Pangeran Kodok dan Burung Parkit


Oleh Selfy Parkit

“Mom, it’s story time, read me one story before I go to sleep please!” pinta Henry kepada ibunya. “Alright then…” Dengan lembut ibunya membelai rambut anaknya dan mulai meraih buku yang ada di rak buku.

“… today I’m going to tell you a story about a frog prince”, kata si ibu sambil mengiringi putra satu-satunya itu menuju tempat tidurnya. “Frog prince? Did you tell me that story before, didn’t you?” tanya Henry. “Hmm… yes, but I bet you might haven’t heard this one.” Sahut ibunya. “What would make different? Tell me more please!” kata Henry sambil masuk ke dalam selimutnya. “Okay, this story will be in Bahasa Indonesia, and it will be good for your listening practice.” Kata ibunya. “Okay” Henry pun merebahkan kepalanya di atas bantal dan mulai mendengarkan ibunya dengan penuh perhatian.

This story is about Pangeran Kodok dan Burung Parkit.”

***

Suatu ketika ada seorang pangeran tampan yang dikutuk menjadi seekor kodok dikarenakan perangainya yang buruk dan sombong. Si pangeran akan kembali menjadi manusia jika ada seorang putri bangsawan yang memperbolehkan ia duduk dan makan bersama di piring emasnya serta tidur di atas bantal bersama sang putri selama 3 hari berturut-turut. Karena sebab itu lah pangeran kodok hidup di dalam kolam di dekat perkarangan rumah seorang putri bangsawan, berharap suatu hari nanti ia bisa menemui sang putri.

Sebelum pangeran kodok bertemu dengan putri tersebut, pangeran kodok menghabiskan hari-harinya bermain di pinggiran sungai layaknya seekor kodok biasa. Di sungai itu ia ditemani oleh seekor burung parkit yang senang bernyanyi merdu di pagi hari. Burung itu adalah satu-satunya teman yang diajaknya bicara dan berbagi cerita.

Continue reading

Advertisements

PANGERAN BERKUDA PUTIH


OLEH SELFY PARKIT

BERTEMU UNTUK BERPISAH

Pangeran Berkuda Putih

Bertemu untuk Berpisah

Senyumanmu menghangatkan relung hatiku, begitulah aku menyimpan kenangan indah ketika kita pertama kali berjumpa. Sejauh apa pun kau kini berada, lukisan di bibirmu itu takkan pernah lekang dari ingatanku.

Oh… andai saja waktu dapat kuputar dan kembali ke masa itu, disaat kita bersama-sama melewatinya dengan gelak dan canda tawa. Namun sang mesin waktu hanyalah dongeng belaka yang diciptakan pikiran umat manusia. Obat bius ampuh yang mampu membawa hati-hati kecil yang tersesat dan terluka, mengembara dalam samudra harapan. Hal yang gila, tetapi manusia terkadang butuh dongeng untuk mampu kembali menumbuhkan semangat dalam menjalani hidupnya sebagaimana adanya.

Kupejamkan mata ini, dan ingatlah aku ketika hari Valentine sehari sebelum kepergianmu. Kau menanyaiku hal ini, “Mengapa kau memandangiku hingga matamu sedikit pun tak berkedip?” kau tersenyum semeringah sedikit malu. Aku yang seketika tersadarkan berseru, “Benarkah!…” Saat itu hatiku begitu terasa bahagia, dan tak pernah sebelumnya aku merasakan hal yang sedemikian bahagianya.

Aku kembali memandangi wajahnya dan menumpahkan sebagian dari isi hatiku. “Aku ingin mengingat wajahmu saat ini, dan menyimpannya di hati dan jiwaku.” “Jiwamu!” seketika ia tertawa renyah, “Bukankah kau pernah bilang kalau wajah seseorang pasti berubah! Seperti kau pun katakan wajahku tidak seperti dulu lagi.”

Kumanyunkan bibirku sesaat, sambil kemudian tersenyum dan menaruh belaianku di pipinya, “Kau benar wajahmu pasti berubah, sebab itulah aku ingin selalu mengingat dan menjadi saksi di setiap perubahan yang terjadi pada dirimu. Bertambahnya lekuk dan keriput di pipi… kening… dan di pelupuk matamu, mulai menghitamnya bibirmu, dan memutihnya rambutmu, kemudian gigimu…” Seketika saja ia memelukku erat dan membelai rambutku dengan lembut, kemudian diusap-usapnya punggungku sambil berkata, “I wish I would stay and never leave you today. I am gonna miss you so much.” Lalu dikecupnya keningku. “Sophie, I have to go tomorrow. Maaf aku baru mengatakannya hari ini, aku harus kembali bekerja di Kanada, perusahaan memintaku untuk kembali bekerja di sana, dan untuk kurun waktu yang tidak pasti, aku…” “Cukup! Hentikan kalimatmu James aku mengerti.” Kepeluk ia sambil kemudian kubisikan isi hatiku di telinganya, “Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menunggumu di sini, sampai kapan pun.”

kenyataannya bhatin di dalam sedang bergejolak dan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung berakhir. Seberapa lama kah kau pergi? Akan kah kau selalu mengingatku, merindukanku, mengabariku? Dada ini terasa sesak, namun aku hanya ingin kau tahu betapa aku menyayangi dan peduli padamu. Aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku cukup tangguh untuk menunggu dan menanti kepulanganmu.

Continue reading

Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita


oleh H. H. Dalai Lama

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort - Bali

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort – Bali -Selfyparkitpic

Ketika berakhirnya abad ke – 20, kita menemukan bahwa dunia telah semakin mengecil. Manusia di dunia telah hampir menjadi satu komunitas. Politik dan Alianansi (Persekutuan) militer telah menciptakan kelompok multinasional yang besar; industri dan perdagangan internasional telah melahirkan ekonomi global. Komunikasi di seluruh dunia melenyapkan pembatas jarak, bahasa dan ras. Kita juga terseret bersama oleh masalah besar yang kita hadapi yaitu: kelebihan penduduk, menipisnya sumber daya alam, dan krisis lingkungan yang mengancam udara, air, dan pepohonan, serta begitu banyak makhluk hidup yang menjadi pondasi penting keberadaan planet kecil yang kita tinggali bersama ini.

Saya percaya bahwa untuk menghadapi tantangan di zaman kita ini, umat manusia harus membentuk rasa tanggung jawab universal yang lebih kuat. Masing – masing kita harus belajar untuk bekerja  tidak hanya untuk dirinya, keluarga atau bangsanya sendiri, tetapi juga demi kepentingan seluruh umat manusia. Tanggung jawab universal adalah kunci nyata menuju kelangsungan hidup manusia. Ini merupakan pondasi/dasar terbaik untuk kedamaian dunia, penggunaan sumber daya alam yang wajar, dan dengan memperhatikan generasi mendatang, kepedulian terhadap lingkungan.

Itulah mengapa begitu melegakan melihat organisasi-organisasi non – pemerintah seperti kalian. Peran kalian dalam mengasah masa depan yang lebih baik sangat diperlukan. Saya telah melewati banyak organisasi seperti itu yang dibentuk oleh sukarelawan berdedikasi yang memiliki kepedulian yang tulus bagi sesama umat manusia. Komitmen seperti ini menggambarkan “garis depan” proses sosial dan lingkungan. Continue reading

Kekuatan Cinta Adut


Hi, bloggers pembaca setia cerita-ceritaku, kali ini aku akan mem-reposting tulisanku yang dulu pernah di posting di Websiteku yang lama www.happymorningsun.com yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Tulisan ini adalah hasil karyaku yang kutulis pada tahun 2009 guna mengikuti lomba menulis sinopsis BFBA oleh LA Light. Aku segaja tidak melakukan banyak perombakan guna mempertahankan keaslian skillku di tahun 2009, namun ada sedikit perubahan kata dan cerita agar lebih mendramatisir dan lebih masuk akal. hehehe… Selamat membaca!

Short synopsis By Selfy Parkit

Lisa dan Willy adalah pasangan muda yang sudah lama bertunangan dan akan segera menikah. Namun, rencana pernikahan mereka harus kandas lantaran Willy meninggal, seminggu sebelum hari pernikahannya. Willy yang semasa hidupnya teramat menyukai dan melekat terhadap binatang perliharaannya, ternyata terlahir kembali sebagai seekor anak anjing peliharaan Ibu Grambel, yaitu seorang janda tua yang hidup sendiri dan bertempat tinggal di sebelah rumah Lisa.

Sementara tunangannya menjalani hidupnya sebagai seekor anjing, Lisa sang penulis novel akhirnya menerima tawaran bosnya untuk mengambil cuti dalam beberapa minggu guna menenangkan dirinya. Selama liburannya di rumah, Lisa menjadi lebih mengenal dekat para tetangganya. Satu hal yang membuatnya terhibur adalah seekor anak anjing Ibu Grambel yang baru saja dilahirkan yang tak lain adalah kelahiran kembali dari tunangannya itu.

Continue reading

Cinta Nenek


By. Selfy Parkit

‘Nenek cucumu merasa sepi dan hampa, bawalah aku ke tempatmu sebentar saja’, pinta Vita lirih dalam hati. Gadis kecil itu tampak tak terurus, seharian sudah ia tidak makan. Wajahnya pucat dan Matanya bengkak karena menangis, yang ia lakukan hanyalah merebahkan tubuhnya di atas kasur tua di bawah atap bocor bertambalkan kaca-kaca bening tempat para bintang mengitipnya dari langit.

“Meong… meoong….” puluhan kucing mengeong kelaparan, sebagian dari mereka sudah pergi untuk mencari makan, sebagian lagi tetap setia menunggui Vita untuk memasak makanan kesukaan yang selama ini mereka makan. Ikan asin dengan sayur mayur hasil kebun sendiri nampaknya sudah seharian tidak dihidangkan kepada mereka. Pangilan mereka bersautan ‘Meong… meoong… meoong….” Seakan-akan mereka mengerti dan merasakan kesedihan Vita. Namun Vita seakan tuli, tenggelam dalam kekalutannya. Baginya tak ada lagi kehidupan, dunia terasa sepi dan tak ada lagi mimpi-mimpi yang bisa ia bagi dengan neneknya, orang yang selama ini ada di sisinya. Continue reading

Aku Menangis Untuk Adikku Enam Kali


Aku lahir di sebuah desa pegunungan terpencil. Hari demi hari kedua orangtuaku membajak tanah kuning yang kering dengan punggung mereka menghadap ke langit.

Aku memiliki seorang adik laki-laki, 3 tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang sepertinya semua para gadis di sekelilingku memilikinya, Aku mencuri 50 sen dari laci ayahku. Ayah mengetahuinya dengan segera. Dia membuat Aku dan adikku berlutut menghadap dinding, dengan sebatang tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Tanyanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar satu pun dari kami yang mengaku, jadi dia berkata, “Baiklah, jika tak ada satu pun yang mau mengaku, kalian berdua harus dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu. Tiba-tiba, adikku mencengkram tangan ayah dan berkata, “Ayah, Akulah orang yang melakukannya!”

Continue reading

Surat Cinta Untuk Seorang Teman



“Aku percaya padamu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu dulu”

Beberapa hari lalu dia meneleponku, suaranya parau dan terdengar letih. Terasa kesedihan di setiap alunan kata-katanya. Dia tidak seperti biasanya, tidak lagi menghina, mencaci-maki, ataupun mengucapkan kata-kata kasar seperti yang dia sering lakukan ketika meneleponku. Bukan berarti dia membenciku, hanya saja begitulah gayanya mengekspresikan perasaannya. Kasar dan kadang tak berprikemanusiaan… Ya, menyakitkan.. Tapi selalu menghibur dan membuat kami berdua tertawa. Hubungan kami berdua memang sudah tidak seperti dulu lagi, sudah jarang berbicara lewat telepon, apalagi untuk bertatap muka. Jujur, bukan hanya kesibukanku saja yang membuatku tak pergi ke rumahnya, tapi karena memang adakalanya aku enggan untuk menemuinya. Terkadang ada saja prilaku yang membuatnya tampak menyebalkan jika kita saling bertemu dan berbicara. Ya.. begitulah Aku dan dia kalau sudah berhubungan, tak pernah terlihat akur dan senang sekali saling mengejek satu sama lain. Sepertinya hal itu memang sudah menjadi dasar dari rasa sayang Aku dan Dia. Percakapan kami lewat telepon beberapa hari lalu mengingatkanku kembali akan semua kenangan-kenangan yang sudah lama berlalu. Cerita-cerita yang pernah dia dongengkan dulu, rasanya  sekarang ini bukan lagi menjadi senjata andalannya, melainkan mungkin telah menjadi batu sandungan baginya. Bukan suatu kebanggaan, apalagi sesuatu yang bisa dijadikan bahan melucu untuk merayu semua wanita yang mudah dirayu agar masuk ke dalam pelukannya. Saat ini cerita-cerita super heronya itu malah menjadi beban dalam hidupnya… Bahkan menjadi himpitan untuk terus menjalani hidupnya sekarang. Dia boleh menjadi jagoan di masa lalu, menjadi yang paling beken maupun yang disegani di kalangannya. Namun saat ini teman, waktu telah berubah. Kau bukan lagi jagoan, bukan lagi orang beken ataupun orang yang disegani di kalanganmu. Kau sekarang bukan lagi seorang pemberani yang nekad mengorbankan nyawamu di tengah-tengah pertarungan, demi sebuah persahabatan hitammu. Kau sekarang hanyalah seorang penakut yang takut karena lingkungan tak lagi mempercayaiMU.

TAPI, jangan khawatir teman, Aku selalu mempercayaimu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu… Aku percaya kau sudah berubah… Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaanmu. Biarlah mereka bicara apa saja tentang dirimu, jangan kau pedulikan… Mereka bukanlah penentu kebahagiaanmu… Mereka tidak berhak atas kebahagiaanmu… Raihlah kebahagiaanmu Teman. Kalau saja hari ini kau bersedih karena mereka tak mempercayaimu… Tak percaya bahwa kau telah berubah. Masih ada Aku, temanmu yang mempercayaimu. Walaupun Aku satu dari seribu, namun Aku tetap setia mendukungmu, memberikanmu semangat, kasih sayang dan memberimu pundakku untuk kau tangisi. Janganlah menyerah teman.. Mereka hanya ingin melampiaskan kemarahan mereka.. Mereka hanya merasa takut, mereka hanya merasa khawatir dan tidak suka. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang boleh menghalangimu untuk dapat berubah dan menjadi penentu kebahagiaanmu sendiri.

“Aku sudah berusaha bersabar dan bertahan, tapi mereka tetap saja tak percaya”, begitu katamu.. Ku tahu kau rentan pecah, karna kau baru memulai. Kau menjadi tak sabar dan kini kehilangan kepercayaan diri. Kau menjadi terkucilkan, dan merasa tak diterima. Tapi teman, kesabaran tak ada batasnya, yang harus kau lakukan hanyalah menunggu dan membuktikan bahwa kau benar-benar berubah, bersungguh-sungguh menjadi pribadi yang baru. Jika memang lingkunganmu tak mendukungmu untuk menjadi lebih baik, carilah lingkungan baru yang mampu mendukung dan mengajarkanmu untuk berubah. Apa pun yang terjadi teman, Aku tetap mendukung dan mempercayaimu.

Teman waktu yang lalu sudah berlalu… Waktu itu hanya bisa dikenang, janganlah dijadikan penyesalan. Seperti hal nya Aku yang tak pernah menyesali hubunganku denganmu… Aku berterima kasih padamu teman, karena dengan kaulah banyak hal yang Aku pelajari, banyak hal yang harus Aku syukuri. Seperti itulah harusnya kau lakukan. Jangan selalu menyesali apa yang telah kau perbuat terhadapku dan yang lain. Syukurilah bahwa kita masih berteman dan kau masih dapat memperbaikinya. Jangan berhenti berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membawamu pada kebahagiaan.

With Care,

Selfy Parkit

Tangerang, 15th July 2009