Bahagia dari Hal yang Kecil


By Selfy Parkit

Saat merasa tak bahagia terkadang sering sekali terlintas di benak saya ingatan masa kecil di mana saya merasa bahagia dengan hal-hal yang sekarang saya anggap sepele. Timbul pertanyaan nyaring di dalam diri saya mengapa hal itu bisa terjadi? Lalu mengapa kebahagiaan semacam itu mudah dirasakan dari hal-hal yang mungkin sekarang membosankan bagi saya. Dahulu sewaktu kecil, main tanah pun terasa amat membahagiakan bagi saya, duduk di tengah lapangan yang terdapat banyak kubangan air hujan yang baru saja turun, dengan sebatang kayu kering di tangan dan berjalan di atas tanah lapang yang berwarna merah kecoklatan, mengaduk-aduk air di dalam kubangan hingga kelihatan mirip susu coklat. Saya aduk-aduk kubangan air itu tanpa pernah merasa bosan, dan hayalan di pikiran kecil itu pun sudah dapat mengakibatkan kebahagiaan yang terus menerus menemani saya. Namun itu dulu, lalu bagaimana dengan sekarang?

Continue reading

Advertisements

Ketulusan


Saat kita mencintai seseorang, hal yang tersirat di dalam pikiran kita adalah ingin membahagiakan pasangan kita. Mungkin hal ini mudah saja dilakukan jika hubungan kita dengan pasangan kita sedang baik-baik saja. Namun, satu saat jika katakanlah ada pihak ketiga yang datang mengusik hubungan kita dengan pasangan kita, akankah pikiran baik itu terus berlajut. Jangankan ingin membahagiakan satu sama lain, yang ada malah merasa curiga dan cemburu. Saat itu terjadi, tentunya pertengkaran pun rentan bermunculan. Sama halnya dengan pasangan suami istri tetangga saya yang sudah tidak lagi berkomunikasi selama empat tahun terakhir pernikahannya, karena masing-masing sudah tidak saling percaya lagi.

Ke manakah sesungguhnya komitmen awal mereka untuk saling mencintai? Tentunya masalah ini sering menjadi penyebab rentannya sebuah hubungan, baik bagi orang yang masih berpacaran ataupun yang sudah menikah.

Pelajaran: Untuk mempertahankan sebuah hubungan dibutuhkan ketulusan. #

Indahnya Memberi


Dapat memberi itu indah ya? Kebahagiaan dari memberi sungguh tak terkira. Tak ada kata yang tepat untuk dapat melukiskan betapa bahagianya perasaan dari seseorang yang memberi. Kita menyebutnya berdana, namun kadang kala jika kita mendengar kata “Berdana” yang ada dipikiran kita adalah memberikan materi kepada makhluk lain. Sebenarnya berdana bukanlah sekedar memberikan materi saja. Ada banyak sekali bentuk dana yang dapat kita berikan kepada makhluk lain, bukan saja yang berbentuk nyata/ konkret tapi juga yang tidak dapat dilihat/ abstrak. Contohnya dengan tenaga, memberikan ceramah Dhamma, nasehat dan memberikan maaf. Entah berbentuk ataupun tidak berbentuk, sedikit ataupun banyak, berdana (memberi) dengan tulus dan iklas, pastinya dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan yang instan/ langsung bagi si pemberinya. Kalau tak percaya cobalah berdana secara tulus dan iklas saat ini, pasti sekarang ini kita dapat merasakan kebahagiaannya.

*Diterbitkan di Buletin Vimala Dharma (BVD) Bandung, Edisi Mei 2009