HIDUP ITU PROSES


Oleh U’un Arifien

Kalau saya ingat masa ketika perusahaan saya bangkrut sekitar tahun 1985, saya berpikir seakan dunia runtuh. Pikiran saya kalut dan setiap hari badan terasa panas dingin. Pokoknya saya merasa sengsara sekali, dan malu terhadap masyarakat Yogya yang waktu itu seakan-akan melihat saya dengan muka masam dan bibir mencibir. Saya pun malu terhadap karyawan saya yang berjumlah sekitar 100 orang, serta merasa kasihan terhadap anak-anak dan isteri saya. Tidak berhenti di situ, saya juga malu kepada semua teman dan famili, karena perusahaan yang dibanggakan akhirnya bangkrut. Belum lagi saya harus menghadapi tuntutan hukum dari rekan bisnis saya di Pengadilan Negeri Sleman. Di dalam kesulitan itu, saya hanya mempunyai tekad, saya harus survive, saya tidak boleh terpuruk berlama-lama.

Hal ini mudah ditulis, mudah dikatakan dan diceritakan, tetapi betul-betul amat sulit melakoninya. Peristiwa ini mengubah kepribadian saya menjadi seorang pemalu, minder, tidak senang bertemu orang, pokoknya saya merasa menjadi orang yang tersisih dan menyisihkan diri.

Tetapi kehidupan berjalan terus, dan tidak terasa setelah sekitar 20 tahun kemudian, disadari ternyata saya masih hidup dan terus berkarya. Masyarakat yang dulu saya pikir meneropongi saya, ternyata itu hanyalah pikiran saya saja yang menghantui diri saya sendiri. Pada dasarnya masyarakat tidak terlalu peduli, mereka punya masalah sendiri-sendiri yang harus mereka selesaikan.

Silih berganti, masalah baru pun muncul ketika istri yang saya cintai jatuh sakit. Sakitnya istri saya ini mengharuskan saya menguras tenaga dan pikiran serta materi yang tidak sedikit, karena pengobatan harus dilakukan di Mount Elizabeth Hospital di Singapura. Dari tahun 2002 saya mondar-mandir Yogyakarta–Singapura selama kurang lebih 4 tahun, sampai akhirnya tanggal 11 November tahun 2006 istri saya berpulang ke rumah Bapa di surga (meninggal dunia).

Saat itu saya pun merasa bahwa hidup ini benar-benar berat dan melelahkan, membutuhkan kesabaran, keberanian dan kekuatan mental yang rasanya tak tertahankan lagi. Namun, berkat banyaknya pengalaman pahit-manis, serta banyaknya dukungan dari teman dan saudara, bersamaan dengan alur kehidupan yang membawa saya mengenal meditasi dan pembelajaran mengamati masalah-masalah yang muncul dan lenyap, akhirnya saya berkesimpulan bahwa ternyata hidup ini adalah PROSES. Ya. hidup itu proses. Dari bayi berproses menjadi anak, kemudian menjadi remaja, dewasa, dan terus berproses sampai tua lalu mati.

Hidup itu proses

Semua peristiwa yang kita alami, baik maupun buruk, seharusnya kita sadari bahwa hidup itu proses, bukannya nasib yang sudah digariskan, bukan juga untung rugi. Ini adalah hukum perubahan dari sang kehidupan. Kalau kita menyadari dengan sungguh-sungguh, maka kita menjadi pribadi yang tegar karena sadar.

Contohnya, waktu perusahaan saya bangkrut, muncul di pikiran saya, “Kiamatlah sudah kehidupan saya”, maka saya jadi stres berat. Tetapi kalau saja waktu itu saya sadar bahwa hidup itu proses, mungkin saya akan mengatakan “Oh perusahaan saya bangkrut, oh…perusahaan saya sedang mengalami proses”. Kalau kita menganggap itu kerugian besar, maka kita jadi stres berat, bahkan tidak sedikit orang bisa jadi gila karena stres. Tetapi kalau kita melihatnya bahwa dalam hidup hal itu adalah proses perubahan yang alami, yang wajar sekali, tentunya kita tidak perlu sampai stres berat. Kenyataannya, setelah mengikuti proses kehidupan ini, 25 tahun kemudian siapa mengira saya masih bisa merasakan kebahagiaan yang memadai, dan artikel ini saya tuliskan pada bulan Maret 2013 (saya bersyukur kepada Tuhan hari ini saya masih bisa merayakan ulang tahun ke-80 dengan kesehatan yang cukup).

Andaikata kita sekarang atau nanti kehilangan pasangan tercinta karena mungkin meninggal, atau suami yang mungkin pergi tak akan kembali, kalau kita melihatnya sebagai korban kehidupan, maka kita akan stres sekali. Jika kita berpikir mungkin dahulu kita pernah jalan-jalan bersama keluar negeri, atau pernah bersama-sama mengunjungi rumah orangtua kita, dan pernah juga bercanda bersama anak-anak kita di masa yang lalu dan seterusnya, maka ujung-ujungnya kita merasa merana, sedih, menderita berat, stres dan menganggap diri kita ini adalah korban dari kehidupan atau korban dari perbuatan orang lain. Padahal kalau kita melihatnya bahwa hidup itu proses, maka kita masih bisa mengatakan “Oh ini aku lagi yang mendapatkan giliran proses.” Kita ikuti saja proses ini sampai di manapun kita lakoni.

Benar sekali bahwasanya petuah dari para Guru Kehidupan bahwa “Hidup kemarin itu sudah mati, sudah jadi sejarah, hidup besok masih mimpi dan selamanya tidak terjangkau karena ia selalu ada di depan kita, paling baik adalah menikmati hidup hari ini.”

Artinya, kalau kita berpikir yang sudah lalu, yang sudah lewat dan sudah tidak ada lagi, itu cuma mengembangkan ilusi yang membuat kita sedih, susah dan tak bermanfaat sama sekali. Demikian juga, jika kita berangan-angan yang akan datang, yang nanti, yang besok, semua itu juga membuang-buang energi percuma. Angan-angan itu tidak akan terjangkau karena ia selalu ada di depan.

Sadarlah bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal, perubahan-perubahan tersebut memang wajar dan alami. Kalau kita melihat kejadian-kejadian yang kita alami baik maupun buruk sebagai wajar saja, maka tidak akan timbul kekecewaan di dalam pikiran kita. Kita harus bangun, kita jangan terpuruk berlama-lama. Buatlah rencana yang bisa kita jalani, dan yang realistis. Ingat… ini semua hanyalah proses, nantinya akan jadi apa dan bagaimana, siapa yang tahu?

Orang yang selalu siap menerima perubahan, dialah pemenangnya.

Orang yang mampu sadar akan hidup di saat ini adalah orang yang paling berbahagia. Karena, “Good or Bad Who Knows?”

opa U'un

Disunting oleh Chuang

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s