Apakah Buddhisme Suatu Agama?


Oleh Yang Mulia Ajahn Sumedho

Penerjemah: Venry Phen

Editor: Selfy Parkit

Private Picture, Selfyparkit 2014

Brahmavihara Arama, Singaraja – Bali. Private Picture, Selfyparkit 2015

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti sebuah ikatan. Kata ini menerangkan ikatan pada ketuhanan, yang meliputi seseorang secara keseluruhan.

Suatu hal yang menarik untuk berpikir bahwa kita mengerti agama karena agama tersebut begitu mendarah daging dalam pandangan budaya kita. Namun, merenungkan dan menghayati maksud, sasaran atau tujuan sebenarnya dari agama adalah suatu hal yang berguna.

Terkadang orang-orang menganggap agama adalah kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi, sehingga agama menjadi teridentifikasikan dengan sikap theistic dari konvensi atau bentuk-bentuk agama. Seringkali Buddhisme dianggap sebagai bentuk atheis oleh agama-agama theis, atau sama sekali bukanlah suatu agama. Buddhisme dilihat sebagai suatu filosofi atau psikologi, karena Buddhisme tidak bersumber dari keadaan theistic (theis : doktrin, atau kepercayaan terhadap Tuhan atau dewa-dewi). Buddhisme tidak berdasar pada keadaan metafisika atau doktrin, namun berdasar terhadap pengalaman nyata yang umum pada semua umat manusia – pengalaman akan penderitaan. Dasar pemikiran Buddhis adalah dengan menghayati, merenungi, dan mengerti semua penderitaan umum manusia, kita dapat melebihi semua kesalahpahaman mental yang menimbulkan penderitaan manusia.

Kata ‘agama’ (religion) berasal dari bahasa latin ‘religio’, yang berarti ikatan. Kata ini mengartikan ikatan kepada ketuhanan, yang meliputi keseluruhan diri seseorang.  Untuk dapat benar-benar beriman berarti anda harus mengikat diri pada ketuhanan, atau pada kenyataan tertinggi, dan menyertakan keseluruhan diri anda pada ikatan tersebut, pada titik ketika pengertian tertinggi dimungkinkan. Semua agama memiliki kata “pembebasan” dan “penyelamatan”. Sifat dari kata-kata ini menyampaikan kebebasan dari kesalahpahaman, kebebasan dan pengertian penuh tentang kenyataan tertinggi. Dalam Buddhisme kita menyebutnya sebagai pencerahan.

Memahami Sifat Dasar dari Penderitaan

Pendekatan Buddhis adalah menghayati pengalaman penderitaan, karena penderitaan merupakan hal yang umum bagi semua makhluk. Penderitaan tidak harus diartikan sebagai tragedi hebat ataupun kemalangan yang mengerikan. Penderitaan dapat diartikan sebagai suatu jenis ketidakpuasan, ketidakbahagiaan, dan kekecewaan yang dialami oleh semua makhluk pada berbagai waktu dalam kehidupan mereka. Menderita merupakan hal yang umum terjadi pada pria dan wanita, kaya dan miskin. Apa pun suku atau kebangsaan kita, penderitaan adalah suatu ikatan yang lazim.

Jadi dalam Buddhisme, penderitaan disebut sebagai suatu kesunyataan mulia. Bukan kesunyataan tertinggi. Ketika Buddha mengajari bahwa penderitaan sebagai suatu kesunyataan mulia, bukan maksud-Nya agar kita mengikat diri pada penderitaan dan mempercayainya secara buta sebagai suatu kebenaran tertinggi. Sebaliknya, Buddha mengajari kita untuk menggunakan penderitaan sebagai suatu refleksi. Kita merenungkan: apa penderitaan itu? Apa sifatnya? Kenapa saya menderita, apa yang saya derita? Pemahaman pada sifat dasar penderitaan merupakan pengetahuan batin yang penting. Sekarang renungkan hal ini dalam pengalaman hidup anda. Seberapa banyak waktu dalam hidup anda yang dihabiskan untuk mencoba menghindar atau lari dari segala hal yang tidak disenangi, tidak diinginkan? Seberapa banyak dari masyarakat kita yang berdedikasi pada kebahagiaan dan kesenangan, berusaha menghindar dari segala hal yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan? Kita dapat memperoleh kebahagiaan dan kesenangan seketika, sesuatu yang kita sebut sebagai “bukan penderitaan”; kegembiraan, percintaan, petualangan, kesenangan sensual, makan, mendengarkan musik, atau apa pun. Namun semua ini adalah usaha untuk lari dari ketakutan kita sendiri, ketidaksenangan, kegelisahan, dan kekhawatiran kita, hal-hal yang menghantui pikiran manusia sampai pikiran tersebut tercerahkan. Umat manusia akan selalu dihantui dan ditakut-takuti oleh kehidupan selama umat manusia masih tetap bodoh dan tidak terus berusaha untuk memperhatikan dan memahami sifat dasar dari penderitaan .

Untuk memahami penderitaan berarti kita harus menerima penderitaan daripada hanya mencoba menghilangkan dan mengabaikannya, atau menyalahkan orang lain atas penderitaan tersebut. Kita dapat melihat bahwa penderitaan disebabkan dan bergantung pada kondisi-kondisi tertentu: kondisi pikiran yang kita ciptakan atau yang telah ditanamkan pada kita melalui budaya dan keluarga. Pengalaman hidup kita, dan proses pengkondisian tersebut, dimulai dari hari kita dilahirkan. Keluarga, kelompok tempat kita tinggal bersamanya, pendidikan kita, semuanya menanamkan berbagai anggapan, prasangka dan pendapat dalam pikiran kita, beberapa merupakan hal yang baik, dan beberapa merupakan hal yang buruk.

Sekarang, jika kita tidak benar-benar memperhatikan semua kondisi pikiran ini dan memeriksa apakah sebenarnya mereka itu, maka tentu saja hal ini akan mengakibatkan kita menafsirkan pengalaman hidup berdasarkan prasangka tertentu. Namun bila kita memperhatikan sifat dasar dari penderitaan, kemudian kita mulai memeriksa berbagai hal seperti ketakutan dan keinginan, dan kemudian kita menemukan bahwa sifat dasar kita yang sebenarnya bukanlah keinginan, bukanlah ketakutan. Sifat dasar kita yang sebenarnya sama sekali tidak dikondisikan oleh apa pun.

Yang Terkondisi, Yang Tak Terkondisi, dan Kesadaran

Agama selalu menunjukkan hubungan dari kematian, atau yang terkondisi, dengan yang tak terkondisi. Jika anda mengupas agama apa pun sampai esensi dasarnya, anda akan menemukan bahwa hal tersebut akan tertuju ke tempat mana kematian, yang terkondisi, dan terikat oleh waktu, berhenti. Penghentian tersebut merupakan perwujudan dan pemahaman dari yang Tak Terkondisi. Dalam istilah Buddhis, dikatakan bahwa “Terdapat yang Tak Terkondisi; dan jika keadaannya bukan yang Tak Terkondisi, maka tidak akan ada yang Terkondisi.” Yang Terkondisi muncul dan berakhir dalam yang Tak Terkondisi, oleh karena itu kita dapat melihat hubungan antara Yang Terkondisi dan yang Tak Terkondisi. Dilahirkan dalam tubuh manusia, kita harus hidup dalam jangka waktu yang terbatas dan kondisi sensorik duniawi. Kelahiran menunjukkan bahwa kita keluar dari yang tak terkondisi dan hadir dalam bentuk Terkondisi yang terpisah. Dan bentuk manusia ini termasuk kesadaran. Kesadaran selalu mendefinisikan suatu hubungan antara subjek dan objek, dan dalam Buddhisme kesadaran dianggap sebagai fungsi diskriminatif dari pikiran. Jadi renungkan hal ini sekarang. Anda sedang duduk dan memperhatikan kata-kata ini. Hal ini merupakan pengalaman dari kesadaran. Anda dapat merasakan panas dalam ruangan, anda dapat melihat ke sekeliling, anda dapat mendengarkan suara-suara. Semua hal ini menunjukkan bahwa anda dilahirkan dalam tubuh manusia dan untuk selama sisa hidup anda, selama tubuh ini masih hidup, tubuh ini akan mempunyai perasaan, dan kesadaran akan timbul. Kesadaran ini selalu menimbulkan kesan dari sebuah subjek dan objek, sehingga ketika kita sedang tidak memeriksa, tidak melihat pada sifat dasar dari berbagai hal, maka kita akan menjadi terikat pada pandangan dualistik dari “Saya adalah tubuh saya, saya adalah perasaan saya, saya adalah kesadaran saya”.

Perilaku dualistik ini muncul dari kesadaran. Dan kemudian dari kemampuan kita memahami dan mengingat serta merasakan dengan pikiran kita, kita menciptakan sebuah kepribadian. Terkadang kita menikmati kepribadian ini. Di waktu lain kita memiliki ketakutan yang tidak logis, pandangan  yang salah, dan gelisah terhadapnya.

Aspirasi Pikiran Manusia

Pada saat ini, untuk setiap masyarakat dari dunia materialistis, kebanyakan penderitaan dan keputus-asaan manusia muncul dari kenyataan bahwa kita biasanya tidak menghubungkan diri kita pada setiap hal yang lebih tinggi dari planet yang kita tinggali ini, dan pada tubuh manusia kita ini. Jadi aspirasi pikiran manusia terhadap pengertian tertinggi, terhadap pencerahan, tidak benar-benar dipromosikan atau dianjurkan dalam masyarakat modern. Kenyataannya, hal ini kelihatannya sering tidak dianjurkan.

Tanpa hubungan ini dengan kebenaran yang lebih tinggi, kehidupan kita menjadi tidak berarti. Kita tidak dapat menghubungkan apa pun melebihi pengalaman-pengalaman dari tubuh manusia di atas sebuah planet, di sebuah alam semesta yang misterius, kehidupan kita benar-benar dihabiskan dari waktu lahir sampai meninggal. Kemudian tentunya, apakah tujuannya, apakah artinya? Dan mengapa kita peduli? Mengapa kita memerlukan tujuan? Mengapa harus ada makna kehidupan?  Mengapa kita menginginkan kehidupan menjadi bermakna? Mengapa kita memiliki kata-kata, konsep-konsep, dan agama-agama? Mengapa kita memiliki keinginan atau aspirasi di dalam pikiran kita jika semua yang ada merupakan pengalaman yang didasarkan pandangan diri? Mungkinkah dalam tubuh manusia ini, dengan proses yang dikondisikan, secara kebetulan sampai pada kita dalam sistem semesta ini yang melebihi kendali kita?

Kita hidup dalam suatu alam semesta yang merupakan suatu misteri bagi kita. Kita hanya bisa heran/takjub terhadapnya. Kita hanya bisa merasakan dan memandang alam semesta, namun kita tidak dapat meletakkannya dalam sebuah kapsul kecil. Kita tidak dapat membuatnya menjadi sesuatu dalam pikiran kita. Oleh karena itu, kecenderungan materialistis dalam pikiran kita mendorong kita untuk bahkan tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Ataupun, kecenderungan ini membuat kita mengartikan semua pengalaman kehidupan dalam bidang logika atau alasan, berdasar pada nilai-nilai materialistis dan pengetahuan empirik.

Pengalaman Pencerahan

Buddhisme menunjukkan pengalaman penderitaan dari semua makhluk hidup secara umum dan universal. Buddhisme juga menyatakan cara keluar dari penderitaan. Penderitaan adalah pengalaman pencerahan. Ketika kita menderita, kita mulai bertanya-tanya. Kita mencoba untuk melihat, menyelidiki, ingin tahu dan mencoba mencari tahu.

Pada cerita Pangeran Siddhàrtha (nama Buddha sebelum mencapai penerangan sempurna) kita mendengar kehidupannya sebagai seorang pangeran dalam lingkungan yang hanya ada kesenangan, keindahan, kenyamanan, keuntungan sosial – semua hal terbaik yang dapat ditawarkan dalam hidup. Kemudian pada saat berusia 29 tahun, Siddhàrtha meninggalkan istana untuk melihat-lihat kehidupan di luar, dan dia menjadi sadar akan peristiwa usia tua, sakit dan kematian.

Sekarang, seseorang mungkin mengatakan bahwa dia telah mengetahui tentang usia tua, sakit dan kematian sebelum berusia 29 tahun. Dalam cara berpikir kita, sudah merupakan hal yang jelas bila kita mengetahui tentang usia tua, sakit dan meninggal dari sejak usia dini. Namun hal ini merupakan sesuatu yang pangeran sadari hanya sebagai fakta. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak menyadarkan pikirannya hingga ia berusia 29 tahun.

Sama halnya, kita yang dapat hidup dengan kehidupan kita di sini, di Inggris, dan kita dapat mengasumsi bahwa semuanya baik-baik saja, dan bahkan ketidakbahagiaan dan kekecewaan yang biasanya kita alami tidak akan menyadarkan kita. Kita mungkin akan sedikit terheran, namun terdapat banyak kesempatan untuk tidak melihat padanya, tidak memperhatikannya. Merupakan hal yang mudah untuk menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan yang kita alami bukan? Kita dapat menyalahkannya pada pemerintah, pada ibu dan ayah, pada teman ataupun musuh-musuh kita, pada faktor-faktor luar. Namun pencerahan pikiran terhadap usia tua, sakit dan kematian terjadi ketika kita menyadari bahwa hal tersebut akan terjadi pada kita. Dan pengertian itu datang tidak hanya sebagai suatu gambaran yang abstrak, namun sebagai suatu perasaan yang benar-benar mendalam, sebuah pemahaman yang nyata bahwa hal ini yang akan terjadi pada semua makhluk. Apa pun yang lahir akan menjadi tua, semakin merosot dan akhirnya meninggal.

Peristiwa keempat yang dilihat oleh Buddha adalah seorang samana. Samana adalah seorang biksu, atau seorang pencari religius, seseorang yang mengabdikan diri hanya untuk mencari kenyataan tertinggi, kebenaran. Samana tersebut, sebagaimana yang digambarkan dalam legenda, adalah seorang biksu dengan rambut kepala yang telah dicukur dan memakai jubah.

Hal-hal tersebut adalah empat peristiwa pada lambang Buddhisme: usia tua, sakit, kematian dan samana. Mereka menandai kesadaran pikiran manusia pada tujuan religius, menuju aspirasi dari keinginan manusia untuk menyadari realitas tertinggi, yaitu kebebasan dari semua kesalahpahaman dan penderitaan.

Praktik Buddhis

Terkadang perilaku modern cenderung menggambarkan meditasi Buddhis sebagai meninggalkan urusan duniawi dan mengembangkan keadaan sangat berkonsentrasinya pikiran yang bergantung pada kondisi yang dikendalikan secara hati-hati. Jadi di Amerika Serikat dan negara lain – tempat meditasi Buddhis meningkat popularitasnya, orang-orang cenderung untuk mengembangkan pandangan yang kuat pada meditasi, berada dalam keadaan pikiran yang terkonsentrasi yaitu teknik dan pengendalian adalah sangat penting.

Teknik jenis ini semuanya baik dan bagus, namun jika kamu mulai mengembangkan kapasitas reflektif dari pikiran anda, maka hal ini tidaklah selalu perlu, bahkan tidak dianjurkan untuk menghabiskan waktu anda mencoba untuk membersihkan pikiran anda pada apa yang kasar atau menekan hal yang tidak menyenangkan. Lebih baik untuk membuka pikiran pada kapasitas penuh, pada kepekaan penuh, untuk mengetahui kondisi yang kamu sadari pada saat ini, apa yang kamu rasakan, lihat, dengar, cium, kecap, sentuh, pikir, adalah tidak kekal.

Ketidakkekalan adalah sifat umum dari semua fenomena, apakah itu suatu kepercayaan kepada Tuhan atau ingatan tentang masa lalu; apakah itu pikiran marah atau pikiran cinta kasih; apakah itu tinggi, rendah, kasar, sopan, baik, buruk, menyenangkan atau menyakitkan. Apa pun kualitasnya, anda melihatnya sebagai objek. Semua yang timbul, akan berakhir. Semuanya tidak kekal.

Sekarang apa yang dilakukan oleh pikiran yang terbuka ini, sebagai suatu cara berlatih dan refleksi terhadap kehidupan, yang mengizinkan anda untuk mempunyai beberapa pandangan pada ide-ide dan emosi anda, pada sifat alamiah dari tubuh anda sendiri, serta objek-objek indera.

Mendapatkan kembali ke kesadaran itu sendiri: ilmu pengetahuan modern, ilmu empiris, menganggap dunia nyata menjadi dunia materi yang kita lihat, dengar dan rasakan, sebagai objek dari indera kita. Jadi, dunia objektif disebut sebagai realitas. Kita dapat melihat dunia material, menyetujuinya, mendengarkannya, menciumnya, mengecapinya, menyentuhnya atau bahkan setuju pada persepsi atau namanya. Namun bukankah persepsi itu tetap merupakan suatu objek? Karena kesadaran menciptakan kesan dari suatu subjek dan objek, kita percaya bahwa kita sedang memperhatikan sesuatu yang terpisah dari kita.

Buddha, dengan ajarannya, menempatkan hubungan subjek-objek tersebut pada pokok tertinggi. Dia mengajarkan bahwa semua persepsi, semua kondisi yang melalui pikiran kita, emosi, perasaan, semua objek-objek materi-dunia yang kita lihat dan dengar, adalah tidak kekal. Tentang semua itu, Buddha berkata, ”Apa yang timbul, akan berakhir.” Dan hal ini yang terus-menerus dan berkali-kali ditunjukkan oleh Buddha dalam ajarannya: hal ini merupakan pemahaman yang sangat penting yang membebaskan kita dari segala bentuk kesalahpahaman. Apa yang timbul, akan berakhir.

Kesadaran juga bisa diartikan sebagai kemampuan kita untuk mengetahui, pengalaman mengetahui. Subjek mengetahui objek. Ketika kita melihat pada objek-objek dan menamai mereka, kita berpikir kita mengetahui mereka. Kita berpikir kita mengetahui orang ini atau orang itu karena kita memiliki nama atau ingatan tentang mereka. Kita berpikir kita mengetahui semua hal karena kita mengingat mereka. Kemampuan kita untuk mengetahui sesuatu, terkadang merupakan jenis yang terkondisi, hanya mengetahui tentang, daripada mengetahui secara langsung.

Praktik Buddhis adalah untuk tetap berada dalam sebuah kesadaran murni, yang di dalamnya terdapat apa yang kita sebut sebagai pengetahuan mengetahui secara mendalam (insight knowing), atau pengetahuan langsung. Hal ini bukanlah pengetahuan yang didasari oleh persepsi, suatu ide, keadaan, atau doktrin: dan pengetahuan ini hanya dapat diperoleh melalui kesadaran penuh (eling). Apa yang kita maksud dengan eling adalah kemampuan untuk tidak melekat pada objek apa pun, baik dalam bidang material maupun bidang mental. Ketika tidak ada kemelekatan, maka pikiran berada dalam keadaan murni pada kesadaran, kecerdasan, dan kejernihan. Itulah eling. Pikiran ini menjadi murni dan mau menerima, peka pada kondisi-kondisi yang ada. Bukan lagi pikiran yang terkondisi yang hanya bereaksi pada kesenangan dan kesakitan, pujian dan amarah, kebahagiaan dan penderitaan.

Sebagai contoh, jika saat ini anda marah, anda bisa mengikuti kemarahan tersebut. Anda dapat mempercayainya, dan terus-menerus menciptakan emosi khusus tersebut, atau anda dapat menekan kemarahan tersebut dan mencoba untuk menghentikannya karena perasaan takut atau enggan. Bagaimanapun juga, selain melakukan hal tersebut, anda dapat merefleksikan kemarahan tersebut, karena kemarahan itu merupakan sesuatu yang dapat kita amati. Sekarang jika kemarahan adalah diri kita yang sebenarnya, kita tidak akan dapat mengamatinya, inilah yang saya maksudkan dengan refleksi. Apakah itu yang dapat mengamati dan merefleksikan perasaan marah? Apakah itu yang dapat melihat dan menyelidiki perasaan tersebut, panas dalam tubuh, atau keadaan mental. Hal yang mengamati dan menyelidiki adalah sesuatu yang kita sebut sebagai pikiran yang reflektif (merenung). Pikiran manusia adalah pikiran yang reflektif.

Pengungkapan Kebenaran Umum kepada Semua Agama

Kita dapat bertanya: Siapa saya? Mengapa saya dilahirkan? Tentang apakah kehidupan itu? Apa yang terjadi ketika saya mati? Adakah arti atau tujuan dari hidup? Namun karena kita cenderung berpikir bahwa orang lain tahu dan kita tidak, kita lebih sering mencari jawabannya dari orang lain daripada membuka pikiran dan memperhatikan melalui kewaspadaan yang sabar untuk kebenaran yang akan diungkapkan. Melalui eling dan kesadaran, maka pengungkapan itu memungkinkan. Pengungkapan kebenaran atau kenyataan/realitas tertinggi adalah apa yang dikembangkan oleh pengalaman religius. Ketika kita mengikatkan diri kita pada sifat-sifat ketuhanan dan mengikutsertakan keseluruhan diri kita pada ikatan itu, kita mengizinkan pengungkapan kebenaran ini, yang kita sebut dengan pemahaman (insight), pemahaman yang benar dan mendalam, terhadap sifat alami dari segala hal. Dan pengungkapan itu juga merupakan hal yang tidak dapat terucapkan. Kata-kata tidak cukup mampu untuk mengekspresikannya. Inilah yang mengapa pengungkapan dapat menjadi sangat berbeda. Bagaimana mereka dinyatakan, bagaimana mereka diungkapkan melalui ucapan, dapat bervariasi tidak terbatas.

Jadi pengungkapan kebenaran oleh Buddhis terdengar sangat Buddhis, dan pengungkapan oleh Kristen terdengar sangat Kristen, dan hal itu cukup adil. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun kita harus mengenali batasan dari kaidah bahasa tersebut. Kita perlu mengerti bahwa bahasa itu tidak sepenuhnya benar atau nyata; hal itu adalah suatu usaha untuk mengkomunikasikan apa yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata kepada orang lain. Suatu hal yang menarik melihat sekarang banyak orang yang mencari tujuan religius. Sebuah negara seperti Inggris yang pada awalnya didominasi oleh Kristen namun sekarang mempunyai banyak agama. Terdapat banyak pertemuan antar agama dan usaha-usaha di negara ini untuk mencoba dan mengerti agama satu sama lainnya. Kita bisa tetap tinggal dalam level yang sederhana dan hanya mengetahui bahwa umat Muslim percaya pada Allah dan umat Kristen percaya pada Kristus dan umat Buddha percaya pada Buddha. Namun apa yang membuat saya tertarik adalah melampaui suatu adat pada pemahaman yang benar, pada pemahaman yang mendalam akan Kebenaran. Inilah cara berbicara Buddhisme.

Saat ini di negara seperti Inggris, kita mempunyai kesempatan untuk mengusahakan suatu kebenaran umum di antara semua agama, karena kita dapat mulai untuk menolong satu sama lain. Sekarang bukanlah waktunya lagi ketika mengubah orang atau mencoba untuk bersaing dengan orang lain terlihat berguna atau bernilai. Daripada mencoba untuk mengubah orang, agama adalah suatu kesempatan untuk membangkitkan kebenaran dari sifat alami kita, kebebasan nyata, cinta dan kasih sayang. Hal ini merupakan suatu cara untuk hidup dengan penuh kepekaan, penuh penerimaan, sehingga kita dapat merasa senang dan membuka diri pada misteri dan kekaguman pada semesta.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s