OUR FAITHFUL FRIEND


By U’un Arifien (Kwee Ping Oen)

A park in Guang Zhou-China 2016. Selfyparkit

A park in Guang Zhou-China 2016. http://www.Selfyparkit.wordpress.com

If you decide to sit and read this article in the terrace at home now, all of it is the result of your decision based on your own thoughts.

If you have decided not to come to your community group meeting now, it is your decision based on your own thoughts.

If you choose to wear red clothes now, it is the result of your own thoughts and decisions.

If you have a TV at home by 32 inches, it is the outcome of your mind when you choose to buy a TV.

Briefly, every step of our life is the result of the decision, every day, every hour, and every minute. We always think and make decisions whether right or not quite right decision.

Our minds dragged us every day, since we wake up until we go to bed at night.

Our minds are busy responding what goes through our senses, our eyes to see, our noses to smell, our ears to hear and we feel something or also touched something, our minds respond to keep us busy doing something. Continue reading

HIDUP ITU PROSES


Oleh U’un Arifien

Kalau saya ingat masa ketika perusahaan saya bangkrut sekitar tahun 1985, saya berpikir seakan dunia runtuh. Pikiran saya kalut dan setiap hari badan terasa panas dingin. Pokoknya saya merasa sengsara sekali, dan malu terhadap masyarakat Yogya yang waktu itu seakan-akan melihat saya dengan muka masam dan bibir mencibir. Saya pun malu terhadap karyawan saya yang berjumlah sekitar 100 orang, serta merasa kasihan terhadap anak-anak dan isteri saya. Tidak berhenti di situ, saya juga malu kepada semua teman dan famili, karena perusahaan yang dibanggakan akhirnya bangkrut. Belum lagi saya harus menghadapi tuntutan hukum dari rekan bisnis saya di Pengadilan Negeri Sleman. Di dalam kesulitan itu, saya hanya mempunyai tekad, saya harus survive, saya tidak boleh terpuruk berlama-lama.

Hal ini mudah ditulis, mudah dikatakan dan diceritakan, tetapi betul-betul amat sulit melakoninya. Peristiwa ini mengubah kepribadian saya menjadi seorang pemalu, minder, tidak senang bertemu orang, pokoknya saya merasa menjadi orang yang tersisih dan menyisihkan diri. Continue reading

LIFE IS A PROCESS


By U’un Arifien (Kwee Ping Oen)

translated by Selfy parkit, edited by Maurice P. Smith

 

If I remember the time when my company went bankrupt in 1985, I thought the world seemed to collapse. My mind was chaotic and every day my body felt cold and hot.

Anyway, at that time I felt very miserable and ashamed in the presence of the Yogya people who seemed to see me with a sour face and pouting lips. I was ashamed also in the presence of my employees who numbered about 100 people, and felt sorry for my children and my wife. It did not end there. I was also embarrassed in the presence of all my friends and relatives, because the company that was proud eventually went bankrupt. Moreover, I had to face the lawsuits from my business partner in Sleman District Court. In such a distressing situation, I was determined to survive. I must not collapse.

It is easy to write and to talk about, but it was really very difficult to do. This incident changed my personality. I became a shy person with little confidence and did not like to meet people. Anyway I felt marginalized and sidelined.

But life goes on, and after about 20 years later, I realized that I am still alive and still working. The people who I thought used to monitor me, were not. It was only my mind haunting me. Basically people do not really care; they have their own problems that they must solve.

After a while, a new problem arose when my beloved wife fell ill. My wife’s illness required me draining my energy, mind as well as finances because the treatment must be carried out at the Mount Elizabeth Hospital in Singapore. From 2002 I went to and fro Yogyakarta to Singapore for about four years, until November 11 2006 my wife passed away to the House of the Father in Heaven (death). Continue reading

Makhluk Kecil dan Dewa Hujan


Oleh Selfy Parkit

Aku sudah lama sekali hidup dan menetap di tempat ini. Selain nyaman, keadaan di tempat ini juga sepi, dan tiada satu pun makhluk raksasa yang menghuni. Sampai suatu ketika, datanglah makhluk raksasa pirang yang akhirnya menguasai wilayahku ini. Akhirnya, aku pun dipaksa mengungsi dan mencari tempat tinggal baru, karena makhluk raksasa itu telah menghancurkan rumahku, serta memisahkan aku dengan anak-anakku yang masih kecil. Saat itu aku tidak bisa menyelamatkan semua anak-anakku yang masih kecil, entah di mana keberadaan mereka, aku pun tidak mengetahuinya.

Ketika si raksasa memporakporandakan rumahku dengan menggunakan senjatanya, aku terpental jauh dan menempel di sebuah dahan. Aku menangis tersedu-sedu, namun si raksasa tentu saja tidak akan bisa mendengar suara tangisku, karena aku begitu kecil.

Makhluk yang kusebut raksasa ini memang mengerikan, mereka selalu saja merusak rumahku dan kaumku. Apakah mereka pikir rumah kami ini berbahaya? ataukah telah mengganggu kehidupan mereka? Mereka pikir kami mudah membuatnya! Padahal kaumku sama sekali tidak pernah mencari permusuhan dengan kaum mereka.

Continue reading

Ada Apa dengan Nanjing


Oleh Selfy Parkit

Tahun 2013 – 2014, saya mendapat kesempatan belajar bahasa Mandarin di China selama 2 semester, tepatnya di kota Nanjing Propinsi Jiang Su. Program belajar ini merupakan beasiswa yang diberikan oleh Sekolah Tinggi di China yang bernama Nanjing College Chemical and Technology (NCCT) 南京化工职业技术学院.

Gerbang Belakang NCCT

Gerbang Belakang NCCT

Di sekolah tersebut saya tinggal bersama 17 orang Indonesia lainnya (yang juga mendapatkan beasiswa belajar) di dalam satu gedung kos yang menurut saya lebih pantas disebut sebagai apartemen, karena ruangan dan kelengkapan di dalamnya lebih mewah dibandingkan dengan kos-kosan anak kampus umumnya, bahkan jauh melebihi kos-kosan orang Indonesia yang bersekolah dari kampus lain di sekitar kota Nanjing. (tunggu di tulisan berikutnya, check it out)

Pengalaman belajar di luar negeri adalah pengalaman pertama saya, dan masa-masa itu adalah kenangan yang tidak akan pernah lekang dari ingatan saya. Suka duka, hiru biru, sampai dengan cerita cinta dan kekonyolan yang kita lakukan di sana semua merupakan kenangan indah… indah…. indah…. yang sulit terucapkan oleh kata-kata dan untaian kata. Namun Saya ingin mencoba mengingatnya satu persatu dan membaginya untuk para pembaca, para teman dan sahabat yang juga ikut di dalamnya. Untuk itu, cerita ini akan di mulai ketika saat pertama kali saya mendapatkan beasiswa belajar di Nanjing.

di depan Gedung Perpustakaan NCCT

di depan Gedung Perpustakaan NCCT bersama 17 orang Indonesia penerima beasiswa dan Bapak Anwar wakil dari Kedubes Indonesia di China.

Continue reading

Mutiara di Dalam Lumpur


Oleh Selfy Parkit.

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Seorang anak kecil yang sedang membawa sekantong penuh gelas-gelas plastik bekas air mineral mencari orang yang mau menukarkannya dengan selimut untuk adiknya di rumah. Anak kecil tersebut berjalan menelusuri jalan sambil meminta-minta tolong kepada orang-orang yang ditemuinya. Jika saat itu anda yang dimintai tolong, apakah anda akan memberikan selimut anda kepada anak kecil tersebut? Bagaimana jika kebetulan anda sedang di luar rumah dan tempat tinggal anda jauh, apakah anda tetap akan memberikan selimut anda kepadanya? Apa pun jawaban anda, saya rasa kita harus tetap belajar banyak dari ibu Supratiwi yang akhirnya mau menolong anak kecil tersebut dan memberikan selimutnya dengan tulus dan ikhlas. Rabu 19 January 2011, salah satu program televisi “Tolong” telah menayangkan peristiwa yang mengharukan tersebut. Ibu Supratiwi seorang pemulung bersama kakek angkatnya yang sedang melintasi jalan, tak sengaja bertemu dengan anak dari tim Tolong tersebut. Rumahnya yang jauh tak menjadi alasan baginya untuk tidak menolong, bahkan tak segan-segan pula ia menawari makan dan niat memberikan uang kepada anak tersebut. Continue reading

Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita


oleh H. H. Dalai Lama

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort - Bali

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort – Bali -Selfyparkitpic

Ketika berakhirnya abad ke – 20, kita menemukan bahwa dunia telah semakin mengecil. Manusia di dunia telah hampir menjadi satu komunitas. Politik dan Alianansi (Persekutuan) militer telah menciptakan kelompok multinasional yang besar; industri dan perdagangan internasional telah melahirkan ekonomi global. Komunikasi di seluruh dunia melenyapkan pembatas jarak, bahasa dan ras. Kita juga terseret bersama oleh masalah besar yang kita hadapi yaitu: kelebihan penduduk, menipisnya sumber daya alam, dan krisis lingkungan yang mengancam udara, air, dan pepohonan, serta begitu banyak makhluk hidup yang menjadi pondasi penting keberadaan planet kecil yang kita tinggali bersama ini.

Saya percaya bahwa untuk menghadapi tantangan di zaman kita ini, umat manusia harus membentuk rasa tanggung jawab universal yang lebih kuat. Masing – masing kita harus belajar untuk bekerja  tidak hanya untuk dirinya, keluarga atau bangsanya sendiri, tetapi juga demi kepentingan seluruh umat manusia. Tanggung jawab universal adalah kunci nyata menuju kelangsungan hidup manusia. Ini merupakan pondasi/dasar terbaik untuk kedamaian dunia, penggunaan sumber daya alam yang wajar, dan dengan memperhatikan generasi mendatang, kepedulian terhadap lingkungan.

Itulah mengapa begitu melegakan melihat organisasi-organisasi non – pemerintah seperti kalian. Peran kalian dalam mengasah masa depan yang lebih baik sangat diperlukan. Saya telah melewati banyak organisasi seperti itu yang dibentuk oleh sukarelawan berdedikasi yang memiliki kepedulian yang tulus bagi sesama umat manusia. Komitmen seperti ini menggambarkan “garis depan” proses sosial dan lingkungan. Continue reading