Warung Kejujuran



By Selfy Parkit

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” mungkin pepatah tersebut sering sekali kita dengar di kalangan masyarakat, namun dalam arti yang positif tentunya. Lalu bagaimana jadinya kalau pepatah tersebut dipakai dalam istilah korupsi? “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi kaya raya”, wah mungkin begitu jadinya, dan tak sedikit dari para koruptor di sana yang mungkin juga berprinsip semacam ini. Sedikit memang, tetapi perbuatan yang sedikit tersebut berdampak besar dan merugikan banyak pihak.

Jika berbicara tentang korupsi rasanya tidak akan pernah ada habisnya, mulai dari korupsi uang, dana ini-itu, maupun korupsi waktu yang kita tidak disadari dan lain sebagainya. Apalagi di negara kita yang tercinta ini yang pada tahun lalu menempati peringkat korupsi urutan ke 111 dari 180 negara di dunia. Segala usaha pengawasan dilakukan untuk memberantas korupsi, namun sepertinya usaha tersebut tetap tidak menghilangkan kebiasaan si para koruptor tersebut untuk bertobat dan berhenti mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Namun di tengah-tengah maraknya berita korupsi dan usaha penanggulangannya tersebut, salah satu sekolah SMP Buddhi di Tangerang malah menyediakan fasilitas sekolah yang rentan korupsi. Seperti apakah fasilitas tersebut? tentunya Anda sedikit penasaran.

Fasilitas ini berupa sebuah warung dengan nama “Warung Kejujuran” Warung ini bukan hanya sekedar nama, tetapi benar-benar sebuah warung yang menantang Anda apakah Anda orang yang jujur atau tidak. Sejauh manakah warung ini menguji kejujuran para siswa??

Layaknya sebuah warung, sudah pasti akan ada barang yang di jual, ya barang-barang jualan tersebut ditempatkan di dalam satu buah etalase kaca yang di sampingnya terdapat label nama ‘Warung Kejujuran SMP Buddhi’. Etalase kaca yang lebarnya berukuran + 2 meter dengan tinggi tidak lebih dari satu meter itu menjual berbagai macam keperluan alat tulis, mulai dari buku, pensil, pulpen penghapus dan lain sebagainya. Namun tidak hanya itu saja, ada pula makanan dan barang-barang keperluan siswa.

Bukan saja namanya yang unik, akan tetapi cara kerjanya pun ternyata unik. Tepat di atas kaca sebelah dalam terdapat selembar kertas yang menerangkan bagaimana cara membeli barang di warung tersebut. Dengan cara inilah kejujuran Anda (khusunya siswa-siswi SMP Buddhi) diuji. Anda hanya perlu meletakan uang ke dalam kaleng tempat uang seharga barang yang Anda beli, lalu mencatatnya ke dalam buku yang sudah disediakan, gampangkan! Anda hanya tinggal langsung mengambil barang yang diinginkan. Jika perlu uang kembalian, anda hanya tinggal mengambilnya di kaleng uang.

Warung yang modalnya dikumpulkan secara kolektif dari para guru dan murid ini, bertujuan untuk mengajarkan siswa-siswi untuk bertindak jujur, bukan hanya teori tetapi dalam praktik yang nyata. Bukan juga membatasi atau hanya mengawasi anak untuk tidak melakukan pencurian, korupsi atau perbuatan tidak jujur. Akan tetapi, memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih kejujuran. Warung ini sendiri sudah mulai beroperasi sejak bulan September 2009 dan dikelolah oleh ibu HJ.Sabihah Spd dengan dibantu oleh anak-anak OSIS. Guru IPA yang sudah mengajar selama kurang lebih 25 tahun ini pun menyatakan bahwa awalnya memang tidak mudah untuk menanamkan kejujuran kepada para siswa-siswi, mengingat warung ini sudah empat kali mengalami kebangkrutan, alias barang dan uangnya habis tanpa sisa. Namun karena pentingnya akan tujuan dari pendidikan yang dalam hal ini melatih anak untuk bersikap jujur, Ibu guru yang juga merupakan wakil dari kepala sekolah SMP Buddhi ini tetap mengusahakan pengadaan dari Warung tersebut. Walaupun beliau mengaku sempat putus asa akan keberhasilan warung tersebut, namun dengan mulai memberikan pengarahan kepada siswa-siswi mengenai pentingnya bersikap jujur, Warung Kejujuran akhirnya berangsur-angsur menjalankan fungsinya. Sejak bulan Maret 2010 siswa-siswi SMP Buddhi pun mulai jujur dalam membeli barang-barang di Warung Kejujuran.

ibu HJ.Sabihah Spd dengan warung yang dikelolahnya

ibu HJ.Sabihah Spd dengan warung yang dikelolahnya

Inilah pentingnya menanamkan nilai-nilai dan melatih kejujuran kepada anak-anak dari sejak dini, masa depan bangsa kita ada di tangan mereka—anak-anak dan murid-murid kita. Selama warung kejujuran ini tetap bertahan di sekolah Buddhi, selama itu pula siswa-siswi SMP Buddhi mampu untuk berkata dan bersikap jujur, dan seharusnya koruptor di sana malu dengan mereka yang masih muda dan mampu untuk tidak berbohong serta mencuri ataupun korupsi.

Sumber

Wawancara Ibu HJ. Sabihah Spd.

http://inimu.com/berita/2009/11/18/cpi-2009-tingkat-korupsi-indonesia-masih-menonjol/

6 thoughts on “Warung Kejujuran

  1. Yah.. Mencuri mah insting alami manusia. Haha… Tp klo program pendidikan tersebut bisa katakanlah berhasil,maka bisa diprediksikan moral2 dari para siswa n siswi di sana sdh mantap.. He.he..

    Like

  2. Wow, contoh yang bagus sekali… Aku pernah melihat “usaha” semacam ini juga diadakan di wihara tertentu. Seandainya warung seperti ini bisa kita buka di mana-mana… sudah dipastikan dunia terlatih kejujurannya.

    Like

    • Yuppp…. sebenarnya tidak hanya di sekolah Buddhi saja, menurut informasi di sekolah2 tertentu seperti di Jakarta dan Yogya juga sudah ada yang menerapkan metode warung ini. keren kan! awal mula g liat warung ini juga g terkesima, makanya saat itu g niat mo buat artikel tentang warung ini, eh kebetulan majalah DR buat tema tentang korupsi, jadi klop dah.. hahahaha

      Like

  3. Haha… ahha…!! Aku jadi dapet ide untuk kamu, Parkit…. Kenapa kamu ga coba buka juga… anggep aja warung kejujuran itu suatu franchise. Lumayan tuh, buat usaha sampingan, ga usah dijagain lagi, hehehe… Karma baik berhasil baik pula…. ;p I support you, Parkit…😉

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s