Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita


oleh H. H. Dalai Lama

Terjemahan oleh Selfy Parkit

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort - Bali

Sunset @Jimbaran Intercontinental Resort – Bali -Selfyparkitpic

Ketika berakhirnya abad ke – 20, kita menemukan bahwa dunia telah semakin mengecil. Manusia di dunia telah hampir menjadi satu komunitas. Politik dan Alianansi (Persekutuan) militer telah menciptakan kelompok multinasional yang besar; industri dan perdagangan internasional telah melahirkan ekonomi global. Komunikasi di seluruh dunia melenyapkan pembatas jarak, bahasa dan ras. Kita juga terseret bersama oleh masalah besar yang kita hadapi yaitu: kelebihan penduduk, menipisnya sumber daya alam, dan krisis lingkungan yang mengancam udara, air, dan pepohonan, serta begitu banyak makhluk hidup yang menjadi pondasi penting keberadaan planet kecil yang kita tinggali bersama ini.

Saya percaya bahwa untuk menghadapi tantangan di zaman kita ini, umat manusia harus membentuk rasa tanggung jawab universal yang lebih kuat. Masing – masing kita harus belajar untuk bekerja  tidak hanya untuk dirinya, keluarga atau bangsanya sendiri, tetapi juga demi kepentingan seluruh umat manusia. Tanggung jawab universal adalah kunci nyata menuju kelangsungan hidup manusia. Ini merupakan pondasi/dasar terbaik untuk kedamaian dunia, penggunaan sumber daya alam yang wajar, dan dengan memperhatikan generasi mendatang, kepedulian terhadap lingkungan.

Itulah mengapa begitu melegakan melihat organisasi-organisasi non – pemerintah seperti kalian. Peran kalian dalam mengasah masa depan yang lebih baik sangat diperlukan. Saya telah melewati banyak organisasi seperti itu yang dibentuk oleh sukarelawan berdedikasi yang memiliki kepedulian yang tulus bagi sesama umat manusia. Komitmen seperti ini menggambarkan “garis depan” proses sosial dan lingkungan.

Terserah kita suka atau tidak, kita telah dilahirkan di dunia ini sebagai bagian dari satu keluarga besar. Kaya atau miskin, berpendidikan atau terbelakang, menjadi milik suatu bangsa, agama, ideologi atau yang lainnya, pada akhirnya masing – masing dari kita hanyalah seorang manusia biasa seperti yang lainnya. Kita semua menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Lagi pula, masing – masing dari kita memiliki hak yang sama untuk mengejar kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Saat anda menyadari semua makhluk adalah sama dalam hal ini, anda akan otomatis merasakan empati dan kedekatan pada mereka. Di luar ini semua, pada gilirannya, muncul rasa tanggung jawab universal sejati – keinginan untuk secara aktif membantu sesama melewati semua masalah mereka.

Kebutuhan akan rasa tanggung jawab universal muncul di setiap aspek kehidupan modern. Pada masa kini, suatu kejadian yang signifikan di satu sisi bagian dunia akhirnya memengaruhi seluruh planet. Oleh karena itu, kita harus memperlakukan setiap masalah besar yang bersifat lokal sebagai urusan global, dari saat masalah tersebut dimulai. Kita tidak bisa lagi meminta dinding pembatas nasional, rasial (berdasarkan cirri-ciri fisik, ras, bangsa, suku bangsa, dsb) dan ideologi yang memisahkan kita tanpa reaksi yang merusak. Dalam konteks rasa saling ketergantungan kita yang baru ini, mengingat ketertarikan kita kepada yang lain adalah jelas –jelas merupakan bentuk terbaik dari kepentingan pribadi (self – interest).

Kita perlu menghargai rasa saling ketergantungan akan alam jauh lebih dari yang pernah kita lakukan pada masa lalu. Kekelirutahuan kita akan hal ini adalah tanggung jawab secara langsung pada banyak masalah yang kita hadapi sekarang. Contohnya, “menyadap” sumber daya alam yang terbatas di bumi kita — terutama di negara-negara berkembang — hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, adalah bencana. Jika ini berlanjut tanpa perbaikan, pada akhirnya kita semua akan menderita. Kita harus menghormati keseimbangan hidup dan memberinya kesempatan memperbaiki dirinya sendiri.

Kekelirutahuan akan sifat yang saling bergantung ini tidak hanya akan merugikan lingkungan alam, tapi juga kehidupan sosial manusia. Bukannya saling menjaga satu sama lain, kita malah banyak menempatkan hasrat kita akan kebahagiaan dengan mengejar materi untuk kepentingan pribadi. Kita menjadi begitu terpikat  dalam pengejaran ini hingga tanpa menyadarinya, kita telah lalai mengembangkan kebutuhan paling dasar manusia akan cinta, kebaikan dan kebersamaan. Ini betul-betul menyedihkan. Kita harus mengingat apa  sebenarnya kita sebagai manusia. Kita bukanlah benda-benda yang dibuat oleh mesin. Bagaimanapun, karena kita bukanlah makhluk materi semata, adalah merupakan kesalahan untuk mencari pemuasan  eksternal saja.

Untuk mencapai pertumbuhan yang tepat, kita perlu memperbarui komitmen kita pada nilai-nilai manusia dalam banyak bidang. Kehidupan politik, tentu saja, membutuhkan etika sebagai pondasi, tapi ilmu pengetahuan dan agama, juga sebaiknya, harus dikejar dengan moral sebagai dasarnya. Tanpanya para ilmuwan tidak bisa membedakan antara teknologi yang menguntungkan dan yang memang bermanfaat. Kerusakan lingkungan di sekitar kita adalah hasil yang paling jelas dari kebingungan ini. Dalam hal agama, tentu saja moral diperlukan.

Tujuan suatu agama adalah tidak untuk membuat bangunan yang indah, tapi untuk menumbuhkan kualitas positif manusia seperti toleransi, kemurahan hati dan kasih sayang. Setiap agama di dunia, tidak perduli apa filosofi yang dimilikinya, didirikan pertama kali dan yang terutama atas aturan bahwa kita harus mengurangi keegoisan kita dan melayani sesama. Sayangnya, terkadang dalam nama agama, orang mengakibatkan lebih banyak perselisihan daripada pemecahan masalah. Para praktisi dengan keyakinan yang berbeda harus menyadari bahwa setiap tradisi agama memiliki nilai hakiki yang besar yang dimaksudkan untuk mendukung kesehatan mental dan spiritual.

Saya telah sangat berbesar hati  mengikuti perkembangan terakhir dalam pencarian perdamaian antara warga Israel dan Palestina. Gencatan senjata kedua pihak, dan berbicara secara langsung adalah, menurut pendapat saya, satu-satunya cara untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Kita harus belajar hidup bersama dalam jalan tanpa kekerasan yang dapat memelihara kebebasan semua orang.

Ada sebuah syair luar biasa dalam Alkitab tentang mengubah pedang menjadi mata bajak. Itu sebuah gambaran yang indah, sebuah senjata berubah menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, simbolis suatu sikap perlucutan senjata dalam dan luar. Dalam semangat pesan kuno ini, Saya pikir penting bagi kita untuk menekankan sebuah kebijakan mendesak yang telah lama tertunda – penghapusan militer di seluruh dunia. Penghapusan militer akan membebaskan sumber daya manusia dalam jumlah besar yang dapat dipakai untuk melindungi lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan keberlangsungan pembangunan manusia.

Saya selalu memimpikan masa depan negara Saya, Tibet, jika didirikan dengan dasar ini. Tibet akan menjadi tempat berlindung bebas militer yang netral, tempat dilarangnya keberadaan senjata dan manusia hidup dalam harmoni dengan alam. Saya menyebutnya Daerah Ahimsa atau tanpa kekerasan. Ini bukan mimpi semata – ini betul-betul cara hidup yang  diambil penduduk Tibet selama ribuan tahun lebih sebelum negara kami diserbu. Di Tibet, kehidupan liar dilindungi mengikuti prinsip Buddhis. Kami membuat peraturan perlindungan lingkungan, tapi lingkungan terlindungi lebih karena paham yang ditanamkan sejak masih kanak – kanak.

Saya akan menutupnya dengan mengucapkan bahwa Saya merasa optimis tentang masa depan. Ada sejumlah tren baru-baru ini yang menunjukkan potensi kita untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Perubahan yang terjadi secara bertahap dalam sikap kita terhadap bumi ini adalah sumber harapan. Seperti baru saja sekitar satu dekade lalu, tanpa pikir panjang kita menelan sumber daya alam di dunia seakan-akan sumber daya tersebut tidak terbatas. Kita gagal menyadari bahwa konsumsi tanpa pengendalian adalah bencana bagi kedua lingkungan dan kesejahteraan sosial. Sekarang, kedua individu dan pemerintah sedang mencari sistem baru yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Memang benar bahwa hingga pada akhir tahun 1980-an, banyak orang percaya bahwa perang merupakan suatu keadaan yang tak terelakan oleh umat manusia. Pandangan yang muncul saat itu adalah bahwa orang-orang dengan minat/kepentingan yang bertentangan hanya bisa berhadapan satu sama lain (ctt: bisa jadi berperang). Namun, pandangan ini telah berkurang. Saat ini seluruh dunia lebih berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai, sebagai buktinya ada di sini, di kawasan Timur Tengah. Ini merupakan perkembangan yang positif disamping mengherankan.

Setelah selama berabad-abad percaya bahwa suatu masyarakat hanya bisa diatur dengan sikap disiplin yang keras dan kaku, Manusia di seluruh penjuru dunia telah menyadari nilai positif dari suatu demokrasi. Berbicara dari hati mereka, mereka telah menunjukkan bahwa keinginan kuat akan kebebasan dan kebenaran serta demokrasi tumbuh dari sebuah bibit yaitu sifat dasar manusia. Kejadian yang belum lama ini terjadi di dunia telah membuktikan ekspresi kebenaran sederhana adalah sebuah kekuatan dahsyat dalam pikiran manusia, dan sebagai hasilnya, ia membentuk sejarah.

Salah satu pelajaran terbesar untuk kita semua adalah perubahan penuh kedamaian di bagian timur Eropa. Pada zaman dahulu, orang yang tertindas selalu mengambil jalan kekerasan dalam perjuangannya mendapatkan kebebasan. Sekarang, revolusi penuh damai tersebut, mengikuti jejak kaki Gandhi dan Martin Luther King, telah memberikan kepada generasi penerus mereka contoh luar biasa, perubahan tanpa kekerasan. Ketika, di masa depan, terjadi peningkatan kebutuhan untuk mengubah masyarakat, anak cucu kita bisa melihat kembali ke tahun 1989 sebagai paradigma perjuangan demi kedamaian: kisah nyata kesuksesan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, melibatkan lebih dari setengah lusin negara dan ratusan juta orang.

Sementara itu, telah tumbuh kewaspadaan tentang  hak asasi manusia. Cara kasar tidak akan pernah menundukkan hasrat mendasar manusia akan kebebasan, kebenaran dan demokrasi, yang merupakan hak fundamental kita. Orang sudah tentu tidak suka seseorang atau sebuah sistem yang mengganggu, curang dan memiliki kebohongan. Segala perbuatan ini bertolak belakang dengan jiwa manusia.

Semua tanda-tanda menggembirakan ini mencerminkan sebuah penghargaan baru bagi nilai-nilai dasar manusia. Karena pelajaran yang telah mulai kita ambil, abad berikutnya akan lebih bersahabat, lebih rukun, dan tanpa ancaman. Belas kasihan, bibit kedamaian, akan mampu tumbuh dengan subur. Di waktu yang sama, Saya percaya semua individu memiliki tanggung jawab yang sama untuk membantu memandu keluarga besar kita ke arah yang benar. Keinginan baik saja tidak cukup, masing-masing kita harus memikul tanggung jawab tersebut.

Saya berharap dan berdoa di hari-hari berikutnya,  masing-masing dari kita akan melakukan semua yang kita bisa untuk melihat bahwa cita-cita menciptakan dunia yang lebih menyenangkan, lebih rukun dan sehat akan tercapai.

[dari: Tibetan Bulletin (Maret- April 1994]

[ini adalah pesan yang alamatnya ditujukan kepada Society for the Protection of Nature, Israel, pada Maret 22, 1994]

English Version:

http://www.dalailama.com/messages/environment/global-environment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s