Manisnya Kampung Kohot


pesawahan di pinggir jalan menuju kp.Kohot

pesawahan di pinggir jalan menuju kp.Kohot

Tanggal 17 Oktober 2010 saya baru saja pulang dari baksos yang diselengarakan oleh beberapa teman saya. Teman-teman saya ini sudah beberapa kali mengadakan bakti sosial ke kampung-kampung yang daerahnya terpencil dan masih asri, dan baru kali inilah saya punya kesempatan baik untuk bergabung bersama mereka pergi ke sebuah tempat yang bernama kampung Kohot. Kampung ini terletak di daerah pelosok berdekatan dengan kampung Melayu Tangerang. Karena saya kurang mengerti nama jalan, saya hanya tahu kalau letak kampung Kohot ini lumayan agak terpencil dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas masyarakat kota.

Di dalam perjalanan yang tidak terlalu mulus karena jalan raya untuk masuk ke kampung ini agak rusak, banyak sekali kita lihat pepohonan rindang dan pemandangan yang menyejukan mata. Tak terhitung juga banyaknya pohon kelapa yang nyiur melambar berjejer di pinggir jalan dan tengah-tengah sawah hijau. Di bagian sisi sebelah kanan menuju arah kampung, kita juga dapat menyaksikan sungai yang alirannya lumayan tenang, dan sungai ini nantinya akan bertemu dengan sungai-sungai kecil lainnya menuju ke sebuah laut yang bernama Tanjung Pasir-Tangerang.


kp.Kohot

Bukan hanya pemandangan kampung yang membuat mata orang kota ini bedecak kagum, tetapi juga suasana kampung itu sendiri yang masih asri, tenang dan damai. Walau ada beberapa buah motor yang terkadang mondar-mandir akan tetapi suasana di kampung Kohot jarang di temui pada zaman modern sekarang ini. Contoh nyata yang bisa kita lihat dari kampung Kohot ini adalah tempat tinggal mereka yang sebagian besar masih tinggal di dalam rumah atap dan bilik dari bambu.

Sesampainya di lokasi, saya dan teman-teman berserta donatur singgah di sebuah kebun kelapa. Di sanalah kami memarkirkan mobil kami dan membagikan sembako. Kebun kelapa yang cukup luas ini banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon kelapa yang banyak buahnya. Ada beberapa dari buah kelapa yang agak kering dan sudah hampir matang dan siap-siap jatuh ke tanah jika tidak ada yang memetiknya. Maka dari itu terkadang kami dan penduduk kampung tidak henti-hentinya saling mengingatkan untuk tidak berdiri di bawah salah satu pohon kelapa.

Matahari sudah hampir di bawah kepala kami dan sembako belum juga diserahkan. Sebelum sembako itu diserahkan langsung kepada para penduduk yang sudah didata dan diberi kupon, perlu beberapa waktu untuk mereka menunggu persiapan para donatur untuk mengatur cara dan prosedur pembagian sembako. Di persiapan yang cukup memakan waktu itu ada pemandangan yang akhir-akhir ini jarang sekali saya temui. Mau tahu??? Para penduduk di sana ternyata dapat menunggu dengan sangat tertib, mereka bisa baris dengan rapih menunggu antrian, tidak desak-desakan apalagi berebut sembako. Pemandangan ini tidak seperti manusia-manusia yang akhir-akhir ini saya temui di kota-kota besar. Kebanyakan manusia di kota merasa dirinya dikerjar-kejar waktu, bagi mereka waktu adalah uang, alhasil akhirnya mereka tidak bisa antri dan saling mendahului demi kepentingan pribadi. Contoh yang sering kali saya temui adalah berebut untuk masuk ke dalam Busway. Namun bukan hanya itu saja terkadang ada lagi hal-hal yang memalukan seperti berebut souvernir gratisan di suatu acara dan lain sebagainya. Memang waktu adalah hal yang berharga, akan tetapi terkadang kita lupa ada hal yang lebih berharga lagi selain waktu itu sendiri, apakah itu? kesadaran dan prosesnya. Apakah demi mengejar waktu atau demi barang gratisan takut kalau-kalau tak kebagian kita menjadi serakah dan tak memikirkan kesejahteraan orang lain? Sungguh kita akan amat picik jika antri saja kita tidak bisa sabar. Bukan maksud hati saya untuk membandingkan orang kampung dengan orang kota, namun kenyataannya kita semua haruslah banyak belajar untuk bisa antri dan sabar dari mereka-mereka yang mengerti makna dari mengantri.

penduduk kp.Kohot yang sedang mengantri

penduduk kp.Kohot yang sedang mengantri

Setelah beberapa menit antrian para penduduk kampung sedikit demi sedikit mulai berkurang dan akhirnya habis, selesailah baksos kita hari itu. Hati gembira teman-teman dan para donatur begitu juga para penduduk kampung terpancar melalui wajah mereka yang berseri-seri. Banyak gelak tawa yang mengisi kedamaian di kampung itu. Namun tidak hanya selesai sampai di situ bapak-bapak dari kampung Kohot yang turut membantu pelaksanaan baksos saat itu memberikan kami masing-masing kelapa muda yang baru saja dipetik kemarin, akhirnya kewas-wasan dan kewaspadaan kami oleh si ‘pohon-pohon kelapa’ itu membuahkan hasil yang manis. Saya dan teman-teman beserta para donatur duduk bersama tak jauh di bawah pohon kelapa beralaskan kardus menikmati buah kelapa yang manis semanis hari kami saat itu.

Minum air kelapa dulu ah

 

By Selfy Parkit

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s