Sekat-Sekat Hubungan



Oleh Selfy Parkit

Memiliki seorang teman yang baik adalah suatu berkah yang tak terkira, apalagi seorang teman spiritual yang dapat membawa kita ke kemajuan batin. Tetapi untuk dapat berteman dengan baik, sebelumnya kita harus bisa menembus sekat-sekat yang menghalangi kita dalam menciptakan suatu hubungan yang baik. Lalu apakah yang menyebabkan banyaknya sekat di dalam menjalin suatu hubungan? Di dalam hubungan masyarakat dan sosial, pernahkah Anda merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang-orang tertentu di kehidupan Anda??? Pastinya kebanyakan dari Kita yang berprinsip teguh pernah merasakan hal itu. Eit.. tapi yang berprinsip teguh yang mana dan dalam hal apa dulu??? Prinsip yang satu inilah yang berbahaya, yaitu berprinsip teguh bahwa pandangan dan pola pikir sendirilah yang paling benar dan yang lain salah besar. Lalu, karena yang satu itu tidak mau menerima pandangan kita, maka kita anggap orang itu sebagai lawan dan kita merasa tidak nyaman akan kehadirannya di lingkaran kehidupan kita.

Merasa benar sediri saja sudah menjadi sekat dalam hubungan pertemanan, apalagi ditambah berpikir bahwa yang lain itu salah. Dulu ketika pertama kali saya menjalin hubungan serius dengan seseorang, saya baru menyadari bahwa ternyata setiap manusia punya sekat yang dibuatnya sendiri, sekat-sekat dalam hal berhubungan. Awalnya saya belum mengerti mengapa ada manusia yang memiliki complicated relationship (hubungan yang ruwet) antar sesama. Padahal pada prinsip dan teorinya setiap masalah yang terjadi di antara sesama manusia pastinya dapat diselesaikan, maka otomatis setiap hubungan akan baik-baik saja. Tetapi mengapa begitu banyak manusia yang membenci dan tak mau berhubungan dengan sesamanya???  Saat itu orang yang pernah dekat sekali dengan saya ini mengatakan kepada saya kalau dia tidak menyukai teman saya yang juga merupakan guru spiritual saya, dengan alasan guru saya ini terlalu kaku dan berpandangan sempit. Satu hal lagi, orang yang saya sayang ini tidak suka dengan teman saya yang juga merupakan ketua kebaktian, dan saya masuk di bawah kepemimpinannya. Menurutnya sikap dan pemikiran mereka tidak sesuai dengan teori-teori dan prinsip-prinsip yang ada di kepalanya. Hasilnya, orang yang saya harapkan bisa mengenal semua teman-teman saya ini tidak mau mengenal kedua orang tadi dan merasa tidak nyaman kalau kami berada di dekat mereka. Memang mungkin benar adanya sifat-sifat, pandangan si guru spiritual dan cara kepemimpinan si ketua kebaktian tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan dan dimiliki. Tetapi pertanyaannya adalah apakah hal yang seharusnya itu? Pembenaran terkadang hanya ada di dalam pikiran masing-masing. Begitu pula pembenaran di dalam pemikiran pacar saya saat itu yang menganggap si guru spiritual dan ketua kebaktian tidak sesuai dengannya. Lalu, mengapa sekat dalam hubungan itu akhirnya terbentuk???

EGO Menjadi Sang Pembatas

EGO tiga huruf besar yang selalu membayangi kehidupan manusia. Mau bukti bagaimana sang EGO berperan?? Kisah ini dialami oleh guru spiritual saya sendiri yang tadi dikatakan selalu memegang prinsip, tetapi saat ini dia sudah berubah karena memang dia punya kesadaran atas prilakunya. Dulu dia sering bentrok dan membuat sekat hubungan yang cukup tebal dengan temannya yang juga sama-sama seorang guru spiritual. Temannya ini lebih mementingkan hal-hal praktis, materi, dan terkadang beliau berpandangan bahwa uang dan bisnis itu penting. Sedangkan guru spiritual saya lebih mementingkan hal-hal religius dan beranggapan bahwa nilai spiritual tidak seharusnya disamakan dengan bisnis dan uang. Otomatis segala tindakan mereka berdua selalu saja bertentangan. Saya yang saat itu masih remaja dan cukup hijau tak mau mencampuri urusan keduanya, otomatis saya tak punya masalah dengan keduanya dan bisa saja berhubungan dengan keduanya. Itulah enaknya, saya bisa jalan dengan guru saya, lalu beberapa menit kemudian bisa ngobrol-ngobrol dengan temannya itu. Setelah mengikuti keduanya, pada dasarnya apa yang mereka utarakan masing-masing ada benarnya, tak ada yang disalahkan dan masuk akal juga. Tetapi kenapa masing-masing dari mereka menganggap bahwa pemikiran satu sama lainnya salah. Mengapa si guru A menganggap si guru B salah dan sebaliknya??? Sedangkan saya yang berada di tengah-tengah, menerima informasi, pandangan dan pemikiran mereka dengan pikiran kosong  serta tidak memihak, menganggap hal itu biasa saja. Apa yang terjadi dengan si Guru A dan si Guru B? Mereka ternyata telah membangun sekat-sekat yang dibuatnya sendiri, karena masing-masing menganggap orang lain salah dan tidak sesuai dengan pemikirannya. Ego yang berperan dan menjadi pembatas di antara hubungan mereka dan setiap manusia.

Perlu Terbuka dan Saling Memahami

Satu obat bagi sang Ego untuk bisa mengenali jadi dirinya adalah memberikannya pengertian dan berusaha memahami. Kalau saja pacar saya saat itu mau membuka sedikit ruang untuk mengobrol dengan kedua orang yang dianggapnya tidak asik untuk berhubungan, pastinya ia akan lebih mengerti dan memahami. Karena setahu saya guru spiritual saya itu tidak seburuk yang dibayangkannya, walaupun dia agak sedikit memegang prinsip (keras dan kaku dengan prinsipnya), akan tetapi pada dasarnya dia punya kesadaran atas prilaku yang dibuatnya dan mau mengoreksi diri. Begitu juga halnya dengan ketua kebaktian saya, walaupun memang cara kepemimpinannya saat itu banyak menerima protes, tapi saya mengenal betul kalau wanita ini adalah seseorang yang mau menerima kritikan dan masukan, hanya saja perlu waktu untuk banyak belajar dalam mengubah cara kepemimpinannya. Sama pula dengan si kedua guru spiritual tadi, Kalau saja si kedua guru spiritual saling mau menanyakan kabar masing-masing dan mau membuka diri akan pemikiran dan pandangan masing-masing, serta berusaha memahami satu sama lain, tentunya pemikiran dan hubungan mereka akan lebih baik lagi karena masing-masing dapat melihat dari sisi pandang yang berbeda. Namun pada dasarnya Ego akan Harga Diri mengerem semua laju perbaikkan, dan menghentikan semua niatan baik yang muncul karena merasa harga dirinya terlalu mahal untuk mengakui bahwa prinsip dan pandangannya belum tentu benar adanya.

Lihatlah dan Kenali Lebih Dalam Mereka Itu Berubah

Jika dirasakan dengan jujur, diperhatikan lebih dalam, Pandangan, pikiran, prinsip, perasaan, kesadaran dan lain sebagainya selalu berubah-ubah. Seakan-akan terlihat seperti mesin yang sedang menjalankan proses, yaitu proses kesadaran, proses pemikiran, proses perasaan dan proses-proses lainnya. Kita selalu dekat dengannya, akan tetapi kita bodoh, kita seakan-akan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau pada dasarnya setiap pandangan, pemikiran, perasaan, kesadaran dan lain-lain itu selalu berubah. Kita memandang seseorang dengan apa yang mereka miliki dan terlihat nyata bagi kita saat itu. Kita tidak menyadari bahwa itu pun akan berubah. Namun pada dasarnya kita melihat ilusi yang diciptakan dari pikiran. Ya… ilusi-ilusi itu sudah berhasil baik dalam memainkan peranannya, dan sudah sukses dalam mengecohkan kebenaran serta banyak memberikan sekat-sekat di dalam kehidupan. Ilusi-ilusi yang bersumber dari kebodohan, kebencian dan keserakahan manusia dan makhluk di alam semesta.

Penakluk sang Ego

Untuk membuka diri, mengakui kesalahan dan saling meminta maaf adalah hal yang dirasakan sulit oleh sebagian orang yang merasa hal itu sulit. Perlu waktu bagi mereka untuk menaklukan sang Ego dan berdamai dengan harga dirinya. Tetapi ada satu hal yang sebenarnya tidak kita sadari, bawasanya sang Ego akan takluk dengan rasa kasihan dan kasih sayang. Merasakan penderitaan orang lain, dan merasakan kesamaan penderitaan yang kita alami akan memunculkan kasih sayang yang luar biasa, serta tidak tega untuk menyakiti ataupun memusuhi makhluk lain. “Semua makhluk hidup adalah sahabat penderitaan, yang rentan terhadap kesulitan.” Cobalah kita renungkan satu buah puisi di bawah ini :

Kita adalah satu

Kita adalah tetesan dari satu samudera.                                                                                                                      

Kita adalah ombak dari satu laut.

Kita adalah pohon dari satu rimba.

Kita adalah buah dari satu pohon.

Kita adalah daun dari satu cabang.

Kita adalah bunga dari satu kebun.

Kita adalah bintang dari satu langit.

Kita adalah cahaya dari satu mentari.

Kita adalah jari dari satu tangan.

Kita adalah anggota dari satu keluarga.

Dunia adalah satu keluarga.

Bumi adalah satu negeri.

(Sri Dhammananda 86)

Jika saja pikiran kasih sayang ini kita kembangkan setiap harinya, tentu saja segala pemikiran maupun pandangan yang berbeda dari orang lain tidak akan mengganggu dan membuat kita merasa tidak nyaman jika bersama dengan orang tersebut. Takkan ada ruang lagi bagi sang Ego untuk berkeliaran dan datang mengusik. Dengan begitu sekat-sekat dalam hubungan pertemanan secara otomatis akan mulai hancur satu persatu, karena kita merasa satu dengan mereka. Inilah keadaan yang disebut sebagai salah satu dari berkah yang sesungguhnya.

Daftar pustaka:

Dhammananda, Sri. “Be Happy – Mengatasi Takut dan Cemas Dari Akarnya dan Berbahagia Dalam Segala Situasi”, Yayasan Penerbit Karaniya: 2004

Advertisements

Do Words Create our World?


Kata… jika anda membaca empat huruf itu, apa yang ada di benak anda??? Komunikasi! Ya anda benar, kata adalah bagian dari komunikasi. Sambungan-sambungan kata mampu menjembatani insan di dunia untuk berkomunikasi dan menyatakan maksud hati. Kata-kata berasal dari susunan banyak huruf dan membentuk sebuah kalimat, kalimat membentuk sebuah paragraf dan akhirnya disebut sebagai bahasa. Walaupun kata dari setiap bahasa berbeda tapi pada fungsinya adalah sama yaitu untuk berkomunikasi. Arti ‘kata’ sendiri menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah “Unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan, merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa”.

Kata-kata adalah hal yang sangat berpengaruh di kehidupan ini. Baik secara lisan dan tulisan, kata-kata sudah menghidupkan dunia ini menjadi sedemikian rupa. Kata-kata bisa menjadi penyebab perdamaian, juga penyebab peperangan. Kekuatan kata-kata mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi setiap individu, namun juga bisa menjadi penyebab penderitaan. Mengapa kata-kata dapat memberikan inspirasi, motivasi dan kebahagiaan, juga sebaliknya mampu menyebabkan peperangan dan penderitaan? sedasyat itukah kekuatan dari kata-kata? Tentunya bukan kata-katalah yang secara penuh menyebabkan itu semua, namun persepsi dari masing-masing individulah yang menentukan akan dibawa ke mana pengertian dari sebuah kata tesebut. Tidak dipungkiri bahwa kadang kala manusia salah paham dalam mengartikan dan menanggapi kata-kata.

Selama berabad-abad kehidupan, pertikaian, peperangan, hubungan manusia satu dengan lainnya tidak lepas dari kesalapahaman kata-kata, keliru ataupun salah paham karena tidak saling mau terbuka dan mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya secara langsung. Manusia mempunyai pengertian sendiri terhadap sesuatu, hidup di dunianya sendiri, tanpa orang lain dapat mengetahui isi di dalamnya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan kekeliruan, karena daya tangkap dan persepsi manusia masing-masing berbeda.

Untuk membuktikan itu semua, ada sebuah kisah nyata yang menarik. Cerita ini dituturkan oleh Ven. Zen Master Thich Nhat Hanh, pada kesempatan ceramahnya. Kisah ini tentang Tuan Truong, yang terjadi di negara Vietnam ratusan tahun yang lalu, dan setiap orang di sana kebanyakan sudah mengetahui kisah ini. Tuan Truong adalah seorang pria yang masih muda belia, dan harus mengikuti wajib militer. Sehingga dia menjadi tentara dan pergi berperang meninggalkan istrinya yang sedang hamil sendirian di rumah. Mereka menangis cukup lama saat berpisah dan tidak tahu apakah si suami akan pulang dengan selamat, mengingat bahwa pergi berperang sangatlah berisiko. Namun pria muda tersebut cukup beruntung, dia selamat.

Beberapa tahun kemudian ia dibebastugaskan dan istrinya sangat gembira mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang. Dia pergi ke pintu gerbang desa dan menyambut suaminya, ditemani anak laki-lakinya yang masih kecil. Anak kecil itu dilahirkan saat ayahnya masih bergabung dengan pasukan militer. Pada saat mereka bertemu kembali, mereka menangis dan saling berpelukan, menitikan air mata kegembiraan. Mereka sangat bersyukur, pria muda tersebut selamat dan pulang ke rumah bersama.

Berdasarkan tradisi, mereka harus membuat persembahan di altar leluhur untuk memberitahukan para leluhur bahwa keluarga telah bersatu kembali. Pria itu meminta istrinya pergi ke pasar untuk membeli bunga, buah-buahan dan barang persembahan lain yang diperlukan. Pria itu membawa anaknya yang baru pertama kali dia lihat, pulang dan mencoba membujuk anaknya untuk memanggilnya ‘ayah’. Tetapi anak tersebut menolak, “Tuan kamu bukanlah ayah saya, ayah saya adalah orang lain. Ia selalu mengunjungi kami setiap malam, dan setiap kali Ia datang ibu saya akan berbicara dengannya lama sekali. Saat ibu duduk ayah saya juga duduk, saat itu tidur, Ia juga tidur. Jadi kamu bukanlah ayah saya.”

Ayah muda tersebut sangat sedih, sangat terluka. Ia membayangkan ada pria lain yang datang ke rumahnya setiap malam dan menghabiskan waktu semalaman dengan istrinya. Semua kebahagiaan lenyap seketika. Kebahagiaan datang sangat singkat, diikuti dengan ketidakbahagiaan. Ayah muda tersebut sangat menderita sehingga hatinya menjadi sebongkah batu dan sedingin es. Ia tidak dapat lagi tersenyum dan menjadi sangat pendiam. Ia sangat menderita, dan istrinya yang sedang berbelanja tidak tahu sama sekali mengenai hal itu. Sehingga sewaktu dia pulang ke rumah, dia sangat terkejut. Suaminya tidak mau menatap wajahnya lagi, tidak mau berbicara dan menjadi sangat dingin seakan-akan ia memandang rendah istrinya. Perempuan itu tidak mengerti, mengapa? Sehingga sang istri pun mulai menderita.

Setelah persembahan selesai dibuat, perempuan tersebut meletakkannya di altar. Suaminya menyalakan dupa, berdoa kepada leluhur, membentangkan tikar, melakukan empat sujud dan memberitahukan bahwa ia sudah pulang ke rumah dengan selamat dan kembali ke keluarganya. Setelah selesai ayah muda tersebut menggulung tikar, dan tidak mengizinkan istrinya melakukan hal yang serupa, karena ia berpikir bahwa istrinya tidak pantas untuk menampakan dirinya di depan altar para leluhur. Perempuan muda itu kemudian merasa malu, “terhina” karena peristiwa itu, dan dia menderita lebih dalam lagi. Menurut tradisi, setelah upacara selesai mereka harus membereskan persembahan. Keluarga tersebut harus duduk, menikmati makanan dengan suka cita dan kegembiraan; tetapi pria muda tersebut tidak melakukannya. Setelah ritual persembahan, pria muda tersebut kemudian pergi ke desa, dan menghabiskan waktunya di kedai arak. Pria muda tersebut mabuk karena ia tidak dapat menanggung penderitaannya. Ia tidak pulang ke rumah hingga larut malam, sekitar pukul satu atau dua dini hari ia baru pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ia mengulangi perbuatannya tersebut hingga beberapa hari, tidak pernah berbicara dengan istrinya, tidak pernah menatap istrinya, tidak pernah makan di rumah. Perempuan muda tersebut sangat menderita dan dia tidak dapat menanggungnya. Pada hari keempat dia melompat ke sungai dan mati. Dia sangat menderita, pria tersebut juga sangat menderita. Tapi tak seorang pun dari mereka berdua yang datang pada salah satu pihak dan meminta bantuan karena “harga diri”.

‘Saat anda menderita anda yakin bahwa penderitaan anda disebabkan oleh orang yang paling anda cintai, anda lebih suka menderita sendiri’. Manusia lebih mementingkan ego dan harga diri, ketimbang mengatakan apa yang dideritanya. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Membutuhkan kasih, perhatian dan pertolongan, terluka dan butuh didengarkan. Hanya dengan mengatakan apa yang dirasakannya padahal manusia sudah dapat menyelesaikan tahap awal penyembuhan deritanya, saling mengungkapkan isi hati, maksud yang sesungguhnya dan derita masing-masing. Namun ‘harga diri mencegahmu menemui orang lain dan meminta bantuan. Kalau saja saat itu sang suami menemui istrinya? Situasinya mungkin akan berbeda.

Malam itu, ia harus tetap tinggal di rumah karena istrinya sudah meninggal dunia, untuk menjaga anak laki-lakinya yang masih kecil. Ia mencari lampu minyak tanah dan menyalakannya. Saat lampunya menyala, tiba-tiba anak kecil itu berteriak: “Ini dia Ayahku!” dia menunjuk bayangan ayahnya di dinding. “Tuan, ayahku biasanya datang tiap malam dan ibu berbicara banyak dengannya, dia menangis di depannya, setiap kali ibu duduk, ayah juga duduk. Setiap kali ibu tidur, ayah juga tidur.”

Jadi, ‘ayah’ yang dimaksudkan anak tersebut hanyalah bayangan ibunya. Ternyata, perempuan itu biasanya berbicara dengan bayangannya setiap malam, karena dia sangat merindukan suaminya. Suatu ketika anaknya bertanya kepada ibunya: “Setiap orang di desa memiliki ayah, kenapa aku tidak punya?” sehingga pada malam tersebut, untuk menenangkan anaknya, sang ibu menunjuk bayangannya di dinding, dan berkata, “Ini dia ayahmu!” dan ia mulai berbicara dengan bayangannya. “Suamiku sayang, kamu sudah pergi begitu lama. Bagaimana mungkin aku membesarkan anak kita sendirian? Tolong, cepatlah pulang sayang.” Itulah pembicaraan yang sering ia lakukan. Tentu saja, saat dia lelah, ia duduk, dan bayangannya juga duduk. Sekarang ayah muda tersebut mulai mengerti. Persepsi keliru sudah menjadi jernih, tetapi semua itu sudah terlambat; istrinya sudah mati.

Dari kisah di atas timbul pertanyaan, apakah kejadian itu disebabkan oleh si anak dan kata-katanya? Walaupun memang benar si anak yang mengatakan kata-kata tersebut, namun jika kita renungkan lebih dalam, ketidaksamaan persepsilah yang menyebabkan kejadian tersebut. Persepsi yang kita buat, yang terbentuk dari pengertian kata di dalam pikiran kita dan dunia di kepala kita.

‘Persepsi yang keliru dapat menyebabkan banyak penderitaan dan kita semua mengalami persepsi yang keliru setiap harinya. Seperti yang disabdakan oleh Buddha, “Kita hidup dengan persepsi keliru setiap harinya”. Untuk itu mulailah hari ini dengan saling terbuka, saling memahami antara sesama, sehingga memperkecil kemungkinan timbulnya persepsi yang keliru. Kesampingkan ego dan harga diri yang membelenggu kita, menyebabkan banyak terciptanya pertikaian dan perselisihan. Mulailah membenahi semuanya, dimulai dari diri kita sendiri agar tercipta kedamaian di antara sesama, teman, keluarga, masyarakat, negara dan dunia.

Pare ca na vijªnÖti, Mayamettha yamªmase, Ye ca tattha vijªnanti, Tato sammanti medhagª. Masih banyak orang yang tidak mengerti, mengapa kita dapat binasa di dunia ini akibat perselisihan. Ia yang memahami kebenaran ini, akan dapat melenyapkan perselisihan. – Dhammapada (1:6)


Thanks to my parents and ancestor.

Sumber cerita diambil dari buku Kemilau Emas Menebar Kasih (50 tahun Vihara Vimala Dharma) – “Menyembuhkan Diri, Mengatasi Derita”.oleh Ven.Zen Master Thich Nhat Hanh.Tim Penerbit PVVD: Bandung, 2008

Pernah diterbitkan di Majalah Sinar Padumuttara edisi 7 tahun 2010