Mutiara di Dalam Lumpur


Oleh Selfy Parkit.

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Water Lily flower, Brahmavihara Arama Singaraja-Bali -SelfyParkit

Seorang anak kecil yang sedang membawa sekantong penuh gelas-gelas plastik bekas air mineral mencari orang yang mau menukarkannya dengan selimut untuk adiknya di rumah. Anak kecil tersebut berjalan menelusuri jalan sambil meminta-minta tolong kepada orang-orang yang ditemuinya. Jika saat itu anda yang dimintai tolong, apakah anda akan memberikan selimut anda kepada anak kecil tersebut? Bagaimana jika kebetulan anda sedang di luar rumah dan tempat tinggal anda jauh, apakah anda tetap akan memberikan selimut anda kepadanya? Apa pun jawaban anda, saya rasa kita harus tetap belajar banyak dari ibu Supratiwi yang akhirnya mau menolong anak kecil tersebut dan memberikan selimutnya dengan tulus dan ikhlas. Rabu 19 January 2011, salah satu program televisi “Tolong” telah menayangkan peristiwa yang mengharukan tersebut. Ibu Supratiwi seorang pemulung bersama kakek angkatnya yang sedang melintasi jalan, tak sengaja bertemu dengan anak dari tim Tolong tersebut. Rumahnya yang jauh tak menjadi alasan baginya untuk tidak menolong, bahkan tak segan-segan pula ia menawari makan dan niat memberikan uang kepada anak tersebut. Keharuan peristiwa ini tidak hanya berhenti sampai situ saja. Supratiwi dan suaminya yang juga sesama pemulung tinggal di salah satu gubuk milik juragan pemulung di pinggir rel kereta api. Pendapatannya dari memulung sampah sehari-hari paling besar cuma 20.000 rupiah saja, itu juga terkadang mereka harus makan nasi sebungkus berdua. Anak pertamanya dititipkan di Panti Asuhan, dan ia yang tengah mengandung anak keduanya yang saat ini berusia 7 bulan masih saja harus bekerja memulung sampah setiap harinya. Terlebih lagi Supratiwi dan suaminya sama-sama sebatang kara dan tidak diakui sebagai anak oleh kedua orang tuanya, karena tidak mendapat restu menikah. Pada saat tim Tolong datang menemui Supratiwi di gubuknya, dan memberikannya uang, Supratiwi sempat menangis haru. Tak lama setelah mengatakan alasannya menolong anak tersebut, rasa syukur yang seketika menyeruak di dalam dirinya dan membuatnya jatuh pingsan. Suami dan para tetangga menghampirinya, tangis haru tidak hanya mengalir dari kedua mata suaminya, tetapi juga para tetangga yang sering dibantunya. Dengan mata yang masih basah Supratiwi dan suaminya sama-sama mengungkapkan perasaannya di layar kaca terhadap kedua orang tuanya agar mau merestui pernikahannya dan mengakui mereka kembali sebagai anak. Walaupun kondisi kehidupannya cukup memprihatinkan dan kesulitan ekonomi begitu menghimpitnya, namun tidak serta merta membuat Supratiwi berhenti peduli terhadap orang lain. Ia tetap saja ringan tangan terhadap siapa pun, bahkan para tetangganya. Merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya, hal itulah yang semata-mata membuat hatinya tergerak. Bagaimana jika orang yang sedang menderita itu adalah anak anda? Saudara anda atau anda sendiri? Begitulah yang dirasakan Supratiwi – merasakan penderitaan orang lain dengan hatinya sebagai penderitaan diri sendiri. Ia bagaikan mutiara yang berada di dalam lumpur, sekotor apa pun lumpur tersebut menutupinya, mutiara tetap saja berharga. Supratiwi adalah guru bagi kita semua, yang walaupun keadaan hidupnya susah namun masih saja tetap peduli terhadap kebahagiaan orang lain. Di akhir cerita, Supratiwi dan suaminya pun mengunjungi anak laki-lakinya di Panti Asuhan. Berbekal uang yang diberikan tim Tolong kepadanya, membuatnya mampu membelikan pakaian baru untuk anaknya dan menitipkan biaya sekolah anaknya. Bahagia pun terlihat meliputi wajah mereka. Terlebih wajah Supratiwi yang memiliki hati seindah mutiara di dalam lumpur.

Note: Terlepas dari program TV yang sekarang ini banyak merekayasa kisah pada program reality show, setidaknya kisah ini bisa kita jadikan pembelajaran.

(Artikel ini telah penulis publish sebelumnya pada alamat website lama penulis di tahun 2011. Mengingat penulis sudah menutup alamat website penulis, dan dikarena isinya menginspirasi jadi artikel ini penulis publish kembali di alamat blog saat ini – Semoga Bermanfaat dan Menginspirasi).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s