MAKE UP YOUR MIND


By U’un Arifien (Kwee Ping Oen)

img_6196

Make up Your Mind @selfyparkitHappyLife

In this life we are obliged to choose every single time we have to decide on what we focus on, think about what and how we do things. But somehow we are accustomed to doing things based on patterns of behavior. We jump right to conclusion and react based on what our feelings are and thinking of our repeated thoughts, which are more satisfying to feel. All of us eventually must feel anxiety and because of that we hurriedly take the decision with the same old patterns as usual.

The obstacle in making a right decision is that we are afraid to make mistakes, which prevent us moving forward and make us always think that we “cannot do it”.

We often forget that our life is the result of the verdicts that we took in our past time.

To make a good decision we should not think too fast. We have to slow down a bit and think about everybit of choice that could achieve a better resolution. By doing that we could see and ask ourselves “what is actually going on?” “Why is it happening to me?” From that moment it could make us realize the need to slow down a bit and think it over in detail. Continue reading

Advertisements

Cara yang mudah dan sederhana untuk mengerti kewaspadaan/ Sati


Sumber oleh: Bhikkhu Vimalaramsi

Children retreat 2015, Bali-Indonesia

Children retreat 2015, Bali-Indonesia

Meditasi adalah “Memerhatikan dengan seksama bagaimana perhatian batin pindah dari satu momen ke momen lainnya, inilah Pokok Utama dari Meditasi Buddhis! Inilah sebabnya mengapa Sebab Musabab yang saling bergantungan sangatlah penting untuk dilihat dan dimengerti karena kita akan mengembangkan perspektif impersonal/tidak menganggap sebagai sesuatu yang pribadi, dengan semua fenomena yang muncul dan membawa meditator melihat sendiri secara alami segala hal yang terjadi.

Meditasi yang sukses membutuhkan kemampuan kewaspadaan yang dikembangkan dengan kemampuan tingkat tinggi. Pelatihan ‘6R’ yang diajarkan di Pusat Meditasi Dhammasukha adalah suatu sistem kuno yang digali kembali dengan mengembangkan kemampuan ini.

R yang pertama adalah RECOGNIZE (MENGENALI) tetapi sebelum kita melakukannya, seorang meditator haruslah mengumpulkan atau menggunakan kemampuan observasinya (kewaspadaan) agar siklus meditasi mulai berjalan. Continue reading

Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita


oleh H. H. Dalai Lama

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort - Bali

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort – Bali -Selfyparkitpic

Ketika berakhirnya abad ke – 20, kita menemukan bahwa dunia telah semakin mengecil. Manusia di dunia telah hampir menjadi satu komunitas. Politik dan Alianansi (Persekutuan) militer telah menciptakan kelompok multinasional yang besar; industri dan perdagangan internasional telah melahirkan ekonomi global. Komunikasi di seluruh dunia melenyapkan pembatas jarak, bahasa dan ras. Kita juga terseret bersama oleh masalah besar yang kita hadapi yaitu: kelebihan penduduk, menipisnya sumber daya alam, dan krisis lingkungan yang mengancam udara, air, dan pepohonan, serta begitu banyak makhluk hidup yang menjadi pondasi penting keberadaan planet kecil yang kita tinggali bersama ini.

Saya percaya bahwa untuk menghadapi tantangan di zaman kita ini, umat manusia harus membentuk rasa tanggung jawab universal yang lebih kuat. Masing – masing kita harus belajar untuk bekerja  tidak hanya untuk dirinya, keluarga atau bangsanya sendiri, tetapi juga demi kepentingan seluruh umat manusia. Tanggung jawab universal adalah kunci nyata menuju kelangsungan hidup manusia. Ini merupakan pondasi/dasar terbaik untuk kedamaian dunia, penggunaan sumber daya alam yang wajar, dan dengan memperhatikan generasi mendatang, kepedulian terhadap lingkungan.

Itulah mengapa begitu melegakan melihat organisasi-organisasi non – pemerintah seperti kalian. Peran kalian dalam mengasah masa depan yang lebih baik sangat diperlukan. Saya telah melewati banyak organisasi seperti itu yang dibentuk oleh sukarelawan berdedikasi yang memiliki kepedulian yang tulus bagi sesama umat manusia. Komitmen seperti ini menggambarkan “garis depan” proses sosial dan lingkungan. Continue reading

Pelindung-pelindung Dunia


Oleh : Bhikkhu Bodhi

Penerjemah : Harianto

Editor: Selfy Parkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Seperti dewa dalam mitologi romawi – Janus, setiap manusia menghadapi dua arah yang berlawanan secara bersamaan. Dengan satu sisi dari kesadaran, kita memandang dengan seksama pada diri kita dan menjadi sadar terhadap diri kita sebagai individu yang dimotivasi oleh suatu desakan yang mendalam untuk menghindari penderitaan dan untuk menyelamatkan diri sendiri, serta menggapai kebahagiaan. Dengan sisi lain, kita memandang dunia ini dengan seksama dan menemukan bahwa hidup kita berhubungan satu sama lainnya, bahwa kita ada sebagai simpul dari sebuah jaringan hubungan yang amat luas dengan mahkluk lain yang nasibnya terikat dengan nasib kita. Oleh karena struktur hubungan dari keberadaan kita, kita terlibat dalam suatu interaksi dua arah yang terus-menerus dengan dunia ini: pengaruh dari dunia ini mendesak diri kita, membentuk dan merubah sikap serta pola kecenderungan diri kita, ketika sikap dan watak kita mengalir keluar ke dunia, suatu dorongan yang memengaruhi kehidupan mahkluk lain untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Kesatuan hubungan satu sama lain ini antara wilayah/ranah dalam dan luar memperoleh suatu urgensi tertentu untuk kita sekarang ini, kemorosotan standar etika yang merajarela dan menjalar di seluruh penjuru dunia. kemerosotan moral seperti ini sama tersebarnya dalam masyarakat yang menikmati taraf kemakmuran dan kestabilan yang nyaman, sama seperti di negara yang miskin dan putus asa menjadikan pelanggaran moral sebagai aspek utama perjuangan untuk bisa bertahan hidup. Tentu saja kita tidak boleh terlarut dalam fantasi warna pastel tentang masa lalu, membayangkan kita hidup di Taman Eden sampai penemuan mesin uap. Kekuatan penggerak hati manusia tidak banyak berubah selama bertahun-tahun, terhadap penderitaan manusia, dorongan tersebut telah melampaui perkiraan. Namun apa yang kita temukan sekarang ini merupakan suatu paradoks aneh yang akan menarik jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak baik: ketika terlihat bahwa lebih banyak yang berperilaku sesuai dengan moral dan nilai-nilai kemanusiaan, pada saat yang sama perbuatan dan perilaku yang jauh bertolak-belakang dengan nilai-nilai tersebut terjadi. Perlawanan dengan perlahan terhadap nilai-nilai etika konvensional ini merupakan sebagian hasil dari internasionalisasi perdagangan dan penetrasi global dari hampir semua media komunikasi. Keuntungan pribadi pihak tertentu, dalam rangka pencarian kekuasaan yang lebih luas dan keuntungan yang lebih besar, menghasilkan suatu aksi terorganisir bertujuan pada eksploitasi akan kerentanan nilai moral kita. Aksi ini berlanjut dalam langkah yang lebih menyeluruh, menyerbu setiap bagian dan sudut dalam hidup kita, tanpa memerhatikan konsekuensi jangka panjang terhadap individu dan masyarakat. Akibat-akibat tersebut jelas merupakan kejadian dalam masalah-masalah yang kita hadapi, masalah yang tidak terbatas oleh perbedaan bangsa: kenaikan tingkat kriminalitas, penyebaran kecanduan obat terlarang, pengerusakan lingkungan hidup, perbudakan anak dan prostitusi, perdagangan ilegal dan pornografi, penurunan nilai dalam keluarga sebagai kesatuan pendidikan moral, kepercayaan dan kasih sayang. Continue reading

Apakah Buddhisme Suatu Agama?


Oleh Yang Mulia Ajahn Sumedho

Penerjemah: Venry Phen

Editor: Selfy Parkit

Private Picture, Selfyparkit 2014

Brahmavihara Arama, Singaraja – Bali. Private Picture, Selfyparkit 2015

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti sebuah ikatan. Kata ini menerangkan ikatan pada ketuhanan, yang meliputi seseorang secara keseluruhan.

Suatu hal yang menarik untuk berpikir bahwa kita mengerti agama karena agama tersebut begitu mendarah daging dalam pandangan budaya kita. Namun, merenungkan dan menghayati maksud, sasaran atau tujuan sebenarnya dari agama adalah suatu hal yang berguna.

Terkadang orang-orang menganggap agama adalah kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi, sehingga agama menjadi teridentifikasikan dengan sikap theistic dari konvensi atau bentuk-bentuk agama. Seringkali Buddhisme dianggap sebagai bentuk atheis oleh agama-agama theis, atau sama sekali bukanlah suatu agama. Buddhisme dilihat sebagai suatu filosofi atau psikologi, karena Buddhisme tidak bersumber dari keadaan theistic (theis : doktrin, atau kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi). Buddhisme tidak berdasar pada keadaan metafisika atau doktrin, namun berdasar terhadap pengalaman nyata yang umum pada semua umat manusia – pengalaman akan penderitaan. Dasar pemikiran Buddhis adalah dengan menghayati, merenungi, dan mengerti semua penderitaan umum manusia, kita dapat melebihi semua kesalahpahaman mental yang menimbulkan penderitaan manusia.

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti ikatan. Kata ini mengartikan ikatan kepada ketuhanan, yang meliputi keseluruhan diri seseorang.  Untuk dapat benar-benar beriman berarti anda harus mengikat diri pada ketuhanan, atau pada kenyataan tertinggi, dan menyertakan keseluruhan diri anda pada ikatan tersebut, pada titik ketika pengertian tertinggi dimungkinkan. Semua agama memiliki kata “pembebasan” dan “penyelamatan”. Sifat dari kata-kata ini menyampaikan kebebasan dari kesalahpahaman, kebebasan dan pengertian penuh tentang kenyataan tertinggi. Dalam Buddhisme kita menyebutnya sebagai pencerahan.

Memahami Sifat Dasar dari Penderitaan

Pendekatan Buddhis adalah menghayati pengalaman penderitaan, karena penderitaan merupakan hal yang umum bagi semua makhluk. Penderitaan tidak harus diartikan sebagai tragedi hebat ataupun kemalangan yang mengerikan. Penderitaan dapat diartikan sebagai suatu jenis ketidakpuasan, ketidakbahagiaan, dan kekecewaan yang dialami oleh semua makhluk pada berbagai waktu dalam kehidupan mereka. Menderita merupakan hal yang umum terjadi pada pria dan wanita, kaya dan miskin. Apa pun suku atau kebangsaan kita, penderitaan adalah suatu ikatan yang lazim. Continue reading

Dua Aliran Utama Agama Buddha


By Venerable K. Sri Dhammananda

 Aliran Buddhisme

Pengikut Budhha yang sesungguhnya dapat mempraktikkan agama ini tanpa harus mengikuti aliran atau sekte mana pun.

 

Seratus tahun setelah Buddha parinibbana, di India muncul delapan belas aliran atau sekte yang berbeda-beda, yang semuanya mengaku mewakili ajaran asli Buddha. Perbedaan di antara aliran tersebut didasari karena penafsiran yang berbeda dari ajaran Buddha. Selang beberapa waktu, aliran-aliran tersebut secara bertahap bergabung menjadi dua aliran utama, yaitu Therawada dan Mahayana. Sekarang, mayoritas pengikut agama Buddha dibagi menjadi dua aliran tersebut. Continue reading

Vietnam dan Buddhisme


Mengenal Vietnam

Menurut legenda, orang-orang Vietnam merupakan keturunan dari seekor naga dan peri. Ahli purbakala mengatakan kepada kita bahwa manusia telah bermukim sekurang-kurangnya 400.000 tahun. Suatu masa keemasan dari kebudayaan Dong San dituliskan selama masa seribu tahun pertama Sebelum Masehi, diikuti oleh masa seribu tahun kekuasaan Han dan kebudayaan Feodal. Setelah abad ke 10 Masehi, Negara ini maju pesat di bawah disnasti orang-orang vietnam yang dipusatkan berturut-turut. Negara Perancis menyerbu di tahun 1858 dan memerintah negara tersebut dari tahun 1884 sampai dengan tahun 1945, ketika Republik Demokrasi Vietnam menyatakan kemerdekaannya dari kedua negara yaitu Perancis dan Jepang. Negara Vietnam menderita 30 tahun dalam peperangan dan akhirnya bersatu kembali pada tahun 1975.

Berbatasan dengan Kamboja, Laos, Cina dan Laut Cina Selatan, daratan Vietnam termasuk 1000 mil (1.400 Km) garis pantai tropis, pengunungan hijau, dan tanaman padi yang berkilauan. 87 juta orang dari populasi merupakan kumpulan dari 54 suku yang menciptakan sebuah kaleidoskop banyak orang, kebudayaan dan agama-agama. Continue reading