.”

Ksatria pejuang pergi ke kandang kuda istana. Ia memerintahkan si Maha Tahu diberi makan yang baik dan diberi pakaian pelindung senjata dengan semua kondisi terbaik. Lalu ia membungkuk dengan hormat dan naik ke pelana kuda yang indah.

Si Maha Tahu mengetahui apa yang terjadi. Ia berpikir, “Ketujuh raja ini telah datang untuk menyerang negara dan rajaku yang telah memberi makan, merawat dan mempercayaiku. Tidak hanya tujuh raja, tapi juga pasukan mereka yang besar dan kuat mengancam rajaku dan semuanya di Benares. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Tapi aku juga tidak akan memperbolehkan ksatria pejuang membunuh para raja tersebut. Karena aku juga akan terlibat dalam perbuatan yang merugikan dari mengambil kehidupan pihak lain, dalam rangka memenangkan sebuah kemenangan biasa. Malahan, aku akan mengajarkan sebuah cara baru. Aku akan menangkap semua tujuh raja itu tanpa membunuh seorang pun. Itu akan menjadi kemenangkan besar sejati!”

Lalu si Maha Tahu berbicara ke penunggangnya, “Tuan ksatria, mari kita memenangkan pertempuran dengan sebuah cara baru, tanpa memusnahkan kehidupan. Anda hanya harus menangkap setiap raja satu per satu dan tetap berada di punggungku. Biarkan aku menemukan pelajaran sejati melalui banyak pasukan. Perhatikan aku ketika Anda menunggang dan aku akan memperlihatkan kepadamu keberanian yang melampaui cara lama, cara membunuh!”

Ketika ia berbicara tentang ‘sebuah cara baru’ dan ‘pelajaran sejati’ dan ‘keberanian yang melampaui apa pun’, ia seperti kuda agung yang lebih besar daripada kehidupan. Ia mengangkat dirinya dengan anggun dengan kaki belakangnya yang kuat dan melihat ke bawah ke semua pasukan yang mengepung kota. Semua mata terpana oleh kekuatan yang satu ini. Bumi bergetar ketika kaki depannya kembali ke tanah dan ia menyerang ke tengah-tengah empat pasukan dari raja pertama. Ia sepertinya memiliki kecepatan cahaya, kekuatan seratus gajah, dan keyakinan agung dari beberapa alam semesta.

Gajah-gajah dapat mengingat tidak ada satu kuda pun seperti ini, dan demikian pasukan gajah mundur ketakutan. Kuda-kuda tahu bahwa saudara mereka adalah jagoan paling ulung diantara mereka semua, dan demikian pasukan kuda dan pasukan kereta perang berdiri kaku dan membungkuk hormat ketika Makhluk hebat tersebut lewat dan barisan tentara berpencar seperti lalat sebelum datangnya angin kencang.

Raja pertama tidak tahu apa yang telah terjadi, sebelum ia dengan mudah ditangkap dan dibawa ke kota Benares. Dan juga dengan raja kedua, ketiga, keempat, dan kelima.

Dengan cara yang sama raja keenam tertangkap. Tetapi salah satu pengawal setianya melompat dari persembunyian dan menikam pedangnya dalam sekali di sebelah Maha Tahu yang berani. Dengan darah mengucur dari lukanya, ia membawa ksatria pejuang dan menangkap raja keenam kembali ke kota.

Ketika ksatria melihat luka parah tersebut, ia tiba-tiba menjadi takut untuk mengendarai si Maha Tahu yang telah lemah untuk melawan raja ketujuh. Maka ia mulai memakaikan baju baja ke kuda lain yang perkasa, yang juga sebesar si Maha Tahu.

Melihat hal ini, walaupun sangat menderita karena luka yang mematikan tersebut, si Maha Tahu berpikir, “Si ksatria pejuang ini telah kehilangan keberaniannya dengan sangat cepat. Ia tidak memahami sifat sejati dari kekuataanku – pengetahuan bahwa kedamaian sejati hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang damai. Ia berusaha mengalahkan raja ketujuh dan pasukan-pasukannya dengan cara biasa, mengendarai seekor kuda biasa.

“Setelah mengambil langkah pertama untuk tidak membunuh makhluk hidup, aku tidak boleh berhenti setengah jalan. Usaha luhurku untuk mengajarkan sebuah cara baru akan lenyap seperti menggambar garis di air!”

Kuda perkasa yang Maha Tahu berkata kepada ksatria pejuang. “Tuan ksatria, raja ketujuh dan pasukannya adalah yang paling hebat dari semuanya. Mengendarai seekor kuda biasa, walaupun Anda membunuh seribu orang dan binatang, Anda akan kalah. Aku kuda perkasa suku Sindh, dikenal sebagai si Maha Tahu, hanya aku yang dapat mengalahkan mereka tanpa melukai siapa pun, dan menangkap raja ke tujuh hidup-hidup!”

Ksatria pejuang memperoleh kembali keberaniannya. Kuda perkasa berjuang menahan rasa sakitnya. Ketika darah terus mengalir, ia menyerbu dan menyerang empat pasukan dan ksatria menangkap raja terakhir dari ketujuh raja yang suka berperang. Lagi-lagi semua jalannya terbebas dari kekerasan. Melihat tujuh raja mereka dalam penangkapan, para pasukan meletakan senjata mereka dan meminta untuk berdamai.

Menyadari Maha Tahu kuda perkasa tidak dapat bertahan hidup sampai malam, Raja Brahmadatta pergi menemuinya. Ia telah memeliharanya sejak dari kecil, sehingga ia menyayanginya. Ketika raja melihat bahwa ia sekarat, matanya penuh dengan air mata.

Maha Tahu berkata, “Rajaku, aku telah mengabdi dengan setia kepadamu. Dan aku telah melampaui dan menunjukkan sebuah cara baru. Sekarang Anda harus mengabulkan permintaan terakhirku. Anda harus tidak membunuh ketujuh raja ini, walaupun mereka telah berbuat salah kepadamu. Karena, sebuah kemenangan yang menumpakan darah menaburkan benih-benih dari perang berikutnya. Maafkan penyerbuan mereka kepadamu, biarkan mereka kembali ke kerajaan mereka dan semoga Anda semua hidup damai mulai dari sekarang.

“Hadiah apa pun yang Anda ingin berikan kepada hamba, berikanlah kepada ksatria pejuang. Lakukan hanya perbuatan baik, bermurah hatilah, jungjung tinggi kebenaran dan tidak membunuh makhluk hidup. Memerintah dengan adil dan penuh belas kasih.”

Kemudian ia menutup mata dan menghembus nafas terakhir. Raja menangis dan semua berduka atas kepergiannya. Dengan rasa hormat yang tinggi, mereka membakar tubuh si Maha Tahu kuda perkasa – Makhluk yang Tercerahkan.

Raja Brahmadatta membawa tujuh raja kepadanya. Mereka juga menghormati kuda perkasa tersebut, yang telah mengalahkan para pasukan mereka tanpa menumpahkan satu darah pun, kecuali darahnya sendiri. Dalam memorinya mereka berdamai dan tidak pernah lagi tujuh raja dan Brahmadatta berperang satu sama lain.

Pesan moral : Kedamaian sejati hanya dapat dimenangkan oleh cara-cara yang damai.

Diterjemahkan oleh Heny, editor Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s