Cara yang mudah dan sederhana untuk mengerti kewaspadaan/ Sati


Sumber oleh: Bhikkhu Vimalaramsi

Children retreat 2015, Bali-Indonesia

Children retreat 2015, Bali-Indonesia

Meditasi adalah “Memerhatikan dengan seksama bagaimana perhatian batin pindah dari satu momen ke momen lainnya, inilah Pokok Utama dari Meditasi Buddhis! Inilah sebabnya mengapa Sebab Musabab yang saling bergantungan sangatlah penting untuk dilihat dan dimengerti karena kita akan mengembangkan perspektif impersonal/tidak menganggap sebagai sesuatu yang pribadi, dengan semua fenomena yang muncul dan membawa meditator melihat sendiri secara alami segala hal yang terjadi.

Meditasi yang sukses membutuhkan kemampuan kewaspadaan yang dikembangkan dengan kemampuan tingkat tinggi. Pelatihan ‘6R’ yang diajarkan di Pusat Meditasi Dhammasukha adalah suatu sistem kuno yang digali kembali dengan mengembangkan kemampuan ini.

R yang pertama adalah RECOGNIZE (MENGENALI) tetapi sebelum kita melakukannya, seorang meditator haruslah mengumpulkan atau menggunakan kemampuan observasinya (kewaspadaan) agar siklus meditasi mulai berjalan.

Kewaspadaan adalah bahan bakarnya. Seperti bensin yang diperlukan untuk menyalakan mesin, tanpa kewaspadaan, semuanya berhenti! Dengan terus-menerus melakukan latihan ini, maka kita akan terlepas dari segala jenis penderitaan. Untuk memulai siklus ini dengan “lancar”, kita harus menyalakan mesin yang punya banyak isi bensin di tangkinya. Kewaspadaan mengingat kembali bagaimana seorang meditator dapat mengenali dan memerhatikan perubahan batin dari satu hal ke yang lainnya.

Observasi ini memerhatikan pergerakan perhatian batin dari objek meditasi, misalnya nafas, mengirimkan Metta/Cinta Kasih atau, melakukan tugas sehari-hari. Kita dapat memerhatikan sedikit sensasi ketegangan sewaktu perhatian batin mulai bergerak menuju suatu fenomena apa pun yang muncul. Perasaan yang menyenangkan atau menyakitkan dapat muncul di salah satu 6 pintu indra. Mungkin di penglihatan, suara, bau, rasa di lidah, sentuhan atau pikiran dapat memunculkan sedikit sensasi dan ketegangan dimulai. Dengan observasi hati-hati tanpa menghakimi, seorang meditator dapat memerhatikan sedikit sensasi ketegangan. Mengenali pergerakan awal sangatlah vital untuk suksesnya suatu meditasi.

Kemudian kita teruskan ke: RELEASE (MELEPASKAN): Jika satu perasaan atau pikiran muncul, maka meditator melepaskannya membiarkannya ada di sana tanpa memberikan perhatian tambahan padanya. Isi dari pengalihan itu tidaklah penting sama sekali tetapi cara bekerja BAGAIMANA ia muncul sangalah penting. Lepaskanlah ketegangan yang ada di seputarnya; biarkan ada di sana tanpa memberikan perhatian padanya. Tanpa diperhatikan, ketegangan akan pergi.

Kewaspadaan kemudian mengingatkan meditator untuk; RELAX (RELAKS): Setelah melepaskan perasaan atau sensasi, dan membiarkannya di sana tanpa mencoba mengontrolnya, ada sedikit sekali ketegangan di batin/badan. Inilah sebabnya mengapa langkah ekstra Relax (Melepaskan) ditunjukan oleh Buddha dalam instruksi meditasinya. HARAP JANGAN LEWATI LANGKAH PENTING INI! Bagaikan memberikan oli di mesin mobil sehingga mesinnya bisa berjalan dengan lancar.

Tanpa melakukan langkah relaksasi di setiap sesi meditasi, maka meditator tidak akan mengalami pemberhentian (terhentinya) ketegangan yang disebabkan oleh keinginan/merasakan rasa lega karena ketegangan direlakskan. Perhatian bahwa keinginan selalu muncul sebagai ketegangan di dalam batin dan badan. Seseorang akan mendapatkan kesempatan singkat untuk melihat dan mengalami berhentinya penderitaan secara alamiah (dari ketegangan dan penderitaan) selagi melakukan langkah MELEPASKAN/RELAX. Perhatikan rasa lega yang dirasakan. Kemudian kewaspadaan berpindah rekoleksi kepada; RE-SMILE (TERSENYUM KEMBALI): Bila anda telah mendengarkan Dhammadesana di www.dhammasukha.org, anda akan mengingat pernah mendengar betapa SENYUM adalah aspek yang penting dalam meditasi. Belajar untuk tersenyum dengan batin dan menaikkan sedikit sudut di mulut membantu batin lebih memerhatikan (observasi), sadar. Terlalu serius, menegangkan atau mengernyitkan alis membuat batin menjadi berat dan kewaspadaan seseorang menjadi tumpul dan lamban. Kejernihan batin menjadi sulit dilihat sehingga memerlambat pengertian seseorang akan Dhamma. Bayangkan sejenak, seorang Bodhisatwa muda beristirahat di bawah pohon jambu sewaktu ia masih kecil. Ia tidak serius dan tegang ketika ia mencapai kediaman yang menyenangkan (Jhana) dan mencapai ketenangan dengan batin yang ringan.

Ingin melihatnya dengan jelas? Sangatlah mudah! Santailah, nikmati eksplorasi itu dan tersenyumlah! Senyum membawa kita ke praktik yang lebih menarik dan bahagia. Bila seorang meditator lupa Melepaskan/Relax, maka malah bisa saja menghukum/mengkritik dirinya sendiri. Berbaik hatilah pada dirimu sendiri dan tersenyum lagi dan ulangi lagi.

Mempunyai rasa humor, rasa menikmati eksplorasi dan mengulangnya lagi sangatlah penting. Setelah tersenyum kembali, ketenangan mencapai langkah berikutnya. RETURN (KEMBALI): Dengan lembut menujukan perhatian batin kembali ke objek meditasi (yaitu nafas dan relaks, atau metta dan relaks), teruskan dengan batin yang lebih menyatu untuk menggunakan objek sebagai “markas asal”.

Dalam kehidupan sehari-hari, bila kita ditarik dari tugas kita, di sinilah kita mengembalikan perhatiannya kembali ke melepaskan, relaks dan tersenyum kembali. Kadang-kadang orang katakan latihan mengulang ini lebih mudah dari yang diharapkan! Dalam sejarah, hal-hal yang sederhana kadang menjadi suatu misteri lewat perubahan kecil! Melakukan kembali praktik ini mengembangkan fokus yang lebih efektif dalam tugas sehari-hari dengan ketegangan yang berkurang. Batin menjadi lebih seimbang dan bahagia secara alami. Meditator menjadi lebih efisien pada apa pun yang mereka lakukan dalam kehidupan mereka sehari-hari dan sesungguhnya, bisa lebih menikmati meditasi dari sesuatu hal yang membosankan dulunya.

Kewaspadaan menjadi suatu yang dicapai untuk: REPEAT (MENGULANG KEMBALI): Mengulang lagi semua siklus latihan ini secara keseluruhan dapat mencapai hasil yang Buddha katakan dapat dicapai dalam kehidupan ini! Mengulang kembali “siklus 6R” berulang-ulang dapat mengubah penderitaan yang menjadi kebiasaan lama seperti yang kita lihat dan alami sendiri apa sebenarnya penderitaan; perhatikan penyebabnya yang terbawa dari ketegangan jenis apa pun; mengalami bagaimana mencapai berhentinya penderitaan yang kita sebabkan sendiri. Ini terjadi setiap saat seseorang melepaskan suatu perasaan yang muncul, Rilekskan dan Tersenyum kembali. Perhatikan rasa leganya.

Sumber: Dhammasukha Meditation Center www.dhammasukha.org Dhammasukha Meditation Center & Anathapindika’s Park Complex 8218 County Road 204 Annapolis, Missouri MO 63620, USA Phone: 573-546-1214 Email: bhantev4u@dhammasukha.org Email: sisterkhema@yahoo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s