Makhluk Kecil dan Dewa Hujan


Oleh Selfy Parkit

Aku sudah lama sekali hidup dan menetap di tempat ini. Selain nyaman, keadaan di tempat ini juga sepi, dan tiada satu pun makhluk raksasa yang menghuni. Sampai suatu ketika, datanglah makhluk raksasa pirang yang akhirnya menguasai wilayahku ini. Akhirnya, aku pun dipaksa mengungsi dan mencari tempat tinggal baru, karena makhluk raksasa itu telah menghancurkan rumahku, serta memisahkan aku dengan anak-anakku yang masih kecil. Saat itu aku tidak bisa menyelamatkan semua anak-anakku yang masih kecil, entah di mana keberadaan mereka, aku pun tidak mengetahuinya.

Ketika si raksasa memporakporandakan rumahku dengan menggunakan senjatanya, aku terpental jauh dan menempel di sebuah dahan. Aku menangis tersedu-sedu, namun si raksasa tentu saja tidak akan bisa mendengar suara tangisku, karena aku begitu kecil.

Makhluk yang kusebut raksasa ini memang mengerikan, mereka selalu saja merusak rumahku dan kaumku. Apakah mereka pikir rumah kami ini berbahaya? ataukah telah mengganggu kehidupan mereka? Mereka pikir kami mudah membuatnya! Padahal kaumku sama sekali tidak pernah mencari permusuhan dengan kaum mereka.

Sekarang aku kembali lagi ke rumah lamaku, karena aku lihat si raksasa tidak lagi berada di sini, dan tempat ini pun kembali begitu sunyi dan gelap. Namun kali ini aku memilih merajut benang-benangku di pepojokan dinding yang mulai agak berlumut. Selain udaranya dingin, di tempat ini pun banyak santapan yang datang, terjebak dan menempel di rumahku.

Sebenarnya sudah lama sekali aku mengincar bagian pojok ini. Namun, si raksasa pirang terlalu sakti dan selalu menciptakan hujan deras yang tentu saja bisa membuat rumahku hancur, dan membuatku jatuh ke sungai, lalu masuk ke dalam lubang yang gelap, kemudian akhirnya mati.

Sejak si raksasa pirang itu tidak ada lagi, aku bisa bebas melakukan apa pun. Horree akhirnya tempat ini benar-benar sepenuhnya milikku, pikirku. Namun, ternyata…

Dua minggu sebelumnya

“Hi, Ms. Sarah are you leaving Bali today?”, tanya seorang tetangga kamar sebelah Sarah, guru preschool berkebangsaan Austria. Dengan bahasa Indonesianya yang masih terbata-bata Sarah pun menjawab. “Oh yeah, saya harus pulang, karena kontrak saya sudah habis.” “Tapi nanti akan ada guru baru dari Indonesia yang akan menggantikan saya.” Katanya melanjutkan. “Wah, kapan datangnya Ms?” Tanya tetangganya lagi. “Wah kalau itu saya kurang tahu, mungkin sekitar satu atau dua minggu lagi, itu kan tergantung perjanjian dia dengan pihak sekolah….”

Sarah diam sejenak lalu melanjutkan, “Saya mau bersih-bersih dulu ya, sebelum nanti pihak sekolah memeriksa.” Sambil mengambil sapu ijuk yang ada di halaman, Sarah kembali menuju kamarnya. Kemudian ia mulai menyapu kamarnya, dan mengelap debu-debu yang ada di atas meja, tempat ia bekerja mengerjakan tugas sekolah sehari-harinya.

Terlihat olehnya di pojok dinding dekat lemari baju ada sarang laba-laba yang cukup membuat tangannya gatal ingin membersihkan. Kebiasaannya tinggal di tempat bersih, membuat dia rajin bersih-bersih. Sebelumnya pun, ketika pertama kali ia menempati kamar itu, dia sudah berhasil membuat kamar mandi yang berlumut bersih seketika. Namun sarang laba-laba itu ternyata selama ini luput dari pengelihatannya. Mungkin karena pekerjaannya yang terlalu padat membuat dia tidak lagi melihat bagian-bagian pojok kamarnya.

Diangkatlah ke atas sapu ijuk yang ada di genggamannya. Dibersihkanlah sarang laba-laba itu hingga tuntas. Sebagian sarang menempel di sapu ijuknya, dan sebagian lagi jatuh di lantai. Sarah pun keluar kamarnya dan mengeprik-ngeprik membersihkan sapu ijuknya. Kemudian, ia kembali lagi ke dalam kamarnya, membersihkan sisa kotoran dan melanjukan menyapu lantai.

Setelah satu jam membersihkan kamarnya, Sarah berpamitan kepada tetangganya itu. Sambil membawa koper besar, ia pun menyerahkan kunci kamarnya kepada HRD pihak sekolah. “Kapan guru baru itu akan menempati kamar ini pak?”, tanya Sarah. “Oh kemungkinan dua minggu lagi Ms.” Kata si bapak HRD, sambil membantu Sarah mengangkat koper-kopernya ke dalam taksi. “Take care ya Ms!” “Terima kasih banyak pak.” seru Sarah sambil melambaikan tangannya, dan taksinya pun melaju cepat menuju bandara Ngurah Rai.

***

Kali ini raksasa yang datang bukan lagi berwarna pirang, bulu kepalanya hitam hampir sama seperti aku. Ketika ia datang dan memandang rumahku, aku bisa melihat bola mata besarnya yang berwarna coklat terang dan warna putih mengelilingi pinggirnya. Aku takut bukan main, aku hanya diam dan berpura-pura mati, aku berharap si raksasa tidak akan menciptakan hujan deras yang dapat merusak rumahku.

Aku rasa tipu muslihatku berhasil, dan si raksasa tidak mengarahkan benda yang mampu menciptakan hujan deras itu ke rumahku, melainkan ke seluruh badannya.

Si raksasa rupanya sering memerhatikan aku, dan aku hanya terdiam. Awalnya aku hampir mati ketakutan, tapi lama kelamaan rupanya si raksasa ini hanya senang melihatku saja. Sejak itu aku jadi sering memerhatikannya juga, aku pun selalu tahu kapan saja dia akan datang dan melihat rumahku. Biasanya si raksasa datang satu kali di pagi hari, dan beberapa kali di malam hari, tetapi dia hanya akan memerhatikan aku dan rumahku sekali saja di malam hari.

Terkadang tiap kali si raksasa itu datang melihatku, ia seakan mengajakku berbicara yang tentu saja aku tidak mengerti. Walaupun begitu, aku dapat merasakan kalau dia tidak bermaksud jahat kepadaku. Ketika si raksasa berbicara, suaranya tidak begitu menggelegar, tetapi lain halnya ketika dia sedang menciptakan hujan, suaranya bising dan terdengar ribut. Anak-anakku yang sedang tidur pun bisa terbangun karenanya. Untunglah itu hanya dua kali dalam sehari dan sebentar saja.

Aku pun hidup dengan nyaman, aman dan damai di dalam rumahku. Makanan dari mangsa yang terjebak pun datang berlimpah, mulai dari para semut, bangsa nyamuk, dan para serangga kecil, semuanya bisa aku simpan sebagai cadangan makanan sehari-hari. Aku membutuhkannya untuk anak-anakku yang baru aku tetaskan.

Mengetahui aku hidup dengan damai di tempat ini, laba-laba jantan yang dulu pernah tinggal di ranting-ranting pohon bersamaku, ikut pindah dan menemaniku di sini. Aku sekarang memiliki keluarga, aku tinggal satu rumah dengan dua puluh anak-anakku yang masih kecil dan seekor laba-laba jantan yang menjadi pasanganku.

Waktu pun berlalu, anak-anakku sudah semakin besar. Seperti halnya bangsa laba-laba, mereka pun pergi ke tempat lain tak jauh dari rumahku dan membuat rumah baru. Ada juga yang membuat rumah dekat dengan tempat tinggalku. Rupanya anak-anakku yang tinggal bersamaku, merasa bahagia dan ingin juga diperhatikan oleh si raksasa.

Si raksasa sudah seperti dewa bagi kami, karena ia begitu baik membiarkan keluargaku tinggal dan hidup bersamanya. Aku memanggilnya dewa hujan, karena ia sering sekali menciptakan hujan dan membuat sungai di bawah tempat tinggal kami. Aku selalu mengingatkan anak-anakku untuk selalu berhati-hati, “Jika dewa hujan sedang menciptakan hujan kalian harus berpegangan erat pada rumah kalian.” begitu kataku.

Walaupun kaumku mampu mengeluarkan senjata dari bawah tubuh kami, yang selain kami gunakan untuk membuat rumah, juga membuat kami berayun dan berpindah ke lain tempat dengan cepat, kami harus waspada. Karena jika jatuh dan sedikit saja terlambat, kita bisa saja terbawa arus dan masuk ke dalam lubang gelap aliran sungai. Tempat itu pasti sangat berbahaya dan menakutkan, kami pun bisa mati karenanya. Walaupun begitu aku dan keluargaku sudah merasa nyaman dan tidak mau berpindah dari sini.

Artist oleh Vareen Augustine (copy right Insight Vidyasena Production)

Artist oleh Vareen Augustine

Sudah lama sekali dewa hujan kami tidak lagi membuat bising dan mengajak kami berbicara. Aku pun merindukan tatapan hangatnya, dan sering memerhatikannya dari kejauhan. Suatu hari ia datang, dan Aku melihat bola matanya basah lalu keluar air, seperti air terjun deras. Tubuhnya pun kelihatan menyusut, dan mengecil. Kemudian anehnya lagi, beberapa waktu aku perhatikan bulu-bulu hitam di kepalanya banyak berjatuhan di sungai ketika ia sedang menciptakan hujan dan membasahi tubuhnya. Sebelumnya aku tak pernah melihatnya seperti itu.

Siang berganti malam, malam berganti siang. Aku hanya bisa menikmati santapanku dan bermain bersama keluargaku. Dewa hujan kami tidak pernah muncul lagi, sungai di bawah selalu kering dan tidak mengalir sedikit pun. Aku sudah semakin tua, anak-anakku pun sudah mandiri dan dapat mencari makanannya sendiri. Tempat tinggal ini kembali sunyi dan sepi, sampai akhirnya….

***

Tiga bulan sebelumnya

“Halo Sir! Tinggal di sebelah ya?” Tanya seorang perempuan muda sambil menyeret tas besar di belakangnya. “Hi, hallo kamu guru baru penggantinya Ms. Sarah ya?” “Iya benar, perkenalkan nama saya Asrid asal dari Malang.” “Salam kenal Ms. Astrid, saya Nanda asli Bali tapi keluarga tinggal jauh di Singaraja, jadi terpaksa harus tinggal di mess sini.” Seru Nanda sambil menyodorkan tangannya seraya memberi salam. “Oh, btw kamar saya yang mana ya Sir?” “Kamar kamu ini nih tepat di sebelah saya, tadinya itu kamar saya, dan kamar yang saya tempatkan ini bekas kamarnya Ms. Sarah. Sini saya bantu!” sambil menyingsingkan lengan mengangkat koper, Nanda pun melanjutkan omongannya, “Sebelumnya saya kepingin dapat kamar yang itu, karena bisa langsung menikmati matahari terbit dari jendela kamar. Tapi karena sudah ditempati Sarah ya akhirnya saya ambil yang di sebelahnya, tapi sayang pintunya menghadap ke arah Barat. Karena kamu datang dua minggu lagi dan kebetulan telat dua hari, jadi saya berinisiatif pindah kamar saja, sekalian bantuin bersihkan kamar Ms.Sarah. Karena saat liburan pajang biasanya petugas bersih-bersih mess libur juga. Sebenernya pas Ms. Sarah pergi, ia sudah bersihkan kamarnya buat kamu, tapi dua minggu ditinggalkan kamar itu kotor lagi, berdebu dan banyak sarang laba-labanya. Kan kasihan sudah datang jauh-jauh dari Malang sampe sini harusnya bisa beristirahat, eh ini harus bersih-bersih kamar….”

“….Oke, Kamar saya ini sudah saya bersihkan.” Seru Nanda sambil meletakkan koper Astrid dan memberikan kunci kamarnya. “Ini kuncinya, dan selamat beristirahat!”.  Selepas senyuman hangat dan kata terima kasih dari Astrid, Nanda pun kembali ke kamarnya, dan bergegas untuk mandi.

Di dalam kamar mandi, seperti biasa dia membunyikan lagu di handphonenya dan mulai bersenandung layaknya seorang penyanyi. Kebiasaannya itu sudah hobinya dari sejak dulu. Walaupun suaranya agak terdengar sumbang, namun tak ada satu pun orang yang bisa menghentikannya.

Selesai membersihkan tubuhnya, Nanda mengarahkan pandangannya ke pojok tembok dekat dengan shower kamar mandinya. Di sana ada sarang laba-laba lengkap dengan isinya yang kemarin tidak dia bersihkan, dan dia biarkan saja menetap di sana, “Hi laba-laba kecil selamat tinggal bersama.” ucapnya dengan suara pelan. “Satu kehidupan hampir berakhir, tidak benar jika mengakhiri kehidupan makhluk lain.” Lirih suara hatinya, namun Nanda tetap tersenyum.

Dua bulan sebelumnya

“Hi Ms. Asrid, pagi-pagi begini sudah rapih Mau pergi kemanakah?” Tanya Nanda sambil menyeruput secangkir tehnya. “Wah asik ya yang lagi santai di depan kamar!…” Ledek Asrid sambil senyum-senyum, “…Aku mau beribadat. Mr. ga kemana-kemana nih?”, tanyanya basa-basi. “Oh weekend ini aku tidak pulang ke Singaraja, cape dari Denpasar ke sana, apalagi hari ini ada jadwal ketemu dokter, temanku.” “Wah weekend kok malah ketemu dokter! Hahaha Oke aku berangkat dulu ya Sir Nanda” cengir Astrid, sambil bergegas memanggil taksi.

Nanda pun masuk ke kamarnya dan bergegas mandi. Di kamar mandi, yang juga merupakan studio karaokenya itu, masih bertengger sarang laba-laba yang sudah sebulan dia biarkan. Namun kali ini sarang laba-labanya bertambah luas dan agak berbeda. Di lihatnya lebih dekat, dan ternyata ada banyak bayi laba-laba yang baru menetas dari telurnya. Nanda tersenyum, “Hi ternyata kamu baru saja menetaskan anak-anak kamu!” dalam hatinya berbisik, “Satu kehidupan berakhir, kehidupan baru bermunculan.” gundah dalam hatinya, namun Nanda masih tersenyum.

Sebulan sebelumnya.

‘Tok… tok… tok, Pak Nanda! Pak Nanda!”. “Tunggu sebentar!” Nanda pun membukakan pintu kamarnya, “Silakan duduk pak!” Kepala personalia itu pun duduk dan menghela nafas panjang, “Sudah siap pak Nanda?” tanyanya memastikan, “Iya pak itu kopernya.” “Pak Nanda, saya mau minta maaf jika pernah berbuat salah.” Kata bapak HRD dengan muka menyesal. “Ah… si bapak ini bicara apa! Saya yang harus minta maaf jika ada salah.” jawab Nanda sambil duduk di satu sisi. “Kenapa pak Nanda tidak dari awal mengatakan berita itu kepada kami, dengan begitukan tindakan lebih awal malah lebih baik.” “Tidak menurut saya pak.” Jawab Nanda yakin, sambil tersenyum ia melanjutkan, “Saya tahu, kalau penyakit saya tidak bisa disembuhkan. Walaupun dilakukan operasi, kemungkinannya cuma dua. Pertama, kemungkinan besar operasi tidak akan berhasil, dan saya akan dengan cepat pindah alam. Kedua kemungkinan kecil saya hidup dengan keadaan koma atau cacat.” “Tapi kan ada kemungkinan kecil untuk hidup, kenapa tidak dicoba pak?” bapak HRD seakan ingin memotivasi Nanda bahwa sekecil apa pun kemungkinan itu tidak boleh disia-siakan dan berhenti berjuang. “Saya tidak mau menyusahkan banyak orang pak. Sangat jarang sekali orang yang menderita kanker otak dapat disembuhkan.” Jawabnya lagi pesimistik, “Saya tidak ingin semua orang mengeluarkan segala daya upaya, materi, tenaga dan sebagainya hanya untuk berusaha menyembuhkan saya. Saya hanya ingin menikmati sisa waktu saya, bersama murid-murid saya dan keluarga saya.” Bapak HRD tidak bisa berkata-kata lagi, matanya sudah berkaca-kaca, turut prihatin dengan keadaan Nanda.

“Okay pak saya mandi dulu sebelum berangkat.” ucap Nanda mengakhiri percakapannya sembari menaikan punggungnya. “Kalau begitu saya bantu bawakan kopermu ke dalam mobil ya!” pinta bapak HRD. “Wah terima kasih pak, maaf merepotkan.” “Ah tidak masalah itu, Kita sudah sepuluh tahun berkerja sama, toh baru sekali ini saya membantu bapak membawakan koper, hehehe.” Kata bapak HRD sambil berjalan keluar menuju mobil.

Nanda pun masuk ke kamar mandinya. Ia tertunduk, merengkuh dan seketika perasaannya hampa. Di pikirannya hanya ada keluarganya, orang-orang yang ia sayangi, mereka yang akan ia beritahu mengenai berita akhir hidupnya. Entah apa reaksi mereka, ibu dan ayahnya, adik-adiknya, kakak-kakaknya, Nanda hanya bisa pasrah. Tiga puluh tahun telah ia jalani, sudah melakukan apa ia untuk keluarga, sudah memberikan apa ia untuk kedua orang tuanya. Hatinya terasa perih, dadanya terasa sesak. Belum cukup rasanya ia membahagiakan kedua orang tuanya, terlalu singkat lirihnya dalam hati. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Disiramnya wajah letihnya itu dengan air, rambutnya pun mulai berjatuhan. ‘Sudah stadium akhir’, bisiknya dalam hati ‘waktuku tak banyak lagi.’

Pagi hari.

“Siang Pak HRD, liburan semester ini saya boleh pindahan ke kamarnya Mr. Nanda?” Tanya Astrid menyampaikan maksudnya. “Oh Ms. Astrid mau pindah kamar? Tapi kamarnya itu belum dibersihkan sejak pak Nanda pergi loh Ms!” jawab bapak HRD. “Tidak masalah pak, kalau diijinkan, saya yang nanti akan membersihkannya.” “Oh okay kalau begitu, sebentar saya ambil kuncinya dulu ya.”

Siang hari.

Aku baru saja selesai menyantap makan siangku bersama pasanganku. Anak-anakku pun sepertinya sedang istirahat. Ketika aku mulai mengistirahatkan mataku, terdengarlah suara gaduh di luar sana. Suara di luar sana berisik sekali, pendengaranku yang sudah semakin buruk pun, dapat mendengarnya. Tenyata ada raksasa lain yang masuk ke dalam wilayah tempat tinggalku. Pengelihatanku yang sudah semakin kabur tidak bisa melihat jelas seperti apa sosok raksasa ini, yang terlihat olehku hanyalah tubuh besarnya, bulu kepalanya yang panjang dan ia sedang melihat ke arahku.

Apakah dewa hujan kami telah kembali lagi? Terbersit harapan di dalam hatiku, yang sejenak saja membuatku bergembira. Si raksasa itu pun mengambil alat pencipta hujan yang ada jauh di pinggir atas rumahku. “Apa yang akan dia lakukan?” batinku. Sejenak saja hujan deras layaknya tsunami menghantam seluruh tempat tinggalku, menyapu bersih anak-anakku yang sedang beristirahat. Aku, pasanganku dan semua anak-anakku yang tinggal bersamaku jatuh ke dalam sungai yang mengalir kencang. “Oh tidak, anak-anak keluarkan senjata kalian dan berayunlah” Aku berteriak sejadi-jadinya. Namun aliran sungai terlalu deras, aku pun tak dapat menyelamatkan diriku. Pasanganku sudah lebih dahulu jatuh ke dalam lubang gelap itu, lalu menyusul aku dan anak-anakku.

Di dalam lubang gelap itu, aku tenggelam terbawa arus jauh entah kemana. Aku hanya berharap anak-anakku yang lain bisa selamat. Semoga saja si raksasa tidak menemukan tempat tinggalnya. Kami tenggelam selama beberapa jam, aku sudah tidak bisa melihat keluargaku lagi, kita terpencar entah ada di mana dan aku sekarat. “Raksasa itu bukan si Dewa hujan” batinku. “Ia tak mungkin menyakiti aku dan anak-anakku.”

Remang-remang cahaya matahari menyelinap masuk ke mataku dan masih kukenali. Serangga kecil yang melewatiku menertawai aku, para bangsa nyamuk yang melihat keadaanku menyumpahiku agar cepat mati. Seketika semua menjadi gelap kembali, selamat tinggal anak-anakku, selamat tinggal Dewa hujan, aku berdoa memohon semoga kau menyelamatkan anak-anakku.

Sore hari.

“Wah Ms. Astrid, sambil nyanyi-nyanyi begitu kelihatan seneng bener! sudah bersih toh kamarnya?” sapa bapak HRD. “Eh pak Anom, sudah donk pak. Besok kan hari kedua liburan semester, saya mau santai. Hahaha” celoteh Astrid sambil tertawa nyaring.  “Ga pulang kampung toh Ms?” tanyanya lagi “Hemat biayalah pak, lagian tinggal di tempat pariwisata kan bisa sekalian menghabiskan liburan.” “Oke deh kalau begitu selamat berlibur ya Ms!” seru pak kepala personalia sambil meninggalkan mess sekolah, langkahnya mantap hingga ia tak menyadari kalau kakinya telah menginjak beberapa anak laba-laba yang masih terjerat di sarangnya sendiri. “Crettt” kira-kira begitulah bunyinya.

***

“Cerpen ini didedikasikan sebagai pelimpahan jasa untuk Almarhum tercinta bapak dari penulis.”

Cerita ini terdapat di dalam buku MISTERI PENUNGGU POHON TUA, SERI KUMPULAN CERPEN BUDDHIS yang telah diterbitkan oleh:

Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka
Jl. Kenari Gg. Tanjung I No. 231
Telp. 0274 542 919
Yogyakarta 55165
Cetakan Pertama, Mei 2015

Buku Tidak diperjualbelikan, jika berminat harap menghubungi penerbit.

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi
buku dalam bentuk apa pun tanpa seizin penerbit.

MISTERI PENUNGGU POHON TUA
SERI KUMPULAN CERPEN BUDDHIS

Ukuran Buku Jadi : 130 x 185 mm
Kertas Cover : Art Cartoon 210 gsm
Kertas Isi : HVS 70 gsm
Jumlah Halaman : 112 halaman
Jenis Font : Segoe UI
Mountains of Christmas
Rawengulk Sans

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s