RUSA GUNUNG JANTAN DAN RUSA KAMPUNG BETINA (Kegilaan)


Pada suatu ketika, di India Utara, ada sekumpulan rusa dari kampung rusa. Mereka terbiasa tinggal di dekat perkampungan mereka lahir dan tumbuh besar di sana. Mereka tahu kalau mereka harus sangat hati-hati di dekat penduduk. Khususnya di saat benar-benar masa panen, ketika gandum-gandum tumbuh tinggi dan para petani memasang perangkap dan membunuh rusa mana pun yang datang mendekat.

Ketika masa panen, rusa kampung tinggal di dalam hutan sepanjang hari penuh. Mereka hanya datang mendekati kampung pada waktu gelapnya malam. Salah satu dari mereka adalah seekor rusa betina muda yang cantik. Ia memiliki bulu halus coklat kemerah-merahan, ekor dengan bulu putih yang halus dan kedua mata besar lebar yang cermelang.

Selama musim yang khusus ini, ada seekor rusa gunung jantan yang sudah berkeliaran ke dalam hutan dataran rendah yang sama. Suatu hari, ia melihat seekor rusa betina muda yang cantik itu dan seketika itu juga menjadi tergila-gila dengannya. Ia tak tahu apa pun tentang rusa betina itu. Tetapi ia membayangkan dirinya sendiri menjadi jatuh cinta sangat dalam kepadanya, bukan hanya bulu coklat kemerahan-kemerahannya dan ekor putih berbulu halus atau kedua mata besarnya yang lebar dan cemerlang. Dia bahkan bermimpi tentangnya, meskipun rusa betina itu tidak tahu keberadaannya.

Setelah beberapa hari, rusa gunung jantan muda memutuskan untuk memperkenalkan dirinya. Seraya ia sedang berjalan keluar menuju tempat di mana si rusa betina sedang memakan rumput, ia terpesona oleh rupa si rusa betina dan tidak dapat berhenti memandangnya. Ia memulai pembicaraan, “Oh manisku yang cantik, sama indahnya seperti bintang-bintang dan sama terangnya seperti bulan. Aku menyatakan kepadamu kalau aku sangat…” Persis kemudian kuku rusa jantan muda tersangkut di akar pohon, dia tersandung dan jatuh, dan wajahnya tercebur di dalam kubangan lumpur! Rusa betina kampung yang cantik itu tersanjung, jadi ia tersenyum. Tetapi di dalam hati, ia berpikir kalau rusa jantan gunung ini benar-benar agak bodoh!

Sementara itu, tanpa diketahui oleh rusa-rusa itu. Ada kaum peri pohon hidup di dalam bagian hutan tersebut. Mereka telah mengamati rusa jantan gunung, pada saat rusa jantan secara diam-diam memperhatikan rusa kampung betina. Ketika rusa gunung jantan mulai berjalan keluar ke tempat terbuka, memulai pembicaraannya, dan tercebur di dalam kubangan lumpur — peri-peri itu tertawa dan tertawa. “Sungguh bodohnya kedua binatang ini” mereka berteriak. Tetapi satu peri tidak tertawa, ia berkata “Aku takut kalau ini adalah sebuah peringatan untuk kedua rusa yang bodoh ini!”

Rusa jantan muda itu sedikit merasa malu, tetapi ia tidak melihat itu sebagai peringatan apa pun. Sejak itu, ia mengikuti rusa betina kemanapun rusa betina pergi. Ia tidak berhenti mengatakan kepada rusa betina alangkah cantiknya rusa betina dan betapa ia begitu mencintainya. Rusa betina tidak begitu menanggapinya.

Kemudian malam hari tiba, dan ini adalah saatnya bagi rusa betina untuk turun ke kampung. Penduduk yang tinggal di sepanjang jalan mengetahui kalau rusa-rusa lewat di malam hari. Jadi mereka menyiapkan perangkap-perangkap untuk menangkap mereka. Malam itu seorang pemburu menunggu, bersembunyi di belakang semak-semak.

Dengan hati-hati, rusa kampung betina turun keluar hutan. Si rusa gunung jantan yang masih saja menyanyikan pujian-pujian untuknya, pergi bersama dengannya. Rusa betina berhenti dan berkata kepadanya, “Rusa jantanku sayang, kau tidak berpengalaman untuk berkeliaran di kampung-kampung. Kau tidak tahu betapa bahayanya manusia. Kampung dan jalannya, dapat membawa kematian kepada seekor rusa bahkan pada malam hari. Karena kau masih sangat muda dan tidak berpengalaman (dan rusa betina berpikir kepada dirinya sendiri, ‘dan bodoh’), kau seharusnya tidak ikut turun ke kampung denganku, kau harus tetap tinggal di dalam hutan yang aman.

Mengetahui hal ini, para peri pohon bertepuk tanggan tetapi tentu saja, rusa-rusa itu tidak dapat mendengar mereka.

Rusa jantan muda tidak memperdulikan peringatan rusa betina. Ia hanya berkata, “Matamu kelihatan sangat indah dalam sinar bulan!” dan terus berjalan mengikutinya. Si rusa betina berkata, “Jika kau tidak ingin mendengarkan ku, setidaknya diamlah!” Rusa jantan sangat tergila-gila kepadanya, ia tidak dapat mengendalikan pikirannya, tetapi akhirnya ia menutup mulutnya.

Tak lama kemudian, mereka mendekati tempat di mana si pemburu sedang bersembunyi di belakang semak-semak. Para peri melihatnya, dan menjadi gelisah serta takut akan keselamatan rusa-rusa itu. Mereka terbang dengan gelisah di sekeliling batang-batang pohon, tetapi mereka hanya dapat menyaksikan.

Rusa betina dapat mencium bau laki-laki yang sedang bersembunyi itu. Ia takut oleh perangkap, jadi ia berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, ia membiarkan si rusa jantan jalan terlebih dahulu, ia sedikit berjalan di belakangnya.

Ketika si pemburu melihat rusa gunung jantan yang tak diduga, ia menembakan anak panahnya dan membunuh rusa jantan dengan segera. Melihat hal itu, rusa betina yang ketakutan itu berbalik dan lari kembali ke hutan secepat yang dia bisa.

Pemburu memastikan bunuhannya. Ia mulai menyalakan api, mengikuti si rusa, memasak beberapa daging rusa itu dan memakannya sampai kenyang. Ia melemparkan bangkai rusa itu keatas punggungnya dan membawanya pulang untuk memberi makan keluarganya.

Ketika peri-peri melihat apa yang terjadi, beberapa dari mereka menangis. Ketika menyaksikan pemburu memotong rusa jantan yang dulu terlihat mulia, beberapa dari mereka merasa sakit. Peri lainnya menyalahkan rusa betina yang berhati-hati karena telah mengarahkan si rusa jantan kepada si pembatai.

Tetapi peri yang bijaksana, yang sudah memberikan peringatan awal, berkata, “Kegembiraan dari kegilaanlah yang membunuh rusa yang bodoh itu. Keinginan buta membawa kebahagiaan yang palsu pada awalnya, tetapi berakhir dengan kesakitan dan penderitaan.”

Pesan moral : Kegilaan menimbulkan kehancuran.

Diterjemahkan oleh Selfy Parkit.

Sumber: Prince Goodspeaker – Buddhist Tales for Young and Old Volume 1, Stories 1-50

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s