Siapkah Jika Dia Datang?


 Oleh Selfy Parkit

Ketika saya berusia 9 tahun nenek saya meninggal dunia. Inilah saat pertama kalinya saya mengetahui bahwa manusia akan meninggal dan pergi untuk selamanya dari kehidupan saya, entah pergi ke mana saat itu saya belum mengerti. Karena belum mengerti saya tetap diam, menangis pun tidak, walaupun saat itu seluruh keluarga saya sudah bercucuran air mata. Barulah ketika saya merasa kehilangan nenek yang memang sudah turut andil dalam membesarkan saya, saya merasa sedih dan menangis. Hidup saya saat itu terasa sepi, tak ada lagi tempat mengadu, bermanja dan seolah-olah takkan ada orang yang dapat mengerti saya. Sungguh kematian menjadi sebuah misteri dan pertanyaan bagi saya.

Pengertian Kematian

Kematian, mati atau meninggal, ketika mendengar kata-kata ini banyak sekali dari kita yang mengartikannya sebagai sesuatu yang menakutkan, menyedihkan dan lain sebagainya. Sebenarnya apakah arti kata dari kematian, mati atau meninggal bagi setiap orang? Umumnya orang akan mengartikan kematian sebagai akhir dari hidup, berhenti bernafas dan tidak bernyawa. Definisi kematian secara umum ini memang sudah dikenal pada zaman dahulu kala – mati diartikan sebagai terlepasnya nyawa dari tubuh. Namun definisi ini sangatlah abstrak, banyak orang yang masih mempertanyakan di manakah letak nyawa sesungguhnya di dalam tubuh. Sehingga perlu definisi yang lebih jelas mengenai kematian. Secara kronologis, definisi mati yang diusulkan oleh para ahli kedokteran yakni: berhentinya denyut jantung dan pernapasan, berhentinya fungsi otak (brain death). Kemudian seiring perkembangan ilmu kedokteran definisi ini berkembang lagi menjadi berhentinya fungsi batang otak (brain stem death). Sedangkan menurut PP No.18 tahun 1981, bab I pasal 1G menyebutkan bahwa, “Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernapasan, dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti.” Definisi ini merupakan definisi yang sah di Indonesia. Namun di kalangan dokter Indonesia menggunakan acuan “Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia tentang Mati” (Lampiran SK.PB IDI No.231/PB/A.4/07/90) yang isinya: Continue reading

Advertisements

Apa yang Menjadikan seorang Bodhisattwa?


By Shravasti Dhammika,

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Artikel saya tentang Dr. Ambedkar (16 Juni pada postingan blog) telah mengundang beberapa komentar yang menarik. Teck menunjukan bahwa sebagian “bodhisattwa” yang telah saya sebutkan itu (Gandhi dan Mother Teresa) memiliki kekurangan-kekurangan, dan saya sudah menjawab komentar ini. Richard telah bertanya, ‘Orang-orang kristen menganggap Bapa Damian sebagai seorang suci, Apakah Anda menganggap dia sebagai ‘bodhisattwa?’ Dua pertanyaan tersirat di sini, (1) Apa itu seorang bodhisattwa? dan (2) Bisakah seorang non-Buddhis, katakanlah Tao, Islam, Kristen, Yahudi atau Sikh, memenuhi syarat untuk menjadi seorang bodhisattwa? Saya akan memberikan tanggapan saya  mengenai masalah ini. Seorang bodhisattwa adalah seseorang yang berkomitmen penuh untuk mencapai pencerahan, sebut saja bakal Buddha jika Anda mau. Saya menafsirkan ini maksudnya seseorang yang secara mutlak melihat dengan jelas kebenaran, bagaimanapun mereka memahaminya. Seorang Hindu akan melihat yang mutlak sebagai Visnu atau Siva (baca:Wisnu atau Siwa), Kristen akan melihatnya sebagai Allah/Tuhan, Tao sebagai Yang Agung Tao dan Buddhis sebagai Nirwana. Dengan ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Visnu, Allah/Tuhan, Tao dan Nirwana adalah satu hal yang sama. Mereka berbeda. Tetapi pada tahap awal perkembangan seorang bodhisattwa, mereka mungkin melihat dengan baik kebenaran mutlak dalam hal kondisi  dan pemikiran awal pemahaman mereka. Hal ini secara bertahap akan memberikan jalan kepada suatu pemahaman yang lebih realistis ketika mereka menghampiri kebenaran mutlak itu. Continue reading