Mangga Muda Masam


By. Selfy Parkit
mangoSeorang laki-laki muda sedang mencari mangga muda masam untuk istrinya yang sedang hamil muda. Usia kandungan istrinya baru dua bulan namun permintaannya sudah mengada-ngada saja. Pernah si istri  memintanya untuk dibelikan jagung bakar di daerah puncak pegunungan  yang lokasinya memerlukan 6 jam perjalanan bolak-balik dari tempat tinggalnya. Akan tetapi apa boleh buat demi si istri dan si jabang bayi yang sedang bertumbuh di rahimnya, suami muda itu pun berangkat membelikan jagung bakar tersebut. Tapi apa yang terjadi? Setelah jagung bakar tersebut berhasil dibawanya pulang, sang istri tidak memakannya, ia hanya melihat dan menciumi baunya saja. (Hahaha…) Jelas sang suami yang dengan susah payah mengorbankan waktu dan tenaganya demi membeli jagung tersebut merasa sedikit dongkol di dalam hatinya. Namun sekalli lagi demi si istri dan si jabang bayinya hari itu pun berlalu.

Permintaan mangga muda masam adalah permintaan yang sudah sekian kali baginya. Sebelumnya pernah sang suami dimarahi istrinya karena mangga yang dibelinya ternyata rasanya manis. Alhasil tak mau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, sang suami pun sangat berhati-hati jika membelikan pesanan istrinya. Petang sehabis pulang kantor dengan mengendari motor bebeknya si suami menelusuri pinggiran-pinggiran pasar, mencari mangga yang dipesan istrinya.

Sudah hampir satu jam lamanya, entah mengapa ia belum juga menemukan satu pun penjual buah mangga, mungkin karena memang sudah tidak musim panen, pikirnya. Si suami pun bergegas pulang ke rumahnya dengan tangan kosong, pasti ia akan kena marah istrinya lagi pikirinya. Tetapi di tengah-tengah kegelisahannya si suami merasa beruntung, ia melihat seorang penjual mangga dengan gerobaknya yang sedang mangkal di pinggir pojok jalan. “Mau beli mangga pak! Ayo dibeli, neh mangga semuanya manis, dijamin tidak menyesal deh!” kata si abang penjual mangga sambil menyodorkan barang dagangannya. Sebenarnya si suami mau bilang kalau ia sedang mencari mangga muda yang masam, namun merasa tak enak hati dengan si abang penjual mangga yang sudah terlanjur mempromosikan mangganya yang manis, dan si suami enggan mengutarakan maksudnya. Ia pun pikir, kalau ia bilang mau mangga yang masam mangga, nanti si abang penjual bisa saja mengganggapnya bercanda dan tersinggung karena dianggap berbohong. Lagi pula karena memang sudah tidak ada lagi penjual mangga yang dapat ditemuinya, maka tak ada gunanya lagi menanyakan hal tersebut. Dengan berat hati dicobainnyalah mangga yang baru saja dikupas oleh si abang dan ternyata benar manis.

Waktu sudah semakin gelap, perutnya pun mulai kriuk-kriuk berbunyi meminta jatah malamnya, maka terpaksa dibelinyalah mangga tersebut untuk dibawa pulang. Sekali pun istrinya marah yang penting ia tidak pulang dengan tangan kosong dan setidaknya ia sudah berusaha, pikirnya. Sampailah sang suami di rumahnya dengan sejinjing mangga harum manis yang rasanya manis kata si penjual mangga. Istinya menyambut kepulangannya dengan penuh senyum dan membukakan pintu untuknya. Diserahkannya plastik hitam berisi beberapa buah mangga tersebut kepada si istri dan siap-siaplah ia membuka hatinya menerima omelan dari sang istri. Seusai mandi dan berpakaian, dengan perasaan yang masih diliputi ketakutan si suami bergegas ke ruang makan dan segala macam rangkaian kata sudah disusun rapih di dalam otaknya.

Dilihatnya sang istri yang sedang duduk menunggunya di meja makan bersama hidangan-hidangan lezat yang disiapkan untuknya. Sedikit pun hidangan lezat itu tidak menarik perhatiannya, satu hal yang dicarinya adalah mangga manis hasil pembeliannya, apakah sudah dikupas atau belum. Sekilas kemudian si suami pun tercengang ketika melihat ternyata beberapa mangga yang sudah dikupas mendarat rapih di atas sebuah piring buah berukiran khas cina, dan sekarang si istri sedang asik menikmatinya. Si suami sedikit bingung melihat istrinya yang masih senyum-senyum serta memintanya untuk duduk dan makan. Apakah ini gelagat istrinya saja yang menyiapkan ancang-ancang untuk memarahinya, pikirnya. Penasaran dengan apa yang terjadi, diambilnya sepotong mangga dari piring tersebut dan segera ia makan. Eukkgghhhh….. rasanya masam tak terampuni, si suami pun menjulurkan lidahnya sambil meletakan mangga itu kembali ke tempatnya. Di cobanya lagi dan lagi, namun semua mangga yang dikupasnya terasa masam. “Lah kamu kenapa sayang?…” tanya si istri merasa aneh, “Sudah tau masam kok masih saja dicobai!” “Iya mangganya asam, hehehe…” si suami tersenyum-senyum geli sendiri menginggat kebohongan si abang penjual mangga malah membawa berkah baginya. ‘Apanya yang disebut mangga harum manis???’ celoteh dalam hatinya.mangga

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s