Pelindung-pelindung Dunia


Oleh : Bhikkhu Bodhi

Penerjemah : Harianto

Editor: Selfy Parkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Patung Perdamaian, Nanjing Massacre Memorial Hall-China, Selfyparkit

Seperti dewa dalam mitologi romawi – Janus, setiap manusia menghadapi dua arah yang berlawanan secara bersamaan. Dengan satu sisi dari kesadaran, kita memandang dengan seksama pada diri kita dan menjadi sadar terhadap diri kita sebagai individu yang dimotivasi oleh suatu desakan yang mendalam untuk menghindari penderitaan dan untuk menyelamatkan diri sendiri, serta menggapai kebahagiaan. Dengan sisi lain, kita memandang dunia ini dengan seksama dan menemukan bahwa hidup kita berhubungan satu sama lainnya, bahwa kita ada sebagai simpul dari sebuah jaringan hubungan yang amat luas dengan mahkluk lain yang nasibnya terikat dengan nasib kita. Oleh karena struktur hubungan dari keberadaan kita, kita terlibat dalam suatu interaksi dua arah yang terus-menerus dengan dunia ini: pengaruh dari dunia ini mendesak diri kita, membentuk dan merubah sikap serta pola kecenderungan diri kita, ketika sikap dan watak kita mengalir keluar ke dunia, suatu dorongan yang memengaruhi kehidupan mahkluk lain untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Kesatuan hubungan satu sama lain ini antara wilayah/ranah dalam dan luar memperoleh suatu urgensi tertentu untuk kita sekarang ini, kemorosotan standar etika yang merajarela dan menjalar di seluruh penjuru dunia. kemerosotan moral seperti ini sama tersebarnya dalam masyarakat yang menikmati taraf kemakmuran dan kestabilan yang nyaman, sama seperti di negara yang miskin dan putus asa menjadikan pelanggaran moral sebagai aspek utama perjuangan untuk bisa bertahan hidup. Tentu saja kita tidak boleh terlarut dalam fantasi warna pastel tentang masa lalu, membayangkan kita hidup di Taman Eden sampai penemuan mesin uap. Kekuatan penggerak hati manusia tidak banyak berubah selama bertahun-tahun, terhadap penderitaan manusia, dorongan tersebut telah melampaui perkiraan. Namun apa yang kita temukan sekarang ini merupakan suatu paradoks aneh yang akan menarik jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak baik: ketika terlihat bahwa lebih banyak yang berperilaku sesuai dengan moral dan nilai-nilai kemanusiaan, pada saat yang sama perbuatan dan perilaku yang jauh bertolak-belakang dengan nilai-nilai tersebut terjadi. Perlawanan dengan perlahan terhadap nilai-nilai etika konvensional ini merupakan sebagian hasil dari internasionalisasi perdagangan dan penetrasi global dari hampir semua media komunikasi. Keuntungan pribadi pihak tertentu, dalam rangka pencarian kekuasaan yang lebih luas dan keuntungan yang lebih besar, menghasilkan suatu aksi terorganisir bertujuan pada eksploitasi akan kerentanan nilai moral kita. Aksi ini berlanjut dalam langkah yang lebih menyeluruh, menyerbu setiap bagian dan sudut dalam hidup kita, tanpa memerhatikan konsekuensi jangka panjang terhadap individu dan masyarakat. Akibat-akibat tersebut jelas merupakan kejadian dalam masalah-masalah yang kita hadapi, masalah yang tidak terbatas oleh perbedaan bangsa: kenaikan tingkat kriminalitas, penyebaran kecanduan obat terlarang, pengerusakan lingkungan hidup, perbudakan anak dan prostitusi, perdagangan ilegal dan pornografi, penurunan nilai dalam keluarga sebagai kesatuan pendidikan moral, kepercayaan dan kasih sayang. Continue reading

Apakah Buddhisme Suatu Agama?


Oleh Yang Mulia Ajahn Sumedho

Penerjemah: Venry Phen

Editor: Selfy Parkit

Private Picture, Selfyparkit 2014

Brahmavihara Arama, Singaraja – Bali. Private Picture, Selfyparkit 2015

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti sebuah ikatan. Kata ini menerangkan ikatan pada ketuhanan, yang meliputi seseorang secara keseluruhan.

Suatu hal yang menarik untuk berpikir bahwa kita mengerti agama karena agama tersebut begitu mendarah daging dalam pandangan budaya kita. Namun, merenungkan dan menghayati maksud, sasaran atau tujuan sebenarnya dari agama adalah suatu hal yang berguna.

Terkadang orang-orang menganggap agama adalah kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi, sehingga agama menjadi teridentifikasikan dengan sikap theistic dari konvensi atau bentuk-bentuk agama. Seringkali Buddhisme dianggap sebagai bentuk atheis oleh agama-agama theis, atau sama sekali bukanlah suatu agama. Buddhisme dilihat sebagai suatu filosofi atau psikologi, karena Buddhisme tidak bersumber dari keadaan theistic (theis : doktrin, atau kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi). Buddhisme tidak berdasar pada keadaan metafisika atau doktrin, namun berdasar terhadap pengalaman nyata yang umum pada semua umat manusia – pengalaman akan penderitaan. Dasar pemikiran Buddhis adalah dengan menghayati, merenungi, dan mengerti semua penderitaan umum manusia, kita dapat melebihi semua kesalahpahaman mental yang menimbulkan penderitaan manusia.

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti ikatan. Kata ini mengartikan ikatan kepada ketuhanan, yang meliputi keseluruhan diri seseorang.  Untuk dapat benar-benar beriman berarti anda harus mengikat diri pada ketuhanan, atau pada kenyataan tertinggi, dan menyertakan keseluruhan diri anda pada ikatan tersebut, pada titik ketika pengertian tertinggi dimungkinkan. Semua agama memiliki kata “pembebasan” dan “penyelamatan”. Sifat dari kata-kata ini menyampaikan kebebasan dari kesalahpahaman, kebebasan dan pengertian penuh tentang kenyataan tertinggi. Dalam Buddhisme kita menyebutnya sebagai pencerahan.

Memahami Sifat Dasar dari Penderitaan

Pendekatan Buddhis adalah menghayati pengalaman penderitaan, karena penderitaan merupakan hal yang umum bagi semua makhluk. Penderitaan tidak harus diartikan sebagai tragedi hebat ataupun kemalangan yang mengerikan. Penderitaan dapat diartikan sebagai suatu jenis ketidakpuasan, ketidakbahagiaan, dan kekecewaan yang dialami oleh semua makhluk pada berbagai waktu dalam kehidupan mereka. Menderita merupakan hal yang umum terjadi pada pria dan wanita, kaya dan miskin. Apa pun suku atau kebangsaan kita, penderitaan adalah suatu ikatan yang lazim. Continue reading

Dua Aliran Utama Agama Buddha


By Venerable K. Sri Dhammananda

 Aliran Buddhisme

Pengikut Budhha yang sesungguhnya dapat mempraktikkan agama ini tanpa harus mengikuti aliran atau sekte mana pun.

 

Seratus tahun setelah Buddha parinibbana, di India muncul delapan belas aliran atau sekte yang berbeda-beda, yang semuanya mengaku mewakili ajaran asli Buddha. Perbedaan di antara aliran tersebut didasari karena penafsiran yang berbeda dari ajaran Buddha. Selang beberapa waktu, aliran-aliran tersebut secara bertahap bergabung menjadi dua aliran utama, yaitu Therawada dan Mahayana. Sekarang, mayoritas pengikut agama Buddha dibagi menjadi dua aliran tersebut. Continue reading

Vietnam dan Buddhisme


Mengenal Vietnam

Menurut legenda, orang-orang Vietnam merupakan keturunan dari seekor naga dan peri. Ahli purbakala mengatakan kepada kita bahwa manusia telah bermukim sekurang-kurangnya 400.000 tahun. Suatu masa keemasan dari kebudayaan Dong San dituliskan selama masa seribu tahun pertama Sebelum Masehi, diikuti oleh masa seribu tahun kekuasaan Han dan kebudayaan Feodal. Setelah abad ke 10 Masehi, Negara ini maju pesat di bawah disnasti orang-orang vietnam yang dipusatkan berturut-turut. Negara Perancis menyerbu di tahun 1858 dan memerintah negara tersebut dari tahun 1884 sampai dengan tahun 1945, ketika Republik Demokrasi Vietnam menyatakan kemerdekaannya dari kedua negara yaitu Perancis dan Jepang. Negara Vietnam menderita 30 tahun dalam peperangan dan akhirnya bersatu kembali pada tahun 1975.

Berbatasan dengan Kamboja, Laos, Cina dan Laut Cina Selatan, daratan Vietnam termasuk 1000 mil (1.400 Km) garis pantai tropis, pengunungan hijau, dan tanaman padi yang berkilauan. 87 juta orang dari populasi merupakan kumpulan dari 54 suku yang menciptakan sebuah kaleidoskop banyak orang, kebudayaan dan agama-agama. Continue reading

Seorang Bodhisattwa pada Masa Kita


By.  Shravasti Dhammika, Terjemahan by Selfy Parkit

Beberapa minggu yang lalu saya memberikan ceramah tentang Dr. Bhimrao Ambedkar, seseorang yang tanpa berlebihan, bisa disebut murni, darah dan daging seorang bodhisattwa. Gandhi, Mother Teresa, Maximillian Kolbe dan beberapa orang lainnya juga bisa dianggap sebagai bodhisattwa, meskipun yang pertama adalah seorang Hindu dan dua lainnya Kristen. Anda tidak perlu menjadi seorang Buddhis untuk menjadi seorang bodhisattwa. Cinta kasih melampaui batas aliran/sekte. tetapi orang-orang ini terkenal di dunia, sementara Ambedkar tidak banyak dikenal di luar India. Pada saat ceramah saya sudah delapan orang bertanya kepada saya, di mana mereka dapat memperoleh informasi lebih mengenai orang hebat itu dan saya sudah memberikan mereka tiga atau empat reputasi pembelajaran baik tentang dia. Sementara melakukan hal tersebut saya teringat Jabbat Patel film pemenang penghargaan tahun 1991— Dr. Bhimrao Ambedkar, yang sayangnya saya tidak pernah dapat menemukan versi pengisi suara (dubbed) dalam bahasa Inggris.

Berikut ini adalah adegan dari film itu, yaitu ketika Ambedkar dan seratus ribu pengikutnya berubah keyakinan menjadi penganut Buddhis di tahun 1956. Ini adalah gambaran bergerak yang cukup realistik dari peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Buddhis modern. http://www.youtube.com/watch?v=PpAjQ-pdgNU&feature=related (Berikut penerjemah juga melampirkan biografi dari Dr. Ambedkar http://www.culturalindia.net/reformers/br-ambedkar.html)

Question and Answer

Question:

Teck

Yang mulia Bhante,

Saya tidak yakin apakah reputasi suci Mother Teresa adalah media hype (untuk mempromosikan seseorang atau sesuatu dengan publisitas yang intens) atau dibuktikan oleh kenyataan. Lihatlah rangkaian videonya dimulai dari yang satu ini: http://www.youtube.com/watch?v=FwTfZK0Sv9s

Kemudian, saya membaca bahwa Gandhi memiliki kebiasaan seksual yang aneh. Dia menuntut pengikutnya untuk pantang (menahan nafsu) tetapi akan meminta agar istri-istri dari para pengikutnya tidur dengannya. Bagaimana kebenarannya, saya tidak tahu.

Saya merasa bahwa kita tidak boleh benar-benar mempercayai orang atau berpegang kepada siapa pun untuk mengukur kemanusiaan belaka yang tidak mampu dijangkau. Karena itu, saya tertinggal jauh dari praktik saya.

Apakah Anda punya saran?

Banyak terima kasih.

Answer:

Shravasti Dhammika

Teck Yang terhormat, Mother Teresa memiliki kekurangan begitu juga dengan Gandhi (Dia memang ‘tidur’ dengan para wanita tetapi tidak pernah berhubungan seks dengan mereka. Dia selalu ‘menguji’ dirinya sendiri). Tetapi menurut perspektif/pandangan Buddhis setidaknya, seorang bodhistattwa tidaklah sempurna, kesempurnaan hanya datang pada ke-Buddha-an. Seorang bodhisattwa adalah seseorang yang mewujudkan keberanian, kejujuran, kesabaran, pengorbanan diri dan kasih sayang yang lebih dari biasanya, sampai tingkat yang luar biasa. Saya akan mengatakan kualitas boddhisattwa yang dimiliki Gandhi— seperti keberanian, tekad dan pengorbanan diri yang penuh kasih. Tampaknya kedua kesalahan mereka yang sangat manusiawi hanya menekan kebajikan manusia-luarbiasa mereka. Saya membaca tentang orang-orang seperti mereka dan berpikir, “Manusia, seperti saya. Tetapi menginspirasi juga dan mencapai kebajikan yang benar-benar besar dan heroik. Jika mereka bisa, kemungkinan saya juga bisa.” Saya merasa kekurangan-kekurangan/ kelemahan mereka bersifat menentramkan hati karena mereka berbicara mengenai kemanusiaan mereka. Hal ini menempatkan mereka tepat di bawah sini, di bumi di mana saya berada. Dan setidaknya dalam kasus Gandhi ia bisa saja mengejutkan dengan berkata jujur tentang kekurangan-kekurangannya, dan bahkan membuatnya sebagai lelucon. Saya menyukai hal itu. Ada insiden terkenal di mana seorang ibu membawa anak laki-lakinya kepada Gandhi untuk memintanya memberitahukan kepada si anak untuk berhenti memakan gula. Gandhi meminta si ibu untuk membawa anak itu kembali dalam seminggu. Si ibu melakukannya dan Gandhi berkata kepada si anak laki-laki ‘berhentilah memakan gula’. Sang ibu agak tidak puas dengan hal ini dan mencela Gandhi, ‘Anda bisa saja mengatakan hal itu kepadanya minggu lalu!’ ‘Ya, saya bisa’ dia menjawab, ‘Tetapi minggu kemarin saya juga makan gula’.

Teck, saya rasa masalahnya terletak pada diri Anda sendiri, Anda mengharapkan kesempurnaan dan berkecil hati bila Anda menemukan beberapa kekurangan, beberapa kebiasaan khusus, beberapa kegagalan dalam mengangkat mereka sebagai teladan. Kegagalan Gandhi tidaklah berarti jika disandingkan dengan kualitas-kualitas baiknya, dan sama halnya dengan Mother Teresa. Mengapa tidak membiarkan diri Anda terangkat oleh kekuatan mereka daripada terlempar oleh kekurangan/ kelemahan mereka?

Question:

Teck

Yang mulia bhante,

Terima kasih untuk balasan Anda

Pendapat Anda mengenai melihat pada kekuatan dari orang-orang ini dan menjadikannya inspirasi diterima dengan baik. Saya tidak setuju dengan pendapat Anda tentang kelemahan/ kekurangan mereka menjadi sifat yang menentramkan hati.

Saya membayangkan diri saya sebagai pengikut Gandhi. Jika dia meminta saya untuk mempraktikan selibat dan kemudian ingin memiliki istri saya tidur di ranjang yang sama dengannya sementara ia telanjang, “hanya untuk menguji dirinya”, apa yang harus saya lakukan dengan permintaan ini (atau perintah, mengingat saya adalah pengikutnya)?

Saya melihat ini sebagai penghinaan terhadap perempuan. Juga, apakah ini tidak menunjukkan bahwa ia perlu untuk membuktikan dirinya (ego?) adalah jauh lebih penting terhadap penghormatan yang seharusnya dia selaraskan dengan pengikut laki-laki dan perempuannya. Bagaimana mungkin saya bisa merasa tentram dengan kelemahannya?

Pada kasus Mother Teresa, jika Anda menonton ketiga video tadi, dia dan jemaahnya menerima banyak uang sumbangan. Akan tetapi bukannya mengobati yang sakit, menyediakan perawatan yang tepat bagi yang miskin, dia menempatkan mereka di banyak kamar, dengan tandu, untuk menunggu kematian mereka. Saya tidak berhasil melihat apa bagian dari motivasinya yang apakah itu seorang bodhisattwa? Bahwa apakah hanya melalui penderitaan seseorang bertemu dengan Tuhan, maka orang-orang miskin ini sangat kekurangan perawatan medis? Saya akan berpikir melalui upaya meringankan penderitaan orang lain barulah seseorang bertemu Tuhan. Saya pikir dia lebih berbahaya daripada baik.

Bagi saya, Saya rasa saya tidak mengharapkan kesempurnaan bagi setiap orang. Tetapi saya rasa hal ini mengecilkan hati melihat bahwa guru Dhamma memiliki kekurangan yang sama seperti saya. Maksud saya adalah bahwa saya tidak dapat melihat bagaimana guru  itu dapat membimbing saya seperti itu.

Answer:

Shravasti Dhammika

Yang terhormat Teck,

Beberapa tahun lalu saya tiba-tiba bertemu dengan seorang teman baik saya di pusat retret seorang guru meditasi terkenal di Burma. Dia bertindak sebagai penerjemah bagi guru. Dia sudah di sana selama lima tahun, belajar dari guru dan bertindak sebagai penerjemah ketika bhikkhu-bhikkhu Sri Lanka datang berkunjung. Dia mengatakan kepada saya bahwa baru-baru ini ia menerjemahkan untuk si guru sebuah surat yang ditulis dan ditujukan kepada si guru oleh laki-laki berkebangsaan Amerika pada hari di mana dia telah pergi. ‘Apa isi surat itu?’ Tanya saya. Ia menjawab, ‘Orang Amerika itu telah mengatakan guru itu sombong, kejam, dingin dan kurang cinta kasih. Dia menuduh si guru sebagai ‘seorang pembangun kerajaan’ dan mengatakan dia menciptakan kultus (penghormatan secara berlebih-lebihan) pribadi’ di sekitar dirinya sendiri. Hal ini sedikit kasar, bahkan bagi saya, dan saya diam untuk sementara waktu. Kemudian saya bertanya, ‘Berapa banyak kebenarannya?’ ‘sebagian besar’ kata teman saya. Jawabannya bahkan lebih mengejutkan saya, bukan pengakuan itu saja (saya sudah mendengar hal yang sama dari banyak orang) tetapi ia harus mengatakannya. ‘Lalu kenapa kau masih di sini?’ tanya saya. Dia berkata, ‘Karena dia (si guru) juga ada untuk menjadi seorang guru meditasi yang terampil dan saya telah belajar banyak dari dia, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan Saya akan tinggal sampai saya tidak dapat belajar apa-apa lagi.’ Saya rasa ini adalah sikap yang sangat dewasa.

Terlalu sering kita mengidealkan para guru, pahlawan, dan sebagainya. Lalu ketika kita mendapati bahwa mereka tidak sempurna, baik kita menolak ketidaksempurnaan mereka kita juga bahkan membuang mereka sepenuhnya. Pendekatan pertama ini membawa Anda ke dalam khayalan yang mungkin berbahaya sedangkan yang kedua berarti Anda mungkin saja menjauhkan diri Anda dari sesuatu yang penting yang mungkin sebaliknya Anda pelajari. Ketika seorang guru cacat secara moral, itu adalah masalah lain. Ketika mereka mengaku tercerahkan itu pun masalah lain. Tetapi jika mereka tidak melakukan salah satu dari kedua-duanya dan kekurangan mereka hanyalah tipe kepribadiannya, dan mereka memiliki wawasan murni atau beberapa keterampilan nyata. Saya berkata ‘Belajarlah dari mereka apa yang Anda bisa, bersyukur untuk itu dan lanjutkanlah’

Satu hal terakhir. Salah satu dari sekian banyak alasan saya memilih Buddhisme awal atas tradisi Vajrayana adalah desakan/keteguhannya bahwa seseorang dapat dan harus mempertanyakan serta menyelidiki/mengkaji seorang guru (lihat sutta Vimsaka). Jika saran ini diterima (tidak selalu begitu) seharusnya ada kemungkinan belajar darinya, memanfaatkannya dan memiliki rasa terima kasih/ syukur terhadap seorang guru, bahkan jika ia (laki-laki atau perempuan) memiliki ketidaksempurnaan.

Teck

Terima kasih yang mulia, saya sangat menghargai komentar Anda.

Naskah asli dapat dilihat di: http://sdhammika.blogspot.com/

Thanks to Tasfan (for helping me during the translation)

Ngapain ngerayain Waisak???



Begitu cepat sang waktu berjalan, tak terasa setahun sudah berlalu lagi. Masih teringat di benak gw perayaan waisak di tempat yang sama setahun yang lalu. Hanya saja yang membuatnya sedikit berbeda adalah orang-orang yang menemani gw merayakannya (yuhuuii.. siapa tuh), yah siapa lagi kalo bukan sahabat gw Novita. Tapi kali ini kebersamaan kami disertai oleh adik kecil dan sepupu-sepupunya yang masih berumur belasan. Jealous juga rasanya melihat mereka yang begitu kompaknya dan mau diajak waisak bersama. Sedangkan gw, selain jomblo (ha..ha..) ga ada juga adik-adik gw yang mao diajak ke wihara untuk ngerayain waisakkan bersama. Memang sudah biasa rasanya melewati waisak bersama diri sendiri. Contohnya saja tahun lalu, karena Novi berhalangan hadir, ya mau ga mau sendirilah gw ke wihara. Namun walaupun begitu, selalu saja ada teman-teman gw yang akhirnya bertemu dan bertegur sapa seusai acara. Akan tetapi dari semuanya itu, ada satu hal yang membuat gw bahagia tahun ini, bahkan kebahagiaan ini melebihi gw punya atau dapat cowo misalnya (ha..ha… gila abis, emangnya gw begitu kesepian apa..hihi..hi..) Kebahagiaan ini sebenarnya hadir karena gw merasa turut berbahagia (apa sih gitu aja kok berbelit-belit) ya..ya.. akhirnya bokap, nyokap dan adik bungsu gw datang ke salah satu wihara di Tangerang dan merayakan waisak di sana untuk pertama kalinya (ini sih setahu gw.. ha..ha.. siapa tahu lagi mudanya mereka malah aktif he.he..) walaupun berbeda tempat dan kita tak bersama-sama, namun gw turut bahagia. Sesungguhnya bukanlah karena ikut perayaan waisaknya saja yang bikin gw ngerasa bahagia, tetapi lebih dari itu mereka semakin dekat dengan ajaran kebenaran dan gw berharap semoga mereka selalu memperoleh kebahagiaan.

Seperti halnya tahun lalu, waisak tahun ini juga diguyur oleh hujan, hanya saja bedanya tahun lalu hujan turun seusai acara. Sedangkan di tahun ini, hujan mengguyur orang-orang yang sedang melakukan prodaksina. (Wah.. apalagi neh gerangan yang akan terjadi???) Firasat apalagikah yang akan diciptakan oleh para umat yang berpikiran dan menganggap hal itu bukan sesuatu yang normal. Jangan.. jangan, jangan.. jangan.. (apa sih??? Normal kok, wong hujan mo turun begitu saja kok repot “Kata Gusdur” haha..) namun begitulah terkadang, setiap kejadian yang dianggap tidak seperti biasanya selalu dikait-kaitan dengan kejadian-kejadian lain yang ditakutkan akan terjadi. Padahal yang ditakutkan itu terkadang tidak masuk diakal. (Wah.. inilah salah satu kehebatan pikiran kita dalam membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada he..he…)

Waisak tahun ini cukup berkesan bagi gw, apalagi setelah nonton kilas balik perjuangan Pangeran Siddhàrtha menjadi Buddha, jujur hal ini memberikan semangat dan memperkuat tekad gw untuk terus berjuang seperti beliau. Rasa kagum gw terhadap guru gw yang satu ini sungguh amat tak ada duanya. Apalagi merenungkan betapa hebatnya perjuangan beliau yang tak pernah lelah menghadapi setiap pembelajaran di dalam hidupnya hingga akhirnya dapat merealisasikan apa yang telah dicita-citakannya demi kebahagiaan semua makhluk. Sungguh cinta kasih beliau amat sangat tak terbatas. Begitulah seharusnya kita sebagai muridnya meneladani serta mempraktikan apa yang telah diajarkannya, dan bukan mengulangi kesalahan yang pernah beliau lakukan selama pencahariaan pencerahannya, yaitu dengan tidak bersikap ekstrim. Sesungguhnya perenungan inilah yang seharusnya kita lakukan dan terapkan dalam merayakan hari Waisak, bukan hanya melakukan ritual saja yang memang setiap tahun sering dilakukan dan kurang lebih dengan cara yang sama (lama-lama juga bosen.. kalo udah bosen males ke wihara deh.. ho..ho..ho). Tetapi bagaimana kita melihat diri kita, batin kita, apakah sudah mengalami peningkatan dari tahun yang lalu, ataukah masih di situ-situ saja atau malahan lebih merosot dari sebelumnya. Dengan merenungi hal ini, tentunya kita menjadi semakin mengerti dan dapat mengambil langkah selanjutnya untuk terus berjuang dalam mengikis keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan kita. So, Buddhisme dan semangat Buddhisme bukanlah sekedar ritual saja… Berjuanglah terus dalam mencari kebenaran, jangan Cuma percaya hanya sebatas ritual… Jia You!!!

Happy Waisak Day 2553 – Parkit