Apakah Musibah Atau Pembelajaran Berharga? “Tips dan Trik”


Artikel yang satu ini adalah kenangan lama yang pernah aku tulis berdasarkan pengalamanku beberapa tahun lalu. Sebelumnya artikel ini pernah aku terbitkan di alamat website lamaku yang saat ini sudah tidak aktif, dan juga menjadi salah satu tulisan di dalam sebuah buku “Be Kind, Be Mindful” yang ditulis oleh seorang teman Willy Yanto Wijaya, dan diterbitkan oleh Ehipassiko Foundation. Mengingat isinya yang bermanfaat dan menginspiratif, kemudian aku berinisiatif untuk menerbitkannya kembali ke dalam blogku, dengan harapan tulisan ini dapat membantu para pembaca dalam mengarungi kehidupannya. Berikut ini adalah pengalaman hidupku yang kuberi judul:

Apakah Musibah Atau Pembelajaran Berharga?

oleh Selfy Parkit

Tanggal 9 Juni 2011, kemarin adalah hari yang cukup melelahkan, ujian anak sekolah sudah berlangsung selama 2 hari, dan sudah 2 hari pula aku harus pulang larut malam. Kemarin anak les-anku harus belajar 3 mata pelajaran untuk ujian esok harinya, otomatis semakin larut malam pulalah jadinya. Belum lagi jika terkena macet di daerah pabrik, namun untungnya aktivitas kendaraan pada waktu itu tidak terlalu padat.

Pulang ke rumah melepas lelah rasanya ingin cepat-cepat mandi kemudian langsung tidur. Maka bergegaslah aku memasak air untuk mandi. Maklum mamaku sering sekali mengingatkanku untuk mandi air hangat pada malam hari, “Agar tidak kena penyakit rematik.” begitu menurut mamaku. Menunggu air matang tidak ada salahnya menonton TV sebentar bersama adik perempuanku yang saat itu baru saja selesai latihan olah raga Tari Naga (Dragron Dance).

Beberapa menit kemudian aku menghampiri panci airku yang kelihatannya sudah hampir mendidih dan cukup matang. Kumatikan api kompor dan kuambil serbet tangan yang ada di samping kompor gas. ‘Yachh…ougghh…’ aku paling tidak suka bau serbet dapur yang kotor dan basah. Baunya yang ditimbulkannya sungguh tidak karu-karuan, rasanya keinginan untuk cepat-cepat menuang air dan melempar serbet demek itu ke tempat asalnya menguing di kepalaku. Kupegang kuping panci air itu sambil merasa agak jijik. Seketika saja… Oh… No… memikirkan apa aku ini? Tanganku meleset dari kuping panci dan seketika saja dengan cepat panci yang berisi air panas itu melesat jatuh tepat di depan kakiku, dan menyiram kedua kakiku. Untungnya saat itu aku memakai celana Jeans panjang, dan air panas yang tumpah hanya menyiram punggung kakiku saja. Aku berusaha tenang dan tidak panik, aku tahu panik tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kusiram kakiku yang terkena air panas dengan air dingin yang ada di kamar mandi. Adikku dan adik iparku bergegas menghampiriku di dapur dan menanyakan apa gerangan yang terjadi. Mereka sedikit panik setelah mendengarkan penjelasanku, “Pakai arak gosok… pakai arak gosok!!!” seru adik iparku. Namun sebelum itu dilakukan cepat-cepat aku masuk ke dalam kamar untuk mengganti Jeans panjangku dengan celana pendek. Disemprotkannya arak gosok yang diambil oleh adik iparku itu dengan segera ke punggung kakiku yang mulai terasa panas. Ceeessss… rasa sejuk dari arak gosok mulai cepat meresap ke dalam saraf-saraf kakiku, tapi seketika kemudian rasa panas itu mulai kembali datang.

Saudara-saudaraku yang tempat tinggalnya kebetulan berdekatan datang menanyakan apa yang telah terjadi. Dengan sedikit panik mereka mencarikanku kream luka bakar untuk segera dioleskan di kakiku. Kusemprotkan lagi arak gosok itu, kali ini ke bagian atas kakiku yang ternyata sempat terkena sedikit air panas yang menembus dari celana Jeans dan mulai terasa panas. Setelah itu aku pun bergegas mandi, namun kali ini aku hanya bisa mandi koboi (mandi seadanya) dan kaki ku tidak diperbolehkan kena air. Karena mamaku yang saat itu terlihat terkejut mendengar kejadian itu, merasa takut kalau-kalau kaki anaknya akan membengkak dan menggelembung jika terkena air. Tapi memang ada benarnya juga, urat-urat di punggungku saja sudah mulai menggelembung kepanasan, dan semua urat kakiku terasa tegang.

Seusai mandi koboi, punggung kakiku mulai terasa panas lagi. Kali ini panasnya diikuti oleh bagian-bagian kaki lainnya. Bayangan dipikiranku mengatakan, tersiram air panas saja sudah sebegini panas, apa lagi mereka yang kena luka bakar!!! Ckckckck…. Sekali lagi kusemprotkan arak gosok itu ke seluruh kakiku dan kembali kuoleskan kream luka bakar ke punggung dan bagian kakiku yang terasa panas, setelah itu aku tertidur.

Di pagi harinya, setelah bangun dari tidur, aku mendapati urat-urat di punggung kakiku yang semalam menggelumbung sudah kembali seperti semula. Rasa syukur seketika memenuhi hati dan kepalaku. Pengalaman memang mahal, Aku tak merasa kejadian tersebut sebagai musibah, tapi sebagai pengalaman berharga yang tidak semua orang pernah mengalaminya. Aku menjadi lebih hati-hati dan tidak ceroboh, menjadi lebih mensyukuri dan menghargai fungsi dari anggota tubuhku. Terlebih lagi aku menjadi lebih menghargai segala bentuk kehidupan yang ada di bumi ini. Kubayangkan aku tanpa kakiku, dan aku tak bisa berjalan. Aku mungkin akan kehilangan fungsinya suatu saat, tapi saat ini aku bersyukur masih memilikinya. Tetapi tidak semua orang seberuntung aku, beberapa orang mungkin kehilangan salah satu dari fungsi tubuhnya. Beberapa mungkin ada yang mengeluh, namun tidak sedikit dari mereka yang juga berprestasi dan memiliki semangat hidup yang terkadang malah melebihi orang-orang pada umumnya—fungsi anggota tubuhnya masih lengkap. Seketika aku menjadi lebih menghargai dan menyayangi mereka semua.

Teratai di Brahmavihara Arama, Singaraja Bali 2015

Teratai di Brahmavihara Arama, Singaraja Bali 2015

Beberapa hal penting yang aku peroleh dari kejadian itu adalah, jangan pernah panik dalam menghadapi kejadian apa pun yang menimpa kita. Ingatlah sekali lagi bahwa kepanikan tidak akan pernah membantu dalam menyelesaikan masalah. Tetap tenang membuatku tetap berpikir jernih hingga aku mampu mengingat hal apa saja yang harus dilakukan jika tersiram air panas. Kini bukan teori lagi yang ada di kepalaku. Aku sudah mampu berpraktik dan lulus ujian. Tak ada sedikit pun luka yang berarti pada kakiku. Ini semua berkat air, arak gosok, kream luka bakar dan ketenanganku dalam menghadapi hal itu.

Berikut ini, Tips pertolongan pertama jika tersiram air atau minyak panas.

1. Tidak panik

2. Siram air dingin secepatnya pada bagian tubuh yang tersiram air/minyak panas, tidak perlu direndam lama-lama.

3. Semprotkan arak gosok yang efeknya memberikan rasa sejuk pada kulit (bukan arak gosok yang malah membuat kulit panas, terutama hindari minyak angin).

4. Oleskan kream luka bakar.

5. Alternatif kedua, gunakan es batu dan kompres bagian tubuh yang tersiram sampai tubuh baal/tidak terasa.

Pertolongan pertama harus dilakukan dengan segera, namun tetap tenang. Terlambat sedikit saja urat-urat akan membengkak lalu kulit akan merah dan menggelembung. Namun jika tetap bersikap tenang dan tak panik, niscaya semuanya pasti dapat diatasi.

Buku Seri Dharma Putra Indonesia "Be Kind Be Mindful", Oleh Willy Yanto Wijaya, Penerbit Ehipassiko Foundation.

Buku Seri Dharma Putra Indonesia “Be Kind Be Mindful”, Oleh Willy Yanto Wijaya, Penerbit Ehipassiko Foundation.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s