SURGA 33 (BAGIAN 1. KERJASAMA)


 

Pada suatu ketika, saat Raja Magadha memerintah, ada seorang suci muda yang disebut, “Magha yang Baik”. Ia tinggal di desa terpencil yang hanya terdiri dari tiga puluh keluarga. Ketika ia masih muda, orang tuanya menikahkannya dengan seorang gadis yang memiliki kualitas karakter yang serupa dengan dirinya. Mereka sangat bahagia bersama, dan istrinya memberikannya beberapa orang anak.

Para penduduk desa menghormati Magha yang baik karena ia selalu mencoba untuk membantu dalam mengembangkan desa, untuk kebaikan semuanya. Karena mereka menghormatinya, ia mampu untuk mengajarkan Lima Latihan, untuk menyucikan pikiran, ucapan dan perbuatan mereka.

Cara Magha dalam mengajarkan adalah dengan praktik. Salah satu contoh hal ini terjadi ketika suatu hari para penduduk desa berkumpul untuk mengerjakan kerajinan tangan. Magha yang Baik membersihkan sebuah tempat untuk dia duduk. Sebelum dia duduk, seseorang yang lain telah mendudukinya. Jadi ia dengan sabar membersihkan tempat yang lain. Seorang tetangga duduk di tempatnya lagi. Hal ini terulang dan terulang lagi, sampai ia sudah dengan sabar membersihkan tempat duduk untuk semua yang hadir. Hanya dengan demikian ia dapat duduk di tempat yang terakhir.

Continue reading

Advertisements

Bodoh


Sekitar sebulan yang lalu aku mengangkat telepon dari orang aneh. Lalu tiba-tiba saja orang yang sok kenal dan sok akrab itu mengucapkan kata-kata kotor yang tak pantas aku kemukakan di tulisan ini. Spontan saja karena kaget aku langsung membalas ucapannya dengan kata yang kasar juga, sebutlah satu kata itu ‘Bodoh’. Tapi apa yang terjadi aku malah tampak begitu bodoh karena mengucapkan kata-kata bodoh itu kepada orang bodoh. Lalu siapa yang sebenarnya bodoh? Siapa lagi kalau bukan aku sendiri.

Ada cerita yang menceritakan tentang sebatang pohon cemara yang dicaci maki oleh bunga mawar, tapi si pohon cemara tetap diam dan bertahan selama musim dingin. Sedangkan si mawar, ia mati dan tak dapat bertahan. Inti ceritanya adalah orang yang berkata kasar atau mencaci maki bagaikan orang yang menegadah dan membuang ludahnya ke atas, maka Kata-kata dan caci makinya akan kembali ke dirinya sendiri.

Pelajaran: Jika tidak mau disebut bodoh, maka sabar dan tenanglah kalau sedang dicaci maki.